Sebelumnya :

"Bukan yang itu, tapi lemari es yang satunya lagi," jelas Sasuke. 'Hampir saja' batinnya.

"Tapi kan sama-sama lemari es Teme," Naru tidak mau disalahkan.

"Sudahlah, biar kuambilkan kau kembalilah," tawar Sasuke.

"Baiklah," Naru Setuju. Dia kembali keruang tamu.

Disclaimer :

Masashi Kishimoto

Genre :

Adventure & Friendship

Pair :

SasuFemNaru, ItaKyuu (bisajadi)

Sasuke kembali keruang tamu dengan segelas air dingin ditangannya. Naruto heran apa dia tidak merasa kehausan, padahal dari tadi disekolah, dia tidak melihat Sasuke makan atau minum sesuatu, tapi mungkin tadi dikamarnya, dia sudah sekalian minum, dia sendiri juga tidak tahu.

Kebetulan juga sekarang ia ingin diajari pelajaran yang tadi disekolah karena dia belum terlalu mengerti. Dia ingin meminta bantuan pada Sasuke sekarang untuk mengajarinya, karena dia tahu Sasuke adalah murid yang pandai dari soal diberikan guru tadi disekolah, dia bisa mengerjakannya dengan benar. Naruto ingin meminta bantuan pada pelajaran matematika karena dia kurang mengerti.

"Teme, aku ingin minta bantuan, tolong ajari pelajaran yang tadi di sekolah, aku kurang mengerti," pinta Naru.

"Hn"

"Ya teme, kau mau kan?"

"Baiklah," jawab Sasuke.

.

.

.

.

.

"Kau sudah mengerti?," tanya Sasuke mengakiri penjelasannya.

"Aku mengerti, terimakasih atas bantuannya," ucap Naruto, sambil memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas.

Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul pemuda yang berambut panjang yang mirip Sasuke, berjalan terhuyung-huyung. Naruto berpikir mungkin itu kakak Sasuke, karena wajahnya memang mirip dengan Sasuke, tapi bedanya dia memiliki guratan melintang di wajahnya, yang lebih mirip dengan keriput (?).

Sasuke yang melihatnya langsung berdiri menghampiri kakaknya dan langsung memapahnya.

"Aniki. Kau kenapa?," Sasuke bertanya lirih. Belum sempat menjawab pertanyaan Sasuke, kakaknya malah pingsan. Sementara Naruto yang penasaran mulai mendekat.

"Dobe, pulanglah sekarang," perintah Sasuke.

"Tapi kan aku ingin membantu," padahal Naruto ingin membantu.

"Cepatlah pulang sekarang," perintah Sasuke lagi, lebih keras. Naruto yang mendengar itu langsung ketakutan. "Baiklah," Naruto menurut. Dari pada dia mendapat marah Sasuke, lebih baik dia pulang sekarang

Perjalanan menuju rumahnya terasa semakin jauh, karena rumah Sasuke yang berlawanan arah dengan rumahnya, hal ini sangat menguras tenaga. Harusnya tadi saat dia sekolah, dia membawa sepeda saja, itulah yang ada dipikrannya sekarang. Ia ingin naik kendaraan umum saja, karena itu sekarang dia sedang duduk di halte menunggu bus. Tak lama ada bus yang berhenti, ia segera naik, ia ingin segera pulang ke rumahnya.

Setelah sampai dirumah, ia segera masuk ke kamarnya. Sepi, ia heran, begitu bangun dia sudah tidak melihat kakaknya, sebenarnya apa yang kakaknya lakukan selama ini, ketika pulang sekolah dia tahu jika kakaknya tidur. Tapi kali ini kakaknya tidak ada dirumah, kemana lagi dia. Naruto baru saja ingin istrahat, ketika ia mendengar suara pintu yang dibuka paksa, ia segera saja keluar kamar. Siapa yang berani menggangu waktu tenangnya, ia ingin membunuh orang yang mengagetkannya.

Begitu dia melihat siapa pelakunya, ia mengurungkan semua yang ia pikirkan tadi, yang terlihat sekarang adalah kakaknya, dengan keadaan yang berantakan, dengan baju yang sobek, dan ada luka diwajahnya.

"Kyuu-nii, kau kenapa? Kau berkelahi?," dari nadanya, Naruto terlihat khawatir dengan keadaan Kyuubi.

"Tidak bodoh," jawabnya dengan nada sinis. Kyuubi yang baru pulang merasa langsung diinterogasi Naruto.

