Disclaimer : All Potterverse belong to JK Rowling. Í only own the plot and two OC's here. I've made no money here as I'm just a mere fan.


Scorpius Malfoy menatap kosong ke arah langit-langit kanopi tempat tidurnya di Asrama Slytherin. Di tempat tidur sebelahnya Albus Potter sudah terlihat tertidur lelap. Pikiran Scorpius kembali melayang pada kejadian beberapa jam lalu, saat kemunculan pertama seorang Malfoy yang lain di Aula Besar.

Siapa sebenarnya Leonidas Malfoy? Scorpius tak ingat bahwa ia memiliki sepupu lain yang juga bernama belakang Malfoy, karena sepanjang yang diketahui Scorpius, ayahnya adalah anak tunggal. Tapi ia kurang tahu menahu mengenai kakeknya; Lucius Malfoy, atau kakek buyutnya Abraxas Malfoy. Selama ini ia selalu menghindar setiap kali ibunya mencoba mengajarinya mengenai silsilah keluarga Malfoy.

Ayahnya sendiri tak pernah memberitahu mengenai keberadaan trah Malfoy yang lain. Yang diketahui Scorpius hanyalah garis besar silsilah keluarga saja, bahwa ia merupakan keturunan keluarga Malfoy dan Black dari garis ayahnya, dan keturunan keluarga Greengrass dan Scrimgeour dari garis ibunya. Semua berdarah murni, tentunya. Dan ia juga masih ada hubungan saudara dengan Teddy Lupin dari nenek mereka yang merupakan kakak-beradik keturunan Black. Tapi selain itu Scorpius tak tahu lagi.

Dan hal pertama yang disadari Scorpius berikutnya adalah ia sudah hampir kesiangan untuk mengikuti pelajaran pertama.

--

Rose Weasley melirik Scorpius dengan tatapan sedikit mencela saat melihat pacarnya datang memasuki kelas dengan keadaan sedikit lecek karena terburu-buru. Ia memang tidak terlambat, tapi rambutnya terlihat masih basah belum disisir dan dasinya bahkan belum terikat rapi. Scorpius menjatuhkan diri di kursi samping Rose.

"Oh Score, hari pertama dan kau hampir terlambat? Mengesankan…" sindir Rose sambil mengayunkan tongkat sihirnya ke dasi Scorpius, membantunya mengikat dasi dengan rapi sementara Scorpius merapikan rambutnya seadanya menggunakan sisir jari.

"Yah, banyak yang kupikirkan tadi malam."

Rose menatap mata biru Scorpius lekat-lekat, "Kau memikirkan mengenai anak baru yang kemarin?" Scorpius menaikkan sebelah alisnya.

"Sejak kapan kau menguasai Legilimens?"

"Berarti tebakanku betul? Oh honestly, Scorpius, kami di Ruang Rekreasi asrama Gryffindor membicarakan hal itu hingga bosan!" Rose tertawa sedikit memperlihatkan giginya yang putih berderet rapi. Scorpius langsung tahu bahwa yang dimaksud 'kami' oleh Rose adalah seluruh saudaranya dari keluarga Potter dan Weasley.

Dari semua keturunan kedua keluarga itu, hanya Albus-lah satu-satunya anak yang masuk ke asrama Slytherin, sisanya masuk Gryffindor. Tapi itu bukan hal yang aneh, konon menurut cerita Albus, wali ayahnya dulu, Sirius Black, adalah satu-satunya keluarga Black yang masuk Gryffindor, sementara seluruh keluarga Black yang lain merupakan langganan tetap asrama Slytherin. Scorpius tersenyum pada Rose sambil mencubit dagunya sedikit.

"Oh ya? Spekulasi apa yang muncul dari pembicaraan kalian?"

"Aku juga ingin sekali mendengarnya, tapi bagaimana kalau kalian berdua mulai memusatkan perhatian pada pelajaran sekarang ini?" Suara Professor Teddy Lupin, guru kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam terdengar dari belakang. Dan kedua remaja itu pun terdiam seketika.

--

Rose, Al, dan Scorpius tetap tinggal di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam saat jam pelajaran berakhir. Ketiganya duduk di meja terdepan sambil menatap Teddy yang tengah mondar-mandir sambil menyilangkan tangan di hadapan mereka. Ia nampak berpikir.

"Bagaimana menurutmu Teddy? Kurasa hal ini sekarang tengah menjadi pembicaraan hangat di seantero sekolah." tanya Al sambil mengayunkan kakinya tak sabar. Rose melirik sepupunya dengan pandangan mencela "Professor Lupin, Al, kita di Hogwarts sekarang!" Teddy hanya mengangkat sebelah tangannya.

"Ah, begini saja. Sabtu besok kita ada waktu kunjungan ke Hogsmeade, bagaimana jika kita ajak dia makan siang sama-sama di The Three Broomsticks? Dengan begitu kita bisa lebih mengenal dia lebih dekat. Biar bagaimanapun jika dia seorang Malfoy, maka ia adalah bagian dari keluarga kita juga, bukan?" putus Teddy. Ketiga remaja di depannya saling berpandangan, sebelum mengangguk hampir bersamaan.

"Ngomong-ngomong, adakah informasi lain yang kau ketahui tentang dia? Kau kan pengajar disini." tanya Scorpius. Teddy mengangkat sebelah alisnya.

"Yah, sepanjang yang kutahu dari pembicaraan Professor Longbottom dan Professor Shacklebolt, ia adalah siswa pindahan dari Sekolah Sihir Durmstrang di Bulgaria. Usianya delapan belas tahun, di Durmstrang konon masa pendidikannya sudah selesai, tapi karena di Inggris Raya ia masih usia sekolah, maka ia masuk Hogwarts untuk menjalani tahun ketujuh."

Rose memiringkan kepalanya dengan alis mata sedikit berkerut. "Professor, tidak sembarangan anak penyihir bisa masuk Hogwarts. Biasanya orangtuanya adalah siswa Hogwarts juga, atau jika ada seorang anak penyihir yang pantas masuk Hogwarts lahir, namanya otomatis tercatat di perkamen yang ada di kantor kepala sekolah, dan saat usianya sebelas tahun, maka anak yang bersangkutan akan dikirimi surat pemberitahuan dari sekolah…" Rose berhenti sejenak, mata ketiga laki-laki yang ada di ruangan itu kini semua tertuju pada dirinya.

"Maksudku, jika ia bisa masuk Hogwarts, itu berarti sebelumnya ia tercatat secara resmi sebagai calon murid disini saat ia lahir dulu, tetapi mungkin karena satu dan lain hal, ia malah masuk ke Durmstrang. Mungkin orangtuanya pindah keluar negeri, atau semacam itu. Berarti pada dasarnya ia orang Inggris dan lahir di negara ini." Lanjut Rose. Scorpius menatapnya dengan pandangan tertarik, lalu mengalihkan tatapannya pada Teddy.

"Ah, bisakah kita melihat perkamen yang disebutkan Rose? Dengan begitu siapa tahu kita bisa menelusuri silsilahnya, maksudku, siapa orang tuanya dan dari Malfoy yang mana garis keturunannya?" tanya Scorpius dengan tatapan penuh harap pada Teddy.

"Sori Score, tapi itu tak bisa dilakukan." Ujar Teddy sambil menggelengkan kepala. Pundak Scorpius langsung jatuh lemas seketika. Teddy melanjutkan "Hanya Kepala Sekolah Hogwarts atau wakilnya yang bisa mengakses informasi sepenting itu. Lagipula, Shacklebolt tak akan mau menerima alasan konyol seperti itu untuk memperbolehkan kita melihat dokumennya."

Al meloncat turun dari meja yang ia duduki, "yah, jika memang begitu berarti ada dua cara lagi yang bisa dilakukan." Scorpius menatap sahabatnya dengan pandangan penuh tanya, Al mengedikkan kepalanya sedikit; "yang pertama, kita bisa menunggu hingga akhir minggu untuk menanyai si Malfoy yang satu lagi ini, dan yang kedua kau bisa bertanya langsung pada orangtuamu, Score." Sambung Al. Scorpius manggut-manggut.

