KETERIKATAN
"-Jadi..? Kamu telah membunuhnya..?"
"Ya."
"Kejam sekali."
"Aku harus bertindak bagaimana? Ada sejuta keuntungan bagiku karena membunuh 'dia'."
Sesosok berjubah hitam tertawa senang mendengar jawaban dari pemuda pirang di hadapannya. Sedangkan, pemuda pirang itu mendongak ke langit-langit dengan tatapan sendu.
"Apa boleh buat, 'dia' telah menjadi alat. Kalau tak dihancurkan akan bermasalah. Walaupun, aku yang harus menanggung semua beban ini,"
Si pemuda pirang melanjutkan setelah menghela nafas dan ia bergumam kecil.
"-Maafkan aku…., Naruko…"
.
.
.
Disclaimer's: Ichie Ishibumi & Masashi Kisimoto
Warning : OOC, AU, AT, CHARA DEATH, TYPO.
…
…
….
KETERIKATAN
CHAPTER 2 :
AWAL MASALAH
Sona Sitri menghela nafas sekali lagi.
Kalau boleh jujur, ia sedang lelah karena otaknya diperas untuk mengajukan pembelaan di sidang tadi. Apa yang dikatakan para tetua tentunya masuk akal dan sulit dibantah. Itu juga yang membuat Sona melakukan cara kotor dengan sedikit bumbu pembohong di setiap pembelaan yang ia ajukan.
Ia mengatakan kalau ada masalah yang sangat besar sehingga Ise menggunakan Juggernaut Drive. Dan kebetulan karena itu juga, Rias tak bisa menghubungi pihak luar untuk mencari bantuan karena ada sebuah penghalang yang kuat.
Alasan mengapa Rias tak memancing pertempuran ke tempat lain agar para manusia tidak terlibat juga karena penghalang itu sendiri. Kebohongan Sona juga didukung dengan penyelamatan Cao Cao di mana Cao Cao sendiri bisa melewati penghalang dengan menembus penghalang dengan tombaknya.
Dan karena semua itu, kebohongan Sona sukses dan nama DxD terselamatkan. Tapi walaupun begitu, DxD tidak bisa santai karena para tetua mengajukan beberapa persyaratan agar nama DxD tetap aman.
-Yaitu, agar DxD tidak melakukan kesalahan lagi dan pemberesan di dunia manusia seperti penghapusan ingatan manusia atas kejadian Juggernaut Drive dikerjakan oleh DxD sendiri.
Walau itu juga merupakan tugas yang cukup berat, setidaknya nama DxD terselamatkan, begitulah pikir Sona. Tapi, di sisi lain Sona merasa tidak enak karena musuh yang dihadapi DxD kuat-kuat dan mustahil jika mereka tidak melakukan kesalahan.
Dan semua masalah itu telah meremas otak Sona sehingga Sona merasa sangat pusing.
Merasakan hawa seseorang yang mendekatinya, Sona mencari orang tesebut dan menemukan sosok pemuda pirang di sana.
"Yo,"
"Halo, Naruto," balas Sona kepada pemuda pirang tadi yang ternyata Naruto.
"Hn? Kenapa lemas begitu? Karena sidang tadi?" tanya Naruto sembari mengambil tempat duduk di samping Sona.
"Humm, begitulah…"
Saat ini Naruto dan Sona sedang berada sebuah kafe kota Kuoh. Naruto dan Sona mengambil meja paling pojok agar tidak diganggu yang lain.
Sona memejamkan mata dan menjatuhkan kepalanya ke meja kafe.
Melihat kelakuan gadis yang dicintainya, Naruto tersenyum kecil dan memegang tangan Sona. Seolah mengerti apa yang Sona pikirkan, Naruto mengatakan sesuatu yang dapat meringankan kekhawatiran Sona.
