Black Snow

Written by hye jin park 2014©

Disclaimers : the stories and characthers are originally from my mind but the casts in the fanfiction belong to God, their family, and themselves.

Warning : Gs|OOC|AU|KyuMin|Typo|family_tragedy-crime|Gaje|Bad dict| Don't like don't read|Don't bash if you dont like this fanfiction, but you can leave a review or comment|plagiat not allowed|GS|Yaoi|

Rate : M

Happy Reading

.

.

"Sungmin-a, Sungmin-a,"panggil Heechul dengan nada sangat cemas, bagaimana tidak cemas pasalnya puterinya itu tengah didorong menuju ruang UGD. Heechul menemukan Sungmin tergeletak dikamarnya dengan nafas terengah-engah memegangi dada kirinya.

"Hosh,hosh,hosh," deru nafas Sungmin terdengar kasar, tangannya masih mencengkram erat dada kirinya, dokter datang dan langsung memberi penanganan medis.

"Siapkan tabung oksigennya, Sungmin-sshi kau bisa mendengarku tarik nafasmu perlahan lalu hembuskan juga perlahan, bukakan bajunya ganhosa" dokter sibuk memeriksa pupil mata Sungmin dan mengecek detak jantungnya, perawat pun menempelkan alat-alat ke tubuh Sungmin. Perlahan nafas Sungmin tidak tersengal lagi setelah suntikan dan infuse diberikan ketubuhnya. Heechul sudah berangsur sedikit tenang tidak sepanik tadi. Gadis itu tertidur karena pengaruh obat, dan dipindahkan ke ruang rawat untuk memastikan keadaannya lebih lanjut.

.

.

.

"Aku selalu bermimpi, mimpi yang sama dan selalu berulang-ulang. Berdiri ditengah kabut putih diatas tanah yang berselimut salju disana aku melihat seseorang yang tidak pernah aku kenal, seseorang yang selalu mengulurkan tangannya padaku, dan aku yang selalu yang berusaha menjauh, pria itu wajahnya begitu hangat,namun aku tidak bisa melihat jelas wajah itu, hanya dapat merasakan jika pria itu benar-benar hangat…"

Sungmin mengerjapkan matanya perlahan membiasakan diri dari bias-bias cahaya yang masuk dari celah kaca jendela. Diedarkan pandangannya kesamping ada Heechul yang masih tidur meringkuk dengan posisi duduk,tangannya tidak pernah lepas menggenggam tangan gadis itu. Sungmin bergeming, mengelus pucuk kepala 'ibunya' itu.

"Sungmin-a kau sadar nak!" seru Heechul parau saat menyadari gerakan tangan Sungmin. Gadis bermanik rubah itu mengangguk pelan ingin rasanya menjawab tapi tenggorokannya sangat kering jadi ia memilih diam, "Ada yang sakit?" tanya Heechul memeriksa badan Sungmin, dan ia menggeleng, "Tunggu sebentar nde appa ambilkan air dulu"

Sungmin mengangguk pelan menatap punggung Heechul yang menjauh keluar pintu. Gadis itu membisu menyadari jika banyak alat-alat medis yang menempel ditubuhnya.

Heechul datang bersamaan dengan dokter dan perawat. Dokter yang sudah menangani Sungmin beberapa tahun terakhir itu tampak tersenyum ke arahnya, "Bagaimana perasaanmu Sungmin-sshi sudah lebih baik? Kita check dulu kondisimu nde!" ucapnya ramah.

"Jadi ini pertama kalinya kambuh setelah enam bulan?" ucap seoarang dokter bertubuh gempal pada Sungmin dan Heechul, "Nde" jawab Sungmin lemas saat ini ia bersandar pada ranjangnya dengan posisi setengah duduk dan Heechul disampingnya, "Arasseo untuk sementara ini tidak ada masalah tapi istirahat dulu disini hingga sepuluh hari kedepan nde" ucap dokter itu lagi seusai mengecek kondisi Sungmin, "Nde, gamsahamnida uisanim" ucap Heechul membungkuk dan mengantarnya sampai pintu.

