Unfair-2
From anime, "White Album 2"
© Tsukishima Masaya
. . . .
Haruno Sakura
Uchiha Sasuke
Hyuuga Hinata
Naruto © Masashi Kishimoto
. . . .
BIG OOC
AU
. . . .
.
.
Tak lebih dari yang diinginkan hati
Berusaha dan berharap
Aku yakin
Semua akan terwujud
Meskipun aku tahu yang kulakukan
Adalah
Sesuatu
Yang sering
Disebut
C
U
R
A
N
G
Ya... CURANG!
.
.
Balas review dulu ya, yang login cek PM hehe..
Innocent : ini udah lanjut ya :') makasih udah review :*
Guest : yepp sasusaku tapi Hinata punya peran besar bin penting di sini, ini slight sasuhina, super slight malah aku ga cari muka dear, aku hanya menuis ff, cuman itu TwT gpp, mau flame, kritikan atau review biasa aku terima aja hehe..
Ai : aku mau bilang apa ya, hmmm lupa.. oo ya, klo aku sih cuman bisa bilang liat ke depannya aja. ngikutin anime ya? aku liat ada beberapa ff yang ngikutin sebuah drama atau film jadi aku pikir gpp kali ya klo ini anime cast-nya anak2 (?) naruto, keren kyaknya hahaha.. aku janji ga bakalan berhenti tengah jalan kok, aku bakalan nyempetin di sela-sela tugasku buat ngetik :') flame aku terima dengan senang hati karena pada dasarnya di fandom rpf aku juga sering kena bash (walau bash-nya karena artikel bukan ff tapi tetap aja sakitnya sama lol) , next time aku nulis ff dengan ide sendiri, aku udah posting yang "Warm Winter" sama "Jar of Heart" silahkan dibaca klo berkenan :') thanks for your warning, thanks for your review :')
Miyoung : aku ngerasa klo ga ditag Hinata bakalan jadi ga sesuai dengan isinya karena Hinata akan muncu hampir di setiap chapter
Sakura-chan : endingnya sasusaku kok.. liat besok aja hehe..
gapunya : yooo.. thanks udah nyempetin buat review :')
Guest : sasuhina slight-nya aja, sorry TwT
Sorry for typo(s)
.
Warning!
Random Point of View and plot story.
Hyuuga Hinata adalah anak pianis terkenal bernama bahkan karena begitu mahirnya sang ibu memainkan alat musik tersebut ia menjadi satu-satunya pianis yang mendapat undangan masuk khusus ke sekolah khusus pianis hebat di London. Memenangkan berbagai kompetisi dan tampil di acara-acara dunia. Jadi, saat ibunya mendapat tawaran menjadi pianis di Paris itu bukanlah hal yang tak mungkin.
"Pembantu akan mengurus keperluanmu sehari-hari, jadi kau harusnya tak kesulitan. Teruslah belajar dari guru pianomu, tapi kalau kau ingin mengganti guru piano juga tak masalah. Belajarlah dari guru manapun."
Sang ibu memasukkan sebuah figura ke dalam koper. Menutup koper itu dan menguncinya.
"Aku juga sudah mengurus keperluan sekolahmu, tunggu saja pihak sekolah akan menginformasikan ujian masuk dan lainnya," ibunya menarik kopernya ke tempat Hyuuga Hinata yang berdiri dengan wajah sedih bercampur kesal. Sedih karena sang ibu akan meninggalkannya sendiri dan kesal karena ibunya tak mau membawanya ke Paris.
"Jaga dirimu baik-baik ya," ucap wanita berambut gelap itu—ibu Hinata—sambil membelai lembut rambut sang anak tapi sang anak buru-buru menepisnya. "Hyuuga Hinata, mengertilah. Membawamu sekarang tak ada artinya."
Saat itu Hyuuga Hinata bukanlah gadis yang pintar bermain piano. Ia masih butuh guru, butuh berlatih. Ia yang memang tak suka berbicara mengekepresikan kekecewaannya dengan tangis. Sang ibu hanya tersenyum dan kembali membelai rambut itu.
"Ibu pergi."
Itu terjadi dua tahun yang lalu. Tak ada pembantu atau pun guru piano. Hyuuga Hinata sudah memutus hubungan dengan semuanya. Ia terlalu kecewa. Ibunya menganggapnya tak pantas. Ia tak berbakat bermain piano. Lagi-lagi itu adalah pikirnya.
Ia tak suka terlalu akrab maka ia memecat pembantunya. Ia tak membutuhkanya. Yah.. itu pikiran Hyuuga Hinata. Guru piano tak begitu berpengaruh untuknya maka ia tak memanggilnya lagi. Jika sang ibu mengatakan ia belum pantas maka ia akan menunjukkan betapa pantasnya dia. Tanpa pembantu, tanpa guru ia pasti bisa melakukannya.
Jadi, saat ia jatuh pingsan di rumah besarnya itu ia tak berharap ada orang yang datang menolongnya. Biar saja nanti ia terbangun dengan sendirinya. Seperti itu. Tapi ternyata takdir tak berkata sejalan pikirnya.
Hyuuga Hinata baru saja mengerjapkan matanya. Menatap langit-langit ruangan yang ia tempati. Kamarnya sendiri. Ia terlihat berpikir, seperti tak percaya mendapati dirinya berada di tempat itu, di atas ranjangnya. Lalu masih dengan sedikit pusing ia bangun dan keluar dari kamar.
Suara gaduh dari dapur terdengar sampai lantai atas—tempat kamarnya berada—Lalu suara kakinya menuruni tangga begitu jelas di kesunyian rumahnya.
"Eh? Bubur dengan saus pasta? Aku tak tahu kalau kedua bahan itu bisa dijadikan suatu makanan,"
Suara itu cukup familiar. Terdengar jelas sekali saat Hyuuga Hinata berdiri di depan pintu dapur. Pintu tak sepenuh tertutup, sedikit celah tersisakan. Sekarang ia tahu dari mana suara itu berasal. Bahu tegap dan punggung itu cukup menjadi bukti bahwa orang itu adalah si bodoh Uchiha Sasuke.
"Oh Aku menemukan Vongole, kurasa aku akan menggunakan ini saja. Hmmm? Jangan bernyanyi, Sakura. Kita dalam bahaya jika suara vocalist serak,"
Uchiha Sasuke masih memunggungi pintu dapur. Ponselnya menempel di telinga dan ditahan dengan bahunya agar tidak terjatuh. Menelepon Haruno Sakura. Hyuuga Hinata tahu hari ini adalah gladi resik untuk festival sekolah lusa. Mungkin Haruno Sakura di sana dan akan melakukan persiapan untuk klub mereka dan Sasuke melarangnya bernyanyi di sana dengan alasan agar vocalist tidak serak.
"Lagi pula karena kejadian ini aku tak bisa ikut acara gladi hari ini. Aku harus memperhatikan Hyuuga Hinata."