"Benar juga, akan kutulis surat pada Dad malam ini."

--

"Score, Al, kapan seleksi tim Quidditch asrama Slytherin akan diadakan?" tanya James saat berpapasan dengan kedua anak laki-laki Slytherin itu di lorong menuju Aula Besar. Al mengangkat alisnya sebelum menjawab pertanyaan kakaknya.

"Masih dua hari lagi, kami dapat jadwal penggunaan lapangan hari Kamis sore. Kau sendiri? Sudah mendapatkan nama-nama baru untuk tim Gryffindor tahun ini?" James hanya menyeringai jahil mendengar pertanyaan adiknya.

"Tentu saja, ujian seleksi kami masih besok sore tapi aku sudah mengantongi nama beberapa kandidat yang bagus. Termasuk Lily, sepertinya ia akan lolos seleksi sebagai Chaser besok." James menjentikkan jarinya. Ia kapten Tim Quidditch Gryffindor tahun ini, tepatnya; tahun ketiga ia menjadi kapten tim. Sejak ia kelas empat, ia sudah menjabat kapten selama dua tahun berturut-turut, merangkap sebagai Seeker tim sejak kelas satu.

Al mendengus mendengar jawaban kakaknya, "wow hebat sekali, alangkah bangganya Mum jika ia mendengar putrinya sudah bermain sebagai Chaser di kelas tiga…" Scorpius menutup mulutnya untuk menahan tawa. Sayangnya James melihatnya.

"Tertawalah kalian sebelum kalah dengan telak dari kami, kau tahu Al, Lily menerima latihan terbang khusus dari Mum sepanjang liburan musim panas kemarin, lain denganmu yang menghabiskan liburan entah dimana." Jawab James jumawa sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ia dilatih oleh Mum yang merupakan mantan pemain timnas Quidditch Inggris Raya, kujamin ia tak bisa diremehkan." Mata hijau emerald Albus membelalak.

"Aku tak pernah tahu soal itu…" Scorpius melirik sahabatnya dan berdeham sebelum kedua Potter muda di hadapannya mulai berdebat. Ia sudah hafal dengan sifat mereka.

"Ah, sudahlah, kalian tahu, sekarang ini seleksi tim Quidditch Ravenclaw tengah berlangsung, kurasa tak ada salahnya kita menonton, siapa tahu kita dapat bocoran mengenai kekuatan tim baru Ravenclaw, aku ingin lihat, tahun ini siapa yang akan dipilih oleh Cherry Chang-Coeters untuk dijadikan anggota tim." ujarnya sambil melambaikan tangannya dengan gestur mengajak kedua Potter untuk mengikuti langkahnya menuju ke lapangan Quidditch.

--

Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah duduk manis di kursi penonton tertinggi di lapangan Quidditch Hogwarts. Tak jauh dari mereka terdapat beberapa gerombol anak Hufflepuff, beberapa anggota tim Quidditch yang lain, dan beberapa anak Ravenclaw maupun anak-anak lain yang sekedar hendak menonton.

James menggunakan teropong untuk melihat lebih jelas antrean anak-anak peserta seleksi yang berbaris rapi berdasarkan posisi yang diminati di hadapan Cherry Chang-Coeters; kapten tim Ravenclaw; yang kini tengah memegang perkamen sambil memanggil nama-nama untuk ikut serta dalam uji coba pertama.

"Hey, lihat, bukankah itu si Leonidas Malfoy?" seru James sambil menunjuk ke salah satu barisan. Scorpius merebut teropong yang dipegang James untuk melihat arah yang ditunjuk si Potter tertua. Sementara Al mencoba peruntungannya dengan melingkarkan jari-jari tangannya di depan mata membentuk teropong; siapa tahu bisa berfungsi layaknya teropong betulan.

