Hello, this is Yoon Soo Ji with second chapter!
Chu~
Aku minta maaf karena update terlambat dua minggu, tapi minggu-minggu ini terlalu sibuk.
Aku juga sedikit kekurangan ide untuk cerita ini.
Anyway, aku tak mau memperpanjang.
Enjoy the story!
Stigma
Sistem Planet EXO, satu tahun sebelum invasi.
Tak ada yang pernah berubah dari hiruk pikuk kota mereka, dan beberapa daerah utama akan sangat sibuk dengan berbagai persiapan perayaan tahunan mereka. Bukanlah sebuah rahasia umum di Galaktik bahwa perayaan kembang api tahunan sistem planet mereka adalah yang terindah.
Sebagai pemanis bahwa sistem planet mereka adalah salah satu dari yang terkuat.
Kaisar Wu dengan puas menerima setiap laporan yang diserahkan oleh Senator mereka, Oh Sehun tentang keadaan di Ibukota. Pertemuan para Senat memang selalu menyulitkan dan membuat mereka goyah kesana kemari, namun itu lebih baik daripada menjadi anggota lepas.
Bahkan dengan adanya Senat, perlindungan sistem mereka tak terjamin kecuali bagi sistem planet mereka yang cukup kuat. Satu-satunya alasan bagi mereka untuk bergabung di Republik, menurut sang kaisar, hanyalah demi sekutu-sekutu mereka yang terlalu koperatif.
Sistem planet Bulletproof, Velvet, dan Shinee.
Masing-masing mereka adalah termasuk yang terkuat, namun tentu saja, Republik akan selalu berada di depan, jauh dengan teknologi yang begitu kuat dan tak terkalahkan, menciutkan bahkan sistem planet terkuat dan terkaya sekalipun.
Karena itulah, strategi mereka adalah mengirimkan sebanyak-banyaknya senator yang mereka bisa ke dalam dewan dengan Jedi yang melindunginya dengan sempurna. Bukan pula rahasia umum lagi bahwa sistem planet mereka dibekali oleh seorang master Jedi terkuat di generasi mereka, melahirkan enam ksatria Jedi yang siap melindungi mereka.
"Selain untuk persiapan malam ini, apa ada yang perlu dilaporkan lagi?" Tanya Yifan, menatap senatornya yang kemudian menggeleng sopan sebagai jawaban. "Kalau begitu tugasmu sudah selesai, Senator, kunjungi keluargamu sebelum melapor padaku lagi besok."
.
Sehun melirik anak yang tertidur lelap di atas kasurnya itu, sudah sejak pagi dia tak terbangun dan pulas di dalam tidurnya. Walaupun sang ayah telah membujuknya untuk bangun pagi dan berlatih bersama ibunya, dia akan tertidur kembali setelah matahari terbit.
"Samdong," panggilnya, menggeser tangan putranya yang masih memejamkan mata. "Abeoji sudah pulang lama dan kau masih tertidur? Dasar pemalas, kau takkan dapat makan malam."
Dengan ancaman itu, Samdong membuka matanya malu-malu, kelopak matanya masih enggan untuk merespon cahaya. "Abeoji?" Panggilnya lirih, menerka-nerka kapan ayahnya itu pulang dari daerah utama. "Eommoni mana?"
"Sudah Abeoji katakan untuk berlatih bersama, kan?"
Anak umur lima tahun itu kembali merengek, "Aku mengantuk!" Dia menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal, kembali mencoba menutup matanya jika sang ibu tidak datang dan menarik selimutnya.
"Kau tak bisa membangunkannya seperti itu." Tegur pasangannya, mengangkat tubuh sang anak ke dalam kamar mandi, dan Sehun dapat mendengar suara rengekan Samdong semakin keras. "Kau akan terkena siraman jika tak bangun."
"Abeoji!" Jerit Samdong lagi, sepasang kaki kecilnya berlari dari kamar mandi dengan lincah dan cepat, menghindari serangan air dingin dari sang ibu. Sang senator hanya membungkukkan badan dan ikut memeluk sang anak, tertawa melihatnya.
"Jangan kasar padanya, Luhan."
"Salahkan dia yang tak mau bangun."
"Aku sudah bangun, Eommonim, bahkan sebelum matahari terbit."
"Lalu kenapa tidur lagi?"
Samdong kembali merengek, menjerit dan menendang-nendang udara karena sang ayah telah menggendongnya sambil tertawa. "Samdong-ah, jika kau sudah bangun tadi pagi, jangan tidur lagi, dan segera bangunkan Eommoni atau Abeoji." Ujar sang ayah, membuat kepala kecil putranya mengangguk. "Sekarang minta maaf pada Eommoni dan bilang takkan jadi pemalas lagi."
Kaki Samdong kembali membawanya ke pelukan sang ibu, membisikkan kata maaf dan apa yang diperintahkan Sehun. "Lalu aku akan mandi." Ucapnya, meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, samar-samar dari luar, kedua orang tuanya dapat mendengarnya menjeritkan rasa dingin akibat air.
"Kapan kau pulang?" Tanya Luhan, meraih jaket yang sedari tadi belum dia lepas dan menggantungnya di gantungan dekat pintu. Rumah sang senator tampak seperti rumah rakyat biasa, dimana ada dua kamar – satu untuk mereka dan satu untuk Samdong – beserta dapur yang bergabung dengan ruang makan, kamar mandi, dan ruang tamu. "Aku bahkan belum memasak."
"Kau melatih anak-anak hari ini?" Tanya Sehun balik, melihat pasangannya yang masih memakai gaun khas Jedi dengan lightsaber yang tergantung di pinggang. "Apa mereka menyusahkan?"
Luhan hanya menggeleng, melatih anak-anak itu sangat menyenangkan baginya. "Akan lebih baik jika Samdong menurut dan mau ikut latihan." Gumamnya.
