Petrichor

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated T

Romance

Hope you enjoy it!

.

.

.

Oke. Jungkook kira ia pasti sedang terserang insomnia. Bagaimana dirinya yang biasa mudah tertidur ini jadi sangat susah untuk sekedar melanglang ke dunia kapuk sekarang, berulang kali Jungkook membolak-balik posisi tubuhnya, membut sprei merah marunnya teracak dengan begitu tak manusiawi. Awalnya ia pikir tubuhnya kepanasan, maka ia menyalakan air conditioner, lalu yang terjadi malah ia kedinginan-hell, Jungkook benar-benar tak habis pikir mengenai dirinya sendiri.

Ia menarik bed cover hingga mengubur sebagian wajahnya, menghirup aroma pewangi tempat laundry langganan keluarganya, mamanya tahu benar bahwa Jungkook menyukai aroma baby soap, itu sebabnya semua kain penutup tubuhnya maupun properti lain di kamarnya pastilah beraroma baby soap. Tapi kali ini aroma tender itu sama sekali tak membantu, Jungkook tetap saja tak bisa tidur-bahkan setelah menarik bantal pemberian Jimin ke dalam pelukannya, ia masih tak dapat tidur.

Ia hanya berpikir bahwa ini adalah sebuah kejanggalan, entah dia yang memang tak mengantuk, atau ia memang tak bisa tidur karena percakapan mereka di meja makan tadi? Yah, ia sendiri pun tak tahu mengenai hal itu. Jungkook bukanlah tipe orang yang terlalu membawa banyak hal untuk dijadikan pikiran berkelanjutan, dan lagi percakapan mereka di meja makan tadi tidaklah terlalu complicated-kecuali pada bagian saat Yoongi mengatakan bahwa ia harus berterimakasih pada eomma-nya nanti-lagipula percakapan muram itu berganti topik saat Jungkook mulai sedikit membelok dan membicarakan tentang Apgujeong, tempat yang kebetulan merupakan rumah dari seorang Kim Taehyung juga. Tapi berbicara soal itu membuat Jungkook makin tak bisa memejamkan bola matanya, dan ia harus benar-benar tidur karena, demi Poseidon, besok adalah hari pertamanya di sekolah baru, ia tak ingin datang dengan kantung mata buruk rupa dan bola mata kemerahan, itu akan menciptakan first impression yang amat sangat buruk.

Jungkook berbalik sekali lagi, menghadapkan tubuhnya pada ranjang Jimin yang terpaut delapan meter dari miliknya. Namja yang setahun lebih tua darinya itu telah terlelap sejak jam belajar berakhir pada pukul sembilan tadi, dan ia terlihat benar-benar nyaman dalam gulungan selimut hitamnya. Kurang kerjaan, Jungkook berdiri dan merayap sehalus mungkin mendekati ranjang round-shaped itu dan bersimpuh di lantai. Ia memerhatikan semua detail dari wajah Jimin, mulai dari helaiannya yang nampak seperti di-bleached, pipinya yang tirus, hidungnya yang bangir, dan yang paling sempurna adalah bibirnya, Jungkook tak tahu bahwa keberadaan bibir seperti itu ada di dunia ini; bagi Jungkook itu terlalu sempurna untuk ada pada manusia biasa, sehingga pemuda Jeon curiga bahwa Park Jimin adalah reinkarnasi seorang Dewi Venus. Ah, ingin rasanya Jungkook meminta pada Tuhan agar mengubah wajahnya seperti Jimin-tidak perlu semua, hanya sebagian agar setidaknya ia dapat terlihat maskulin. Yah, maskulin, bukan cantik.

"Kook"

Dan si jelmaan dewi Venus itu kini telah bangun, kelopaknya membuka perlahan dan saat ia menemukan wajah Jungkook di hadapannya, bibir seksi itu melengkung bahagia. "Kau tak tidur?" Tanyanya dengan suara parau, Jimin sedikit menggeliat sebelum berakhir dengan mendudukkan diri atas ranjang.

"Hyung, kenapa bangun?"