"Jangan khawatir, DxD akan melakukan pekerjaan semaksimal mungkin. Lagi pula, jika kita melakukan kesalahan itu juga bukan salah kita. Toh, musuh kita memang kuat-kuat. Lalu, memangnya mengapa jika DxD dibubarkan? Para tetua tidak mungkin menjatuhi hukuman mati atau menghapus DxD karena DxD merupakan satu-satunya tim anti teroris yang mampu melawan Qlippoth. Selain itu, Sirzech-sama dan yang lainnya juga tentunya tidak akan membiarkan DxD berkahir, kan? Sebenarnya apa yang kau khawatirkan? Katakan padaku, aku akan membagi beban yang kau tanggung dan aku juga akan menanggung beban itu."
Sona mengangkat kepalanya, Ia memang merasa kalau apa yang dikatakan Naruto ada benarnya. Selain itu, kalimat terakhir yang tadi diucapkan Naruto mampu membuat dirinya beberapa kali lebih tenang.
Sona menyesap kopi yang tadi ia pesan. Ia melirik Naruto sebentar dan mengatakan ini sambil malu-malu.
"Arigatou, Naru-kun," samar-samar Sona mengucapkan sufiks 'kun' tadi namun Naruto dapat mendengarnya.
Naruto tersenyum sebentar dan mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, bagaiman tentang sekolah yang kau dirikan di dunia bawah?" tanya Naruto.
Sona segera mengubah suasana murung di sekitarnya dan menjawab pertanyaan Naruto.
"Yah, masyarakat dunia bawah menanggapi pembangunan sekolah itu dengan baik. Terutama masyarakat iblis kelas rendah dan kelas menengah. Walaupun begitu, masih ada dari para tetua yang tidak menyukai pembangunan sekolah. Kan, apa boleh buat soalnya para tetua masih mempercayai hal yang disebut diskriminasi."
"Hm, kau benar juga," balas Naruto singkat.
"Ngomong-ngomong, Naruto, aku mempunyai satu permintaan untukmu," kata Sona dengan wajah seriusnya yang membuat Naruto bingung.
"Dan apa itu?"
Sona menghirup nafas sebentar.
"Bisakah kau menjadi guru teknik di sekolahku? Kau pantas karena kau merupakan pemegang Muramasa dan Murasame sekaligus pemegang Longinus ke-14, Demon Cloak."
Naruto kaget atas permintaan Sona untuk beberapa saat. Ia mempertimbangkan jawabannya sebentar. Sona yang juga mengerti keadaan Naruto hanya tersenyum dan mengatakan ini dengan halus,
"Kau boleh memikirkannya dalam beberapa waktu. Tapi aku akan tetap memaksamu agar mengunjungi sekolah itu yang baru setengah jadi, mengerti?"
"Ya, pastinya aku akan datang. Kudengar banyak yang berminat di sana dan sudah lebih dari seratus orang murid kemarin mendaftar ke sana kan?"
"Ya, sebuah hasil yang luar biasa."
"Kalau sekolah itu dapat terbangun dan meraup keuntungan lebih banyak, nama DxD juga akan dibersihkan," kata Naruto sambil mengusap-usap dagunya.
"Dan Sairaorg Bael juga membantu untuk hal ini," kata Sona bangga.
Sementara Sona sibuk membicarakan tentang sekolah yang akan ia bangun, Naruto malah memperhatikan gerak-gerik gadis di hadapannya.
Bagi Naruto, Sona merupakan gadis manis yang tegas dan dapat dipercaya.
Walau ia terlihat dingin, kadang-kadang ia juga menunjukkan sisi manis dan cengengnya. Sona bagaimanapun juga keadaannya merupakan gadis yang Naruto cintai dan gadis yang sangat sempurna bagi Naruto.
"-Katanya juga, Diehausar Belial akan mengunjungi sekolahku. Luar biasa kan?"
Naruto hanya mengangguk kecil dan membalas singkat,
"Ya, luar biasa."
DRT DRTT
Handphone Sona berdering dan Sona mengangkatnya. Ia melakukan beberapa percakapan dengan orang yang sedang ia hubungi itu. Setelah selesai melakukan percakapan, Sona memandang Naruto dan membungkukkan badannya.
