Characters:

Heenim, Leeteuk, Siwon, Sungmin, Minho, Taemin

GS! for Heenim and Sungmin

.

.

.

Chapter 1

STYLE

.

.

.

Suasana malam yang begitu dingin. Aku masih bisa merasakan rasa sakit yang menjalar dari hatiku. Aku masih bisa merasakan seperti apa darah yang mengalir dari luka tersebut. Aku masih bisa merasakannya. Bahkan semakin terasa jelas setelah aku bertemu lagi dengannya. Ku kira rasa itu akan hilang dengan berjalannya waktu. Namun, yang kurasa rasa malah sebaliknya rasa ini semakin menusuk, melukaiku.

Aku merasakan seseorang yang tengah mengeluarkanku dari dalam mobil.

"Yeobo, kau mabuk sekali! Kajja! Berpeganganlah padaku!" kata sebuah suara. Aku mencoba membuka mataku. Siapa namja ini? Akh, siapa namja berkaca mata ini?

"Hik! Si….Hik! Siapa kau? Hik!" kataku sambil menekan-nekan jari telunjukku tepat di hidungnya.

"Stop, that! Heenim!" katanya sembari menepis tanganku. Aku sedikit meronta dan hal itu membuat badanku oleg. Dia menarik nafas lelah dan mencoba membawaku dengan paksa.

"Kyaa! Apa yang kau lakukan! Aku masih bisa jalan sendiri!" teriakku saat dia berusaha memangkuku.

"Yak! Heenim hentikan! Aku Leeteuk!" katanya sembari tersenyum.

"Leeteuk! Akh! Teukie sang malaikat!" kataku sembari memeluknya. "Bawa aku terbang, Teukie angel!" racauku.

Dia tampak begitu kesal. Dia pun segera menggendongku. Dia melakukannya seolah-olah aku sama sekali tidak memiliki berat.

"Angel, bagaimana kabar umma disana?" tanyaku mulai meracau.

"Dia baik-baik saja," jawabnya.

"Akh! Aku ingin sekali bertemu dengannya, bisakah?" tanyaku sembari mengalungkan kedua tanganku di leher sang Malaikat.

"Ne, kau bisa bertemu dengannya nanti jika kau sudah tua," katanya menimpali.

"Mwo, tua… apa maksudmu? Aku masih sangat sangat muda," gerutuku. Dia hanya tersenyum mendengar celotehanku.

"Huff, kita sudah sampai. Berpeganganlah padaku," katanya. Dia menurunkan tubuhku perlahan. Dia mengetuk pintu apartemen tersebut. "Kami pulang," katanya sembari menekan sebuah bel.

"Siapa disana?" seru sebuah suara mungil diujung saluran.

"Ini, hyung dan noonamu. Bisa kau bukakan pintunya, Minho-ah!" kata Leeteuk.

"Ne, hyung," jawabnya.

Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka seorang namja cilik tengah berdiri di balik pintu tersebut.

"Hyung, apa yang terjadi dengan noona?" tanya Minho pada Leeteuk. Leeteuk hanya memberikan tas milik Heenim pada Minho.

"Yak! Itu tasku!" kata Heenim tidak puas. Heenim menatap wajah Minho yang tengah menatap kearahnya. "Yak! Bocah! Apa yang tengah kau lakukan!?" katanya kasar membuat Minho terkejut.

"Minho, tutup pintunya!" kata Leeteuk memintanya untuk menutup pintu apartement tersebut. Minho masih menatapnya tidak percaya.

"Yah! siapa bocah ingusan tadi?" tanya Heenim.

"Dia dongsaengmu, Minho!" jawabnya.

"Hmmm, aku membencinya. Besok suruh dia bersiap untuk ku antarkan ke panti asuhan! Aish! Semakin lama wajahmu itu semakin menyebalkan!" kata Heenim sembari menunjuk-nunjuk wajah Minho.

Mata Minho mulai berkaca-kaca. Heenim yang mabuk hanya tersenyum bahkan dia mulai tertawa.

"Minho, lekaslah kau pergi ke kamarmu," kata Leeteuk. Dia takut Heenim akan menyakiti hati Minho.

"Ani, hyung. Tidak apa. Noona selalu menyatakannya setiap kali dia mabuk. Namun dia tidak akan pernah benar-benar melakukannya, hyung." Kata Minho sembari tertawa getir. "Noona?" kata Minho sembari menghampiri Heenim. Dia melangkah lebih dekat kearahnya.

"Yak! Lepaskan tangan Kotormu itu! Wajahmu mirip sekali dengan orang itu! Sialan!" kata Heenim sembari menjauhkan dirinya dari Minho.

"Sudahlah Minho. Biar hyung yang mengurus Noonamu," kata Leeteuk. Minho pun menurut. Dia diam disana sedangkan Leeteuk membawanya masuk ke dalam kamar mereka.

Baru saja Leeteuk masuk. Dia kembali keluar dengan handpon yang ada dalam genggamannya.

"Hyung ada apa?" tanya Minho pada Leeteuk.

"Kau temani Noonamu dulu. Hyung ada panggilan kerja," kata Leeteuk. Mendengarnya Minho diam saja. Sedangkan Leeteuk bergegas keluar dari apartemen tersebut. Minho sedikit khawatir dengan keadaan noonanya. Sudah lama sekali dia tidak melihatnya mabuk seperti itu.

Dengan langkahnya yang kecil, perlahan Minho membuka pintu kamar tersebut. Tampak Heenim yang tengah berbaring. Minho menatapnya, dia tidak berani masuk ke dalam kamar tersebut. