Hazu: tadaaah... eps 2 udah jadi... hahaha maaf yah jadinya lama.., habis akhir2 ini Hazu lagi kebanjiran tugas en ulangan.. hehe. en, maaf yah Hazu banyak ngomong 'brengsek', habis, Hiruma demennya ngomong kata2 itu sih.. Hazu jadi harus nulis gitu.. haha. Sebenernya Hazu bingung mau ngomong apa, yaudah lah, dari pada melantur gak jelas kayak si Mamori *di timpuk batu sama Mamori*, mulai baca ceritanya aja dah.. oh ya, jangan lupa buat nge-review yah... arigatou...

Summary: "Tapi.. Justru semakin lama, aku semakin menyukaimu, bahkan hingga detik ini..". Pengakuan cinta Hiruma yang mendebarkan! Dont miss this!

Disclaimer: om Riichigo Togashi en om Yuusuke Murata..

...

Episode 2

Cuit cuit ciut...

"Hoaam... Tidurku nyenyak sekali.. Tapi sayangnya aku bermimpi aneh.." gumam Mamori dengan mata yang masih terpejam di atas tempat tidur.

"Ng? Apa nih? Kok lembek2?" tanya Mamori pada dirinya sendiri. Karena bingung dengan benda yang dipegangnya, ia pun memutar tubuhnya ke arah kiri dan-

"GYAAAAA...!" kegaduhan terjadi di rumah Hiruma Yoichi untuk yang kedua kalinya..

"Ggrr...! jangan teriak2 brengsek!" omel Hiruma yang terbangun dari tidurnya.

"Ke, kenapa kau tidur di kasurku?"

"Kasurmu? Jangan ngaku2 deh.. ni kasur gua tau.."

Mendengar kata2 Hiruma, Mamori mencoba membuktikannya. Matanya menjelajah ke segala sudut ruangan besar itu, dan benar, itu bukanlah kamar tidurnya.

"Jadi.. yang kemarin itu bukan mimpi? Oh Tuhan.."

"Siapa juga yang bilang itu mimpi.." oceh Hiruma dengan balon dari permen karet menhiasi bibir tipisnya.

"Bukannya kau baru saja bangun tidur?"

"Lalu?"

"Kok udah makan permen karet?"

"Ni permen karet kemaren malem.." (Hazu: idih... Hiruma joroks.. *ditembakin pake AK-47 sama Hiruma*)

"Iiih..." kata Mamori geli, dan alhasil, Mamori pun dikejar Hiruma dengan AK-47 ditangannya. Tapi Hiruma menyadari bahwa aktifitas yang dilakukannya kekanak2an, maka ia pun segera menghentikannya, dan Mamori pun terbebas dari tembakan.

"Sana mandi! Lalu segera siapkan sarapan yang enak untukku, terserah apa saja, yang penting harus enak! Awas lo, kalo ampe gak enak!" Hiruma mengancam panjang lebar dan langsung meninggalkan Mamori.

"Mandi? Buat sarapan? Apa2an tuh, tau2 main asal perintah.. Menyebalkan!" kesal Mamori. Tapi ia tetap pergi mencari kamar mandi dan mandi, walaupun harus tersesat di rumah (dibaca: istana) itu sampai 7 kali. Lalu ia lanjut memasakkan sarapan, dengan tersesat sebanyak 15 kali. Dan tersesat lagi 21 kali saat menuju ruang makan.

"Ha.. Hah.. Aku lelah.." desah Mamori begitu ia sampai di ruang makan dimana Hiruma sudah menunggunya selama hampir satu jam.

"Kau itu kemana saja sih? Lama banget.. Kalo makannya jam segini, namanya bukan sarapan! Tapi makan siang tau! Dasar brengsek.."

Tanda berbentuk perempatan jalanpun timbul di dahi Mamori yang tertutupi poni tanda tensinya berhasil naik karena Hiruma."Kau itu! Siapa suruh punya rumah sebesar ini! Kan jadi repot jalannya! Mana ruangannya juga banyak banget, aku jadi tersesat terus tau!" Mamori memuntahkan semua kekesalannya.

"? Jalan? Ngapain jalan kaki, pembantu sialan?"

"Pembantu sialan?"

"Dasar bodoh.. Kan di depan kamar ada sepeda.. Kenapa kau tidak menggunakan sepeda itu, hah? Bodoh.."

"Bo, bodoh..?" emosi Mamori semakin menjadi2.