"Maaf, aku ada beberapa urusan. Kalau bisa, kita bisa bertemu kapan-kapan," kata Sona sambil membereskan tas miliknya dan berbalik dari meja itu menuju ke kasir untuk membayar.
Kata-kata dari Naruto membuat Sona berhenti.
"Tidak usah membayarnya, biar aku yang membayarnya. Oh, lalu bagaimana tentang 'bertemu kapan-kapan'? Kalau maksudnya kencan, aku setuju.."
Sona tersentak dan bersiap melayangkan protes namun Naruto melanjutkan perkataannya sebelum Sona protes.
"Kencan atau kita tidak bisa bertemu lagi? Yang mana?"
Sona menunduk sehingga wajahnya tidak bisa dilihat.
"Ke-kencan…," kata Sona lirih.
Mendengar jawaban Sona, Naruto tersenyum.
"Aku akan menghubungimu jika aku sudah siap untuk kencan itu," kata Naruto.
Sona yang mendengarnya mengangguk kecil dan pergi dari kafe itu.
0o0o0o0o0o0o0o0
TRANG TRANG!
Suara dentuman tombak yang saling beradu terdengar.
Terlihat Naruto dan seorang pria berambut pirang saling bertanding pedang.
Naruto menebaskan pedang Muramasa-nya ke depan dan gelombang berbahaya dari pedang itu menghantam lapangan tempat mereka berlatih. Pemuda pirang itu dapat menghindarinya dengan menebas aura itu. Ia melesat dalam kecepatan dewa ke Naruto dan mulai beradu tebasan dengan Naruto sekali lagi.
Menggunakan umpan, pemuda pirang itu membuat pedang di kaki dan tangan kanannya. Ia menendang paha Naruto dengan pedang yang tercipta di kakinya dan menebaskan pedang di tangan kanannya ke tangan Naruto.
Naruto menghindarinya dengan mudah. Di lain sisi, pemuda pirang itu merasa Naruto sedang lengah dan mencipatakan pedang di tangan kirinya untuk menyerang Naruto.
Tanpa diduga, sebuah pedang menghalau serangan pemuda pirang itu dan tendangan telak mendarat di perutnya. Pemuda pirang itu terpelanting beberapa meter dan terkapar di tanah atas serangan tadi.
Naruto mengatakan ini tanpa ekspresi sambil memainkan dua pedangnya di kedua tangannya.
"Menyerah, Kiba Yuuto?"
Pemuda pirang yang bernama Kiba Yuuto tadi segera bangkit dari tanah dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, belum. Ini belum berakhir. Aku harus menjadi lebih kuat agar bisa menjadi pedang Buchou!" Kiba menerjang Naruto tanpa ampun.
Di sisi lain, Naruto menghadapi tebasan demi tebasan dengan mudah. Umpan yang di lakukan Kiba tidak mempan padanya karena terlalu mudah baginya dan refleksnya yang tinggi. Toh, bagaimanapun juga Naruto selalu tahu kalau Kiba akan mengincar alat geraknya.
Naruto kembali menghunuskan pedangnya setelah membalikkan umpan Kiba. Ia memukulkan gelombang Muramasa-nya ke Kiba yang sukses membuat pemuda pirang itu kembali terpelanting di tanah.
Kiba segera bangkit lagi dan membentuk sepasukan ksatria dari pedangnya.
Ksatria-ksatria buatan Kiba mulai menyerang ke Naruto secara acak. Naruto menggunakan pedang Muramasa untuk menebas dan ia menggunakan Murasame untuk bertahan. Naruto melancarkan tusukan terakhir ke ksatria buatan Kiba dan itu membuat Kiba sendiri syok.
Naruto menghilang beberapa saat dan secara tiba-tiba ia muncul di belakang. Dengan tangkas, Naruto memukulkan gagang pedangnya yang sudah terlingkup aura luar biasa ke punggung Kiba. Kiba yang saat itu lengah kembali terpelanting untuk ketiga kalinya dan menabrak dinding.
Merasa semua ini cukup, Naruto mengatakan kaliamt untuk mengakhiri pertempuran latihan ini.
