Chapter 2

Fusaku shite iru dokyumento

(Dokumen yang hilang)

"Naruto!" seorang wanita berambut merah menyala mendorongnya hingga terbentur dinding. Wanita berambut merah itu tertembak, dia langsung rubuh. Darah tidak berhenti mengalir dari tubuh wanita uzumaki ini.

"Lari! Naruto lari!" teriak wanita berambut merah itu sekuatnya. Naruto kecil yang masih belum mengerti apapun langsung bangkit dari tempatnya dan berlari keluar pintu rumah.

Naruto berlari penuh ketakutan, seperti dalam mimpi buruk. Dia terjatuh dengan keras ke atas sebuah daratan dengan rumput yang lebat.

Lelaki berusia empat tahun itu mendengar pintu besar yang tadi dilewatinya terayun menutup dengan bunyi klak yang keras. Jeritan kedua saudaranya pun terdengar menggema mengerikan. Teriakan itu pun perlahan menghilang seperti tak pernah ada".

Bayangan seorang pria muncul disampingnya. Naruto menjerit.

Pria itu menggapainya, menarik lengan naruto ke arah persembunyiannya.

"Naruto?, kau tak apa" seorang pria tua dengan rambut putih panjangnya, kakek naruto jiraiya. "Dimana yang lain?".

Naruto membuka mulutnya, tapi dia tak mampu untuk bicara. Dia benar benar sangat takut. Lalu tangannya menunjuk ke arah pintu rumah. Jiraiya mengangguk mengerti lalu melepaskan tangannya dari naruto.

"Tunggulah disini!". Jiraiya pergi meninggalkannya menuju rumah besar keluarga uzumaki itu. Dia lalu mengintip dari jendela yang tertutup tirai putih. Dia memicingkan matanya mencoba menembus tirai itu, tapi pandangannya tidak setajam dulu. Yang bisa dia lihat hanya bayangan bayangan hitam didalam rumah.

Sebelum membuka pintu, jiraiya berhati hati merogoh kantungnya mengambil sebuah pistol kecil untuk berjaga jaga. Dia menarik pintu hingga terbuka sedikit, lalu berjuang membuka rantai yang mencegah pintu untuk terbuka dan akhirnya jiraiya berhasil.

"Minato!, kushina!, menma!, naruko!" jiraiya berteriak mencari keempat orang yang berada dalam rumah. Diam diam naruto mengikuti langkah jiraiya dibelakangnya.

"Oh tidak" jiraiya berujar pelan ketika melihat keempat orang itu terikat dengan jantung yang sudah tak berdetak dan darah yang mengalir kemana mana. "Minato maaf, aku terlambat" tubuh jiraiya bergetar dan langsung lemas tak berdaya. Jika saja tangan kokohnya tidak menahan, dia mungkin telah terjatuh.

Naruto membulatkan mata biru lautnya. Dia langsung ambruk dan terjatuh. Naruto menangis dalam diam, perasaan sedih, terkejut dan bingung bergabung menjadi satu. Keluarganya telah hancur, dia tidak memiliki siapapun sekarang.

#$ (fusaku shite iru dokyumento)$#

"Tidak!" naruto berteriak dan bangun dari tidur lelapnya. Seluruh murid murid sekolahnya sementara menghentikan aktifitasnya lalu beralih menatap naruto. Termasuk gadis "Hyuuga hinata?" naruto linglung dengan nama yang sepertinya tak asing.

Seluruh murid bersorak heboh, mereka menyambut hinata dengan baik.

"Imutnya!"

"Bertemanlah denganku hinata!".

"Ayo ikut kelompokku".

"Jadilah pacarku".

Begitu respon murid murid di SMA konoha.

Naruto yang baru sadar akan nama hyuuga hinata langsung mengangkat wajahnya menatap siswi baru itu. Tiba tiba naruto berdiri menggebrak meja dan berteriak. "Ini gila!, kenapa kau mendaftar disini hinata!".

"Ya ya, aku mengerti" hinata merespon. "Kau harus menyerah pada takdirmu".

"Kau mengenalnya hinata". Tanya kakashi singkat.

Gadis itu kemudian tersenyum dan mengangguk. "Semalam aku tidur bersamanya".

Anak anak murid membuat keributan. Terutama anak laki laki yang merasa diperlakukan tidak adil oleh naruto.

"Hei apa itu!," bantah naruto. "Kita tidak pernah melakukan hal seperti itu".

"Itu benar, aku tidur dikasurmu naruto" jawab hinata.

"Ya itu memang benar" naruto berdebat. "Tapi pemilihan kata mu itu yang membuat salah paham".

"Sudah sudah" kakashi melerai perdebatan mereka. "Sekarang kau bisa duduk disamping naruto, hanya itu tempat yang kosong".

"Tapi guru, disampingku ada saku..." naruto menoleh ke arah sakura, tapi sakura dan barang barangnya menghilang. Dia sudah berpindah ke tempat lain, disamping seorang gadis berponi dan berambut panjang.

"Sepasang kekasih dalam satu kelas harus duduk bersama kan" sakura meledek.

