songbirds and rattlesnake – two, baloney (the ripper/geisha.)
disclaimer: identity v (c) netease.
warning: ooc. onesided love.
sinopsis: kala mata mereka bertemu, michiko melihat kepelikan istimewa pada binar matanya, namun jack tak memandang apapun.
note: hc time: vio kalo ngomong broken english, yidhra tukang gosip nomor satu seantero oletus (mungkin shitposter juga dari senyum bajingannya (apa yang orang luar sebut dengan 'shit eating grin'))
note2: sebenernya ada bagian dimana michiko sama burke ngomongin ttg jack, tapi gue cut soalnya gw gabisa terjemahin "getting absolutely shitfaced" (dan beberapa kalimat indah lainnya) ke bindo tanpa menghilangkan implikasi jenakanya. uhh ya uwu
.
.
Wajah jelitanya memiliki keanggunan wanita dewasa yang mampu mencuri perhatian semua mata yang memandang, namun hatinya masihlah seperti anak-anak yang bermain di lapangan bunga hari itu, mengejar kupu-kupu, bukan mimpi akan masa depan yang terjamin.
Ia menyembunyikan wajahnya di balik tessen miliknya ketika ia melihat Jack, yang sedang duduk di sebelah Joseph. Keduanya menikmati suasana taman dengan secangkir teh yang asap hangatnya masih mengepul. Wajahnya memanas ketika ia mendapati tatapan Jack mengerling ke arahnya, dan ia, sebagai respon spontan atas natur pemalunya, melangkah mundur, dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di belakang pohon, wajahnya nyaris-bercumbu dengan batangnya. Ia tak menguntit kedua pria tersebut selama beberapa detik, terlalu sibuk mengatur napasnya.
Saat ia kembali memiliki keberanian untuk kembali mengamati Jack, ia dihadapkan dengan senyuman pria itu. Ia terkesiap, nyaris kehilangan pijakannya kalau bukan karena seseorang menangkap jatuhnya. Ia melirik ke belakangnya, satu mata, dua orang berkedip ke arahnya. Satu gadis turun dari bahu temannya, dan keduanya memandang Michiko.
Tatapan mereka kosong, dan seolah menghakimi—namun gadis-gadis itu tak mengatakan apapun.
Hingga—"Bukankah melelahkan, seperti ini terus?"
Salah satu gadis itu berkata, disambung dengan gadis lain yang memiringkan kepalanya, nampak bingung, namun tetap mengatakan, "Michiko, sayang, honey, katakanlah padanya."
Ia menghela napas panjang, membuka kipasnya dan menyembunyikan wajahnya di baliknya. "Mengucapkan lebih mudah daripada melakukan."
Gadis yang pertama kali membuka mulutnya melirik temannya, ada tanda tanya besar pada wajahnya kala mulutnya melantunkan, "Kau hanya perlu berjalan ke sana, dan bilang tiga kata kramat itu padanya. Hm... tunggu, tiga?" tiap jarinya terangkat ketika ia mulai bilang, "A-i-shi-te-ma-su-yo—!"
"—hentikan itu Yidhra!" Michiko menebas udara di sebelahnya, berharap pukulan kipasnya mengenai Yidhra. Ia mendengar kikik jahil menyapa telinganya. Tangannya disilangkan di depan dadanya, dan ia membuang pandangannya—ia dapat merasakan deru napas Yidhra menyapu lehernya, membuat bulu kuduknya berdiri kala dirinya menyadari tak ada siapapun di belakangnya.
Dilanjutkan dengan desis ular yang selamanya familiar di telinga pemburu maupun terburu, adalah kata dari Pengikut-nya. "Katakan padanya, Mi-chi-ko." Lalu yang satunya melanjutkan, "Atau aku yang akan bilang pa-da-nya." Dengan nada bicara main-main, yang tak menjemukan seperti biasanya.
"Lagi; mudah bagimu untuk menyuruhku. Melakukannya memiliki tantangan sendiri."
"Yang kudapat dari observasi selama ini, tantangan yang ada dalam skenario kau, menyatakan cintamu padanya, hanyalah dirimu sendiri."
Gadis yang tak membuka mulutnya memiliki binar oh-aku-paham-sekarang pada satu matanya. Temannya yang lain melirik dan menyikut pelan, menginginkan pencerahan bagi pikirannya yang tidak begitu cemerlang, yang tak kunjung dapat menarik garis-garisnya.
"Pergi dan katakan padanya, apapun, sesuatu, Michiko." Ada implikasi permohonan dalam tiap kata yang dirangkai, namun Michiko kesulitan berempati dengan Yidhra.
Michiko melirik Jack lagi, yang masih berbincang dengan Joseph tentang apa-hanya-tuhan-yang-tahu.
"Aku butuh minum." Katanya, akhirnya. Sesuatu yang kuat untuk melupakan percakapan ini.
.
.
Michiko berjalan linglung menuju apa yang ia ingat sebagai kamarnya. Ketika Burke menuangkan alkohol-entah-apa-namanya pada gelas di tangannya, ia tidak mengira ia akan menghabiskan nyaris setengah malamnya bersama pak tua itu (dan Violetta yang menjahit di ujung ruangan), menuangkan apa yang ada pada kepalanya ke atas kertas putih tempat Burke melukiskan ide-idenya tentang terobosan untuk masa depan.