"Sudah cukup, Yuuto. Wajar saja jika kau kalah, kau belum bisa mengendalikan Gram dengan baik ditambah lagi kau baru pulih dari cedera akibat Juggernaut Drive di kota Kuoh beberapa saat lalu."
Membiarkan Kiba yang memasang ekspresi lesu, Naruto berbalik meninggalkan lapangan.
"Ah, jangan lupa setelah semua cederamu pulih, kau harus berlatih habis-habisan degnanku lagi. Kemampuanmu yang hanya segini tidak mungkin bisa mengalahkan Arthur, tahu,"
kata Naruto.
Sedangakan Kiba yang mendengarnya hanya mematuhi perintah Naruto.
Naruto menunjukkan respon lain ketika menyadari ada sesuatu yang datang.
"Kelihatannya ada yang datang ke sini," kata Naruto.
Kiba mulai bangkit dan berdiri di belakang Naruto.
"Hn? Siapa? Jangan bilang itu teroris."
"Hanya mantan teroris. Itu adalah aura Bikou, Vali, dan Arthur."
"Mereka? Mengapa ke sini?"
"Mana tahu. Ketiga idiot itu pastinya punya tujuan tersembunyi. Bisa jadi mereka membicarakan sesuatu yang serius atau mungkin hal konyol."
Kiba memiringkan kepalanya, "Hal konyol, seperti?"
Naruto menjawab Kiba dengan aura suram.
"Bermain eroge…"
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
"Bagaimana ini bisa terjadi…?" tanya Kiba lemas.
"Tidak kusangka kalian bisa mengajak bermain eroge di saat DxD terancam. Santai sekali kalian. Bahkan keadaan kalian benar-benar bertolak belakang dengan Sona," kata Naruto tidak kalah lemasnya dari Kiba.
Vali mengatakan ini dengan enteng,
"Kata Azazel, aku harus mendapatkan kekuatan selain kekuatan naga untuk bisa mengalahkan Rizevim. Katanya juga, aku harus belajar ilmu mesum ke pada Hodou Issei. Berhubungan Hyodou Issei tidak ada dan sedang cedera di rumah sakit dunia bawah, aku mengajak kalian. Lagi pula, aku rasa Naruto yang berada di kediaman Hyodou tahu beberapa hal dari eroge karena ia juga sudah merasakan hal yang bernama 'cinta'."
Naruto menepuk dahinya.
"Astaga, si keparat tua itu melakukan ini semua saat DxD terancam. Benar-benar sembrono. Selain itu, apa maksudnya ilmu mesum tadi? Itu bukanlah sumber kekuatan luar biasa atau aliran sihir terbaru, itu hanyalah hasrat lelaki."
"Nah, itu kau tahu."
Naruto mengatakan ini dengan aura suram,
"Memangnya kalian bawa eroge? Jika tidak, ya sudah…, toh, aku tidak punya eroge sama sekali."
"Sayangnya kami membawanya," kata pemuda bernama Arthur yang mulai menciptakan sebuah dimensi dan mengambil eroge dari dalamnya.
Muncul setumpuk eroge yang berjatuhan ke lantai. Arthur mengatakan sesuatu dengan polos.
"Aku meletakkan eroge-eroge ini di dimensi yang sama dengan pedang Collbrande karena saking banyaknya eroge yang diberikan Azazel. Lebih ajaibnya, eroge-eroge ini tidak hancur karena kutaruh di tempat yang sama dengan pedangku. Berarti, sudah terbukti hal-hal yang berbau Ecchi atau Hentai itu mengandung sihir pertahanan yang dapat menahan aura pedang Collbrande. Aku berpikir akan hebat jika kekuatan tersembunyi itu dapat melebur dengan pedang Collbrande. Tentunya akan sangat hebat. Tapi, sayangnya aku tidak tahu bagaimana caranya membuat kekuatan Ecchi atau Hentai itu?"
Alis Naruto berkedut-kedut. Sedangakan Kiba hanya menatap tak percaya pada rivalnya itu.