"Lalu kenapa kau seperti baru saja berkelahi?"

"Akan kujelaskan nanti," sekarang Naruto yang heran, tidak biasanya Kyuubi begitu padanya.

.

.

.

.

.

Sasuke menidurkan kakaknya disofa ruang tamu tempat dia dan Naruto tadi belajar bersama. Sasuke belum pernah melihat kakaknya seperti ini. Ia memandangi kakaknya, wajahnya pucat, itu tidak membuat Sasuke khawatir, hal itu merupakan hal yang sudah biasa untuk makhluk seperti mereka. Yang membuat dia heran, apa yang kakaknya hadapi, sehingga membuat kakaknya seperti ini, mungkin kakaknya bertarung sengit dengan hunter sehingga keadaannya seperti ini.

Itachi mulai membuka matanya, sekarang yang terlihat hanya wajahnya yang bingung, atau mungkin dia tidak sadar ketika menuju rumahnya sendiri.

"Sasuke..," panggilnya.

"Ada apa? Kau bertarung lagi?," tanya sasuke pada kakaknya, sebelumnya Itachi tidak pernah bertarung dan selalu bersembunyi dari manusia, tapi sekarang dia mulai keluar. Dia hanya bisa menganggukan kepala tanda jawaban ya.

"Sudah kubilang jangan terlalu ikut campur urusan mereka,"

"Kau sendiri, kenapa hari ini membawa teman kerumah?," Itachi balik bertanya, baru kali ini Sasuke membawa teman sekolahnya kerumah.

"Bukan urusanmu"

"Baiklah terserah," "Jangan lupa kau harus menambah stock makanan lagi Sasuke," lanjutnya.

"Jadi aku harus kerumah sakit lagi? Kenapa kau tidak melakukannya sendiri?"

"Terlalu berbahaya jika aku keluar lagi," jawab Itachi enteng, tanpa mempedulikan Sasuke yang mulai mengeluarkaan aura gelap.

.

.

.

.

.

Sementara di rumah Naruto, dia masih menunggu kakaknya yang tertidur tadi siang setelah dia obati, sampai sekarang dia masih menunggui kakaknya karena belum bangun juga, sebenarnya dia ingin membangunkannya, tapi dia takut jika nanti kakaknya marah-marah jika ada yang mengganggu tidurnya, jadi dia membiarkan saja kakaknya tidur.

Kyuubi mulai bangun, pertama kali yang dia lihat sekarang adalah adiknya dengan wajah kelelahan sedang menunggunya.

"Kenapa kau tidak ikut tidur saja?," tanyanya pada Naruto yang masih melihatnya.

"Jika Nii-san bangun dan membutuhkan sesuatu, tapi aku tidur siapa nanti yang akan menolong Nii-san?," dari nadanya masih terdengar khawatir.

"Aku bisa sendiri jika aku membutuhkan sesuatu, kau jangan khawatir lagi Naru, sekarang tidurlah"

"Tidak, mana penjelasan yang kau janjikan?," tagihnya pada Kyuubi.

'Dasar, dia masih ingat saja' pikir Kyuubi.

"Kenapa Nii-san sampai babak belur seperti ini?," dia tidak sabar mendengar penjelasan Kyuubi.

Kyuubi masih terdiam, cukup lama dia terdiam.

"Ini berhubungan dengan buku yang aku berikan padamu kemarin, dan alasan kenapa orang-orang di Konoha tidak berani keluar saat malam hari," Kyuubi mulai bicara,"Kita tidak sendiri di dunia ini Naru," lanjutnya.

"Jadi makhluk seperti itu memang benar ada maksud Nii-san, Nii-san jangan bercanda," Naruto masih belum percaya dengan apa yang telah dikatakan Kyuubi.

"Kau bisa mencaritahu sendiri Naru, mungkin salah satu mereka ada diantara teman-temanmu di sekolah"

"Jangan menakutiku Nii-san"

"Aku tidak menakutimu Naru, aku serius. Aku seperti ini karena bertarung dengan salah satu dari mereka"

"Lalu apa yang Nii-san lakukan dengan mereka, Nii-san membunuhnya?"

"Melenyapkan mereka, itulah tugas hunter"

"Jadi Nii-san selama ini menyembunyikan semua ini dariku?"

"Maaf Naru, aku tidak ingin kau terlibat, aku saja sudah cukup"

Naruto tidak menjawab, dia berdiri dan langsung pergi keluar kamar Kyuubi begitu saja, sementara Kyuubi hanya mengira jika mungkin Naruto marah padanya, dan lagi mungkin besok pagi dia tidak akan bicara dengan Naruto.

