1 – Bedtime Stories

Present

Ruangan itu masih tampak sama. Didominasi warna putih dan biru langit, dengan jendela tertutup korden di salah satu sisi. Di bawah jendela yang menghadap ke taman mungil itu, ada sebuah meja TV yang bisa dipindah-pindah sesuka hati. Dua buah kursi plastik diletakkan di samping pintu, disediakan bagi para pengunjung. Dan di tengah-tengah ruangan, terbaring dikelilingi selang-selang dan monitor, adalah Sam Winchester.

"Hey, Sammy," kata Dean, menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang adiknya. "Tebak siapa yang berpapasan denganku di depan pintu tadi? Si Pirang Jenna. Kurasa perawat itu memenangkan giliran sponge bath-mu lagi." Ia tertawa kecil, seolah Sam bisa mendengarnya. "Aku bertaruh semua perawat di sini sudah tak sabar mengajakmu kencan, Sammy. Mereka tidak akan menunggu lama. Kau akan segera bangun. Pasti." Suaranya pecah di akhir kalimat. Dean menutup mata, menarik nafas pelan dan membuangnya lewat mulut, berusaha mengontrol diri.

Dean berdeham. "Ka – aku baru saja menyelesaikan sebuah kasus. Menurutku agak-agak konyol. Terjadi beberapa pembunu – beberapa peristiwa yang mirip dengan dongeng. Kau tahu, cerita-cerita bodoh macam Snow White, Cinderella dan semua cerita lain yang kau lahap dengan rakus waktu kecil dulu." Lagi-lagi, cowok itu memaksakan tawa. "Omong-omong, aku jadi ingat waktu kau membaca Three Little Pigs dan tak bisa tidur dalam kabin gara-gara takut Serigala Jahat akan meniupnya keras-keras. Oh, dan waktu kau nonton The Wizard of Oz, lalu menabung untuk membeli sepatu merah delima seperti milik Dorothy...."

Ia terus mengoceh, tentang masa kecil mereka, tentang makanan, cewek, apa saja yang bisa membuat mulutnya terus memproduksi kata-kata. Karena hanya itulah satu-satunya cara mencegah airmatanya tumpah. Dean berpaling jauh-jauh dari fakta bahwa Sam tidak bisa menjawab, dan bahwa bicara dengannya hampir sama dengan bicara pada mesin-mesin yang terpasang pada tubuhnya. Sudah lama berlalu sejak terakhir kali Sam menanggapi seloroh Dean. Dean perlu bicara pada adiknya – walau hanya satu arah, perlu berbagi sesuatu agar hatinya tak beku oleh kesepian.

Sebuah ketukan di pintu menghentikan monolog Dean. Ia menunggu sesaat, memastikan suaranya tidak bergetar, lalu menjawab, "masuk."

Seorang pemuda seumuran Sam masuk, tampak sedikit pucat seolah baru sembuh dari flu. Ia memasukkan kedua tangan ke saku jaket, tidak benar-benar menatap Dean waktu berkata, "sudah waktunya, Sir."

"Yeah, yeah," jawab Dean enggan. Ia meremas tangan Sam sejenak, lalu bangkit dari kursi ke pojok ruangan. Si pemuda menggantikan posisinya duduk di kursi dan memegang dahi Sam.

Meski telah berkali-kali menyaksikan hal itu, meski ia tahu si pemuda tidak akan menyakiti Sam, Dean tetap tegang. Ia harus menguatkan hati untuk tidak menyingkirkan tangan pemuda itu. Apalagi waktu tangannya mulai berpendar, dan garis-garis di monitor Sam bergerak lebih cepat. Dean harus berpegangan pada tembok agar tidak merosot ke lantai.

Kemudian, sebelum alarm sempat berbunyi, ritme monitor kembali normal. Si pemuda membuka mata, melepaskan tangan dari dahi Sam. Ia tersenyum kecil. "Selesai, Sir."

Dean mengangguk, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Berkebalikan dengan jantungnya yang berdentum keras. Ia bertanya dalam hati, kapan ini semua akan berakhir?

* * *

Jake Gray keluar dari kamar Lily, memijat keningnya dengan lelah. Menggunakan kekuatannya pada tiga orang dalam satu jam terakhir benar-benar menguras energinya. Belum lagi masih ada satu orang menunggu giliran. Dan khusus untuk orang ini, Sam; ia harus melakukannya semaksimal mungkin; atau Dean akan meninggalkannya.

"Sedang apa kau di sini?"

Cowok itu berputar. Seorang perawat paruh baya dengan kereta berisi suntikan memelototinya. "Kau tidak boleh masuk ke kamar pasien tanpa izin!" bentaknya.

"Maafkan saya Ma'am, tapi...."

"Aku akan panggil sekuriti," kata si perawat, berjalan cepat ke arah pintu kaca.

"Tunggu dulu Ma'am!" Jake buru-buru menyambar tangannya. Wanita itu menoleh, namun sebelum ia sempat berteriak, Jake sudah mencengkeram kedua pelipisnya. "Maaf," bisik Jake, menyalurkan kekuatannya.

Jake melepaskan tangan, mundur dua langkah. Si perawat mengerjap beberapa kali, tampak agak bingung. Ia menengadah. "Jake?" tanyanya ragu.

Cowok itu tersenyum. "Selamat siang, Ma'am."

"Menjenguk adikmu?" perawat itu melayangkan pandang ke pintu kamar Lily, lalu kembali pada Jake. Ekspresinya menunjukkan simpati mendalam.