Hyuuga Hinata tersenyum. Kau tahu betapa sulitnya gadis itu tersenyum tapi mendengar kata-kata itu entah kenapa ia tersenyum bereaksi. Dan ia masih di depan pintu dapur tanpa menggerakkan pintu itu sedikit pun.
.
.
[Sakura's]
Saat itu aku berada di balik panggung. Beberapa anggota komite sekolah mengecek sound sistem dan keadaan panggung. Suara sibuk mereka terdengar jelas.
"Ya, baiklah. Kalau begitu Sasuke-kun, tolong jaga Hyuuga Hinata ya. Di sini juga ada Naruto lho. Hmm aku akan bernyanyi saat gladi saja, jangan khawatir. Ya, sampai nanti."
Telepon itu terputus dan aku masih tetap menggunakan nada ceria dalam pembicaraan serta menyunggingkan senyum di akhir meski ada sedikit rasa tak enak di bagian tubuhku. Entah dimana itu. Aku hanya merasa. Sasuke begitu peduli pada Hyuuga Hinata. Mungkin karena ia sakit dan besok adalah festival sekolah Sasuke harus lebih perhatian agar Hyuuga Hinata bisa tampil besok. Mungkin saja.
"Hei, Haruno-san, selanjutnya giliran kita."
Naruto melambaikan tangan ke arahku. Segera saja aku mengangguk dan berjalan ke tempatnya di bawah panggung—akan naik ke atas panggung untuk gladi.
.
.
Hyuuga Hinata mengurungkan niatnya untuk menggeser pintu dapur itu. Ia masih dengan senyumannya meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya. Bukan apa-apa. Pikirannya memerintah seperti itu.
Rasanya tak tepat jika mengejutkan Sasuke yang tampak sibuk dengan pekerjaan dapurnya itu. Lihat saja, sekarang laki-laki itu memeriksa nasi yang akan dijadikannya bubur. Mengejutkannya juga tak sesuai dengan karakter Hyuuga Hinata yang cuek.
Maka di atas ranjangnya lah Hyuuga Hinata berada. Menyesuaikan dirinya agar tampak baru bangun dari pingsannya. Tepat saat semua persiapannya terlihat selesai pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok Sasuke dengan nampan berisikan bubur, segelas air dan sebuah obat.
"Hyuuga-san.. Akhirnya kau bangun juga, syukurlah," Ujar Sasuke yang terlihat begitu lega mendapati Hyuuga Hinata bangun dari pingsannya. "Aku baru membuat bubur, makanlah walau sedikit."
"Kenapa kau bertindak seenaknya di rumah orang? Dasar bodoh," Hyuuga Hinata menyilangkan tangannya di depan dada dan membuang muka. Hal itu sontak membuat Sasuke tertawa.
"Itu hal pertama yang kau katakan kepada orang yang merawat dan membuatkanmu makanan?" Sasuke dengan tawa dalam suaranya.
Hyuuga Hinata melihat Sasuke dengan dingin. Namun lain di wajah, lain di hati gadis itu. Sejujurnya ia senang. Baru kali ini ada orang begitu perhatian kepadanya sejak ibunya meninggalkannya ke Paris. Lalu ia beranjak dan duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Sasuke menggeser sebuah meja ke dekat ranjang itu kemudian meletakann nampan yang tadi ia bawa di atasnya.
Sembari menunggu Hyuuga Hinata menyicipi bubur buatannya menarik sebuah kursi kemudian duduk memperhatikan. "Bagaimana? Enak?"
"Kurasa ini bukan makanan manusia," Hyuuga Hinata menanggapi.
"Aku memang tak yakin dengan rasanya, tapi aku tak mengira akan seburuk itu." Sasuke terlihat kecewa dengan tanggapan gadis itu.
"Lagi pula, kenapa kau ada di sini?" Hyuuga Hinata meletakkan sendoknya di pinggir mangkuk bubur, "Pulanglah jika tak latihan."
"Tak mungkin aku pulang sedangkan kau dalam keadaan sakit begini." Jelas Sasuke membuat Hyuuga Hinata yang dingin sukses merasakan panas di pipinya.
"Lalu sudah berapa jam aku pingsan?" tanya gadis itu kemudian.
"Tak tahu. Kamu sudah pingsan saat aku datang pagi ini.
"Kenapa pagi-pagi kau sudah ke sini?"
"Karena kau tak masuk sekolah, kau juga tak menjawab telepon."
Hyuuga Hinata kembali mengambil sesendok bubur, "Apakah dengan alasan itu saja sudah cukup membuat seseorang mendatangi rumah teman sekelasnya di pagi hari?"
"Kamu bahkan bolos sekolah." Respon Sasuke.
"Memangnya ketua kelas macam apa kau ini?" protes Hyuuga Hinata mengingat jabatan Sasuke di kelas mereka.
"Aku tak akan melakukan hal ini untuk teman sekelas lainnya," Hyuuga Hinata cukup terkejut tapi tetap mencoba mempertahankan ekspresi datarnya, ia justru memasukkan sesendok bubur itu ke mulutnya, "Hanya kamu." Sasuke malah melanjutkan membuat Hyuuga Hinata hampir saja tersedak oleh sesendok bubur yang baru saja akan ia telan.
Gadis itu menjulurkan lidahnya kearah Sasuke.
"Ya! Hyuuga Hinata.. kita teman satu klub 'kan? Jangan sungkan meminta bantuan." Sasuke meluruskan maksud perkataanya yang mungkin saja bisa disalah artikan. Mungkin saja 'kan? Terlalu banyak kemungkinan di cerita ini.
Kembali ke ekspresi dingin datarnya Hyuuga Hinata membalas, "Kita memang teman satu klub, tapi kau bergantung kepadaku terlalu banyak."
"Apakah aku mengganggu? Apakah latihan pianomu terlalu berat sampai membuat pingsan?"
"Aku tak pingsan karena itu!" Hyuuga Hinata meniup sesendok bubur yang ia rasa terlalu panas.
"Jika demammu tidak turun, aku akan membatalkan penampilan klub kita lusa." Jelas Sasuke dengan suara yang begitu mantap.
"Apa?" Dan itu membuat Hyuuga Hinata cukup terkejut.
"Wajar saja. Festival sekolah untuk bersenang-senang 'kan? Kau tak sampai harus menderita." Jelas Sasuke lagi.
Gadis di depan Sasuke itu meletakkan sendok di mangkuk buburnya dengan cukup keras—cukup untuk menimbulkan suara keras dari permukaan mangkuk dengan permukaan sendok.
"Hanya begitu saja keinginanmu untuk klub?" Hyuuga Hinata dengan suara yang begitu dingin.
"Ya," balas Sasuke.
"Uchiha Sasuke!" Hyuuga Hinata beranjak dari duduknya.
"Aku tak akan mengorbankan kesehatan temanku. Tapi jika aku mengingat mimpi terbesarku di awal masuk sekolah menengah atas adalah tampil di festival sekolah," Sasuke menjelaskannya dengan tersenyum, membayangkan dirinya saat pertama kali berdiri di depan gerbang sekolah.
