Perhatian : Chapter kali ini mengandung kekerasan seksual, adegan dewasa yang eksplisit, dan penggunaan kata-kata kotor yang berlebihan. Disarankan untuk Fans Sanji dan ZoSan, saya harap tidak usah baca kalau tidak suka, disini Author benar-benar akan menistakannya bersama Dua saudara Vinsmoke. Warning ! Yaoi. Threesome. Incest. Tidak suka tidak usah baca!
...
Lelaki berambut biru yang mengenakan kaos putih sutra dan celana hitam pendeknya yang sudah berteman keringat itu masih melayangkan senyuman ketika dia tidak mendapatkan sosok butler sialannya didepan pintu kamarnya.
Dia masih menikmati bau semerebak Lemon yang beberapa menit lalu mulai membungkam kediaman Germa sambil sesekali meremas kejantananya yang masih berbalut kain katun hitam itu dan juga menjilati air Liur yang semakin tidak bisa dikendalikan. Bahkan dari kejauhan dia juga mendengar beberapa derap kaki para pelayan rumah yang mulai berlarian panik bahkan beberapa ada yang pingsan saat bau lemon itu menggemparkan di hari yang panas ini.
Ya. Bau lemon yang ditunggu putra kedua Vinsmoke ini.
"Sanjihh—" seringainya dengan nada berat sambil berjalan menelusuri koridor yang cukup
jauh dari letak kamar Sanji, yang sekarang jadi tujuannya.
One Piece Fanfiction
OMEGA (Germa66)
By : AR Vinsmoke
Chapter 2
Bau Lemon yang Memilukan.
Dengan susah payah dan panas yang keluar dari tubuhnya, Alpha berambut biru ini tetap semangat masih dengan seringai tampan nya berjalan menuju surga duniawinya.
"Aggghhh! Hosh, hosh! Sialaaan—!"
Ditengah jalan, teriakan yang keluar dari satu-satunya putri kerajaan bangsawan Germa ini mengalihkan perhatian Niji. Dan dia tertawa saat mendapatkan kakak perempuan nya itu jatuh tersungkur dengan keadaan yang lumayan menyedihkan dengan rambut berantakan ya, dan dress peachnya yang beberapa bagian mulai sobek akibat ulahnya sendiri. Meski Robin dan Nami berada di sisinya, mereka berdua tak bisa melakukan apa-apa.
Sakit. Bau lemon karena ulah feromon yang keluar dari masa 'heat' Sanji saat ini, begitu menyiksa para Alpha. Sekalipun itu untuk Reiju, kakak yang menyayangi Omega perusak suasana.
"Haha, Neesan. Bagaimana kau bisa puas hanya dengan uring-uringan seperti itu?!" Niji yang juga merasakan sakit yang sama, masih bisa mengejek Reiju yang sekarang menatapnya tajam dengan nafas beratnya itu.
Tak ada jawaban dari Reiju tak menghentikan langkah Niji. Hawa panas, air liur, kejantannya yang terlihat jelas menyembul walau berbalut kain itu, jelas insting Alpha Niji sudah terlihat. Dan Reiju tahu kemana adik keduanya itu akan menuju saat punggung besarnya sudah melewatinya.
Reiju pilu. Dia memejamkan matanya tak mau membayangkan apa yang di alami Sanji nantinya. Ia juga bahkan marah dengan Sanji yang entah kenapa berulah dengan kedatangan masa 'heat'nya yang tak sesuai prediksi. Paling tidak, Reiju tidak ingin ada disini saat bau lemon sialan itu mulai merusak sistem kerja otak dan tubuhnya.
Dia tidak sama dengan ketiga bajingan adik itu. Mana mau Reiju melakukan persetubuhan dengan Sanji, adik yang sedarah dengannya sendiri. Dia sedikit bersyukur bahwa dia terlahir menjadi seorang perempuan, rasa menyakitkan itu masih banyak penawar untuknya walau menghabiskan waktu berjam-jam.
Tak berapa lama, Ace yang datang dari arah berlawanan dengan Niji, mulai menghentikan langkahnya saat melihat majikan barunya itu menyeringai padanya.
"Yo. Ace. Hngh." Decak Niji masih berjalan kearahnya. Tak kuasa pula desahan beratnya keluar begitu menggigit bibirnya sambil mengepal kedua tangannya. Melihat kondisi Niji, Ace sudah angkat tangan dengan tanggung jawabnya. Apalagi saat ia melihat Putri Vinsmoke yang berbaring dengan badan bergetar hebat di belakang sana, Ace segera berlari kearahnya dan membiarkan Niji berlalu melewatinya.
Terkerjut saat tahu Ace menggendong tubuhnya ala putri itu, Reiju langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Ace dan menciumi pemuda itu dengan beringas di pipi, telinga, leher, bahkan sesekali menggapai bibirnya yang panik mentitah Robin dan Nami untuk lebih dulu pergi ke kamar Reiju dan menyiapkan alat-alat pemuas nafsunya.
Para beta bersyukur dengan status mereka. Dan mereka juga bersyukur mengabdi di kediaman Germa dan sangat berjasa di saat-saat seperti hari ini yang terduga. Terlebih ia bersyukur pada Sanji yang setia mengenakan gelang emas pengendali beta juga rajin meminum obat-obatnya.
Namun sayang, nafsu birahi yang di keluarkan Alpha sangatlah besar resikonya. Berhubungan intim dengan beta atau Alpha lainnya, tidak memuaskan mereka, butuh waktu lama untuk menghilangkan nafsu yang sangat besar itu.
Harus Omega lah yang bisa memuaskan nafsu mereka, apalagi kalau Omega tersebut adalah Omega yang menimbulkan 'heat'nya sendiri. Reiju tidak tahu rasanya, tapi dari cerita mulut ke mulut adiknya, Rasa yang mereka lakukan dengan memperkosa Sanji secara brutal itu sangatlah enak. Terlebih saat ia mengingat masa lalu saat Ichiji yang dengan gampangnya menimbulkan masa heat Sanji dan selalu menang menghabiskan tubuh adik berambut pirang nya itu. Dan yang membuat marah Reiju adalah dengan keusilan Ichiji, berhasil membuat Reiju membuang waktu berjam-jam nya untuk sesuatu yang hina dan tak bernilai baginya.
...
Niji sampai di koridor tempat dimana adik manisnya itu bersembunyi. Apalagi saat itu ia tertawa menang melihat tak ada satupun yang berjaga disana. Saat berada di depan pintu kamar Sanji, bau Lemon yang semakin menyengat membuat darah Niji bergejolak hingga ubun-ubunnya, belum lagi kejantanan yang mulai mengamuk dalam celananya.
