Seventeen belong to God, Pledis and their parents
When I Fall © Bianca Jewelry
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: masih T
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Jisoo yang merasa tidurnya terganggu karena suara berisik yang berasal dari dapur akhirnya membuka mata dan mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke matanya. Kemudian lelaki bermarga Hong itu mendudukkan diri dan melipat selimutnya, setelah itu ia pergi ke dapur.
"Selamat pagi, sudah bangun?" tanya Jisoo ketika melihat Jeonghan yang membelakanginya.
Jeonghan menoleh dan tersenyum. "Pagi. Maaf aku memberantakkan dapurmu Soo-ya."
Jisoo mendekati Jeonghan dan berdiri di sebelah gadis itu. "Biar aku bantu."
"Tidak usah, kau cukup duduk di meja makan dan biarkan aku melakukan ini, oke?" tolak Jeonghan.
Jisoo terdiam sebentar lalu berujar, "Maaf merepotkanmu."
Jeonghan mengibaskan sebelah tangannya dan tertawa. "Bukan apa-apa. Aku lebih sering merepotkanmu."
Jisoo tersenyum. Lalu ia menepuk kepala Jeonghan dan meninggalkan dapur—dan Jeonghan dengan jantung yang berdetak lebih cepat—untuk pergi ke kamar mandi sebelum Jisoo mendudukkan diri di kursi meja makan dan menyantap sarapan yang sudah dibuat oleh Jeonghan—telur mata sapi, sosis, dan roti panggang.
Keduanya memakan sarapan mereka dalam diam, sampai akhirnya Jisoo berdeham karena merasa risih dengan Jeonghan yang tak kunjung bicara—karena biasanya, jika bersama Jisoo, Jeonghan akan bercerita apa pun.
"Besok sibuk?" tanya Jisoo.
Jeonghan mendongakkan kepalanya dan menatap Jisoo. "Tidak, kenapa?"
"Kau tidak mau pergi ke mana begitu? Biar aku temani."
Jeonghan langsung tersenyum senang. "COEX atau Lotte?"
"Terserah kau, akan kutemani ke mana saja kau mau."
"Jam berapa?"
"Besok aku free seharian."
"Jam sepuluh, kalau begitu."
"Aku jemput?"
"Ketemu di Lotte saja bagaimana?"
"Baiklah."
Lalu keduanya terdiam. Duh, Jisoo jadi benci dengan suasana seperti ini. Jisoo lebih suka melihat gadis yang terlihat seperti malaikat itu tersenyum daripada diam seribu bahasa. Jadi, Jisoo cepat-cepat menyelesaikan sarapannya kemudian ia mencuci piringnya. Setelah Jisoo selesai, gantian Jeonghan yang mencuci piring sementara Jisoo mendudukkan diri lagi di kursi meja makan sambil menyeruput susunya.
"Habis ini aku pulang ya," ujar Jeonghan.
"Aku antar."
"Boleh menolak?" tanya Jeonghan sambil membalikkan badannya dan menatap Jisoo.
"Tidak," jawab Jisoo sambil tersenyum.
Jeonghan menghela napas. "Lagi-lagi aku merepotkanmu."
"Tidak merepotkan, 'kan aku yang menawarkan diri."
"Baiklah, aku ambil bajuku dulu," ujar Jeonghan dan mengambil bajunya yang sudah dicuci oleh Jisoo semalam. Untung saja sudah kering semua.
Setelah itu, Jisoo mengantar Jeonghan menuju apartemennya.
"Terima kasih, Soo," ujar Jeonghan setelah mereka sampai di depan pintu apartemen Jeonghan.
"Sama-sama," balas Jisoo. Namun, Jisoo tak juga melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Jeonghan.
"Um, tidak pulang?"
"Kau masuk saja dulu."
Jeonghan mengangguk lalu meraih gagang pintu apartemennya. "Aku masuk ya," katanya dan hendak menekan beberapa angka agar pintu itu terbuka.
"Hei," panggil Jisoo.
"Ya?" Jeonghan menoleh dan menatap Jisoo.
"Kau bisa menghubungiku jika ingin curhat."
Jeonghan tertawa lalu mengangguk. Kemudian ia menekan beberapa angka dan memasuki apartemennya. "Sampai jumpa Soo."
Jisoo mengangguk.
"Bajumu kukembalikan besok."
Jisoo mengangguk lagi.
Jeonghan melambaikan tangannya lalu menutup pintunya. Setelah pintu apartemen Jeonghan tertutup, Jisoo mulai melangkahkan kakinya menuju apartemennya.