Itu, dan juga isi hatinya.
Ia terlalu mabuk untuk berjalan pulang kembali ke kamarnya—Michiko bahkan mempertanyakan dirinya sendiri; apakah ini jalan yang biasa kulalui? Pak Tua Burke tadi menawarinya untuk mengantarkannya pulang kembali ke kamarnya, namun ia menolak—ia beralasan, selama ia masih bisa berjalan dengan kedua kakinya, ia akan baik-baik saja, menemukan jalan pulangnya sendiri.
("Michiko nak, jangan bandel; kalau kau tidak mau denganku, Violetta bisa mengantarkanmu kembali." Yang dilanjutkan dengan raungan Violetta: "Vio tidak mau lihat... terjadi apa-apa yang buruk pada Nona Michiko.")
Ia menelusuri lorong panjang, dan tiba pada taman belakang Oletus. Mendengar desis angin malam yang memetik instrumen alam berupa dedaunan di atas pohon, dan rerumputan bertepuk tangan mendengarnya, semuanya riang sekalian. Michiko tidak ingat kalau ia melewati taman untuk tiba pada kamarnya.
Namun di taman itu, yang keseluruhannya digenangi oleh cahaya rembulan yang cerah menerobos melalui celah-celah dedaunan, ia melihat figur tinggi seorang pria—yang membuat matanya berbinar, membulat kegirangan. Alkohol yang ia minum sesaat terasa tak mempengaruhi kemampuan kognitifnya—walau langkah kakinya dan tubuhnya yang memberontak perintah dari otaknya adalah bukti jelas dari kelumpuhan pikiran karena alkohol yang ia konsumsi.
Ia memanggil Jack, bebas tanpa adanya kekangan perasaan malu yang memenjarakannya ketika ia tidak-mabuk dan sepenuhnya memegang kendali atas aksinya.
Jack menoleh sesaat padanya, matanya, dan bibirnya tersenyum. "Selamat malam, Nona Michiko." Katanya. Ia meletakkan tangannya di belakang tubuhnya, kepalanya mendongak ke atas langit untuk melihat rembulan yang nampak lebih besar dari jauh di sini. "Bulannya indah malam ini, bukankah begitu?" [1]
Dirasakannya wajahnya memanas—dan itu bukan karena alkohol, atau pengaruh apapun. Tatapan Jack yang sepenuhnya terpaku padanya membuatnya sadar diri, namun ia tetap tersenyum, tidak menujukkan sedikitpun watak pemalunya—ia menyalahkan apa yang Burke berikan padanya, ketika tangannya pelan-pelan meraih Jack.
Ketika kulit mereka bersentuhan dengan satu sama lain, dan Michiko tak merasakan adanya penolakan dari Jack, ia menggenggam tangan Jack dengan miliknya.
Namun pria itu membiarkan tangannya lemas dalam genggaman Michiko, yang sepenuhnya tak merasakan penolakannya.
"Ingin duduk?"
Michiko memandang Jack, ia mengangguk, dengan senyuman konyol yang terkembang pada wajahnya, dan kupu-kupu yang menari pada dadanya. Jack menuntun mereka ke kursi taman, lalu duduk, Michiko di sebelahnya, tangan mereka masih terjalin satu-sama-lain. Mereka menatap bulan, mengamati keindahan yang dibalut enigma yang tak seharusnya mereka pahami.
Ketika keindahan rembulan tak memikatnya layaknya Jack, Michiko memejamkan matanya.
"Aku... mau menemanimu... lagi... di sini, Jack." [2] Ia bilang, pada Jack, kesadarannya mulai berlayar. "Bulannya... indah..."
Jack melepaskan genggaman Michiko, tangannya yang bebas mendorong kepala wanita itu untuk bersandar pada bahunya. Deru napas teratur wanita itu membuat Jack bersenandung pelan pada dirinya sendiri, tak ingin mengganggu.
Jack masih terbangun hingga larut malam lewat, ketika mata wanita itu masih terpejam dan kata, "Aku mencintaimu..." lirih keluar dari bibir ranumnya.
Ia mengedipkan matanya, pria itu. Mengigau?
Manis sekali.
Ia tertawa, pelan dan rendah.
.
.
[end.]
[1]: referensiin apa yang natsume souseki bilang tentang pengakuan cinta. dulu dia nerjemahin 月が綺麗ですね (tsuki ga kirei desune/isn't the moon beautiful?) sebagai "i love you"; jepang jaman dulu lebih mengapresiasi keindahan yang subtil—between the lines—ketimbang yang gamblang (cmiiw gw gbs ngejelasinnya google aja oke)
[2]: respon michiko kurang-lebih bermaksud "i love you too"—semacam balesan atas apa yang jack bilang. [3]
[3]: walau bagi jack apa yang dia katakan gak bermakna apa-apa, tapi bagi michiko itu terlihat/terdengar seperti pengakuan cinta.
note: makasih telah membaca gengs wo ai ni muah (gw gatau kalo kanji jepangnya bisa kepost apa ngga makanya gw tulisin romaji/inggrisnya sekalian)
tadinya gw mau bikin michiko/white tapi pas gw main 2v8 beberapa hari lalu gue ketemu friendly mamichiko sama ripapa jadi yha
(uas membunuhku rip)
—Jakarta, 11:26 AM, 8 Juli 2019.