"Sudah selesai makannya? Kalau begitu akan aku bersihkan."
Hyuuga Hinata tak menjawab ia kembali memakan bubur buatan Sasuke. Seperti tak ingin menyisakan sedikit pun di mamgkuk itu.
"Jangan memaksa memakannya jika memang tak enak," canda Sasuke melihat Hyuuga Hinata yang begitu serius melahap bubur itu.
"Kau sudah membuatkannya untukku, mana mungkin aku tak menghabiskannya." Jelas sang gadis lalu lanjut memakan bubur itu.
Setelah semangkuk bubur itu telah habis Hyuuga Hinata meletakkan sendoknya di atas mangkuk. "Hey Uchiha Sasuke," panggilnya kemudian. "Aku takkan menyerah untuk klub kita, kau juga jangan menyerah." Lanjut Hyuuga Hinata yang ditanggapi dengan anggukan oleh Sasuke. "Teruskan latihan gitarnya."
"Hyuuga Hinata.." gumam Sasuke sambil memperhatikan mangkuk bubur yang sudah habis isinya itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
.
.
Di sini lah Sasuke berada sekarang. Di ruang latihan piano Hyuuga Hinata. Dimana ia berdiri membelakangi Hyuuga Hinata yang duduk pada sofa di ruangan itu dengan selimut tebal yang setia menutupi tubuhnya kecuali wajahnya. Sedangkan Sasuke setia dengan gitar di tangannya. Sudah berapa kali ia mengulang permainanya namun tetap melakukan kesalahan. "Tck, sial!" umpatnya. "Hampir saja permainannya selesai."
"Teruslah fokus, bodoh." Saran Hyuuga Hinata.
"Baiklah. Akan kucoba lagi." Sasuke kembali mengulang permainanya namun tetap saja ia melakukan kesalahan lagi.
"Sudah kubilang. Fokus.." Hyuuga Hinata mengintrupsi kembali.
"Siapa yang membolehkanmu bangun, hah?" Sasuke cukup kesal dan mendelik ke tempat Hyuuga Hinata berada.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan permainan gitar yang jelek sendirian," Jelas Hyuuga Hinata yang terlihat kecewa melihat permainan gitar Sasuke, "Kau masih punya 2 hari lagi."
Sasuke melepas gitarnya dan menghampiri gadis itu, "Aku akan terus berlatih. Percayalah sedikit padaku." Hiburnya.
"Tapi aku sudah janji akan membuatmu bisa bermain gitar dengan baik." Jelas Hyuuga Hinata lagi.
Sasuke mengerti. Gadis itu punya tanggung jawab besar untuk klub mereka termasuk dirinya. Hyuuga Hinata pernah berjanji kepadanya dan Sakura untuk membuat permainan gitarnya lebih baik lagi. Jika gadis itu menemukan permainannya berantakan di saat lusa nanti mereka akan tampil cukup membuatnya tertekan, apalagi sekarang ia sedang sakit.
"Tolonglah, Hyuuga Hinata, istirahatlah," Pinta Sasuke sambil membungkukkan badannya. Meminta dengan lebih formal karena ia tahu bagaimana kerasnya watak Hyuuga Hinata. "Hanya kamu harapan kami di festival sekolah lusa."
Hyuuga Hinata adalah tipe tsundere. Ia tak akan memperlihatkan kemauan atau kesetujuannya secara nyata. Ia pun mengalihkan pandangannya, "Baiklah," Desisnya menerima, "Aku akan istirahat.." membuat Sasuke berekspresi senang mendengarnya "..di sini," dan heran.
Semua berjalan layaknya seorang Uchiha Sasuke. Laki-laki yang terlalu baik dan sering disebut bodoh karena hal itu oleh Hyuuga Hinata. Sasuke menyediakan kasur lipat untuk Hyuuga Hinata di samping sofa, menyuruh gadis itu berbaring dan menyelimutinya.
Uchiha Sasuke kembali berlatih. Tak membelakangi Hyuuga Hinata justru kali ini ia menghadap langsung dan lebih dekat ke tempat gadis itu. Dibiarkannya suara dari gitar itu didengar Hyuuga Hinata sampai gadis itu tertidur dan ia masih tetap memainkannya.
.
.
[Sakura's]
Semua anggota komite sekolah masih disibukkan dengan persiapan festival sekolah. Aku masih berdiri di belakang panggung, memeluk kedua bahuku dengan kedua tanganku. Entah kenapa aku tidak bisa bernyanyi. Tanpa Sasuke. Tanpa Hyuuga Hinata. Semua terasa sulit. Suaraku bahkan tak bisa keluar. Aku seperti membisu.
Uzumaki Naruto datang lalu menyodorkan sekaleng minuman. "Kerja bagus. Ini minumlah, Sakura."
Minuman itu terlihat jelas di depan mataku namum aku menggeleng, "Tak bagus. Maaf. Aku bahkan tak melakukan apapun. Tak bernyanyi atau membantu kalian."
"Gladi tak apa jika seperti itu. Gladi ini hanya untuk memastikan jadwal saja, soal penampilan.. Sasuke pasti lebih tahu nantinya."
"Aku tak bisa menyanyi tanpa mereka."
Ya. Aku tipe yang tak ingin mencolok ini takut jika saja penonton tak menyukai suaraku, tak menyukai dirinya, musiknya atau pun lagunya. Tapi jika bersama Sasuke dan Hyuuga Hinata semua terasa ringan. Mereka membuatku percaya diri. Aku bisa. Aku bisa. Begitulah yang aku pikirkan, tapi jika mereka tak ada seperti ini. Aku bukanlah apa-apa.
.
.
Selangkah demi selangkah. Tak ada yang tahu. Kemana kaki takdir membawa sang pemilik takdir. Hyuuga Hinata tak pernah menebaknya. Ia tak terbiasa dengan kehadiran Sasuke namun ia merindukan seseorang pemberi perhatian kepadanya.
Uchiha Sasuke sering kali melakukan hal yang sering disebut bodoh oleh Hyuuga Hinata. Peduli. Ya, peduli kepadanya. Begitu juga dengan Haruno Sakura. Gadis itu juga sering kali menunjukkan kepeduliannya kepadanya. Sejak ia bergabung dengan klub musik semua berubah. Lebih menyenangkan dari biasanya.
Ia benci keakraban tapi ia sadar bahwa teman itu dibutuhkan dalam hidup ini. Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Mereka bisa menjadi temannya. Ya 'kan? Jadi jangan salahkan Hyuuga Hinata menceritakan keluh kesahnya kepada Sasuke. Tentang ibunya, tentang kesepiannya dan harapannya.
"Cepatlah sembuh. Kita tunjukkan kepada semua orang dan ibumu. Kita bisa melakukan hal hebat ini."
"Dengan kemampuanmu itu?" Hyuuga Hinata masih ragu akan kemampuan gitar Sasuke.
"Kita mainkan lagu ini," Sasuke memperlihatkan bahwa dirinya sudah menguasai lagu yang akan mereka bawakan besok. Hyuuga Hinata terkejut dibuatnya, sejak kapan lelaki itu menguasai lagu itu.