.
Seungcheol membuka matanya perlahan dan tersenyum mendapati seorang gadis manis masih terlelap di dalam pelukannya. Ia menyibak poni Doyoon lalu mengecup keningnya. Lalu Seungcheol menatap wajah Doyoon sambil memainkan rambut gadis itu.
"Tidak bosan menatapku terus?" tanya Doyoon dengan mata masih terpejam.
"Kenapa harus bosan? Tuan Putriku terlihat manis apalagi saat tidur."
Doyoon membuka matanya lalu mencubit pinggang Seungcheol dengan wajah merona.
Seungcheol mengaduh sambil tertawa. "Sakit, sayang."
"Salah sendiri, pagi-pagi sudah gombal."
"Itu kenyataan. Dan sepertinya ini sudah hampir siang," kata Seungcheol lalu mengecek jam di ponselnya. "Jam sebelas. Mandi sana."
"Kau dulu," kata Doyoon.
Seungcheol bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Doyoon menyamankan diri dalam bed cover Seungcheol dan melanjutkan tidurnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Seungcheol keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan tersenyum ketika melihat Doyoon masih memejamkan mata dengan bed cover menutupi tubuhnya hingga ke leher.
"Aku sudah selesai Do."
Doyoon hanya diam dan malah menarik bed covernya hingga menutupi hidung.
"Doyoon-ie~"
"…"
"Chagiyaa~"
Seungcheol yang gemas karena Doyoon tidak juga bangun akhirnya menarik kaki gadis itu. "Kau mau kumandikan hm~?"
Doyoon melempar bantal yang digunakannya ke arah Seungcheol dan mendudukkan diri. "Dasar mesum!"
Seungcheol cuma tertawa lalu mengambil bantal yang jatuh di dekat kakinya. "Cepat mandinya. Setelah itu kita cari makan. Aku lapar," kata Seungcheol.
"Hm."
Akhirnya Doyoon beranjak ke kamar mandi sementara Seungcheol mengganti pakaiannya dengan kaos dan jeans lalu menunggu Doyoon sambil tiduran di atas ranjang dan memainkan ponselnya. Lima belas menit kemudian, Doyoon kembali ke kamar Seungcheol dengan bajunya yang kemarin. Lalu ia membubuhkan bedak dan lip balm pada wajah dan bibirnya dan tak lupa menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
"Sudah," kata Doyoon sambil memasukkan parfum ke dalam tasnya.
Seungcheol memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mendekati Doyoon. "Mau makan di mana?"
"Kau yang pilih."
"Naik motor ya? Mobilku ada di rumah."
Doyoon mengambil kunci mobil dari tasnya dan menyerahkannya pada Seungcheol.
"Motor saja lah~"
"Kenapa?" tanya Doyoon sambil menautkan kedua alisnya.
"Biar bisa kau peluk," jawab Seungcheol dengan kekehan.
Doyoon menatap Seungcheol dengan pandangan malas lalu menyentil pelan dahi Seungcheol. Seungcheol tertawa sambil pura-pura mengaduh lalu mengambil kunci mobil dari tangan Doyoon. Kemudian Seungcheol menarik tangan gadis itu dan menggandengnya.
"Tidak jadi naik motor?" tanya Doyoon.
"Di luar panas. Mau panas-panasan?" tanya Seungcheol balik sambil melirik Doyoon.
Doyoon menggeleng.
"Nah."
Setelah keluar dari apartemen Seungcheol, Doyoon menunjukkan tempat di mana mobilnya terparkir. Lalu Seungcheol mulai mengemudikan mobil itu ke salah satu restoran favoritnya. Setelah mencari tempat kosong dan memesan makanan, Seungcheol menyandarkan kepalanya pada bahu Doyoon dan memeluk gadis itu dari samping. Beruntung tempat yang mereka duduki kurang diperhatikan orang, jadi Doyoon diam saja dan membiarkan Seungcheol bersandar padanya.
Beberapa menit kemudian, makanan datang dan mereka mulai makan sambil bercerita. Lebih tepatnya Seungcheol bertanya bagaimana kehidupan Doyoon saat di Amerika.
"Masih sisa tuh," kata Seungcheol sambil melirik piring Doyoon yang berisi sayuran.
Doyoon cengar-cengir dan menyodorkan piringnya kepada Seungcheol. "Untukmu."
Seungcheol menyumpit brokoli itu dan menyodorkannya ke depan mulut Doyoon. Doyoon menjauhkan kepalanya dan mendorong tangan Seungcheol.
