gaun kuning, nyaneenia 2019
.:.
Rio menelepon ketika tangan Karma berlumuran bumbu ramen instan
.
.
.
(2/3)
.
.
.
Karma sedang menyobek bumbu ramen instan ketika ringtone ponselnya berbunyi. Ia mengerang kecil, mengutuk si penelpon karena menelepon di saat yang tidak tepat. Tangannya penuh dengan bumbu ramen.
Ia mendecih. "Alah peduli setan," ucapnya asal. Teleponnya diabaikan dan ia kembali berkutat dengan bumbu ramen yang berceceran di pantry. Toh kalau teleponnya penting, pasti dia akan ditelepon lagi 'kan!
Manik tembaganya mengarah ke air yang sudah mendidih di panci. Dengan sigap sekeping ramen dimasukkan.
"Sip." Karma mencuci tangannya. Hendak dirinya mengelap sisa air di tangan secara barbar ke celana sekolahnya ketika ringtone kembali berbunyi. Karma mengusap layar dan menekan loud speaker tanpa melihat nama penelepon.
"Ya, siapa ya?" sapa Karma asal. Dirinya kini celingukan mencari tisu kering. Atau lap apapun untuk tangannya. Jangan lap di celana, kalau ketahuan mama bahaya, ayo cari lap, batin Karma.
"...Kar?" sapa penelepon. Intonasinya lemah, terkesan sedih. Karma menyiritkan dahinya. Dilihatlah nama peneleponnya. Huruf kapital RIO NKMR tertera jelas di layar ponselnya.
"Nakamura Rio?" ia memastikan. Rio mengangguk di ujung sana. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa sih Kar, gak ada yang penting,"
"Masa sih," ujar Karma agak teriak. Ia lalu memecahkan sebutir telur ke dalam panci.
"Kalo mah cerita mah gapapa kali Ri,"
"Uhmm, Kar? Aku lagi agak sedih," ia bercerita. "Mungkin lebih tepatnya aku emang sedih banget"
Waduh, Karma membatin. Ia kembali mengingat-ingat apa yang pernah temannya ceritakan akhir-akhir ini untuk mengira kemungkinan Rio bisa tidak bergairah begini. Sedikit introspeksi diri juga, apakah Rio begini karena dirinya?
Si empunya surai merah berdehem. "Kamu kenapa?"
Rio menghela napas kecewa. "Kamu tau kan aku udah lamaaa banget kepingin gaun kuning yang mirip punyanya Mia Dolan? Yang tempo hari aku cerita,"
Karma manggut-manggut. "Inget, lalu?"
"Aku menemukan gaun yang mirip... Potongannya mirip sekali, tetapi beda di bahan dan yang aku lihat ini polos." Cerita Rio tak bertenaga. "Dan, ya mungkin seperti yang mau bisa tebak, gaunnya sold out dalam waktu singkat setelah aku menemukannya, Kar."
Karma sekali lagi manggut-manggut. "Memang sedikit sedih sih, kuakui. Tapi nanti pasti ada yang lebih baik kok Ri,"
"Entahlah" Rio pesimis. "Aku gak yakin."
"Hey," Karma mematikan kompornya. Ia langsung duduk di kursi meja makan. "Gausah dibawa sedih, percaya aja nanti datang yang lebih baik lagi,"
Rio hanya bergeming. Memang susah bernegosiasi dengan English gal ketika ia sudah memasuki 'zona'nya. Dimana hanya ada dirinya, pemikiran negatif dan sifat keras kepalanya.
"...Ri, kamu masih di sana?"
"...aku sedih Kar, that dress has been listed on my wishlist for years,"
Karma mulai berempati. Ia ingin mengeluarkan jokes mengajak Rio ke California seperti pekan lalu lagi tapi diurungkan. Ia merasa sedikit bersalah mengabaikan telepon pertama Rio.
"Ri? Is there anything I can help you?"
Rio menggeleng walaupun Karma tidak dapat melihatnya. "Gapapa kok, Kar. Cuma mau bilang itu aja. 'Kan kamu sendiri yang bilang kalo ada apa-apa cerita aja,"
Karma tersenyum simpul. Ia mengangguk. "Bagus Ri bagus." Pembicaraan batal ia lanjutkan tatkala manik tembaganya melihat ke arah panci.
"Oops ramenku kelamaan direndam dalam rebusan air panas." Ia mengambil saringan. "Mau main ke rumah gak? Aku buatin ramen mau?"
"Wah boleh tuhh!" jawab Rio bersemangat. "Mau yang pedas, ya!"
"Oke,"
"Gantinya aku bawain susu ya, stoberi."
"Wow thanks, impas ya kita. Padahal baru saja aku hendak mengirimkan tagihannya." Karma membalas bercanda. Padahal kamu nggak usah bawa apa-apa loh Ri lanjut Karma membatin.
Telepon ditutup. Karma mempersiapkan ramennya lalu mengeluarkan sebungkus ramen pedas. Sambil berpikir serius apa perlu dirinya ikut membantu Rio mencari gaun kuning incarannya. Mungkin ikut mencari di berbagai e-commerce, atau mungkin mereka bisa ke Los Angeles melihat museum kostum Holywood yang Rio bilang tempo hari.
.
.
.
tbc 2/3
