The Liar

.

Cast: EXO (KRISTAO) and other

.

WARNING!

YAOI, BOYS LOVE! (Karena saya adalah seorang Fujoshi :v)

.

.

Sir Winston Churchill Secondary School, sebuah sekolah yang terletak di Vancouver, British Columbia ini merupakan salah satu sekolah tingkat SMA yang populer di Kanada. Sekolah bermaskot anjing Bulldog ini bisa menerima pelajar dari negara lain. Sekolah ini memiliki fasilitas yang lengkap bagi siswa dan siswinya, dan kegiatan ekstrakulikuler sekolah yang harus wajib di pilih oleh masing-masing pelajar.

Dan dari beberapa kegiatan sekolah yang ada, seorang pelajar tampan blasteran Cina-Kanada itu memilih kegiatan olahraga basket. Dia senang sekali bermain basket. Bahkan dia menjadi kapten di timnya. Maka tak heran kalau dia adalah salah satu siswa populer di sekolahnya. Tapi, sebentar lagi dia akan melepaskan gelarnya sebagai kapten basket di sekolahnya. Karena dia akan melanjutkan pendidikan ke universitas dan menjadi mahasiswa.

"Hey Kris, where are you going to college?" Tanya seorang pria bertubuh tinggi berambut pirang bermata biru yang kini tengah merangkul bahu Kris, sembari berjalan menuju kelas mereka.

"Hmm… I don't know. I'm still confused."

"How to continue your studies in Canada?" Tanya pria itu lagi.

"I really want it, because I feel very comfortable staying here." Ya, Kris sudah nyaman di sini, dia bahagia tinggal di sini, karena semua temannya baik dan solid dengannya. Lagipula alasan Kris tinggal di Kanada karena dia tidak ingin berjumpa dengan 'orang' itu lagi.

.

.

"Aku ingin melanjutkan kuliah ku di sini ma!."

"Bukankah sebulan yang lalu mama sudah bilang padamu untuk melanjutkan kuliah mu di sini dan tinggal bersama mama!."

"Tapi kan aku sudah bilang kalau aku tidak mau!"

" Jangan bertingkah seperti anak kecil Kris! Ini demi masa depanmu!"

"Tahu apa mama tentang masa depanku?!"

"Ya! Kau sudah berani menentang mama mu?! Pokoknya kau harus tetap melanjutkan pendidikan mu di sini! Kau harus belajar berbisnis di sini!"

"Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan bisnis papa. Aku ingin masuk NBA!"

"Lalu, kau pikir dengan hanya memantulkan bola itu bisa menghasilkan uang yang banyak?! Apa itu bisa menjamin masa depanmu ha?!"

"Kenapa mama berpikir begitu! Mama tidak tahu apa-apa!"

"Kau yang tidak tahu apa-apa! Bagaimana pun juga kau harus ke Seoul! Urus perusahaan papa mu! Dan tidak ada kata penolakan!"

"Ya Mama!-"

'Tuut tuut tuut'

"HAIISSH! KENAPA DI MATIKAN!" Teriak Kris di depan ponsel pintarnya. Saat ini Kris berada di apartemen yang tidak jauh dari sekolahnya. Kris yang meminta sendiri untuk tinggal di sini dan meninggalkan kedua orang tuanya yang berada di Cina. Awalnya permintaan ini di tentang keras oleh ibunya, tetapi di dukung penuh oleh ayahnya. Dan alasan ayah Kris untuk membiarkan anaknya menempuh pendidikan di negeri orang adalah "Namanya juga anak laki-laki,biarkan lah dia mencari jati dirinya." Tapi, tidak untuk ibu Kris. Bagaimanapun juga Kris adalah pewaris perusahaan, dia harus belajar bagaimana cara mengurus perusahaan besar keluarganya.

Tetapi, Kris adalah anak yang keras kepala. Dia sama sekali tidak mau menuruti perintah ibunya. Secara diam-diam dia mengemasi barang seperlunya dan pergi secepatnya ke bandara menuju British Columbia, Kanada. Untungnya dia memiliki uang yang banyak di tabungannya. Setelah tiga hari di Kanada, dia mendapatkan telepon dari ibunya yang sangat marah kepadanya. Tetapi dia tidak peduli dan mengabaikan permintaan ibunya untuk segera kembali ke Cina.

