Apa kau percaya Tuhan pernah menurunkan beberapa malaikat dari kerajaan langit-Nya ke bumi? Jika tidak, maka aku percaya. Karena aku telah bertemu dengan salah satunya.

.

.

.

Title: Into Your World

Main Casts: Oh Sehun & Lu Han

Pairing: HUNHAN

Genre: General

Rated: T

Length: Two Shots

Disclaimer: I do not own anything, except the story

.

.

.

Chapter 2: Silent Stories

.

.

.

Pemuda itu bernama Luhan. Usianya akan menginjak delapan belas dalam hitungan tiga bulan. Postur tubuhnya tampak sama dengan pemuda-pemuda lain seusianya. Namun bagi Sehun, ada dua hal yang membuat Luhan berbeda.

Yaitu bening mata rusa dan pancaran cahaya dari wajahnya. Dengan kedua hal itu Sehun telah menobatkan Luhan sebagai pemuda dengan paras dan hati paling indah di dunia.

Sama sepertinya, Luhan juga siswa tahun terakhir di jenjang SMA. Tepatnya di Hannyoung High School. Sehingga dalam lima bulan ke depan, seharusnya ia dan Luhan akan menjalani ujian kelulusan bersama.

Seharusnya.

Namun nyatanya tidak. Ujian kelulusan itu hanya akan ia ikuti sendiri. Tanpa Luhan. Karena pemuda rusa itu bahkan telah meninggalkan bangku sekolah menengah atas sejak lima bulan lalu.

Luhan yang terlahir tujuh belas tahun silam terpaksa menyaksikan indah serta kerasnya dunia tanpa hadirnya seorang ayah. Gelar anak yatim pun telah ia sandang kala masih tertidur pulas di rahim sang ibu. Nahas, sang ayah mengalami tabrak lari tepat di usia kandungan sang istri menginjak tujuh bulan. Meninggalkan ibu muda itu berjuang seorang diri mendidik dan membesarkan Luhan dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan.

Maka Luhan kecil adalah Luhan yang telah terdidik apik untuk siap mengarungi kejamnya hidup. Ia tak mudah mengeluh. Tak pula berkecil hati kala dirinya hanya mampu menyaksikan kartun favorit pada televisi milik restoran tempat ibunya bekerja.

Sehingga tak heran jika kerja keras, keikhlasan, rasa syukur, dan rasa empati seakan-akan telah tertanam alami pada setiap sel pembentuk organ-organ tubuh Luhan. Yang hingga saat ini, karakter-karakter mulia tersebut dengan sukses membentuk sebuah pribadi luar biasa. Dalam wujud seorang pemuda bernama Luhan.

Luhan adalah anak cerdas. Ia berhasil naik kelas dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas murni dengan bantuan beasiswa. Menurutnya, Tuhan sangatlah adil. Di saat sang ibu tak mungkin sanggup membayar biaya pendidikannya di sekolah-sekolah kebanggaan, ia dikaruniakan secuil kepintaran.

Namun Luhan tahu, hidup di bumi bukanlah hanya sekadar lewat dan mati begitu saja. Ia begitu disayangi Tuhannya hingga suatu malam, kasih sayang Tuhan itu kembali datang. Kali ini dalam bentuk sebuah cobaan.

Tepat di hari pertama bulan Agustus tahun lalu, Luhan mendapati sang ibu tengah bersimpuh lemas di lantai dengan disertai pembengkakan tubuh pada bagian betis. Luhan sontak membawa ibunya ke rumah sakit terdekat.

Dan betapa terkejutnya ia kala sang dokter mendiagnosis ibunya tengah menderita gagal ginjal kronik.

Sang ibu adalah harta paling berharga yang ia miliki. Luhan rela melakukan apa pun asal ibunya mendapatkan pengobatan terbaik. Maka Luhan memutuskan untuk berhenti sekolah demi mencari kerja tepat di tahun terakhirnya. Karena ia pikir, ia tak akan mampu mengumpulkan pundi-pundi uang jika sekolah masih menjadi prioritas utama.

Dan sekali lagi, Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya. Luhan dengan mudah diterima bekerja sebagai pelatih di sebuah klub sepak bola khusus anak-anak. Pagi hingga sore ia akan membanting tulang di sana. Sementara pada malam hari, Luhan akan bernyanyi di kafe terdekat dengan rumah sakit. Sehingga ia tak perlu mengeluarkan ongkos lebih saat ingin menemani sang ibu.