Benar saja, Leonidas Malfoy ada di antara mereka. Tubuhnya yang tinggi dengan rambut pirangnya membuat dirinya terlihat mencolok di antara anak-anak yang lain. Ia berdiri di antara barisan anak-anak yang berminat menjadi Seeker. Ia melangkah maju ke depan dan berdiri berhadapan dengan Cherry Chang-Coeters, mereka terlihat berbicara sebentar, lalu Cherry berjalan menuju kotak set bola Quidditch yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Gadis berwajah oriental itu nampak mengambil salah satu bola yang tak salah lagi merupakan Golden Snitch. Setelah itu kedua remaja tingkat akhir Ravenclaw itu memegang erat-erat sapu mereka.

"Whoa, menurutmu apa yang hendak mereka lakukan?" tanya Al sambil menyikut James.

"Yah, Seeker tim Ravenclaw selama ini dijabat oleh si Chang-Coeters. Menurutku mereka hendak berduel menangkap Snitch. Cherry Chang-Coeters sudah menjadi Seeker Ravenclaw sejak ia berada di kelas dua, ia takkan mau memberikan posisi itu dengan mudah begitu saja pada anak baru." jelas James berspekulasi. Tapi perkataan James memang cukup beralasan. Ia dan Chang-Coeters sudah bersaing sebagai Seeker terbaik Hogwarts sejak kecil. Dan keduanya kini sama-sama Kapten. Al pernah bersumpah bahwa ia melihat ada tegangan listrik terpancar setiap kali keduanya bertemu di lapangan untuk bertanding Quidditch, dan saat kedua Kapten bersalaman di awal pertandingan, jabat tangan mereka lebih terlihat seperti adu meremukkan tulang.

Scorpius tidak berkomentar. Ia sibuk memutar-mutar fokus lensa teropongnya untuk mendapatkan penglihatan lebih jelas mengenai Leonidas dan Cherry yang kini tengah berjalan bersama-sama menuju tengah lapangan. Scorpius mengarahkan teropongnya ke gagang sapu yang dipegang oleh Leonidas.

Sapu balap yang bagus, terbuat dari kayu kuat ringan kualitas terbaik, sadelnya terbuat dari lapisan kulit kelas satu, dan setiap ranting sapunya diruncingkan dengan teknologi terbaru. Pada gagangnya yang dipelitur berkilat, Scorpius bisa membaca tulisan Galena 89. Tak salah lagi itu adalah sapu balap produksi asli Bulgaria, Scorpius pernah melihatnya di terbitan terbaru majalah 'Sapu Yang Mana'. Galena 89 adalah sapu balap mutakhir bermutu tinggi unggulan yang kini menjadi salah satu komoditas ekspor dari Bulgaria. Bisa dibilang setara kemampuannya atau mungkin sedikit lebih; dengan sapu Illusion II yang kini dipakai oleh dirinya sendiri, James dan Al; sapu balap khusus professional. Mereka sangat bersyukur memiliki orang tua yang pernah sama-sama membela tim nasional Inggris sehingga sejak kecil mereka dilengkapi peralatan terbaik.

Dan Scorpius juga tahu, sapu balap professional bukanlah konsumsi anak sekolahan biasa. Selain harganya yang selangit, sapu sekelas itu memerlukan keahlian kontrol yang tinggi dan kemampuan terbang yang terlatih. Scorpius kini merasa bulu kuduknya mulai merinding. Diliriknya kedua Potter disampingnya. Mereka berdua sepertinya juga sudah menyadari bahwa kemampuan permainan Quidditch dari Leonidas Malfoy bukanlah tipe yang bisa diremehkan. Kedua Potter muda nampak tegang di tempat duduk mereka.

Scorpius menahan nafas saat jemari Cherry Chang-Coeters melepaskan Golden Snitch ke udara. Kedua kandidat Seeker Ravenclaw saling menatap satu sama lain dan tersenyum, sebelum menjejakkan kaki mereka kuat-kuat untuk melesat mengangkasa.