Esoknya, begitu Kyuubi bangun sarapan sudah tersedia di meja makan, tapi dia tidak menemukan Naruto dirumah, mungkin dia masih marah padanya.

.

.

.

.

.

'Kau bisa mencaritahu sendiri Naru, mungkin salah satu mereka ada diantara teman-temanmu di sekolah,' kata-kata Kyuubi semalam masih saja dia pikirkan. Mungkin dia bisa menemukan salah satu dari mereka disekolahnya, tapi bagaimana ya caranya.

Lalu ia ingat buku yang diberikan Kyuubi padanya, disana ada ciri vampir yang dia baca, mungkin itu bisa menjadi petunjuk untuknya.

Ketika dikelas teman-temannya rupanya ada yang datang lebih dulu dibanding dirinya, padahal tadi dia sudah datang pagi sekali untuk menghindari Kyuubi dirumah, tapi karena mungkin saat dia berangkat sekolah dengan jalan kaki, dan terlalu banyak melamun saat berjalan, itu membuatnya menjadi lambat, dasar Naruto. Dia langsung saja duduk dibangkunya, Sasuke tentunya sudah datang lebih dulu.

"Kenapa denganmu, hari ini sepertinya kau jadi kurang semangat," Sasuke yang melihat Naruto datang dengan lesu jadi heran, dia yang biasanya semangat, malah seperti orang yang belum makan sebulan.

"Tidak apa-apa, aku sedang ada masalah dengan kakakku"

"Memangnya kenapa dengannya?"

" Semalam aku menemukannya masuk kerumah dengan keadaan babak belur, setelah itu aku agak salah paham dengannya. Aku baru tahu dia tidak bisa jujur dengan adiknya sendiri, dan lagi kenapa kau jadi ingin tahu?"

"Tidak apa-apa, hanya penasaran"

Naruto yang mendapat jawaban seperti itu dari Sasuke malah tambah lesu, lalu dia mulai mengeluarkan bukunya untuk pelajaran pertama hari ini. Sasuke yang melihatnya tambah terheran-heran.

Karena guru yang mengajar tidak bisa datang, jadilah sekarang jam kosong. Naruto mengisinya dengan pembicaraan ringan dengan Sasuke, dan sekarang menjurus ke pertanyaan soal vampir yang sampai sekarang Naruto belum bisa percaya soal keberadaan mereka.

"Ne, Teme vampir itu menurutmu makhluk hidup ataukan sudah mati?"

"Sepertinya kau ingin tau sekali, menurutmu sendiri mereka bagaimana?"

"Dasar kau, ditanya malah balik bertanya. Kalau menurutku sih mereka mungkin sudah mati. Dari buku yang diberikan Kyuu-nii mereka tidak makan dan tidak minum, mereka bertahan hidup dengan meminum darah. Vampir tidak perlu bernafas, tidak memiliki detak jantung, dan pastinya suhu tubuhnya rendah, seperti orang mati. Dan lagi pasti mereka berwajah pucat," Naruto merinding sendiri ketika mengatakan kalimat terakhir, yang dia bayangkan vampir seperti orang mati, pasti pucat dengan taring seperti hantu.

"Hn"

"Sialan kau, aku sudah bicara panjang lebar tau!"

"Memang siapa yang menyuruhmu bicara banyak"

"Grrrrr...!," "Teme aku membuatkanmu sesuatu, lihat ini!," Naruto menunjukan gelang monte berwarna hitam yang dia buat. "Bagaimana kau suka tidak?," lanjutnya.

"Benda apa ini?"

"Ini gelang kau tidak bisa lihat? Atau kau tidak suka ya? Sudahlah biar kubuang saja"

"Aku tidak bilang jika aku tidak suka"

"Jadi kau mau menerimanya"

"Hn"

"Aku anggap itu iya, biar aku yang pasangkan"

"Terserah" Naruto memasangkan gelang yang dia buat ditangan Sasuke. 'Dingin sekali tangan Sasuke' batin Naruto.

"Hei, Teme kau tidak apa-apa kan? Apa kau sakit? Tanganmu dingin sekali," dari nadanya dia terlihat khawatir.

"Aku baik-baik saja," lalu Sasuke pergi begitu saja. Tanpa Naruto sadari jam sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Yang dia rasakan tadi, tangan Sasuke dingin sekali seperti orang mati juga kulitnya yang pucat. Dan sampai sekarang dia belum juga menemukan Sasuke makan atau minum sesuatu.

