"Kau harus tahu Naruto bahwa kata adalah sesuatu yang luar biasa. Itu membuatmu bisa merangkai kalimat bahkan bisa membuat keajaiban." Aku melihat kakek tua menerangkan padaku dengan bijak sambil kami berdua duduk bersandingan dibawah rindangnya pohon beralaskan batang pohon rubuh yang masih baru. Angin segar menerpa diriku saat aku menyimak semua yang dia katakan.

Kakek tua ini bukanlah orang asing bagiku sekarang. Dia bagai keluarga yang baru didalam hatiku saat ini. Untuk seseorang yang memiliki ingatan masa lalunya dan menyadari terlahir kembali di dunia baru yang benar-benar asing bagiku, aku merasa bersyukur dipertemukan olehnya.

Itu terjadi di lima belas tahun yang lampau. Meski ingatanku buram ketika aku mati setelah melakukan Jutsu penghabisan, aku masih ingat dimana ada senyuman tersenyum untukku dan aku merasa ringan sekali. Aku menyadari saat itu adalah inilah rasanya kematian. Damai dan tentram namun itu hanya sebentar rasanya bagiku karena ketika aku mendengar suara-suara bergemerisik di telinga, bau-bauan segar tanah yang bercampur air dan kelembapan hutan yang sangat kukenal, aku membuka mataku untuk menyadari kakek tua yang berada di sampingku ini mengangkat tubuhku dari keranjang kecil. Aku yang panik saat itu tidak bisa berpikir jernih dan berteriak keras. Kenapa ada orang tua raksasa mengangkatku?

Lalu saat itu teriakanku mengingatkanku pada teriakan seorang anak yang belum dewasa. Ketika aku melihat tanganku, aku menyadari saat itu bahwa tanganku kecil, mungil seperti bayi tapi pikiranku berproses lebih cepat dari biasanya.

Aku bukan melihat kakek tua raksasa. Aku justru kembali menjadi bayi.

Dimana?

Apa yang terjadi?

Perasaanku bercampur berniat membuat panik akan situasi yang tidak kuketahui saat itu. Sensasinya masih terasa jelas dan itu terus teringat. Aku mencoba untuk tenang dimana situasinya begitu aneh namun aku harus bisa tetap tenang.

Aku melihat setelah teriakanku tadi, kakek tua itu berusaha menenangkanku. Dia mengayun-ayunkan lengannya dengan pelan dan tidak kasar. Dia mengatakan sesuatu dengan suara khas kakek-kakek namun begitu lembut. Sebuah melodi yang kutahu ketika aku telah dewasa. Hal itu membantuku untuk tambah tenang dan baru bertanya pada diriku sendiri.

Apa dengan aku menjadi bayi aku mengalami kehidupan kedua? Kesempatan kedua?

Jawaban itu berputar terus-menerus dalam pikiranku dan tidak mau menghilang namun aku lalu mendengar kata yang kutahu keluar dari kakek tua yang kupikir raksasa kala itu terasa sangat lekat dengan diriku. Kata itu diucapkan setelah secarik kertas yang mungkin berada di bawah kulihat melayang kala itu ke tangan kakek tua itu dan kata itu keluar dari mulutnya.

"Uzumaki Naruto." Kata kakek tua itu. "Itukah namamu nak?"

Entah bagaimana atau hanya karena suatu kebiasaan ketika seseorang dipanggil namanya, aku kala itu mengangguk dan kakek tua itu tersenyum.

Setidaknya itulah perkenalan pertamaku dengan kakek tua yang berada di sampingku ini. Hal yang terjadi setelahnya hanyalah ingatan lepas yang terasa mengisi otakku. Aku menyadari situasi diriku, aku menerima itu semua dan ketika realita sudah terlihat nyata dan kebenaran ada di hadapanku, aku menerima semuanya bahwa aku terlahir kembali sebagai seseorang yang baru. Mungkin aku tidak akan mudah melupakan apa yang sudah aku jalani sebelumnya di dunia yang kutahu, namun seperti yang kakek tua disampingku ini pernah bilang padaku suatu hari, aku terus mencoba hidup maju.

Ada kalanya saat kita harus merelakan sesuatu untuk membuat hati kita semakin besar.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat setelah itu. Memang benar ada juga rasa bosan dahulu ketika masih menjadi bayi dan ketika baru bisa berjalan dan berkata, aku baru berusaha mengenal duniaku dengan bertanya.