"Luhan,"
"Aku mengambil darahnya diam-diam dan mengeceknya, Midi-Chlorion dalam tubuhnya terlalu kuat, anak sepertinya tak bisa dibiarkan tanpa pelatihan, Sehun, jika dia tidak segera menjadi Jedi, akan ada banyak kemungkinan Sith mengetahui keberadaannya dan menariknya ke sisi gelap."
"Aku tahu." Jawabnya, berjongkok ke depannya yang berjongkok. "Tapi dia putra kita, dan aku percaya dia akan mengikuti jejakmu suatu hari, aku kenal kau, dan banyak sekali sifatmu yang menurun padanya. Dia takkan salah memilih jalan."
Luhan hanya tersenyum ketika Sehun mengusap pipinya lembut, semakin memerah ketika sang senator mengecup bibirnya. "Aku akan memasak." Tepat saat itu, Samdong berlari hanya dengan handuknya, meminta sang ayah untuk membantunya memakai pakaian.
"Samdong mau ikut Abeoji nanti malam? Ada kembang api."
"Perayaannya nanti malam?" Sahut Luhan dari dapur, masih dengan celemeknya. "Kukira hanya orang-orang kaisar yang boleh masuk."
"Kalau kita tak boleh masuk, kita ini orang siapa?" Sehun tersenyum, mengusak kepala sang anak setelah selesai memakai setelannya. "Senator adalah milik sistem planet dibawah pimpinan kaisar. Kau ikut juga." Perintahnya.
"Lightsaber-ku rusak, aku harus memperbaikinya."
"Kukira lightsaber tak bisa rusak."
"Apa aku menyebutkan lightsaber, maksudku panciku yang rusak."
"Lu,"
"Oh, ayolah, Sehun, aku terlalu malas mengikuti perayaan seperti itu, aku bahkan tak begitu suka keramaian." Dia mendudukkan dirinya di samping pasangannya. "Samdong bisa menemanimu, aku benar-benar tak bisa ikut."
Sehun tak menjawab, dia tahu rasa takut pasangannya ketika berada di sekitar keramaian, terutama ketika begitu banyak politikus yang datang. "Aku akan pulang lebih cepat." Dia berujar akhirnya, mengelus kepala Luhan sebelum akhirnya beranjak turun ke kamar mereka.
Sebesit perasaan bersalah muncul di dirinya, orang macam apa yang tak mau menemani pasangannya dalam pesta perayaan sebesar ini? Lebih lagi, Sehun adalah seorang senator, seorang berpengaruh yang membawa nama sistem planet mereka di Ibukota.
Luhan mendekap lightsaber yang tergantung di pinggangnya dengan kuat, dia bahkan sebenarnya tak berani membiarkan Samdong berkeliaran sendirian di kota. Tapi yang menyebabkan putranya memiliki itu adalah dirinya dan dia tak bisa mengisolasi hidup sang anak secara tak adil seperti itu.
"Maafkan aku."
.
Sehun menggandeng tangan mungil putranya menyusuri jalan di kota, tersenyum pada banyak orang dengan busana kasualnya, dan sepasang mata mungil yang menatap mereka polos tanpa beban.
Sang ibu benar-benar tak mau ikut dan membuat mereka hanya berjalan berdua menunggu kembang api yang akan diletuskan. Hingga akhirnya sang ayah melepas genggamannya setiba di sebuah kedai minuman.
"Senator Oh." Sapa seseorang dan Sehun menunduk sopan, tersenyum. "Sudah begitu lama tak bertemu, benar?"
"Perdana Menteri Park." Salamnya, masih tersenyum. "Bekerja di kekaisaran bukan berarti kita saling bertegur sapa, benar bukan?" Jawabnya, merangkul sang anak. "Beri salam, Samdong-ah, ini Perdana Menteri Park Chanyeol."
Miho mengembangkan senyumnya dengan sopan dan membungkuk dalam, sekilas melihat anak kecil yang bersembunyi di balik kaki sang perdana menteri. "Abeoji."
Chanyeol mengikuti arah mata putra rekannya dan tersenyum, sedikit tertawa sebenarnya. "Myungsoo-ah, maju dan beri salam seperti seorang laki-laki." Anak laki-laki mungil itu mengedipkan matanya dan beringsut maju, membungkuk sopan. "Dia Myungsoo, putra pertamaku, maaf, dia anak yang cerdas, tapi sedikit pemalu."
Sehun tertawa, mengelus surai kecoklatan Myungsoo dengan lembut. "Kau anak yang baik, jangan menundukkan pandanganmu, Park Myungsoo." Anak itu hanya mengangguk, matanya masih mengarah ke bawah. "Dia carrier?"
"Sepertinya kau langsung tahu, Senator Oh. Ya, dia carrier."
"Samdong-ku adalah seorang dominan." Dia kembali memperkenalkan anaknya. "Dimana pasanganmu?"
"Baekhyun," Chanyeol menundukkan wajahnya, tersenyum kecut. "Anak-anak, ada stan gula di dekat sini, saling menjagalah dan kalian boleh beli yang manapun kalian suka."
Dua anak kecil itu saling memandang, ragu dan aneh ketika orang tua mereka masing-masing menyerahkan uang untuk mereka habiskan. Adalah Samdong yang cepat-cepat meraih tangan Myungsoo dan berlari ke arah stan gula.
Sehun menatapnya aneh dan Chanyeol hanya menghela nafas. "Baekhyun melarangku membicarakan ini di depan Myungsoo, kurasa Luhan juga menerapkan itu padamu." Dia menyimpulkan, membuat sang senator kembali mengerutkan dahi.
"Apa ini tentang invasi yang tengah diprediksi?"
"Semakin lama, pada Jedi semakin takut untuk menampakkan diri mereka. Tak ada yang bisa mereka percaya, bahkan dia terkadang tak mempercayaiku." Chanyeol menghela nafas sedih. "Yang terutama, mereka tak mempercayai kekaisaran yang bahkan telah bersumpah melindungi mereka."
