..:: TWO : Who? ::..


Tetsuya mundur beberapa langkah, sudah siap kabur jika sosok di depannya adalah penyamun yang biasa lewat di hutan.

"Siapa kau?"

Tetsuya tak dapat menjawab. Ia merutuki kecerobohannya –memecahkan lampu minyak karena terkejut.

"Jawab aku, siapa?"

"Ah, maaf …"

Tetsuya dapat mendengar orang itu mendecakkan lidahnya. "Aku tidak meminta maaf darimu. Aku bertanya siapa dirimu?"

"Bukankah lebih sopan untuk menyebutkan nama anda terlebih dahulu ketika meminta nama orang lain."

Dengusan terdengar. "Hanya saja, dalam kasus kali ini kau yang masuk ke teritori milikku."

"Teritori? Memangnya hutan ini milikmu? Hutan ini milik Jepang."

Tawa mengejek keluar. "Secara sah memang. Namun, secara non-formal, bagian ini adalah teritoriku."

"Seenaknya saja kau mengklaim hutan ini sebagai teritorimu." Tetsuya mengkritik orang yang baru saja mengakui hutan sebagai teritorinya.

"Terima kasih."

"Aku tidak memujimu!" Tetsuya mulai meninggikan suaranya.

Tanggapan serius Tetsuya dibalas dengan tawa kecil. "Lebih baik kau ikut aku, kita bicara di tempat yang lebih nyaman."

Mata Tetsuya memicing –curiga menguasai diri.

Orang yang membalikkan tubuhnya itu kemudian bersuara. "Ah, tidak perlu curiga. Aku hanya penduduk desa yang mengasingkan diri di hutan."

Tetsuya mengangkat kedua alisnya, jemari meraba katana yang diikat di pinggang –berjaga-jaga jika ada hal berbahaya.

"Mau ikut atau tidak? Aku punya secangkir teh herbal yang masih hangat."

Tetsuya mengangguk, merasa orang itu akan mengerti.

"Bagus. Ikut aku."

Tetsuya mengikuti langkah orang yang baru saja ia temui –sedikit kesulitan, langkah kakinya lebar.


T A L E

AkaKuro

Slight KagaKuro and NijiHai

Romance, Horror, Crime

Rate M

Warning! Empire!AU, Major OOC, yaoi, typo(s), Dark theme story

Cerita ini mengandung unsur BL serta kekerasan / pembunuhan. Bagi readers yang tidak menyukai tema BL dan kekerasan, dipersilahkan meninggalkan halaman ini dengan memencet tombol silang di kanan atas, dan bagi readers yang suka, selamat menikmati.

Anda telah diperingatkan sebelum membaca. Resiko tanggung sendiri.

No Flame.

Disclaimer

.

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

.

.

Story © Kuhaku

.

.

Silakan perbaiki saya bila ada kesalahan, baik penulisan atau lainnya.


Tetsuya menggeliat dalam duduknya. Ia malah melihat kesana kemari, memperhatikan ruangan yang terbuat dari kayu itu. Bangunan kayu, di tengah hutan lebat. Pemiliknya sedang menyesap teh herbal dengan tenang di hadapan Tetsuya.

Tetsuya menggenggam secangkir teh herbal pula, namun tidak diminum sedikitpun. Bukannya tidak sopan terhadap tuan rumah, justru keadaan sekarang membuatnya semakin tidak nyaman. Mau berkata apa ia, sudah diperbolehkan masuk dan disuguhi teh herbal, apa dia mau meminta lebih? Tidak sopan. Apa ia harus berkata, "Tolong lepaskan topeng anda."

Begitu?

Sesekali bola safir mencuri pandang pada tuan rumah, duduk bersimpuh dengan topeng di wajahnya. Tetsuya semakin bingung, apa orang ini sedang memejamkan mata atau sedang memperhatikannya dari ujung ke ujung.

"Ada apa?"

Kalimat pertanyaan terlontar, Tetsuya terlonjak.

Tetsuya berdeham kecil. "Permisi, apa … anda bisa melepas topeng itu?"