Luhan tak pernah mengeluh. Ia akan malu pada dirinya sendiri jika sampai melakukan itu. Bahkan ibunya tak pernah sekali pun menyerah untuk membesarkannya seorang diri.

Luhan percaya ia tak pernah berjuang sendiri. Tuhannya yang Maha Pemurah akan menolongnya di saat yang telah Ia kehendaki nanti. Pasti. Tak ada keraguan sedikit pun.

.

.

.

Selimut putih ditarik pemuda itu hingga sebatas leher. Tak akan membiarkan hawa dingin menerpa wanita yang tengah tertidur lelap. Ia membungkuk kecil lantas mengecup lembut kening sang wanita. Tatapan sayang ia layangkan kemudian.

"Mama istirahatlah yang nyenyak. Aku pergi dulu, ya, Ma? Luhan sayang Mama."

Pemuda itu melangkahkan kaki menjauhi ranjang. Kenop pintu ia putar perlahan. Sebisa mungkin tak menghasilkan suara apa pun yang dapat mengganggu tidur sang ibu.

Baru saja tangan kecilnya menutup pintu penuh kahati-hatian, sebuah suara familiar menyapa indra pendengaran.

"Luhan..."

Kepalanya seketika menoleh. Mencari sumber suara yang memanggil namanya lembut. Sebuah sunggingan senyum tercipta kala menemukan pemuda tinggi itu berdiri di sana. Tak lebih jauh tiga meter dari tempatnya berada.

"Sehun..."

.

.

.

Dua pasang kaki mereka menapak di atas rumput hijau nan lembut. Udara di sekeliling pun begitu segar dan menenangkan. Pohon-pohon rindang jelas telah memberikan kontribusi besar. Oh, dan jangan lupakan warna-warni tanaman hias yang mampu memanjakan mata.

"Tak kusangka pertemuan kedua kita juga akan terisi dengan berjalan-jalan di taman." Suara Sehun membuka percakapan di antara keduanya. "Namun sayang, kali ini harus sebuah taman rumah sakit."

Luhan memilih diam. Ia tahu bukan itu yang ingin dikatakan Sehun saat ini. "Tanyakanlah."

"Apanya?" Sehun tahu suaranya kelewat datar, tapi ia tak lagi peduli.

"Aku tahu kau punya banyak pertanyaan," balas Luhan santai.

"Oh, tentang kau yang selalu berbohong?"

Langkah Luhan terhenti seketika. Pemuda itu tertunduk, tak berani menatap pemuda tinggi di sampingnya. "Maaf untuk itu."

Sehun menatap Luhan pilu. Tangannya ia ulur untuk mengangkat dagu Luhan perlahan. "Tidak perlu meminta maaf. Sebenarnya aku hanya―"

Luhan was-was menunggu kelanjutan kalimat Sehun. Apakah Sehun akan membencinya setelah ini?

"―hanya kecewa kau tidak bercerita semua masalahmu padaku."

Helaan napas lega keluar dari mulut Luhan. "Wendy noona yang memberi tahumu?"

"Ya. Tadi siang ia menghubungiku. Ia menceritakan semuanya. Juga tentang kondisi ibumu yang semakin menurun sejak seminggu lalu." Sehun sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat raut Luhan yang tiba-tiba meredup. "Itu kah alasanmu tidak datang ke panti hari itu?"

Luhan hanya dapat tersenyum perih. "Maaf aku ingkar janji."

Sehun menggeleng frustrasi. Ia cengkeram kedua pundak sempit Luhan cukup erat. "Tolong, jangan meminta maaf lagi untuk apa-apa yang tidak kau kerjakan. Dan aku mohon, Luhan. Jangan bersikap seolah semuanya baik-baik saja saat kau sedang menderita."

Luhan tersenyum lantas menurunkan kedua tangan Sehun untuk ia genggam kemudian. "Aku memang baik-baik saja. Kau lihat aku sehat, 'kan?"

"Tapi tidak dengan hatimu. Jangan membohongiku lagi, Luhan. Aku tahu kau lelah." Sehun tak pernah tahu ia bisa sekhawatir itu kepada orang yang bahkan baru ia temui sekali.

Kedua genggaman tangan Luhan mengerat. "Jangan mengataiku pembohong. Aku tidak pernah berbohong padamu."

Sehun menaikkan sebelah alis, menuntut penjelasan Luhan.

"Aku memang pernah bersekolah di Hannyoung High School. Kau saja yang tidak bertanya aku masih siswa di sana atau tidak," ujarnya santai. "Aku juga tidak bohong saat mengatakan aku adalah pemuda kaya. Karena percayalah, Sehun. Bagiku ukuran kekayaan bukanlah dengan memiliki harta melimpah. Dengan selalu merasa bahagia dan tercukupi, kurasa aku juga layak disebut kaya."