"Aku tahu itu," Jawab Sehun, "Luhan jarang keluar rumah sekarang, dia bahkan menolak untuk datang kemari sekarang." Sang senator menghembuskan nafas. "Dia bersikeras untuk Samdong yang segera dilatih, dia tak ingin anak-anak yang memiliki kemampuan Jedi dicuci otaknya dan dimasukkan ke dalam Sith."
"Baekhyun juga ingin Myungsoo mengikuti jejaknya." Dia tersenyum kecut. "Master Lee melatih mereka dengan benar, Jedi yang menjadi muridnya dulu sangat kuat dan menurun kepada anak-anak kita."
Sehun menggigit bibirnya, menatap Chanyeol yang mengawasi putranya dari jauh. "Apa aku bisa mempercayaimu, Perdana Menteri?"
"Pasanganku adalah Jedi dan putraku memiliki kekuatan yang lebih dari ibunya sendiri, jika dilihat, kita bernasib sama. Tak ada alasan untuk tidak mempercayaiku, Senator Oh."
.
Samdong melihat permen gulali itu satu persatu, penuh corak yang membuatnya pusing, namun sangat indah dan menggoda untuk dimakan. Sedangkan Myungsoo sudah memilih satu untuk dia cecap rasa manisnya.
"Park Myungsoo," Panggilnya, "Namamu Park Myungsoo, kan?" Carrier mungil itu mengangguk. "Kita baru berkenalan karena orang tua kita, aku akan memperkenalkan diriku sekarang, aku Oh Samdong."
Myungsoo melepaskan gulalinya dari mulut. "Aku tak perlu memberitahu namaku karena kau sudah tahu." Gumamnya. "Tapi kenapa kau menggunakan banmal padaku? Apa kau bahkan tahu umurku?"
"Kutebak, umur kita sama, aku lima tahun." Ucap Samdong bangga, merentangkan jarinya untuk membentuk hitungan lima. "Kau juga bisa menggunakan banmal padaku."
"Kau yang tak bisa menggunakan banmal padaku." Ucap Myungsoo, lebih berani dari sebelumnya. "Tambahkan dua pada umurmu dan itu umurku."
"Kau tujuh tahun?" Tanya Samdong tak percaya, namun yang ditanya hanya mengangguk pelan. "Aneh, aku tampak lebih tua, kau juga pendek."
Belum sempat Myungsoo membalas, Samdong telah melarikan diri dan membuat mereka berkejar-kejaran di antara hiruk pikuk orang. Sebenarnya, yang lebih tua merasa takut jika mereka tiba-tiba saling kehilangan dalam riuhnya orang-orang hingga dia terus mengejarnya.
"Dapat kau!" Jeritan bahagia Samdong dan tawa Myungsoo mendominasi udara, tepat ketika kembang api meluncur naik ke angkasa, menghiasi langit malam planet mereka dengan siraman kilau silver.
"Indah sekali." Bisik Myungsoo, menggigit kembali gulalinya, tangan mereka masih tergenggam satu sama lain. "Aku ingin datang kemari bersama Eomma tahun depan." Ucapnya, tersenyum. "Aku tahu, Eomma sangat suka kembang api, tapi dia tak pernah mau ikut kemari."
"Eommoni," Gumam Samdong, menghela nafas, "Juga tak pernah ikut. Selalu ada alasan, entah mungkin terlalu lelah atau memiliki pekerjaan lain yang tak bisa ditunda." Namun akhirnya, anak kecil itu tersenyum, menatap teman barunya. "Kau mau kemari tahun depan?" Tanyanya, "Hyung?"
"Aku tak tahu," Jawab Myungsoo, "Aku hanya ikut jika Appa mengajakku." Ujarnya, "Tapi akan kupaksa Appa untuk membawaku nanti."
"Benarkah?" Yang lebih tua tersenyum, mengulurkan jari kelingkingnya terlebih dahulu untuk dikaitkan dengan jari yang lainnya. "Kau sudah berjanji, Hyung. Jangan lupa dan kita akan bertemu lagi disini."
Sistem Planet One, enam belas tahun setelah invasi.
Guanlin menyeruput minumannya perlahan, pikirannya terbang kemana-mana, di sisinya kanannya, adalah putranya yang masih tertidur, dengan tangan sang ibu yang terus mengelusnya. Hubungan yang dirahasiakan memang sangat menyulitkan, namun ini adalah yang terbaik yang bisa mereka lakukan.
Ketika Guanlin mengetahui bahwa pasangannya itu tengah mengandung anaknya, sang senator secepatnya menyembunyikannya di kamarnya setiap hari, memberinya pakaian longgar agar tak terlihat jelas, dan menyita lightsaber-nya untuk memastikan dia tidak bertarung di masa kehamilan.
Dia khawatir, sangat khawatir, namun tentu saja, ada beberapa tangan baik yang mau membantunya selama itu. Dan Guanlin sangat bersyukur.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Jihoon, masih dengan mata yang tak lepas dari bayi yang baru dia lahirkan beberapa bulan yang lalu. "Sudah kubilang untuk tak memiliki banyak pikiran, kan?"
"Tidak," Dia tersenyum, "Aku tak memikirkan apapun."
"Kau sudah bisa berbohong sekarang."
Sang dominan tertawa kecil, menghela nafas sebelum berjalan ke arah pasangannya dan mengelus pipi lembut putra mereka yang masih dengan tenang tertidur lelap. "Tentu saja, aku sudah dua puluh dua tahun."
"Kau masih anak kecil dengan gulali bagiku." Gumamnya, matanya berat. Dengan lemah, Jihoon meraih kepalanya, mengelusnya perlahan. "Kau tak lain adalah anak kecil yang menangis sambil memelukku saat itu. Kau selamanya begitu. Jadi jangan ragu dan beritahu aku keluhanmu, karena Hyung ada disini."
Kalimat terakhir berupa bisikan itu membuat Guanlin meneguk paksa air matanya, mengelus pipi pasangannya dengan sangat lembut hingga menjatuhkan bibirnya untuk menyecap rasa manis bibir Jihoon.