Kakek tua yang merawatku lebih dari senang untuk mengajariku segalanya. Kakek tua bernama Gasil itu kemudian menjadi seseorang figur keluarga bagiku. Dia membesarkanku, memberikan rumah di dalam hutan dengan bangunan rumah batu tua yang kokoh dan merawatku seperti aku adalah anaknya sendiri. Kakek Gasil adalah kakek yang baik. Dia gemar berkelakar dan senang berkata sesuatu yang kupikir itu adalah kata-kata bijaknya dalam menyikapi kehidupan tua-nya. Dia gemar bermain seruling namun terkadang dia mengeluhkan bagaimana rambut-rambut dari kumis dan jenggotnya yang panjang terkadang menyelip diantara jari-jarinya saat bermain seruling. Dia suka dengan buah apel yang tumbuh disamping rumah tua kami dan senang dengan jamur Alfukot—Jamur itu tumbuh di dalam tanah dan hanya dengan mengetahui lubang kecil yang menjadi pertanda jamur itu tumbuh maka seseorang bisa menemukannya. Itupun dengan mata yang harus jeli sekali membedakan bagaimana lubang jamur itu bentuknya— yang direbus lalu dimasak dengan tanaman herbal yang tersedia dihutan sekitar. Tubuh Gasil itu kurus dengan selalu membawa tongkat panjang berwarna putih yang ada ukiran simbol dari kata-kata sihir dengan permata kecil biru di ujungnya sebagai alat bantu penopang.

Bicara tentang sihir, itu adalah sesuatu yang seperti Jutsu jika itu bisa disandingkan. Namun alih-alih memakai energi Chakra, sihir lebih menggunakan Mana. Mana sendiri lebih ringan dari Chakra. Tidak kental dan berat serta mudah dikonrol juga itu dihasilkan saat tubuh menyerap energi di sekitar dari sisa-sisa Etherion. Energi yang hadir ketika dewa-dewi turun dari atas langit untuk membuat isi dunia dan disalurkan ke seluruh tubuh lewat jalur sirkuit yang mirip dengan Tenketsu. Sihir dilakukan dengan penyusunan lafalan kata untuk membentuk kalimat sebagai pengganti segel tangan dan jika sudah sangat mahir, lafalan kata bisa diperpendek dengan pemadatan lafalan kata menjadi satu kata ataupun satu baris.

Gasil adalah seorang penyihir. Dia adalah seorang penyihir putih yang memilih mengasingkan dirinya di dalam hutan kematian ini jauh di dalamnya. Katanya masanya untuk berkelana sudah berakhir dan dia sudah waktunya menetap untuk menunggu sesuatu. Aku tidak pernah lagi menanyakan dia menunggu apa setelah aku pernah bertanya demikian namun dia diam saja. Kupikir bahwa itu karena sesuatu yang dia tunggu lebih kepada sesuatu yang pribadi.

Aku menghargai itu sebagaimana Gasil selalu menghargai setiap pendapatku tentang sesuatu.

Aku sendiri tumbuh menjadi pribadi yang berbeda didunia baru ini. Hilang sudah kebodohan yang biasa aku lakukan ataupun bagaimana lambatnya aku dalam berfikir. Kupikir kelahiran kembali juga melahirkan pikiranku agar lebih mencerna sesuatu dan mempelajarinya dengan lebih baik. Aku masih sering berbuat kejahilan namun kejahilan itu lebih sering kulakukan pada penghuni hutan yang menjadi temanku juga teman Gasil. Soal hal lain, kupikir aku lebih menjadi dewasa dibanding dulu apalagi dengan Gasil yang menuntunku untuk lebih mengetahuinya lebih dari sekedar sudut pandang lain. Pengetahuan dan kebijaksanaannya melebihi dari Ero-Sennin tanpa adanya sifat mesum didalamnya. Berada disisinya selama lima belas tahun menularkan juga caranya berfikir dan memandang dunia padaku.

"Seperti ini?" Aku menggerakkan tangan kananku ke arah depan. Jemariku terbuka namun tidak terlalu lebar. "O air — fluit frigus et praebent. Ventum."

Sesuai apa yang aku ucapkan, Mana yang keluar dari tubuhku lewat bantuan rapalan kata yang menjadi kalimat berbaur dan menggerakkan udara, menjadikannya hembusan angin kecil yang menerpa sekeliling. Aku melihat Gasil tersenyum kepadaku.

