Desclaimer © Masashi Kishimoto ( ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)
Uzumaki Rinnegan © DraconsteeL
Warning : Smart!Naru, Gaje, Abal, Suram, Typo, Ooc, Strong!Naru, etc
Genre : Adventure, Romance, etc
Rating : M
.
Chapter Dua :
~O~
.
Peringatan Keras!
-Jika tidak suka tidak usah dibaca, OK!
.
.
Dahulu kala ada seorang petapa..
Yang menyegel pemimpin dari para Youkai..
Memiliki kekuatan mata atau Doujutsu..
Yang dikenal dengan..
RINNEGAN
.
…
…
Deru angin yang menyelimuti suasana ini cukup tidak terasa, keheningan menjadi satu-satunya yang menghiasi hembusan angin ini hingga menerpa wajah mereka dengan lembut. Mata mereka bergulir menatap kearah Hunter-nin yang berjalan kearah Zabuza dengan perlahan sambil menggenggam pedang pendek di tangannya.
Tak perlu di komando dua kali, Hunter-nin tersebut mengayunkan tanto itu dan menghunuskannya.
Jleb!
Pedang itu mengenai...
Tanah.
"Sunshin"
Naruto memejamkan matanya dengan pelan kemudian menarik nafas perlahan sembari menaruh satu tangannya di kantung celana. Ia sudah menduga kejadian ini akan terjadi, ia membuka matanya dan menatap kearah dimana tempat Hunter-nin itu pergi membawa tubuh Zabuza.
"Fyuuh, bisa kita lanjutkan perjalanan?"
"Sepertinya Kakashi-sensei sedang dalam keadaan kritis karena harus menahan nafasnya dalam jangka waktu yang lama" ujar Sasuke sambil mengecek kondisi Kakashi yang pingsan.
"Baiklah, rumahku tak jauh dari sini. Apa kau butuh bantuan untuk mengangkat tubuh gurumu, bocah?"
Naruto menggeleng. "Tidak terimakasih, semua shinobi takkan menerima bantuan dari warga sipil"
Tazuna memutar mata bosan sambil mengurut pelipisnya yang terasa pusing. "Hahh, bagaimanapun kau habis bertarung dengan Zabuza pasti kelelahan. Setidaknya aku membantu kalian saat ini" Naruto menggeleng untuk yang kedua kalinya.
"Ini tidak sebanding dengan ajaran yang ia berikan kepadaku, Tazuna-san. Bukan karena lelah atau karena tubuhku yang kecil, tapi ini semua karena apa yang ia berikan kepadaku" Naruto berjalan pelan sembari menggendong tubuh Kakashi di punggungnya, meskipun kaki Kakashi yang terseret-seret tetapi Naruto menyadari itu dan menggunakan chakra angin untuk mengangkatnya.
Setidaknya ini karena pengorbanan dan ajaran yang di berikan oleh mantan gurunya...
Saat mereka berkenalan satu sama lain...
Saat mereka melakukan Survival Test yang berakhir dengan kegagalan karena tidak mengetahui inti dari tes itu. Tapi Kakashi memberikan mereka kesempatan kedua untuk mengetahui inti dari tes tersebut...
Dan semua itu berjalan dengan rencana, Naruto yang mulai mengingat kembali kejadian ini di suatu tempat pun memberitahukannya kepada Sasuke dan Sakura dengan cara menggunakan bunshin untuk memberikan kode bergerak...
Saat setiap harinya mereka selalu melakukan pertemuan sekedar untuk mempererat persaudaraan mereka, namun semua itu berubah...
Ketika Naruto di pindahkan oleh Yondaime...
Sejujurnya, Sasuke ingin langsung melabrak Yondaime akan keputusan sepihaknya. Ketika ia mengetahui semua ini di lakukan demi anak dari Yondaime itu sendiri, ia menjadi sangat marah. Ia kenal Menma, anak yang penuh ambisi dan ke aroganan karena dalih anak Hokage.
Sialnya bagi Sasuke, ia tidak punya cukup rencana yang matang untuk mengembalikan Naruto kedalam tim nya. Keinginan itu harus ia pendam untuk beberapa saat sebelum ia mengerti kalau Naruto menerima keputusan itu dengan lapang dada, ini bukan karena keinginan tapi karena apa yang pernah desa perbuat kepadanya.