Sehun menghela napas pasrah. Ia tahu Luhan akan selalu menang dengan argumennya. "Tapi setidaknya beri tahu aku masalahmu agar aku bisa membantu."

Luhan tersenyum dan menggeleng lemah. "Sehun, aku diajarkan untuk selalu menyembunyikan kesedihan dan kesusahan dari orang lain. Dan aku tidak mau pemuda arogan sepertimu mengasihaniku." Kekeh Luhan sembari menunjuk Sehun tepat di depan dada.

Tangan Sehun menangkap jari telunjuk Luhan. Memaksa keduanya untuk kembali saling tatap. "Lalu bagaimana orang akan menolong jika kau menyembunyikan semuanya? Kau bahkan membelanjakan uangmu untuk anak panti di saat kondisi keuangan sedang buruk."

"Tidak punya banyak uang bukan berarti kita tak bisa lagi berbagi, Sehun. Tuhan akan sangat menyayangi hamba-Nya yang masih ingat berbagi kala mereka susah. Dan nyatanya aku masih bisa membayar tagihan rumah sakit ini, kok."

"Berhentilah berbohong, Luhan. Wendy noona mengatakan biaya pengobatan ibumu kali ini cukup besar. Belum lagi ditambah dengan hal-hal mendadak lainnya. Kau ingin ibumu cepat sembuh, 'kan?"

Luhan hanya menatap dalam diam. Ia tertawa dalam hati. Adakah anak di dunia ini yang tak ingin melihat orang tuanya kembali bugar dan sehat?

Genggaman tangan Sehun di jemari Luhan semakin dieratkan. Sehun tahu Luhan gundah. Satu sisi ia ingin kesembuhan sang ibu, namun di sisi lain ia tak ingin menjadi peminta-minta.

"Luhan, tolong ijinkan aku membantu. Kali ini saja. Ibumu butuh pengobatan secepat mungkin. Anggap aku tak membantumu. Anggaplah aku membantu seorang wanita yang kebetulan dia adalah ibumu. Bagaimana, kau mau?"

Luhan menatap Sehun cukup lama. Prinsipnya mulai goyah. Satu per satu sel-sel otaknya memberikan intruksi untuk berkata 'iya'.

Perlahan, Luhan mengangguk pasti. Dengan mata berkaca-kaca ia menghambur memeluk Sehun erat.

Mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa-doanya selama ini. Mungkin Tuhan akan menyembuhkan sang ibu melalui pemuda bernama Sehun―yang secara sengaja dipertemukan dengan dirinya di pagi itu.

Pagi di mana Luhan tertunduk lesu karena klub sepak bola tempat biasa ia bekerja tiba-tiba memberhentikannya secara sepihak. Memaksanya kembali mengambil jalan pulang lebih cepat dari biasa.

Namun di tengah perjalanan, atensinya terserap begitu saja pada seorang pemuda dengan seragam Kyunggi High School yang tengah memejamkan mata di bangku pinggir jalan. Luhan tak pernah menyangka jika hanya dengan keputusannya untuk menyapa pemuda itu, Tuhan akan membawanya hingga menuju titik ini.

Karena Tuhan tak pernah tidur. Dia akan menjawab doa hamba-Nya di waktu dan tempat yang tepat, dan dari arah yang tak pernah ia duga sebelumnya.

"Terima kasih, Sehun. Terima kasih banyak."

.

.

.

Ayah Sehun sama sekali tidak keberatan kala sang anak meminta uang dalam jumlah banyak dengan alasan untuk kesembuhan ibu sang teman. Sehun bahkan mengajak ayah dan ibunya ke rumah sakit untuk menjenguk Luhan dan ibunya.

Dengan antusias, pemuda tampan itu bercerita jika Luhan lah yang telah sukses membuatnya berubah menjadi lebih baik. Ibu Luhan tertawa lantas mengusap rambut Luhan sayang. Ia mengecup kedua pipi Luhan cepat sebelum memeluknya kuat. Rasa bangga tak lagi bisa ia sembunyikan karena dikaruniai seorang anak luar biasa sepertinya.

Sehun mendadak terdiam. Ia hanya mampu menatap iri melihat interaksi kedua ibu dan anak itu. Luhan hanya memiliki sang ibu di sisinya sejak lahir. Namun, Sehun dapat merasakan kasih sayang ibu Luhan adalah lebih dari cukup. Seakan Luhan tak membutuhkan siapa pun lagi di dunia ini asal sang ibu masih memberinya kasing sayang yang berlimpah.