Tetsuya berusaha sopan, beda cerita kalau tuan rumahnya ikut nyolot.

Permukaan halus topeng diraba jemari lentik. Hening sesaat, kemudian anggukan. Topeng putih berwajah rubah itu dilepas, menampilkan sosok pria menawan. Katanya sih hanya penduduk desa yang mengasingkan diri, tapi sepertinya lebih mirip seorang bangsawan yang mengira dirinya penduduk desa –karena amnesia.

Tetsuya terbisu, bingung harus berucap apa. Tangannya menggoyang cangkir teh, matanya memandang cairan coklat dalam cangkir keramik.

"Apa yang kau lakukan di hutan malam-malam?"

Tetsuya mendongak, pertanyaan lagi. Lama-lama rasanya ia seperti seorang kriminal yang sedang diinterogasi.

"Aku hanya berjalan-jalan. Aku bosan." Tetsuya menjawab seadanya, menyembunyikan gugup.

Orang di hadapannya menggumam. "Lalu kau menemukan tempat tinggalku, heh?"

Tetsuya mengangguk sambil menelan ludah. Nada yang digunakan terdengar tak bersahabat, jaga-jaga kalau orang ini berniat buruk. Keringat dingin mulai meluncur perlahan, gugup menggerogoti Tetsuya.

Sang tuan rumah kembali menyesap teh. "Tenang saja, aku bukan orang jahat. Sudah kujelaskan padamu, aku hanya seorang penduduk desa yang mengasingkan diri ke hutan."

Tetsuya berdiri, semakin gugup. Lihat, orang ini bahkan membaca pikirannya. "Maaf, aku harus kembali. Permisi."

Kedua kaki buru-buru meninggalkan bangunan di tengah hutan, cepat-cepat memakai sandal kayu kemudian berlari keluar. Mengeliminasi kesempatan sang tuan rumah menawarinya hal yang lebih lagi.

….::::***::::….

Tetsuya bertumpu sebelah tangan pada batang pohon besar, napasnya terengah-engah. Berlari dengan kecepatan penuh –walau masih lambat– di tengah hutan lebat, gelap, tanpa penerangan. Beberapa kali tersandung akar besar pohon, hampir jatuh. Luka lebam menabrak akar, jangan ditanya –sudah pasti.

Tepukan dipundak membuatnya terlonjak. Ia langsung menoleh ke belakang. Takut-takut orang tadi mengikutinya, kemudian tiba-tiba menebaskan kapak tajam di lehernya. Tidak, terima kasih.

"Ogiwara-kun! Kau mengagetkanku." Tetsuya mengelus dada, hampir serangan jantung.

Ogiwara mundur beberapa langkah, ikut kaget dengan teriakan Tetsuya. "Maaf, Kuroko."

Tetsuya menghela napas. "Syukurlah, kukira siapa." Bergumam kecil, hampir tak terdengar.

"Kau kenapa di hutan malam-malam?"

"Ah, keluarga kami sedang mengadakan kunjungan ke keluarga Nijimura. Aku meninggalkan kakak berdua dengan Shuuzo-san."

"Kenapa? Kau bosan?" Ogiwara bersandar di batang pohon, diikuti Tetsuya.

Tetsuya mengangguk. "Alasan pertama. Alasan kedua, aku tidak tahan dengan aura cinta yang mereka keluarkan. Bisa kau bayangkan, aku bahkan tak percaya dengan mataku sendiri, Ogiwara-kun!"

Ogiwara menaikkan sebelah alis. "Hah? Apa maksudmu? Dan hentikan, wajahmu mengerikan, Kuroko."

"Kau bayangkan, aku duduk di samping kakak. Shuuzo-san duduk di seberang meja. Aku bahkan bisa melihat aura hati warna merah muda beterbangan di ruangan. Aku perlu periksakan mataku."

"Pfft … Apa itu? Aku bahkan tak dapat mempercayai ceritamu."

Tetsuya menghela napas. "Sudah kuduga. Aku tak dapat meyakinkanmu." Tetsuya mengangkat kedua tangannya, menyerah.