"Karena aku merasakan hembusan nafas panas di depan wajahku"

Ops, Jungkook menarik kedua telapaknya dan menutup hidungnya, merasa bersalah menjadi pengganggu dalam acara tidur lelap milik Jimin-hyung nya. "Maaf, hyung" bisik Jungkook, matanya menelusuri wajah Jimin yang tertimpa cahaya redup dari lampu balkon lantai tiga dan mendapati sebuah senyum kecil di sana. Jimin membawa telapak kanannya untuk mengelus surai hitam Jungkook yang cukup berantakan, membuatnya makin mencuat kesana-kemari dan tersenyum konyol melihat hal itu.

"Aey, hyung, jangan tertawa" secara otomatis Jungkook mengeraskan suaranya dan menarik jauh-jauh kepalanya dari jamahan seorang Park Jimin, "tidur lagi hyung, besok kau bisa kesiangan lho" ujar Jungkook, masih tetap dengan menjaga jarak aman karena ia dapat melihat senyum usil Jimin masih terpatri sempurna di wajah tampan itu.

Jimin menyibak selimutnya, menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya dan dengan sedikit memerintah ia mengendikkan dagu pada sang dongsaeng, "bagaimana aku bisa tidur saat tahu bahwa adik kamarku tak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun" Jungkook terperanjat, ia menggeleng cepat, ingin memberikan penolakan namun Jimin-bagaikan shinkansen-memotong ucapannya.

"Kau tak bisa tidur, Kook. Kau selalu takut gelap"

Putusan akhir Park Jimin membuat Jungkook terdiam; itu benar, ia bukan tak bisa tidur karena perkataan Yoongi atau ia yang tak mengantuk. Namun karena ia takut gelap. Dan dengan bodohnya ia lupa akan hal itu.

.

.

.

Jungkook hanya mendapat dua jam waktu tidur dikarenakan ia yang baru dapat terlelap setelah jatuh ke dalam pelukan hangat selimut milik pemuda Park. Ia bangun pada pukul lima, dan hal pertama yang dilihatnya adalah Jimin yang sedang mengancingkan kemeja sekolah mereka. Jimin sudah tampak hampir siap, ia hanya perlu mengancingkan kemeja dan memakai dasi maka ia sudah siap untuk pergi. Sedangkan Jungkook mandi saja belum-heol, hebat sekali. Awalnya Jimin menyuruh dongsaeng-nya itu untuk kembali tidur, mengatakan bahwa masih ada sekitar tigapuluh menit sebelum waktu mandi yang ditetapkan, lagipula sekolah mereka dimulai pada pukul tujuh kurang seperempat, jadi seharusnya Jungkook masih dapat beristirahat sedikit lagi.

"Aish, mana dasiku?" Namun Jungkook menolak tentu saja. Ia segera pergi mandi di kamar mandi lantai satu, terpaksa meminta sabun dan pasta gigi pada salah salah satu teman seangkatannya karena kemarin sore ia lupa meletakkan tempat sabunnya di kamar mandi dan malah menyimpannya di dalam lemari. Jungkook menabur cukup banyak bedak bayi di punggung dan perutnya, menggosok-gosok pipinya hingga memerah lalu menyisir rambut hitamnya, untuk yang ini Jimin sedikit membantu dengan menata poni Jungkook yang sudah kelewat panjang itu dan menyisipkannya ke belakang telinga kanan Jungkook.

"Kook, sudah siap belum?" Jungkook cepat-cepat berlari keluar kamar, ia menggeleng pada Jimin dengan raut wajah ketakutan, "dasiku hilang, hyung" lapornya, Jungkook mengaduh saat telapak Jimin mendarat di dahinya dan decakan terdengar dari kakak kelasnya itu.

"Ppabo, ini baru hari perta-aish biarlah, nanti pinjam punya Yoongi-hyung saja. Sekarang ayo, kau sudah ditunggu Taehyung" dengan tidak sabaran Jimin menarik pergelangan tangan Jungkook, membuat pemuda Jeon itu terpekik kaget dan dengan terburu mengikuti langkah kaki Jimin yang lebih lebar darinya. Jungkook kewalahan saat menuruni tangga-tangga asrama yang lebar-lebar, membuatnya bahkan harus beberapa kali melompati dua anak tangga sekaligus agar bisa menyandingi Jimin. Jungkook bingung, Jimin bilang masih ada banyak waktu untuk bersiap saat ia selesai mandi tadi, namun kenapa sekarang ia malah ditarik dengan kecepatan tak manusiawi macam ini di saat waktu bahkan masih menunjukkan pukul enam pagi.