James bersiul kagum saat mengikuti pergerakan kedua Seeker. Dalam sekejap mata mereka berdua sudah terbang setinggi sedikitnya lima puluh meter di atas permukaan tanah. Keduanya terbang berputar di udara sebentar untuk memantau keadaan di sekeliling mereka. Hingga pada akhirnya mata Leonidas Malfoy terpaku ke satu arah dan ia mulai mengarahkan sapu terbangnya ke sana.

"Sepertinya ia sudah melihat Snitchnya!" seru Al, ia menjulurkan lehernya sejauh mungkin untuk mencoba mengikuti pergerakan Leonidas, sementara James dengan ketangkasan pandangan seorang Seeker; tak memiliki kesulitan sama sekali melihat arah terbang Leonidas. Cherry serta merta mengikuti arah terbang Leonidas. Rupanya ia memutuskan untuk memercayai penglihatan Leonidas.

Scorpius memutar fokus teropongnya sampai maksimum. Kedua Seeker terbang meliuk-liuk dengan kecepatan sangat tinggi hingga keduanya lebih terlihat bagai kelebatan biru muda yang berseliweran di antara tiang-tiang stadion Quidditch. Leonidas jago terbang. Scorpius harus mengakui bahwa ia pantas memakai sapu balap professional. Sapu Galena 89 yang ia gunakan nampak tak ubahnya seperti perpanjangan tubuhnya sendiri, pertanda ia memiliki teknik terbang tingkat tinggi.

James berdecak dengan nada mencela sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku stadion. Ia menyilangkan tangannya sambil menggelengkan kepala jerih. Al menatap kakaknya dengan wajah bingung. James mengangkat alisnya.

"Cherry tak bisa bersaing dengan Malfoy yang itu. Perbedaan kemampuan mereka terlalu jauh." Ujarnya pendek. Al merebut teropong dari tangan Scorpius. "Apa maksudmu James?" tanyanya bingung sambil mencari-cari fokus terbaik lewat teropongnya. Scorpius memandang James. Ia bisa mengerti arti perkataan James mengenai perbedaan kemampuan.

"Kau bisa lihat Al? Cherry memaksakan diri untuk menyamai kecepatan terbang Malfoy yang itu…" Scorpius merasa ia hampir menggigit lidahnya sendiri. Aneh rasanya menyebut nama keluarga sendiri tapi dimaksudkan untuk orang lain yang sama sekali asing, "Cherry Chang-Coeters memang pandai terbang, tapi masih kalah dalam teknik penguasaan kontrol sapu, di kecepatan setinggi itu ia sudah setengah mati hanya untuk menyamai si Malfoy yang itu. Cherry sama sekali tak punya kesempatan untuk menyusul dan mengungguli lawannya, apalagi meraih Snitch saat matanya bahkan sudah sulit untuk dibuka…" terang Scorpius. Al mengangguk-angguk paham.

"Waw, mudah-mudahan Cherry tidak serta merta memberikan jabatan Seekernya begitu saja, kita semua berada dalam posisi sulit jika Ravenclaw memiliki orang seperti Malfoy yang itu sebagai Seeker." ujarnya polos. Scorpius dan James melirik Al dengan pandangan keki.

"Kau pikir kenapa kami sejak tadi pasang muka cemas?" semprot James sambil menyodok perut adiknya gemas. Scorpius hanya geleng-geleng kepala. Lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada adu kejar-kejaran Cherry dan Leonidas.

Leonidas memutar sapunya dan tiba-tiba terbang menukik dengan kecepatan tinggi. Tangan kanannya terjulur lurus ke depan, lengan jubah Quidditchnya berkibar kencang karena tekanan angin yang begitu tinggi. Cherry serta merta mengikutinya menukik dengan kecepatan tinggi. James bangkit dari tempat duduknya dan bergerak menuju pagar pinggiran besi pembatas kursi stadion. Wajahnya terlihat khawatir.

"Tak mungkin… masa iya dia mau menggunakan taktik Wronski Feint dari jarak dua ratus kaki dari permukaan tanah dan dengan kecepatan setinggi itu? Tubuh Cherry bisa hancur menghantam bumi!" serunya panik. Scorpius ikut berdiri di samping James.