"Kau ini, imajinasimu terlalu tinggi."

Tetsuya hanya menggeleng. "Lagipula Ogiwara-kun sendiri kenapa di hutan?"

"Aku mendapat tugas mengantar hasil ladang ke pelanggan. Kemudian ada patroli malam di hutan."

Kini giliran Tetsuya mengangkat alis. "Patroli malam? Aku baru dengar."

Ogiwara mengangguk. "Hm, hanya beberapa saja yang ditunjuk untuk patroli. Sepertinya hanya desaku dan desa tempat Aomine yang ditunjuk."

"Patroli untuk apa?"

"Kalian masih terlalu muda untuk mengetahui alasannya. Begitu kata kepala desa." Ogiwara mengusap tengkuknya, wajah ditekuk kesal.

"Apa-apaan itu. Seperti ada sesuatu yang bahaya, kan?"

Ogiwara mengangguk. "Ah, tapi aku sempat menguping saat pertemuan di balai desa."

"Soal patroli malam?"

"Ya. Kalau tidak salah, mereka mendapati beberapa orang mencurigakan melewati hutan ini, entah apa tujuannya."

"Penyamun? Ninja?"

"Bukan, mereka tidak pernah menyerang warga sekitar desa dan tentu bukan ninja."

Tetsuya menempelkan telunjuk di pipi. "Apa ya … penyusup?"

Ogiwara menggeleng. "Menurut saksi, mereka membawa peti besar, terbuat dari kayu."

Suasana mendadak hening. Tetsuya dan Ogiwara larut dalam pemikiran masing-masing, berusaha mencari kesimpulan.

Tetsuya berdiri. "Ah, maaf Ogiwara-kun, aku harus segera kembali. Ayahanda memintaku kembali sebelum bulan semakin tinggi."

Ogiwara mengangguk. "Kuaantar."

"Tidak usah, Ogiwara-kun lanjutkan patroli saja."

Ogiwara menggeleng. "Bahaya, kan. Masa aku membiarkan anak perawan jalan sendirian di hutan malam-malam."

"Hei! Aku bukan seorang gadis, Ogiwara-kun."

Ogiwara menempelkan telunjuk di depan bibir. "Tidak boleh berteriak. Sudah malam. Cepat, akan kuantar. Patroli malamku juga sudah selesai."

Tetsuya mendengus kesal. "Terserah."


Bulan di langit, menduduki singgahsana tertingginya. Cahaya bintang berpendar, terlihat kecil dan jauh. Matahari sudah lama kembali ke peraduannya. Tiap manusia sedang sibuk, berjalan mondar-mandir, seperti tak punya kegiatan. Nyatanya memang benar-benar sibuk, menuang minyak dan menyalakan api untuk lampu menemani petualangan mimpi hingga subuh.

Beda ceritanya dengan Tetsuya. Makhluk satu ini malah duduk bertumpu lutut di atas futon, secarik surat di tangan dan kilas balik kejadian di dalam hutan. Ia sendiri malah bingung, mana yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Isi surat di tangannya? Orang yang mengaku penduduk desa yang mengasingkan diri? Atau ucapan Ogiwara?

Tetsuya mengacak rambutnya kesal. Jika tidak ada surat penting, hampir ia meremas telapak tangannya kuat-kuat. Tetsuya menghela napas, menyerah. Menjatuhkan diri ke atas futon –sedikit sakit, ia kira futon cukup tebal untuknya menuburukkan diri. Tetsuya mengguling ke kanan, menghadapkan tubuhnya ke langit-langit kamar.

"Sudahlah. Lebih baik aku tidur."

Tetsuya menyembunyikan amplop surat di balik bantalnya, cepat-cepat memejamkan mata hendak ikut masuk alam bawah sadar.

….::::***::::….

Tetsuya mengerang kecil, mengusap matanya. Rasanya ada yang membuatnya terbangun. Tetsuya segera duduk di atas futon, berusaha mengerjapkan kedua matanya. Matanya melirik jendela kayu lapis washi.

Gelap.

Di luar masih gelap. Tetsuya menautkan kedua alis, mengerang kesal. Kali ini apa lagi yang membangunkannya.