Sasuke tersenyum puas, "Bagaimana?"
Hyuuga Hinata mengangkat kedua bahunya lantas menarik selimutnya untuk lebih menutupi tubuhnya. "Teruslah berlatih."
Sasuke mengerti lalu menarik kursinya sedikit menjauh dari tempat Hyuuga Hinata. Kembali berlatih dengan membelakangi gadis itu.
Tanpa Sasuke sadari gadis itu terus menatap punggungnya. Lelaki yang perhatian kepadanya. Satu-satunya teman dan orang yang membuatnya sadar bahwa dalam hidup ini ia tak selamanya sendiri, ia membutuhkan orang lain. Mungkinkah Hyuuga Hinata menyukai Uchiha Sasuke tapi.. "Apakah kau akan berkencan dengan Haruno Sakura?" Hyuuga Hinata berdesis.
Gadis itu tak bermaksud suara desis rendah miliknya terdengar oleh Uchiha Sasuke tapi lelaki itu berbalik melihatnya setelah kalimat tanya itu terlontar. Sasuke menemukan Hyuuga Hinata yang telah menutup matanya tertidur. Mengira bahwa dirinya berilusi namun kenyataannya semua adalah yang sebenarnya terjadi.
.
.
"Uchiha Sasuke.."
Nama lelaki itu dipanggil oleh Uzumaki Naruto saat ia baru saja menginjakkan kaki di salah satu koridor terdepan sekolah. Naruto berkacak pinggang, menatap Sasuke dengan horor.
"Kemana saja kemarin? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" cerca Uzumaki Naruto.
"Maaf. Baterainya habis."
Uzumaki Naruto menghela napasnya dan memasang ekspresi frustasinya, "Kau tahu aku mendapat banyak masalah kemarin. Kalian tidak datang dan Haruno Sakura tidak bisa bernyanyi."
"Apa maksudmu Sakura tidak bisa bernyanyi?" Sasuke terlihat terkejut.
"Dia tak bernyanyi, Uchiha Sasuke. Dia hanya diam dan berdiri di atas panggung dari intro dimainkan sampai lagu kalian yang kuputar selesai lalu membungkuk meminta maaf dan kemudian turun dari panggung." Jelas Uzumaki Naruto.
"Dia tak bernyanyi?" ulang Sasuke memastikan dan dijawab dengan anggukan oleh Naruto.
"Kau harus mengurus Sakura, sepertinya emosinya tidak stabil. Lalu bagaimana dengan Hyuuga Hinata? Dan penampilan kalian nanti?"
"Aku akan membuatnya sukses."
"Ya, aku juga harap begitu."
"Oh ya, Uchiha Sasuke. Aku tahu kau dan Sakura semakin dekat, kau seharusnya menutup mulutnya daripada mulumu." Ujar Uzumaki Naruto mengalihkan pembicaraan.
"A-aku tak mencoba menutupinya." Sasuke membela diri.
"Kita berada di depan kelas Haruno Sakura. Kelasnya akan membuka stan sejenis cafe bertema maid."
Benar saja. Di depan kelas 3-A terlihat banyak sekali murid laki-laki berdiri. Mungkin saja mereka fans Haruno Sakura 'kan?
Sasuke berbisik kepada Naruto lalu dengan pelan membelah kerumunan itu. Begitu sampai di dalam kelas 3-A ia dengan jelas melihat Haruno Sakura berdiri dengan seragam maidnya yang begitu imut. Seperti boneka hidup yang begitu cantik.
"Maaf. Sakura.. apa kita bisa bicara?"
Murid laki-laki yang seharusnya tak menyukai gosip itu tahu Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura cukup dekat mendengus sebal. Mereka kalah. Ya mereka mengakuinya. Mereka cemburu. Jelas. Haruno Sakura adalah idola sekolah. Ratu sekolah selama dua tahun berturut-turut.
Kini Haruno Sakura berdiri di hadapan Uchiha Sasuke. Lelaki itu dengan cepat menarik tangan sang gadis membuat wajah mereka berdekatan. "Maaf aku tak bisa datang kemarin."
"A-aku juga minta maaf. Kemarin aku tak bisa.."
"Yamanaka Ino.." Sasuke menyebut nama Ino yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. Gadis itu berdiri sambil berkacak pinggang. Ia terlihat cukup kesal dengan tingkah Uchiha Sasuke yang sepertinya menimbulkan kesenjangan sosial di hati murid laki-laki. "Bisakah aku meminjam Haruno Sakura." Jelasnya lalu menarik tangan Haruno Sakura keluar dari kelas itu.
Riuh suara protes murid lainnya pun terdengar. Sayang sekali protes itu mereka keluarkan saat Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke sudah tak di depan mereka. Kini hanya ada Uzumaki Naruto yang bisa menjelaskan semua ini. Lelaki itu tersenyum canggung saat tatapan meminta pertanggung jawaban tertuju padanya.
"Bisa kau jelaskan semuanya tuan Uzumaki Naruto?!" pinta Ino dengan mimik muka mengintimidasi miliknya.
"Baiklah. Aku.." Naruto melirik takut, "..tak tahu apa-apa."
Dan tatapan membunuh harus diterima Uzumaki Naruto dengan tabah.
.
.
"Aku benar-benar takut. Aku merasa sangat tinggi di atas panggung. Seperti semuanya memperhatikanku, tapi tak ada gitar ataupun keyboard yang mendampingiku." Jelas Haruno Sakura tentang keadaannya kemarin saat gladi.
"Tentang itu. A-aku minta maaf." Saat ini suara Sasuke terdengar bergetar dan pipinya terlihat memerah.
"Tidak. Kau tak perlu minta maaf." Tapi pipi Haruno Sakura lebih merah.
Kenapa dengan pipi merah mereka?
"Kau melakukan apa yang perlu kau lakukan."
"Be-benarkah?" Sasuke menganggap itu pujian, "Terima kasih."
"Tapi aku membuatmu merasa bersalah. Akulah yang seharusnya minta maaf."
"Ka-kalau begitu, Sakura.." Sasuke dengan suara pelan dan pipi memerahnya harus puas mendengar Haruno Sakura memotong perkataannya.
"Tapi aku ingin tetap seperti ini."
Tetap seperti ini. Hal yang membuat pipi kedua insan itu memerah. Berpelukan. Ya, mereka berpelukan di dalam kereta. Bukan hanya itu. Tatapan semua penumpang seakan menuju mereka. Pelukan yang begitu menempel dan wajah si gadis yang disembunyikan di dada si lelaki. Sesekali Haruno Sakura memainkan tangannya dipunggung Uchiha Sasuke dan semakin menyembunyikan pipi merahnya di balik dada Uchiha Sasuke.
"Sa-saku-sakura.. bisakah kau melepas pelukan ini?" tanya Sasuke dengan pelan.
Sakura menggeleng, "Jika aku melepasnya, aku bisa mati karena malu di sini." mengingat seragam maid yang ia kenakan.