James benar. Scorpius bisa mengenali ciri-ciri taktik Wronski Feint yang tengah dilancarkan oleh Leonidas. Meluncur menukik dengan kecepatan tinggi, untuk mengecoh Seeker lawan, dan membelokkan arah saat sudah mendekati tanah dengan tujuan supaya lawan menghantam tanah. Jika benar itu gerakan Wronski Feint, maka dengan kecepatan setinggi itu hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Cherry dari benturan keras dengan lapangan. Mau tak mau Scorpius juga sedikit merasa khawatir.

Tapi Leonidas membelokkan arah sapunya pada ketinggian sedikitnya lima belas meter di atas permukaan tanah. Scorpius bisa mendengar James menarik napas lega. Cherry tak akan mengalami kesulitan berbelok dengan jarak aman setinggi itu. Tapi berikutnya alis James berkerut. Scorpius kembali mengarahkan pandangannya ke udara dimana Leonidas sudah menghentikan sapunya dan tersenyum pada Cherry, yang memasang tampang lelah sekaligus gusar.

"Hah… nampaknya tahun ini aku harus lebih keras berlatih…" gerutu James sambil kembali ke tempat duduknya. Ia menaikkan kakinya sehingga bertengger di sandaran bangku stadion yang terletak di depannya. Ia menyilangkan tangan di depan dada dan menekuk wajahnya. Scorpius dan Al langsung menyadari apa yang menyebabkan reaksi James yang demikian.

Leonidas Malfoy terlihat meraih ke dalam lengan jubah Quidditchnya dan mengeluarkan bola Golden Snitch yang sayapnya terkulai lemas. Ia menggunakan teknik Plumpton Pass untuk menyisipkan Snitch ke dalam lengan jubahnya. Dan Leonidas menggabungkannya dengan teknik Wronski Feint secara brilian.

"Bloody hell, siapapun yang melatih dia bermain pastilah pemain Quidditch pro…" rutuk James lagi. Scorpius bisa mengerti kekhawatiran James. Dengan kalahnya Cherry, maka besar kemungkinan posisi Seeker Ravenclaw tahun ini akan dipegang oleh Leonidas Malfoy. Itu berarti James harus menghadapi ancaman lawan baru yang lebih berat.

Scorpius dan Al tidak begitu khawatir seperti James. Keduanya memang anggota tim inti Slytherin, meski mereka berdua bermain bukan sebagai Seeker. Al adalah Beater dan Scorpius sendiri bermain sebagai Keeper. Tapi keduanya jelas akan memastikan informasi mengenai pengamatan ini tersampaikan kepada Seeker tim Slytherin.

"Setidaknya dia ia memiliki salah satu kualitas yang wajib dimiliki keluarga Malfoy," Scorpius menjatuhkan diri di samping tempat duduk James. "Dia jago Quidditch, tapi permainannya membuatku mau tak mau berpikir bahwa dia pernah dilatih oleh pemain professional, dan kau lihat sapu Galena 89-nya? Bahkan aku belum berani menanyakan berapa harganya…" James melirik Scorpius.

"Aneh juga sih jika ada anggota keluarga Malfoy yang tak berani bertanya harga karena kau tahu setiap Malfoy bisa membeli segalanya," James tertawa, "tapi memang, aku tahu Galena 89 bukan sapu sembarangan yang bisa dimiliki oleh anak sekolahan, tapi bukan berarti anak sekolahan tak bisa memilikinya kan? Ayahku dulu memiliki sapu standar nasional timnas saat ia duduk di kelas tiga."

"Oi, tutup dulu mulut kalian, ia kemari tuh." Terdengar suara Al menimpali dan ketiganya terdiam seketika.

Leonidas Malfoy terbang santai mendekati bagian kursi stadion tempat ketiganya duduk. Ia melompat ringan dari sapunya dan mendarat mulus tepat di depan mereka bertiga.

"Hai, boleh ikut bergabung?" tanyanya ramah. Al mengangguk sambil membalas senyuman Leonidas.

