Chapter 2

.

.

.

Pagi hari yg cerah, mentari menyingsing tepat waktu menghantarkan kehangatan menyelimuti kota sibuk di negara bernama Korea Selatan ini.

"..." disebuah kamar dalam rumah mewah nan megah, terlihat seorang namja berambut merah masih setia bergelung dgn selimutnya meski alarm kamar itu berteriak nyaring menggemakan bunyinya tanpa lelah dan ponselnya pun ikut menari diatas meja nakas, getaran ponsel itu mengikuti irama deringan melengking sang alarm.

"BRAAKK..." dan dgn kesadaran setengah nyawa, namja itu melempar asal jam waker tak bersalah itu hingga hancur tak berbentuk.

"Chanyeol-ssi, ini sudah pagi...anda bisa terlambat masuk sekolah" tak lama sayup2 suara seorang maid dari balik pintu kamar megah itu terdengar memanggil.

"nde...sekarang jam berapa yoo-mo" ucap namja yg dipanggil Chanyeol itu pelan.

"gawat!" tiba2 namja itu menegakkan tubuhnya bergitu mengingat sesuatu.

"Yoo-mo sekarang jam berapa?" teriaknya panik.

"hampir pukul 8, tuan muda" ucap maid itu yg masih setia berbicara dgn terhalang pintu besar kamar Chanyeol.

"AAAAA...AKU TELAAATT" pekiknya heboh dan langsung beranjak menuju kamar mandi.

"GABBRUUUKK..." dan sialnya entah bagaimana ia malah tersandung selimut tebalnya dan merelakan wajah manisnya menghantuk lantai kamar.

"AAKKKHH!" geramnya kesal.

"..." sementara beberapa maid yg berdiri didepan pintu kamar megah itu sedikit terkikik mendengar suara ribut dari dalam kamar itu yg sudah menjadi melodi sehari2 untuk mereka.

"BRAAAKKK..."

"GUBRAAKK..."

"DUAAAKK..."

"MEOOWW..." ups, yg satu ini bukan bagian dari melodi keseharian kamar Chanyeol melainkan seekor kucing yg entah dari mana tersandung batu didepan rumah Chanyeol (#hadeehhh...==").

"YOO-MO AKU PERGI DULUUUU..." pamit Chanyeol setengah berteriak yg melesat dgn mobil mewahnya.

"..." sementara para maid hanya membungkuk hormat hingga mobil yg dibawa tuan mudanya tak terlihat lagi.

"aigooo...gawat gawat gawat gaawwaaaaatttt" gerutunya heboh sambil terus melajukan kendaraan roda 4 itu menembus keramaian jalan.

"..." yap, begitulah keseharian seorang Park Chanyeol si dobi idiot pembawa rusuh disekolah, jika kalian bertanya soal orang tua...maka jawabannya Chanyeol bukanlah yatim piatu, namun lebih tepatnya kedua orang tuanya taklah berada diSeoul melainkan dinegara lain mengurus perusahaan cabang mereka atau dgn kesibukan mereka masing2.

"Nit...Nit" ditengah kepanikan Chanyeol, dgn kurang ajarnya benda tipis persegi panjang itu malah berdering riuh mengacau konsentrasi seorang Chanyeol.

"aish...mengganggu saja" umpat Chanyeol dan langsung menerima panggilan telepon itu sambil berusaha untuk fokus menyetir.

"nde, yabboseo..." Chanyeol pun memulai pembicaraan dgn seseorang yg tersambung telepon dgnnya.

"..."

"ahh~, eomma..."

"..."

"nde...arra..." entah mengapa tiba2 wajah cerita Chanyeol berubah murung, dan saat itu pula pembicaraan antara ibu anak itu pun berakhir.

.

.

Chanyeol's Side.

.

.

Jika kalian bertanya siapa yg menelepon, jawabannya adalah ibuku. Yap...seseorang yg bagi kebanyakan anak akan dianggap seorang malaikat dalam rumah, itulah ibuku. Tapi, bagiku...ibuku bukanlah malaikat seperti kebanyakan anak fikir, ibuku tetap ibuku...seseorang yg melahirkanku lalu pergi setelahnya mengurus perusahaan atau apapun dgn kesibukan yg bahkan aku sendiripun tak mengerti.

"..." terkadang aku berfikir, benarkah dia ibuku? Entahlah, Yoo-mo bilang ia lah ibuku, nyonya besar keluarga Park.

"aish..." mengingat nama Park yg kusandang membuatku tertawa, karna marga itu tak lah berarti apapun untukku.

"..." hoooaa...tanpa sadar rupanya aku sudah sampai disekolah.

.

.

Normal's Side

.

.

"..." sebuah mobil merah berwarna silver mengkilap berhenti disebuah parkiran sekolah. Tak lama turunlah seorang namja manis bertubuh menjulang dgn rambut merah yg menawan.