"iah.. Sudahlah! Aku capek berdebat dengan orang sepertimu. Sekarang berikan makanan yang kau pegang itu, dan mulailah bekerja seperti pembantu2 brengsek lainnya.."

"Ng? Jadi sebenarnya, pembantu disini tidak hanya aku?"

"Ya iyalah.. Masa ya iya dong.. Pakai otakmu.. Mana mungkin gue ngebiarin perempuan kurus bekerja sendirian membersihkan rumah ini? Lo pikir gua bego?" kata Hiruma yang membuat perempatan jalan di kepala Mamori semakin banyak. Tapi Mamori tahu ia tak akan bisa melawan Hiruma yang badannya atletis itu, maka ia memutuskan untuk mengalah dan meninggalkannya.

"Huh... Menyebalkan sekali.. Oh ia! Aku kabur saja! Aku rasa dia tidak akan tahu karna dia sedang asik menyantap sarapannya. Baiklah! Aku akan kabur sekarang!" Mamori pun berlari menuju pintu keluar dan sama saperti sebelumnya, ia pun tersesat di rumah yang megahnya tak terhingga itu. Tapi Tuhan memberkatinya, Mamori menemukan pintu keluar, namun..

GGRRRR...

GGRRRR...

Anjing2 kelaparan yang sedang menunggu untuk diberi makanan menutupi gerbang jalan keluar. Dan tak mungkin Mamori mau menembus anjing2 itu, kalau ia nekad, mungkin ia bisa menjadi 'smoke Mamori' atau 'sushi Mamori'. (Hiruma: smoke Mamori? –Hazu: itu pelesetan dari smoke chicken, atau smoke beef.. hahaha –Hiruma: gak jelas lo.. –Hazu:... *diam karna takut ditembak*)

"Oh Tuhan.. Aku harus bagaimana..?"

"Nona! Jangan berdiri disana!" teriak seorang laki2 dengan baskom berisi sampah dikepalanya. Belum sempat Mamori membalas perkataan anak itu, Mamori sudah digendong pergi menjauhi tempat ia berdiri dengan kecepatan cahaya.

"Anda tidak apa2? Apa anda terluka?" tanya anak itu dengan cemas.

"Ng.. Aku rasa aku tidak apa2.." jawab Mamori datar karna masih sedikit syok.

"Oh.. Baguslah.. Haha. Oh ya, maaf karna sudah lancang menggendong anda dengan tangan saya yang kotor ini, saya Kobayakawa Sena, pegawai baru disini, anda bisa memanggil saya Sena.." kata Sena.

"Tidak perlu minta maaf, aku juga pegawai baru disini kok... Hehe" jawab Mamori lembut.

"Oh begitu.. hehe"

"Jadi.. Kau pegawai disini yah? Biasanya setiap hari kalian ngapain?"

"Membereskan rumah"

"Yang lain?"

"Mencuci"

"Yang lain?"

"Mengelap perabotan"

"Yang lain?"

"Ng... Makan?"

"... Jadi.., pekerjaan disini hanya itu saja?" tanya Mamori.

"Ia, tapi sebenarnya, kebanyakan kita istirahat, bermain, de el el. Karna tuan Hiruma jarang berada di rumah, jarang makan di rumah, dan jarang juga mandi di rumah(?).."

"Ooh... Begete toh.. Kalau begitu, gampanglah.. Haha" tak lama setelah Mamori meremehkan pekerjaan yang akan dijalaninya, terdengar suara teriakan dari majikannya yang kayak setan.

"Mamori...! Mamori...!" (Hazu: Hiruma teriaknya kok kayak enci2 yang ada di sinetron2 yah? –Hiruma: SIAPA SURUH LO BIKIN GUA JADI GITU? –Hazu: Gyaaa...! Ampun! *kabur*)

"Apa?" Mamori menjawab asal.

"Grr... Kalo dipanggil nya'ut nya cepetan dong! Grr... Sudahlah! Sekarang cepat ke kamarmu, lalu ganti bajumu dengan baju yang udah gua siapin! GPL!"

"GPL?"

"GAK PAKE LAMA!" teriak Hiruma sambil menembakkan AK-47 nya ke udara. Mamori yang gak bisa membantah Hiruma langsung berlari ke kamarnya yang entah dimana dan yang mana, dan dia pun membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk menemukannya, kamar dengan papan bertuliskan nama 'Mamori'. Lalu ganti baju tanpa memperhatikan baju apa yang dipakainya itu, dan langsung kembali ketempat tadi sambil ngos2an..

