Minna, akhirnya bisa juga publish! Gara-gara wifinya lemot jadi susah buat updet sekarang.. Gomenasai.. Yap, ini chap terakhir dari fic Window. Happy read… ~_~
Disclaimer: Belong`s to om Masashi Kishimoto
Attention: rada-rada OOC, typo..
Pairing: SaiHina
Window
Pagi hari, di Konoha High School, tepatnya di kelas XII-C. Sai sedang duduk di bangkunya sambil melukis, namun fikirannya di tempat lain.
Selama ini aku berfikir bahwa semua gadis itu sama saja. Namun, persepsi itu tidak berlaku bagi Hinata. Dia tidak banyak bicara. Malah lebih terkesan pendiam. Sampai sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di fikirannya. Dan yang paling membuatku tertarik adalah dia suka menatap keluar jendela. Begitu sederhana tetapi cukup membuatku untuk selalu memperhatikannya.
Kuakui aku bukan orang yang melankolis ataupun orang yang romantis. Tetapi begitu melihatnya aku malah ingin membuat sesuatu yang romantis. Aku ingin memberikan bunga padanya, seperti yang dilakukan Naruto pada Sakura. Walau ujung-ujungnya Naruto harus adu mulut dengan Sasuke.
Tapi, jika aku melakukan hal seperti itu akan sama anehnya jika Shikamaru menari dansa di kelas. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Lagi pula kami hanya pernah berbicara ketika disuruh mengerjakan tugas bersama-sama di perpustakaan. Semenjak itu kami jarang sekali berbicara.
"Sai-kun,"
Gawat, karena memikirkan Hinata aku malah mendengar suaranya yang sedang memanggilku.
"Sai-kun,"
Aku mendengarnya lagi. Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa nanti aku jadi gila jika seperti ini terus. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Lebih baik jika aku meneruskan sketsa milikku.
Seseorang menepuk pundakku. Aku langsung menoleh kebelakang dan mendapati seorang Hinata. Aku pasti mengalami halusinasi. Inilah akibatnya jika menyukai seseorang dan terus dipendam. Kita akan mendengar suara dan berhalusinasi. Pada tingkat yang gawat, kita tidak bisa lagi membedakan yang mana halusinasi dan kenyataan. Kira-kira seperti itulah yang aku baca dibuku. Aku tak menyangka bahwa aku akan mengalami hal seperti ini.
"Sai-kun, apa kau sedang sakit?"
Halusinasi. Ini pasti halusinasi yang sudah mencapai tingkat paling gawat.
Plak!
Seseorang memukulku. Shikamaru. Teman sebangkuku. Wajahnya tampak kesal, seperti ada yang mengganggu tidurnya.
"Kenapa kau memukulku?" tanyaku.
"Dari tadi Hinata sudah memanggilmu. Kenapa kau tidak menjawabnya? Apa kau terkena penyakit tuli mendadak?" tanyanya kesal.
Aku terdiam sebentar. Jadi dari tadi itu bukan halusinasi? Berarti yang memanggilku Hinata asli?
Aku begitu lega mengetahui bahwa itu bukanlah halusinasiku. Tanpa sadar aku tersenyum.
"Hei, kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Shikamaru.
"Eh.. Bukan.. Tidak ada apa-apa," kataku.
"Hnn.. Aneh. Mendokusei," Shikamaru kembali tertidur.
Aku tersenyum hambar pada Shikamaru yang sudah tertidur. Lalu aku menoleh pada Hinata.
"Ada apa, Hinata?" tanyaku.
Tapi, Hinata malah sudah kembali ke tempat duduknya dan menatap keluar jendela. Aku menghembuskan napas. Padahal kesempatan untuk berbicara dengannya tadi sudah amat dekat.
"Makanya, jangan melamun," kata Shino.
"Aku tidak melamun," sanggahku.
"Itu terlihat dari daun telingamu yang bergerak-gerak,"
"Maksudmu?" tanyaku.
"Jika kau sedang melamun, daun telingamu akan bergerak-gerak," jelas Shino.
Aku langsung memegangi daun telingaku. "Apa benar terlihat?"
Shino tersenyum misterius lalu pergi sambil tertawa kecil.
Aku langsung sadar bahwa dia telah menipuku. Namun, belum sempat aku membalas Shino, Kurenai-sensei sudah memasuki kelas. Menyuruh kami untuk membuka buku pelajaran.
Namun, aku masih penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Hinata. Sehingga aku tidak konsentrasi dengan pelajaran yang dijelaskan oleh Kurenai-sensei. Ketika pulang sekolah nanti aku harus menanyakan ini pada Hinata. Aku berjanji kepada diriku sendiri.
~ooo~
Akhirnya pelajaran berakhir juga. Rasanya hari ini lebih lama beberapa jam dari biasanya Aku segera membereskan buku dan bersiap-siap. Namun, kulihat Hinata sudah keluar dari kelas. Langsung saja aku mengejarnya keluar kelas. Tidak peduli bahwa mejaku masih sangat berantakan. Aku hanya ingin mengejarnya.
"Hinata! Tunggu!" teriakku.
Namun, dia tidak mendengarku. Mungkin suaraku kurang besar.
"Hinata!"
Dia masih terus berjala tanpa menoleh.
"HINATA!"
Kali ini jika dia tidak menileh aku akan menyerah. Tetapi, dia menoleh. Aku segera berlari menghampiri dirinya.
"Ada apa?" tanya Hinata.
"Itu.. Err.." Tiba-tiba aku menjadi gugup. "Ehm.. Tadi, kau ingin mengatakan apa padaku?"
Hinata tertawa kecil. "Kukira ada apa. Kau membuatku kaget,"
"Maaf," jawabku. Tapi, kurasakan wajahku memerah.
"Aku hanya ingin bertanya apa kau sudah menyelesaikan tugas yang diberikan Kakashi-sensei? Besok semua sudah harus dikumpul. Hanya kau yang belum menyerahkan tugas padaku,"
Aku mengangguk dan tiba-tiba aku malah mengajaknya pergi jalan-jalan, "Apa hari Minggu kau ada waktu?" tanyaku langsung. Wajahku kembali memerah.
"Maksudnya?" tanya Hinata bingung karena topik pembicaraan kami berubah.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari Minggu ini," ajakku. Sudah terlanjur untuk mundur. Kali ini aku harus maju.
Hinata tersenyum tipis. Mungkin aku bakal ditolak. Aku pasrah saja.
"Boleh, kalau kau memberikanku lukisan yang kau gambar tadi," katanya sambil berlalu meninggalkanku.
Tadi aku hanya menggambar sketsa Bahkan akupun tidak ingat sketsa apa yang kugambar. Aku segera berlari ke kelas untuk melihat sketsa apa yang kubuat tadi.
Ketika aku melihatnya, aku benar-benar tidak menyangka. Sebuah sketsa seorang Hinata yang sedang menatap keluar jendela.
Apa itu artinya dia sudah tahu perasaanku?
Fin
Akhirnya, selesai juga.. :) Legaaaaa rasanya..
Nah, selesai baca jangan lupa reviewnya ya..
Arigatou gozaimasu *maen mata*
*Cling…Cling..*