"Bi-bisakah kita sedikit mengatur posisi?" pinta Uchiha Sasuke.
"Tidak perlu. Tak perlu sama sekali." Haruno Sakura menolak.
"Aku baru menyadarinya. Kamu punya bahu yang cukup besar walaupun kamu bukan olahragawan." Sakura memperhatikan bahu tegap Sasuke.
"Aku tak percaya kau tak menyanyi kemarin." Sasuke mencoba mengalihkan topik.
"Mmm, Sasuke-kun, aku boleh bertanya, bagaimana keadaan Hyuuga Hinata?" tanya Sakura.
"Kurasa, kalau itu sebaiknya kau melihatnya sendiri."
Dan kereta pun melaju. Menyisakan suaranya di bawah rel yang sudah ia lewati.
.
.
[Sakura's]
Aku sudah menebaknya. Uchiha Sasuke akan membawaku ke rumah Hyuuga Hinata. Suara permainan piano gadis cantik itu terdengar saat pintu ruang piano Hyuuga Hinata itu Sasuke buka. Lagu ini baru kudengar. Iramanya cukup menyenangkan.
Hyuuga Hinata terlihat begitu menghayati saat memainkan lagu ini. Dia terlihat sehat. Syukurlah. Sejujurnya aku khawatir ia sakit kemarin apalagi Sasuke mengatakan gadis itu pingsan berjam-jam.
"Kau sudah sehat?"
"Hmm. Maaf sudah membuatmu khawatir, Haruno Sakura," Ujar Hyuuga Hinata, "tapi aku sudah tak apa-apa sekarang, kita sudah siap untuk tampil besok."
Rasanya begitu bahagia. Hyuuga Hinata bahkan tersenyum kepadaku. Gadis ini memang baik.
"Hanya perasaanku saja, atau kau memang tak pernah sebaik itu kepadaku?" suara Sasuke menyindir Hyuuga Hinata yang baik kepadaku.
Jika dipikir Hyuuga Hinata memang sering bersikap dingin kepada Sasuke. Jika gadis itu bersikap baik padaku wajar 'kan Sasuke merasa iri atau sebal? Keadaan ini membuatku merasa dekat dengan mereka. Teman. Mereka mungkin bisa menjadi temanku atau lebih dari itu.
Kupeluk Hyuuga Hinata karena begitu bahagia. "Maaf. Aku tak bisa membantu." Jelasku tentang keaadan kemarin.
"Tak apa. Tapi ada apa dengan pakaianmu? Ini terlihat seperti seorang... maid?"
"Ini.. Sasuke memaksaku ikut padahal kelasku sedang mempersiapkan seragam untuk pembukaan cafe besok, jadi aku tak sempat menggantinya."
.
.
Kami sudah berlatih sejak tadi. Dua lagu yang akan kami bawakan sudah kami kuasai dengan sempurna lalu Hyuuga Hinata menyodorkan selembar kertas berisikan partitur musik.
"Apa ini?"
"Ah itu.." Sasuke menyentuh tengkuknya sendiri dengan tangannya yang tidak memegang gitar.
"Lagu baru, Lagu ketiga dan terakhir," Hyuuga Hinata menjelaskan, "Karena aku sakit, kita hanya punya waktu 24 jam untuk berlatih."
"Bukan sepenuhnya salah Hyuuga Hinata," Sasuke menanggapi, "Aku juga baru menguasai lagu kedua pagi ini." Sambil mencoba memperbaiki kunci gitar yang sedikit bergeser.
"Maaf aku tak tahu lagu ini." Aku memperhatikan isi kertas itu, "Siapa yang menyanyikannya?"
"Tentu saja kau tak akan tahu. Itu original. Sasuke menulis liriknya, aku mengkomposisinya dan kau yang akan menyanyikannya. Ini lagu kita bertiga." Jelas Hyuuga Hinata.
"Lagu kita?"
"Ahh tentang itu, aku masuk klub musik sebenarnya agar bisa menulis lagu.." Sasuke mulai menjelaskan, namun aku hanya mendengarnya dan tetap membaca judul lagu itu.
Cinta yang tak sampai.
"Gitarisnya Naruto, jadi aku tak pernah memikirkan untuk tampil di panggung, tapi rasanya tiga tahun ini hambar.."
Berpura-pura kesepian.
"..atau mungkin hanya kebodohanku saja..."
Aku pergi ke arahmu.
"..Aku ingin meninggalkan kesan di klub, aku selalu bagus dalam menulis, maksudku esai atau semacamnya." Sasuke masih asik berbicara.
Aku tahu Hyuuga Hinata tengah memperhatikanku. Memperhatikan ekspresiku saat ini. Apa ia tahu sesuatu? Tentang lirik yang ditulis Sasuke ini. Dibait ini..
Cinta yang tak sampai..
Berpura-pura kesepian
Aku pergi kearahmu..
Aku berpikir. Siapa dan untuk siapa?
"Kenapa? Ada yang aneh? Jika kau punya saran, aku akan senang mendengarnya." Ujar Sasuke.
"Bukan begitu. Ini.."
"Hyuuga Hinata tidak mengubah liriknya. Aku jadi khawatir itu akan terlihat aneh.." Sasuke buru-buru menjelaskan.
Fakta yang entah kenapa semakin membuatku merasa sedikit sesak.
"Lagi pula tak ada yang bisa kuperbaiki." Hyuuga Hinata menambahkan.
"Bukan bermaksud menyembunyikannya darimu. Naruto memberikan Hyuuga Hinata lirik lagu yang kutulis tanpa sepengetahuanku. Aku sangat ingin memainkan lagu ini tapi kita tak punya banyak waktu untuk berlatih, kita tak bisa menampilkannya besok ya?" Sasuke berbicara begitu panjang dan aku mungkin berekspresi tak jelas, terkejut, merasa heran dan sedikit sesak. Entahlah.
Ini memang menyesakkan tapi aku bisa apa. Sasuke terlihat begitu menginginkan lagu ini kami bawa saat tampil besok. Akhirnya dengan sedikit memantapkan hati aku tersenyum—meski sulit.
"Hyuuga Hinata-ah, bisakah kau memainkan lagu ini sekali untukku? Aku tak bisa membaca lembar musik."
Aku mendekat ke tempat Hyuuga Hinata dan mulai mencoba menyanyikan lagu kami—sebutannya nyatanya lagu itu hanya milik Sasuke dan Hyuuga Hinata.
.
.
Hari itu tiba. Puncak dari semua latihan yang kami lakukan. Aku dan Hyuuga Hinata sudah siap dengan pakaian yang kupilih saat gladi kemarin, sedangkan Sasuke tetap dengan seragam sekolah kami.
"Ayolah, Hyuuga Hinata, bisakah kau tersenyum?" kesal Naruto melihat hasil photo yang ia ambil. Sasuke memintanya mengambil photo kami—aku, Sasuke dan Hyuuga Hinata—tapi teman gadisku yang satu itu terlihat kesal sedaritadi ia terus memasang wajah dinginnya itu, meskipun ia sering berekspresi seperti itu.