"Pffftttt…," Bikou yang berdiri di sebelah Arthur berusaha menahan tawanya sekuat tenaga.
Sedangakan Vali terlihat sependapat dengan Arthur.
"Kalian benar-benar idiot untuk ukuran mantan teroris yang dicari seluruh golongan…" kata Naruto tidak percaya.
"Lakukan saja," Arthur dan Vali yang sedang penasaran segera memaksa Naruto untuk ikut memainkan eroge itu.
0o0o0o0o0o0o0o0o0
"Aku bingung memilih yang mana. Yang terlihat hanya seorang gadis dengan kulit yang banyak terekspor," kata Arthur sambil melihat satu-satu eroge tadi.
"Bagiku sama saja. Sampulnya sama dan tentu isinya juga sama. Bercerita tentang Hentai, kan," kata Vali mengambil eroge seadanya dan segera memainkan eroge yang dipilihnya.
"Hoi, Vali. Jangan pilih sembarangan. Tingkat kualitas juga harus ditentukan!"
"Hou, kau tahu banyak tentang eroge, Naruto?"
"Bukan begitu. Mana kulihat apa yang kau nyalakan-"
Omongan Naruto terpotong begitu melihat apa yang akan dimainkan Vali.
"I-Ini-! Ini adalah eroge terlangka dari yang terlangka. Bagaimana bisa kau tahu kualitas eroge?"
"Aku hanya asal ta-"
Sebelum Vali menjawab pertanyaan Naruto, Naruto terlebih dahulu mengguncang-guncangkan bahu Vali.
"Apa saja alasannya, kau benar-benar punya selera yang bagus!"
"Aku tidak mengerti. Lagi pula berhentilah mengguncangkan bahuku!"
Naruto segera melepaskan pegangannya pada bahu Vali dan hanya tersenyum tipis.
"Aneh, kupikir kau juga baru pertama kali bermain eroge. Tapi, responmu berbeda sekali. Apa kau sudah beberapa kali bermain eroge dengan Hyodou Issei?"
Naruto menggelengkan kepalanya mengelak.
"Tidak, aku hanya sering melihat Issei bermain eroge dan semacamnya."
Arthur menyipitkan mata.
"Maksudmu, melihat lalu memainkan?"
Naruto segera mengelak dari tuduhan Arthur.
"Sungguh, aku tidak memainkannya. Aku hanya mendengar kalau Issei mati-matian mencoba mendapatkan eroge-eroge langka dan yang dipilih Vali tadi sangat langka."
"Hmmm… hmm, masuk akal juga. Tapi malah kelihatan seperti penguping dan penguntit yang selalu mengikuti Hyodou Issei ketika sedang bermain eroge. Atau… jangan-jangan kau sudah mencintai Hyodou Issei?" tanya Arthur yang sukses membuat Naruto berang.
"Ah-! Sudah hentikkan saja spesikulasi-spesikulasi anehmu, Arthur. Ayo kita mulai mainkan eroge tadi," kata Naruto yang duduk di samping Vali dan mulai memainkan eroge.
"Aku tidak harus ikut, kan?" tanya Kiba dengan menunjuk dirinya sendiri.
Sebuah tangan menarik Kiba dan memakasanya untuk duduk lalu bermain eroge . Kiba menatap si pelaku yang ternyata adalah Arthur dengan pandangan penuh keingintahuan.
"Aku ingin rivalku tambah kuat," kata Arthur santai dan mulai memainkan eroge.
"Baiklah, aku ikut dengan berat hati," Kiba juga memutuskan untuk mulai memainkan eroge tadi.
Beberapa saat ketika game berada di final dan masing-masing pemain –Naruto, Arthur, Vali, Kiba- telah menemukan hasil mereka.
"Seperti yang kuinginkan, mempunyai satu gadis lebih bagus," kata Kiba sambil tersenyum puas melihat hasil permainan erogenya.
"Apakah mendapatkan seluruh karakter wanita itu hal yang bagus?" tanya Arthur dan Vali bersamaan.
