Happy Birthday Nagisa!
暗殺教室 / Ansatsu Kyōshitsu / Assassination Classroom © Matsui Yūsei
Akabane Karma x Shiota Nagisa
Romance, Shounen-ai
AU, OOC, Typo(s) *mungkin* dan segala kekurangan lainnya akan ditemukan dalam FF ini =w=
[[Maaf jika FF ini memiliki kesamaan ide dengan cerita yang lain]]
"Ng.. Nagisa.."
Karma mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari bahwa sosok yang ia cari tidak ada. Ia berjalan keluar menuju kamar mandi. Menggosok gigi dan mencuci muka. Setelah selesai, ia menuju dapur. Benar saja, sosok yang ia cari berada di sana.
Karma berjingkat pelan. Nagisa tidak menyadari keberadaannya. 3.. 2.. 1.. Karma memeluk Nagisa dari belakang.
"Ah.. Selamat pagi Karma."
"Selamat pagi."
"Lepaskan aku Karma. Kau tidak melihat aku sedang memasak sarapan kita?"
"Aku melihatnya kok." Bukannya melepaskan, Karma justru semakin mempererat pelukan.
"Oh ya." Karma mendekatkan bibirnya pada Nagisa. "Selamat ulang tahun sayang." Karma berbisik dengan nada sensual membuat Nagisa merinding.
"A-Ah.. I-iya.. Terima kasih Karma."
Tiba-tiba sebuah ide melintas di dalam pikirannya. Ia menjilat daun telinga Nagisa.
"Huuaaa..!" Nagisa terkejut. Ia menjauh dari Karma.
"Jangan lakukan itu Karma!" Nagisa mengacungkan sodet yang ia pegang ke arah Karma. Karma hanya terkekeh.
"Ne.. Nagisa.. Kau benar-benar harus kuliah hari ini?"
"Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin menghabiskan waktu seharian ini bersamamu."
Nagisa tertawa kecil.
"Nanti kan setelah aku pulang aku bisa menemanimu."
"Janji ya?"
Nagisa mengangguk.
"Nagisa!"
"Ah.. Karma!"
Nagisa mempercepat langkahnya.
"Kau tidak perlu repot menjemputku, Karma."
"Aku tidak merasa repot kok."
Nagisa masuk ke mobil Karma.
"Karena hari ini adalah ulang tahunmu, aku akan membawamu kemanapun yang kamu mau."
"Hmm.." Nagisa berpikir sejenak. "Aku mau ke gedung lama, kelas 3-E."
Nagisa dan Karma berjalan di lorong gedung yang sepi. Masuk ke ruang guru dan menatap lemari serta berkas-berkas di atas meja. Ada sebuah buku yang menarik perhatian Nagisa. Sebuah buku berwarna kuning bertuliskan Kelas 3-E "Ansatsu Kyoushitsu" pada sampulnya.
Membuka halaman pertama. Tertulis nama Koro-sensei, Karasuma Tadaomi, Irina Jelavic, dan nama teman-temannya di bawahnya. Di sana juga tertulis tanggal pembuatan buku itu. Membuka halaman kedua dan seterusnya. Terpampang banyak foto kegiatan kelas 3-E dulu. Ya, sebuah album foto.
Nagisa terus membuka halaman-halaman itu hingga ke halaman terakhir. Pada halaman terakhir itu, terdapat dua foto. Dengan pose yang hampir sama pada kedua foto itu. Yang berbeda hanyalah hari pengambilan foto dan ...
"Ya, sedikit ke tengah!"
"Kayano-chan, geser sedikit dong."
"Hey.. Hey.. Aku tidak kelihatan nih!"
"Terasaka, sebaiknya kau di pinggir saja."
"Okajima, simpan foto model itu. Kau tidak perlu memperlihatkannya pada kamera."
"Nagisa-kun, kau di depan!"
"Eh? Tapi kan yang di depan perempuan semua."
"Salahkan tinggimu itu yang seperti anak perempuan di sini."
"Hahaha..."
"Koro-sensei.. Apakah kau harus melilit tentakelmu itu pada kami?"
"Tentu saja!"
"Nah, sudah siap semua?"
"Ya!"
"Ayo cepat Karasuma-sensei!"
"Irina, kau tidak perlu memelukku!"
"Sekali ini saja Karasuma, untuk kenang-kenangan."
"Cepat lihat ke kamera Karasuma-sensei, Bitch-sensei. Sebentar lagi tuh."
"Cheese..."
"Posisinya sama seperti yang waktu itu ya."
"..."
"Jangan lemas begitu. Ayo semangatlah. Kalian kan sudah lulus."
"Rasanya sepi tanpa Koro-sensei."
"Aku merindukannya."
"Jika saja seandainya Koro-sensei masih hidup, dia pasti akan sangat senang melihat kami semua lulus."
"Tapi jika kami tidak membunuhnya, maka Bumi akan hancur."
"Rasanya uang bermiliar yen itu tidak bisa membuat kami merasa se-bahagia dulu."
"Aku mengerti perasaan kalian. Tapi bisakah kalian tidak terus-terusan murung seperti ini? Jika dia masih hidup, dia pasti tidak akan senang melihat kalian sedih di hari kelulusan kalian."
"Hmm.."
"Nah, senyum ya."
... Tidak ada nya Koro-sensei pada foto terakhir.
"―gisa.. Nagisa.. Nagisa.."
Nagisa tidak bergeming.
"Nagisa!"
"M..Maaf Karma."
"Kenapa kau menangis?"
"Aku... hanya merindukan teman-teman, Karasuma-sensei, Bitch-sensei, dan juga... Koro-sensei yang telah kita bunuh sehari sebelum hari kelulusan."