Sungguh, Sasuke baru menyadari kalau kata-kata itu benar polos dan ia mengetahui satu fakta kalau Naruto bukanlah ninja dari Konohagakure. Sasuke tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi karena kebaikan Naruto kepadanya layaknya saudara kandung sendiri.
Tetapi dari semua itu, Sasuke mulai menyadari. Naruto sangat loyal kepada Konoha dan tidak pernah membantah apa yang di ucapkan oleh Yondaime meski perintah itu tidak baik untuknya. Laki-laki yang memegang garis darah Klan Uzumaki serta julukan baru sebagai... pemegang pedang legendaris, Nuibari.
"Ah Tou-san, akhirnya sampai juga dan siapa mereka?" Tsunami, anak dari Tazuna yang telah membuka pintu untuk mereka dengan ekspresi terkejut melihat Naruto membopong tubuh Kakashi di belakangnya.
"Tsunami. Tolong bantu Naruto-san membawa Kakashi-san kedalam kamar, ia harus di berikan pertolongan akibat pertarungan bersama suruhan Gato, Zabuza Momochi"
Ekspresi Tsunami berubah khawatir. "Apakah Tou-san tidak apa-apa?"
"Tentu, karena ada mereka yang melindungiku" Tazuna memberikan senyuman di wajah tuanya, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan beberapa tahun silam. "Jangan berkata yang aneh-aneh, karena Naruto-san sedang mengalami amnesia" bisik Tazuna tepat di samping Tsunami.
"Baiklah, silahkan bawa kemari Naruto-san"
Naruto pun mengangguk sambil mengekor di belakang Tsunami menuju salah satu kamar meninggalkan Sasuke, Sakura dan Menma yang masih berada di ruang tamu. Mereka menatap kearah punggung Naruto yang terlihat sedikit bongkok karena menerima beban berat di tubuh kecilnya.
Bagaimanapun mereka hanyalah seorang genin dengan usia dua belas tahun, tetapi mereka telah mengalami pertarungan hidup mati karena memang itulah dunia shinobi. Dunia penuh akan kelicikan dan kebencian, tak jarang di antara mereka telah memasuki rantai kebencian.
Hidup sebagai ninja, tidak peduli dengan penderitaan.
Karena penderitaan sudah menjadi satu dengan darah daging mereka...
Mereka yang tidak kuat dengan kehidupan seorang ninja bisa di katakan maut sudah menunggunya.
Brak!
Sasuke di kejutkan oleh suara pintu yang terbuka dengan kasar, iris onyx nya bergulir menatap kearah anak yang tak lebih dari usia tujuh tahun dengan wajah dinginnya menatap kearah mereka semua. "KALIAN TAKKAN PERNAH BISA MENGALAHKAN GATO, KARENA KALIAN AKAN BERAKHIR SEPERTI 'dia'" dan dengan pernyataan singkat itu, anak bernama Inari telah berlari menjauhi mereka.
"Entah kenapa aku melihat Sasuke kedua dalam dirinya" Menma berkata pelan namun dapat di dengar oleh Sasuke yang menggeram.
"JANGAN SAMAKAN AKU BODOH!"
"Maafkan kelakuan anak itu, dia trauma akan kematian 'dia'" ucap Tsunami sedih yang sudah berada tak jauh dari tempat mereka di ikuti oleh Naruto yang muncul dari belakangnya. "Dan semenjak itu sifatnya berubah"
"Uhm maaf Tsunami-san, kalau kami boleh tahu siapakah yang dimaksud 'dia'"
Melihat ekspresi Tsunami yang semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam membuat Sakura mengetahui kalau ia telah memasuki zona tidak aman. "Maaf"
"Tidak" Tsunami menggeleng. "Itu bukan salah kalian, tentu hal yang wajar kalau bertanya sesuatu yang mengganjal pikiran kalian"
"Aku mengerti sekarang" jawab senyum Menma, melipat kedua tanganya di depan dadanya.