"Hah.. Hah.. Capek..."

"Dasar pembantu sialan lelet.." omel Hiruma.

"Aku berusaha sebisaku tahu!" Mamori membela dirinya.

"Masa? Sudahlah.. Bawakan tasku ini dan ikut aku ke mobil" kata Hiruma sambil memberikan tas hitamnya ke Mamori dan berjalan ke arah mobil nya.

"Kita akan kemana?" tanya Mamori karna takut diculik sama Hiruma. (Hazu: Padahal dijadiin pembantu itu pun udah termasuk diculik..)

"Kerja"

"Kerja? Tapi tempat kerjaku kan di rumah.."

"Kan boleh saja kalau aku menyuruhmu mengerjakan hal lain.."

"Ia sih.. Tapi apa?"

"Ya begitulah.."

"Aku-"

"Berisik! Sudahlah, ikut saja! Grr.." Hiruma geram ditanya2in terus sama Mamori. Mamori kaget karna Hiruma tiba2 marah, jadi dia cuma diam aja, dari pada kena marah lagi.. (Hazu:Yang sabar yah Mamo-nee.. –Mamori:Kenapa kau ikut2an manggil 'Mamo-nee'? –Hazu:gak pa2 sih.. Biar lucu aja.. Haha –Mamori:Sok imut.. –Hazu:..)

Mamori pun diajak ke perusahaan Hiruma yang tingginya sampai 50 lantai. Disana dia bisa melihat kesibukan Hiruma yang amat sangat. Pekerjaannya setiap hari selalu dimulai dengan meeting singkat, dilanjutkan dengan menandatangi kontrak, pengecekan saham, pengecekan barang2, de el el, pokoknya Hiruma tuh super sibuk. Bahkan terkadang kesibukannya membuatnya lebih memilih untuk tidur siang daripada makan. (Hazu: Sebenernya Hiruma punya perusahaan apa sih? –Hiruma: Perusahaan mobil, yang semua modalnya berasal dari pemerintah. Jadi aku untung besar. –Hazu: Dasar..)

Beberapa jam berlalu, pekerjaan pun selesai, mereka berduapun memasuki mobil Hiruma dan berencana untuk meninggalkan gedung tinggi yang selalu sibuk dalam 24 jam.

"Sekarang kita akan pulang?" tanya Mamori.

"Kau berharap aku mengajakmu kesuatu tempat?"

"Tidak.., aku hanya bertanya.." jawab Mamori salah tingkah.

"Kekeke.. Baiklah, aku memang berencana untuk mengajakmu ke suatu tempat.. Dan ku rasa aku tahu tempat yang bagus.." mendengar hal itu Mamori jadi penasaran akan apa yang akan ditunjukkan oleh majikan setannya itu.

Merekapun sampai di sebuah restoran high class yang hanya dapat didatangi oleh para konglomerat yang berkantong tebal, dan memang Hiruma salah satunya. Hiruma memilih meja khusus yang terletak dipojok ruangan lantai 3 yang bernuansa klasik itu. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan kota yang dihiasi indahnya lampu malam hari.

Hiruma mempersilahkan Mamori untuk duduk di kursinya dengan menarikkan kursi Mamori. Menerima perlakuan itu Mamori pun jadi salah tingkah. Namun ia hanya dapat menutupinya. Apa jadinya kalau Hiruma sampai tahu?

Tak lama seorang pelayan datang dengan membawa daftar menu dan menyodorkannya pada Hiruma dan Mamori. Hiruma memperhatikan menu itu sebentar lalu memberi tahu pilihannya pada pelayan dengan bahasa asing. Mamori yang tidak mengerti hanya diam dan kebingungan dan menunjuk asal pada daftar menu tersebut agar sang pelayan dapat pergi meninggalkan meja mereka.

"Jadi.. Apa hal yang ingin kau tunjukkan itu?" tanya Mamori penasaran.

"Kekeke.. Tunggu saja, dasar cewek sialan gak sabaran.." kekeh Hiruma menertawai Mamori yang diselimuti rasa ingin tahu.

"Hmph.." Mamori menggembungkan pipinya tanda ia kesal. Hiruma yang melihatnya hanya dapat tertawa geli. Dan disaat itu Mamori membatin,"Dia manis juga...".