"Tidak dimakan, tidak kuantar pulang."
"Yang benar itu kau yang tidak kuantar pulang. 'Kan itu mobilku."
Seungcheol meletakkan kembali brokoli serta sumpitnya di piring dan bersedekap. "Cheol-ie tidak mau main sama Dodo kalau sayurnya tidak dimakan."
Kalimat yang selalu Seungcheol katakan untuk membujuk Doyoon agar mau memakan sayurnya ketika mereka masih kecil. Entah kenapa ketika mendengar itu Doyoon jadi berurai air mata.
Tidak mendapat respon dari si gadis, akhirnya Seungcheol menoleh dan mendapati Doyoon menundukkan kepalanya dengan bahu bergetar.
"Hei, kau kenapa?" tanya Seungcheol sambil mengelus kepala Doyoon. "Maaf, aku tidak akan memaksamu."
Doyoon menggeleng dan mengambil tisu untuk menyeka air matanya. Seungcheol menarik kepala Doyoon ke dalam dekapannya dan menenangkan gadis itu dengan mengelus punggungnya. "Kenapa hm?"
"I-ini nyata 'kan?" tanya Doyoon.
Seungcheol tertawa sambil mengacak rambut Doyoon. "Tentu saja. Ini Cheol-ienya Dodo," katanya lalu menangkup wajah Doyoon sambil tersenyum. "Jadi mau dimakan atau tidak?"
Doyoon mengangguk dan membuka mulutnya. Seungcheol menyumpit brokoli dan memasukkannya ke dalam mulut Doyoon.
"Enak?" tanya Seungcheol sambil tersenyum geli.
Doyoon menggeleng dan menelan brokolinya dengan susah payah.
"Seharusnya jadi enak, 'kan sudah aku suapi."
"Terus kenapa kalau disuapi olehmu?"
"Ya mungkin jadi ada rasa manisnya begitu. Atau kau jadi bahagia karena disuapi orang tampan," ujar Seungcheol sambil tertawa.
"Kok jadi ingin muntah ya?"
Seungcheol tertawa lagi. "Bercanda ya ampun. Jahat sekali. Ayo cepat dihabiskan," ucap Seungcheol dan menyuapi Doyoon lagi.
Setelah menghabiskan sayurannya dan membayar makanan mereka. Mereka kembali ke apartemen Seungcheol dan Doyoon pulang ke rumahnya dengan perasaan bahagia.
.
Keesokan harinya, seperti yang sudah dijadwalkan oleh Jeonghan dan Jisoo, mereka bertemu di depan Lotte World. Jeonghan sudah tampak biasa saja, malah ia merasa jantungnya berdebar ketika melihat Jisoo tersenyum ke arahnya.
"Soo, main ice skating yuk," ajak Jeonghan setelah Jisoo bertanya tempat mana dulu yang ingin dia kunjungi.
Jisoo mengiyakan dan mereka menghampiri skating rink yang berada di lantai bawah.
Setelah mengganti sepatu mereka dengan sepatu skating, mereka mulai meluncur di atas es. Keduanya memutari rink, balapan, dan tertawa bersama. Sampai akhirnya mereka merasa lelah dan memutuskan untuk menepi dan memperhatikan orang-orang yang saling berkejar-kejaran di atas es dan tertawa seperti tidak ada beban.
"Han," panggil Jisoo.
Jeonghan menoleh dan memperhatikan Jisoo yang memandang lurus ke depan. "Ya?"
"Um, boleh kupanggil Han-ie?" tanya Jisoo dan menatap Jeonghan.
Pipi Jeonghan memerah samar. Entah kenapa Han-ie yang diucapkan Jisoo terdengar seperti honey di telinga gadis itu. Jeonghan mengangguk.
"Sering-sering tersenyum ya, kau lebih cantik kalau tersenyum," ucap Jisoo. Dan entah mendapat keberanian dari mana, Jisoo menyelipkan rambut Jeonghan ke belakang telinganya. Lalu dengan cepat Jisoo menarik tangannya. "Sorry."
Jeonghan memukul lengan Jisoo dengan pelan dan meninggalkan lelaki itu untuk mengganti sepatunya.
Jisoo berdeham dan merutuk dalam hati, lalu ia menyusul Jeonghan untuk mengganti sepatunya juga. Setelah itu mereka meninggalkan ice skating rink dengan keadaan canggung. Tapi tidak berlangsung lama, karena Jeonghan dengan cepat mencairkan suasana dengan mengajak Jisoo bercanda dan sesekali menggodanya. Lalu mereka berdua mengelilingi Lotte World dan memasuki satu per satu toko yang ada. Setelah puas berbelanja, mereka mengisi perut mereka yang sudah berbunyi lalu Jisoo mengantar Jeonghan ke apartemennya.