Setelah beberapa lama Kris tinggal di Kanada, dia sadar bahwa seharusnya dia tidak hanya bersekolah dan bermain basket saja, dia harus bisa mencari uang sendiri. Walaupun sebenarnya setiap bulannya dia selalu di kirimkan uang oleh ayahnya yang baik hati. Tetapi Kris selalu menolak uang tersebut, dan ayahnya memohon kepada Kris untuk menerima uang itu jika ada keperluan mendadak. Tapi, tidak ada seperser pun uang yang digunakannya. Dia telah menemukan pekerjaan yang di sukainya dengan bayaran yang mahal. Yaitu, jadi pelatih basket di klub basket yang terkenal di sana.

Karena ketampanan yang di milikinya, tak jarang beberapa perempuan di sana mengaku tertarik dengannya. Siapa yang tidak tergiur dengan pria tampan ini? Berwajah rupawan dengan kulit berwarna kulit pucat, bermata tajam, hidung mancung, bibir merah tebal dan bertubuh jangkung dengan otot yang tidak terlalu besar.

Bahkan ada beberapa gadis pelajar yang menyatakan perasaan mereka kepada Kris. Dan Kris menolaknya dengan lembut, alasannya karena dia tidak tertarik untuk mejalin hubungan dengan siapapun. Dia lebih senang hidup sendiri tanpa ada pendamping, dia merasa lebih bebas.

.

Saat ini Kris berada klub basket. Kris duduk beristirahat sambil meminum air mineralnya. Keadaan klub basket sudah mula sepi, karena jam latihannya telah usai. Dan Kris segera mengambil tas punggunya dan mulai berjalan keluar dari klub yang megah itu.

"Hi Kris." Seorang perempuan menghentikan langkahnya.

"Oh hi Nicole. Why did you not go home?"

"Hmmm…" Perempuan cantik berambut cokelat itu tertunduk malu sambil membawa sesuatu di tangannya.

"I made some cupcakes for you, I hope you like it." Dengan senang hati Kris menerima bingkisan itu. Perempuan cantik itu sudah bersusah payah membuat kan beberapa cupcake untuknya, dan Kris tidak akan menolaknya, dia tidak ingin membuat perempuan itu sedih.

"Thank you Nicole." Perempuan itu tersenyum bahagia setelah Kris mengucapkan terimakasih kepadanya. Dengan wajah yang merona perempuan itu berlari menuju pintu keluar, dia tidak ingin Kris melihat wajahnya yang memerah. Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Nicole lari terbirit-birit untuk menjauhinya. Dan Kris pun ikut keluar dari klub basket itu dan segera menuju bis yang akan membawa nya ke apartemen kecil miliknya.

.

-Kris's Apartment-

Kris sudah berdiri di depan pintu apartemennya dan dia pun memasukkan enam digit angka untuk membuka pintu apartemennya. Setelah berhasil membuka pintu apartemen, Kris langsung mengendus bau yang hampir menyeruak ke seluruh apartemen kecil Kris. Dan bau itu membuat perut Kris berbunyi cukup keras.

"Eh, sepertinya ada yang membuka pintu."

"Benarkah? Aku tidak mendengarnya."

"Haish! Cepatlah lihat aku sedang memasak!"

"Ha! Oke, oke." Sepertinya Kris merasa tidak asing dengan suara yang saling berbisik itu.

"Kris!" Teriak seorang pemuda saat melihat Kris yang tengah berdiri di depan pintu. Dan dengan tiba-tiba, pemuda itu berlari dan memeluk erat Kris.

"Oh My Brother! I miss you!"

"H-hei Henry! S-stop! I can't Breatheeee…!" Pemuda bernama Henry itu terlalu gembira dan memeluk Kris terlalu erat hingga Kris sulit bernapas.

"Ah! I'm sorry Kris! Aku terlalu senang!" Henry langsung melepaskan pelukannya, dan dia hanya cengar-cengir saat melihat Kris yang sedang meraup oksigen. Sudah satu bulan lamanya mereka tidak berjumpa. Henry adalah salah satu keluarga Kris yang tinggal di Kanada, dialah yang membantu Kris untuk tinggal dan sekolah di sini. Tetapi karena tempat tinggal mereka sangat jauh, membuat mereka jarang bertemu. Oh iya, jika kalian bertanya kenapa dia tahu password apartemen Kris, itu karena Kris tidak pernah menyembunyikan apapun dari Henry, Henry adalah saudaranya yang paling baik dengannya. Jadi, Kris mempersilahkan Henry untuk datang ke apartemennya kapan saja dia mau. Kris langsung mempersilahkan Henry untuk duduk di ruang tamu.

"Kapan kau datang kemari?" Tanya Kris.