"Lihat apa yang kukenakan, apa aku harus tersenyum?" cerocosnya tak suka dengan pakaian yang ia kenakan memang terbuka—memperlihatkan perutnya, sedikit bagian dada, tangan mulusnya dan kaki jenjangnya.
"Ya, kau tak hadir saat pemilihan kostum jadi Sakura lah memilihkannya," jelas Naruto dengan nada tak enak kepada Hyuuga Hinata. Gadis itu terperanjat mendengar penjelasan Naruto dan segera melihat kesal kepadaku.
"Ini seleramu, Haruno?" tuturnya sambil menghentak-hentakkan heelsnya di lantai, memperdengarkan suara yang menurutku cukup menarik, "warna ini, desain ini, keterbukaan ini?"
Aku tertawa dibuatnya, "Sudahlah, Hyuuga Hinata-chan, setelah ini giliran kita."
"Kamu tak keberatan mengenakan sesuatu yang memalukan itu dan dilihat oleh banyak orang?" protes Hyuuga Hinata lagi, masih tak terima dengan pakaian yang akan kami gunakan.
"Aku sudah siap dengan pakaian ini karena aku yang memilihnya. Lagipula, aku sedikit menyukainya. Uchiha Sasuke juga mengatakan kalau pakaian ini lucu, ya 'kan Sasuke-kun?" ucapku lalu mengedipkan mata ke arah Sasuke. Berniat sedikit menggoda lelaki itu.
"Y-ya.." jawab Sasuke terbata. "Maksudku kalian berdua itu terlihat sexy. Ini sangat hebat."
"Berhentilah, mengatakan sesuatu yang tidak penting." Hyuuga Hinata dengan nada datarnya.
"Ini Sasuke, aku sudah mengaturnya menjadi walpaper." Naruto memotong lalu mengembalikan ponsel Sasuke ke pemiliknya. Terlihat jelas walpaper ponsel itu diisi dengan photo kami yang diambil Naruto tadi.
"Kirim kepadaku juga ya?" pintaku melihat hasil photo yang cukup bagus itu.
"Ya, nanti akan kumasukkan ke dalam pesan." Balas Sasuke.
"Kau sebaiknya menghapusnya nanti." Hyuuga Hinata mengancam, ia masih risih dengan pakaiannya di photo itu termasuk juga dengan yang masih ia kenakan.
"Klub musik, bersiaplah!"
Panitia acara memberitahu kami untuk bersiap, bertanda kami akan segera tampil. "Baiklah, semuanya! Sudah waktunya untuk tampil!" Ino berteriak menyemangati.
Aku segera mengambil microphone-ku. "Ayo bersenang-senang dan buat mereka terkejut."
"Jika kalian bingung, ikuti aku saja." Tutur Hyuuga Hinata. Ia memang sangat menguasai musik.
"Iya." Aku dan Sasuke bergumam bersamaan.
"Paling tidak akan kutuntun." Tambah Hyuuga Hinata.
"Iya."
.
.
Intro dimulai. Lagu pertama yang kami bawakan adalah lagu pertama yang kunyanyikan saat mendengar permainan gitar Sasuke dan piano Hyuuga Hinata.
"Hari-hari saat kita bertemu
Terus berlanjut
Tetapi perasaan kita tetap saja sama
Seperti saat ada di sisimu
Walaupun sedang tak bersama
Aku bilang tak apa
Dan terus bertahan
Aku hanya bisa mengeluh
Di musim yang telah lalu
Aku meninggalkan sesuatu yang berharga
Seperti bagian terpenting
Dari kepingan puzzle
Seperti salju putih di kota
Yang menutupinya dengan lembut
Seperti album yang kosong ini."
Penonton bersorak semangat. Aku sudah berusaha sebisaku begitu juga dengan Sasuke dan Hyuuga Hinata mereka sudah berusaha semampu mereka. Kami sudah bertekad akan membuat semua penonton terkagum-kagum dan menunjukkan kehebatan kami.
Penonton bersorak kembali. Meneriaki namaku, nama Sasuke, dan nama Hyuuga Hinata. Terdengar riuh dan.. menyenangkan.
"Kata-katamu itu terus teringat
Karena hatiku yang senang ini menganggap
Kata-katamu suatu keajaiban
Salju yang mencair ini
Membawa perasaan yang kusembunyikan
Seperti lembaran album putih
Yang kau berikan."
Hyuuga Hinata melepaskan permainan keyboardnya dan beralih mengambil saxophone. Gadis itu memainkan dengan begitu mahir. Riuh penonton semakin terdengar, aula sekolah pun semakin dipenuhi penonton.
"Di musim yang telah lalu
Aku meninggalkan sesuatu yang berharga
Seperti bagian terpenting
Dari kepingan puzzle
Seperti salju putih di kota
Yang menutupinya dengan lembut
Seperti album yang ksong ini
Yang akan kita isi bersama."
Lagu mulai memasuki bagian penutup. Hyuuga Hinata kembali memainkan saxophone-nya. Membuatku dan Sasuke tersenyum bangga kepada teman kami itu. Baru kali itu juga aku melihat senyum Hyuuga Hinata yang begitu bahagia. Ya, gadis itu tersenyum kepada kami. Namun masih dengan sikap Hyuuga Hinata biasanya gadis itu meletakkan kembali saxophone-nya lalu mengibaskan tangan seakan mengatakan itu adalah hal biasa.
Lagu kedua berjudul, "Sound of Destiny" sedikit menceritakan tentang perjuangan kami untuk tampil di acara ini. Berlatih tanpa kenal kata menyerah. Kali ini Hyuuga Hinata memainkan bass. Dia memang ratu musik di sekolah kami. Lalu Sasuke tetap dengan gitarnya. Menceritakan juga dibalik kata tak menyerah kami adalah sesuatu yang tersirat lainnya.
"Aku tahan dengan sesuatu yang namanya cinta
Walaupun saat ini aku sedang jatuh ini
Aku tahu itu
Aku selalu percaya dengan pesonamu itu
Bahkan sampai sekarang
Aku takkan melupakannya
Keinginanku yang tak kenal menyerah ini
Entah datangnya dari mana
Apakah datang dari suatu tempat?
Bintang menjadi pengukir takdir
Seperti jutaan cahaya yang bersinar
Aku tahu satu hal yang pasti
Aku takkan meninggalkanmu
Jika menutup mata kubisa mendengar detak jantungku
Itulah bukti kalau aku hidup
Satukan ritme dalam hati kita
Dan menari
Dimana pun.."
Sasuke yang tak bisa memainkan gitar terus berlatih. Hyuuga Hinata yang dipindahkan dari kelas khusus musik ke kelas biasa tetap berlatih di ruang musik khususnya dan mengiringi permainan gitar Sasuke, menuntun lelaki itu untuk bisa lebih baik bermain gitar. Aku yang harus bersikap sempurna di mata murid lainnya menyembunyikan kesukaanku bernyanyi dan ketakinginanku untuk menonjol.
