Let's Get Rich!

.

By donini

.

Luhan, Xi (GS)

Sehun, Oh

Kris

Baekhyun, Byun (GS)

.

.

.

Namanya Luhan. Xi Luhan. Ayahnya seseorang dari negeri tirai bambu, China, sedangkan ibunya dari negeri tempatnya sekarang tinggal, Korea Selatan. Wajahnya mungil dengan mata rusa yang berbinar, hidung bangir, bibir mungil, dagu lancip, pipinya tidak terlalu gembil tapi tidak juga tirus. Perpaduan yang cantik, seperti barbie.

Tubuhnya setinggi seratus enam puluh sembilan senti. Dengan tubuh ramping, dan kaki mungilnya yang jenjang. Dengan semua yang ada pada diri seorang Luhan, hanya satu banding seribu yang mampu menolak pesonanya.

Dan satu orang itu jelas bukan seorang Kris. Sejak dulu pria itu sangat tergila-gila dengan Luhan. Mengintai Luhan dari kejauhan.

Pertama kali Kris bertemu dengan Luhan, saat itu si gadis rusa sedang menghadiri pesta ulang tahun perusahaan ayahnya—kini sudah menjadi perusahaannya—bersama kedua orang tuanya. Gadis itu, walaupun usianya kala itu baru sebelas tahun, tapi dimata Kris yang kala itu berusia delapan belas tahun, Luhan begitu menggoda dengan gaun merah menyala yang ia kenakan.

Apalagi rambut hitamnya di gulung ke atas, menampilkan leher jenjang putihnya yang begitu menggoda. Sejak itu Kris bertekat untuk mendapatkan Luhan. Bagaimana pun caranya. Gadis itu sudah lancang mencuri gairahnya.

.

Luhan kembali melirik jam tangan yang melingkari tangan kanan mungilnya. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu dalam waktu satu jam ini. Wajahnya sudah memerah karena panas, musim panas kali ini sungguhan panas. Wajah cantiknya ditekuk dua belas tekukan. Bibir mungilnya mengkerucut menggemaskan. Luhan sedang dalam mode kesal.

Sudah satu jam lalu ia menunggu Baekhyun, sahabatnya, di depan sebuah supermarket. Luhan baru saja membeli beberapa camilan dan juga barang pribadinya untuk sebulan kedepan, dan sahabat mungilnya itu juga menitipkan beberapa barang, dan berjanji untuk menjemputnya. Tapi, demi semua koleksi eyeliner Baekhyun! Ini sudah satu jam dan Baekhyun belum juga datang! Luhan harus meminta Baekhyun untuk membelikannya ponsel keluaran baru sebagai gantinya.

Ini sudah satu setengah jam, dan Baekhyun masih belum juga datang. Baekhyun itu benar-benar! Luhan menaruh empat kantong besar belanjaannya, merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponselnya. Munngkin Baekhyun lupa, Luhan akan coba untuk mengingatkan kalau begitu.

"Yak! Byun B! Where are you?! Kenapa kau belum datang? Aku sudah kepanasan kau tahu?!" Luhan langsung mengomel begitu Baekhyun menjawab panggilannya.

"..." Luhan mendengus. Baekhyun menjawab dengan napas terengah dan juga terputus-putus. Pasti Baekhyun sedang main dengan Chanyeol. Pria itu benar-benar tak bisa menahan gairahnya. Ini siang yang terik dan mereka malah bermain sesuatu yang membuatnya semakin panas.

"Biar aku pulang sendiri!" Luhan memutus sambungan telepon dengan kesal.

Kaki jenjangnya melangkah dengan sedikit di hentakkan. Kalau tahu begini lebih baik ia pulang sendiri! Baekhyun itu memang tidak bisa di andalkan. Ini sudah yang kesekian kalinya ia diberikan harapan palsu. Lain kali Luhan tak akan mau jika Baekhyun menawarkan untuk menjemputnya.

Tangannya menyetop sebuah taksi yang melintas, tapi malah sebuah mobil sport mewah yang berhenti di depannya. Luhan mengernyit. Apa ini taksi terbaru? Mewah sekali. Mata rusanya mencoba mencari celah ke balik kaca hitam mobil itu, tapi tak ada celah.

Pintu mobil itu pun terbuka, seorang pria dengan pakaian kerja yang melekat pas di tubuhnya keluar dari mobil tersebut. Mata tajamnya tertutupi kacamata dengan lensa coklat yang bertengger manis di hidung mancungnya. Tubuhnya berdiri dengan tinggi menjulang di hadapan Luhan, menghalangi sengat matahari yang sejak tadi mengganggunnya.

"Kau butuh tumpangan, non?" Si pria membuka kacamatanya, tersenyum ke arah Luhan. Sial! Senyumnya begitu menggoda.