Dia tak punya pilihan, naruto harus duduk bersama hinata.

Wajah hinata yang tadi santai santai saja. Sekejap berubah menjadi serius ketika duduk disamping naruto.

"Kita akan introgasi gurumu saat makan siang nanti" ujar hinata. "Kau bawa fotonya naruto?.

Naruto mengangguk dan mengeluarkan kertas photo yang sudah berdebu itu.

"Kerja bagus!" seru hinata. "Hanya dialah sumber informasi kita saat ini."

Jam makan siang telah tiba, seluruh murid bersorak kegirangan. Naruto mengeluarkan foto dan gulungan yang berisi bait terakhir lagu.

Hinata membaca berulang ulang lagu itu, mencoba untuk menemukan sebuah petunjuk yang bisa menuntun mereka menemukan ruangan yang tak pernah ada.

Sakura menghampiri mereka berdua sambil membawa kotak bekal makan siang. Sakura berniat untuk mengajak hinata makan bersama sama. Tapi niatnya berhenti saat memandang gulungan berisi lirik lagu itu.

"Norowa reta shoujo?". Kata sakura setengah berbisik. "Untuk apa kalian berusaha keras menyelidiki lagu ini?.

"Kamu tahu lagu ini sakura?"

"Itu hanya lagu," jawab sakura. "Semua orang menyanyikan lagu ini berbeda beda. Kata katanya berubah sepanjang masa. Lagipula" dia menambahkan. "Apa ada pesan penting yang membuat kalian begitu tertarik dengan lagu ini".

"Ruangan yang tak pernah ada!" hinata menghentikan kesibukannya mencari petunjuk. "Lagu ini masalah belakangan, sekarang kita harus mengintrogasi guru kakashi".

"Heh?. Introgasi" ujar sakura bingung.

Hinata berjalan pelan menuju ruang pribadi milik kakashi disusul naruto kemudian sakura yang kepo abis.

Kakashi sedang duduk dikursinya, terkantuk kantuk menikmati waktu istirahatnya.

Naruto terbatuk batuk saat memasuki ruangan dan dengan ramah mencoba membangunkan gurunya.

"Ada apa naruto" kakashi membuka matanya perlahan, kemudian menatap satu per satu dari tiga orang diruangannya. "Apa ada hal penting sampai kalian harus membangunkanku."

"Petunjuk," jawab naruto. "Ke ruangan yang tak pernah ada!".

Laki laki itu berdehem. Dia kembali memejamkan matanya dengan santai. "Darimana kalian tahu tentang ruangan itu dan hubungannya denganku".

Hinata menunjukan lembar photo usang itu pada kakashi. Seketika rasa kantuknya hilang dan langsung menyambar photo itu.

"Photo ini," seru kakashi sambil memandangi kertas photo itu. "Darimana kalian dapatkan".

"Kami menemukannya di koridor rahasia milik ayahku, minato namikaze" respon naruto cepat.

"Jadi naruto" kakashi memalingkan pandangannya pada pemuda berambut kuning tersebut. "Kau adalah anak dari guruku, pewaris satu satunya dari keluarga uzumaki".

"Itu benar".

Laki laki bermasker itu tertawa keras. "Jadi kau bermaksud untuk menyingkap misteri kematian keluargamu dengan mencari dokumen dalam ruangan yang tak pernah ada!".

"Itu juga benar" naruto menegaskan.

"Sekarang aku mulai paham" katanya. Dia menghempaskan tubuhnya malas kesandaran kursi. "Itu ular yang berbeda warna".

"Jujur aku tidak mengerti satu katapun dari yang kalian bicarakan" sakura berterus terang.

"Itu diluar kemampuan kalian anak anak, kalian tak akan berhasil dalam pencarian ini" kata kakashi dengan nada pelan. "Lupakanlah kalau kalian pernah mendengar tentang ruangan yang tak pernah ada".

"Biar kuberitahu pada kalian apa yang penting!" sergah kakashi dari kursinya. "Nyawa kalian!. Jangan membahayakannya dengan mengejar sesuatu yang tidak ada!".

"Walau bagaimanapun nyawa penduduk desa lebih penting dari nyawa beberapa orang saja!" komentar naruto.

"Demi dewa dewa langit dan bumi. kau ini apa nak?, pemberani, bodoh atau gila?" kakashi berseru sambil bertepuk tangan.

"Ha!" laki laki paruh baya itu tertawa lagi, lalu berdiri bangkit dari kursinya sambil menggenggam kertas photo yang diberikan hinata. "Dengarkan aku anak anak." dia mengambil nafas panjang dan memulai. "Aku dan dua temanku yang wajahnya sudah kalian lihat dalam photo ini pernah terobsesi dengan ruangan itu. Hanya itu yang selalu kami pikirkan, selalu kami inginkan. Bahkan kini, bertahun tahun kemudian, aku masih mengingat kebakaran yang membakar mereka berdua dan aku masih merasakan ketakutan akan kematian dan merasakan panasnya api." Dia menatap photo itu memandangi dua temannya. Yang satu wanita berambut coklat, yang satu lelaki riang u penuh dengan senyum. "Api yang tinggi itu telah mengambil mereka berdua dariku, menghancurkan hubungan yang telah kami bina selama bertahun tahun menjadi abu, bersama kenangan kenangan berharga yang jauh melebihi khayalanku."