"akhirnya sampai juga" gumamnya, namja tinggi dgn tag nama 'Park Chanyeol' itu pun menatap jam tangan yg melingkar manis dipergelangan tangannya.

"AIGOO...AKU KAN TERLAMBAT" pekiknya heboh dan langsung lari kocar kacir menuju kelasnya yg sialnya berada di ujung lantai 3.

"TAP...TAP...TAP" hentakan kasar sepatunya menggema dikoridor kelas itu, dan senyum mereka tercetak diwajh manisnya saat melihat pintu kelasnya yg terbuka lebar.

"!" namun nasip sial menghampirinya karna kelas itu telah terisi oleh guru pengajar membuatnya harus mengucapkan berkali-kali maaf dari bibir kissablenya itu.

"j-joesonghamnida seonsaengnim...joesonghamnida" ucap Chanyeol membungkuk berulang-ulang didepan guru yg terkenal akan kegalakannya.

"seonsaengnim akan memaafkan aku kan?" tanya Chanyeol dgn aegyo khasnya yg malah terkesan idiot diwajah imutnya.

"hahh~..." mendengus keras, guru itu pun memijat pelan pelipisnya pening.

"Park Chanyeol!" tegasnya membuat sesisi kelas menegang syok.

"kau tau aku tak pernah memberikan toleransi pada semua murid pelanggar" ucapnya lagi.

'aku memang tau, aish...benar-benar nanti akan aku adukan pada kepala sekolah kalau sampai menyuruhku membersihkan kamar mandi' gerutu Chanyeol sebal.

"saem...tak akan menyuruhku membersihkan kamar mandi kan? Atau merapikan gudang olahraga? Atau memungut sampah-sampah dilapangan outdoor? Atau..." saat Chanyeol menyebutkan semua hukuman2 yg pernah dilontarkan guru itu untuk semua pelanggar, sebuah tangan mendarat manis dibibir Chanyeol menghentikan oceh si jenius.

"hahh~..." sekali lagi dan entah yg keberapa kalinya guru itu mendengus kesal, Chanyeol pun menatap guru itu dgn tatapan 'akan aku adukan kekepala sekolah' pada gurunya membuat pening dikepala beruban itu semakin bersorak girang (?).

"kau tau sejarah dinasti joseon Bab 10? Aku ingin kau menghafalnya dan meringkasnya, arrachi?!" tegas guru itu lagi membuat Chanyeol menatap jengah guru itu.

'kebakaran sudah otakku jika kau terus memintaku menghafal itu terus' Chanyeol pun hanya mengangguk dan berjalan menuju tempat duduknya.

.

.

.

"..." pelajaran berjalan membosankan untuk si jenius Chanyeol dikarenakan materi yg terus diulang-ulang membuat namja berambut merah ini mengantuk.

"..." merasa bosan Chanyeol pun memperhatikan sekeliling, dan pandangannya terhenti pada seorang namja tinggi berambut blonde yg terlihat asik memperhatikan penjelasan materi.

"Kris..." dan bibirnya pun menggumamkan nama si namja blonde itu pelan, bagai sebuah bisikan lembut.

.

DEG..DEG

.

DEG..DEG

.

DEG..DEG

"..." entah mengapa jantung namja merah itu berdetak semakin riuh, hingga perlahan Kris...si namja blonde yg ia bisikkan namanya itu menoleh seakan mendengar bisikan pelan Chanyeol.

"..." sebuah senyum menawan dilontarkan Kris dgn wink nakal yg ikut menghantam keras hati Chanyeol, perlahan semburat merah tipis menghiasi pipi bulat Chanyeol.

"Park Chanyeol~..." suara bariton yg tegas namun lembut itu melafalkan namanya menjadi amat sempurna, bagai sebuah melodi surga. Untuk pertama kalinya Chanyeol merasa namanya adalah sebuah aksara langit yg tercipta hanya untuk dirinya disaar Kris yg mengucapkan perabjadnya.

"Park Chanyeol~..." bagai orang idiot, Chanyeol hanya dapat tersenyum mengembang mendengar namanya kembali dilafalkan namja itu.

"kau melihat kemana? Aku disini~" bagai sebuah desahan merdu, Kris menatapnya lekat membuat jiwa Chanyeol semakin jauh melayang menuju langit ke tujuh.

"Chanyeol?Chanyeo?Chanyeol?" perlahan suara Kris semakin keras memanggilnya.

"YA, PARK CHANYEOL!"

"GABRUUKKK..." dan entah bagaimana suara Kris yg merdu berubah mengerikan seperti suara sang guru membuat Chanyeol terjungkal dari kursinya saking terkejutnya ia.

"YA! KAU MELAMUN, EOH?!" pekiknya nyaring membuat seisi kelas hampir dilanda badai tornado (#lebay ==)

"akh..." ringis Chanyeol berusaha bangit dari posisi jatuhnya.