Dari lantai satu setengah Jungkook dapat melihat Taehyung yang sedang memanggang roti di toaster, di sampingnya ada anak yang kemarin memberikan sabun dan shampoo-nya untuk Jungkook, sontak saja senyum Jungkook melebar, "Yugyeom-ah!" Panggilnya senang. Yang empunya nama langsung berbalik, bersamaan dengan orang lain yang bermarga Kim, "Yugyeom, sarapannya roti bakar?" Jungkook buru-buru melepas telapak Jimin dari pergelangannya dan berlari kecil ke arah Yugyeom, ia mematai dua iris bagel yang diolesi tumbukan krim bawang putih dan dua iris paprika di piring putih ceper milik temannya itu.

Jungkook terlalu sibuk mengomentari menu sarapan Yugyeom yang kelewat sehat dan sederhana itu, ia bahkan mencapitkan teman barunya itu dua potong bacon dengan alasan sebagai sumber protein yang tepat. Jungkook terlalu banyak berbicara hingga ia bahkan tak menyadari seorang Kim Taehyung yang berdiri di belakangnya dengan senyum yang susah didefinisikan. Jungkook memang tak menyadari, tapi Yugyeom seratus persen sadar akan hal itu dan ia bahkan mendapat gestur dari Taehyung yang seakan menyuruhnya pergi-okay, Yugyeom mulai mengendus hal aneh di antara sunbae dan temannya itu, maka ia dengan cepat menarik piringnya dan pergi ke meja milik tingkat sepuluh, tak lupa mengingatkn Jungkook agar segera sarapan juga.

"Jungkook?"

"Oh, hyung!" Nah, ini baru sadar. "Hyung tidak makan?" Di piring putih milik Taehyung, Jungkook dapat melihat dua potong toast beroles choco crunch dan dua potong apel, kelihatan lebih lezat dari milik Yugyeom, pikirnya.

Taehyung mengendikkan bahu, "aku mau mengambil bagel namun seorang bocah memghalangi jalanku dengan mengobrol di depan meja" Taehyung tidak bermaksud menyindir Jungkook, ia hanya ingin menggoda adik kelasnya-yang kini tengah membulatkan kedua matanya dengan kaget dan berulang kali mengucapkan kata maaf. Taehyung ingin tertawa, namun jika ia melepas sebuah tawa maka peran jahat dalam drama pagi mereka akan selesai, maka ia pun hanya menutup mulut dan mengajak Jungkook untuk segera sarapan. Taehyung mengambil meja yang agak jauh dari Kim Yugyeom, takut jika Jungkook malah akan menyerocos tak jelas dengan teman barunya itu alih-alih memakan sarapannya.

Jungkook mengambil beberapa kreker asin dan telur setengah matang untuk sarapannya, juga beberapa brokoli yang merupakan hasil paksaan dari Kim Seokjin yang kebetulan melewati mereka tadi. Jungkook tak butuh waktu lama untuk menghabiskan telurnya karena ia memang pecinta olahan telur dengan kuning yang masih cair itu, dan kreker asin-bahkan brokoli-sukses memasuki perutnya. "Hyung" dan setelah menyampingkan piringnya ia memanggil Taehyung yang masih menggigit potongan apel keduanya, namja itu mengendikkan dagu karena tak bisa menjawab dengan mulut penuh.

"Aku merasa ada yang ganjil"

Taehyung menelan kunyahannya, "apa?" Jungkook menggeleng dan berpikir sesaat.

"Tak tahu" jawabnya. Jungkook mengetuk-ngetukkan telunjuk pada dagunya, ia merasa ada yang ganjil, namun ia tak tahu, ia merasa itu adalah hal yang penting, namun ia tak tahu, dan ketidaktahuan itu membuat Jungkook makin penasaran akan hal yang tak ia ketahui itu. Hell, sejak kapan otak cemerlangnya yang rajin diasupi salmon dan vitamin itu jadi lambat macam ini. Bahkan sampai Taehyung mengajaknya untuk berangkat sekolah, Jungkook masih tak dapat mengingatnya, otaknya kini buyar ditambah lagi dengan ocehan Jimin yang membuatnya makin pusing.

