Judul : Otonari -san

Chapter : 2

Pairing : Naruto x Nozomi

Genre : Ecchi, parody, romance, lemon dll.

Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto

Rating : T

A/N :

Gak tau harus ngomong apa :v

.

.

.

.

.

Dan keesokan harinya di siang bolong..

"KAA-CHAN! AKU MAU PULANG!"

Aku menelpon Kaa-chan dengan perasaan tercampur aduk, aku dapat mendengar suara kebingungannya menanggapi apa yang terjadi pada anaknya.

"Tokyo menakutkan! Aku mau pulang saja ke Kobe!" ucapku yang merasa telah menjadi korban pelecehan.

"Apa yang kau bicarakan, Naruto? Memang apa yang kau lakukan?"

"Ah, Uh.. itu.." Entah bagaimana, aku tidak bisa menjawabnya. Karena dari sudut pandang manapun pihak lelaki yang salah, 'bukan?

"Sudah Kaa-chan bilang kau tidak perlu khawatir dengan kehidupan kota, kau anak yang pintar pasti bisa melewatinya. Kaa-chan sedang sibuk, nanti Kaa-chan telpon lagi ya!"

"Tidak! Tunggu, Kaa-chan!"

Tuuut.. Tuuut..

Dia mematikan telponnya...?!

Kemudian aku meringkuk gusar sambil memijit kepalaku, keringat dingin keluar karena kekhawatiranku yang melanda.

"Sial! Sial! Apa lebih baik kalau aku pindah saja?"

Itu tidak mungkin, uang sewa sudah dibayar. Kalau mau pindah juga harus nunggu sebulan.

"Aku tidak datang ke Tokyo untuk jadi korban orang mesum!" jeritku frustasi yang malah mengacak-ngacak rambutku sendiri.

Lalu bel apartementku berbunyi, dan muncul seseorang di balik pintu dari luar.

"Boleh aku masuk?"

"Ya terserah, masuk.. masuk.." ucapku menjawab pertanyaan orang tersebut, seketika aku tersadar bahwa aku baru saja membolehkan orang asing masuk.

"Hari ini cukup melelahkan~" ucapnya yang sedang menaruh sepatu selopnya pada posisi keluar di bawah tatami, dia berbalik dan langsung mendekat padaku.

"GYAAA! KENAPA KAU KE SINI?!" teriakku sambil mengesot ke belakang hingga pojok tembok untuk menghindarinya.

Dia menampakkan senyum manisnya, meskipun aku tidak bisa mengatakan sekarang bahwa senyum itu menjadi menakutkan. Dia menunjukkan kantong kresek yang muncul daun bawang di atasnya dengan mengangkatnya.

"Aku berpikir mungkin kau ingin makan sesuatu" ucapnya dengan senyuman yang sangat manis hingga membuatku terbuai, "Karena itu, aku membeli bahan untuk membuat kare"

Eh, apa dia akan memasak untukku? Siapa malaikat baik hati ini? mungkin yang terjadi kemarin hanyalah mimpi dan sebenarnya dia orang yang baik~

Dan di detik berikutnya dia berkata, "Sekarang, cepat buatkan aku makanan"

"APA KAU MENCOBA BERCANDA PADAKU.. Kono Onna!"

Tapi pada akhirnya aku membuat Kare untuknya, meskipun aku sebenarnya sangat khawatir dengan keberadaannya di tempatku saat ini.

"Bukankah kau itu perempuan? Seharusnya bisa masak sendiri bukan?! Dan jangan seenaknya menyuruh orang lain memasak!" entah bagaimana sekarang aku tidak bicara dengan nada lembut setelah mengetahui sifatnya yang aneh.

"Ini terlihat enak~! Sudah lama aku tidak makan masakan rumah.." ucapnya yang terlihat berbinar-binar melihat sepiring nasi dengan kare di atasnya dan toping telur rebus setengah matang.

"Hey, kau dengar aku tidak?!"

Masa bodo! Lebih baik aku makan sekarang, aku menyendok nasi kare ke dalam mulutku sambil melihatnya yang juga makan dengan wajah bahagia. Beberapa kali, dia mengucapkan kata-kata enak.

"Hmm~ ini enak.."

Aku tidak ingin mengakuinya, tapi aku sangat senang mendengar pujiannya.

"Huh, benarkah?" aku mencoba memastikannya.