Sungmin mendengus sebal menatap jendela yang terbuka lebar, yang menampilkan langsung pemandangan taman belakang rumah sakit. Ia sangat membenci saat-saat seperti ini . Menginap dirumah sakit dan membiarkan tusukan jarum masuk ketubuhnya. Heechul yang sudah hapal dengan kebiasaan puterinya itu jika sedang kesal malah menyunggingkan senyumnya, ia mendekati Sungmin mengusap surai cokelatnya yang sudah mencapai bahu, lalu merapikan selimut sampai batas pinggangnya.

"Appa telponkan Kyuhyun? " tanya Heechul mengedipkan matanya dan dibalas oleh delikan imut putrinya itu, Sungmin memang ahlinya jika membuat aegyo meskipun dalam keadaan pucat sekalipun wajah gadisnya masih tampak menggemaskan,membuat pria cantik itu terkekeh dibuatnya.

"Ada yang Sungmin fikirkan eoh? kenapa bisa sampai begini?" tanya Heechul lembut, Sungmin menggeleng dan memilih minta dipeluk olehnya jika sudah begini Heechul tahu jika puterinya itu tengah dilanda takut.

"Gwanchana" ucap Heechul menenangkan dan mengusap lembut punggung ringkih Sungmin.

"Puteri appa akan baik-baik saja, uri Sungmin akan cepat sembuh dan selalu sehat" ucapnya sembari mengusap lembut punggung sempit milik puterinya.

.

.

.

Sungmin bersungut kesal dengan sembari menekan asal ponsel touch screen nya, gadis itu kesal lantaran sms atau panggilannya tidak dijawab oleh Kyuhyun. Heechul datang membawa beberapa baju ganti Sungmin, tahu akan gelagat kesal puterinya Heechul hanya bisa tertawa dan merpikan baju Sungmin ke lemari.

"Daddy akan sampai sore ini, jangan cemberut lagi oke!" ucap Heechul memulai percakapan. Sungmin tiba-tiba tersenyum sumeringah mendengar jika daddynya akan pulang ke Korea.

"Jeongmal?" tanyanya memastikan, Heechul mengangguk mengiyakan lalu menghampiri puterinya itu menatap sedih makan siang Sungmin yang belum sempat ia makan terlebih butiran-butiran tablet dengan berbagai warna yang masih belum diminumnya.

"Mau appa belikan makanan lain?" tawar Heechul, gadis itu lagi-lagi menggeleng padanya ia malas makan dan malas minum obat. Demi apa ia sungguh bosan dengan ini semua. Tapi mau bagaimana lagi kalau tidak ada obat-obat itu bagaimana bisa ia bertahan selama ini, ia sudah seperti mayat hidup dari hari ke hari…

Heechul menatapnya sedih ia tidak tega jika Sungminnya sedih begini sejak mereka mengadopsi Sungmin dua belas tahun lalu , gadis itu bagaikan embun penyejuk serta pelangkap kekosongan diantaranya dan Hangeng.

Sungmin kecil yang sangat menngemaskan membuat siapa saja gemas dibuatnya. Dan begitu mereka tahu akan latar belakang Sungmin sebenarnya mereka jadi semakin overprotective pada gadis itu, apalagi ditambah dengan kondisinya. Home schooling dan kegiatan lainnya banyak Sungmin lewati dengan dirumah atau perawatan intensive di rumah sakit.

Bersyukur ada Kyuhyun satu-satunya teman Sungmin. Mereka bertemu saat sama-sama dirumah sakit. Terjatuh karena bermain ski dan kabur dari pengobatan mereka memang dipertemukan lewat takdir. Sampai sekarang pun kyuhyunlah temannya.

"Chagi," panggil Heechul lembut menghampiri Sungmin membujuk agar ia mau makan. Sungmin masih tak bergeming ia masih mengotak –ngatik ponselnya menekan kuat-kuat semut yang ia ganti dengan photo Kyuhyun digame ponselnya.

Heechul angkat tangan ia menyerah dengan sifat keras kepala Sungmin.

Namun tiba-tiba saja Hanggeng muncul dari daun pintu sembari membawa sebuah kotak berisi bubur labu untuk Sungmin. Ia tahu jika sampai saat ini kelinci putihnya itu belum makan. Sungmin yang tadinya merengut tiba-tiba saja tersenyum senang saat melihat daddynya. Ia memekik senang hampir saja jarum infusenya lepas.