"Aku minta maaf," Bisiknya. "Aku berusaha kuat untukmu, untuk Wooji, tapi aku–"
"Guanlin-ah." Tahan Jihoon, menyentuh tangannya. "Bersikap lemah sesekali juga bukan masalah." Dia menenangkan, "Kita mungkin sudah lama terpisah, dan aku bisa mengerti kenapa kau berusaha tetap tegar ketika bersamaku, tapi bukan berarti harus selalu kau yang bersikap kuat."
"Jihoon,"
"Aku," Mulainya lagi, "Laki-laki." Dia tersenyum. "Walaupun aku memiliki rahim dan telah memberimu seorang anak, aku ini laki-laki yang lebih tua darimu, aku juga telah menjadi ksatria Jedi. Aku juga bisa bersikap kuat."
"Aku tahu." Guanlin kembali mengelus pipinya, "Tapi bukan berarti aku tak khawatir." Jihoon hanya menutup matanya, tersenyum ketika prianya mendaratkan kecupan di tangannya, lalu ke pipi putra mereka yang masih terlelap. "Dia sangat imut, sepertimu."
Semburat merah menerpa pipi sang carrier, "Kau tahu aku tak suka disebut begitu."
"Akui, Hyung," Guanlin menahan tawanya, "Kau tidak tampan, kau itu imut dan cantik."
"Bukannya kau barusan menangis? Kenapa kau sudah tertawa lagi, benar-benar."
Guanlin kembali tersenyum, mengelus kepala anaknya yang samar-samar ikut menaikkan ujung bibirnya. "Aku bahagia." Jawabnya, simpel dan tepat sasaran. "Hanya itu."
Tapi tentu saja, tak ada momen bahagia yang berlangsung begitu lama. Karena beberapa menit kemudian, pemancar hologram di ruangan mereka berdecit, menimbulkan dengungan yang bahkan menyebabkan si bayi menggeliat tak nyaman.
Jihoon yang segera mengerti keadaan mengangkat tubuh putranya dan membawanya ke sebuah ruangan tertutup lain, membiarkan Guanlin sendirian dan menerima panggilan langsung dari presiden mereka.
Pasangan itu telah menerkanya, bahwa Jisung akan segera menghubunginya dan menanyakan kesepakatan dengan Sistem Planet Bulletproof, entah sang senator menerimanya atau tidak. Tak ada alasan untuk menolak, tentu saja, namun dengan alasan yang dibuat masuk akal tanpa membongkar identitas asli utusan.
"Kuharap kau melakukan hal yang benar, Guanlin-ah." Ucap Jisung pada akhirnya. "Aku tak mengatakan ini sebagai seorang presiden, melainkan sebagai kakak pada adiknya. Berhati-hatilah, perang akan segera dimulai dan kau harus memilih sekutu dengan baik."
"Itu tugasku," Jawabnya, menegakkan tubuh. "Aku takkan membiarkan apapun menimpa planet kita."
"Planet kita semua, Guanlin, banyak yang bergantung pada kita, maka dari itu, berhati-hatilah."
Matanya menggelap ketika sambungan terputus. Sistem planet mereka aslinya adalah bebatuan tandus yang bahkan tak layak disebuat sebagai sebuah planet, dan orang-orang yang hidup di dalamnya tak layak disebut sebagai makhluk yang bertahan hidup.
Namun beberapa orang Republik menyatakan bahwa akan ada sebuah federasi baru dari berbagai planet kecil yang akan merawat planet ini dengan baik, sebelas orang terpilih yang akan mengelolanya selama delapan belas bulan ke depan.
"Pergilah," Dia mengingat kalimat ibu angkatnya saat itu. Tinggal di Sistem Planet Cube saat itu sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya membuat Guanlin mengerti akan kesulitan ketika sang ibu angkat berusaha menjelaskan siapa anak yang dia asuh selama itu.
"Eomma takkan menahanmu disini. Jika dengan pergi kesana akan membawamu pada keluargamu yang sebenarnya, Eomma akan dengan sangat bahagia melepasmu."
Dia masih dapat membayangkan derai air mata dari sepasang alat optik yang mengawasinya ketika tengah merapikan barang-barangnya, ketika mengisi formulir pemberangkatan, dan ketika dia naik ke Starship yang akan membawanya serta satu kandidat lagi.
Guanlin tahu, menemukan ayah dan ibu biologisnya tak semudah masuk ke dalam Sistem Planet yang kini dia arungi politiknya, bahkan masuk ke sini jugalah sangat sulit. Namun dia juga mengerti, ini yang mereka berdua – dia dan ibu asuhnya – inginkan. Untuk Guanlin yang memiliki kehidupan yang lebih baik dan untuk ibunya yang tak terus menerus mengkhawatirkan cacian dan makian orang-orang.
Dia masih ingat hari terakhir Yoo Sonho berada di sini, sehari sebelum keberangkatannya kembali ke Sistem Planet Cube. Dua sahabat itu saling berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, dan Guanlin telah membuatnya berjanji untuk mencari ibu angkatnya, memintanya mengatakan bahwa putranya akan baik-baik saja.
Namun hologram yang dia terima justru sangat menyakitkan.
"Guanlin, ini aku, Sonho. Aku minta maaf baru bisa mengabarimu sekarang. Aku mencari ibumu selama beberapa minggu dan... Apa kau tahu jika ada wabah di desamu saat kita masih di One? Ibumu... aku meletakkan karangan bunga lili di atas makamnya. Tenang saja, makamnya selalu bersih dan rapi, jangan khawatir dan laksanakan tugasmu dengan baik disana, Lai Guanlin."
.
Sistem Planet Bulletproof, tahun yang sama.
"Ah, ini menyebalkan, kenapa aku yang harus tanda tangan keluar?" Gerutu Hoseok, meneguk minumannya. Perdana menteri itu memang tampak serius di depan teman dan kakaknya dalam ruang pertemuan, namun sekali lepas dari Edifice, dia akan menjadi kekanak-kanakan dan santai.
