MELAMPAUI WAKTU

Chapter 2: Luck Gandor


~Baccano! fanfiction by karasuhibari~

Disclaimer: Baccano! by Ryohgo Narita

Infantrum FFC: Seven Minutes in Heaven

(Prompt: Sloth)


.

.

Keterbatasan mungkin adalah hal yang paling indah di dunia ini.

Begitulah isi pikiran Luck Gandor, seorang pria dengan rambut berwarna kecoklatan yang ditata rapi, ketika ia menutup buku di tangannya sambil menghembuskan nafas panjang. Mulutnya membentuk sebuah garis tipis yang menyerupai senyuman ketika ia melirik sekilas ke arah si pemilik toko buku.

"Saya rasa Anda perlu menambah koleksi baru. Teks drama bisa jadi pilihan yang bagus."

Si pemilik toko hampir membatu. Senyum dan nada bicara Luck yang terkesan resmi namun santai itu, justru menambah kengerian yang ditimbulkan oleh sorot matanya. Itu karena sepasang mata yang bagaikan emas cair milik Luck dapat diandaikan seperti lubang hitam yang menyimpan banyak rahasia.

Dingin dan tajam.

Tiba-tiba, pintu masuk toko buku kecil itu bergemerincing. Seorang pemuda yang mengenakan topi berwarna hijau pudar memasuki toko. Ia tampak jauh lebih muda dari Luck, walau pada kenyataannya, usia mereka berdua hanya terpaut satu tahun.

Pemilik toko langsung undur diri ke bagian terdalam dari tokonya ketika melihat pemuda tersebut. Sudah sepuluh tahun ia memiliki tempat usaha di sekitar perbatasan wilayah keluarga mafia Gandor dan Martillo. Ia paham betul, bahwa pembicaraan yang akan terjadi antara Luck dan si pemuda tersebut bukanlah sesuatu yang boleh didengar oleh warga sipil biasa seperti dirinya.

"Firo," kata Luck, "kupikir aku sudah bilang padamu agar menunggu di bar."

Pemuda yang bernama lengkap Firo Prochainezo itu hanya mengangkat bahunya. Baik sikap maupun ekspresinya terlihat riang—sangat kontras dengan image anggota mafia yang suram.

"Kau terlalu lama. Aku khawatir lehermu putus untuk yang ketiga kalinya minggu ini," kata Firo sambil memutar-mutar topinya.

Senyum Luck sedikit melebar. Ia membalas ucapan Firo, "Kalaupun iya, ini wilayah Gandor. Kau tidak bisa apa-apa, Firo"

"Aku bisa mengurus soal itu dengan Gandor yang lain"

Luck hanya melepaskan tawa kecil, kemudian mengambil buku lain dari rak. Ia melihat-lihat tiap halaman buku itu, sementara sisi lain otaknya mengolah semua informasi yang ia terima pagi ini. Informasi tentang sekelompok pengacau yang mencoba mengedarkan narkoba dan senjata api di wilayah mereka. Kelompok yang kabarnya merupakan unit otonom dari sebuah keluarga mafia besar, dimana tujuan utama dari keluarga induk mereka adalah menguasai wilayah yang dimiliki oleh keluarga mafia kecil lain seperti Gandor atau Martillo.

Luck menghembuskan nafas panjang lagi. Luck yang dulu akan menganggap semua masalah ini sebagai tantangan untuk menentukan siapa yang berhasil 'hidup' sampai akhir. Tapi kini, setelah ia tahu bahwa ia bisa menjalani semua waktu yang tersedia untuk umat manusia, masalah-masalah ini hanya seperti pengulangan yang membosankan dan hambar. Tidak ada hasil akhir yang layak untuk dinanti, karena ia bisa menekan tombol 'reset' kapanpun ia mau. Ia dan saudara-saudaranya akan selalu jadi yang berdiri paling akhir. Makanya, ia bahkan tidak lagi melihat alasan untuk menanggapi masalah ini dengan serius.

"Czes kena peluru nyasar," kata Firo tiba-tiba, "aku tidak suka melihat Ennis khawatir setengah mati seperti itu. Pelakunya tidak akan bisa hidup senang lagi dari sekarang"

Ah, setidaknya Firo masih memiliki sesuatu yang layak dinanti. Hubungannya dengan Ennis adalah salah satu hal yang sulit diketahui hasil akhirnya, tidak seperti urusan mafia yang itu-itu saja. Sedangkan Luck, pria itu bahkan sempat berpikir untuk melepaskan urusan ini begitu saja. Ia yakin bahwa pada akhirnya, kasus yang sama akan terulang lagi, entah itu lima, sepuluh, atau bahkan seratus tahun lagi. Malah bisa jadi dalam waktu seminggu yang akan datang, keluarga mafia lain akan mencoba merebut wilayah mereka juga.

Luck merasa penat.

"Kak Berga pasti setuju denganmu," Luck memperhatikan tiap halaman dengan seksama—entah karena ia benar-benar membaca isinya atau karena sedang berkonsentrasi memikirkan hal lain. Luck melanjutkan, "Kau seharusnya hati-hati. Kabarnya, mereka mengincar petinggi kelompok sepertimu"

"Aku bukan petinggi. Kau yang harus khawatir. Kau 'kan salah satu dari tiga bos besar, walaupun tidak cocok"

Luck berusaha menahan tawanya. "Apa maksudmu tidak cocok?"—sebenarnya itu hanyalah kalimat kosong. Luck tahu betul apa yang dimaksud oleh Firo.

Saat itulah, pintu toko kembali bergemerincing terbuka. Luck dan Firo sama-sama menoleh ke arah pria dengan penampilan kumal yang berdiri di ambang pintu. Janggut panjang menghiasi wajah pria itu. Ia memamerkan gigi-gigi ompongnya ketika ia menarik sepucuk pistol dari balik jubah kusam yang penuh tambalan. Matanya membesar dengan pupil mengecil. Ia tertawa seperti orang gila ketika mengacungkan pistol itu ke arah Luck, dan langsung menarik pelatuknya dalam sepersekian detik.

Semburat warna merah memenuhi pandangan Luck. Cairah merah bercipratan ke rak-rak buku sementara tubuh Luck ambruk ke tanah.

Beberapa tembakan lagi diiringi dengan teriakan, "Aku berhasil membunuh bos Gandor!" dan suara-suara langkah kaki yang berlari.

Panas. Sensasi dalam kepala Luck saat ini merupakan campuran dari semua rasa sakit yang pernah diingatnya. Dari dalam genangan darahnya sendiri, Luck dapat melihat kilasan sosok Firo yang berlari keluar toko, berusaha mengejar si pria kumal.

"Tuh kan! Baru saja kubilang!"

Khas Firo. Lantang dan penuh energi. Tidak pernah bosan dengan hal-hal seperti ini. Selalu bersemangat untuk balas dendam kapanpun ada orang yang mau cari gara-gara dengannya.

Sementara Luck ingin berbaring saja disana. Ia hanya ingin menikmati kematiannya saat ini.

.

.

[END OF CHAPTER]