"Tentu saja, hey, permainanmu tadi sangat brilian! Gabungan taktik Wronski Feint yang disambung Plumpton Pass…" dan keduanya lantas larut dalam percakapan teknis mengenai duel menangkap Snitch yang baru saja berlangsung. James dan Scorpius saling berpandangan. Al yang polos memang sangat mudah berteman, kalau tak bisa dibilang terlalu mudah percaya pada orang. Tapi saat ini Al sangat berguna untuk mengulur waktu sampai James dan Scorpius bisa mengumpulkan bahan pembicaraan agar tak canggung.

Leonidas tertawa kecil. Scorpius bisa melihatnya dengan lebih jelas dari jarak dekat. Menakjubkan. Ia bagai melihat dirinya sendiri dalam versi tiga atau empat tahun ke depan. Leonidas memiliki ciri-ciri fisik yang memang menandakan dia seorang Malfoy. Wajah yang tampan, kulit yang putih pucat, rambut pirang, dagu runcing… kecuali satu hal yang sama sekali tidak mirip Scorpius. Matanya yang berwarna cokelat. Semua Malfoy bermata biru gelap.

"Ngomong-ngomong namaku Leonidas Malfoy, panggil saja Leon,"

"Aa, namaku Albus Potter, ini kakakku James Potter dan… eh, kau sudah kenal Scorpius Malfoy? Maksudku… kalian satu keluarga kan?" tanya Al sambil menunjuk Scorpius dengan sedikit ragu. Ia melirik Scorpius yang sudah mulai memasang tampang kelabakan. Mereka sama sekali tak siap dengan pembicaraan ini. Tapi wajah Leonidas langsung terlihat cerah. Ia maju cepat kedepan menuju Scorpius.

Detik berikutnya Leonidas mencium pipi Scorpius.

Dan kedua Potter didepan mereka saling mencubit pipi satu sama lain untuk memastikan ini bukan mimpi.

--

"O…oi… apa yang kau lakukan?!!" secara refleks Scorpius melompat ke belakang, sayangnya ia tersandung sandaran kursi dan jatuh terduduk. Leonidas tertawa sambil memegang kedua pundak Scorpius erat-erat.

"Ahaha, tak apa, aku hanya merasa sangat senang karena bisa bertemu denganmu," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Kau Scorpius Malfoy, berarti kau adikku, ah ya, nama tengahku Orpheus, jadi Leonidas Orpheus, ah, sudah kuduga kau orangnya, hanya kau yang kemarin menjawab saat nama Malfoy dipanggil Professor Longbottom, ka…"

"Whoa! Satu persatu, pal! Kau lihat dia agak kebingungan…" James merasa perlu untuk menengahi. Ditepuknya pundak Leonidas untuk sedikit menahannya membombardir Scorpius yang sudah benar-benar pucat pasi. Butiran keringat mengaliri dahinya dan Al bisa melihat dengan jelas dari rambut leher Scorpius bahwa ia tengah merinding hebat. Leonidas buru-buru melepaskan cengkeramannya di pundak Scorpius.

"Oops, maaf, kurasa aku terlalu kelewat bersemangat…" ujarnya dengan nada minta maaf. "Kau tahu, ini pertama kalinya kami bertemu…" ia kembali tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. James menaikkan salah satu alisnya. Ia baru saja membuka mulut untuk berbicara saat Cherry Chang-Coeters terbang mendatangi mereka.

"Sori boys, tapi aku membutuhkan dia untuk membicarakan strategi tim," Cherry tersenyum pada mereka bertiga. Matanya yang sipit nampak seolah tertutup membentuk bulan sabit saat ia tersenyum. Sebagai seorang gadis, ia cukup cantik, dan sebagai seorang atlet, dia pemain Quidditch yang hebat, diwarisinya dari ibunya yang konon dulu juga bermain sebagai Seeker Ravenclaw. Leonidas tersenyum sambil melambaikan tangannya berpamitan, ia meraih Galena 89-nya siap untuk terbang saat Al tiba-tiba teringat sesuatu.

"Aah, kau… ada waktu kosong Sabtu besok di hari kunjungan ke Hogsmeade?" tanyanya. Leonidas menatap bingung. Cherry menutup mulutnya seolah menahan tawa.