Di sisi lain, ayah dan ibu Sehun menyadari perubahan raut putra semata wayangnya. Melihat Luhan bersama sang ibu, mereka pun tersadar tugas orang tua bukanlah sekadar mencukupi kebutuhan sang anak. Sehun butuh lebih dari itu. Sehun menginginkan kasih sayang dan perhatian.

Sehun menegang seketika. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya dipeluk erat dari sisi kiri dan kanan. Ia menoleh dan mendapati sang ayah dan ibu di sana. Memeluknya kuat-kuat seakan itu adalah pelukan pertama keluarga setelah perpisahan yang cukup lama.

Hati Sehun kontan menghangat. Ia bahagia bukan kepalang. Sehun ingat ia tak pernah menangis sejak menginjak usia remaja. Namun pada detik itu, air matanya menetes tanpa dapat ia cegah. Perasaan senang semakin membuncah kala sang ibu mengatakan, "Kami menyanyangimu, Sehun-ah. Mau 'kan, me-restart kembali keluarga kita bersama ibu dan ayah?"

Sehun tak pernah merasa hidupnya selengkap itu.

Sekali lagi, apa yang Luhan katakan adalah benar. Kaya bukan soal berapa harta yang kau miliki. Namun soal kebahagiaan bersama orang-orang tersayang dan hati yang selalu tercukupi.

Pemuda tinggi itu bersyukur Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan Luhan. Dan tanpa Sehun ketahui, Luhan pun bersyukur telah dipertemukan dengannya.

.

.

.

Tahun ajaran baru telah tiba. Luhan melangkahkan kaki dengan pasti memasuki kelas 3-A. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk kembali menuntut ilmu. Pemuda rusa itu akan berusaha keras mengejar semua ketertinggalan.

Luhan mengedarkan pandangan ke penjuru kelas. Ia mendapati bangku di pinggir jendela terlihat nyaman. Maka tanpa ragu, langkah kakinya ia bawa untuk duduk di sana.

Saku seragam Luhan bergetar pelan. Cepat-cepat mengeluarkan ponsel, ia mendapati dirinya tersenyum sumringah kala mengetahui identitas sang pengirim surel.

From: Oh Sehun ohsehun94

To: Lu Han deerluhan

Date: 1 Aug 2017 06:28

Subject: Bagaimana hari pertamamu kembali bersekolah?

Hei, Lu. Selamat malam!

Ah, betapa bodohnya aku. Di Seoul pasti sudah pagi, ya? Kkkk. Bagaimana rasanya kembali bersekolah?

Dan sebelum kau bertanya perasaanku, maka akan kujawab lebih dulu.

Aku sangat kesepian di sini, Lu. Kau berjarak lima ribu mil lebih dari kampusku.

Aku tidak mengatakan aku menyesal telah mengikuti saran ayah untuk belajar di London Business School. Sama sekali tidak!

Hanya saja... kau masih ingat dengan Dosen Keynes yang pernah aku ceritakan beberapa hari lalu?

Dan di jam malam seperti ini aku masih harus berkutat dengan tugas-tugas mustahil dari dosen killer itu! Benar-benar asdfghjkl!

Tapi di saat-saat seperti ini, pesanmu akan selalu kuingat, Lu.

"Kita tidak boleh mengeluh. Karena masalah yang kita hadapi tak akan pernah sebanding dengan kenikmatan yang telah Tuhan berikan."

Iya, 'kan? Suatu hari nanti kau harus mentraktirku karena aku masih mengingatnya dengan baik. Kkkkk.

Luhan... mungkin kau sudah terlalu bosan mendengar kata-kataku yang ini. Tapi aku akan selalu mengulangnya lagi dan lagi.

Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan pemuda hebat sepertimu.

Terima kasih, Luhan.

Aku tak mungkin menjadi Sehun yang sekarang jika bukan karenamu.

Aku mungkin bukan pemuda yang baik. Tapi aku berjanji akan berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi setiap saat.

Jaga kesehatanmu di sana, ya? Tunggulah aku pulang.

Unconditionally yours,

Oh Sehun.

Seorang pemuda miskin yang tengah berusaha memenangkan hati pemuda terkaya di dunia bernama Luhan.

.

.

.

THE END

Hohohohoho. maaf kalau tidak sesuai ekspektasi. ceritanya memang dibuat se-simple mungkin.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil (emang ada? XD)

Mind to review?

Thank you~ See ya in the next story