Harapan seorang wanita adalah menjadi seorang ibu. Mempunyai bayi kecil dalam rengkuhan adalah keinginan mereka. Entah bayi itu berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan, mereka pasti akan merasa bahagia ketika si mungil sudah dalam pelukan. Suara manja yang memanggilnya dengan suara kecil 'ibu', terdengar simpel namun begitu menentramkan jiwa mempunyai sosok yang sepenuhnya bergantung pada kita.

Kecupan pertama menempel pada dahi bayi yang baru saja lahir akan membuatnya tersenyum seolah ia merasakan sosok sang ibu yang begitu mencintai dirinya. Ikatan batin seorang ibu dan anak yang dilahirkan sangat kuat karena merekalah yang menjalani 9 bulan bersama. Terlebih proses melahirkan yang mempertaruhkan nyawa.

Meskipun berjuta-juta wanita suka ketika bayinya sudah terlahir dengan normal dan sehat, tapi tak begitu juga dengan Jihyun.

Sebenarnya Jihyun adalah sosok wanita yang baik dan lembut penuh rasa kasih dan sayang tulus. Namun, status yang menjadi istri ketiga dari seorang konglomerat Byun membuatnya ketakutan akan nasib anaknya kelak.

Saat ia melakukan USG pertama adalah saat dimana ia menjadi seorang pembohong. Ia membohongi suami serta segenap keluarga besar sekaligus membohongi dunia karena keluarga Byun selalu tak pernah luput dari sorotan media.

.

.

.

OoooO

.

˭˭˭UNIDENTIFIED˭˭˭

Chapter 2

.

OoooO

.

.

CHAN-BAEK

.

.

.

Jihyun tersenyum. Ya. Ada perasaan senang menelungkupi hati melihat semburat merah anaknya saat pertama kali bertatap muka dengan sosok asing dihadapan mereka.

Baekhyun yang selama 24 tahun sama sekali tak mempunyai tambatan hati, kini bisa memasang wajah malu-malu saat bertemu calon suaminya.

Park Chanyeol.

Lelaki tinggi dengan senyum menawan itu bernama Park Chanyeol. Pekenalan singkat Chanyeol membuat Baekhyun tanpa sadar terus saja menggumamkan nama itu berulang dalam hatinya.

Baekhyun tak pernah menyadari bagaimana wajahnya kini mulai di semburati merah. Pipinya merona. Degup jantungnya berdendang. Ujung jemarinya mendingin. Dan Baekhyun tak memiliki keberanian lebih lama lagi untuk mempertahankan kontak mata itu disana.

Ia menunduk. Memperhatikan bagaimana jarinya saling terjalin pada satu sama lain—semakin gugup namun tak menyangkali bagaimana sisa rasa menyenangkan itu memenuhi dirinya. Memutar balikkan pikiran jernihnya.

Untuk pertama kali, Baekhyun sadari... ia telah jatuh cinta.

Kepada Park Chanyeol, calon suaminya sendiri.

.

OoooO

.

Pembicaraan di meja makan itu di dominasi oleh riuh suara orangtua masing-masing. Mereka membicarakan bisnis juga mengenai perencanaan kerjasama di masa depan—sedikit banyak terdengar membosankan sebenarnya.

Namun tidak bagaimana lembar bahagia dalam diri masing-masing memenuhi dan menghempaskan mereka dalam imajinasi tersendiri.

Baekhyun tak ingin menampik bagaimana ia berulang kali mendapati Chanyeol melayangkan tatapan padanya.

Baekhyun tidak marah ataupun merasa tak nyaman dengan hal itu. Alih-alih semburat merah muda pada pipinya merambat semakin panas dan makanan di atas meja tak sekalipun menarik minatnya.

Baekhyun balas melirik lelaki Park itu sekali. Kontak mata mereka terjalin disana dan Chanyeol menjadi yang pertama menarik senyum tipis miliknya. Baekhyun membalasnya malu-malu kemudian kembali menatapi makanannya kembali.