Prang!

Samar, suara pecahan beling masuk ke membran timpaninya. Tetsuya terlonjak, ia segera berdiri dan berlari keluar kamar menuju sumber suara. Koridor lumayan ricuh –panik. Tetsuya berbelok ke kanan, menuju ruang keluarga.

Guci antik lima juta mon milik ayahnya pecah. Pahatan kayu bentuk sakura seharga empat ratus ribu mon milik ibunya pecah. Lukisan di dinding jatuh, beberapa sobek. Ah, uang melayang sia-sia. Kedua mata Tetsuya melebar.

Prang!

Suara pecahan beling lagi. Tetsuya membalikkan tubuh, berlari menuju sumber suara. Kali ini di kamar utama. Sambil merapal dalam hati, berharap tidak ada hal buruk. Pintu kamar utama ditutup. Tetsuya menggeser pintu dengan cepat –sedikit kasar, menimbulkan suara. Baru saja pintu dibuka, tubuh mungil Tetsuya terhempas.

Dua orang bertopeng hitam keluar tergopoh-gopoh, mengangkut peti kayu milik keluarganya. Tetsuya segera bangkit, hendak mengejar keduanya. Kedua mata membuka lebar, alis bertaut. Wajahnya tampak begitu serius. Sebuah tarikan di tangannya membuat Tetsuya mengurungkan niat. Ia menoleh ke belakang, ibunya menggelengkan kepala.

"Ibunda, apakah ayahanda dan ibunda baik-baik saja?" Tetsuya segera membalikkan badan, berlari ke dalam kamar utama.

Ibunya hanya mengangguk, wajah ketakutan hampir menangis. "Ayahmu terluka."

Tetsuya bersimpuh, bertumpu lutut di samping ayahnya. Tangan terluka, untung tidak terlalu dalam. Tetsuya segera berdiri, mengambil kotak berisi perban dan obat-obatan. Dengan langkah terburu-buru, ibunya masuk membawa air –sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Bola putih lembut berserat menyerap air, ditubrukkan perlahan pada luka menganga. Cairan merah bernama darah perlahan bersih, ikut terserap. Desis kecil keluar –perih menyerang. Selesai, perban putih panjang diambil, dililit dengan perlahan dan telaten.

"Ayahanda, nanti pagi akan kupanggilkan Midorima-san."

Pria paruh baya bersurai biru itu hanya mengangguk lemas, tampaknya efek kehilangan banyak darah. Tetsuya kemudian merapikan kotak obat, berdiri dan memandang ibunya.

"Ibunda, sebaiknya ibunda dan ayahanda berpindah kamar. Kamar ini biar kubersihkan dulu."

Pasangan suami istri itu hanya mengangguk tanpa suara. Segera meninggalkan ruangan yang berantakan itu dan pergi ke ruangan lain –melanjutkan tidur. Tetsuya menghela napas.

"Pekerjaan bertambah. Bagus sekali." Gumam Tetsuya –sarkas seperti biasa.

….::::***::::….

Tetsuya mengelap peluh di kening. Pekerjaan membereskan ruangan selesai.

"Akhirnya selesai." Tetsuya menurunkan lengan kimono yang ia gulung.

Mata dengan kantung hitam melirik ke jendela kayu lapis washi. Sudah terang. Tetsuya menghela napas. Ia bekerja berjam-jam, badan lelah, menjerit minta kembali masuk ke dalam futon. Tapi hari sudah pagi, ia masih punya banyak kegiatan.

Sekali lagi, Tetsuya memandang ke sekeliling ruangan. Memastikan ruangan sudah rapi ia melenggang keluar.

"Pagi, Tetsuya!"

Tetsuya menoleh, mendengar suara memanggil namanya. "Selamat pagi, Kakak."

Shougo hanya mengangguk, melangkah menuju ruang makan. Sedang Tetsuya pergi ke bagian belakang rumah, menyimpan sapu dan alat lain untuk membersihkan kamar utama. Ia kembali ke kamar dan segera mandi, berendam di kolam air hangat untuk merilekskan otot yang lelah bekerja.