"Kau benar Naruto." Kata Gasil. "Bukankah suatu keajaiban kau bisa menggerakkan udara? Menjadikannya angin lalu membuatmu merasa sejuk? Itulah kenapa kata adalah sesuatu yang menakjubkan."

"Tidak banyak yang bisa membuat keajaiban Naruto. Terkadang keajaiban itu justru membuatmu buta dan kau berjalan di arah yang salah. Aku sudah melihat itu berulangkali." Pandangan Gasil terlihat menerawang jauh sekali. "Mereka yang mengerti bahwa dengan membuat keajaiban membuat mereka istimewa haruslah selalu rendah hati Naruto. Keajaiban diciptakan untuk menolong mereka yang berharap dan harapan itu kembali kepada kita sendiri bagaimana kita berharap."

Aku mendengarkan Gasil dengan seksama.

"Tahun depan nanti saat tiba saatnya kau harus berkelana Naruto, kau harus tahu bahwa kau adalah mereka yang diberi kelebihan untuk membuat keajaiban. Kau kuajarkan untuk membuat keajaiban demi orang banyak. Bukan demi dirimu sendiri." Tangan keriput Gasil lalu mengelus rambut pirangku dengan lembut. "Ingat itu baik-baik nak."

Aku mengangguk.

Nasihat Gasil kali ini tidaklah berlebihan. Gasil pernah berkata padaku bahwa sirkuit sihirku itu berbeda dengan para penyihir di dunia ini. Itu dia kategorikan sebagai sesuatu yang baru dan katanya aku bukanlah seorang penyihir.

Seorang penyihir mempunyai sirkuit sihir yang akan mencegah mereka menua lebih cepat daripada manusia biasa. Itu membuat umur mereka jauh melebihi umur manusia yang ada dan itu membuat mereka hidup jauh lebih lama daripada yang aku kira. Aku pernah bertanya pada Gasil berapa lama dia telah hidup dan yang kulihat saat itu adalah tatapan tua-nya yang memberitahuku segalanya.

Dengan tatapan kesedihan dan rasa sakit begitu besar. Dengan kebijaksanaan yang dia miliki.

Gasil…

Terkadang umur yang jauh melebihi orang-orang yang kau tahu selalu meninggalkan luka teramat dalam.

Itukah alasannya kau mengasingkan diri disini?

Gasil memberitahuku bahwa sirkuit sihirku tidaklah mempengaruhi umurku. Itu sesuatu yang berbeda dan membuatku berada di antara tengah-tengah manusia dan penyihir. Aku bisa menggunakan sihir dan aku tetap menua dan akan mati sesuai umur manusia yang berlaku. Aku tidak tahu haruskah merasa senang atau sedih karena itu. Di sisi lain aku ingin terus menemani Gasil namun Gasil berkata bahwa tidak mungkin aku akan menghabiskan sisa umurku terus berada di hutan selamanya.

Aku tahu itu alasanmu agar tidak merasakan sakit jika aku pergi meninggalkanmu.

Aku tidak bicara banyak lagi sejak itu. Aku mengerti.

Di tahun berikutnya nanti saat aku akan menjadi dewasa— umur enam belas tahun adalah suatu umur kedewasaan— aku harus mulai berkelana sesuai permintaan Gasil padaku. Itu akan terjadi dalam waktu cepat dan untuk saat ini aku hanya ingin menikmati waktuku bersamamu.

Hingga aku kembali suatu saat nanti dan memperkenalkanmu pada keluarga yang mungkin kumiliki.

Aku selalu menyayangimu.

Aku bergerak diantara dahan pepohonan. Meloncat seperti layaknya kera, dengan lincahnya bahkan sesekali aku meliukkan tubuhku diantara dua dahan untuk sampai di tempat yang ingin kutuju. Aku melirik ke atas sedikit dan tersenyum kemudian ketika mataku menangkap sesuatu yang familiar bagiku.

Dia tepat berada di atasku. Seekor burung hantu putih yang terbang dengan mengepakkan sayapnya cepat.

Itu adalah patnerku. Namanya adalah Shiro yang berarti putih. Sesuai namanya aku menamai-nya demikian karena warna bulunya putih bersih seputih salju. Aku yang membesarkannya ketika aku menemukan telurnya di antara dua dahan di atas pohon Oak. Itu terjadi dimasa aku kecil. Gasil yang menyuruhku untuk mengambilnya dan merawatnya untuk menjadi patnerku sekarang.