Dan Niji sedikit menyeringai saat menemukan pintu kamar Sanji mulai di gembok dari luar, entah siapa yang melakukannya, Niji hanya menduga perbuatan itu di lakukan oleh para pelayan rumahnya dan kemungkinan bisa saja itu Ace, butler sialan nya. Karena yang ia tahu, Sabo masih menemani sang ayah dan Ichiji dikamar ayahnya.
'mainan kecil begini.' Ucapnya enteng.
Brak! Brak!
Suara gaduh pintu kamarnya membuat Sanji menoleh. Matanya melolot panik saat pintu kamarnya terlihat serasa mau lepas dari tempatnya.
'Tidak, aku mohon.' Batin Sanji, berdoa agar pintu kusam yang kokoh itu berhasil menjaganya. Bahkan ia tidak bisa lari dengan lututnya yang lemah itu. Apalagi kamarnya berada di lantai atas.
Seluruh badannya melemas, keringat yang di keluarkannya terasa lengket belum lagi, bagian bawah tubuhnya yang telah mengeluarkan cairan-cairan menjijikan meneriakkan seseorang untuk mendatanginya.
Sanji tidak mau mengalami keadaan itu.
Tapi takdirnya sebagai Omega harus merasakan itu. Tangannya tergopoh untuk membereskan obat yang berserakan yang rasanya kini tidak berguna.
Bagaimana cara ia menghilangkan reaksi feromon sialan nya ini?
BRAK!
Pintu kuat itu terbuka. Ya, bukan salah si pintu, hanya saja gembok itu rusak karena tendangan tak terkendali dari Alpha biru yang siluetnya sudah bisa di terima mata Sanji dengan jelas.
"Yo, Sanji sayang. Terima kasih atas undangannya." Ungkap Niji dengan senyum kemenangan sambil membuang kaos basah kuyup karena keringatnya itu juga membuka celana yang dikenakannya.
"Hh—hiks, Ni-Niji—" Sanji beringsut ke pojok an antara ranjang dan meja, perlawanan yang ia tahu hanya sia-sia belaka melihat betapa agungnya si Alpha itu.
"Sangat menyakitkan, kan. Kau pasti butuh bantuan kan, sayang?" ungkap Niji sambil mengelus kejantannya, memamerkan alat yang mengacung dengan gagah berani baik ukuran tinggi mau panjangnya yang sangat tidak normal itu.
"Niji, aku mohon jangan—" Sanji bahkan sampai mengatupkan kedua tangannya, berharap Niji sadar siapa dirinya, adik kandungnya sendiri. Berharap Niji sudah lebih dewasa, sudah bisa mengendalikan rasa tidak manusiawinya itu.
"Bagaimana aku bisa menolak pesta kenikmatan ini, Omega jalang." Seringainya sambil menjambak rambut Sanji dan membantingnya menungging keatas ranjang.
...
Judge melirik lewat sudut matanya dengan Ichiji yang terdiam namun tangannya tak kuasa untuk lebih mengeratkan geganggamanya pada tembok balkon yang sekarang sudah agak retak sedikit karenanya.
Sabo yang ada di belakangnya pun harap-harap cemas, berharap selain kedua Alpha di depannya, Alpha yang lain sudah di atasi oleh temannya yang lain.
"Hah... Hah..." kali ini Ichiji tak kuasa lagi. Dia mulai sedikit mumbungkukkan punggungnya dan nafasnya mulai tersengal-sengal, karena bau lemon yang menyalak itu tidak mau pergi tapi malah lebih tercium lebih pekat lagi di hidungnya.
Sang ayah tak bergeming. Entah bagaimana caranya, Raja Alpha Vinsmoke itu tak terpengaruh sedikitpun. Dan rahasianya tetap tak ia berikan meski pada Ichiji sekalipun. "Pergilah, kau tak akan bisa menahannya." Desis Judge sambil menghela nafas.
"Hh—aku tidak mau—" tolak Ichiji yang padahal predikatnya adalah orang paling banyak 'menikmati' putra ketiga Vinsmoke tersebut di masa lalu.
"Kau dengar saja apa kataku, aku tahu apa yang kau rasakan, Ichiji." Judge menyilangkan kedua lengannya sambil memandang kehamparan padang rumput yang ada di belakangnya. Bau Lemon itu memang memuakkan, ditambah sang angin ikut bertiup menambah kesegerannya seraya memang sedang menguji anak berambut merah di sampingnya untuk tergoda.
Meski benteng yang saling mengelilingi itu memiliki jarak yang cukup berjauhan, dan kediaman Germa yang serba megah dan luas itu, tetap dilahap sempurna oleh bau khas Omega putra ketiganya. Mau seberapa luas Judge membangun daerah kuasanya, selama Sanji ada disana, kejadian seperti ini pasti akan tetap terjadi.
Jiwanya masih seorang ayah. Meski dia merasa gagal dengan eksperimennya, Judge tidak kuasa membuang Sanji karena iapun adalah hasil dari segala uji coba nya. Ia lebih memilih Sanji menjadi objek pemuas demi pengembangan Saudara lainnya ketimbang dimakan habis oleh Beta dan Alpha di luar sana.
"hah— ayah, ugh." Kali ini Ichiji tersungkur. Badannya bergetar hebat, nafasnya menderu, darahnya bergejolak, perutnya terasa penuh dan alat kebanggannya mulai tak bisa terkendali. Ia kalah dengan panggilan alam dari mangsa seorang Alpha. Kebanggaanya sebagai seorang Pemenang harus bertekuk lutut untuk menghabiskan omega sialan itu tanpa ia mau pada awalnya.
"Bangsat! Sanji, sialan!" Umpatnya. Kemarahan Ichiji membuatnya berhasil bangkit karena sekarang tujuan dari instingnya yang membawanya, tanpa melihat pada sang Ayah, ia meninggalkan balkon.
Judge mendelik kearah Sabo yang melihat punggung Ichiji yang dengan beringas pergi, lalu ia kembali melihat majikannya.
Judge mengangguk. Menyuruh Sabo untuk mengikuti sosok yang di cemaskannya. Ia tahu betapa brutal putra pertamanya, sejauh apa ia melangkah, sejauh mana ia bersabar, meski sudah tidak memperdulikan Sanji, reaksi dari Omega tak bisa memenangkannya. Dan semua usaha Ichiji sia-sia, mulai dari sekarang ia akan kembali menjadi orang pertama dalam mimpi buruk adik berambut pirang.