Tetsuya memandang ke langit –pemandian tidak punya atap. Ia menghela napas. Sepertinya terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Ia bahkan belum menginjak usia delapan belas tahun –usia yang dianggap telah dewasa. Bisa-bisa rambutnya memutih duluan sebelum ia delapan belas tahun.

Tak ingin lama-lama berendam, karena dengan daya tahan tubuh lemah –cepat atau lambat ia akan terserang flu, Tetsuya segera keluar dan memakai kimono biru tua terbuat dari sutra. Ia segera menuju ruang makan, bergabung dengan ayah, ibu, dan kakaknya.

Baru saja membuka pintu ruang makan, namanya sudah menjadi sasaran target sang ayah.

"Tetsuya."

Tetsuya segera menutup pintu, membungkukkan tubuh. "Ya, Ayahanda."

"Ikut aku ke ruanganku. Sekarang makan dulu sarapanmu."

"Baik, Ayahanda."

Tetsuya buru-buru melangkahkan kaki menuju meja makan. Ayahnya tak suka dibuat menunggu. Semua dilakukan Tetsuya serba cepat, bagaimana tidak. Bayangkan kau sedang makan, kemudian sepasang bola mata memperhatikanmu dengan pandangan menusuk –menuntut untuk segera selesai. Tetsuya mempercepat gerakannya, melihat sang ayah sudah lebih dari separuh jalan menghabiskan sarapan. Secangkir kopi hitam pahit menjadi pilihan Tetsuya sebagai penutup makan pagi, kafein sangat ia butuhkan sekarang.

"Terima kasih atas makanannya."

Begitu melihat Tetsuya mengatupkan kedua tangan di depan dada, kepala keluarga Kuroko berdiri dan segera melangkah keluar tanpa menunggu putra bungsunya. Tetsuya pun membungkukkan tubuh pada ibu dan kakaknya dan segera keluar, membuntut sang ayah.

….::::***::::….

"Aku memberitahu hal ini kepadamu sekarang, Tetsuya."

Yang dipanggil mendongak, wajah serius. Diam namun memperhatikan, menunggu kalimat yang akan diucapkan.

"Jaga teman dekat denganmu, namun jaga musuhmu lebih dekat."

Kedua alis ia tarik naik. "Mengikat musuh … lebih dekat daripada teman."

Pria paruh baya itu mengangguk. "Ya. Kau mengerti apa yang kumaksud, kan, Tetsuya?" Matanya menatap Tetsuya, seakan menyibak jawaban.

Tetsuya mengangguk. "Aku paham, Ayahanda."

"Bagus."

Tetsuya mendongak, menatap ayahnya yang menyesap teh. "Ayahanda, aku ingin bertanya."

Kepala keluarga Kuroko menoleh, meletakkan cangkir teh nya. "Soal semalam?"

Tetsuya mengangguk. "Iya."

"Semalam … hanya gangguan biasa. Aku bahkan tahu siapa dalang di balik pencurian semalam." Kepala keluarga Kuroko memejamkan matanya sejenak.

Tetsuya menunduk. "Semalam, apa isi peti yang mereka curi, Ayahanda?"

"Hanya beberapa kain yang akan dijual di toko. Bukan masalah besar."

Tetsuya mengangguk. "Baik. Aku mengerti." Kemudian berdiri, membungkuk. "Aku mohon undur diri. Aku akan memanggil Midorima-san kemari untuk memeriksa luka Ayahanda."

Pria itu hanya mengangguk, menyesap teh dari cangkir keramiknya.

"Tetsuya."

Tetsuya baru saja hendak membuka pintu, suara sang ayah menghentikan niatnya. Ia menoleh.

"Kau akan mengerti. Siapa musuhmu, dan siapa temanmu. Tunggu waktu yang tepat, tanpa isyaratpun kau akan tahu."

Tetsuya tak bersuara. "Aku mengerti, Ayahanda. Dan ketika saat itu datang, kuharap memang sesuai dengan ekspetasi Ayahanda. Aku permisi."