Seseorang melempar kaleng kosong dari atas, membuat pria itu mengerang kesal, mencari-cari pelakunya. "Hei, Jung Hoseok, aku di atas sini."
"Park Jimin?" Jimin melambaikan tangan ke arahnya, tersenyum manis dengan masih berbalut piyamanya. "Apa yang kau lakukan? Ini sudah pukul satu pagi."
"Aku juga bisa menanyakan hal yang sama."
"Apa Yoongi tak marah kalau kau masih terbangun? Lagipula apa yang kau lakukan di balkon dengan baju setipis itu, kau tak takut kena demam?" Tanyanya lagi, masih menggenggam kaleng yang tadi dilempar. "Dan apa ini?" Dia menunjuk kaleng hijau itu. "Alkohol? Park Jimin, kau mabuk? Kau ini, apa Jedi bahkan boleh mabuk?"
"Aku tidak mabuk! Tidak sama sekali." Tapi semburat merah di pipinya jelas membuat Hoseok yakin bahwa pria carrier itu baru saja meminum minuman beralkohol. "Aku tak berbohong."
"Aku tak per–" Sekelebat sosok berdesir dari balik bambu-bambu yang memagari tempat mereka tinggal itu, dan Hoseok segera memasang indranya, menelisik ke kegelapan. "Jimin, kau harus masuk sekarang, tidur dan diam di sana." Dan dengan itu, sang perdana menteri berlari pergi.
Tapi Jimin justru kembali membuka satu kaleng, meneguknya dengan cepat. "Aku belum mabuk." Ucapnya, namun sebelum dia dapat meminumnya lagi, sebuah tangan meraih kaleng itu dan meneggak habis duluan. "Yoongi-ah,"
"Aku kehilangan sesuatu di tempat tidur, ternyata kau yang tidak ada." Ucap pasangannya itu, menyangga tangannya di atas pagar, "Kau belum tidur dan mabuk sekarang, apa yang harus kulakukan padamu, Jim."
Carrier itu justru mengikik kecil, "Tapi tadi aku bertemu Hoseok, dia lalu berlari kesana." Dia menunjuk ke arah bambu-bambu gelap yang bahkan tak terlihat setitik pun cahaya. "Aku tak tahu apa yang membuatnya terburu-buru, padahal tadi kami sedang mengobrol."
"Apa yang dia kejar?"
"Tak lihat, hanya mata merah."
"Mata merah?"
"Yah, kukira itu hanya kelelawar, tapi Hoseok langsung menyuruhku masuk dan mengejarnya."
"Aku pergi dulu."
"Kau mengejarnya juga?"
"Jiminnie," Yoongi melepas tangan Jimin yang masih meremas kaosnya dan mengecup tangannya itu perlahan, kekasihnya ini adalah seorang Jedi dan Yoongi yakin, Jimin akan mengatakan untuk mengejar Hoseok, jika masih sadar. "Kau benar-benar mabuk sekarang ini, masuklah dan aku akan kembali sebentar lagi."
"Yoon,"
"Janji." Dia mendorong tubuh mungil pasangannya itu untuk masuk ke dalam kamar mereka, mengunci jeruji balkon agar Jimin tak bisa keluar sebelum akhirnya mengejar apapun yang tengah dicari sahabatnya.
.
Hoseok berlarian di tengah-tengah hutan bambu yang menjadi pembatas antara Edifice dan pusat kota. Tentu saja, tumbuhan itu hanyalah dekorasi, sebuah hologram, yang menjadi penyamar dinding besi yang mengamankan mereka.
Dia benar-benar ingin tahu siapa yang berani dan cukup pintar untuk memasuki tempat tinggal mereka itu. Penyusup itu benar-benar cepat, dengan bajunya yang serba hitam, Hoseok tak dapat melihat kemana dia pergi.
Pria itu berhenti, tersengal. Dia seharusnya membawa blaster miliknya, bukannya meninggalkannya di kamar tadi. Hoseok nyaris berjengit ketika ada pergerakan di belakangnya, dan seketika bahunya nyaris tersabet jika penyerangnya tak menyadari siapa dia.
"Min Yoongi!" Serunya, kaget. "Apa yang kau lakukan disini?"
Yoongi memutar pedang perunggunya, berubah menjadi selipan kecil yang dia simpan di saku. "Jimin memberitahuku."
"Pacarmu sedang mabuk."
"Aku tahu."
"Dan kau meninggalkannya?"
"Dia bisa menjaga dirinya sendiri." Ujarnya, "Tapi kau dengan bodohnya mengejar siapapun itu kemari tanpa senjata, jika aku tak sadar itu kau, kau sudah jadi daging giling sekarang."
"Aku tak tahu akan kemari."
Selama mereka berdebat, sekelebat kaki merangkak pergi dari balik bambu, bersembunyi dalam kegelapan yang menyelimuti malam, dengan mata merah menyala yang memancarkan sinar pada penglihatannya. Terlihat senator dan perdana menteri itu tak menyadari sama sekali orang yang menyelinap itu.
Dengan gesit, sosok berjubah itu menyusup kembali, masuk ke area Edifice.
.
Taehyung mengelus rambut anaknya yang baru saja tertidur, setelah membacakannya dongeng, gadis mungil itu akhirnya terlelap, kelelahan akibat bermain seharian. Carrier yang menunggunya di depan pintu itu tersenyum sebelum mematikan lampu, bernajak pergi dari kamar sang anak.
"Tunggu," Tahan Jungkook, berjingkat kembali masuk ke dalam kamar Bom dan mengecup kening putrinya. "Tidur nyenyak, sayang."
Taehyung tersenyum melihat itu, sudah sangat jarang sejak dia mengantar Bom untuk tidur di penghujung hari. Sangat sulit baginya untuk pulang dengan berbagai tugas yang dibebankan padanya, namun akhir pekan ini, dia bisa melihat putrinya menutup mata dan mendengkur.
"Bagaimana Sistem Planet One?" Tanya Jungkook, duduk di depan pasangannya. Dengan Bom yang menuntut untuk bermain bersama sang ayah membuat mereka berdua belum menghabiskan waktu berdua sama sekali sejak Taehyung pulang.