Setelah tubuh jangkung hilang, Judge kembali memandang hamparan luas disana. Matanya tertutup rapat tak mau peduli dengan apa yang akan di lakukan anak-anaknya saat ini.
"Oi! Zoro! Zoro, Oi!" Suara cempreng yang samar-sama menginterupsinya. Judge dapat melihat Luffy yang sedang bersusah payah berteriak melihat rekannya yang menggeram tak karuan. Lelaki berambut hijau yang tak dikenalnya.
'siapa orang itu?' batin Judge yang melihat dingin dari atas sana. Tak mengindahkan reaksi yang tak wajar pada pegawai baru yang Judge pikirkan.
...
Ichiji yang lewat dengan langkah panjang yang cepat itu, membuat Nami dan Robin yang berada di depan pintu kamar Reiju yang masih terbuka hanya menunduk takut. Ya, mereka takut melihat putra pertama Vinsmoke itu dan tahu apa yang di tujunya. Tak sedikit pula Nami meringis kecil menahan tangisnya saat ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Sanji.
Bahkan teriakan kemarahan dan hawa nafsu Reiju didalam kamar, tak digubris sedikitpun oleh Ichiji.
Ace kewalahan, tuksedonya yang sudah compang-camping tak bisa memuaskan ciuman bertubi dari Reiju. Ia hanya mendesis kecil saat wanita ramah dan bijaksana itu kini mulai menggila sambil setengah telanjang berada di atas alat pemuas nafsu yang tengah di dudukinya, wajah 'horny' Reiju bahkan tak bisa memenangkan nafsu Ace daripada ke bingungannya.
Tak berapa lama, saat ia melihat keluar pintu, tak terduga Sabo lewat dan dengan cepat Ace menghampirinya, mengarahkannya kepada Reiju yang tak bisa di atasinya.
"sabo-san~~~nnh~" tatapan manja Reiju yang sudah tak dikenal itu mulai menggoda Sabo yang masuk kesana, badan gumpal seksi dengan kedua payudara besarnya itu masih melonjak-lonjak kasihan sekaligus mengeluarkan erangan kecil.
Sabo hanya mendecak. Ace jelas kewalahan. Dia tidak tahu teknik apa yang harus dilakukan untuk membantu Reiju memotong waktu tak berharganya ini. Dengan sangat terpaksa, Sabo lebih memilih meminjamkan tubuhnya kepada majikannya yang dulu dan mengisyaratkan Ace untuk mengikuti polah Ichiji. Dan tanpa banyak tanya juga alasan, Ace mengerti dan keluar kamar. Menutup pintu besar berwarna pink itu dan mentitah Robin dan Nami untuk menjaganya saat ia mulai mengejar langkah kaki majikannya yang dulu.
...
"Agh!" Sanji menjerit saat dengan kasar jemari-jemari panjang Niji mulai masuk kedalam 'kediaman'nya tanpa aba-aba. Bahkan ia tak sadar saat sebelumnya Niji dengan beringas merobek seluruh kain yang dikenakannya.
"Sst,hhh.." Niji berbisik dengan nafas berat sambil dengan fokus mengoyak dibawah sana sambil jemari di tangan satunya mulai mengoyak kedalam mulut Sanji yang menungging di tindihnya. Membiarkan kejantanannya yang siap siaga itu bersabar demi membully sang adik.
Niji menikmati menyiksanya.
Rasa mendominasi mangsanya membuat kenikmatan tersendiri, membuat Sanji yang sok itu tak berkutik dihadapan naluri Alphanya, membuat dirinya tak berhenti menyeringai.
"sangat basah disini, apa kau sudah tidak sabar, sayang?" Niji selalu membuat percakapan intens seraya Sanji yang membutuhkannya, padahal jelas cairan itu terjadi karena hormon omeganya yang sama sekali tak bisa di hindari nya.
"gguh-" dan tak membuat Sanji menjawabnya berkat jemari telunjuk dan jari tengah Niji yang mulai menyeruak masuk hingga akan menuju tenggorokannya.
Merasa sedikit puas bermain dengan lubang yang disukainya, Niji menaruh tangan kirinya menekan pinggul Sanji dan tangan dimana jemari yang asik dengan hangatnya mulut Sanji, mulai menjambak rambut pirang nya.
Dan dengan sekejap, kejantanan yang perkasa itu mulai menerobos kedalam. Membuat Sanji sampai terlonjak kedepan dan mengerang, semua yang di lakukan Niji tak pernah di prediksi nya, tidak dalam keadaan siap, semua dilakukan dalam keadaannya yang kacau balau.
"Binatang jalang! Oh! Bitch!ggh, jalang! Jalang!" dengan seluruh kata kasar yang dikeluarkan sambil menampar gumpalan pantat Sanji dengan keras juga menarik kasar helaian pirang itu, juga bergerak maju mundur semaunya, selalu menyertai aktivitas Niji saat menghabisinya.
Saat Niji sejenak melepas diri dengan membalik tubuh telanjang itu untuk terbaring menghadap nya, dengan buliran air mata yang membasahi matanya, Sanji bisa melihat wajah puas dan masih di penuhi nafsu dari kakak kandungnya sendiri itu. Juga senjata miliknya yang menjadi penghancur tersebut masih berdiri tegak meski seperempat menit tadi menghujammya dengan kerja keras.
"ini masih awal, Sanji." Desis Niji sambil mencekik lehernya dan tangan lain yang mulai nakal membully kejantanan milik Sanji.
...
Ace berlari kecil namun tetap terjaga jarak dari Ichiji yang langkahnya lebih cepat, apalagi nafsu yang membakar tubuhnya itu sudah tak terkendali, mengejarpun rasanya percuma dan matanya melotot ketika Ichiji masuk kedalam kamar yang pintunya terbuka, apalagi saat ia melihat gembok rusak yang sudah terkulai tak berdaya di dekat pintu bercat coklat agony dimana Sanji berada.
Tak salah lagi, pintu yang sebelumnya ia kunci rapat itu telah di hancurkan oleh sang empunya rambut biru cetar yang haus untuk menyetubuhi adiknya sendiri.
Rasanya percuma apa yang para pelayan lakukan, tak ada yang bisa menolong Sanji, selama ketiga serigala Alpha itu berada di sekitarnya.
Tak Tak. Suara pantopel hitam menginterupsi kegiatan Niji dan Sanji, Sanji yang dalam tercekik itu melotot sempurna saat menemukan sosok yang membuat dia trauma ada disana, ia bisa lihat juga ada Ace yang berdiri diam dan kaku di belakangnya.