Kemudian pintu ditutup, menandakan seorang telah melenggang pergi. Meninggalkan kepala keluarga Kuroko menyesap teh sendirian di ruang pribadinya.


"Yo, Kuroko."

Tetsuya menoleh. "Selamat siang, Ogiwara-kun."

"Siang."

Bunyi kayu dari geta bertubrukan rumput terdengar semakin jelas. Pemiliknya berjalan mendekat, ikut duduk di tepi danau.

"Kenapa sendirian? Mana kakakmu?" Ogiwara bertanya lagi –kepo.

Tetsuya menggeleng. "Kakak sedang kencan dengan Shuuzo-san, pergi belanja di kota."

Ogiwara hanya tersenyum. "Kenapa? Kau juga ingin kencan? Mau kutemani?"

Tetsuya memandang Ogiwara, tidak bersuara.

"Apa?" Sedang yang ditatap hanya pura-pura tidak tahu.

Tetsuya menghela napas. "Sekarang kita sudah kencan berdua."

"Hah?" Ogiwara membulatkan matanya.

"Kita sedang duduk, di bawah pohon, berdua, di tepi danau. Tapi tidak, terima kasih. Aku tidak akan pernah menerima Ogiwara-kun sebagai kekasihku." Tetsuya berujar panjang lebar, dan menohok hati dengan wajah datar.

"Astaga, Kuroko. Itu kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan, dan kau tahu apa? Kalimat terpanjang pertamamu menohok hatiku."

"Terima kasih."

Ogiwara mengusap wajahnya. "Terserah."

Kemudian hening begitu saja. Seperti kedua orang ini terserang bisu mendadak. Tetsuya memandangi air jernih danau di depan matanya, sedang Ogiwara memandang ke langit sambil bersandar pada pohon. Tetsuya menghela napas tiba-tiba.

Ogiwara mengangkat kedua alisnya, melirik Tetsuya. "Kenapa?"

Tetsuya tidak menoleh, masih memandang danau di depannya –seolah memandang danau lebih baik dari memandang Ogiwara. "Tidak apa-apa."

"Oh, Ayolah, Kuroko. Kau menghela napas kemudian berkata tidak apa? Kau justru membuatku penasaran."

Tetsuya melirik Ogiwara dari ujung matanya. "Sepertinya Ogiwara-kun selalu penasaran, ya?"

"Itu pujian atau sindiran?"

"Keduanya. Ah, tidak perlu berterima kasih padaku."

Giliran Ogiwara menghela napas. "Memang sulit berbicara denganmu."

"Terima kasih."

"Kau berencana mengulang pembicaraan awal kita?"

"Tidak."

Ogiwara rasanya ingin sekali mengangkat temannya ini, menggendongnya ke pantai, membawanya berlari di hamparan pasir putih, kemudian melemparnya ke tengah laut. Tapi kota ini jauh dari pantai, ia harus menyusun rencana lain, misalnya melempar Tetsuya ke danau di depan mereka.

Ogiwara mengangguk-angguk.

"Ada apa, Ogiwara-kun?"

Tanpa melirik Tetsuya, Ogiwara menjawab. "Aku sedang menyusun rencana untuk membuangmu ke dalam danau."

"Terima kasih." Tetsuya menjawab sekadarnya –tampang datar.

"Sama-sama." Dibalas tak kalah datar.

Hening lagi. Sungguh, Ogiwara ingin mengikat temannya di kursi kemudian menyiksa dan memaksa Tetsuya mengeluarkan semua masalah yang ia punya. Problem solved.

"Ogiwara-kun."

Ogiwara menoleh. "Ya?"

"Kalau … suatu saat nanti aku punya masalah besar, apa … kau mau membantuku?"

Ogiwara mengangkat kedua alisnya. "Hah? Tentu saja, kan? Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu?"

"Bu … bukan begitu. Maksudku masalah yang benar-benar besar."

"Tidak masalah." Ogiwara tersenyum. "Justru itu gunanya sahabat, bukankah begitu, Kuroko?"