"Menyenangkan." Jawabnya singkat. "Ada beberapa gurun di sana sini, tapi ibu kotanya sangat indah." Ceritanya, merangkul Jungkook yang nyaris menutup matanya, namun carrier itu memintanya untuk terus bercerita. "Sepertinya Jimin sedikit salah, aku tak merasakan apapun pada Senator Lai, namun pendampingnya adalah Jedi."
"Mereka seperti Jimin dan Yoongi."
"Mungkin begitu." Ujarnya, mengingat betapa ketakutannya Jihoon ketika mendengarnya menyinggung keluarga Guanlin. "Aku ingin mengajak Bom kesana kali lain."
"Hanya Bom?"
Taehyung tertawa ketika melihat wajah mencebik pasangannya, menyentil hidungnya gemas. "Kau juga, sayang, bagaimana aku bisa pergi tanpamu."
"Gombalan macam apa itu." Decih Jungkook, membuat dominannya tertawa.
"Kau mengantuk?" Yang hanya dibalas oleh gumaman. "Biarkan aku menggendongmu." Ucapnya, berbisik di telinganya. "Jungkook-ah, ini sudah begitu lama." Taehyung mulai mengecup telinga Jungkook yang mendesis geli. "Tapi kau pasti lelah, bagaimana ini, hormonku sudah begitu lama tertahan."
"Hyung."
"Hmm?"
"Hyung, aku merasa aneh." Gumam Jungkook, merengek.
"Memang kena–" Indra Taehyung menajam, melihat wajah pasangannya yang ikut panik, nalurinya membuatnya melompat dan berlari ke kamar putri mereka.
Dua lipan besar sudah berhasil menyelusup ke dalam selimut sang anak, memainkan rambut panjangnya dan nyaris menggigit lehernya jika Taehyung tidak menebasnya dengan lightsaber-nya.
Seketika Bom terbangun, terkejut, dan hampir menangis ketika melihat sang ayah menggenggam pedangnya yang memancarkan cahaya terang dalam gelapnya kamar. "Bom-ah!" Jerit Jungkook, memeluk putrinya, nyaris ikut menangis.
Taehyung melirik dua bangkai lipan itu, setitik dua cahaya merah terpantul dari cermin, membuatnya beralih keluar. Sosok terbungkus jubah dengan mata menyala tengah mengintip dari luar, melarikan diri secepat Jedi itu melihatnya.
Pria itu menerjang keluar dari jendela, mengejar apapun yang meneror keluarganya itu. Dari balik jubahnya, Taehyung menarik keluar beberapa dart, yang hanya mengenai pundak sosok itu dan tak mempengaruhi geraknya.
Teriaknya lewat pemancar suara yang dia dekatkan ke bibir. "Sialan, ada penyusup, bantu aku, dasar Hyung-deul bodoh!"
Taehyung sudah nyaris kehilangan tenaganya, tersungkur setelah melemparkan dart terakhirnya.
.
Yoongi menodong pedang perunggunya pada leher sosok berjubah itu, matanya menatap tajam sementara Hoseok menahan dari belakang. Anehnya, penyusup itu tak meronta sama sekali, dengan mata kucingnya balik menatap Yoongi.
"Hei, kau." Sahut Hoseok, "Kami akan bertanya lagi, siapa kau, dari mana kau berasal, dan apa tujuanmu. Jika kau ingin bertemu Namjoon Hyung, kau bisa tinggal datang, kenapa kau harus datang seperti ini."
"Jung Hoseok, ini bukan waktu bercanda." Dia kembali mendorong pedangnya, "Kutanya sekali lagi, jika kau tak menjawab, kupastikan kau mati tercabik disini. Siapa kau, darimana kau berasal, dan apa tujuanmu?"
Mata kucing itu masih menatapnya, tak menjawab.
"Aku benar-benar ingin mengumpat sekarang."
"Hyung–"
"Min Yoongi! Park Jimin! Jung Hoseok! Siapapun!" Suara Taehyung terdengar dari pemancar suara di saku mereka, membuat keduanya nyaris kehilangan fokus. "Sialan, ada penyusup, bantu aku, dasar Hyung-deul bodoh!"
Dan itu membuat mata Hoseok membulat, benar-benar menarik orang yang mereka tangkap dengan keras. "Ada berapa banyak dari kalian?" Introgasinya langsung.
Namun sosok itu berdenyar, meninggalkan asap hitam yang memabukkan.
"Hologram." Gumam Yoongi.
"Hyung, kau lupa sesuatu," Ujar Hoseok, "Kau meninggalkan Jimin sendirian di kamar."
"Sial!"
.
Taehyung melempar dart terakhirnya sebelum tersungkur ke tanah, tepat ketika lightsaber ungu menyala terlontar ke arah penyusup itu, menikam tangannya dan menebasnya langsung, memutusnya.
Dari atas, terlihat Jimin yang masih cengengesan karena mabuk, mengangkat botol hijau yang berhasil dia curi beberapa. "Kau melanggar aturan, Park Jimin." Gumam Taehyung, masih tak berdaya di atas tanah.
"Bukan aku yang terjatuh dengan wajah duluan ke tanah." Taehyung mengerang kesal, mengangkat tubuhnya sendiri dari tanah, memperhatikan penyusup yang telah kehilangan satu tangannya itu. "Menurutmu apa yang dia lakukan?"
Taehyung mendekat ke arah sosok berjubah itu, merobek lengan bajunya sebelum menarik tanda di pergelangan tangannya. Sebuah pita merah tersemat di pergelangan, mencolok pada pakaiannya yang serba hitam. Jedi itu menghela nafas, "Aku harus bicara dengan Namjoon Hyung." Gumamnya.
Tepat saat itu, Yoongi dan Hoseok berlari dari arah hutan, terkejut ketika mendapati Taehyung yang berdiri di sisi penyusup itu dan Jimin yang menyeringai imut ketika melihat pasangannya dari lantai balkon.