Menma berdehem sebentar. "Kalau aku boleh menebak, yang dimaksud 'dia' merupakan ayah dari Inari dan juga suami dari anda Tsunami-san" Tsunami terkejut dan memandang kearah Menma dengan tatapan bersinar tak percaya. "Aku dapat melihat dari kedua mata kalian, sosok yang sangat kalian berdua sayangi"
"Apakah aku benar?" Menma mendongakkan kepalanya dengan sombong.
Naruto menyentil udara dan itu berefek pada Menma yang terjungkal kebelakang. "Bukankah ayahmu sudah berkata kalau kau tidak boleh sombong, Menma"
"Aku tak peduli.. sebaiknya kau tidak perlu khawatir tentangku, aku jauh lebih kuat darimu karena aku pengguna Mokuton"
Naruto menepuk dahinya pelan. "Terserah, Sasuke dan Sakura aku mendapat perintah dari Kakashi-sensei untuk mengajak kalian berlatih selama satu minggu. Menurut prediksiku, Zabuza akan sembuh dari lukanya selama satu minggu itu pun kalau ia masih hidup"
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.
"Kalau melihat dari luka itu, bisa di katakan Hunter-nin tersebut membawa Zabuza ke tempat yang aman tak lebih dari sepuluh menit maka Zabuza akan tewas pada saat itu juga. Pendarahan yang di terimanya cukup parah" jawab Naruto dengan senyuman tipis.
"Hei, aku tak percaya kepadamu" Menma menunjuk kearah wajah Naruto dengan jari telunjuk. "Kau melukai seseorang dan kau malah tersenyum?"
Naruto menautkan alisnya. "Kau benar-benar Na'iv, Menma. Kau belum merasakan bagaimana rasanya penderitaan di dunia Shinobi" Naruto kini memejamkan matanya. "Dan kehilangan orang-orang yang kau sayangi"
'Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Naruto' pikir Sasuke terkejut.
'Naruto-kun...' Sakura menatap kearah Naruto sedih.
"Sebaiknya kita mulai berlatih" Naruto melirikkan matanya kearah Menma. "Kau ikut juga"
"Tidak, aku tak mau di latih oleh genin lemah yang hanya bisa menjalankan misi Rank-D sepertimu"
Buagh!
Menma terpental ketika sebuah tinju bersarang di perutnya, dan pemilik tangan itu adalah...
'Sasuke? Mau apa dia?' pikir Naruto.
"Seharusnya kau itu berpikir, Menma-sama" Sasuke memberikan tatapan mengejeknya. "Kau tidak melihat kalau kami berdua mengalahkan Nuke-nin tingkat tinggi yang bahkan Kakashi-sensei kesulitan melawannya"
Sasuke benar...
Menma terdiam sembari memegangi perutnya yang terasa nyeri, organ dalamnya seperti ada yang hancur ketika terkena pukulan itu. Ia tidak habis pikir, seorang Uchiha mempunyai pukulan yang begitu kuat.
"Uhuk, kenapa kau membelanya, uhuk Sasuke?" Menma menajamkan matanya kearah Naruto. "Uhuk seharusnya kau uhuk membelaku"
Kini giliran Sasuke memasang wajah sombongnya. "Kau tidak mengenal siapa kami, Menma. Kau itu hanyalah anak yang materialistis"
"Sasuke-kun, jangan terlalu terbawa emosi. Sebaiknya kita latihan"
Sasuke mengangguk. "Oke, Tsunami-san boleh kami meminta bekal? Kupikir kami akan pergi hingga menjelang petang nanti"
"Baiklah, tunggu lima menit"
Berlari, terus berlari melompati semua yang ada di hadapannya. Kecepatan yang sudah ia latih selama beberapa tahun kini ia tunjukkan, tidak perlu menggunakan pemberat yang nantinya hanya akan di pamerkan kepada orang lain kalau ia selama ini menyembunyikan kekuatannya.
Buat apa menyembunyikan kecepatan kalau ia bisa menahan gerak lajunya, Naruto melakukan salto sekaligus tendangan tepat pada pohon besar di belakangnya dengan tubuh terbalik.
Buagh! Bumm!
Mata Sakura melebar ketika pohon itu jatuh tepat akan menimpanya, dengan mata menyipit ia mengepalkan tangannya kemudian menghantamkan pukulannya sambil berteriak. "Shannaro!"
Bomm! Cling!