"Hai, kau anak baru, kenapa hanya melamun kenapa tidak pergi kekantin dengan yang lain?," seru anak berambut pink.

"Eh? Aku melamun ya. Tidak, aku membawa bekal dari rumah. Umm..~ ngomong-ngomong siapa namamu?

"Ah iya, kita belum berkenalan, aku Haruno Sakura. Salam kenal"

"Namikaze Naruto"

.

.

.

.

.

Sasuke's Pov

Seperti biasa aku menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah menghindari keramaian. Lagipula aku juga tidak akan mati jika tidak makan makanan mereka. Yang kupikirkan sekarang adalah para hunter yang semakin mengetatkan penjagaan mereka, ini jelas-jelas akan membuat kaumku semakin terdesak. Dan lagi apa mereka tidak melihat siapa saja vampir yang melanggar dan yang patuh. Rasanya aku ingin melakukan pemberontakan saja, begini sama jika kaumku dijadikan budak manusia.

Soal pemberontakan, apa mungkin ini terjadi, dan aku belakangan ini juga menemukan beberapa vampir yang tidak berubah dengan sempurna. Jika begini aku harus segera melaporkan ke dewan. Hah, sudahlah sekarang lebih baik aku tidur saja.

Normal Pov

Sekolah hari ini sudah selesai, dan murid-murid sudah banyak yang berhamburan keluar sekolah. Naruto belum juga beranjak dari bangkunya padahal semua temannya sudah pulang. Hanya tinggal dirinya dengan Sasuke sekarang yang masih ada dikelas.

"Kau tidak pulang, dobe?," bukannya menjawab Naruto malah diam saja, "Kau baik-baik saja?"

"Eh? Iya aku akan pulang"

"Dasar dobe," Naruto tidak menanggapi, mungkin dia sudah mulai terbiasa dipanggil dobe oleh Sasuke sekarang, padahal biasanya dia akan langsung marah.

Sasuke dan Naruto berjalan beriringan bersama melewati lorong-lorong sekolah, kelas mereka lumayan terbelakang dibanding bangunan lain yang berada dibagian depan sekolah. Jadilah mereka saling berdiam-diaman sekarang.

Naruto's Pov

Aduh bagaimana ya, apa aku tanya langsung saja siapa sih dia ini sebenarnya, teman-temanku disuna saja tidak ada yang semisterius seperti Sasuke ini. Tapi nanti jika dia marah bagaimana, haah...~ pokoknya aku harus bertanya ke Sasuke siapa dia ini sebenarnya.

"Umm..~ Teme," aduh kalimat yang cocok bagaimana ya.

"Hn"

"Maaf, tidak jadi," ayo Naruto masak kau tidak berani sih.

End of Naruto's Pov

Sekarang mereka sudah sampai di gerbang sekolah, "Hei teme, kau bukan vampire kan?," Naruto memberanikan diri untuk bertanya. Padahal dalam hatinya juga ada rasa takut, tapi yah bagaimana lagi, namanya juga penasaran.

Sasuke tidak langsung menjawab, ia terdiam sebentar seperti berpikir.

"Menurutmu sendiri aku bagaimana?," lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Naruto.

Sementara yang ditinggal, dari raut wajahnya dia terlihat marah sekali, rasanya Naruto ingin mengumpat saat itu juga, kalau tidak ada orang lewat, tapi sayang ada banyak orang yang lewat dan juga ada anak kecil, jadi dia mengurungkan semua niatannya. Lebih baik dia pulang sekarang.

.

.

.

.

.

Sementara itu ditempat lain yang jauh dari pusat kota Konoha. Terlihat orang yang berwajah pucat dan berambut hitam panjang sedang memandangi banyak orang yang sedang berada dalam kurungan besar.

Yang aneh adalah orang-orang yang berada dalam kurungan mereka terlihat menakutkan dengan mata merah, dan dimulut mereka terdapat sisa darah yang sudah mengering, tidak hanya itu mereka juga tidak terkendali seperti orang gila yang akan menyerang siapa saja jika mereka tidak dikurung.

Orang yang berwajah pucat itu menyeringai melihat orang-orang yang berada di dalam kurungan itu.

"Sebentar lagi pertunjukannya akan dimulai," ucapnya sambil tersenyum puas.

...

Kuro disini author baru, masih amatiran :D

Ini juga fanfic pertama saya, jadi ya mohon maaf buat bahasanya dan ejaannya masih ada yang salah.