Karma memeluk Nagisa. Mengelus pucuk kepala bersurai biru itu dengan lembut.
"Sudahlah Nagisa. Jangan menangis. Aku di sini selalu bersamamu. Lagipula, hari ini usiamu bertambah satu tahun. Oleh karena itu, jangan bersedih, ya?"
Karma menghapus air mata Nagisa.
"Ya.. Terima kasih Karma."
"Nanti kita bisa membuat acara reuni jika kau memang benar-benar merindukan mereka."
Nagisa mengangguk.
"Ayo kita keluar!"
Karma menarik tangan Nagisa. Nagisa terdiam, ia tidak tahu kemanakah Karma akan membawanya pergi. Hingga mereka sampai di halaman belakang gedung.
"Nah Nagisa, sekarang berbaringlah!" Karma berbaring di atas rerumputan. Nagisa mengikuti apa yang Karma lakukan dan ia tersadar.
"Wah.."
Langit terang tanpa awan hitam memperlihatkan kerlap-kerlip bintang di sana. Bulan yang selama bertahun-tahun tak pernah menjadi purnama lagi juga menampakkan dirinya. Berbaring beralaskan permadani rumput hijau dan beratapkan langit. Nyaman.
"Bagaimana? Bagus kan?"
"Un.."
Karma bangun dan menyilangkan kedua kakinya. Mengeluarkan sebuah kotak dengan kertas kado berwarna biru dari dalam tas kecil yang sedari tadi ia bawa. Nagisa menatapnya heran.
"Ini untuk hadiah ulang tahunmu Nagisa."
Nagisa pun ikut duduk bersama Karma dan menerima hadiah itu.
"Terima kasih Karma!" Nagisa membuka hadiahnya.
"Ini kan... ponsel keluaran terbaru. Apa tidak kemahalan?"
"Mmm... Tidak juga sih. Aku membelikanmu itu supaya aku bisa menghubungimu lagi. Ponselmu kan hilang minggu lalu."
Karma mengeluarkan ponselnya.
"Lihat. Punyaku berwarna biru, jadi aku membelikanmu yang merah."
Semilir angin menerpa mereka berdua. Sesekali Nagisa menyingkirkan anak rambut yang menghalangi penglihatannya. Karma menatap Nagisa. Ia terus menatap lekat sosok di sampingnya itu. Terus menatapnya hingga beberapa saat.
Ah.. Dia sudah tidak tahan lagi.
Karma mendorong tubuh Nagisa hingga ia terlentang kembali. Kini Karma berada di atasnya dan ia menahan kedua tangan Nagisa yang merentang lebar.
"Karma, apa yang kau ―"
Karma segera membungkam bibir mungil Nagisa. Nagisa terbelalak, kaget. Karma mengulum bibir Nagisa lembut. Setelahnya ia menggigit bibir bawah Nagisa, meminta Nagisa membuka mulutnya. Nagisa memberikan izin. Lidah Karma langsung masuk begitu celah terbuka.
Karma melepaskan genggamannya saat ia merasa tangan Nagisa sudah tidak setegang tadi. Tangannya bergerak menuju rambut Nagisa yang terikat dan melepaskan kunciran itu dengan perlahan.
Lidah mereka terus menari menimbulkan bunyi decakan. Mata mereka berdua terpejam, menikmati hangatnya permainan mereka. Tangan Karma mulai bergerak lagi menuju pinggang Nagisa dan berusaha menelusup masuk ke dalam pakaian yang Nagisa kenakan. Seketika Nagisa menghentikan permainan.
"K-Karma.. Hhh.. Jangan lakukan itu.. di sini.."
Terengah-engah. Berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil berusaha merangkai kata-kata. Nagisa merasa lelah. Tatapannya sayu. Semu merah menghiasi wajahnya.
Melihat hal itu Karma merasa semakin tergoda.
"Tidak! Karma! Jangan!"
Karma tidak mempedulikan Nagisa. Ia menggigit dan menghisap kuat leher berkulit putih itu. Sesekali menjilatnya, membuat Nagisa merasa geli. Sudah puas, Karma menyudahi kegiatannya dan meninggalkan tiga tanda di sana.
"Karma.. Besok.. Aku masih ada kuliah.. Hhh.. Kenapa kau melakukannya?"
"Itu hanya sebagai bonus hadiah untukmu." Karma menjawab enteng pertanyaan Nagisa.
"Bagaimana.. jika ada temanku yang melihatnya besok? Aku harus mengatakan apa?"
"Jawab saja sejujurnya."
"Karma!"
Karma menjulurkan lidahnya. Ia berdiri dan sedikit meregangkan tubuhnya.
"Ayo kita pulang Nagisa!"
Nagisa tidak langsung mengiyakan ajakan Karma. Otaknya sibuk berpikir untuk hari esok.
"Ya ampun anak ini. Ya sudahlah."
Tanpa aba-aba Karma langsung menggendong Nagisa dengan cara bridal style. Nagisa terkejut.
"Turunkan aku Karma! Aku bisa jalan sendiri."
"Diam atau kau akan ku cium lagi."
"Ukh..."
Keesokan harinya teman-teman Nagisa terkejut dan khawatir melihat banyak plester di leher Nagisa.
A/N
Hai~
FF ini dibuat beberapa hari setelah membuat FF ChibaHaya. Kenapa baru diupload? Alasannya sama, karena seminggu yang lalu baru balik ke Jakarta. Huueee.. Aku benar-benar minta maaf, FF ini telat banget. Sumpah.
Oya, terima kasih buat Huangzi Kyungsoo -chi karena menjadi orang pertama yang membaca 2 FF ku ini. Percayalah, sawah yang kita lihat waktu itu jauh lebih bagus dari FF ini :")))
Aku tunggu review dari kalian~