"Terima kasih, Soo. Sudah mau menemaniku," kata Jeonghan dan memaksakan sebuah senyum ketika mereka sampai di depan pintu apartemen Jeonghan.
Jisoo tersenyum. "No problem, Angel. Kita teman 'kan?"
Jeonghan tersenyum miris. Tidak tahukah Jisoo bahwa Jeonghan menyukainya? Bukan sekadar menyukai, Jeonghan telah jatuh cinta pada pemuda Hong itu, bahkan saat Jeonghan masih bersama Seungcheol.
"Jangan bersikap terlalu baik padaku Soo. Nanti aku bisa salah sangka."
Jisoo tersenyum, entah apa maksud dari senyum itu. "Masuklah."
Jeonghan mengangguk. "Sampai jumpa."
"Sampai jumpa," balas Jisoo. Ia menunggu Jeonghan masuk ke apartemennya baru setelah itu ia pulang ke apartemennya sendiri.
.
"Noona," sapa seorang lelaki dengan kulit kecoklatan yang bernama Kim Mingyu.
Jeonghan menoleh, "Oh, Gyu. Lama tidak lihat," katanya lalu tersenyum.
"Bukannya kau yang jarang kelihatan?"
Jeonghan tersenyum. "Sudah tidak ada kegiatan di kampus."
"Begitu," ujar Mingyu sambil mengangguk.
Mereka sedang berada di kantin, dan setelah memesan makanan, mereka mendudukkan diri di salah satu tempat kosong.
"Apa kabar?" tanya Mingyu setelah memakan suapan pertamanya.
"Baik, kau?"
"Baik juga. Tapi kau tidak kelihatan seperti baik-baik saja."
"Baik-baik saja kok," ucap Jeonghan sambil memamerkan senyumnya.
Mingyu terkekeh. "Sudahlah, tidak perlu menyembunyikannya kalau memang sedang tidak baik."
Jeonghan berdecak sebal. "Peka sekali sih."
"Kau pikir kita sudah dekat berapa lama hm?"
"Makan makananmu, jangan cerewet," omel Jeonghan.
Mingyu terkekeh lagi. "Sensi sekali, kau kenapa?"
"Bisa tidak usah dibahas?"
"Tidak bisa, karena aku peduli pada noonaku. Jadi aku harus tahu."
Jeonghan menyeruput minumnya dan menatap Mingyu dengan pandangan malas.
Walaupun bilang begitu, pada akhirnya Mingyu tidak memaksa Jeonghan untuk bercerita. Setelah menghabiskan makanannya, Mingyu menatap Jeonghan sambil menggigiti sedotannya.
Jeonghan menarik kedua sudut bibirnya. "Kau kenapa?"
Mingyu berdeham dan mendorong gelasnya. "Noona, kita akhiri saja ya?"
Gadis yang lebih tua dua tahun itu tertawa. "Kita 'kan memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Memang apa yang harus diakhiri?"
Mingyu tersenyum dan menghembuskan napas lega yang tadi sempat ditahannya. Seandainya tidak ada Wonwoo yang menjadi incarannya, Mingyu ingin sekali memeluk gadis bermarga Yoon itu.
"Kau menyukai Wonwoo?" tanya Jeonghan.
Mingyu mengangguk.
"Jangan menyakiti Wonwoo, dia gadis yang baik," kata Jeonghan.
Mingyu mengangguk lagi.
"Aku duluan ya," pamit Jeonghan sambil membawa nampannya yang berisi piring kotor untuk dikembalikan ke tempat yang seharusnya.
"Sampai jumpa. Terima kasih, noona."
Jeonghan tersenyum lalu meninggalkan Mingyu.
.
Satu minggu sudah berlalu, Jisoo dan Jeonghan menjadi semakin akrab setelah Jeonghan mengubah statusnya dari taken menjadi single. Terkadang Jeonghan menghabiskan waktunya di café dekat kampus dengan ditemani Jisoo, mereka juga menghabiskan beberapa malam mereka dengan makan malam bersama atau saling mendengar suara masing-masing lewat sambungan telepon maupun video call, seperti yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Jisoo!" seru Jeonghan heboh setelah Jisoo terlihat di layar smartphonenya.
"Hai, Han-ie."