"Kupikir kau akan jadi suami yang baik"

"Kau benar-benar berpikir begitu?" Aku menggaruk belakang kepalaku untuk menetralisir perasaan senang atas pujian itu, "Oh, kau terlalu memujiku, Tojo-san~"

Aku kembali makan dengan khimat, beberapa kali aku meliriknya yang berada di depanku. Sebenarnya kalau diperhatikan dia ini cukup manis, matanya yang berwarna kehijauan itu besar dan bulat, rambut ungu panjangnya juga menjadi daya tarik. Dia terlihat seperti perempuan yang sulit disentuh. Meskipun itu berbeda dengan kenyataan, awalnya kupikir aku menyukainya.

Dia bilang kemarin, tahun ini adalah tahun ketiganya di kampus-itu berarti dia lebih tua dua tahun dariku. Bulu matanya lentik juga, hidungnya mancung namun terlihat mungil, dan bibirnya-

AH! Kenapa aku membayangkan hal itu?! karena hubungan intim yang kami lakukan kemarin, aku jadi bayangin. Ingat, Naruto! Kau ke Tokyo untuk belajar lalu lulus dan mendapat pekerjaan. Kau juga ingin punya cewek yang normal, bukan seperti perempuan aneh di hadapanmu ini.

Aku harus berpikir jernih..

.

.

.

.

.

Aku menggosok piring kotor di westafel, sedangkan Nozomi sedang membaca buku di lantai tempatku sambil bersandar di tumpukan kardus bekas menaruh barang-barang pindahanku.

Aku melirik padanya, dia menekuk kakinya sehingga roknya tersingkap dan memperlihatkan paha mulusnya. Dia juga hanya memakai tanktop alakadarnya, yang tali tanktop di pundak sebelah kirinya menjuntai ke bawah terlepas dari pundaknya, hal itu membuatku bisa melihat belahan dada besarnya.

Itu membuatku jengkel lalu aku melampiaskannya dengan menggosok piring menggunakan busa sabun dengan lebih kuat. Apa dia tidak baca situasi? Dia sedang berada di tempat cowok!

Aku meliriknya lagi, dia terlihat tersenyum dengan sengaja. Sudah kuduga, dia sengaja! Dia mencoba mempermainkanku! Apa karena aku lebih muda darinya?!

"...Um.. Tojo-san..Apa kau suka melakukan hal itu? Ecchi.." oke, akhirnya aku bertanya hal yang bodoh.

"Iya, ada apa?"

Jangan mengakuinya, dong!

"Oh.. itu.. tentang kemarin, Um.. Kenapa kau melaku-"

"Hmm? Karena kau memiliki wajah polos, dan kau terlihat masih perjaka jadi aku tidak bisa menahan diri.. tingkahmu yang mempertahankan keperjakaan itu lucu jadi aku ingin usil sedikit~" jawabnya tanpa mendengar pertanyaanku sampai selesai, dan itu benar-benar menusuk ulu hatiku!

"Maaf saja, kalau aku ini masih perjaka!" teriakku yang tak terima tapi tak bisa membalas, "Omong-omong, tolong jangan lakukan itu lagi. Seperti yang kau lihat, aku ini ingin kehidupan yang baik!"

Aku mengatakannya dengan lantang sambil terus memcuci piring, di belakang aku mendengar suara buku yang ditutup lalu langkah kaki yang mendekat padaku dan berhenti di belakang. Entah, apa yang Nozomi ingin lakukan.

"Dan aku juga ingin dapat pacar di kampus! Aku tidak ingin main-main dengan kenakalan remaja yang kau lakukan!" lanjutku yang baru saja selesai meletakkan piring terakhir di rak dekat westafel.

Aku merasakan tangan Nozomi yang melingkar pada tubuhku dari belakang, ini membuatku cukup terkejut hingga terdiam oleh pelukannya. Aku merasakan dadanya yang ditekan olehnya pada punggungku, seketika aku merasa aku merona oleh kelakuannya itu.

"Kenapa..?" Dia berucap di dekat belakang leherku sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus, "Apa yang salah? Bukankah melakukannya terasa enak?" lanjutnya membuat pikiranku kosong karena dia menggesekkan tubuhnya pada bagian belakang tubuhku.

Tangan dengan jari lentiknya mulai bergerak mengelus dada bidangku yang masih tertutupi oleh switer yang aku kenakan. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan membuatku berdegub kencang, ditambah dengan apa yang dia katakan.