"Pernah ada kebakaran?" tanya naruto.

Sakura teringat cerita tentang sebuah koridor super besar yang pernah terbakar dahulu. Kebakaran yang menghancurkan isi sebagian koridor itu.

"Kebakaran besar di koridor besar sekolah kan guru" katanya.

Mata laki-laki itu samar samar memancarkan rasa hormat. "Kau sudah dengar ceritanya?".

"Hanya sebagian kecil" kata sakura. "Aku suka mempelajari sejarah yang menarik perhatianku, bisa kau ceritakan guru?"

"Hei sakura!, disini kita datang untuk mengintrogasi, bukan untuk belajar sejarah" protes naruto.

"Itu sepertinya bisa membantu"pikir hinata.

Kakashi mengubah posisi duduknya mencari tempat ternyaman.

"Setelah keluargamu meninggal, temanku bernama obito berencana untuk menyelidiki misterinya dan penyebabnya. Dia juga sangat penasaran tentang isi dokumen itu sampai sang pencari rela membunuh satu keluarga demi mendapatkannya. Sayangnya aku dan teman wanitaku rin, tidak menolak ajakan itu. Kami bersama sama sepakat untuk menyelidikinya. Kami menghabiskan waktu siang dan malam mempelajari petunjuk petunjuk yang kami temukan. Salah satu teka teki yang hampir membuatku gila adalah ruangan itu berada dibawah kaki semua orang dan dibalik bumi, didalam hidung: ingus."

Kakashi membuka kedua lengannya lebar lebar. "Dan perjalanan yang sia sia mengubahku menjadi seorang pria lemah lembut seperti kakashi yang kalian kenal. Perjalanan itu juga membuatku kehilangan obito dan rin."

"Aku tidak mengerti" gumam hinata pelan. "Pasti ada sebuah alasan yang membuat anda dan teman teman anda percaya akan petunjuk itu"

"Hati percaya apa yang ingin dia percayai" kata kakashi.

"Mengertikah kalian?" katanya. " teka teki itu musnahkan aku. Menghancurkan hatiku. Merusak hidupku!".

Kini mata sang wali kelas dipenuhi pancaran kesedihan yang sangat mendalam. Mereka bertiga saling bertukar pandang, bertanya tanya apakah itu akhir dari kisahnya.

Tapi kakashi melanjutkan. "Terdorong oleh teka teki, impian tentang ruang yang tak pernah ada itu menghancurkanku. Wali kelas itu perlahan menunduk penuh penderitaan. "Percayalah padaku, tidak ada yang namanya ruang yang tak pernah ada. Aku tak ingin kalian melakukan hal bodoh yang sama seperti yang dulu kulakukan bersama obito dan rin".

"Kebakaran itu" hinata mengingatkan. "Bagaimana dengan kebakaran itu".

"Malam itu kami menginap dalam koridor menunggu fajar tiba. Kami meletakkan cermin cermin. Itu penyebabnya!. Cermin memantulkan sinar matahari dan membakar semuanya. Teman temanku dan barang barang berharga dalam koridor."

Kesunyian yang panjang menjelma di ruangan itu. Ketiganya duduk diam terkecuali sakura yang terus terusan mengagumi replika kapal laut yang sangat besar bernama triton's dark. Sakura adalah seorang yang sangat tertarik dengan sejarah dan apapun yang berkaitan di masa lalu.

"Jadi apa inti dari cerita guru" kata naruto, akhirnya .

Lelaki paruh baya itu menggerutu. "Kau mendengarkanku tapi tidak mendengar. Apakah kau sama sekali tidak mengerti? Apakah dari tadi aku hanya membuang buang kata kata yang berharga?. Tidak ada teka teki" hardiknya kesal. "Tidak ada ruang rahasia. Dan dokumen itu tidak ada!"

"Tapi anda bilang..."

"Aku bilang," kakashi meraung, bangkit dari tempat duduknya. "RUANGAN ITU TIDAK ADA!"

Hinata menghela nafasnya memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali. "Terimakasih guru sudah berbagi ilmu anda. Ilmu anda memberikan kami banyak informasi dan hal hal yang harus kami pikirkan. Kami akan pergi mencari tahu tentang koridor besar sekolah itu.

Kakashi tertawa meledek. "Koridor itu dan petunjuk didalamnya sudah habis dilalap api, bagaimana cara kalian menemukannya hah!".

"Kami tak akan menyerah," hinata berkata penuh keyakinan. "Nyawa penduduk desa ada di tangan kami sekarang".

"Kalian punya bakat untuk menghancurkan hidup kalian!" kakashi kembali tertawa. "Tapi aku suka kalian, kalian begitu keras kepala termasuk kau murid baru." kata kakashi. "Aku adalah seorang guru, jadi aku akan berikan semua informasi yang kalian tidak tahu. Sebuah petunjuk."