"Yeah," jawab Jake, "saya baru mau pergi."

"Oh, Jake. Kuharap Lily cepat sembuh." Ia menepuk bahu Jake dengan keibuan. "Nak, kenapa kau terlihat pucat?"

Karena seorang perawat membuatku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencegahnya mengadu ke sekuriti. "Tidak apa-apa, Ma'am. Saya hanya belum sarapan."

Perawat itu mengerutkan dahi. "Kau harusnya lebih memperhatikan kesehatanmu, Jake. Bagaimana kalau kau kembali dulu ke kamar, aku bisa ambilkan sesuatu untukmu."

"Uh, terimakasih, Ma'am. Tapi saya benar-benar harus pergi," jawab Jake sopan. Ia permisi dan setengah berlari sebelum si ibu perawat merecokinya lagi.

Jake tiba di bangsal sayap selatan, kamar nomor 15, tempat Sam dirawat. Seperti biasa, Dean sedang duduk di kursi plastik di samping ranjang adiknya. Jake berdiri diam di depan pintu, kepala bersandar ke dinding, menyimak Dean bercerita. Dengan pendengaran yang makin tajam dari hari ke hari, tidak sulit baginya melakukan hal itu walau terhalang pintu. Dean sedang mencelotehkan salah satu permainan bilyar terhebat yang pernah ia mainkan – permainan yang membuatnya empat ratus dollar lebih kaya dalam semalam. Jake menyaksikan permainan itu dengan mata kepala sendiri, bahkan bisa dibilang menyelamatkan Dean saat salah seorang petaruh tidak menerima kekalahannya. Tapi, tentu saja, nama Jake sama sekali tak disebut-sebut.

Ada rasa iri menggurat hati Jake. Ia rela memberikan apa saja asal bisa berada di posisi Sam sekarang. Lebih baik terbaring tak berdaya, daripada mampu berjalan bebas tapi tak seorang pun peduli padanya. Pernah memang, di satu masa dalam hidupnya – masa yang belum lama berlalu, namun terasa sangat jauh – ia mengalami hal itu. Terjebak dalam tubuhnya sendiri, tak mampu menggerakkan barang satu jari pun, dan hanya menghabiskan waktu mendengarkan seseorang bercerita. Orang yang sangat berarti. Orang yang ia sayangi dan hormati lebih dari segalanya. Tapi kemudian, orang itu direnggut dengan paksa. Mendorong Jake kembali menghadapi dunia nyata, sekali lagi menantang mimpi buruk yang pernah memporak-porandakan hidupnya.

Ketika perasaan menyedihkan tak terbendung lagi, Jake mengetuk pintu. Menghentikan kontak antara Sam dan Dean yang membuat hatinya pilu. Ia mendengar Dean mempersilahkannya masuk.

"Sudah waktunya, Sir," kata Jake grogi. Meski sudah berkali-kali melakukan hal ini, tapi ia tetap tegang. Ia bisa merasakan pandangan Dean mengebor dalam dirinya. Seringkali Jake bertanya-tanya apa Dean bisa membaca pikirannya.

"Yeah, yeah," jawab Dean, kentara sekali enggan menyerahkan sang adik pada Jake. Tidak peduli betapa keras Jake menunjukkan ia bisa dipercaya, keraguan Dean tidak pernah sirna.

Jake meletakkan tangan di dahi Sam, merasakan sensasi khas, seolah Sam adalah penyedot debu raksasa yang menghisap kekuatannya. Tubuhnya serasa melayang, inderanya mendadak lebih peka. Bunyi monitor Sam bergema dalam kepalanya, membuatnya pusing. Tubuhnya mengigil kedinginan, seperti pergi bermain ski dengan baju musim panas, meski pemanas ruangan menyala. Seluruh ruangan berpendar dalam cahaya aneh, Jake memejamkan mata erat-erat agar tidak mual. Ia ingin menarik tangannya, tapi tak bisa. Seolah dahi Sam telah diolesi lem super.

Ketika Jake yakin dirinya akan mati, segalanya berhenti. Proses pentransferan energi telah usai. Ia menghela nafas lega, membuka mata perlahan. Ruangan kembali normal. Jake tak bisa menahan senyum. "Selesai, Sir," lapornya pada Dean yang tampak membatu oleh kekhawatiran.

Dean mengangguk. Tidak ada senyum balasan. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pertanyaan cemas, 'kau tidak apa-apa?' atau tawaran 'sebaiknya kau duduk dulu'. Tidak sedikit pun tanda-tanda ia menyadari betapa lelahnya Jake. Sebaliknya, Dean malah berkata dingin, "bagus. Sekarang, keluarlah."

"Tapi Sir, kita harus...."

"Keluar," ulang Dean keras. Lalu ia menambahkan dengan lebih lembut, "tunggu aku di lobi setengah jam lagi."

Jake terdiam sesaat. "Yes Sir," jawabnya akhirnya, terhuyung sedikit ketika bangkit dari kursi. Harus berpegangan pada tepi ranjang untuk menyeimbangkan diri. Aku benar-benar harus makan, pikir Jake.

"Hei," panggil Dean ketika Jake melewatinya. Cowok itu menoleh. "Pergilah.... makan sesuatu di cafetaria," katanya tanpa menatap Jake.

"Yes Sir," ujar Jake patuh. Dan pintu pun tertutup.