Menma yang melihat pukulan Sakura hingga membuat pohon besar itu menghilang dan bersinar di udara pun meneguk ludahnya, kini ia mulai mengerti semua tentang mereka.
'Kerja sama yah' Menma menundukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman tipis. 'Kini aku mengerti alasan Tou-san berkata seperti itu'
Pluk!
Ia mendongak dan menatap kearah pemilik tangan yang menepuk bahunya, dengan sedikit kerutan pada dahinya sudah diketahui ekspresi tersebut di mata pria ini. "Ayolah, kau tak mungkin melihat kami dengan duduk diam saja kan? Sebaiknya kau tingkatkan kekuatanmu"
Menma menunduk. "Maaf atas perkataanku tadi dan beberapa hari yang lalu"
Penyesalan.. yah penyesalan selalu datang di akhir. Tapi, itu bukanlah masalah bagi Naruto. Ia senang ketika melihat seseorang akan berubah, senang karena ia akan mendapatkan satu teman tambahan lagi. Kemungkinan terbesar maka Menma akan menjadi rival nya.
"Ah kau terlalu banyak berfikir" Naruto menarik tangan Menma dan melemparkan pemilik tubuh tepat di depan Sasuke yang telah bersiap memberikan tendangan. Tak mau mati sia-sia, ia memutar tubuhnya 180° kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menangkis serangan Sasuke.
Bugh!
Terjadi debuman kecil ketika serangan itu ditangkis. Menma meringis saat tulangnya hampir remuk. Sial, ia tidak cukup kuat untuk melawan Sasuke saat ini dan ia harus memikirkan strategi yang cukup matang.
"Jangan biarkan kelengahan menguasaimu"
Entah sejak kapan, Sasuke telah berada di belakangnya sambil mengayunkan kepalan tangannya pada wajah Menma yang berbalik menatap kearah Sasuke.
Buagh!
"Ukh" Menma terpental beberapa meter dan dengan kelihaian ia berhasil mendarat dengan sempurna di atas permukaan tanah. Kini Menma menajamkan penglihatannya saat Sasuke meluncur dengan cepat menyabetkan kunai dari kantung ninjanya. Menma yang telah bersiap untuk menangkis serangan itu harus di kejutkan oleh Sasuke yang tiba-tiba saja menghilang.
Sasuke muncul di belakangnya langsung menyabetkan kunai nya ke punggung Menma.
Trank!
"Bolehkah aku ikut"
Sasuke menyeringai menatap kearah Naruto yang sudah menggenggam besi hitam di tangannya.
"Shannaro!"
Dengan cepat mereka melompat ke udara ketika suara gila dari Sakura membuyarkan satu sama lain, Naruto tersenyum melihat kemampuan Sakura yang tidak berubah, benar-benar kuat. Ia kemudian melemparkan batang besi hitam itu kearah Menma yang sedang lengah.
"Kau terus memberikan celah, Menma"
Jleb!
"Akh" Menma meringis sambil memegang pundaknya yang tertembus besi hitam tersebut, entah kenapa ia merasakan kalau chakranya terus terserap kedalam besi hitam itu.
"Katon : Goukakyuu no Jutsu!"
Naruto yang mendengar jurus dari salah satu sahabatnya pun merapal handseal dengan gerak cepat.
"Katon : Goryuuka no Jutsu!"
Terdengar bunyi pertemuan antara dua jurus katon yang saling bertabrakan, Sasuke dengan kecepatan yang ia punya pun menghindar dari udara dan menapakkan kakinya di atas tanah, ketika bola apinya kalah oleh naga besar buatan Naruto. Ia mendengus singkat. "Kau berlebihan langsung menggunakan jurus itu"
Bruk!
Mereka di kejutkan oleh Menma yang jatuh di hadapan mereka dengan tubuh penuh luka, tak perlu di tanya dua kali pelakunya. Sakura dengan wajah sangar menyatukan kepalan tangannya pada telapak tangannya.
"Kampret, Sakura-chan tidak adil langsung menyerangku yang sedang terluka"
Naruto dan Sasuke tidak menggubris ucapan itu, mereka melompat kebelakang sambil mengangkat sebelah tangan masing-masing.
"Katon : Ryuuka no Jutsu!"
