Tik! Tok! Tik! Tok!
Entah sudah berapa lama waktu berjalan di tengah keheningan yang mengantungi kelima remaja laki-laki berambut warna-warni dan memiliki variasi besar tubuh yang berbeda-beda itu. Seakan waktu telah dibekukan, tidak ada satu pun dari mereka yang tak bergeming di tempatnya masing-masing. Hanya suara denting jarum jam yang terus bergerak memutar yang menandakan bahwa sesungguhnya waktu masih tetap berjalan seperti sedia kala.
Hanya satu alasan yang dapat menjadi jawaban mengapa terjadi atmosfir berat yang menyelubungi ruangan tersebut. Sebuah pernyataan tak terduga yang dilontarkan salah seorang anak laki-laki yang memiliki rambut berwarna kelabu, diketahui bernama L-Elf.
"Gue ulangi. Mulai besok, gue resmi keluar dari Karlstein Academy dan genk ini."
.
.
Disclaimer:
Kakumeiki Valvrave © Ichiro Oukochi
Kakumeiki Valvrave© Sunrise
My Revolution Plan Is Wrong as I Expected © Convallarie
Warning!
OOC, Indo!JIOR!AU (?), alur ngalor-ngidul, bahasa ancur, jayus, typo's
don't like don't read
.
Enjoy!
.
A-Drei, enam belas tahun, dilansir tengah mengalami galau luar biasa diakibatkan seseorang yang bernama L-Elf. Dinyatakan dalam kasus ini, orang yang ia anggap sebagai belahan jiwanya sejak masih dalam kandungan itu ternyata tega meninggalkannya untuk sebuah alasan yang tidak jelas.
Padahal, dulu, ketika mereka masih duduk di bangku taman kanak-kanak, L-Elf pernah berkata padanya, meski langit runtuh dan orang-orang planet Mars datang untuk menginvasi bumi dikarenakan kenaifan seorang tuan puteri yang hobi menonton burung dan suka melakukan tindakan NTR, L-Elf tidak akan pernah membiarkan A-Drei melepaskan kepangannya. Dimana letak ucapan tersebut yang masih tersambung ke pokok permasalah sebenarnya tidak ada yang tahu.
Aku tanpamu... setengah... ham-egg...
"Berisiiiiik!"
BRAK!
Rest in peace, handphone android merk Samsudin. Diketahui berkepemilikan atas nama H-Neun. Penyebab kematian karena menjadi korban amarah kegalauan A-Drei setelah diketahui memutar sebuah lagu yang dijadikan soundtrack film Ham-egg : Lambang Cinta Sejati.
"Nuooo! Perjuangan gue selama setahun gak jajan!" pekik H-Neun histeris.
-o-o-o-
"Ah! Kamu kan—!"
L-Elf tidak percaya takdir. Tetapi hari ini, ia terpaksa harus menarik kembali kata-katanya itu. Ia tidak menyangka jalan menuju perubahan yang telah ia rencanakan malah menuntunnya bertemu kembali dengan orang yang pernah bermain mat—tatap-menatap dengannya beberapa waktu lalu setelah kepergok nyolong jambu.
Apa ini hukuman yang diberikan sang takdir kepada dirinya? Atau kah sejak awal rencana 'revolusi' yang ia idam-idamkan itu salah?
Tanpa menghiraukan tudingan si anak berambut cokelat dan berbagai macam suara bisik-bisik dari seisi kelas, L-Elf dengan tampang sekalem mungkin berjalan menuju kursi yang ditunjukkan untuk dirinya.
'Oke, tetap tenang L-Elf. Anggap aja lo lagi main lotre, pasang tampang poker face sesempurna mungkin. Pura-pura nggak kenal. Orang ganteng gak akan punya kenalan orang cupu.'