"Yo, Aniki. Welcome to Party." Decak Niji tersenyum gagah. Dan lagi kemudian ia meloloskan kejantanannya kedalam Sanji tanpa aba-aba.
"Beraninya Omega bangsat sepertimu menghancurkan ketenangan ku!" ungkap Ichiji. Mengeluarkan sifat alaminya dan mulai membuka kancing bajunya satu persatu.
Ace merasa miris melihat keadaan Sanji yang sudah beberapa bulan tidak ia lihat selama ini, apalagi dengan kedua serigala kelaparan di sekitarnya, belum lagi perlakuan kasar mereka, Apa yang bisa ia lakukan?
Kembali dengan aktivitasnya, Kini Niji mengangkat tubuh lemah Sanji untuk duduk di atas nya dengan masih menempel padanya, Ia mengigit pundak Sanji dan meninggalkan luka disana. Setiap Sanji berteriak dan meringis, Niji menampar dan menjambaknya.
Ichiji yang berhasil menanggalkan segala pakaian yang membalutnya, melirik sinis kepada Ace.
"apa yang mau kau lakukan?"desisnya.
Ace terkesiap dengan nada dari majikannya itu. Dengan keadaan sekarang, kekuatan Alpha mereka lebih besar ketimbang seni bela dirinya.
"Tak ada yang bisa kau lakukan disini. Pergi dan tinggalkan kami." Perintahnya, membuat Ace bertatap mata dengan Tuan paling muda disana yang meneteskan air matanya. Benar apa kata Ichiji, dalam masa 'heat' tak ada yang bisa para pelayan lakukan jika Alpha dan Omega penyebab bau telah bertemu. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah tetap diam.
"Baik. Ichiji-sama." Ungkap Ace getir sambil menutup pintu saat sebelumnya ia sudah melihat Ichiji ikut bergabung dan membuat Sanji teriak dengan tamparan nya...
...
"Na~ bagaimana bisa bau lemon busukmu bisa memabukkan?" pekik Ichiji sambil mencekik leher Sanji yang masih di terjang bertubi-tubi oleh saudara lain di belakang sana.
Ichiji gemas. Ia yang sudah khilaf untuk tidak terpengaruh dengan tubuh sensual Sanji selama beberapa bulan ini, lagi-lagi bertekuk lutut tanpa ia mau. Bahkan ia tak mau menggubris memori sekilas dengan apa yang di ejek Sanji padanya dimasa lalu saat mereka duduk di bangku SMA, yang membuat Ichiji mulai berpikir sejak beberapa bulan lalu untuk tidak 'menyentuh' si adik berambut pirang.
"hh, Aniki, sebegini asiknya, bagaimana bisa kau berpuasa dan menolak tawaran ini,guh—" desis Niji yang lagi-lagi mulai menggigit bahu yang lain saat dirasa lubang Sanji mulai menyempit dan menyapit kejantanannya.
Mengetahui dengan datangnya Ichiji, Sanji sudah pasrah, tidak ada yang bisa di lakukan nya. Ia juga merasa bodoh bisa kembali menarik seorang Ichiji yang sangat berpengaruh baginya ketimbang saudara yang lain.
"Hah...hah... Brengsek." Desis Sanji pelan. Niji tetap bergerak tak menyuruhnya untuk beristirahat. Padahal Sanji kira, dengan waktu setengah tahun tak menjamahnya, Sanji merasa Ichiji sudah tak menyukai hormonnya lagi. Tapi itu hanya tipu belaka. Feromon Omega nya bahkan tak mengijinkan si rambut merah itu lari dari pelukannya.
"apa kau bilang?!" umpatan Sanji mulai membuat Ichiji lebih mengeratkan cekikannya dan tangan satunya membuka paksa mulut Sanji hingga ternganga dan mulai menyerobot masuk batang kebanggaannya sebagai hukuman.
Dengan dua alat di mulut dan di kediamannya. Sanji bisa apa? Meringkih pilu atas kekejaman sekaligus kenikmatan yang di berikan kedua kakaknya.
"uwooogh! Uwogh!" Niji menjambak rambut Sanji hingga mendongak dan lebih dalam mengulum kejantananya Ichiji dan tak lama ia merasakan sesuatu yang panas mulai menyembur kedalam kediamannya. Dan setelahnya, ia merasa di angkat karena jambakan pada rambutnya hingga milik Ichiji terlepas dan sekejap saja lagi-lagi tamparan sekaligus bogem mentah mendarat di wajahnya. "brengsek kau, jalang!" ungkap Niji sebal karena ia telah menyelesaikan ronde pertamanya tanpa dia mau.
"Oi, Niji, sekarang bagianku." Dengus Ichiji.
"hai, Hai, Aniki." Dan Niji menurut, ia berbaring dan memindahkan badan Sanji menungging diatasnya, dan Lalu bagian Ichiji dimulai. Sama seperti sang adik, ia pun merasakan kenikmatan itu sambil menjambak helaian pirang yang mulai ambrol.
Dan sambil menunggu isi ulang 'cairan' di kejantanannya yang masih tak mau turun, Niji menyusu pada Sanji seperti bayi yang kelaparan.
Ya, bukan hanya satu, mereka melakukan hal itu hingga mereka memuntahkan cairan itu berulang. Paling lama di lakukan Niji adalah keluar tiga kali. Sedangkan Ichiji, kalau dia mau, dia bisa berlama-lama menghabiskan malam bersama Sanji.
...
Bruk.
Zoro tiba-tiba saja menjatuhkan badan Luffy dan mulai menggigit lehernya. Dan Luffy yang sigap langsung membogem Zoro yang entah kenapa tak terkendali itu. Hanya ada mereka berdua disini, dan Luffy yakin semua temannya sedang mengurus masalah Alpha yang ada di dalam.
Dan reaksi Zoro saat ini membuat Luffy berpikir, apakah Zoro juga Alpha?
"Kuso..." desis Luffy saat Zoro tersungkur dan meringis kesakitan, dengan nafas yang semakin sesak juga badan yang semakin panas, Zoro tak kuasa dan mulai kehilangan kesadarannya.
Gelap.
Walau bau lemon asam itu masih menyesakkan. Pandangan matanya mulai menggelap.
...
Detik ke menit, menit ke jam. Suasana rumah Germa sangat hening tak ada suara selain teriakan pilu Sanji akibat perlakuan kedua saudara vinsmoke dan ringkihan Reiju dengan permainan solonya juga sesekali peluh saat menyatu dengan Sabo.