"Siapa yang tidak mau makan tadi?" ucap Hanggeng mencubit hidung mancungnya.

"Daddy!" pekik Sungmin menghambur kedalam pelukannya, Heechul hanya bisa iri melihatnya ,ia sebal sebab Hanggeng mendapat pelukan hangat dari Sungmin.

"Appa tidak mau daddy peluk juga?" tanya Hanggeng seraya merentangkan tangan kirinya , Heechul tersenyum kecil malu-malu mau ia sedikit demi sedkit mendekat ikut bergabung dalam pelukan hangat itu.

Kyuhyun menutup pintu perlahan tadinya ia berniat menjenguk Sungmin sekalian minta maaf karena ponselnya mati. Ia tersenyum tulus melihat keakraban keluarga Sungmin. Meskipun tahu akan kondisi keluarga Sungmin fakta tentang ia diadopsi oleh pasangan gay, dan kondisi Sungmin yang lemah kyuhyun tidak keberatan sama sekali yang terpenting baginya adalah Sungmin, hanya Sungmin.

.

.

.

"Jadi sudah kalian dapatkan informasinya?"

"Belum bos kami belum tahu tentang keberadaan anak dari tuan Lee, menurut kabar ia diadopsi pasca sebulan kejadian itu dan info mengenai siapa yang mengadopsinya serta hal yang terkait tentang orang tuanya angkatnya kami belum menemukan informasi yang tepat dari pihak panti tidak mau memberi tahu lebih lanjut."

"Bodoh! Apa saja sih yang kalian lakukan sampai mencari informasi seperti itu saja tidak bisa?" sungut pria itu geram.

"Maaf bos, kami sudah mencoba sebisa mungkin untuk menguak informasinya, kami juga sudha berusaha untuk menyusup guna mencari data dan informasi mengenai surat adopsi gadis itu namun nihil. Tidak ada data informasi terkait mengenai gadis putri keluarga Lee itu.

"Cari terus aku mau sampai gadis itu ditemukan!" Ucapnya mengakhiri sambungan.

Pria blonde yang baru saja dimarahi itu hanya dapat tertawa miring sambil kembali menghisap permen lolipopnya. Tersenyum, ia meremehkan bagaimana bisa mencari keberadaan bocah yang hilang dua belas tahun lalu itu dengan mudah apalagi ditambah ia telah diadposi bisa saja kan ia tidak tinggal lagi dikorea atau bahkan sudah berganti nama dan marga.

"Hah!" ia mendengus kesal.

"Ada apa denganmu?" tanya seorang pria menghampirinya lalu memberikan kecupan-kecupan lembut pada tengkuk dan lehernya.

"Gumanhae! Aku sedang kesal dengan si kepala besar itu!" jawabnya,

"Kepala Besar?" tanyanya lagi, si pria itu pun menghentakkan kakinya lalu membanting kasar lollipop itu hingga pecah , dan sebagian menggelundung di lantai rumah mereka.

"Kau ingat gadis kecil puteri keluarga Lee yang dinyatakan telah meninggal tiga belas tahun lalu?" jawabnya,

"Nde" ucapnya tak bosan mengecupi hingga menyesapi leher putih kekasihnya itu, kecup, "Memangnya" jilat, "Kenapa", hisap, "Eum?" tanyanya membuat desiran aneh memacu hasrat pria blonde itu.

"Ternyata ia masih hidup dan sempat diadopsi oleh orang lain" sambungnya dengan nafas terengah.

"Setahun yang lalu si kepala besar itu menemukan jika istri Lee Kangin masih hidup. Wanita itu meminta keberadaan puterinya entahlah bagaimana bos dan mantan istri lee Kangin bisa saling berhubungan" jelasnya payah-payah menggelinjang geli akan perlakuan yang diterimanya.