Tetsuya tersenyum, memandang Ogiwara. "Terima kasih banyak, Ogiwara-kun."

Keduanya memandang langit, tampak larut dalam pikiran masing-masing.

"Tampaknya … sebentar lagi akan ada masalah besar." Tetsuya berujar tiba-tiba –pelan hampir berbisik.

Ogiwara terkejut, raut sahabatnya kini berubah serius –sangat serius hingga menakutkan. "Kuroko?"

Tetsuya tampak terlonjak, ia menoleh. "Eh?"

Ogiwara menggeleng. "Tidak apa. Lebih baik kau pulang, kau punya jadwal pelajaran, kan hari ini?"

Tetsuya cemberut. "Jangan ingatkan aku." Remaja enam belas tahun itu segera berdiri, menepuk-nepuk debu yang mungkin menempel pada kimono birunya.

"Hati-hati di jalan, Kuroko."

Tetsuya mengangguk. "Terima kasih, Ogiwara-kun."

Ogiwara memandangi sosok Tetsuya yang menjauh sambil berlari kecil. "Apa yang kau sembunyikan? Kuroko Tetsuya."


Tetsuya menggeser pintu utama rumah, baru saja pulang.

"Aku pulang."

Ibunya menyambut di teras, tidak seperti biasa.

"Ah, Selamat datang, Tetsuya. Hari ini Daiki-kun mengatakan tidak ada pelajaran memanah. Ia sibuk menemani kekasihnya pergi belanja di kota sebelah."

Tetsuya baru melepas alas kakinya mendongak. "Menemani Ryouta-san belanja?"

Wanita paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Sebagai gantinya, tolong beli bahan untuk makan malam, bisa?"

Tetsuya mengangguk menyanggupi. Lagipula suasana hatinya sedang bahagia –dikarenakan pelajaran memanah yang dibatalkan sepihak. Tangannya menengadah, menerima secarik kertas putih kekuningan kecil, seukuran telapak tangan. Tak lupa membawa dompet kain berisi uang.

"Aku pergi dulu."

"Hati-hati di jalan, Tetsuya."

Tetsuya segera keluar, melangkahkan kaki menuju kota. Awalnya Tetsuya ingin menunggang kuda kesayangannya, mengingat jarak pasar tengah kota yang agak jauh dari rumahnya. Tapi tampaknya sebuah hal bernama 'status' sebagai anak pedagang kain terkaya di kota akan memancing perhatian. Asal kalian tahu, kuda milik keluarga Kuroko bukan kuda sembarangan. Awalnya dari generasi kesepuluh keluarga Kuroko –jauh sebelum Tetsuya lahir, ia tertarik pada kuda yang dijual seorang asing dari luar Jepang. Kuda kelas satu, bulu coklat halus mengilat.

Hingga kini keluarga Kuroko selalu mengambil kuda dengan kualitas nomor satu saja. Masih sangat jarang rakyat biasa mempunyai kuda kualitas baik ini. Harganya bisa sebanding dengan biaya hidup rakyat biasa selama tiga tahun penuh, termasuk biaya makan dan belanja macam-macam.

Tetsuya mempercepat langkah kedua kakinya, pasar bisa keburu tutup kalau dia berlama-lama di jalan. Mencapai pasar di tengah kota, Tetsuya segera membaca daftar dalam kertas.

"Ikan salmon lima ekor … tahu tawar sepuluh buah … sawi putih dua buah … kentang enam buah … apel sepuluh buah." Tetsuya mengangguk, mengingat daftar belanja sekali lihat. Ia menyegerakan langkahnya menuju toko pertama, toko sayur dan buah.

Baru berjalan beberapa langkah, tubuh mungilnya terhempas. Lautan manusia tampaknya tak menghiraukan sosok mungil Tetsuya di tengah mereka. Tetsuya cemberut, berusaha berdiri namun gagal –kembali terdorong sosok lain. Ia hampir berteriak kesal jka tidak ada sebuah tangan terulur untuknya tiba-tiba.

"Kau tidak apa-apa?"

Tetsuya mendongak, menatap malaikat yang baru saja menolongnya –terlalu hiperbola.