Robin, Nami, Ace dan pelayan di dalam rumah, sangat jelas mendengarkan semua seruan seruan dan gema itu.
Suara-suara berisik dari persetubuhan putra Vinsmoke dan Kamar Reiju.
Bahkan Judge menulikan pendengarannya, membekukan hatinya walau ia tahu apa yang dilakukan anak-anaknya, baik itu Reiju yang lebih memilih mencumbu alat-alat dan beta lain, maupun Ichiji dan Niji yang menguasai, menyiksa dan melahap sang Omega tanpa ampun.
Hal ini, sudah makananan sehari-hari keluarga Vinsmoke. Persetubuhan bersaudara yang di lakukan, diijinkan Judge dengan tangan terbuka, ia lebih memilih kepuasan Ichiji dan Niji dan tak mau tahu dengan apa yang di alami Sanji.
...
"Mmnh,,ckkp,mmnnh." Niji fokus mengulum dan menarik kedua nipel itu seraya itu miliknya, dan Sanji bisa merasakan keringatnya menyatu dengan keringat Ichiji yang menumpu tubuhnya, mengasah goyangnyanya sambil meremas kejantanan Sanji, tak membiarkan batang menyedihkan itu klimaks tanpa suruhannya.
Sakit, semua yang di rasakan begitu lebih menyakitkan karena tidak ada kasih dalam permainan mereka, hanya merujuk kepada kepuasan kedua badan yang lebih bongsor darinya.
"Hah... Hah... Ogh, Bangsat—guh" Ichiji yang sudah sampai pada kenikmatan nya dengan paksa membalik Sanji hingga terbaring menatap wajahnya dan seketika cairan putih milik Ichiji, dimuntahkan tepat di wajahnya.
Niji tertawa tengil melihat kelakuan jorok kakaknya. "Oi, aniki. Wajah cantiknya jadi tidak terlihat tahu."
"H-hhh, hhh. Justru dia harusnya bangga menerima cairan Alphaku." Desis Ichiji puas melihat Sanji yang biasanya menyebalkan mereka itu sekarang jadi susah membuka matanya karena cairan lengket itu.
Dan lalu Niji duduk tepat di atas dada dan leher Sanji. Dan dengan semena-mena mencium mulutnya dengan beringas, entah apa yang dipikirkan kedua kakaknya yang seketika menyiksa namun memberikan perlakuan diluar batas persetubuhan, terlebih lagi hobi Niji yang slalu menciumnya bahkan di sela-sela kebrutalan mereka ini.
"tidak ada yang bisa memuaskanku selain kau. Sanji." Selama hidupnya, dimana Niji pernah melakukan aktivitas Seksual, hanya Sanji yang bisa membuatnya melakukan 2-3 ronde, karena bersama yang lain menghabiskan satu ronde rasanya sudah cukup dan membuat Niji bosan.
Ichiji juga memberikan ciuman berulang di perut sanji dan meninggalkan bekas-bekas disana, ciuman Sensual mereka di saat-saat seperti ini membuat Sanji bingung, dan seketika otaknya berhenti berpikir, menerima ciuman penuh cinta itu serasa memang mereka layak seperti kekasihnya.
Baru Saja Sanji merasa nyaman, kali ini Niji yang berganti mengacungkan kejantananya di depan bibir mungilnya. Dan memaksa Sanji untuk memberikan kenikmatan padanya lewat mulut dan lidahnya.
Sedangan Ichiji? Kali ini dia bermain di lubang sana dengan kedua jarinya. Tak lama setelahnya, mereka berdua merubah posisi, Niji dengan gilirannya lagi mengoyak lubang Sanji yang sudah cukup babak belur itu, dan Ichiji yang memberikan ciuman intens di ketiaknya, dan lagi-lagi meninggalkan beberapa warna merah kebiruan di dadanya. Tak sesekali nafas beratnya, Sanji rasakan sesaat ketika Ichiji mengelus pelan janggut di dagunya dan diikuti dengan melahap bibirnya.
...
Hari sudah mulai petang, bau lemon yang menyeruak perlahan mulai hilang, hujaman bertubi-tubi dari Vinsmoke Ichiji dan Niji, sudah mulai sedikit mereda.
Niji yang bermain dalam tiga ronde menatap puas pada lukisan indah di depannya. Sanji yang porak poranda akibat semangat Ichiji yang menghujamnya tiada batas.
"Aggh! Ogh!" bahkan ini sudah kelima kalinya pria tampan berambut merah itu menuangkan cairan putih pada kediaman Sanji. Ranjang tidur Sanji yang terus berderit dari siang itu, kini sudah mulai tak terdengar lagi.
Setelah puas, Ichiji melempar tubuh tak berdaya itu ke kasur yang sudah tak berkesan. Ia melirik obat yang berserakan di bawah lantai.
"Obat sialan ini, tidak akan bisa menghentikan bau busukmu." Celoteh Ichiji sambil mengambil beberapa butir di tangannya. "Bagaimana kalau mereka ku masuk kan kedalam sini? Mungkin mereka bisa berarti, hm?" goda Ichiji sambil melihat lubang hasil kerja keras adiknya dan dirinya itu.
"J—hh, jangan" Sanji menggeliat lemah untuk menyingkir dari cengkraman sang kakak tertua, sambil di ikutin oleh ledak tawa Niji saat seringai Ichiji dan jemarinya mulai memasuki pil itu satu persatu kedalam sana.
"Bahaha. Omega sialan!" Niji sangat puas melihat Sanji yang memohon dan tak pernah mendapat apa yang di maunya itu. Sekaligus bersyukur bahwa partner sekaligus rival dalam perebutan sang Omega, kakaknya, telah kembali.
"Gokurosama, Sanji." Desis Ichiji sambil memakai celananya dan berjalan keluar, sedangkan Niji yang juga ikut memakai kaos dan celananya itu menghampiri Sanji yang masih menggigil ngilu.
"Terima kasih undangan pestanya, manis." Ciumannya mendarat halus di pipi Sanji. "Jadilah anak baik, agar aku juga memperlakukanmu dengan baik." Bisiknya. Lalu tubuh itupun pergi meninggalkan kamar saksi bisu akibat ulah sifat alami Alpha mereka.
...
Pintu yang terbuka membuat Ace terkesiap, memang bau lemon yang menyesakkan telah berhenti beberapa menit yang lalu. Melihat Ichiji yang rupanya keluar dengan telanjang dada itu tanpa memperdulikan kehadirannya, Ace bisa lihat ada senyum puas di wajah pangeran pertama Vinsmoke.