"Arraseo, jangan banyak berfikir bukankah itu sudah lama terjadi huh . Mungkin saja putrinya itu kini berada jauh di Korea atau bahkan ia sudah menghilang ditelan bumi" balasnya kembali menggoda bagian tubuh yang lain,

"Itu juga yang ku fikirkan namun kau tahun beberapa bulan belakangan ini aku terus mencari keberadaan gadis itu, sial tidak ada satu pun petunjuk tentangnya!"

"Jangan di fikirkan lagi, kau tahu aku sudah tidak tahan kita sudah tidak bertemu lama sekali" desah pria itu erotis tepat di kuping sang pria blonde.

.

.

.

Orang tua itu kini tengah duduk saling berhapan di ranjang dengan Sungmin sebagai pusatnya. Mereka fokus melihat banyaknya suapan yang ditelan Sungmin. Sudah tujuh belas menit dan Sungmin hanya makan tiga suap.

Heechul pun mencoba meniru aegyo Sungmin, membujuk agar gadisnya mau makan paling tidak lima sendok saja, namun Sungmin menggeleng mulutnya sudah mulai pahit apalagi mengingat butir-butir obat yang akan ia minum nanti. Heel No! ia harus bisa menampung itu semua diperutnya!

"Satu suap lagi ya nak!" bujuk mereka,

"Kenyang daddy!" jawab Sungmin dan dibalas helaan nafas kecewa mereka. Tidak mau melihat ekspresi sedih orang tuanya akhirnya kelinci putuh itupun mengalah dan kembali menyuapkan bubur labu itu ke mulutnya.

Heechul berbinar melihat itu ," Makan lagi nde kau juga harus minum obat setelah ini nde" bujuk Heechul pelan,dan diangguki pasrah oleh Sungmin.

"Sayang aku keluar sebentar " izin Hanggeng pada dua malaikatnya. Keduanya mengangguk dan tersenyum.

Hanggeng yang akan menelpon seseorang terkejut dengan keberadaan Kyuhyun yang duduk bersandar di dinding. Didekatnya Nampak sebuah kotak sebuah paper bag berisi makanan , itu makanan Hanggeng menebak. Ia lalu menyuruh Kyuhyun masuk namun pria stoic itu menolak takut jika moment keluarganya terganggu,

"Kau tahukan jika Sungmin sudah ngambek? Cepat temui dia " pinta Hanggeng beranjak pergi menelpon.

Kyuhyun menghitung kancing-kancing di mantelnya, masuk atau tidak ia tahu kesalahannya kali ini, ponselnya mati seharian ia juga mendapat kabar Sungmin masuk rumah sakit dari pembantu rumah gadis itu. "Masuk" Khuhyun menghela nafas dan meneggeser pintu itu perlahan.

"Sudah appa!" pekik Sungmin merasakan rasa pahit yang amat lekat di lidahnya.

Kyuhyun mematung di depan melihat ekspresi kepayahan Sungmin minum obat mencampurkan semua tablet dan pil itu menjadi satu lalu menggerusnya dan meminumnya sekaligus menyisahkan jutaan partikel pahit dilidah.

"Anyeong!" cicit Kyuhyun tanpa dosa dan

'BRUK'

Sebuah batal menghantam kepala pecinta game tersebut.

"Mau apa kau kemari kau bocah, keluar!" amuk Heechul yang baru saja melempar bantal yang tepat mengenai wajahnya. Kyuhyun sempat linglung sejenak kemudian mengaduh merasakan pusing akibat lemparan panas yang mengenai wajahnya itu. Ia masih belum mencerna akan situasi yang terjadi kejadiannya begitu cepat dan Heechul mengamuk lagi, ah tidak kali ini pria cantik itu tengah berada didepannya, Kyuhyun bahkan tidak tahu kapan pria itu menghampirinya.

Heechul berkacak pinggang bersiap untuk memberi pelajaran pada Kyuhyun ,hampir saja jika Hanggeng tidak cepat datang menjadi penengah. Sungmin yang masih lemas hanya dapat membeo tidak mengerti kenapa ayah angkatnya itu bisa sebegitu marahnya pada Kyuhyun.

"Ajhusi" cicit Kyuhyun bersembunyi di balik punggung Hanggeng, "Hannie! Bawa bocah nakal ini kehadapanku, gara-gara dia uri Sungmin drop lagi,bawa kemari!" pinta Heechul yang menganggap jika Kyuhyun adalah penyebab menurunnya kondisi Sungmin.