"Aku ini..hah..sangat tertarik..hh..dengan seks.." tangannya berhenti mengelus dadaku dan terdiam di sana, "Dengar? Jantungmu berdetak dengan cepat, karena seks adalah situasi yang mendebarkan, 'bukan?"

Apa yang pelacur ini katakan? aku tidak mengerti! Jangan samakan aku dengan orang aneh sepertimu!

Tangannya mulai bergerak perlahan dari dadaku menuju bagian bawah, dengan mudahnya dia memegang penisku yang masih terhalang di dalam celana olahraga yang aku kenakan. Bodohnya lagi penisku mengeras hanya karena godaannya, aku dapat merasakan Nozomi tersenyum puas mengetahui itu.

"Apa ini? adik kecilmu bahkan tau apa yang dia mau, aku tidak berpikir seks adalah hal yang salah.."

Jangan seenaknya bicara!

Kenapa aku tidak bisa bergerak, apa aku takut? Padahal aku laki-laki..

Nozomi melepaskan pelukannya lalu menarikku untuk berbalik menghadapnya, aku dapat melihatnya menampakkan senyum seperti biasanya. Itu terlihat seperti iblis yang siap menerkamku kapan saja. Perempuan ini adalah monster dibalik penampilan polosnya. Dia turun bersimpuh lutut, sambil membelai dan mendekatkan wajahnya pada penisku yang sudah sesak di dalam sana.

"Nee, Uzumaki-san.. Kau sempat berpikir terasa nikmat saat bersatu denganku, 'bukan?"

Pupil mataku mengecil karena entah bagaimana aku membenci situasi ini, juga diriku sendiri yang tak mampu melawannya. Dia tersenyum melihat reaksiku yang kalah dengan semua argumentasinya.

"Kau pria yang baik, kau sangat jujur.. Ini pertama kalinya, aku bertemu orang sepertimu.." setelah berkata seperti itu Nozomi menjilat bibirnya sendiri sambil menatapku, "Orang baik sepertimu terlihat semakin lucu ketika menahan nafsunya.." lanjutnya mengelus wajahnya pada celanaku yang menonjol karena penisku yang menegang.

Tangannya merambat pada ujung celanaku lalu menurunkannya kebawah, memperlihatkan penisku yang menegang dengan precum yang keluar dari kepala penisku. Nozomi terlihat senang begitu melihat penisku, dia menampakkan wajah yang penuh nafsu.

Nozomi mencium batang penisku dari samping lalu merambat hingga ujung kepala penisku, lalu dia perlahan membuka mulutnya hingga batang penisku tertanam seluruhnya di dalam mulutnya. Tak lama setelah itu, dia melakukan gerakan in-out perlahan. Aku merasakan gerakan lembut dari lidahnya ketika dia melakukan gerakan maju-mundur.

Suara mesum seperti becek yang beradu antara mulutnya dengan penisku menjadi pengiring di ruang apartement kecilku. Dia memundurkan kepalanya hingga hanya kepala penisku yang ada di dalam mulutnya. Dia mengemutnya hingga membangkitkan libidoku ditambah dia juga mengocoknya dengan tangannya yang lembut.

"Mmm..Ng~ Hn.." desahan tertahannya terdengar sangat mesum.

"Agh.. hah...Aku mau keluar..hha.." Tanpa sadar aku terbuai oleh kenikmatan, lalu tanganku meremas kepala Nozomi yang kembali melakukan gerakan in-out.

"Ugh.. lebih cepat..Ah..sssst.." Tanganku mulai memandu Nozomi melakukan gerakan lebih cepat—aku merasa sesuatu yang akan menyembur keluar—mengetahui itu Nozomi membenamkan batang penisku ke dalam mulutnya, "Ah..Ukh.." aku menutup mataku pada penisku yang terasa mulai berkedut.

Tunggu.. jangan.. Jangan disedot, bodoh..!

Dan bersamaan dengan itu aku menyemburkan cairan putih itu di dalam liang mulut Nozomi yang menyedotnya, "Ng~"

Gluk

Nozomi menelan cairan itu tanpa merasa jijik. Beberapa menetes dari sudut bibirnya. Dia juga melakukan hal yang sama kemarin. Apa itu memang enak? Jelas gak mungkin! Setelah itu, aku merosot terkulai karena syok. Ini tidak serius, 'kan?

"Ada apa, Uzumaki-san?"