"Baru saja. Waktu di bandara aku langsung ke rumahmu."

"Ooo…" Kris mengangguk paham.

"Oh iya! Kau belum makan kan? Mari kita makan bersama! Tadi aku dan temanku membuat spaghetti kesukaanmu! Ayo!" Henry langsung menarik tangan Kris untuk duduk di ruang makan.

"Spaghetti nya sudah siap?" Tanya Henry pada seseorang yang tengah berada di dapur.

"Ya sudah siap!"

DEG!

.

"Kris?"

"Amber?"

.

.

"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" Henry sudah memakan habis spaghetti di piringnya.

"Ya, begitulah."

"Amber, kenapa kau tidak memberitahu ku kalau kau sudah kenal dengan Kris?"

"Hehehe Aku tidak tahu kalau Kris yang kau maksud itu adalah… Wu Yi Fan." Ujar perempuan berparas tampan(?) itu tertawa canggung di hadapan Kris.

"Aku sudah selesai, terimakasih atas makanannya Amber." Kris berdiri dan mengambil piringnya untuk ditaruhnya di tempat pencucian piring.

"Ya! Harusnya kau juga berterimakasih kepadaku! Aku juga ikut bantu masak tadi!" Kesal Henry yang hanya dibalas cuek oleh Kris.

Setelah selesai makan malam, mereka bertiga duduk di ruang tengah sambil menonton TV yang sedang menayangkan acara perlombaan basket, tontonan favorit mereka bertiga. Mereka sangat antusias menyaksikan pertandingan bergengsi itu. Setelah beberapa jam di depan TV,acara pertandingan basket itu belum juga selesai. Sampai salah satu dari mereka ada yang tidak sanggup untuk melihat pertandingan itu sampai akhir, dikarenakan dia sangat lelah dan ingin segera tertidur.

"Hoam… Kris, Amber aku mau tidur dulu aku sudah ngantuk. Oh iya, nanti beritahu aku siapa yang menang di pertandingan." Henry langsung pergi menuju kamar Kris dan tidur di kasur king size nya. Meninggalkan dua orang yang masih berada di ruang tengah. Cukup lama mereka saling diam dan hanya suara di TV yang terdengar. Dan keadaan semakin canggung setelah pertandingan basket itu usai. Dan acara di TV berubah menjadi acara promosi iklan.

"Hehehe, pertandingan yang hebat bukan?" Amber mulai sedikit memecahkan keheningan diantara mereka.

"Iya, mereka hebat." Jawab Kris canggung.

"Sudah lama ya, kita tidak berjumpa. Sudah berapa tahun ya?"

"Hmm, sekitar tiga tahun lebih ku rasa."

"…Oh iya, bagaimana sekolahmu?" Tanya Amber.

"Baik, semuanya baik-baik saja. Bagaimana dengan sekolahmu?

"Aku juga baik-baik saja." Setelah pembicaraan tersebut mereka terdiam sejenak. Amber yang sedari tadi terlihat gelisah di tempat duduk nya, seperti ingin mengatakan sesuatu.

"Ehm… Kris?"

"Ya?"

"A-aku tidak tahu apa kau perduli atau tidak. Tapi aku ingin sekali membicarakannya."

"Membicarakan apa?"

.

"Tentang Tao."

DEG!

Nama itu lagi.

"Maksudmu?" Sebenarnya Kris masih tak ingin mendengar nama itu di telinga nya, tetapi dia tidak enak jika menolak soal pembahasan Amber.

"Ya… Aku tau kok kamu masih merasa kecewa dan marah dengannya. Tapi, bagaimana pun juga dia pernah menjadi sahabat mu kan?"

Ya, Amber benar.

"Lalu, ada apa dengannya?"

"… Dia berubah…"

"Memang sudah seperti itu kan sejak lama?" Lirih Kris.

"Tidak! Ini bahkan lebih parah yang pernah kau duga. Dia seperti bukan… Tao lagi." Mata Amber telah berkaca-kaca.

"Kenapa dengannya?"

"… Dia…"

.

.

.

TOBECONTINUE…..

.

..

Fanfic ini benar-benar murni dari otakku. Yaa kalau ada kesamaan cerita, itu adlaah kesalahan yang tidak di sengaja #ceileh~

Udah ah gak tau mo ngomong apa lagi, jangan lupa tinggalkan review kalian ya. Awas kalo gak ngasih saran atau kritik buat aku nanti lo pada di wushu sama bebeb Tao gua :v

Plis Review Miauw~'~'~