Sedangkan Niji yang keluar lebih belakangan mulai meregangkan semua ototnya. "Haaaa~ lega, lega. Jadi membuat perut lapar!" Ungkapnya sejenak sebelum akhirnya ia pergi tidak menuju ke kamarnya.
Ace segera masuk ke kamar, dan mulutnya meringis melihat Sanji yang telanjang bulat tak berdaya dengan luka-luka dan kissmark di sekujur tubuhnya, membuat Ace tahu, bahwa persetubuhan kali ini lebih brutal dari biasanya.
"Sanji-sama, saya akan segera mengobati anda." Ungkap Ace sambil mendudukan tubuh Sanji dengan perlahan. Sanji menatapnya, pandangan matanya yang kosong melihat lelaki berkuncir itu masih dengan tuksedo compang-campingnya yang Sanji jelas tahu siapa pelakunya. Dan sebelum Ace meninggalkan nya, ia sandarkan kepalanya itu kepada bahu butler sang kakak yang sekarang bahkan menjadi butler kakak kedua, dan tanpa ia mau meneteskan air matanya.
"Maafkan aku—" desis Sanji pelan.
Ace menggetarkan bibirnya. Bukan sang majikan yang harusnya minta maaf, harusnya ia yang meminta maaf karena ia tak bisa menghentikkan kedua majikannya seperti yang di lakukan Luffy, bahkan Ace juga menangis tanpa suara sambil memeluk tubuh yang rapuh itu.
...
Sabo menghela nafas pelan saat melihat Reiju sudah tertidur dengan lelahnya. Setelah menyelimuti wanita berambut merah muda itu, Sabo beranjak untuk merapikan dirinya sekaligus merapikan segala alat-alat pemuas Reiju yang berserakan di sekitar. Bukan dia yang mengakhiri hasrat nafsu sang putri, melainkan karena bau lemon yang telah hilang yang nyaris menyelimuti kediaman Germa selama kurang lebih 7jam itu.
Setelah ia merasa telah rapi kembali dengan setelan pelayan nya. Dia keluar dari kamar Reiju. "selamat tidur, Reiju-sama." Jelasnya.
Dan saat Sabo keluar, langsung di hampiri oleh Robin dan Nami yang langsung bergegas menuju kamar Sanji.
...
Zoro mengerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa pusing walau sepertinya bau lemon yang memilukan itu sudah tak bisa di cium nya. Saat ia menemukan bahwa dirinya berada di suatu ruangan, dia mendudukkan diri untuk bisa melihat lebih jelas, dan tak jauh dari nya Luffy tengah duduk disalah satu bangku yang sepertinya menunggu kesadaran nya.
"Lu-luffy?" Zoro tergagap, masih ingat jelas saat dia menjatuhkan tubuh mungil itu ketanah saat mereka berdua masih berada di kebun.
"Yo, Zoro! Kau sudah tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?!" Luffy menghampiri saat melihat badan bongsor berkulit tan itu sudah siuman.
Zoro mendecak kecil saat melihat gigitan yang ia buat kepada Luffy. Dia lalu memalingkan wajahnya, tak berani untuk menerima kebaikan Luffy saat ini.
"—aku,,minta maaf." Desisnya.
Luffy melongo. Dan baru sadar saat ia tak sadar memperlihatkan luka yang beberapa saat Lalu Zoro buat. "Oh, ini? Tidak parah kok, tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu. Shishishi." Tawa Luffy.
Melihat Luffy yang berbesar hati memaafkan nya, membuat Zoro terpaku dan menatap lirih.
"Bicara tentang itu, Zoro apakah kau Alpha?" Tanya Luffy polos.
Zoro membelalakkan matanya. Memang apa hubungannya? Sebenarnya apa yang membuat Luffy berpikir bahwa Zoro adalah Ras paling atas itu. "Bukan, aku beta." Ucapnya.
Luffy mengerutkan alisnya. Soalnya reaksi Zoro yang menyerang, rasanya tak seperti Beta biasa. Soalnya Beta bisa menjaga diri karena Sanji mengenakan gelang emasnya saat masa heat itu dimulai. 'Apa jangan-jangan, Zoro memiliki status yang sama denganku?' batinnya.
"ngomong-ngomong Luffy, sebelum aku sesak nafas, apa kau mencium bau Lemon yang menyengat?" Zoro mengusap dadanya, masih mengingat betapa memuakkannya bau asam itu.
"Kau belum tahu, Zoro? Bau itu muncul menandakan bahwa masa 'heat' omega dimulai." Terang Luffy. Mendengar Omega disebut, yang telintas di kepala Zoro adalah Tuan mereka, Sanji.
"la-lalu, itu berarti?" Zoro takut-takut mendengar kata heat. Berarti bau lemon yang memuakkan itu adalah rangsangan untuk mengajak sang omega bercumbu?
Luffy terdiam. Ia belum tau ceritanya, karena semenjak masa itu terjadi, ia selalu bersama Zoro yang jelas, mengetahui Ichiji dan Niji disana, Luffy bisa menerka apa yang terjadi.
"sudahlah, daripada itu, sebaiknya kita bersiap-siap. Acara makan malam keluarga akan dimulai, kita para pelayan utama harus berada di sana." Ungkap Luffy mengalihkan. Dan tanpa banyak tanya lagi, Zoro hanya menurut apa yang Luffy suruh.
...
Waktu menunjukkan pukul 08.10 petang. Tak ada suara pasti dari ruangan ini, hanya terdengar suara dari hentakan sendok dan garpu yang digunakan oleh ke empat Vinsmoke yang tengah melakukan makan malam beberapa menit yang lalu. Disana terlihat juga Ace, Sabo, Luffy dan Zoro yang berdiri patuh di ruangan bisu tersebut.
Dan saat itu, pintu terbuka, mendatangkan Sanji yang menggunakan beberapa perban di pipi dan sekitar matanya. Nampak Nami yang datang bersamanya mulai mendorong bangku untuk sang majikan duduk dan ikut suasana makan malam keluarga.
Zoro dan Luffy melotot sempurna melihat Sanji yang babak belur itu. Apalagi geraman Luffy bahkan sangat jelas terdengar walau tak ada perlakuan pasti darinya. Membuat kedua Alpha berwarna Merah dan Biru itu menyengir melihat Sanji akibat hasil kerja kerasnya.
Bahkan Reiju yang rupanya marah itu tak menggubris Sanji yang duduk diantara dirinya dan ayahnya. Tetap melakukan acara makannya, dan Sanji tahu itu.