Dan di tengah-tengah perjalanan Jimin berhenti, ia menatap Jungkook dan bertanya kaget, "Kook, mana tasmu?" Taehyung ikut berhenti, dan ikut menatapi Jungkook juga. Butuh beberapa detik bagi Jungkook untuk menepuk dahinya, menghentak kaki, barulah kemudian berlari kembali ke asrama.

"TASKU!" tak lupa menjerit histeris sepanjang perjalanan kembali tentu saja.

Betapa bodohnya kau Jeon Jungkook, sesuatu yang membuatmu merasa ganjil sedari tadi adalah tas sekolahmu; dan kau hampir berangkat ke sekolah tanpa membawa apapun yang berkaitan dengan sekolah. Konyol.

.

.

.

Sebelum pindah ke tempat ini, Jungkook bersekolah di sebuah SMA swasta khusus laki-laki, sebuah sekolah di bawah naungan perusahaan milik keluarga ibunya yang terkenal dengan arsitektur dan akreditasinya yang benar-benar sempurna. Saat masih di sana Jungkook tiap hari harus belajar gila-gilaan, merelakan jam tidur malamnya untuk membuat ringkasan atau membuat slide-slide presentasi agar mendapat nilai yang cukup memuaskan agar tak dicap sebagai penerus keluarga yang gagal. Ayahnya tak pernah menuntut dirinya untuk menjadi sempurna, tak pernah ada yang menuntut dirinya untuk menjadi sempurna-tidak ada, bahkan ibunya sekalipun. Semuanya mencintai dirinya apa adanya, tak ada omong kosong akan dirinya yang harus menjadi seorang perfeksionis hanya karena merupakan cucu tunggal dari petinggi perusahaan Kim. Namun Jungkook yang memaksa dirinya sendiri, lahir dari keluarga bergelimang harta membuatnya takut akan menjadi anak manja, ia tak ingin berakhir di belakang meja CEO hanya karena warisan, ia ingin meraihnya sendiri. Meskipun untuk mencapai titik itu ia harus belajar berteman sekotak tissue, berjaga-jaga jika hidungnya melelehkan cairan merah pekat karena faktor kelelahan.

Namun sekarang Jungkook bersyukur, kebiasaan bekerja kerasnya itu membuatnya tak perlu banting tulang untuk belajar di tempat baru. Lagipula ia juga dapat merasakan dengan jelas bahwa tingkat SMA ini mungkin lebih rendah dari sekolah lamanya, dilihat dari standar nilai juga kurikulumnya. Ini hari pertamanya, ia juga bocah baru di kelas itu, namun hany dalam hitungan jam hampir seluruh anak di kelas mengerumuni tubuh ringkihnya, bertanya macam-macam mengenai soal logaritma atau matriks yang tidak dapat mereka kerjakan. Jungkook hampir tak mendapat ruang untuk bernafas dan tangannya tak sempat merileks-kan otot-ototnya, yang Jungkook lakukan adalah terus menjelaskan sembari menuriskan baris-perbaris langkah dengan sangat teliti dan rapi.

"Terimakasih, Jungkook-ah!" Lalu di akhir math course Jeon Jungkook, seluruh murid yang tadi mengerubunginya menyerukan rasa terimakasih dengan begitu lantang lengkap dengan senyuman penuh rasa syukur di wajah mereka. Jungkook yang meskipun lelah mau tak mau balas tersenyum, perut bagian bawahnya sedikit tergelitik kala ia melihat senyum-senyum manis itu, dulu ia bahkan tak sempat beramah-tamah dengan teman sekelasnya karena terlalu sering berkutat dengan buku namun lihatlah sekarang, ia bahkan menghabiskan sebagian waktu istirahatnya untuk mengajari teman-temannya itu tentang suatu mata pelajaran.