Sebenarnya memang iya sih, jika difikir-fikir sebab seminggu belakangan ini Kyuhyun selalu berkunjung ke rumah dan mengajak Sungmin untuk keluar. Mereka menghabiskan waktu layaknya pasangan biasanya, pergi ke taman bermain, memancing di danau, bermain ski, sampai menghabiskan waktu memasak bersama kakak Kyuhyun dan mengurus keponakannya yang masih berusia dua tahun. Yah hitung-hitung latihan jika mereka punya anak nantinya, benak Kyuhyun berfikir jahil…

Namun Kyuhyun lupa jika hal-hal tersebut berpengaruh pada kondisi Sungmin. Gadis itu tentu mau saja menjalani aktivitas diluar secara ia juga sangat jarang merasakan yang namanya keluar rumah, temannya hanya Kyuhyun,kakak perempuanya dan keponakan Kyuhyun yang masih berusia dua tahun. Sungmin juga home schooling makanya tidak punya teman, appa dan daddynya juga sibuk seringkali mereka jarang berkumpul bersama dalam satu rumah, jika bukan appanya yang keluar kota atau daddynya yang keluar negeri.

Namun Sungmin cukup sadar akan posisinya, diadopsi oleh mereka diberikan kasih sayang yang melimpah ia sudah sangat berterimakasih. Ia sangat menyayangi mereka lebih dari apa pun, masa bodoh dengan masa kecilnya yang tidak pernah bisa ia ingat lagi, yang terpenting kan ada mereka, keluarganya sekarang. Sungmin tersenyum mengingat itu semua. Samar-samar masih terdengar suara geraman Heechul yang meminta Kyuhyun keluar dari persembunyiannya di belakang punggung Hanggeng.

"Ajhusi Mianhe aku tidak sengaja aku benar-benar lupa!" pekik Kyuhyun saat Heechul berhasil menggapainya, "Lupa katamu!" geram si pria cantik itu lagi, " Sungmin sakit itu gara-gara kau yang selalu mengajaknya keluar!"

"APPA"

"Astaga Heechul-ah"

"Min tolong aku" pekik Kyuhyun nelangsa…

.

.

.

Satu jam kemudian…

Kyuhyun masih bersungut-sungut mencoba meredam kekesalannya dan lebih memilih untuk merasakan rasa sakit di kepalanya yang tadi habis di geplak oleh Heechul. Kini , sekarang pemuda itu tengah duduk manis sembari mendengarkan cerita Sungmin.

"Belakangan ini aku selalu bermimpi dan mimpi yang sama setiap malamnya. Aku berdiri ditengah kabut dengan tanah yang tertutupi salju putih tapi ada yang janggal saljunya tidak terasa dingin tapi hangat. Dan lagi pria itu aku tidak ingat jelas wajahnya ia selalu datang dan memanggil nama kecilku, 'minnie' katanya, tangannya terulur padaku dan pada saat yang bersamaan tercium bau darah yang pekat membuat salju yang kupijak menjadi hitam…" Cerita Sungmin akan mimpinya pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama menjadi merinding sendiri mendengarnya. "Ming, kau menceritakannya pada appa dan daddymu?" tanya Kyuhyun, Sungmin menggeleng ia takut jika menceritakannya akan membuat mereka bertambah cemas dan ujungnya pasti rumah sakit lagi, hell no! Sungmin tidak mau itu, mengunjungi psikolog dan diberi obat penenang ,stimulus agar mimpinya tidak datang lagi, ia tidak mau itu terlebih sebenarnya ia sangat penasaran dengan pria yang hadir dimimipinya itu. Mungkinkah jika ini berhubungan dengan masa lalunya, Sungmin hanya bisa menebak.

"Ming" panggil Kyuhyun cemas pasalnya gadis itu hanya diam saja sejak tadi, "Ada yang mengganggu pikiranmu ya?" tanya Kyuhyun ,sekali lagi Sungmin menggeleng, ia malah mengalihkan topik kenapa Kyuhyun tidak menjawab teleponya dari pagi tadi, padahal Sungmin ingin bicara sesuatu. Tapi jantungnya tidak bisa diajak kompromi , tiba-tiba saja rasa sakit dan sesak itu datang lagi setelah sekian lama tidak datang.