James menyikut adiknya, "Tolol, kau seperti tengah mengajak kencan!" semprotnya. James lantas beralih ke Leonidas. "Ah, kami hendak berkumpul untuk makan siang, mungkin kau bisa bergabung dengan kami?" Leonidas mengangguk paham.

"Aku mengerti, nanti beritahukan padaku tempat dan jamnya ya," ia lantas melesat turun ke tengah lapangan untuk berkumpul dengan anggota baru tim inti Ravenclaw yang sudah terpilih.

Cherry Chang-Coeters kini beradu pandang dengan James. Hingga beberapa detik kemudian salah satu sudut bibir Cherry membentuk senyuman penuh kemenangan, ia berujar; "Tahun ini Piala Asrama akan kembali menjadi milik kami."

--

Scorpius mencoret-coret perkamennya gusar saat tiba waktunya makan malam di meja panjang Aula Besar, di hadapannya dua anak laki-laki Potter duduk berderet rapi sambil mengunyah gratin tuna yang jadi salah satu menu hari ini. Al menatap malas pada sahabatnya yang masih berkutat dengan surat yang hendak ditulisnya.

"Ayolah Score, memangnya apa yang hendak kau katakan pada ayahmu sih?" Scorpius melirik Al. Ia meletakkan pena bulunya yang mewah dengan setengah putus asa.

"Banyak sekali, aku benar-benar ingin tahu dari trah Malfoy mana si Leonidas itu berasal, dan kenapa aku tak pernah tahu keberadaan dia sementara dia mengenalku, dan kenapa dia tidak tinggal di Malfoy Manor seperti halnya seluruh keluarga Malfoy lain, dan… menurutmu haruskah kuceritakan bahwa ia menciumku saat kami pertama kali berbicara tadi?" James memasang tampang jijik.

"Yea right, Daddy akan sangat senang sekali membaca curahan hati anaknya soal itu…"

Scorpius mendengus, bagaimanapun kalimat itu memang terdengar lucu. Ia akhirnya menulis beberapa kata dan langsung mengikatkannya di kaki burung hantu elang miliknya yang memang sudah sejak awal menanti sabar di meja sebelah Scorpius. Tentunya ia sudah disuguhi beberapa lembar daging asap oleh sang majikan.

"Jadi apa yang kau tulis?" tanya Al sambil menyuapkan sepotong pai daging cincang ke mulutnya. Scorpius meraih piringnya sendiri dan mulai mengisinya dengan makanan sebelum menjawab sahabatnya; "tak banyak, kubilang ada anak pindahan bernama Malfoy juga, itu saja."

"Dan setelah setengah jam kau hanya bisa menulis itu? Brilian…" ledek Al.

--

Scorpius dan Al baru saja hendak memasuki pintu ruang bawah tanah menuju Asrama Slytherin saat burung hantu elang Scorpius kembali membawakan balasan surat dari ayah Scorpius. Al menatap takjub saat Scorpius melepas kembali burung elangnya untuk tidur di kandang burung hantu Hogwarts.

"Whoa, cepat sekali…" Al merapat ke sisi Scorpius yang sudah mulai melepas gulungan perkamen berstempel huruf M besar-nya.

"Lho?" keduanya saling bertatapan dengan bingung saat membaca tulisan ayah Scorpius yang benar-benar pendek.

Son,

Jangan percaya apapun yang ia katakan sebelum kami berdua bertemu.

D.M

-- tbc --

Note: Next chapter release: at my birthday ^^ or... setelah review ke 23 (oke, itu tanggal ultah gw).

Cherry Chang-Coeters is mine, ceritanya dia anak dari Cho Chang dan 'a man named Coeters'. Sebenernya diambil dari nama grup musik The Changcuters…
Tampang Leonidas Malfoy bisa dilihat di deviantart gw. Alamatnya cari di profile. Gw berusaha bikin secakep yang gw bisa XD XD XD

Hayoh, yang udah baca sampe sini klik tombol review.