Jungkook meregangkan tubuhnya, sedikit menitikkan air mata saat ia menguap Jungkook lalu mendorong kursinya dan beranjak keluar kelas, hendak memanfaatkan duapuluh menit waktu istirahat yang tersisa untuk membeli sebungkus roti cokelat atau sebotol pomegranate. Sebelum pelajaran dimulai Jimin sempat mampir ke kelasnya tadi, dan memberikan padanya sebuah buku panduan sekolah yang lengkap dengan peta-peta menuju tiap fasilitas sekolah-meskipun ini tak ada tertulis di peta namun Jimin memberi warna sebuah gudang kosong tempat ia biasa membolos dengan spidol berwarna merah, mengatakan bahwa tempat itu akan sangat berguna jika Jungkook sedang jenuh. Jungkook berencana menggunakannya jika pelajaran seni budaya nanti.

Dalam perjalanan menuju lantai dasar, Jungkook sempat menemui beberapa kakak asramanya, di antara mereka ada yang telah Jungkook ajak berkenalan hingga dengan mudah ia dapat menyapa nama mereka satu per satu, lalu salah satu di antara hyung-nya itu berhenti, surainya pirang bersih dan matanya tersenyum bahagia pada Jungkook.

"Mau ke kantin, kah?"

Jungkook mengangguk, "iya hyung, aku lapar dan kurasa aku butuh kimbap"

"Kimbap?"

Jungkook menghela nafas dengan berat, sedikit banyak ada rasa kecewa karena ia sebenarnya mengharapkan roti bukan kimbap. Namun dilihat dari segi waktu, kemungkinan besar makanan berbahan terigu yang amat Jungkook candui itu pasti sudah ludes disikat oleh anak-anak lain.

"Aku ingin roti, namun kurasa roti sudah habis jadi kimbap pun tak apa" lanjutnya.

Jimin sontak saja melengkungkan ujung bibirnya ke bawah, tampak tak suka dengan kalimat yang diucapkan si bocah Jeon itu. Jeon Jungkook tak butuh kimbap, jika ia membutuhkan sepotong atau bahkan seloyang penuh roti maka ia akan mendapatkannya. Jimin tegaskan, orang di hadapannya ini, adik kamarnya sekaligus seseorang yang telah memikat hatinya dari awal itu akan selalu mendapat yang ia inginkan-harus, Park Jimin akan melakukan berbagai cara untuk memenuhi keinginan Jeon Jungkook, entah itu kecil seperti roti atau besar seperti kebahagiaan.

"Mau ke kantin bersamaku?"

Dan hal pertama yang harus ia lakukan untuk memenuhi permintaan Jungkook tentu saja adalah mengikutsertakan dirinya kemana pemuda Jeon itu akan pergi.

.

"Hai, Chim"

"Yo, Tae"

Jimin melayangkan pukulan ringan pada bahu Taehyung kemudian menghempaskan bokong pada kursi kayu di sampingnya, di belakangnya Jungkook mengekor dengan nampan penuh dengan berbagai macam jenis roti-untuk ini, Jimin berhasil membuat ahjumma kantin menyetok persediaan roti hanya untuk Jungkook, jangan tanya bagaimana caranya membujuk wanita paruh baya itu-

"Hai, Tae-hyung" Jungkook ikut menyapa, senyum tak kunjung pergi dari wajahnya saat Taehyung menunjuk bangku di seberang agar Jungkook segera duduk. Taehyung duduk sendirian di pojok kantin, sendirian sampai Jungkook dan Jimin datang lantas menginterupsi dirinya yang sedang menyesap susu putih dan menggigit wafer vanilla.

"Tae, bagi sedikit" tanpa menunggu persetujuan Jimin langsung menyambar gelas tinggi milik Taehyung, meneguk isinya hingga tersisa setengah tanpa rasa berdosa sedikit pun, seakan kurang ia masih bersendawa dan tertawa puas di akhir tegukannya. Dalam hati Taehyung hanya merutuk Jimin dalam diam, untung teman, kalau bukan sudah pasti dahi Jimin sekarang sudah mendarat di lantai keras kantin. Tak ingin susu miliknya diserbu lagi maka Taehyung segera menenggaknya hingga habis.

Taehyung memang lebih tua dari Jungkook, namun cara minum susunya benar-benar tak elit, cairan putih itu sedikit tersisa di ujung-ujung bibir Taehyung dan bahkan membuat kumis susu di bawah hidungnya. Jungkook buru-buru menarik tissue, memberi isyarat pada Taehyung untuk mendekat dan mengelap bibir hyung-nya itu sebersih mungkin, "hyung sudah besar, konyol sekali jika minum susu begini saja masih berantakan" omelnya saat wajah Taehyung telah seutuhnya bersih dari ceceran susu.