"Mianhae, appamu benar jika saja aku tidak mengajakmu kemana-mana aku lupa Ming, aku terlalu bersemangat karena ini masih dalam suasana liburan" sesal Kyuhyun.

"Anio, aku saja yang lemah jadinya banyak merepotkan orang. Gomawo telah bersabar dan menemaniku selama ini" ucap Sungmin tulus, wajah pucatnya terlihat sangat cantik terlebih lagi bias sinar lembayung sore masuk ke celah-celah jendela ruang rawatnya, Sungmin tersenyum manis, sangat manis sehingga mampu membuat Cho Kyuhyun diam terpaku…

"Yeppeota" gumam Kyuhyun .

Heechul tiba-tiba saja masuk dan merusak moment indah Kyuhyun menatap wajah Sungmin. Pria itu menyuruh Kyuhyun pulang, tidak namun ini lebih tepatnya mengusir. Sungmin hanya dapat tertawa saja saat melihat perdebatan kecil lagi-lagi masuk menjadi penengah mereka. Pria berdarah china itu lalu duduk disamping ranjang Sungmin dan membenarkan letak selimut anak gadisnya itu. Mereka tidak tahu jika Sungmin sudah tertidur karena efek obat yang diminumnya.

"Bisakah kalian diam, Kyu pulanglah sudah hampir malam Sungmin juga perlu istirahat, oh sampaikan terimakasih kami pada kakakmu atas makanannya, dan kau Chulie berhenti marah-marah oke !" ucap Hanggeng dan membuat suasana tenang seketika.

"Sungmin tidur?" ucap Heechul dan Kyuhyun bersamaan dengan lirih, Hanggeng mengangguk.

"Arraseo ajhusi aku kembali lagi besok, aku pulang dulu" ucap Kyuhyun sopan membungkuk hormat pada keduanya, tidak lupa ia mengecup kening Sungmin sebentar yang sudah tentu membuat Heechul mendelik tajam,"Hei!"

"Jalja Ming" ucap Kyuhyun lembut lalu benar-benar mohon diri untuk pulang.

"Jangan terlaru kasar padanya sayang, kau tahukan jika cuma dia satu-satunya teman Sungmin" ucap Hanggeng lembut. Ia tahu jika 'istrinya' itu tidak bisa dikerasi. "Bukannya begitu Han, Cuma kau tahukan bagaimana takutnya aku jika melihat Sungmin kesakitan seperti tadi, ditambah lagi Sungmin sempat sebal karena tidak bocah nakal itu tidak menjawab ponselnya" adu Heechul manja.

"Arrasseo, aku akan pulang dulu mandi dan mengambil baju ganti untukmu, ingin menitip sesuatu?" tawarnya lagi, Heechul mengedip genit dan membisikan sesuatu,dan membuat Hanggeng sumeringah setelahnya, biarlah hanya mereka yang tahu tentang titipan Heechul tadi…

.

.

.

Sungmin bernafas tersengal keringat kembali membasahi tubuhnya, matanya terpejam erat keningnya bertaut raut wajahnya menegang seakan tengah menghadapi sesuatu yang mengerikan. Heechul terbangun mendengar lenguhan dan nafas kasar Sungmin,sontak ia panic dan berteriak membangunkan Hanggeng yang tidur di sofa. Mereka pun memanggil dokter seraya memanggil-manggil Sungmin, panik melanda melihat nafas Sungmin yang semakin sulit,

Sungmin mengerjap, menatap lurus kedepan kesadaranya belum pulih benar. Menatap wajah orang tuanya membuat Sungmin tenang, "Appa!" ucap Sungmin tersengal ia menangis, menagis sejadi-jadinya tidak ia perdulikan rasa sakit di dada kirinya yang muncul lagi, ia hanya mau dipeluk appanya sekarang.

"Sst gwanchana Sungmin kenapa? Mana yang sakit katakan pada appa eum. Han, mana dokternya!" pekik Heechul panik.