"Katon : Ryuuka no Jutsu!"
Bumm!
"Seperti biasa, Sharingan mu cukup lihai Sasuke"
Sasuke mengangguk. "Kita lanjutkan?"
"Yeah"
Naruto berlari dengan kecepatan yang ia punya kearah Sasuke sambil melemparkan shuriken-shuriken dengan chakra kearah Sasuke berniat untuk membelah tubuh itu. Gerakan yang cepat dan gesit Sasuke perlihatkan sambil membalas shuriken-shuriken tersebut.
Trank! Trank! Trank!
Semua shuriken itu beradu dan menimbulkan sedikit percikan api ketika dua benda itu bergesekan.
Mereka berdua meluncur cepat menyerang satu sama lain , mengayunkan kunainya vertikal dari depan, cukup cepat. Naruto menangkisnya dengan kunainya kembali, ia memutar kakinya 90 derajat dan menghilang.
Trank!
"Sharingan memang luar biasa, bukan begitu Sasuke?"
Naruto tersenyum tipis ketika ia muncul di atas Sasuke sambil mengayunkan kunai nya dapat di tangkis oleh kunai juga. Sasuke dapat melihat celah saat Naruto berada di udara, otomatis maka pergerakan juga akan melambat. Ia melompat kebelakang dan membengkakkan dadanya.
"Katon : Goukakyuu no Jutsu!"
Benar pemikirannya, Naruto hanya diam dengan posisi terbalik dan bersiap untuk jatuh ke atas permukaan tanah. Tapi, ia menyipitkan matanya saat Naruto mengeluarkan Nuibari dari punggungnya sambil berkata pelan. "Kijin no Ken"
Sasuke melebarkan matanya ketika bola api yang ia keluarkan terbelah menjadi dua saat Naruto menghunuskan longsword itu. Ketika kedua kaki berhasil menopang tubuhnya di atas tanah, Naruto menghilang dengan kecepatan dan muncul di belakang Sasuke langsung menyabetkan Nuibari nya ke arah punggung sang Uchiha.
Mata Sasuke melebar merasakan Naruto di belakangnya, dengan reflek ia menunduk sehingga serangan itu melewatinya begitu saja. Ia berbalik cepat dan menghunuskan kunai yang di genggamnya kedepan.
Trank!
Suara kedua senjata yang bergesek itu kembali menghasilkan percikan api. Sasuke terlihat terengah-engah karena menggunakan jurus bola api dengan intensitas chakra yang besar. Dan kali ini ia harus di kejutkan oleh tangan kiri Naruto yang bergerak bebas sudah menciptakan besi hitam.
Ia hanya mampu melebarkan matanya sambil terkejut..
Jleb!
Besi hitam itu mengenai..
Tanah.
"Fyuuh, sepertinya sparring hari ini sampai disini. Dan.." Naruto melototkan matanya ketika Sakura sudah membuat Menma babak belur dengan tubuh penuh luka dan benjol. "...a-apa apaan? Kau terlalu berlebihan, Sakura-chan"
Sakura hanya memberikan cengiran tak berdosa. "Lagipula Menma-kun sangat kuat juga, dia berhasil mengendalikan elemen kayu seperti Hashirama-sama dengan baik. Hanya saja sering meleset"
"Hei meleset karena kau menghindar" protes Menma tidak terima.
Naruto terkekeh pelan. "Sebaiknya kita makan dahulu, sebelum matahari sudah menghilang"
"Ha'i" jawab mereka serentak.
. . .
Uzumaki Rinnegan
. . .
Satu minggu telah berlalu, mereka yang telah siap melawan Zabuza pun tengah berdiri di atas jembatan besar dengan deru angin berhembus lumayan kuat. Helaian rambut mereka pun bergoyang-goyang seiring sapuan angin yang melewati mereka.
"Dimanakah Naruto?"
Sasuke mengangkat bahu. "Entahlah, dia tadi bilang ingin membeli keperluan sebentar"
"Baiklah, jangan biarkan konsentrasi kalian hilang. Meskipun Naruto tidak ada, kita masih memiliki Menma" Kakashi tersenyum di balik maskernya.