Taehyung tergelak, menumpukan dagu pada kedua telapaknya dan mengedip pada Jungkook, "aku rela celemotan disana-sini jika itu berarti kau akan mengelap bibirku seperti tadi"

Sialan

"Kim Taehyung perhatikan mulutmu!"

Jungkook tidak bodoh untuk tak mengetahui bahwa itu sebuah godaan. Kim Taehyung baru saja menggodanya. Kim Taehyung yang baru ia temui kemarin siang sudah berani menggodanya hari ini. Menggodanya, menggoda Jungkook. Sialan.

"Kim Tae! Lihat wajahnya, ya ampun Jungkook-ku yang malang, sini sama hyung" Jungkook sama sekali tak bisa menahan pipinya yang memerah seakan ada pembuluh darah yang pecah di sana. Ia masih menatap Taehyung yang tertawa kegirangan sembari mencomot wafer-wafer vanilla-nya. Jungkook malu, maka dari itu ia memalingkan wajahnya dari Taehyung, membenamkan diri ke dalam pelukan Jimin yang terus mengelus-elus punggung sempitnya bagai kakak yang sedang memcoba melindungi sang adik dari ancaman jahat.

"Ya Jungkookie, kau marah?"

"Tidak" Jungkook berbisik, sekali-kali mengintip dari balik lengan Jimin hanya untuk mendapati Taehyung yang masih tersenyum. Jungkook tidak menyukai perasaan di mana perutnya serasa berputar dan membuatnya mual, ia benci bagaimana wajahnya kian memanas hingga mungkin saja Jimin dapat merasakan suhu wajahnya pada dada bidangnya itu. Taehyung adalah hyung-nya, dan seharusnya hyung tidak membuat adiknya merasa seperti ini.

"Tenanglah Kook, aku hanya bercanda"

"Serius?"

Taehyung mengangguk, dan Jungkook melepas pelukannya pada Jimin sebelum membuka bungkusan roti miliknya lalu menggigitnya dalam gigitan besar. Semua sudah tak apa, perutnya sudah normal dan tak ada lagi suhu tak normal-Jungkook sudah baik-baik saja. Taehyung hampir saja memberikan satu kalimat sebelum matanya melihat Jimin, bagaimana sahabatnya itu menatap Jungkook dan membawa telapaknya untuk mengelus surai kehitaman Jungkook lalu membisikkn sesuatu yang membuat Jungkook mengangguk pelan.

Taehyung tak mengerti, ini seharusnya bukanlah sesuatu yang nyata, namun mengapa hatinya serasa diremas saat melihat itu?

.

.

.

"Kau masih takut untuk dicintai kan, Kook?" Jungkook mengangguk, yang Jimin katakan benar-ia takut dicintai. Ia takut untuk mencintai dan dicintai.

.

.

.

Jungkook benar-benar menyikat habis semua pelajaran seharian itu, ia mendapat nilai sempurna untuk tiap tugas lisan dan tertulis, membuat guru-guru yang baru pertama kali bertemu dengannya langsung memberi cap anak pintar baru pada dirinya. Jungkook senang akan hal itu, ia tidak bermaksud untuk tinggi hati, namun mendapat pengakuan akan kerja kerasmu adalah hal yang sangat Jungkook impi-impikan dan saat hal itu terwujud, hatinya seakan-akan meledak saking girangnya dan ia yakin otot pipinya sedikit merasa kram karena terus tersenyum.