'haish...dasar guru cerewet mengganggu fantasy ku saja' umpat kesal Chanyeol dalam hati.

"joesonghamnida..." ucap Chanyeol pelan sambil mengerucutkan bibirnya imut.

.

.

Kris's Side

.

.

"Park Chanyeol..." aku terkejut saat guru itu memanggil nama siidiot, kutolehkan kepalaku ke belakang tepat menatap si namja idiot yg entah kenapa malah tersenyum lebih idiot lagi.

"Park Chanyeol, kau melihat kemana, eoh? Materi yg kuterangkan ada didepan sini" tegas guru itu dan ku lihat Chandobi itu semakin tersenyum sumringah.

Satu kata yg terpikir dalam benak ku saat melihat wajahnya berseri seperti itu "Yeppo", astaga! Apa aku tertular ke idiotan si dobi? Bagaimana namja aneh itu bisa terlihat...cantik...astaga! aku mengucapkannya lagi?!

"PARK CHANYEOL...GABRUUKK" dan sekali lagi aku menoleh terkejut karna bukan hanya lengkingan guru itu yg mengusik gendang telingaku yg malang, namun suara gaduh dari arah kursi si idiot yg membuatku menoleh.

Kkk~, astaga dia terjatuh...aigoo, aku fikir ini yg disebut lucu...sidobi itu terjungkal, hahaha...ingin rasanya aku tertawa keras-keras karna ia cukup menghibur juga disisi ini.

"YA! KAU MELAMUN?!" pekik guru itu lagi dan aku pun hanya menatap sebal guru yg saat ini berkacak pinggang didepan sidobi.

"..." dan yg terakhir ku lihat Chanyeol yg membungkuk melafalkan maaf sebelum bel tanda istirahat berderu nyaring keseluruh penjuru kelas.

.

.

Normal's side

.

.

"aish...membuatku terkejut saja, dasar penyihir garang..." umpat Chanyeol sambil merapikan barang-barangnya kedalam tas.

"ya, blonde!" teriak Chanyeol pada Kris yg baru saja akan beranjak dari kursinya.

"..." dgn tampang sok coolnya yg dapat membuat Chanyeol muntah-muntah, namja blonde itu menatap malas Chanyeol.

"apa kita akan benar2 mengikuti turnamen itu?" tanya Chaneyol mendekati Kris.

"hn...2 minggu dari sekarang bisakan kita berlatih rutin sepulang sekolah?" ucap Kris lalu berjalan lebih dulu keluar kelas yg diekori Chanyeol.

"apa kau sedang menyuruhku mengumpulkan tim, eoh?" dengus Chanyeol mendengar nada bicara sok bijak namja disampingnya itu.

"hn...kurasa tak perlu kujelaskan bukan" ucap Kris.

"ay! Kau yg ketua tim kenapa aku yg harus repot-repot sih?" omel Chanyeol.

"ya, kau sendiri seorang wakil ketua tim bukan? Lalu apa tugas mu, eoh?" omel Kris balik.

"aish, aku merasa seperti berdebat dgn ibuku" cibir Chanyeol.

"dan kau bilang aku menyerupai ahjuma?" decak Kris gondok.

"aku tidak bilang kau menyerupai ahjumma, apa tadi aku berkata ahjumma?" elak Chanyeol.

"kau bilang seperti berdebat dgn ibumu" ucap Kris.

"memang lalu? Apa dikalimat itu terselip kata 'ahjumma'..." sengit Chanyeol.

"yo, guys...kalian kenapa?" sapa Kai didepan pintu kantin, karna tanpa sadar kedua namja sama tinggi itu berjalan sambil berdebat menuju kantin.

"siapa yg ahjumma?!" pekik Chanyeol dan Kris bersamaan.

"ahjumma?" Kai pun dgn tampan idiot yg ia pinjam dari Chanyeol 4 bulan lalu(?) itu pun menatap kedua namja tiang listrik itu.

"aish, pokoknya sepulang sekolah kita berlatih mempersiapkan untuk turnamen" ucap Kris final dan meninggalkan kedua namja idiot itu menjauh dari kantin.

"hilang sudah selera makanku" gerutu Kris.

"ya! Aku tak mau mengumpulkan tim" teriak Chanyeol dan berjalan menuju kantin dgn menyeret Kai.

"ya! Kalian berdua yg bertengkar kenapa harus aku yg diseret sih" omel Kai tak terima namun tak dihiraukan oleh Chandobi itu.

.

.

.

.

.

TBC~

.

.

.

.

annyeong ^^ ada yg merindukan si dobi Chanyeol ? ff ini masih berlanjut jadi harap readers semua mau menunggu dgn setia setiap Chapternya yg mungkin akan dirilis selambat siput berlari (?)

harap reviewnya yah ^^ gomapta

#salam ShinNiel ^^