Naruto terdiam beberapa saat melihat hasil akhir erogenya. Ia tiba-tiba menangis dan memukul karpet yang ia duduki.
"Gagal-! Sudah kuduga aku sama sekali tidak berpengalaman dengan eroge! Semua gagal.."
Kiba yang penasaran apa hasil dari Naruto melihat ke layar eroge yang dimainkan Naruto. Setelah melihat hasilnya, Kiba tersenyum pahit. Dua dari gadis memutuskan hubungan dengan Naruto. Beberapa gadis juga marah pada Naruto dan hubungan belum pasti. Satu-satunya yang pasti hanyalah seorang gadis loli yang merupakan adik perempuan Naruto dalam game.
"Tidak kusangka kamu siscon…" gumam Kiba.
"Diam, Kiba! Aku sedang terpuruk sekarang dan jangan membuatku semakin menangis…" Naruto tampaknya masih merutuki nasibnya.
Selagi mereka sedang berusaha menenangkan Naruto, Hadphone Naruto mulai berdering dan karena Naruto sedang merutuki nasibnya, Kiba-lah yang mengangkat telepon itu.
Kiba bercakap-cakap dengan muka serius. Kiba menganggukkan kepalanya sebagai tanda untuk mengakhiri percakapan melalui Handphone itu.
"Naruto-kun, berhentilah merutuki nasib. Buchou menghubungiku agar kita juga menuju rumah sakit untuk mengunjungi yang lainnya. Yah, katanya sekaligus mengantar Ise-kun dan yang lainnya agar kembali ke kediaman Hyodou," kata Kiba sambil menenangkan Naruto.
"Ah, maaf-maaf. Aku terbawa suasana," kata Naruto segera mengubah sifatnya secepat mungkin dan ia sekarang sudah berada di sifat tenangnya yang seperti biasa.
"Cepat sekali berubahnya. Aku boleh ikut?" tanya Arthur.
"Yah, semenjak kau bukan lagi teroris tentu tidak apa-apa," kata Kiba.
SedangkanVali terlihat memikirkan sesuatu.
"Ada sesuatu yang mencurigakan tentang gerak-gerik Qlippoth akhir-akhir ini. Sebenarnya, aku ke sini dengan membawa eroge tadi hanya untuk sampingan. Aku ingin membahas sesuatu tentang aksi teroris Qlippoth. Tapi, yah, berhubungan kalian mau menuju rumah sakit dunia bawah, jadi aku tidak jadi membicarakan masalah yang ingin kuutarakan. Kapan-kapan saja mungkin," kata Vali.
"Apakah itu berarti kau tidak ikut ke rumah sakit dunia bawah?" tanya Naruto.
"Ya, begitulah. Selain itu, mungkin masih ada beberapa tanggapan negatif tentangku di dunia bawah, kan? Karena itu aku tidak ikut. Naruto dan Arthur saja tidak apa-apa. Aku pergi sekarang. Ada yang mau kulakukan," Vali mengatakannya sambil membentuk lingkaran sihir di lantai.
"Tu- Vali!"
"Tidak apa-apa. Aku akan berangkat dengan Bikou yang tadi sudah pulang duluan sebelum memainkan eroge. Aku memintanya untuk menemaniku dalam menyelidiki tingkah aneh Qlippoth. Jangan khawatir semenjak aku mempunyai banyak koneksi sana-sini, oke?" setelah Vali mengatakan itu, lingkaran sihir di lantai meredup dan sosok Vali menghilang.
Naruto menghela nafas dan menciptakan lingkaran sihir khusus agar terhubung ke rumah sakit dunia bawah. Apa yang ia lakukan tidak termasuk pelanggaran karena sudah diberi ijin untuk pergi ke dunia bawah.
"Ayo berangkat," kata Naruto singkat.
0o0o0o0o0o0o0o0o0
Tengah malam setelah mengantarkan Ise dan yang lainnya ke kediaman Hyodou.
Naruto berjalan di kota Kuoh yang sedang sepi saat itu.