"Sedang apa?"
Jisoo menunjuk gitarnya lalu memainkan satu kunci. "Bermain gitar."
"Aku bosan, nyanyikan lagu dong."
"Lagu apa?"
"Terserah, kau nyanyi apa pun lagunya jadi enak kok."
Jisoo tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Cie, ada yang malu aku puji begitu," goda Jeonghan sambil tertawa.
Jisoo ikut tertawa dan mulai memainkan sebuah lagu yang berjudul Officially Missing You. Selama Jisoo menyanyikan lagunya, ia terus menatap Jeonghan. Jeonghan juga menatap Jisoo dengan dada berdebar.
"And I'm officially missing you~"
Jeonghan bertepuk tangan ketika Jisoo selesai menyanyikan lagu itu. "Lagi~"
"Lagu apa?" tanya Jisoo.
"Terserah."
Jisoo terdiam sebentar sambil berpikir, lalu ia mulai memetik gitarnya ketika sebuah lagu terlintas di benaknya. Kemudian Jisoo mulai menyanyikan lagu dengan judul Overcome.
Jeonghan jadi berdebar-debar lagi, kenapa lagu yang Jisoo nyanyikan harus lagu dengan arti seperti itu. Akhirnya, setelah Jisoo menyelesaikan lagu Overcome, Jeonghan mengajak Jisoo berbicara dan tidak meminta Jisoo menyanyi lagi. Daripada Jisoo menyanyi lagu yang tidak baik untuk hati Jeonghan dan berujung wajah Jeonghan menjadi panas dan terbawa perasaan.
"Sudah dulu ya Han," ujar Jisoo sambil memeluk gitarnya.
Jeonghan mengangguk. "Terima kasih, suaramu bagus. Aku yakin akan tidur nyenyak malam ini."
Jisoo tertawa. "Kau berlebihan. Sudah ya."
Jeonghan mengiyakan dan melambaikan tangannya, lalu layar smartphonenya berubah menjadi hitam. Ia merutuk dalam hati dan mengipasi wajahnya yang mendadak terasa panas dengan kedua tangan.
.
Ketika melewati taman fakultasnya, Jeonghan melihat seorang laki-laki yang belakangan ini selalu menari-nari di dalam pikirannya. Ia memutuskan untuk menghampiri lelaki itu, karena tidak ada kerjaan juga, daripada langsung pulang ke apartemen.
"Jisoo~"
Jisoo terlonjak kaget ketika namanya dipanggil. Ia menoleh dan melihat seorang gadis bermarga Yoon sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Hai."
"Sedang apa?" tanya Jeonghan dan mendudukkan diri di hadapan Jisoo.
Jisoo menunjuk bukunya dengan jari dan melanjutkan bacaannya.
Jeonghan menatap Jisoo yang membaca buku lalu bertanya dengan nada hati-hati. "Kau baik-baik saja?"
"Kurang baik, kalau boleh jujur."
"Mau mendengar cerita lucu?" tanya gadis dengan rambut sebahu itu sambil menyangga dagu dengan tangannya.
Jisoo menutup bukunya dan mulai memperhatikan Jeonghan yang mulai bercerita. Jisoo menatap mata Jeonghan, lalu turun ke hidung, lalu turun lagi ke bibir gadis itu. Jisoo jadi membayangkan bagaimana jika bibirnya bersentuhan dengan bibir gadis itu.
Jeonghan melambaikan tangannya di depan wajah Jisoo. "Soo, kau mendengarku?"
Jisoo tersadar dari lamunannya. Entah dirasuki setan mana, ia memberanikan diri untuk meraih tengkuk Jeonghan kemudian menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.
Sekitar tiga detik, Jeonghan memproses apa yang terjadi, ia membelalakkan mata lalu mendorong Jisoo dan berlari meninggalkan lelaki itu.
Jisoo jatuh terduduk dan menutup mulutnya dengan punggung tangan. Mungkin setelah ini, Jeonghan akan membencinya. Tapi jujur saja, Jisoo tidak menyesal telah mencium Jeonghan.
.
TBC
.
Jihan time~ maaf ya kalo agak maksa u_u
Why do I feel this chapter is so cheesy af *cry* kayaknya ga bisa ga cheesy kalo ngetik momen Seungcheol gombal.
Terima kasih, masih ada yang setia menunggu ;v; walaupun responnya tidak semeriah season 1.
Next chapter 96line in Jeju (maybe xD).
Kritik, saran, dan masukan ya kalau ada. Will update soon! See you.