"Appa,hiks, hiks, appa" raung Sungmin lagi membuat mereka kelimpungan.

"Gwanchana?appa disini , appa disini, Sungmin tenang ya…"

Mimpi itu datang lagi dan semakin parah dan mengerikan. Sungmin melihat seorang gadis kecil dengan gaun tidur putih berendanya gadis itu memegang boneka kelinci putihnya,menyusuri koridor sebuah mansion yang gelap. Ia berjalan meraba dalam gelap memanggil-manggil ayahnya. Gadis kecil itu tersandung tubuh milik seseorang yang tergeletak mengenaskan di lantai, dinginya udara bersalju menambah kesan kejam dalam deretan tubuhn-tubuh yang tergelak bersimbah darah dimansion itu, Sungmin berteriak saat melihat pria dengan pakaian serba hitam menodongkan pistolnya ke kepala gadis kecil itu…

"Appa" pekik Sungmin berontak saat dokter mencobanya menyuntikan obat penenang. Mata gadis itu masih terpejam saat benda tipis nan tajam itu menembus kulitnya, Heechul nyaris menangis melihat keadaan puterinya .

"Han, Sungmin , Sungmin…." Isaknya dalam pelukan 'suaminya'. Perih saat melihat puteri mereka tergolek lemas seperti itu.

Dokter sibuk mengecek pupil mata Sungmin, denyut nadi gadis itu yang sangat lemah, seorang suster datang memakaikan masker oksigen untuknya, jarum infuse dan peralatan medis lain terpasang penuh ditubuhnya. Heechul menggeram sedih tidak tega saat dokter kembali memacu detak jantung Sungmin dengan defibilator…

.

.

.

Kyungsoo, gadis kecil yang baru genap berusia dua tahun itu membesut melipat tangannya di dada, ia masih kekeh tidak mau tidur. Berulang kali Ryeowook membujuk agar puteri kecilnya itu tidur, namun tampaknya bocah bermata besar itu belum ada tanda-tanda mengantuk.

"Kyungsoo-a kalau tidak mau tidur nanti omma tinggal lo, ini sudah malam chagi " bujuk Ryeowook lagi, namun anaknya itu malah berjalan mundur menghindari ibunya, punggung kecilnya kini terhalang oleh pintu kamar mandi yang memang berada di dalam kamar Ryeowook.

Kembali Ryeowook membujuk dengan iming-iming hal-hal yang disukai bocah itu, helaan nafas kembali terdengar, ia kekeh tidak mau tidur.

"Baiklah kalau begitu omma tinggal ya, " ucap Ryeowook yang lalu beringsut naik ke ranjang berpura-pura menaikan selimut dan mematikan lampu. Karena takut akan gelap akhirnya Kyungsoo dengan cepat menyusul Ryeowook naik ke kasur. Dengan kepayahan kaki pendeknya berusaha menaiki ranjang tidur itu. Ryeowook terkikik mengintip melihat raut puterinya itu.

Perlahan Kyungsoo mendekat beringsut ke dalam pelukan ibunya, "Kenapa tidak mau tidur?" tanya Ryeowook mengusap surai hitam miliknya. Kyungsoo menggeleng lalu mengambil posel Ryeowook yang berada di atas bantal, " Appa" cicit Kyungsoo menyodorkan smartphone itu pada ibunya.

"Rindu appa?" tanya Ryeowook, "Eung.." Kyungsoo pun mengangguk pelan.

Cho Ryeowook adalah kakak perempuan Kyuhyun satu-satunya. Mereka hanya berdua di dunia ini sejak orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat dua belas tahun lalu. Kyuhyun yang saat itu masih sangat kecil dijaga dengan sangat baik oleh kakaknya itu. Ryeowook melindunginya dengan segenap jiwanya terlebih dari para tetuah perusahaan milik orang tua mereka yang berusaha mengusai itu semua. Sehingga jadilah mereka lebih memilih tinggal berdua dan berperan hanya sebagai pemegang saham terbesar. Toh juga itu cukup untuk menghidupi mereka.