"Sangat sempurna melihat semua keluarga makan bersama. Aku tidak tahu kau cepat pulih." Ichiji memulai pembicaraan. Tak di gubris Sanji yang mulai menyendok makanannya.
"Kau masih tetap cantik. Sanji, meski dalam keadaan seperti itu." Tambah Niji menyeringai. Lagi-lagi tak di gubris Sanji yang kembali jual mahal itu.
Membuat si rambut merah dan biru agak jengkel.
"Kapan-kapan, undang kami lagi. Kami akan memuaskanmu." Kini kata-kata sensual mulai keluar dari mulut Ichiji.
Mendengar kalimat yang sepertinya Sanji yang membutuhkan mereka, agak sedikit mengusik, padahal justru mereka yang sangat membutuhkannya.
"Bajingan seperti kalian. Mati saja di neraka." Ungkap Sanji dingin.
Ichiji beranjak dari bangkunya dengan marah. Melihat Sanji yang kembali sok berani, yang berbeda jauh dengan saat waktu mereka mencumbunya.
"Apa katamu? Omega jalang!" Ichiji marah. Karena bau lemon yang tak di maunya di saat ia ingin berubah jadi anak baik selama setengah tahun, dalam waktu sehari saja Sanji menghancurkannya.
"Sudahlah aniki. Nanti kita beri pelajaran saja saat dia pada masanya." Ungkap Niji yang merasa masih menjadi pemenang itu.
"Sudahlah kalian berdua, kekanakan sekali." Reiju membanting garpunya. "Tak tahu malu mengatakan hal-hal seperti itu di meja makan." Jelasnya.
"hee, Neesan. Kau sendiri bagaimana? Puas dengan para pelayan?" goda Niji yang memang membenci Reiju.
Reiju mendelik marah kepada pemuda berambut biru itu.
"Menggoyang Sanji itu sangat mengasyikan loh, Neesan coba rasakan." Goda Niji. Membuat wajah Sanji seketika memucat dan Kini Reiju menggebrak meja dengan marah. Sekalipun ia benci dengan keadaan heat Sanji, ia tak mau melukai Sanji seperti adik-adiknya.
"Baka Niji—" geram Reiju.
"sekarang siapa yang kekanakan?" Ichiji menimpali melihat reaksi Reiju yang juga cepat marah itu, dan kini mata Reiju mendelik pada Ichiji yang masih menimpali seringai.
"Sudah, sudah. Ichiji, Niji, kalau memang sudah memuaskan kalian, tidak usah di umbar." Judge menengahi. "dan kau, Sanji. Masa heat mu yang harusnya terjadi beberapa bulan lagi, kenapa kau menggemparkan kediaman ini? Bersyukur ada Ichiji dan Niji disini." Ungkapnya. Mendengar sang ayah yang lebih memilih kedua bajingan terkutuk yang menyakitinya itu, membuat Sanji sedikit marah. "dengan keadaanmu yang tidak sesuai, kau tak kuijinkan beraktivitas di luar germa."
Mendengar penjelasan sang Ayah. Ichiji dan Niji menyeringai, Sanji yang di kurung di Germa, membuat mereka merasa lebih merdeka, karena mereka juga akan menghabiskan waktu lama di kediaman.
"Aku tidak mau! Ada perjalanan bisnis team dan aku masuk ke daftar nya." Ujar Sanji yang memang berniat menghabiskan waktu seminggu dirumah setelahnya dia akan perjalanan bisnis bersama teamnya ke Perancis.
"Urusan koki seperti itu tidak penting." Bantah Judge.
Sanji menggeram. Mana mau ia dikurung bersama kedua serigala Alpha itu. Habis la sudah kalau ia sampai tidak keluar dari neraka ini juga.
"Ayah. Ini sangat penting bagi Sanji, perjalanannya hanya seminggu, masa heatnya kan sudah selesai hari ini, aku yakin Sanji tidak menimbulkan masalah." Reiju, kakak yang menyayangi Sanji membela. Ia juga tidak mau mendengar kesakitan dan melihat tubuh Sanji dengan hasil yang seperti ini.
Mendengar pembelaan Reiju, membuat alis dan dahi Niji mengkerut marah. Mereka tahu Judge lebih membela gadis perempuan itu diatas kepentingan mereka.
"Kalau begitu biar semua butler ikut mengantarnya." Judge menghela nafas mengalah. Tapi dengan datang bersama empat butler bukankah malah menjadi menarik perhatian?
"Tidak usah, seorang saja cukup." Ungkap Reiju mulai menenangkan diri. "biar Zoro yang ikut bersamanya, selama beberapa hari dengan Nami, aku tidak masalah." Jelasnya.
"Zoro?" Judge tak tahu siapa dia.
Melihat Reiju mengangkat tangannya untuk memanggil Zoro yang ada disana, Zoro segera mendatanginya dan membungkuk hormat pada Judge.
"Dia Zoro, anak satu-satunya Rayleigh-san." Ungkap Reiju.
Ichiji dan Niji yang juga baru melihat pelayan baru berambut hijau itu mulai menunjukkan wajah tidak suka saat ia berdiri diantara Reiju dan Sanji.
"Oh. Jadi kau orangnya." Judge ingat pemuda yang mengamuk di kebun itu. "Baiklah, aku serahkan urusan Sanji padamu karena aku juga sangat percaya dengan kerja Rayleigh." Jelas Vinsmoke Judge. "Kalau kau sampai membawa masalah lagi, kali ini aku tidak akan berbaik hati padamu." Ujar Judge mengancam Sanji sebelum akhirnya meninggalkan mejanya dan berjalan keluar di ikuti Sabo di belakangnya.
...
Setelah kedua adik dan para pelayan sudah tidak ada, Kini Reiju duduk menghadap langsung kepada Sanji dan menyapa hangat dengan tamparannya.
"Sanji, kau harus ingat! Yang memacu hormon heat mu adalah emosionalmu! Kau cukup membuat banyak masalah hari ini." Reiju geram. Bagaimana ia tidak marah, selain dirinya, tentu saja Sanji lebih paling tersakiti.
"Maafkan aku." Ujar Sanji lirih. Ia juga merasa bersalah dengan waktu berat yang di lalui sang kakak.
"Aku sudah berusaha mengeluarkanmu dari lingkup mereka berdua. Nami tidak akan bisa menjagamu diluar sana. Jadi fokus saja pada tugas kokimu." Nasihat Reiju.
"Tapi, Reiju, kenapa tidak Luffy?" Bagi Sanji, daripada butler baru itu, dia lebih nyaman dengan Luffy.