-o-o-o-
H-Neun berlari menyusuri koridor, sesekali ia menabrak siswa lain—yang sudah maklum dengan kelakuan miring orang satu ini dan kawan-kawannya yang kadang kumat. Saat melewati tangga, ia bahkan melompati anak tangga tiga-tiga sekaligus.
BRAK!
Sontak ketiga orang lainnya yang berada dalam ruangan itu memalingkan pandangan mereka pada H-Neun yang baru saja muncul dan telah menghancurkan pintu ruangan pribadi mereka. Beruntung di antara A-Drei, X-Eins dan Q-Vier tidak ada yang memiliki riwayat penyakit jantung.
"Lo kenapa?" Tanya Mam—X-Eins. Dipandangnya Pap—H-Neun yang masih terengah-engah karena kecapean.
"Paling abis dikejar-kejar ibu kantin lagi gara-gara nggak mau bayar utang." Celetuk Q-Vier yang matanya tidak lepas dari layar PSP kesayangannya.
"Gue tau kemana L-Elf pergi!" ucap H-Neun dengan suara lantang dan ekspresi wajah seperti habis menemukan foto memalukan Pak Guru Cain. Niatnya sih pengen ngebuat efek dramatis gitu.
"SERIUS?!" A-Drei yang sedari tadi masa bodo karena tengah asyik menonton video kenangannya bersama L-Elf pun langsung menyerbu ke arah H-Neun. Rupanya ia sangat antusias. Diketahui hingga saat ini A-Drei belum bisa move on.
Namun sayangnya akibat aksi A-Drei yang agak brutal barusan, dia malah tidak sengaja ngebuat H-Neun pingsan gara-gara narik kerah seragam H-Neun terlalu kencang dan mengakibatkan H-Neun tercekik.
"Woy! Bangun kampret!"
-o-o-o-
Sesuai dugaan, baru satu minggu ia menjejakkan kaki di Sakimori Akademi, L-Elf sudah berhasil menarik banyak perhatian orang-orang di sana. Bahkan, sehari setelah kedatangannya sudah terbentuk sebuah fans club untuk dirinya. Tapi jujur saja, ia tidak datang ke tempat itu untuk menjadi seorang idola. Dia memiliki tujuan lain yang lebih bermakna.
Hanya saja, masih ada suatu hal yang terus mengganggunya. Tokishima Haruto. Anak laki-laki yang dipertemukan takdir padanya. Sejak saat itu Haruto terus melontarkan pertanyaan yang sama dan mengekorinya kemana pun ia pergi. Saat di kelas, di kantin, di lapangan saat jam pelajaran olahraga, di perpustakaan, bahkan sampai ke toilet pun Haruto tetap mengikutinya. L-Elf tidak mau jika harus dilabeli homo gara-gara itu.
"Sudah kubilang, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, Tokishima Haruto."
L-Elf telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar mulai saat ini. Kecuali innernya dan jika ia dalam keadaan kepepet atau khilaf. Pencintraan itu penting.
"Tidak. Aku yakin kamu itu orang yang pernah ketahuan mencuri jambu di rumahku bersama teman-temanmu." Tak ada keraguan sedikit pun dalam kalimat yang diucapkan Haruto. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar serius.
"Lupakan saja tuduhan tak berdasarmu itu, Tokishima Haruto. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk terus melayanimu." kata L-Elf seraya berbalik hendak meninggalkan Haruto.
Namun di luar dugaan L-Elf. Haruto yang biasanya akan berhenti jika L-Elf sudah berkata seperti itu tiba-tiba saja meraih dan menarik tangannya. Detik setelahnya Haruto sudah berhasil mengunci pergerakan L-Elf dengan gaya yang sangat populer yang biasa disebut kabedon.
"Tatap aku." L-Elf melengos. "Kubilang, tatap aku, L-Elf." L-Elf teguh pada pendiriannya, ia tidak mau diperintah oleh orang yang tidak lebih ganteng darinya.