Kami dipertemukan dalam satu klub dan menjadi lebih baik dari kami semula.
"Perasaan kita saling menyakiti
Walaupun membuatku lelah
Aku tetap jatuh cinta
Sehingga aku merasa tak bisa bernapas
Walaupun kegelapan dunia yang akan menantiku
Aku yakin mataku akan terus bersinar
Sekarang ada bintang jatuh
Roda takdir kita mulai berjalan
Kuat dan lemah, panas dan dingin
Yang berada pada hati manusia
Saat kuletakkan tanganku di dadamu kurasakan detak jantungmu
Itu bukti kalau kau hidup."
Aku mengingat saat Hyuuga Hinata mengatakan seleraku yang buruk dan mengatakan Sasuke bodoh. Ia begitu tsundere. Dan begitu menyakitkan mengetahui fakta bahwa ia mengeringi permainan gitar di ruangan sebelah ruang musik khususnya karena Sasuke lah yang memainkan gitar itu.
Bagaimana sebenarnya perasaanmu, Hyuuga Hinata-ah?
"Ayo samakan melodinya dengan bintang yang bermain.."
Siapa yang benar-benar kau cintai?
Aku menanyakannya. Kepada Hyuuga Hinata melalui tatapan mata.
Jangan tiba-tiba membicarakan itu.
Hyuuga Hinata mencoba menghentikan pembicaraan mata kami namun tangannya masih tetap pada permainan bass-nya dan aku tetap dengan bagian menyanyiku.
Akan kukatakan.
Aku melirik ke tempat Sasuke.
Tak akan kusembunyikan.
Aku cinta.
Sangat mencintainya.
Kata-kataku yang membuat kedua pupil Hyuuga Hinata melebar terkejut.
Oleh karena itu, kau juga...
Aku memintanya menunjukkan perasaan sesungguhnya. Sudah cukup dengan sikap tsundere-nya itu.
Aku.. belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Tatapan mata Hyuuga Hinata semakin tajam lalu beberapa detik kemudian ia mengalihkannya dariku.
Lalu masuk ke bagian Sasuke melakukan permainan gitar solo. Permainan gitar yang membutuhkan penguasaan penuh dan Sasuke dapat melakukannya dengan sempurna. Riuh tepuk tangan penonton semakin terdengar. Dan pandangan kami—aku dan Hyuuga Hinata—terfokus pada Sasuke. Lelaki yang telah mencuri atensi kami—meski Hyuuga Hinata tak mau mengakuinya.
Bagian solo Sasuke selesai menandakan lagu kedua telah usai. Kami bersiap-siap untuk lagu ketiga dan terkahir kami.
"Sasuke-kun.." aku memanggilnya yang masih dalam euforia permainannya sendiri. Terlihat begitu puas. Ia melihatku dan tersenyum.
Berbeda denganku. Hyuuga Hinata menghampiri Sasuke, meninju pelan pipi lelaki itu dengan kepalan tangannya. Menunjukkan bahwa ia ingin melakukan tos dengan kepalan tangan itu. Sasuke masih dengan senyumnya membalas dengan kepalan tangan juga.
Hyuuga Hinata masih tersenyum tapi mengalihkan pandangan matanya dariku. Seakan mengatakan, "Aku tak memiliki perasaan apapun kepada Sasuke." Namun keadaan menunjukkan kontradiksi dari semua itu.
.
.
Ruang musik 2. Ruang musik khusus milik Hyuuga Hinata. Sasuke tengah duduk di sana. Di atas kursi dengan arah berkebalikan dengan hadap kursi. Kedua tangannya di letakkan di atas sandaran kursi. Tak jauh dari tempatnya, Hyuuga Hinata bermain piano. Sasuke sudah menanyakannya kenapa ia masih bermain gitar tapi gadis itu tidak bisa jika tidak berlatih di saat ada waktu kosong seperti saat ini.
Angin datang. Memainkan ujung tirai putih di ruangan itu.
"Hyuuga Hinata, saat lulus nanti kau akan kemana? Mungkinkah ke perguruan musik?"
Hyuuga Hinata menghentikan permainannya, "Sebelum memikirkan akan kemana, aku harus memikirkan cara lulus terlebih dahulu." Mengingat ia sering kali bolos demi berlatih piano.
"Aku harap kita masih bisa bertemu. Aku ingin kita terus seperti ini."
"Kamu ternyata sedang tidur ya?" Hyuuga Hinata bermaksud untuk bercanda.
"Mungkin," Sasuke membalas, "Tidak. Bagaimana menurutmu?" lanjutnya menanggapi candaan Hyuuga Hinata.
"Jangan tanya kepadaku. Pulang saja sana." Hyuuga Hinata melanjutkan permainan pianonya yang sempat terhenti.
"Hey, Hyuuga Hinata.. apakah kau menikmati waktu ini? Kau, aku dan Sakura, tidakkah kau senang kita bertiga bersama? Setiap hari jadi menyenangkan,"
Diperhatikannya gerakan tirai karena tiupan angin itu oleh Uchiha Sasuke.
"Karena entah kenapa mungkin ada bunga yang ingin selalu ku kenal tapi dia malah datang sendiri kepadaku."
Mengingat bagaimana bisa seorang Haruno Sakura datang ke kehidupannya. Seorang ratu sekolah yang disukai semua orang.
"Lalu ada gadis yang kukagumi dan selalu ingin kujadikan teman, akhirnya dia dan aku saling mengerti. Kami benar-benar menjadi teman."
Ia juga mengingat bagaimana sulitnya menjadi lebih dekat dan berteman dengan Hyuuga Hinata.
Saat ini semua terasa menyenangkan dan membahagiakan. Begitulah yang Sasuke rasakan.
Hyuuga Hinata menekan salah satu tuts pada piano. "Jadi dia adalah bunga dan aku adalah gadis biasa?'
"Tak suka?"
"Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa aku tak menikmatinya? Mana mungkin aku tak senang?" ucap Hyuuga Hinata dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Ia merasa ada yang hangat di bagian perutnya dan dadanya. Terasa sesak namun menyenangkan.
"Kalau begitu tunjukkan di wajahmu," Sasuke meminta karena Hyuuga Hinata selalu memperlihatkan ekspresi dinginnya itu. "Aku tak akan tahu jika kamu terus poker face seperti itu."
Air mata Hyuuga Hinata terjatuh. Menelungkupkan wajahnya di atas tuts-tuts piano yang menimbulkan bunyi keras di ruangan itu.
"Hyuuga-sa.." Sasuke coba memanggil namun tetap di kursinya. Tak ada jawaban. Hanya suara tangis Hyuuga Hinata yang ia dengar.
"Kenapa? Kenapa kau menangis?"
"Aku kedinginan." Dusta Hyuuga Hinata.
Meski pun ia masih mengenakan pakaiannya saat di festival tadi ia tidak akan mungkin menangis karena kedinginan 'kan?
"Oh ya. Sebentar lagi musim dingin."
"Ya."