"Meskipun aku kecewa kalau bocah Nuibari itu tidak ada disini, anak Yondaime dan Kakashi no Sharingan pun terlihat lumayan" ucap Zabuza yang di sebelah kanannya terdapat Hunter-nin beberapa hari yang lalu. "Tapi sepertinya kau terlihat sangat lemah dari gadis sakura itu"
"JANGAN MENGEJEKKU, SIALAN!"
Sasuke mendengus pelan. "Jaga emosimu Menma, bukankah Naruto telah mengajarimu beberapa hal"
"A-ah iya maaf" Menma nerves sambil mengeratkan pegangannya pada kunai yang berada di tangan kanan dan kirinya. "Sepertinya aku harus lebih banyak belajar mengendalikan emosiku"
Zabuza menghilang dengan kecepatan dan muncul di depan Menma langsung menyabetkan kubikkiribocho ke arah perut Menma. Mata Kakashi melebar saat menyadari yang di incar adalah Menma, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau Menma terbunuh dalam pertarungan kali ini.
Trank!
Kakashi muncul di depan Menma menangkis ayunan pedang Zabuza dengan kunai, merasakan hawa keberadaan dua orang dari belakangnya, Zabuza pun melompat ke udara sembari menatap kebawah.
"Ohohoho Uchiha dan Musim Semi?"
"Katon : Goukakyuu no Jutsu!"
Sasuke memulai ninjutsu pertama ke arah Zabuza yang berada di udara, namun ia menyipitkan matanya saat melihat jurus sama seperti Naruto. Membelah bola apinya dengan sekali hunusan pedang besar itu.
Menggunakan reflek dari pengalamannya bertarung, Zabuza melompat mundur beberapa langkah dari mereka.
"Hyouton Hyösö"
Menma dapat melihat Hunter-nin itu mengangkat air yang berada di bawah kakinya dan membendungnya di atas kepala lalu mengeraskannya menjadi tombak es raksasa dan siap untuk menembus dada Menma.
"Doton : Doryuuheki!"
Tombak es itu menancap tepat pada dinding tanah buatan Menma, kini ia tengah berhadapan dengan Hunter-nin tersebut bersama Sakura dan Sasuke.
"Ingat Menma, jangan biarkan sesuatu mengganggu konsentrasimu"
"Ha'i" ketika ia menghilangkan dinding tanah tersebut, kini mereka di kejutkan oleh Hunter-nin itu kembali mengumpulkan air di udara dan mengubahnya menjadi jarum yang tajam. Hunter-nin itu melompat mundur agar tidak terkena serangannya sendiri.
"Sensatsu Suishö"
Sasuke mengambil inisiatif untuk menghindar, namun ketika ia menyadari serangan itu memiliki radius jangkauan yang cukup luas dan Sakura pun akan tetap terkena kalau menghindar. Ia pun merapal handseal dengan cepat agar tidak terkena serangan itu.
"Katon : Hibarashi!"
Brush!
Ratusan jarum es itu berubah menjadi uap ketika menembus jurus pertahanan api milik Sasuke, belum sempat ia menyerang kembali. Sebuah siluet bayangan muncul di hadapan mereka sambil memegang pedang panjang di tangan kanannya.
"Aku mendengar ada sesuatu yang mengganggu acara Festival ku"
Dan ucapan akhir itu berhasil membuat tubuh Hunter-nin tersebut menegang, bukan tanpa alasan kenapa ia terkejut melihat pria ini. Sejujurnya ia menyadari kekuatan yang ia miliki tidak sepadan dengan pria itu, karena pria itu yang telah mengalahkan sosok yang ia panggil 'ayah'.
"Akan kuberikan apa itu rasa penyesalan"
.
.
To be Continued~
Oke, oke mungkin ini cukup pendek dan alurnya cepat. Oh iya banyak yang bertanya apakah saya tidak repot mengurusi banyak Fanfic, jawabannya sih mudah saja kalau dipikir logika. Saya juga kesulitan, namun itu hanya sekedar ide yang baru saya tulis.
Tapi, tetap Fic itu tidak akan discontinue kecuali ada sesuatu yang benar-benar membuat saya tidak bisa melanjutkan Fic itu.
Tetap berikan komentar kalian tentang Fic ini, oke?
.
.
Draconsteel, Out!