Nahasnya, Haruto ternyata tidak secupu penampilannya. Dia jauh lebih jantan dari ekspetasi L-Elf selama ini. Buktinya, dia berani menyentuh wajah L-Elf dan memaksanya untuk bertemu pandang dengan dirinya.
'Demi kolor Pak Guru Cain! Gue merasa homo kalau diginiin!' batin L-Elf menjerit.
Akan tetapi, demi pencitraan 'cool' yang telah ia tanamkan selama di sekolah barunya ini, L-Elf malah menyunggingkan sebuah senyuman meremehkan. "Sekarang apa, Tokishima Haruto? Merasa menang karena berhasil memojokkanku seperti ini?"
"Sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang spesial." Tukas Haruto enteng.
"Lalu, sampai kapan kau akan menahanku seperti ini? Tidak kah kau malu jika seseorang melihat hal ini?"
"Maksudmu?" Haruto mengernyitkan dahi, "Aku melakukannya hanya untuk menggertakmu."
L-Elf semakin tidak mengerti, entah makhluk bernama Tokishima Haruto ini terlalu polos atau memang bodoh. Tapi, yang lebih penting sekarang sisi pertahan Haruto telah melonggar. Kesempatan baginya untuk merubah keadaan. So, L-Elf langsung bergerak cepat dan sekarang sudah berganti posisi dengan Haruto.
"A-apa maksudnya ini?" jelas sekali dari wajahnya Haruto tampak kaget dengan gerakan L-Elf yang begitu tiba-tiba.
"Bagaimana rasanya berada di posisiku sebelumnya?"
Untuk beberapa saat Haruto terdiam. Samar-samar, semburat kemerahan mulai menghiasi wajahnya dengan napas yang sedikit terengah. "Se-sesak."
Gara-gara tingkah Haruto yang lagi-lagi di luar ekspetasinya, akibatnya L-Elf lagi-lagi kehilangan fokus dan membiarkan Haruto kembali memutar balikkan keadaan. "Kau bermain curang, eh?"
"Aku hanya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya kau lakukan padaku."
L-Elf menyunggingkan sebuah seringaian, "Jangan senang dulu, Tokishima Haruto." Dengan sekali gerakan dan hentakan, L-Elf kembali mengambil sisi si pengunci.
"Tidak semudah itu, L-Elf." Haruto kembali membalas dan behasil merebut posisi L-Elf.
Begitulah seterusnya. Mereka berdua terus melakukan hal tersebut layaknya orang idiot. Bahkan L-Elf sudah melupakan resiko apa yang akan ia terima jika ada orang lain yang tau tentang hal yang mereka lakukan itu.
Tidak dapat dipungkiri, jika ada yang melihatnya, baik L-Elf mau pun Haruto akan dilabeli homo karena yang mereka lakukan memang ambigu sekali untuk sepasang makhluk bergender laki-laki.
-o-o-o-
L-Elf is everything. Sepertinya itu lah slogan favorit sang tuan muda –manja— A-Drei. Tiada hari tanpa dirinya tidak memikirkan makhluk abu-abu berotak jenius itu. Seperti sebuah lagu yang tenar pada masanya. Mau makan teringat padamu, mau tidur teringat padamu, mau apa pun teringat padamu, kekasihku...
Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini A-Drei memang senang mendengarkan lagu tersebut. X-Eins yang memang dasarnya nggak suka sama lagu galau, sempat mencak-mencak ke A-Drei, meski akhirnya harus ia juga yang mengalah karena masalah status sosial A-Drei yang lebih tinggi. Diskriminasi memang.
"Guys! Gue udah gak tahan sama kelakuan si A-Drei! Makin lama makin annoying jadinya kalau diperhatiin."
Q-Vier dan X-Eins mengangguk setuju akan perkataan H-Neun barusan.
"Rasanya pengen Kuvia getok pake PSP. Tapi sayang, mahal. Takut rusak." Sejak kapan Q-Vier suka pakai kata ganti orang ketiga?