"Kukira dia sudah melarikan diri." Ujar Hoseok, menatap sosok tak sadarkan diri yang lengannya telah putus. "Itu karenamu?" dia menunjuk tangan yang terpisah dengan badan itu.
"Bukan." Balasnya, menunjuk carrier yang masih cengengesan, menerima tatapan terkejut dari yang lebih tua. Namun Taehyung hanya beralih ke Yoongi. "Hyung, sepertinya tralis balkonmu rusak."
Dan Yoongi menatap Jimin yang tersenyum, masih dengan wajah memerah, "Kau lupa melucuti senjataku, Hyung."
"Apa menurutmu aku punya waktu untuk itu?" serunya dari bawah, berkacak pinggang pada pasangan mabuknya itu. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya ketika melihat Jedi lainnya.
Taehyung tengah memborgol penyusup itu dengan borgol yang beruntungnya dia bawa. "Dia nyaris membunuh Bom, aku takkan membiarkannya lari sebelum dia menjelaskan semuanya – Juga, Jimin!"
Jimin mengulurkan tangannya, membiarkan Force menggerakkan lightsabernya dari tangan Taehyung. "Jadi Jimin yang menangkapnya?" tanya Hoseok, masih tak mengerti. "Aku benar-benar bingung."
"Aku 'kan sudah bilang tadi."
"Kau terlalu banyak bicara." Yoongi menampik kening yang lebih muda, "Kembali ke ruanganmu, Jung. Kau juga," perintahnya pada kedua adiknya itu. "Mereka akan mengambil alih sekarang."
Lima droid datang serempak, menggiring tahanan baru mereka dengan bantalan energi yang mengangkat jasad tak berdaya itu. Lima robot bersenjata itu berderap pergi, meninggalkan empat orang yang masih berada disana.
"Kau bilang dia menyerang Bom, kau harus menemuinya dulu." Ujar Yoongi lagi, menepuk pundaknya sebelum melompat naik ke atas balkonnya, menggendong paksa Jimin yang masih separuh mabuk. "Kau juga istirahat, Hoseok, kau harus ke Sistem Planet One besok."
"Jangan ingatkan aku." Gumamnya kesal, "Aku pergi dulu."
.
Jungkook masih memeluk Bom yang sesenggukan, tubuh mungil gadis itu masih gemetaran sejak tadi. Separuh karena merinding melihat bangkai lipan raksasa yang nyaris meracuninya dan separuh karena membayangkan betapa mengerikannya wajah sang ayah ketika menebas makhluk itu.
Sang ibu juga nyaris menangis sejak tadi, dia tak bisa mengikuti Taehyung yang keluar untuk mengejar siapapun yang menyusupkan anakan Magnascholo itu, dia punya anak untuk ditenangkan sementara pasangannya yang pergi.
"Jungkook-ah, Bom-ah!" Seokjin mendobrak pintu, masih dengan piyamanya dan rambut yang berantakan. "Aku mendengar ribut-ribut di luar dan – astaga, itu!" Yang lebih muda mengangguk, karena makhluk yang menyerang anaknya termasuk sesuatu yang langka, tentu saja Seokjin ikut terkejut. "Bom-ah, kau benar-benar tak tergigit kan?"
Bom menggelengkan kepalanya, masih memeluk Jungkook dengan mata yang sembab. Carrier yang lebih tua itu menghela nafas. "Akan lebih berbahaya jika dia sampai terluka, tak ada yang tahu penawar racun mereka."
"Siapa yang melakukan ini? kita punya hubungan yang baik dengan berbagai Sistem Planet, jarang ada yang berseteru dengan kita. Dan siapa yang dengan bodohnya menyerang Edifice?" Rutuknya, "Dan menyerang anak kecil!"
"Jungkook, tenangkan dirimu."
"Aku benar-benar akan membunuhnya."
"Jungkook."
Seketika pintu terbuka, menampakkan Taehyung yang masih terengah karena berlari tadi, dia mengeluarkan dua kapsul bening dan memasukkan anakan Magnascholo ke dalamnya sebelum menyimpannya kembali di balik jubahnya.
"Mau kau apakan itu?" tanya pasangannya, masih mengelus kepala anaknya yang sudah semakin tenang.
"Hyung, apa Namjoon Hyung sibuk besok?" Seokjin hanya menggeleng. "Aku akan bicara padanya soal ini, dan meminta izin untuk pergi sebentar."
"Kenapa kau meminta izin pada Namjoon Hyung?"
"Kook."
"Apa?" tantangnya, "Anakmu sesenggukan disini dan kau mau kemana lagi?"
"Aku harus tahu darimana ini berada, aku akan membawanya dan mencari tahu siapa yang berusaha menyakiti Bom." Dia mencoba tersenyum pada anaknya yang hanya mengerjap lucu, mencoba mendinginkan suasana.
Hingga akhirnya Jungkook menyesuaikan bantal agar putrinya dapat tidur dengan tenang sebelum berdiri keluar, setelah Seokjin yang segera kembali ke kamarnya, mengetahui keadaan sudah sedikit baik-baik saja.
"Kook," panggil Taehyung, "Jangan marah, kumohon. Ini tentang Bom, Kook-ah."
"Aku tak marah." Belanya, menutup telinga. "Aku hanya tak mengerti, jika dia mengincar Bom, dia sudah tahu secara spesifik bahwa ada anak kecil yang tinggal di Edifice, dia juga tahu letak kamar Bom dengan tepat." Deskripsinya. "Apa itu tak aneh?"
Wajahnya berkerut, ikut duduk di dekat pasangannya yang masih memasang raut khawatir. "Ada begitu banyak cara untuk menavigasi suatu tempat ketika kau sudah berada di arenanya. Itu bukan sesuatu yang aneh." Taehyung menggelengkan kepala. "Tapi sepertinya kau benar soal dia tahu tentang Bom."
"Kau benar-benar harus bicara dengan Namjoon Hyung besok."