Sebenarnya Shiro bukanlah burung hantu biasa. Itu adalah burung hantu sihir yang biasa dikontrak oleh para penyihir dan itu adalah sesuatu yang langka. Dengan menjalin kontrak dengan Shiro aku bisa mengakses suatu sihir hubungan dimana aku bisa melihat lewat mata Shiro kapan pun aku mau. Itu adalah keuntungan tersendiri saat aku sedang menjalani suatu penjelajahan di hutan.

Suatu hari tanpa sengaja aku mengakses mata Shiro yang sedang berpergian dan menemukan sebuah tempat yang menarik. Tempat itu adalah sebuah mata air di bagian antara lembah yang berada di dalam hutan tempatku dan Gasil berada. Itu berada di sekitar empat puluh Minea — sekitar tiga puluh kilometer — dari rumahku dan Gasil tinggal.

Kupikir Gasil juga mengetahui tentang mata air ini dan aku hanya meninggalkan sebuah catatan pada Gasil sebagaimana aku biasa lakukan jika bermain dengan hewan-hewan penghuni hutan ini kepadanya.

Aku mendarat di salah satu dahan dan aku bisa melihat mata air di depanku kemudian. Airnya jernih dan biru sekali. Terlihat bening dan berkilauan ketika sinar matahari sayup-sayup masuk lewat rimbunnya dedaunan untuk menyinari mata air ini yang dikelilingi pohon-pohon besar.

Sepertinya jika aku mandi didalam akan terasa sangat kesegarannya. Ini akan menjadi tempat pemandian rahasiaku. Aku turun dari dahan pohon. Melepaskan segala pakaianku yang terbuat dari serat pintalan kasar pohon Abasia yang dirajut sendiri oleh Gasil, aku juga meletakkan busur panah yang kubuat sendiri yang selalu berada disisiku untuk jaga-jaga kesamping bajuku yang telah aku lepas. Menyisakan celana panjang, dengan teriakan riang sekali aku lalu berlari dan mandi disana.

Apa yang kukatakan bahwa airnya sangat segar memang benar. Aku mandi cukup lama disana hingga aku tanpa sadar menyadari sesuatu bahwa ada yang mengintaiku dari balik pepohonan. Itu barulah kusadari ketika aku merasakan hawa tidak enak ditengkuk belakangku dan aku menoleh.

Dua pasang mata merah menatapku. Tatapannya garang dan dia menggeram. Tubuhnya besar berbulu biru dengan cakar-cakar tajamnya yang keluar dari sela-sela telapak kakinya.

Macan biru Aukasia.

Kenapa bertemu hewan buas ini disini?

Macan itu lompat untuk menerkamku. Aku melompat menghindarinya kesamping dan dia berbalik. Menggeram lebih keras. Pandanganku menajam memberikan pandangan yang sama tepat ke arah matanya.

Aku tidak takut dengan intimidasi yang kau buat.

Macan biru Aukasia adalah macan besar yang tubuhnya menyaingi singa. Dia tidak meraung tapi dia lebih menggeram. Gigi taringnya yang bagian atas panjangnya sekitar tiga puluh Sens — dua puluh lima senti— dengan ketajaman yang bisa mengoyak daging dengan mudah. Aku melirik ke arah belakangnya. Busur dan anak panahku berada disana dan Shiro berteriak diatas langit sambil kuyakin dia berputar untuk memberikanku pandangan sekitar lewat matanya.

Macan ini sendirian. Baguslah karena biasanya macan ini dari yang diberitahu Gasil selalu berkelompok dengan dua atau tiga macan lainnya. Mungkin macan ini terpisah dari kelompoknya yang lain dan sekarang kelaparan lalu melihatku sebagai mangsa. Aku bisa saja lari sekarang, meninggalkan semua barangku tapi dimana serunya itu semua. Sudah lama sejak aku merasa berada disituasi menegangkan.

Macan itu menerkam lagi. Aku melompat lagi ke samping lalu berlari ke arah busurku. Dia mengejar dari belakang dan aku menyambar busurku sembari satu anak panah. Macan itu menerkam lagi saat aku berlari setelah mengambil busur dan anak panahku dimana aku berlari ke arah pohon. Dalam kecepatan tinggi yang kubisa aku berlari di batang pohon yang tegak itu dan berpijak dengan satu pijakan kuat untuk melompat secara memutar. Anak panahku sudah berada di busur dan senarnya sudah kutarik. Aku bisa melihat punggung macan itu berada dibawahku namun aku memilih membidik di tengkuknya.