Jihyun melihat semua itu. Wanita yang akan mencapai umur setengah abad itu mengulum senyum dan berdeham sekali dengan pelan.

"Tidakkah seharusnya kita memberi Chanyeol dan Baekhyun waktu untuk saling mengenal satu sama lain?"

Fokus semua orang teralih pada Jihyun, dan Ibu Chanyeol mengangguk pertama kali menyetujui perihal itu.

Baekhyun tersenyum malu, tak tau apakah ia harus berterima kasih kepada Jihyun atau berbalik merutuki Ibunya itu. Wajahnya bahkan tak lebih seperti kepiting rebus yang tehidang di meja, begitu merah dan rasanya panas sekali.

"Ada pameran seni di lantai 5, kau ingin melihatnya bersamaku Baekhyun?" Alunan pertanyaan Chanyeol menguar tenang dengan suara berat pria itu untuk kesekian kali berhasil menggetarkan detak nadinya. Sikap Chanyeol begitu mantap tanpa keraguan namun mengejutkan Baekhyun yang terdiam kaku pada tempatnya.

Ia mendongak dan mengerjab dua kali. Ketika Chanyeol mengulurkan tangan padanya, Baekhyun terkesiap. Sesaat sebelum menarik seluruh fokus dan perlahan menjemput uluran tangan itu dengan lembut hingga tanpa ia sadari Chanyeol telah terpesona dengan kelentikan jari tangan miliknya. Lalu teperdaya oleh senyuman manis yang telah tertuang.

Para orangtua mereka yang masih terduduk diam sebagai saksi perjalanan awal kisah cinta keduanya.

"Baekhyunnie sungguh cantik, aku sungguh beruntung dia menjadi menantuku," puji ibu Chanyeol nampak begitu mengagumi Baekhyun.

"Ya. Dia adalah putri yang sangat aku banggakan."

Ada suatu hantaman kasat mata Jihyun rasakan di kala sang suami mengucapkan pujian kepada putri kandungnya. Ia memasang senyum palsu sebagai balasan. Topeng terpasang disepanjang percikan. Batin terus berdoa berharap ia tak salah melangkah.

.

OoooO

.

Sepanjang jalan Chanyeol terus menggengam jemari Baeknyun, merasakan tekstur lembut selembut setiap gerakan pemiliknya. Sempat terpikir dalam benak Chanyeol jika Baekhyun adalah jelmaan seorang putri yang bereinkarnasi karena keluhuran budinya di masa lalu.

Chanyeol menuntun Baekhyun keluar dari restoran, menuju lift yang akan membawa mereka pada lantai pengelaran yang Chanyeol sebutkan dengan beberapa ajakan pembicaraan ringan yang lelaki itu lakukan.

Baekhyun mencoba menyamankan diri, menjawab pertanyaan basa-basi yang Chanyeol ujarkan kemudian melempar pertanyaan balasan pula kepada lelaki itu.

"Apa kau memiliki ketertarikan khusus pada seni?" Chanyeol bertanya. Lift yang membawa mereka ke lantai tujuan berhenti dan pintu terbuka setelahnya.

Langkah kini terayun seirama, menuju pergelaran Seni yang Chanyeol katakan walau sebenarnya itu tak lebih sekedar modus belaka.

"Aku lebih menyukai seni musik secara pribadi." Jawab Baekhyun, berusaha keras membuat suaranya normal terdengar. "Bagaimana denganmu?"

"Musik sebenarnya merupakan bagian diriku yang lain." Lelaki itu terkekeh. Senyumnya tertarik lebar dan Baekhyun terpaku selama detik berselang akan hal itu.

Chanyeol sangat tampan. Seperti mantra, Baekhyun tiada henti memuji sosok pria yang terus saja menggenggam tanganya.

"A-apa yang paling kau sukai?" Baekhyun mencoba menyadarkan dirinya.