"Luffy sudah kutugaskan untuk Yonji, saat Yonji pulang nanti, dia harus menjalankan tugasnya. Kau tahu bagaimana anak nakal itu, kan."
Sanji terdiam.
"Reiju, aku minta maaf—"
"sudahlah, lebih baik kau beristirahat agar lebih stabil. Besok kau sudah harus melakukan perjalanan panjang." Reiju menepuk bahunya. Mana bisa dia marah berlama-lama pada adiknya yang lebih kasihan nasibnya itu.
Mendengar perintah Reiju, Sanjipun meninggalkan ruang makan. Saat pintu dibuka dan menemukan pemuda bersurai hijau itu, Sanji sempat terdiam dan menatapnya, agak kesal, karena orang itulah, ia jadi teringat dengan Rayleigh.
Sedangkan Zoro agak bingung dan risih di tatap oleh Sanji. Tetapi saat lelaki bersurai pirang itu akan berlalu, Zoro menggapai tangan kecil bergelang emas itu. Ia juga bisa lihat lebam di pergelangan tangan yang di genggamnya.
"Ma-mau apa kau?" Ucap Sanji agak takut dengan mata intens yang menatap sekujur tubuhnya.
'Wangi karamel, lagi?' desis Zoro saat dia dan Sanji yang sekarang adalah jarak paling dekat dengannya. Dan dia rasa dia bisa menerima dengan baik aroma itu.
Dan sesaat, mata lelaki itu melirih, ia tak tahu pasti apa yang terjadi, tapi selama percakapan Vinsmoke saat makan malan, is mengerti yang membuatnya seperti ini adalah perbuatan kedua kakak laki-laki nya.
"apa, Ichiji-sama dan Niji-sama yang melakukan ini padamu?' ungkapnya lirih. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan keluarga Vinsmoke, yang jelas si Omega pasti sedang menderita.
Sanji melepas paksa tangannya dari genggaman Zoro. "Memang apa urusanmu? Kau mengasihani majikanmu? Lancang sekali." Desis Sanji. Ya, ia tidak suka tatapan itu. Semua pelayannya menatap seperti itu saat ia habis disetubuhi oleh saudara laki-laki nya. Lalu Sanji pergi meninggalkan lelaki itu.
Tak ada patah kata bahkan langkah kaki yang mengejar pemuda pirang, Zoro tetap di posisinya, dia saat ini memang sedang menunggu majikannya yang kini sudah keluar dari ruangan.
"Mulai besok, aku percayakan Sanji padamu." Terang Reiju sebelum saatnya dia dan Zoro meninggalkan daerah ruang makan.
...
Setelah makan malam telah usai. Dan para bangsawan Vinsmoke terlelap untuk istirahat. Para pelayan utama tengah berkumpul. Sabo, Robin, Ace, Zoro, Luffy dan Nami berkumpul sambil membincangkan kejadian hari ini.
"Aku tidak percaya kau bisa sampai pingsan, Zoro." Terang Robin. Bingung di saat semua panik, Luffy dan Zoro malah tidak ada di tempat.
"Mungkin dia belum terbiasa, tapi menyerang Luffy kau sangat keterlaluan sekali." Ace menjitak gemas rambut hijau itu. Karena dia sangat menyayangi adik kecil pemberani yang selalu bisa di andalkan untuk Sanji.
"sudah sudah, Ace. Aku tidak apaapa, kok."
"Sabo-san, pasti berat untukmu, ya." Robin melirik Sabo yang sedari tadi menghela nafas bahwa hari ini ternyata bisa berakhir.
"Tentu saja, Robin-san. Setiap kali aku bersatu dengan Reiju-sama, hatiku rasanya sakit sekali. Dia majikan ku dan aku lancang menyetubuhinya." Lirih Sabo.
Zoro mulai terbiasa dengan percakapan aneh dalam kediaman ini. Tapi sampai Sabo menyetubuhi Reiju, sebenarnya tugas apa yang mereka terima sebagai butler pribadi?
"Hiks, aku tetap sedih melihat Sanji-sama." Kali ini Nami mulai menangis. "Luffy, sudah kubilang aku tidak bisa menjaganya."
"Me-memangnya, saat Luffy menjadi butler Sanji-sama, apa yang dia lakukan?"
"Dia hebat sekali, Zoro. Dia menjaga pintu kamar Sanji-sama sambil bergulat dengan ketiga pria itu, keren." Ungkap Ace. Zoro menatap Luffy dengan serius. Lelaki bertubuh kecil ini melawan ketiga Alpha dalam masa heat itu?
"Ya, walau ada beberapa saat ia yang malah babak belur melawan mereka. Dan Sanji-sama kebobolan lagi." Tambah Sabo.
Hebat. Dia melihat Luffy yang menjaga tuannya dengan jiwa dan raganya itu sangat berkesan bagi Zoro. Meski babak belur, Luffy berusaha sekuat tenaga menghalau ketiga Vinsmoke datang kepada Sanji.
Dan Zoro sudah mengerti dengan ketidak abnormalan dunia kerjanya terlebih dengan Judge sang ayah yang menjadikan Manusia bernama Sanji itu sebagai alat kepuasan putra yang lain.
"Memang, sejak kapan kejadian ini di mulai?" Zoro antusias, ingin mengetahui lagi Rahasia di balik keluarga Alpha bernama Vinsmoke ini.
"Waktu masa heat pertama Sanji-sama terjadi saat dia duduk di kelas satu SMP." Terang Robin. "Saat itu Rayleigh, Aku dan Sabo sudah menjadi pelayan utama."
"Aku saat itu masih berlatih bersama Nami, dan saat kembar Vinsmoke kelas 2 SMA, Luffy datang." Timpal Ace.
Dan malam panjang itu belum berhenti, Yang Zoro lakukan adalah mendengar semua cerita dari pelayan sepuh yang sudah lama bernaung di dalam kediaman Germa ini. Dan di kepala nya saat ini hanya Satu, sebagai butler pribadi Sanji mulai besok, Zoro bertekad untuk menjaga Sanji dan mencegah bahaya yang datang kepadanya.
Bersambung ...
Hai-Hai, Maaf kalau Lemon nya jelek atau kurang atau tidak bagus atau terlalu kasar, terserah apa perasaan reader. Jujur Author suka Niji x Sanji, wkwkw, tapi tetap nomor satu ya Zoro x Sanji.
Jadi begitulah ceritanya, kasian Sanji ... *ditabok*
Ya, sampe ketemu Chapter selanjutnya ~ Bolehlah tinggalkan Repiu :3