Hawa dingin yang sanggup menusuk tulang menghampiri Naruto tapi Naruto tidak menghiraukannya dan terus berjalan tanpa tahu akan ke mana.
Sebenarnya Naruto hanya mencari udara saja setelah udara di rumah sakit membuatnya sesak. Dan, cara seperti yang ia lakukan saat ini adalah cara yang paling ampuh untuk membuatnya kembali tenang.
Masalah DxD tentunya belum selesai.
Walau DxD diberi kesempatan, bukan berarti DxD juga bisa lepas dari belenggu. Sebenarnya, apa yang dikatakan Naruto pada Sona kemarin saat di kafe hanyalah cara untuk menenangkan Sona saja.
Kalau boleh jujur ia juga sedang tidak tenang. Ia juga ingin untuk mempercayai apa yang ia katakan pada Sona tapi tidak bisa. Para tetua tentunya tidak akan berpikir dua kali jika harus mengeksekusi seluruh anggota DxD atas kesalahan DxD sendiri. Mereka bisa saja membentuk tim anti teroris yang baru dan segera menyingkirkan DxD.
Bahkan jika ia mengatakan bahwa Sirzech dan yang lainnya akan membantu, itu juga tidak bisa diharapkan. Apa lagi, pihak Bael sendiri yang mengajukan hukuman mati tersebut. Seperti yang diduga, maou sebenarnya hanya simbol saja bagi para iblis.
Bahkan mungkin para tetua Bael tidak menyukai pewaris mereka, Sairaorg Bael dan itu menyebabkan mereka tidak ragu-ragu untuk mendebat DxD kemarin. Mungkin juga para tetua Bael sedang mengalami beberapa masalah dengan Sairaorg sendiri.
Jadi, karena alasan-alasan di ataslah Naruto gusar.
Naruto menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya untuk mendinginkan kepalanya.
Saat ia melintas di jembatan tengah kota, bayangan gadis bermabut pirang tertangkap oleh matanya.
Bukan hanya itu, aura di sekitar gadis pirang itu menunjukkan kalau ia bukanlah manusia.
Naruto juga dapat merasakan hawa negatif dan niatan jahat dari gadis itu sehingga Naruto bersiaga dalam posisi tempur.
Gadis tadi melihat Naruto dan tertawa halus. Wajahnya tampak tak asing bagi Naruto dan justru itu yang membuat Naruto syok.
"K-kau.." kata Naruto terbata-bata sambil menunjuk sosok gadis pirang tadi.
Gadis itu terkikik senang, "Ara ara, kau mengenalku. Bagus, deh… Soalnya aku nggak akan tenang kalau kau nggak mengenalku~"
Gadis itu menunjukkan wajah cantiknya semakin jelas. Kulit putih bersih dengan rambut pirang yang mengkilat. Tubuhnya tinggi semampai dan ia memiliki proporsi tubuh yang bagus. Terlebih lagi, matanya yang berwarna sama dengan Naruto semakin membuat Naruto tidak percaya.
"Lama nggak berjumpa, ya~ Onii-chan…" kata gadis itu sambil memunculkan enam pasang sayap hitam dari balik punggungnya.
Akan penampilan gadis itu, Naruto teringat oleh satu nama yang membayang-bayanginya
"Naruko….?"
TBC
Seperti biasa cerita nggak memuaskan T.T karena buatnya ngebut :3
Dan terima kasih saran serta komenannya kemarin ya para Senpai :v
Untuk kemampuan Naruto, tadi sudah dijelasin and ditampilin dikit. Untuk chapter depan, bakal ditampilin masa lalu Naruto and kemampuan Naruto.
Terus soal Longinus Naruto yang merupakan Longinus ke-14 setelah dikonfirmasi Grigori, nama Longinusnya ga kece ya? *shiiiingggg
Ah, lalu untuk pairnya.. sudah saya putuskan nggak akan harem karena genrenya nggak mendukung. Mohon jangan kecewa buat penggemar harem #peace
And, yang terakhir,
Jangan lupa review ya! Sampai jumpa di chapter depan!