Kena kau!

Panahku melesat dengan kecepatan tinggi. Itu mengenai sasaran dan macan itu menabrak pohon didepannya lalu ambruk.

Kupikir dia sudah mati setelah itu.

Aku kemudian menurunkan busurku dan mendekatinya. Memastikan bahwa hewan ini telah benar-benar mati. Saat aku sudah selesai memastikannya aku berlutut dan menaruh busurku ke tanah. Menyatukan telapak tanganku sebagai permintaan maaf karena sudah merenggut nyawanya. Aku pernah membuat Gasil melihatku membunuh dan Gasil tidak pernah menyukai itu. Dia tidak menyukai membunuh sesuatu yang memiliki nyawa. Setiap kehidupan yang memiliki nyawa adalah sesuatu yang berarti namun adakalanya membunuh untuk melindungi diri juga penting. Gasil selalu diam jika aku berkata demikian namun dia lalu selalu beranjak pergi setelah itu dengan pandangan yang tidak menoleh kepadaku.

Sejak itu aku tidak pernah membunuh dihadapan Gasil dan jika aku membunuh aku selalu meminta maaf sekarang. Tentu hal ini akan ditertawakan di dunia Elemental dahulu tapi dunia itu adalah dunia itu dan dunia ini adalah dunia ini.

Aku melihat Shiro sudah tidak berputar di atas langit. Kini dia bertengger di antara dahan-dahan. Aku menarik nafas yang kurasa cukup dalam hari itu dan menggerakkan tanganku ke atas tanah disamping mayat macan tersebut.

"O terra - da mihi permission
mutare. Foraminis.
"

Lantunan itu mengubah tanah, menciptakan sebuah lubang untukku mengubur mayat macan itu. Dengan menggunakan kekuatanku yang kupunya, aku mendorong mayat macan itu ke lubang dan dengan lantunan lain aku menutupnya. Setelah semua selesai aku kembali berjalan menuju tempatku pakaian berada dan memakainya.

Kurasa sudah saatnya aku pulang.

Sangat-sangatlah jauh dimasa lampau, dunia adalah tempat yang kosong. Para dewa dan dewi yang berada di atas saat itu sedang bosan dan mereka mendapatkan sebuah ide.

Kenapa tidak menciptakan sesuatu yang berarti untuk mereka lihat? Itu disepakati oleh para dewa dewi bersama dan kemudian mereka memutuskan turun ke dunia.

Dari itulah semua berawal.

Langit tercipta, awan dan sirkulasinya terbentuk. Tanaman diciptakan dan hewan-hewan lahir. Masih belum cukup dengan itu satu dewa berujar.

"Mari kita ciptakan satu hal yang baru."

Dewa dan dewi mengangguk atas usulan itu. Dari itulah sesuatu yang baru tercipta.

Kehidupan dan kematian.

Lalu masa untuk dilihat para dewa dan dewi dimulai.

[.To be Continue.]

Catatan kecil.

Terima kasih atas supportnya yang mendukung di prolog pertama. Aku berencana untuk membuat sebuah kisah fantasiku sendiri dimana ini terjadi di abad pertengahan dengan sihir-sihir yang tidak besar seperti anime ataupun manga ataupun light novel di Jepang seperti biasanya. Tidak. Aku tidak ingin sihir seperti itu melainkan sihir-sihir dan fantasi seperti di novel trilogi The Lord of the Ring. Kuharap kalian menemukan sesuatu yang berbeda di tulisanku dan terima kasih untuk dukungannya. Aku masih membuka ruang diskusi untuk para pembaca seniorku agar aku semakin banyak belajar dari mereka tentang tata cara menulis yang benar.

Kalian akan berfikir bahwa Naruto aneh dan seperti hanya pinjaman nama saja. Aku menjawab iya, dia dan perawakannya hanya pinjaman saja. Ffn tidak membatasi aku membuat cerita apapun asal masih tahu aturan yang berlaku. Aku mencoba membuat kisahku sendiri. Tidak banyak orang yang mencobanya.

Terima kasih untuk semua kata-kata yang kalian berikan padaku. Antusiasme kalian juga mendorongku untuk menciptakan kelanjutan dari kisah ini.