Saat jam pulang telah tiba, Yugyeom dengan bersemangat mengajaknya pulang bersama agar mereka bisa mampir sebentar untuk membeli secup tinggi gelato tiga scoop dalam perjalanan pulang nanti. Jungkook menyetujuinya, ia sangat menyukai gelato terutama yang vanilla. Kegandrungan Jungkook akan es krim dan gelato muncul sejak kelas dua sekolah dasar, di mana sang ayah akan selalu memberinya tiga scoop gelato jika hasil ulangannya sempurna; saat itu ibunya terus mengomel pada sang ayah, khawatir jika putra tunggalnya flu atau mengalami obesitas karena terus dicekoki makanan manis itu, namun ayahnya-sama halnya dengan Jungkook-hanya menganggap itu sebagai ocehan seorang ibu rumah tangga biasa dan membiarkannya. Yah, meskipun pada suatu hari ayah Jungkook harus memohon pada sang istri untuk mengembalikan dompetnya yang ia sita- karena bayangkan saja, Jungkook mendapat duapuluh lima angka seratus di raport bayangannya, dan ibu mana yang mengizinkan anaknya memakan tujuhpuluh lima scoop es krim pada waktu bersamaan, ha?

"Kook, kau mau rasa apa?" Jungkook biasa membeli vanilla, "aku mau cokelat dan original scoop" namun sekali-kali mencoba sesuatu yang berbeda bukanlah hal yang buruk. Jungkook mengambil pesanannya, gelato cokelat, matcha dan chocochips dengan waffle juga sirup mint, milik Yugyeom agak lebih polos dengan rasa cokelat dan mint juga wafer vanilla panjang beserta sebatang kit kat putih. Rasa yang pertama Jungkook dapat kecap ada manisnya cokelat, rasanya benar-benar lezat dan Jungkook rasa hal ini tidak boleh hanya ia rasakan sendiri; maka ia membeli satu lagi dengan cup penutup untuk Jimin, ia bahkan membeli dua kotak Pocky untuk berjaga-jaga jika wafer di gelato itu tidak cukup nanti.

Jungkook menjaga langkahnya agar tetap cepat saat sudah mulai memasuki hutan pinus, Yugyeom yang kesusahan mengikutinya akhirnya menyerah dan membiarkan temannya itu berjalan duluan sedangkan dia berjalan terpaut sepuluh meter jauhnya. Jungkook tak ingin gelato milik Jimin mencair, karena ia tahu betap tak sedap olahan susu dingin itu jika sudah tidak padat lagi. Jungkook beruntung, karena tepat saat ia melewati dapur asrama, Jimin ada di sana, tengah menuang air es dari botol ke dalam gelas kaca.

"Jimin-hyung!" Jungkook menjerit senang, ia mengayun-ayunkan bungkusan gelato saat Jimin berbalik padanya, dan pemuda itu hampir tersedak oleh air di dalam mulutnya saat melihat Jungkook yang berlari ke arahnya dengan begitu cepat.

"Hyung, hyung, hyung, gelato" saat kantong kresek berwarna putih itu disodorkan padanya Jimin langsung mengintip, ia mendesah senang saat melihat cup putih berisi benda manis itu dan mengucap terima kasih pada Jungkook. Berhubung milik Jungkook juga belum habis, maka mereka memutuskan untuk makan bersama di gazebo luar-kata Jimin ini adalah musim semi, dan kemungkinan besar ada beberpa buah peach yang telah matang di dekat gazebo itu. Maka tanpa mengganti seragam, mereka duduk berhadap-hadapan, menyendok kecil-kecil olahan susu manis itu dan mencicipi milik satu sama lain.

Memang benar kata Jimin, ada beberapa peach yang telah matang, dan Jungkook menginginkannya. Ia hampir memetik satu jika saja tak ada seorang Min Yoongi yang tiba-tiba muncul dari balik pagar belakang asrama, lengkap dengan overall jeans lusuh dan topi bertani. "A yo, Kook" sapanya sembari mengacungkan gunting taman yang dipenuhi lilitan duri tanaman. Yoongi memanjat pagar dan melempar senyum pada Jimin saat ia ikut mengambil tempat di samping pemuda itu.

Jimin sempat menyodorkan sendok gelatonya, yang kemudian segera dijilat bersih oleh Yoongi, "terimakasih, Jim" katanya kemudian. Jungkook tetap memetik peach yang ia inginkan, sedikit mengelapnya dengan sweaternya sebelum menggigitnya, membiarkan cairan dari buah itu menuruni dagunya yang runcing.

"Bagaimana hari pertamamu di sekolah, Kook?"