"Ah, terima kasih banyak." Tetsuya menyambut uluran tangan itu kemudian berdiri.

"Permisi, aku harus pergi."

Orang yang baru saja menolong Tetsuya itu buru-buru melangkah pergi. Tetsuya menggenggam pergelangan tangannya.

"Maaf, boleh … saya tahu nama anda?"

Orang itu, tepatnya seorang pria muda yang baru saja menolongnya tersenyum.

Mengingat prosedur perkenalan yang biasa ia lakukan, Tetsuya segera kembali menyahut. "Ah, maafkan kelancangan saya. Nama saya Kuroko Tetsuya."

Kembali senyum tipis ia terima. "Salam kenal, Kuroko-san. Namaku Kagami Tatsuya."

"Ah, anda dari keluarga Kagami?"

Pemuda bersurai hitam itu mengangguk. "Aku anak kedua."

Tetsuya mengangguk. "Terima kasih sudah menolongku." Ia membungkukkan tubuhnya, memberikan rasa terima kasih.

"Tidak masalah. Kuharap lain kali kita bisa bertemu lagi, Kuroko-san." Tatsuya berujar sambil tersenyum.

"Ya, aku permisi dulu, Kagami-san."

Tetsuya menyegerakan langkahnya, mengingat tujuannya datang ke kota. Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari letak toko sayur dan buah. Tak sampai dua meter berjalan, toko yang ia tuju sudah terlihat. Tetsuya pun berbelok, membawa kakinya menuju toko itu. Sebelum matanya menangkap sesuatu yang janggal.

Kedua mata Tetsuya membulat. Pandangannya tertuju pada sebuah toko berjarak tak berapa jauh dari toko sayur itu. Mengurungkan niat membeli bahan makanan, ia mendatangi toko yang membuat hatinya resah. Masih ada waktu sebelum toko-toko tutup.

"Urusan ini lebih penting dari membeli bahan makan malam. Aku harus memastikannya."

Tetsuya mempercepat langkahnya, berlari kecil menuju toko itu dengan jantung berdegup cepat.

.

.

.

To be Continued


Note:

Mon adalah mata uang pada masa zaman Edo di Jepang, namun dalam cerita ini tidak bisa dipastikan zaman yang dipakai. Karena tidak adanya pengetahuan penulis seputar zaman Edo yang pasti benar semua. Maafkan saya ._.

Geta adalah sandal di Jepang yang terbuat dari kayu. Geta dibuat dengan alas yang tinggi, bentuk alasnya seperti balok kayu dengan posisi horizontal.


Author's note:

Terima kasih bagi para readers yang telah bersedia menunggu kelanjutan fic ini. Mohon maaf atas keterlambatan update dikarenakan author yang sempat sakit. Selain itu fic ini masih perlu rombak di sana-sini karena bagi saya belum memuaskan. Mohon maaf bila chapter ini hancur ._. karena... otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik setelah UN. Mohon maafkan author ini.

Special Thanks to who have:

Reviewed

Shouraichi Rein | Aka to Kuro | ichiten-ku | Ndong-Chan | Kujo Kasuza | yolandaashari | nyancatfangirl | adelia santi | Bona Nano | Seventyone Square | ichigoStrawberry-nyan | midnightpuncher

Followed

Akari Kareina | Akashi Yukari | Andhrie Seijuurou | Ariska | BaekHun 9294 | ChukheNalu 4ev | Kiria-Akai11 | Kuro Hanabi | Lee Kibum | Ndong-Chan | Newbie Kepo | Shikiru Nara | | Shouraichi Rein | kyuminloid | loliconkawaii | midnightpuncher | nyancatfangirl | yolandaashari

Favorited

Akashi Sorata | Aka to Kuro | Andhrie Seijuurou | Angel Muaffi | Ariska | BaekHun 9294 | ChukheNalu 4ev | Ndong-Chan | SasagiiRokusai | | Sparkle Thanato | kyuminloid | nyancatfangirl | yolandaashari

Sampai jumpa di chapter selanjutnya...

Sign,

Kuhaku