"Aku menguasai gitar, piano, drum dan sedikit biola. Jadi kupikir, aku menyukai semuanya di antara mereka."

Baekhyun membulatkan mulutnya akan penurutan itu. Dalam hatinya, Baekhyun membatin tentang betapa sempurnanya lelaki yang berjalan di sampingnya ini.

Jihyun menceritakan sekilas mengenai diri Chanyeol saat perjalanan mereka tadi. Tentang prestasi akademiknya juga bagaimana suksesnya bisnis yang digeluti olehnya. Bahkan di umur yang belum mencapai kepala tiga itu, Chanyeol telah memiliki segalanya. Asset kekayaan dengan nominal melimpah di dalam rekeningnya.

Parasnya pun rupawan. Chanyeol begitu tampan, tubuhnya tinggi dan dadanya begitu lebar. Baekhyun ingin memaki dirinya sendiri bagaimana ia mencuri pandang kepadanya dengan selektif dan menemukan lekukan samar otot terbentuk di balik kemeja yang lelaki itu kenakan. Akankah pria ini bisa turut membantu menanggung beban hidupnya?

"Lalu bagaimana denganmu, Baek?"

Baek—penggalan panggilan itu terdengar akrab bagi Baekhyun. Menggema di rongga telinga Baekhyun hingga berdegup kencang kembali namun lagi sisi hatinya yang lain memuja bahagia akan hal itu.

Begitu mudahnya Chanyeol memanggil namanya tak sepertinya yang harus menahan getaran bibirnya saat memanggil nama pria itu.

"Aku... suka piano." Jawabnya. "Temanku memiliki studio musik pribadi dan aku mulai mempelajari gitar. Itu lebih sulit dari bayanganku ternyata." Ia meringis di akhir kalimat.

"Aku bisa mengajarimu." Chanyeol menyahut cepat. Tangannya yang menggenggam jemari Baekhyun tanpa sadar meremas halus kulit itu perlahan.

Baekhyun menatap tautan jemari mereka disana kemudian mengangkat kepalanya untuk sebuah kontak mata mereka kembali.

Baekhyun menyungingkan senyum, lembut dan menjalari Chanyeol untuk sebuah kalimat harapan dalam buncahan dadanya.

"Kuharap semuanya berjalan dengan baik Baekhyun."

Semuanya... tentang jalinan hubungan mereka di masa depan juga rencana perjodohan yang telah orangtua mereka lakukan.

Tak hanya Chanyeol... Baekhyun dalam angan harapannya pun, benar mengharapkan semuanya berjalan dengan baik.

.

OoooO

.

Pameran seni yang mereka datangi adalah sebuah pameran tembikar kebudayaan Korea beserta iringan alunan musik kecapi begitu menenangkan.

Pegangan tangan Chanyeol terlepas saat Baekhyun melangkah cepat mengamati kerapian tembikar membentuk mangkuk besar berhias detail ukiran ikan. Namun Chanyeol tak kecewa akan hal itu. Tak sedetikpun ia luput menatap wajah bahagia Baekhyun yang begitu lepas. Sungguh beruntung dirinya yang akan menikmati keindahan itu sepanjang hidupnya.

Kalimat pujian terangkai setiap kala Baekhyun menatap satu demi satu lukisan. "Tembikarnya begitu indah. Terlihat rapuh bak kaca tapi sangat berkelas. Pantas saja disini ramai." puji Baekhyun tulus. Matanya tak henti beredar di segala penjuru ruangan yang memamerkan maha karya perajin.

Kaki Chanyeol melangkah mengikuti arus Baekhyun menepi menuju meja satu ke meja yang lain. "Apakah kau ingin kubelikan salah satu? Ku dengar mereka mengadakan penggalangan dana dari hasil penjualan tembikar tertentu."

"T-tidak, aku tak yakin bisa merawat tembikar dengan baik. Hanya dengan menatapnya pun sudah membuat ku senang." Baekhyun tak ingin membuat repot Chanyeol. Di pertemuan pertama harus terkesan baik.