Saat Ryeowook masih muda ia bertemu dengan seorang pria, layaknya kisah klasik seperti romansa – romansa yang dapat di jumpai di film mau pun kehidupan nyata lainnya, keduanya bertemu lalu jatuh cinta, hingga menghadirkan gadis mungil bermata belok, Kyungsoo, sebagai buah dari cinta keduanya.

Namun…

Ia belumlah menikah secara resmi dalam artian dalam ikatan hukum hanya secara agama saja. Hal itu dikarenakan kondisi sekarang yang belum memungkinkan entahlah, Kyuhyun juga berkali-kali mengungkit hal itu tapi sudahlah semua orang punya pemikiran sendiri bukan…

"Yeoboseyo appa Kyungsoo tidak mau tidur" ucap Ryeowook mengawali panggilannya,

Pria yang di sana dengan terkekeh membuat suara lucu mulai berkomunikasi pada puterinya itu.

"Appa kapan kesini lagi?" cicit kyungsoo dengan aksen kanak-kanaknya, "Kyungsoo kangen…" tambahnya lagi, pria itu tersenyum lembut mendengar celoteh puterinya itu."Nde jika pekerjaan appa di sini sudah selesai appa kesana ya, Kyungsoo tidur nde sudah malam jika tidak tidur nanti tidak bisa bertambah tinggi" bujuknya lagi dan membuat bocah itu memejamkan matanya seketika.

"Kyungsoo sudah tidur, gomawo" ucap Ryeowook menutup sambungan teleponnya, baru saja pria itu ingin mengucapkan kata cinta untuknya, sehingga ia hanya bisa mengatakannya saat layar ponsel itu sudah keburu di matikannya.

"Tuan kami menemukannya!" seru seseorang mendobrak masuk ruangan remang-remang itu, adalah Kim Joong won yang merasa kesal karena suasana hatinya yang tadi bagus berubah buruk karena suara itu, baru saja ia bahagia karena mendengar celoteh puterinya eh tiba-tiba dirusak oleh suara buruk milik bawahannya.

Joong won mendesih , memerintah agar ia cepat menyampaikan informasi apa itu.

"Kami menemukannya, puteri dari keluarga Lee, ternyata ia masih hidup. Seorang polisi saat itu membawanya ke sebuah panti asuhan di jeju. Yang kudapat jika gadis itu telah diadopsi oleh pasangan pria dan kami belum bisa melacak keberadaannya sekarang" ucapnya mengakhiri informasinya.

"Telah di adopsi?"

"Nde, tuan. Menurut kabar delapan bulan sejak ia dinyatkan pulih dan tinggal di panti asuhan tersebut, ada pasangan suami istri yang mengadopsinya namun kami belum dapat menemukan di mana gadis itu tinggal sekarang" jelasnya lagi.

"Tidak dapat menemukannya?" manik segaris itu meruncing tajam.

Joong won mendelik, kesal karena informasi yang diberikannya kurang lengkap tidak tuntas, ia lalu melayangkan tinjunya ke wajah orang tersebut. Ia terpental kebelakang, darah mengalir disudut bibir bawahannya itu, ia menahan sakit membungkuk.

"Kau mengancurkan mood baikku hanya demi berita yang menggantung!" pekiknya marah, "Keluar dan jangan kembali sampai kau menemukannya!".

.

.

.

Alunan detak jantung Sungmin terdengar indah ditelinga Heechul dan Hanggeng, seakan sebuah instrument musik yang menenangkan, mereka tenang karena masih bisa mendengarkan denyut kehidupan Sungmin.

Setelah beberapa jam tadi yang melelahkan akhirnya gadis itu kembali stabil, berhasil melewati masa kritisnya,teringat lagi tentang apa yang dokter katakan membuat mereka cemas bukan main tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan puteri mereka.

"Ia mengalami shock, dan jantungnya tidak cukup kuat untuk menerima respon yang ada. Ia masih sangat lemah usahakan agar ia selalu dalam kondisi tenang dan senang, jangan membuatnya berfikir terlalu keras."nasehat dokter pada mereka.

"Sungmin" desah Heechul mengusap kening berkeringat Sungmin.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Yang berminat silahkan REVIEW^^ dan terimakasih sudah membaca ^^

.

Sign

Hyejinpark

.