"Bagus hyung" Jungkook mendecak saat Jimin menyeka ujung bibirnya, "aku tidak celemotan" protes Jungkook. Lalu ditepis Jimin dengan dengusan lucu, "kau celemotan, manisku"

Yoongi yang melihatnya memutar jengah kedua bola mata hazelnya, merasa kembali pada zaman ia bersekolah dulu, di mana ia pernah diperlakukan seperti itu juga, di mana ia bahkan pernah mendapat perlakuan yang lebih-tapi biarlah, masa lalu ya masa lalu, sekarang Yoongi hanyalah seorang bujang muda yang terlanjur lapuk dan tak bergairah hidup, bukan lagi remaja hiper yang manis dan lucu.

"Apa kau sudah mendapat teman di sini?"

"Sudah, si Gyeommie, terus Bambam-nama aslinya sangat aneh, sumpah- lalu Eunha"

"Seorang gadis?" Jimin bertanya tak percaya, pun juga Yoongi yang menunjukkan sedikit kekagetannya lewat matanya. Hell, Jungkook tak tampak seperti pria yang akan memiliki seorang teman gadis.

"Iya, dia anak yang baik, ia memberiku bekalnya tadi saat istirahat kedua, bahkan ia memberiku susu pisang"

Jimin mengulum senyum; itu bukan baik Kook, itu tandanya dia naksir.

Yoongi yang memiliki pemikiran yang sam dengan Jimin hanya mengibas-ngibaskan tangannya, "katakan pada Jimin kalau dia macam-macam padamu, Kook"

Jungkook tak paham, ia mengangkat salah satu alisnya, "maksud hyu-"

"Oh, itu Taehyung. Taehyungie, Jungkook memanggilmu!"

Bohong, Jungkook tak memanggil Taehyung. Jungkook berbalik ke belakang, melihat Taehyung yang baru pulang dari sekolah, tali tasnya hanya menggantung di satu sisi bahunya saja sementara di sisi lain ada almamater sekolah mereka. Wajah Taehyung terlihat agak kusut, namun ia tetap tersenyum saat menghampiri Jungkook, menyempatkan diri mengusap kepala sang dongsaeng lalu memberi salam pada Yoongi.

"Eum, gelato? Mau dong" Taehyung setengah merengek saat mengatakannya, ia bahkan sampai berjongkok di samping Jungkook dan membuka mulutnya. Itu adalah sebuah cara yang lucu untuk meminta sesuatu, apalagi jika dilakukan oleh Kim Taehyung yang secara visual dapat diberi predikat sebagai pangeran berhati es-salahkan jawline-nya yang kelewat tajam itu-

Jungkook pun menyuap seluruh sisa gelato miliknya ke dalam mulut Taehyung, tertawa kecil saat namja Kim itu mengecap-ngecap bagai seorang bayi, lalu menggumamkan kata enak dengan senyum lebar. Saat cup itu telah kosong Taehyung segera berdiri, mengambil tas Jungkook yang tergeletak di atas meja dan memberi isyarat untuk segera berdiri, "ayo masuk, kau harus mandi" jawabnya saat diberi tatapan tak mengerti oleh pemuda Jeon.

"Tapi Jimin-hyung dan Yoongi-hyung?"

"Aku akan menemani Jimin sedikit lebih lama, kau masuklah" Yoongi buru-buru menjawab, ia tampak tersenyum pada Jungkook dan terus mengibaskan tangan agar Jungkook segera masuk bersama Taehyung. Yoongi hanya tidak tahu bahwa Jimin kini tengah menatapinya- ia tetap tak menyadarinya bahkan setelah Jungkook dan Taehyung pergi dari situ- sedangkan seulas senyum sempat mampir di wajah Jimin sebelum namja itu menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Jimin lelah, sekali.

"Sainganmu berat, Jim"

Dan percakapan ini akan membuatnya makin lelah.

"Aku tahu hyung"

Tapi biarlah.

"Namun mau bagaimana lagi. Janji tetaplah janji, hyung"

Sadarilah Park Jimin, bukan hanya kau yang lelah akan percakapan menyakitkan ini, namun namja pucat di hadapanmu itu lebih lelah lagi dibanding dirimu. Terlalu lelah sampai terkadang ia merasa mati lebih tepat daripada berlama-lama harus melihatmu memperjuangkan cinta yang sama sekali tak nyata.

.

.

.

TBC