"A-aku sedang menunggu taksi." Kenapa kau jadi gugup, Lu? Apa karena pria tampan ini?

"Kau gugup. Apa kau tak mengenaliku?" Luhan mengernyit. Memangnya ia mengenal pria ini, ya? Seingatnya, ia tak punya kenalan apalagi teman yang setampan ini. Apa hanya pria ini yang mengenalnya?

"Aku Kris, Lu. Kita pernah bertemu, ya sudah lama sih. Sudah tujuh tahun lalu."

Ah! Kris! Putra sulung dari mendiang Presdir Wu. Luhan sering mendengar tentang Kris dari media. Pria itu sudah memimpin perusahaan ayahnya sejak usianya sembilan belas tahun, dan bisa mempertahankan kesuksesannya itu. Banyak teman sekolahnya yang mengidolakan Kris, Baekhyun salah satunya. Luhan juga, sih, tapi hanya sekedar kagum. Tidak seperti Baekhyun yang seperti pemuja.

"O-oh, Presdir Kris." Luhan membungkukkan tubuhnya entah untuk apa. Kris bukan atasannya—Luhan bahkan belum bekerja—dan juga bukan guru yang mengajarnya.

"Tidak usah gugup begitu, Lu." Kris terkekeh. Luhan itu menggemaskan sekali, sih! "Mau aku antar?"

Entah apa yang Luhan pikirkan, dengan mudah ia menganggukkan kepalanya. Luhan, kau bahkan tak ingat jika pernah bertemu dengan Kris. Dan sekarang dengan mudahnya kau menyetujui Kris yang ingin mengantarmu pulang? Kau tidak takut Presdir itu akan mencelakaimu?

Takut? Untuk apa takut? Kris orang baik—begitu yang tertulis di artikel yang Luhan baca. Kris juga orang yang mempunyai nama, mana mungkin Kris mau menodai nama baiknya sendiri?

.

Mata rusa itu mengejap. Mencoba membiasakan penglihatannya pada cahaya matahari yang menyilaukan mata. Kepalanya pening, seperti ada sesuatu yang bergerak dan aliran listrik yang bersarang di kepalanya. Tubuhnya juga sedikit kaku, persendian kaki dan tangannya sulit untuk di gerakkan. Saat tangannya menyentuh dahi, bukan panas yang dirasa, melainkan dingin. Seperti besi. Ada apa dengan dirinya? Luhan baik-baik saja 'kan?

Menyingkap selimut yang membalut tubuh-

Tubuhnya?! Kemana baju yang kemar-

Bagaimana bisa Luhan ada disini?! Terakhir kali yang ia ingat...

Ia pulang bersama Presdir Kris karena Baekhyun tak jadi menjemputnya. Tapi mengapa ia bisa ada disini?! Siapa yang menggantikan bajunya?! Dan...

Ini bukan kamarnya! Ini kamar siapa?! Luhan dimana?!

Sebuah pintu yang ada di sebelah kanannya terbuka, seorang pria dengan wajah datar datang dari sana. Siapa? Kenapa Luhan bertemu dengan dua pria tampan yang tidak dikenalnya dalam waktu dekat? Luhan bisa overdosis pria tampan kalau begini!

Pria itu berjalan mendekati Luhan yang masih terpaku pada wajah datar yang sialnya tampan itu. Mata sipit nan tajam seperti elang, hidung mancung, bibir tipis yang merah merekah, pipi tirus, dagu lancip. Oh! Tubuhnya juga bidang, ia mengenakan kaos putih tipis yang memperlihatkan dada bidang dan juga absnya.

Luhan menggigit bibirnya saat pria itu berhenti beberapa langkah di hadapannya. Luhan bisa mencium wangi coklat berpadu dengan paper mint dari tubuh si pria. Perpaduan yang menyegarkan. Mata Luhan saja jadi terbuka seribu persen. Sial, Luhan kehilangan fokusnya. Pria tampan selalu ada di urutan teratas dalam hal membuyarkan fokus seorang Luhan.

"Kau sudah sadar?" Suara berat dan sedikit serak itu begitu menggelitik telinga Luhan.

"Ya." Luhan membasahi bibirnya. "Dimana aku?"

"Rumahku." Jadi Luhan ada di rumah si pria tampan ini. Rumahnya pasti besar, kamarnya saja besar. Tunggu-

"Apa?!"

.

.

.

To be continue

.

Nih nini langsung update untuk chap pertamanya hehe.

Mian nempatin TBCnya disitu, hehe! Masih penasaran ga? Kalau masih penasaran review ya?

.

Terima kasih yang sebelumnya sudah review dan memilih HunHan sebagai pairing disini. Maaf kalau chap ini bikin kalian greget karena penasaran (masa?)

.

review juseyo?

.

Donini.