Hawkeye's First Laugh
Summary: Rambut formal Roy Mustang dan tawa Hawkeye yang meledak
Disclaimer: Hagaren no Renkinjutsushi, Furumetaru Aruchemisto, 100% digambar oleh Hiromu Arakawa. Ide cerita: Saya *dibuang ke laut pasifik*
Chapter 4: Different
Wajah Lt. Hawkeye menyiratkan keinginan tawa yang ditahan-tahan. Pada saat itu, ia tengah mengetuk pintu rumah Kolonel Mustang. Ketika pintu dibuka…
DAR DER DOR!
Kembang api dipasang. Microwave meledak. Anak buah Nurdin Tank Top kembali.
Roy Mustang keluar dengan gagahnya, hendak turun dari apartemen kecilnya bersama Letnan tersayang. Namun apa daya. Rambut barunya menarik perhatian Hawkeye. Yang membuatnya tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Hahahaha! Hummph…" Letnan Riza Hawkeye tertawa kencang. Namun berusaha ditahan agar tidak menyinggung atasannya. Tapi terlambat. Ia keburu tertawa kencang sekali. Burung-burung pun pergi karena berisik dan tidak akan kembali sampai musim semi berikutnya datang.
"Apanya yang lucu, Letnan?" Roy mengambil kunci apartemennya dan menutupnya dengan perlahan.
"Hahaha… Ummm, tidak ada apa-apa, Kolonel… Humph…" wajah Riza memerah karena menahan tawa. Ingin rasanya ia mengambil kamera miliknya, tapi ia lupa membawanya.
"Letnan, katakanlah." Roy memelas dan memohon dengan teramat sangat.
"Yah, sebaiknya kuceritakan nanti saja, Kolonel. Di tempat yang sepi. Haha…"
Dan keduanya pun melangkah ke dalam situasi lucu-namun-membuat-Roy-emosi itu.
Chapter 5: Should I Told You?
Perjalanan menuju Indonesia memakan waktu yang cukup lama. Karena pada saat itu belum ada pesawat (anggaplah begitu) seperti di jaman kita sekarang ini, mereka berjalan kaki dan sampai di Indonesia 10 tahun kemudian *bohong*
Oke, mereka menaiki kapal yang cukup mewah milik kemiliteran Amestris. Interior sederhana dengan pelayanan khas kemiliteran yang kental, membuat Roy Mustang dan Riza Hawkeye cukup betah disana, meskipun Mustang tidak bisa bermesraan dengan Letnan cantiknya itu karena Nurdin Tank Top mengawasi *loh?* Eh bukan, maksudnya pelayan2 kapal yang mirip Nurdin Tank Top.
Sesampainya mereka di Indonesia, masyarakat pribumi yang sedang berada di pelabuhan menatap lekat-lekat kapal asing yang singgah di pelabuhan… Pelabuhan apa ya? *ketahuan ga lulus pelajaran IPS* Pelabuhan Laut Emas aja deh *asal*
Ketika turun dari kapal, beberapa orang berbisik-bisik. Sebagian lainnya menahan tawa.
"Saya rasa mereka membicarakan kita, Kolonel." Bisik Riza pada Mustang.
"Membicarakan atau mentertawakan kita, Letnan?" Tanya Roy dengan penuh selidik.
"Dua-duanya."
Jika saja Letnan Hawkeye tidak seksi dan cantik, mungkin saja ia sudah dibakar habis oleh Roy. Itung-itung membakar rasa penasarannya juga.
Chapter 6: Finally
Riza dan Roy berputar-putar di kantor kemiliteran Indonesia. Tempatnya rapuh, bau, berantakan, pokoknya tidak terurus. Bagi Roy, tempat ini cukup menyenangkan. Ia sangat menggemari tempat yang berantakan. Buat apa dirapikan? Toh nanti juga berantakan lagi.
Sementara Riza sangat gemas melihat keadaan kantor kemiliteran kita yang keadaannya seperti itu. Mana ada yang tahan bekerja di tempat seperti ini?
Setelah puas berputar-putar, mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam dahulu sebelum pulang. Bayangkan saja makanan seperti apa yang menanti mereka di atas kapal nanti. Seperti makanan rumah sakit yang sok-sok kepengen kayak makanan restoran tapi rasanya amburadul.
Mereka berhenti di sebuah restoran asli khas Indonesia, KFC *ngarep*. Eh salah, maksudnya restoran Soto Betawi yang sepi. Itu karena masyarakat kita lebih senang menyantap makanan cepat saji yang (katanya) rasanya lebih menjajikan. Tapi tidak bagi Roy dan Riza. Mereka memilih restoran itu karena itung-itung wisata kuliner juga. Riza dan Roy mengambil posisi duduk yang nyaman.
"Seperti janjimu, Letnan, tempat ini cukup sepi." Roy membuka pembicaraan.
"Teramat sepi." Riza menatap bola mata Roy dalam-dalam.
"Terserahlah. Tapi ceritakan, apa yang menurutmu lucu?"
"Rambut anda."
JEGEEERRR!
Zeus turun dari langit. Kilatan petir menyambar bagian atas kepala Mustang. Kepala Riza mengeluarkan tanduk merah. Dengan tawa setannya.
"Ra-rambutku? Apanya yang lucu?" Tanya Roy panik.
Riza mengeluarkan sebilah *wesss* cermin kecil dari tas pinggang miliknya (mungkin ini sebabnya kenapa perut Riza terlihat lebih gendut *ganyambung*) dan menyerahkannya pada Sang Kolonel Api.
"Rambut anda, Sir. Tidak seperti biasanya. Kali ini lebih tertata dan rapih." Riza tersenyum kecil.
"Lalu, apakah karena rambutku rapih, hal itu memberi symbol kelucuan? Aku ini kan keren. Rambutnya harus keren juga dong."
Riza berharap agar restoran ini berubah menjadi kantor mereka di Amestris, agar dengan leluasa ia bisa menodongkan pistol hitam miliknya tanpa ada masyarakat pribumi yang menyangka mereka penjajah baru dari daratan Kutub Utara.
"Yah, Sir, hanya saja Anda menatanya terlampau rapi. Dan wajah Anda terlihat berbeda. Lucu."
"Mungkinkah rambut ini yang telah membuatku bagai orang asing di matamu, Letnan?" Roy bertanya lembut.
"Tidak, tidak asing. Hanya rambut Anda saja yang asing Sir."
"Bagus." Desah Mustang berat.
Baru kali ini aku melihatnya tertawa. Tawa pertama Hawkeye, aku menyebutnya begitu. Selamanya, aku akan mengutuk sisir sialan itu tapi juga berterimakasih karena aku menjadi orang pertama yang membuatnya tertawa.
Setidaknya, tertawa dengan tulus dan lega dari dalam hatinya.
Tunggu, perasaan makin bertambah hurufnya makin lepas dari genre utama cerita ini, yaitu humor = =a
Maaf banget, ceritanya jayus dan maksa! Dx Endingnya aneh gini lagi. Jadi gimanaaa gitu kesannya. Duh.
RnR? Kritik yaaa. Jangan lupa, bayar royalty ke saya! *dilepas ke kandang kuda. Kenapa harus kandang kuda? Soalnya kalo dilepas ke mal keenakan*