Mata bulat Chanyeol memincing tajam ketika melihat pria asing mendekati Baekhyun dengan seringainya.

"Nona a—

Sret!

Chanyeol bergerak cepat merangkul pinggang Baekhyun. "Baekhyun, lebih baik kita jalan-jalan ke tempat lain bagaimana?"

Jelas Baekhyun terkejut. Ia sangat terperangah dengan aksi tiba-tiba Chanyeol. Kepalanya mengangguk cepat menyanggupi kemauan Chanyeol tanpa tahu jika Chanyeol menoleh ke belakang menatap sinis pria yang ingin menyapa calon istrinya tadi.

.

OoooO

.

"Tak ku sangka mereka meninggalkan kita begitu saja," Chanyeol menghela napas. Kepala menggeleng penuh ketidak-percayaan.

Sedangkan di lain pihak, Baekhyun sibuk menelpon ibunya, tapi hanya suara operator yang membalas. Ia sungguh panik memikirkan bagaimana cara ia pulang yang bahkan tak bawa uang sepeserpun. Satu ide terpintas di kepalanya jika ia memanggil taxi di depan hotel dan membayarnya saat sampai di rumah.

"C-chanyeol-sshi."

Panggilan Baekhyun membuat dahi Chanyeol berkerut. "Tolong jangan formal kepadaku, Baekhyun-ah. Bukankah kau tadi setuju?"

"M-maafkan aku, Chanyeol... oppa." Ada sedikit jeda disaat Baekhyun memanggil Chanyeol. Pipinya bersemu merah ketika pria yang lebih tua lima tahun darinya itu tersenyum bangga kepadanya.

Tangan Chanyeol terulur mengusak surai Baekhyun. "Kalau begitu ayo kuantar kau pulang adik manis."

Baekhyun tergelak mendengar panggilan Chanyeol untuknya. Tak ia sangka Chanyeol mempunyai selera humor yang baik. "Chanyeol oppa membawa mobil sendiri?"

"Ya. Tadi aku tak bersama orangtuaku karena sebelumnya aku mampir kantor. Ayo. Kau tak bermaksud pulang sendirikan?"

Lagi-lagi Baekhyun tersipu. Apakah Chanyeol bisa menebak pikirannya?

.

OoooO

.

Malam tak begitu tinggi ketika Chanyeol menghentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan kediaman keluarga Byun.

Chanyeol lantas segera keluar dari mobil, berlari kecil menuju sisi Baekhyun dan membuka pintu mobil itu dengan jantan. Baekhyun merona lagi dan keluar dari sana.

"Terima kasih Chanyeol oppa." Baekhyun berucap, mengacu pada 'kencan singkat' mereka sebelumnya juga tumpangan yang lelaki itu berikan.

"Itu bukan apa-apa." Sahut si lelaki Park santai. Kedua tangannya ia masukan ke dalam kantung celananya. "Hanya saja jangan berpikir itu merupakan perawalan yang buruk." Ia menampakkan raut wajah jenaka dan Baekhyun terkikik dibuatnya.

"Masuklah." Ujar Chanyeol lagi. Ia menunjuk gerbang kediaman Baekhyun dengan dagu pelan.

Baekhyun menganggukkan kepalanya dan beringsut pergi.

"Selamat malam." Katanya. "Hati-hati menyetir. J-jika Chanyeol oppa sudah sampai rumah, bisakah oppa memberitahuku?" Keduanya telah bertukar nomor ponsel saat perjalanan pulang. Sebuah langkah yang baik untuk lebih menguatkan sebuah ikatan.

"Dengan senang hati, Tuan Putri." Chanyeol memberikan anggukkan, sedang tubuhnya ia sandarkan pada tubuh mobil menatap kepergian Baekhyun yang memasuki rumahnya kini. Setelah sosok mungil itu benar menghilang dari pandangannya, barulah ia masuk ke dalam mobil kembali, membelah jalanan Seoul dengan buncahan perasaan bahagia dalam dirinya.