"Yah... mau gimana lagi, kan? A-Drei udah cinta mati sama L-Elf kayaknya." Kata X-Eins.
"Nggak nyangka aja."
Q-Vier mengerjap-ngerjapkan matanya sok polos biar keliatan imut. "Maksudnya?"
"Fix, A-Drei itu homo."
"Rasanya sih memang iya." X-Eins membenarkan.
"Hm! Kuvia juga ngerasa gitu."
"Tunggu, sejak kapan gaya bicara lo jadi pake kata ganti orang ketiga? Dan... Kuvia? Sok imut amat." Tukas H-Neun.
"Nah! Di situ lah kebodohan lo. Pembangunan karakter itu penting kalau mau memberikan kesan ke fans tauk! Jadi Kuvia lagi belajar buat membangun karakter unyu-unyu gitu berhubung karakter 'dingin' udah dicomot L-Elf."
"Untuk ukuran lo yang masih sebangsa sama anak SD sih cocok-cocok aja. Tapi agak gimana gitu." Komentar X-Eins yang entah merupakan pujian atau hinaan.
"Nah kan! Nanti juga pada kebiasa sama gaya bicara Kuvia yang baru ini." Sepertinya Q-Vier tidak begitu peka dengan sindiran. Maklum masih cilik.
"Kalau gitu karakter yang cocok buat gue itu cowok tampan!" ucap H-Neun sambil menjentikkan jarinya. Tidak memperhatikan tampang kedua temannya yang sudah memasang wajah ingin muntah. "Ya, sudah diputuskan!"
"Yang cocok buat gue ya udah pasti, si jenius." Ujar X-Eins sambil membenahi posisi kaca matanya.
"Kalau buat gue apa?"
Serentak, tiga orang penggambaran keluarga bahagia itu mengalihkan pandangan mereka. Ternyata A-Drei tiba-tiba saja tertarik dengan hal lain selain L-Elf.
"Karakter yang cocok buat lo itu... hmm..."
'Crybaby Obocchama.'
'Tsundere girly boy.'
'Si manja.'
Seperti memiliki kemampuan telepati, H-Neun, X-Eins dan Q-Vier mengangguk secera bersamaan sambil melemparkan pandangan ke satu sama lain sebelum beralih ke A-Drei. "Tuan muda manja yang cengeng dan kecenderungan memiliki karakter tsundere!"
Setelah itu A-Drei pun ngamuk. Sebagai permintaan maaf, ketiga kawannya itu telah berjanji akan mengajak A-Drei untuk mengunjungi sekolah baru L-Elf pekan depan.
-TBC-
.
.
.
Yahallo! Saya is back!
Masih ingat kah dengan fanfic nista satu ini?
Setelah setahun menggantungkan fanfic ini akhirnya saya kembali memiliki motivasi (?) untuk melanjutkannya. Semoga masih ada yang berminat untuk membacanya.
Special thanks untuk kei-v3, Kyuushirou, virayuuki30, Shirayuki88, Watashi, Yuki Jaeger dan para silent reader yang sudah membaca chapter satu. Saya mohon maaf karena telah meng-PHPkan kalian yang mungkin mengharapkan update-an fanfic gaje nan nista ini. Insha allah saya akan melanjutkan fanfic ini sampai rampung. Do'a kan saja penyakit mager saya gak kumat lagi. :"
Oh ya, maaf kalau chapter dua ini akhirnya malah jayus. Saya bukan ahli lawak sih ya, jadi ya begini adanya. Maklum, saya lebih cenderung suka sesuatu yang angst. /plak
Kalau saya lagi-lagi kelamaan nggak update-update fanfic ini, saya tidak keberatan jika readers sekalian merongrong saya lewat akun twitter saya di Solitarie_ . Saya kadang butuh sedikit paksaan. Hehehe
Oke, saya rasa cukup. See you next chapter! ^^