5 menit telah berlalu. Pelayan datang dengan makanan yang mereka pesan dan menghentikan pembicaraan yang mereka lakukan dalam bahasa jepang itu. Pelayan menaruh semangkuk spagetti dengan saus rahasia di depan Hiruma dan menaruh semangkuk ravioli dengan saus super pedas di depan Mamori. Melihat hal itu Hiruma hanya bisa tertawa terbahak2 dan dari situlah Hiruma tahu kalau Mamori tidak mengerti bahasa asing yang ia gunakan.

"Kau akan makan itu?" tanya Hiruma menggoda Mamori.

"Te, tentu saja. Aku telah memesannya.."

"Kau tahu rasanya?"

"Tidak.."

"Kau tidak tahu rasanya, dan kau memesannya? Minggu lalu saat teman kerjaku memakannya, lidahnya kesakitan dan sekarang ia kesulitan untuk makan sampai sekarang.." Mamori merinding membayangkan hal sama akan terjadi pada dirinya saat ia memakan ravioli super pedas itu. Hiruma terkekeh2 dan berkata,

"Kekeke.. Kemarikan ravioli itu, kau makan saja punyaku. Ini tidak pedas.." Hiruma langsung mengambil mangkok berisi ravioli milik Mamori dan melahapnya. Walaupun Hiruma makan dengan normal, tapi wajah Hiruma tetap menunjukkan kalau ia sedang disiksa dengan pedasnya makanan itu. Senang, malu, terkagum. Itu yang dirasakan Mamori saat Hiruma mau merelakan dirinya demi Mamori. Tidak tega melihat Hiruma makan dengan tersiksa, ia menyodorkan minumannya untuk Hiruma.

"Ini, minumlah.."

"Tidak usah, kau minum saja.." tolak Hiruma.

"Tapi wajahmu sudah semerah itu.. Lebih baik kau minum dulu. Nanti 'kan bisa pesan lagi.." Hiruma tak bisa menolak paksaan Mamori, maka ia pun menerima minuman itu dari tangan Mamori dan langsung meneguknya hingga habis.

Mereka telah selesai menghabiskan makan malam mereka. Hiruma merasa inilah saatnya mengatakan hal yang sedari tadi ingin dikatakannya.

"Hmm.. Kau tahu bagaimana aku mengenalmu?"

"Tidak, bagaimana?" Mamori menjawab dengan semangat.

"Waktu itu, aku diminta untuk mempromosikan mobilku di Jepang. Karna katanya, mungkin ada banyak pengusaha yang tertarik dengan mobilku.." Hiruma memulai ceritanya. Dan Mamori pun mendengarkannya dengan antusias.

"Dan saat aku melewati sebuah jalan yang sedang diguyur hujan dengan derasnya, kulihat dirimu memayungi anak2 kucing tanpa memperdulikan dirimu yang kebasahan dan mungkin saja sakit."

"Saat itu aku memang merasa iba dengan anak2 kucing itu.." batin Mamori.

"Tadinya kupikir itu adalah hal yang bodoh, namun lama kelamaan.. Aku berpikir bahwa, hal itu manis juga" kata2 Hiruma mengagetkan Mamori dan membuat pipinya menjadi panas dalam sekejap.

"Dan saat itulah aku mulai meneliti dirimu. Setelah tahu banyak, aku meminta orang membawamu dengan cara paksa. Tapi aku kaget begitu mendengar dirimu yang ternyata bawel sekali-" wajah Mamori berubah jadi masam.

"Tapi.. Justru semakin lama, aku semakin menyukaimu, bahkan hingga detik ini.."

"!"

...

Hazu: Nyaa~ Selesai juga akhirnya.. Maaf yah fic nya panjang banget.. Haha

Mamori: *masih diam karna malu*

Hiruma: Kenapa kau buat aku jadi seperti itu anak kecil?

Hazu: Hazu bukan anak kecil! En Hazu sengaja bikin gitu biar ceritanya romantis dong... Hahaha

Hiruma: Grrr... CERBEROS!

Hazu: GYAAA...! *kabur* Oh ya readers, arigatou yah udah baca, mulai episode ini, ceritanya bakal lebih ke gender romance. Maaf yah, kalo komedy nya sedikit, habis cerita Hirumamo lebih gampang untuk dibuat jadi cerita romantis, hehehe.. Hazu harap kalian baca terus yah, en jangan lupa review juga. Arigatou gozaimasu, ciao...