.

OoooO

.

Rumah nampak telah sepi dengan lampu utama telah dipadamkan. Kakinya melangkah riang menuju lantai dua letak kamarnya. Ia menggumam nada kebahagiaan menemani. Sungguh ia tak sabar menanti kecan kedua dengan Chanyeol seperti apa yang telah lelaki itu janjikan kepadanya.

"Siapa dia?" Baekhyun benar seperti mendapat serangan jantung ketika pertanyaan itu menguar tiba-tiba.

Baekhyun mencengkram dadanya kuat, mencoba meredakan degupan jantungnya yang memburu sebelum berbalik badan dan mendapati Sehun yang berdiri di balik tembok gerbang.

"Oppa~ kau mengangetkanku." Baekhyun mengeluh dan cemberut.

Sehun berdecak tanpa suara. Ia melangkah keluar dari tamaram tempatnya berada dan mendekati posisi Baekhyun.

"Siapa dia?" Alih-alih meminta maaf, Sehun malahan mengujarkan lagi pertanyaan yang sama.

Baekhyun mendesah pelan dan menjawab. "Dia Park Chan-"

"Aku tidak bertanya siapa namanya." Sehun memotong. "Aku bertanya siapa dia." Ulangnya menegaskan.

Baekhyun berkerut kening, menyadari perbedaan nada bicara Sehun padanya. Lelaki itu terlihat marah akan sesuatu dan Baekhyun mulai menerka apakah dirinyalah penyebab semua itu. Namun Baekhyun tak memiliki ide apapun untuk itu.

"Dia anak dari salah satu kolega Ayah, kami hanya-"

"Walaupun dia anak Presiden sekalipun itu tidak menjadi alasan mengapa kalian harus berpergian bersama dan pulang larut seperti ini." Sehun menyentak tanpa sadar ia lakukan.

Baekhyun menatap lelaki yang menjadi saudaranya itu dalam keterdiamanan. Lagi mencoba mencerna apa yang menjadi pokok permasalahannya disini, apa yang menyebabkan Sehun bersuara tinggi tiba-tiba kepadanya.

"Dan lagi," Sehun menyambung tanpa peduli raut kebingungan Baekhyun. "Mengapa pakaianmu seperti itu?"

"Huh?" Baekhyun semakin berkerut kening. Ia sontak melihat pakaian yang ia kenakan, dress di atas lutut dan Baekhyun tak menemukan adanya noda saus atau sesuatu yang salah disana.

"Mengapa pakaianku?" Baekhyun bertanya bingung.

Sehun lagi berdecak. "Mengapa kau memakai pakaian sependek itu, huh? Ini sudah malam dan cuacanya sangat dingin, apa yang akan kau lakukan dengan pakaian pendek tipis seperti itu?" Sehun menggurutu kemudian buru-buru melepaskan jaket kulit yang ia kenakan dan mengenakannya di atas pundak sempit Baekhyun.

Baekhyun termangu selama beberapa detik. Sebenarnya ada apa dengan Sehun? Batinnya.

Mulutnya sudah terbuka, hendak bertanya mengenai perihal mengapa sebelum di saat yang bersamaan pula, Sehun menarik lengannya kemudian mendorongnya masuk dengan pelan.

"Jangan pakai pakaian kurang bahan seperti itu lagi, kau dengar Baek? Apalagi saat berpergian dengan pria asing seperti tadi."

"Tapi Chanyeol bukan-"

"Hanya segera masuk dan tidur, oke? Jangan bantah oppa-mu."

Baekhyun mendengus antara kesal namun berakhir dengan anggukkan dan menuruti apa yang lelaki itu petuahkan padanya.

Selalu seperti itu.

.

.

.

OoooO

.

TBC

.

OoooO

Terima kasih atas dukungannya^^