Mendengar suaranya yang memanggilku bahkan sudah membuatku merasa tertekan, aku menatapnya yang berdiri di hadapanku. Aku tambah tercengang ketikan dia membuka pengait pada roknya hingga terjatuh pada lantai.

"O-oi!" aku mencoba untuk memperingatkannya.

Dia sama sekali tak mendengarkanku, justru dia menyingkap tanktop yang dia kenakan ke atas sehingga aku bisa melihat payudaranya yang telanjang. Dia memasang pose sexy tersenyum dengan wajah merona, "Kau mau melakukan seks lagi denganku, 'bukan?"

"...Y...Ya.."

Saat itu aku berpikir sebenarnya akulah yang bodoh.

.

.

.

.

.

Sudah satu jam berlalu, kami sudah tak memakai sehelai benang pun. Pakaian kami sudah berserakan di lantai. Dan hanya dengan futon, di bawahku terdapat perempuan dalam posisi menungging denganku yang berada di atasnya.

"Ah..ah..Ng~..Ah~" desahannya ketika aku melakukan gerakan in-out saat penisku di dalam liang senggamanya, dia memeluk bantal sambil menatapku yang berada di belakangnya dengan wajahnya yang merona. Betapa biadabnya perempuan ini.

Aku memeras buah dadanya dengan cara memutar lalu mengangkatnya hingga kami berada di posisi terduduk. Nozomi menggerakan tubuhnya sendiri naik-turun dengan pelan. Aku masih fokus meremas buah dadanya dan menjilat tengkuk lehernya. Tanganku berinisiatif mencubit putingnya lalu memelintirnya menimbulkan desahan indah Nozomi yang keras.

"Aaaah~" dia mendesah lalu menengok ke arahku dengan tersenyum nakal, "Kau..hn.. memang suka.. ah! Dengan dada besar ya, hehe.." ucapnya yang sama sekali tidak aku pedulikan.

Kemudian aku menahan pinggul Nozomi dengan tangan lalu bergerak naik-turun dengan cepat. Tubuh Nozomi bergerak naik-turun sehingga dada besarnya bergoyang nakal. Lelah dengan posisi duduk, kami mengubah posisi lagi. Kali ini, Nozomi tiduran tengkurap denganku yang berada di atasnya.

Setelah memastikan posisi yang enak, aku kembali mempompa Nozomi yang mendesah hebat. Hebat, dia sangat basah sehingga aku mudah menghujamnya. Aku merasa akan segera orgasme, lalu mempercepat gerakanku.

"Ah~ ah~ ah~ hn.. Iya, Uzumaki-san lebih cepat..ah! Setubuhi aku.. ah! Hn~" seakan terhipnotis oleh perkataannya aku bergerak lebih cepat, "Hari ini vaginaku milikmu~ ah! Ah! Semuanya milikmu..Uh..hhm.." Aku menunduk hingga dapat mencium aroma Nozomi tepat di perpotongan lehernya, tanganku beralih menggenggam erat pada sela jari-jari Nozomi yang mengerat pada sprei futon.

"Ukh...aku mau keluar..!" ucapku dengan memejamkan mata, peluh mulai menetes karena kami bergerak seperti orang kesetanan. Aku merasakan vagina Nozomi mencengkram erat penisku.

"Hn~ ah..enak~ aku mau keluar juga..ah~ ah~"

"Ssst.. sedikit lagi.. uogh.. Tojo-san..aah.."

"Ah~ ah~ Hng! iku! Iku! ikuuuu..!"

Aku merasakan penisku mulai berkedut untuk orgasme, "Aku keluar...Tojo-san...aaaakh!"

"Iya..Ah..! berikan spermamu padakuuuu~" Nozomi orgasme dengan tubuhnya yang bergelinjang.

Aku langsung mengeluarkan penisku dari vagina Nozomi, spermaku menyembur mengenai punggung Nozomi. Aku tak dapat memikirkan apapun saat ini, selain menikmati perempuan yang ada di bawahku ini.

Aah, Kaa-chan.. Maaf..

Anakmu datang ke Tokyo untuk belajar, tapi sekarang dia malah menikmati seks dengan perempuan yang baru dikenalnya. Tokyo tempat yang menakutkan, aku berpikir butuh waktu lama untuk terbiasa pada hal menakutkan itu. Jika bisa, aku ingin kembali ke Kobe. Berjuanglah, Naruto!

.

.

.

.

.

TBC

Masih ingin lanjutkah, readers? harus review yee, tapi jangan hina erocc dong~ soalnya erocc do-M :")