"Kau juga benar-benar harus istirahat sekarang."
"Aku ingin tidur dengan Bom, aku merasa tak tenang."
Taehyung mengangguk, mengelus surai Jungkook ketika pria itu menyandarkan kepala ke bahunya, mengecup pelan kepalanya. "Aku akan tidur di kamar kalau begitu."
.
Taehyung berdiri di tengah-tengah ruang pertemuan, menunggu Namjoon yang masih mengetuk-ngetuk jarinya, berpikir. Sementara di belakangnya, Seokjin dengan penuh rasa gatal ingin segera menampik pimpinannya dan memberi izin.
Tapi bukan begitu cara kerja mereka.
"Kau memintaku memberimu izin untuk menyelidiki siapa yang mencoba menyakiti putrimu dan mengabaikan perintah yang sebelumnya diamanatkan padamu?" dan Seokjin semakin ingin menampiknya.
"Ini juga tak hanya tentang Kim Bom, ini tentang kita semua. Penyusup itu, sebelum dia melarikan diri, pasti melihatku mengeluarkan lightsaber tadi. di akhir pengejaran dia juga berpas-pasan dengan Jimin." Ceritanya.
"Dan artinya?"
"Ini akan berdampak buruk jika sampai terjadi kebocoran berita tentang sistem planet kita, Pimpinan. Tujuan saya untuk pergi tak hanya untuk mengetahui siapa yang mencoba melukai putri saya, melainkan juga untuk mencoba membungkam siapapun yang menjadi dalang."
Jungkook, yang duduk di sana juga, mengangguk penuh harap pada pasangannya, mencoba tersenyum kecil tepat ketika Taehyung menatap ke arahnya.
Tentu saja, Republik mungkin takkan mempermasalahkan adanya ksatria Jedi maupun anak kecil yang lahir antara seorang carrier dan dominan, namun Federasi Merah takkan membiarkan itu terjadi, apalagi jika yang terkena skandal adalah sistem planet mereka, yang notabene terkuat kedua setelah Sistem Planet EXO.
Jika rahasia itu terkuak, pihak federasi akan mengeluarkan banyak sekali alasan-alasan dan tuduhan palsu untuk mengirimkan Deathstar ke jangkauan sistem planet mereka, apapun itu untuk menghancurkan kehidupan Bulletproof.
"Kalau begitu," Namjoon memajukan duduknya, "Dengan catatan kau tak hanya berfokus pada keluargamu, aku mengizinkanmu untuk pergi pada sementara waktu. Dan kau harus kembali dalam dua minggu, tak lebih, tak kurang."
Taehyung membungkuk sopan, berterima kasih sebelum beranjak pergi, sama sekali tak melihat Bom yang bersembunyi di balik pilar tempat mereka semua berkumpul. Yah, tak ada yang menyadari kehadiran anak semungil itu sebenarnya.
.
"Appa," Taehyung melirik ke arah kanannya, dimana Bom menunduk, menggenggam Tata di tangannya, sementara sang ayah tengah menyiapkan barang-barangnya. "Appa pergi karena Bom?" putrinya mengerjap lucu. "Aku dan Eomma kesepian disini."
"Bom-ah," dia mengangkat tubuh gadis itu, memangkunya, "Appa akan pergi untuk menangkap orang jahat yang berani menakuti Bom tadi malam." Janji Taehyung, "Itu takkan lama."
"Tapi Eomma bilang tadi malam itu tak nyata, itu mimpi buruk."
"Itu mimpi buruk," ulangnya, "Orang jahat itu masuk dan mendatangi mimpi Bom, sekarang Appa akan pergi untuk mencari tahu siapa mereka dan menghajarnya."
"Tapi Paman Park bilang menghajar orang itu tak baik."
Taehyung tertawa, mengelus kepala anaknya lagi. "Jika orang itu jahat, Bom harus memukulnya hingga berdarah-darah, jika tidak, dia akan berbuat kerusakan lagi."
Gadis mungil itu menyeringai manis, mengangguk, tepat ketika sepasang tangan menutup alat pendengarannya. Dan Taehyung menatap Jungkook yang membelalakkan matanya. Sang dominan langsung mengerti tentang apa yang dia katakan pada putri mereka dan hanya tertawa pelan.
"Jungkook-ah."
"Bom, Paman Jin dan Paman Nam sedang ada di air mancur, kau mau ikut bermain dengan mereka?" senyum putrinya langsung merekah dan mengangguk, berlari ke arah tempat yang diberitahu ibunya.
"Jungkook-ah,"
"Jangan jungkook-ah aku." Potong pasangannya, tegas. "Kau benar-benar, aku susah payah membuatnya tak memukuli orang dan kau bilang apa tadi? Jika ada orang jahat, langsung pukuli? Sampai apa? Sampai berdarah-darah?" Yang dimarahi hanya menggaruk kepalanya. "Kim Taehyung!"
Jedi itu hanya mengecup bibirnya dengan cepat dan meloncat ke arah kokpit, menyeringai pada pasangannya yang masih mencebik. "Bom takkan serius menanggapinya, Kook-ah, tenang saja."
"Aku benar-benar bisa mengambil lightsaber-mu dan menghajarmu juga."
"Apa aku orang jahat?"
"Hyung!" Jedi itu hanya tertawa dan tersenyum, melambaikan tangan sebelum menutup jendela dan lepas landas, membawa Starship-nya pergi dari sistem planet mereka sekali lagi. "Kembali dengan selamat." Bisik Jungkook, menghela nafas sambil menutup matanya.
There you go!
Ini sedikit aneh karena tak ada cliffhanger, tapi yah... inspirasi.
Bagaimana?
Tinggalkan review, yeorobeun, aku benar-benar desperate.
ㅠㅠ
Wae kalian kejam, sider semua.
Aku tahu, pengetahuan star warsku jelek dan ini crossover multifandom pertamaku, tapi...
Hiks.
Anyway, aku minta maaf jika ada typo dan grammar yang salah.
Until next time,
Yoon Soo Ji, Out!