Sasuke dan Hyuuga Hinata pun menatap ke luar jendela. Senja menghasilkan gradien jingga keemasan.
.
.
Ruang musik 2 sedikit gelap. Hanya cahaya bulan yang menerangi ke dalam ruangan. Uchiha Sasuke tertidur di atas kursi yang ia duduki. Jaket tebal berwarna merah menutupi tubuhnya. Matanya mulai bergerak pelan dan ia pun mulai menyadari keadaan ruangan itu. Mengingat siapa temannya di ruangan itu sebelumnya ia pun memanggil, "Hyuuga Hinata-ah.."
Namun tak ada jawaban.
"Ia sudah pulang ya?"
Uchiha Sasuke beranjak dari kursinya dan baru menyadari ada jaket yang tersampir untuknya.
"Halo.." suara itu terdengar manis. Seperti berasal dari bawah dan.. "Haruno Sakura?"
Benar saja. Gadis itu masih dengan pakaiannya saat tampil di festival tadi duduk menatap Sasuke yang semula duduk di atas kursi itu.
Haruno Sakura beranjak bangun sambil menepuk-nepuk bagian bawah pakaiannya.
"Aku tidur cukup lama ya?" tanya Sasuke tak enak. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya. Sudah satu setengah jam sejak aku sampai di sini."
"Seharusnya kau membangunkanku."
"Tak mau. Jika kubangunkan, aku tak bisa menikmati wajahmu saat tertidur."
"I-ini?" Sasuke menyentuh jaket yang tersampir di pundaknya.
"Ibu membawakannya untukku. Pakaian cadangan karena aku tak pulang kemarin." Jelas Sakura tentang jaket merah itu. Kemarin ia memang menginap di rumah Hyuuga Hinata untuk mempelajari lagu terakhir mereka.
"Maaf. Seharusnya laki-laki yang melakukan ini." Sasuke beralih menyampirkan jaket itu ke pundak Sakura.
"Tidak. Kau sudah melakukan tugas yang lebih dari tugas seorang laki-laki. Kau memberikanku keberanian untuk berdiri di tempat yang tinggi, di atas orang-orang itu, dan menyanyi dengan bahagia." Tutur Sakura dengan tulus.
"Kalau itu... kau sudah mempunyainya dari awal. Aku tak melakukan apapun"
Sakura tersenyum, "Tadi itu menyenangkan ya?" mengingatkan saat mereka tampil di festival.
"Benar."
"Tampil di depan umum membuatku gugup, tapi sekarang aku tahu bagaimana rasanya. Ya, aku masih ingat jelas. Aku berdiri di bawah spotligth dan menyanyi dengan gembira. Sorakan penonton masih terngiang di telingaku. Saat kututup mataku, aku merasa seperti di dalam mimpi."
"Ya, kalau begitu, bagaimana jika kita bertiga melakukannya lagi? Kalau aku tak tahu apakah bisa atau tidak, tapi kalau kau dan Hyuuga Hinata pasti bisa ke tempat yang lebih tinggi lagi."
Sasuke masih membayangkan bagaimana nanti ke depannya.
"Uchiha Sasuke-kun.." suara Sakura mengalihkan perhatian Sasuke.
"Ya,"
"Mulai sekarang, teruslah bersamaku ya.." pinta Sakura.
"Jika kau tak keberatan.."
"Kau sudah di terima di universitas Konoha 'kan? Kuharap kita bisa satu jurusan atau fakultas. Kau pilih jurusan apa?"
"Kurasa politik atau ekonomi," jawab Sasuke sambil menerawang, "Tapi kau jangan mengikutiku, pikirkan dulu apa yang ingin kau pelajari."
"Tapi.. itu sangat berpengaruh dengan waktu yang kita habiskan bersama," jelas Sakura khawatir.
"Kenapa? kau terlihat gelisah?"
"Kau sudah berjanji kepadaku, walaupun kita sudah lulus, walaupun di universitas, walaupun berbeda jurusan, lalu.. lalu..." entah kenapa gadis itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Tenanglah," Sasuke mencoba menenangkan, "Biar kunyalakan lampunya." Mengira bahwa gadis itu tak tenang karena keadaan temaram.
"Jangan." Tolak Sakura lalu menahan tangan Sasuke yang akan bergerak menghidupkan lampu. "Jangan lakukan. Aku bisa terbangun dari mimpiku. Hari ini aku ingin terus bermimpi. Aku akhirnya bisa menyanyikan lagu yang kusukai, dan dipuji oleh orang yang kucintai. Lalu orang yang kucintai tersenyum dan memanjakanku dengan lembut."
"Sa-Sakura.."
Kini kedua tangan Sakura telah menggenggam kedua tangan Sasuke. Meletakkannya di kedua sisi mereka dan mendekatkan jarak tubuh mereka.
"Tapi ini sedikit berbeda dari yang kubayangkan," Sakura menundukkan kepalanya kemudian menempelkan dahinya di dada Sasuke. "Aku tak menyangka aku yang memulainya. Ini bukan rencanaku. Seharusnya aku hanya menunggu dan sedikit terkejut karena selalu menunggu untuk hal itu. Itu lah mimpi egois yang selalu kuinginkan."
Sakura berjinjit mengakibatkan bahunya naik dan jaket merah yang disampirkan Sasuke jatuh begitu saja. "Uchiha Sasuke, jika kau tak mau tak apa.." Wajahnya mendekat ke wajah Sasuke.
Uchiha Sasuke terlihat sedikit ragu namun tak lama kemudian ia mendekatkan wajahnya juga lalu ciuman itu terjadi begitu saja.
Di ruang musik 2.
Di bawah sinar bulan.
Menuju ke musim dingin.
Hari itu hari terbaik pertama dan terakhir.
.
.
Kulakukan semua ini. Di luar rencanaku. Seperti terjepit. Aku melakukannya demi diriku sendiri.
Aku menyukai Uchiha Sasuke. Aku mencintainya. Aku sudah mengatakannya kepada Hyuuga Hinata.
Ia gadis baik dan aku tak ingin menjadi jahat untuk merebut Sasuke langsung darinya.
Aku sudah menyuruhnya untuk memperlihatkan perasaannya kepada Sasuke namun ia menolak.
Tapi saat aku akan masuk ke ruang musik 2, aku melihat semuanya. Hyuuga Hinata menangis dan mencium Sasuke yang tengah tertidur. Ya, sesuai dugaanku. Hyuuga Hinata mencintai Uchiha Sasuke.
Aku segera berbalik dan bersembunyi di ruang musik 3 yang berada di samping ruang musik 2. Dapat kudengar suara Hyuuga Hinata yang berlari meninggalkan ruangan itu.
Ia menyembunyikan apa yang ia rasakan.
Uchiha Sasuke tak tahu tentang itu.
Maka..
Boleh kah aku sedikit lebih cepat? Mengatakan apa yang kurasakan? Setidaknya sebelum Sasuke tahu, siapa yang sebenarnya ia cintai.
.
.
TBC
.
.
RnR Please :D
WonAhHwang407
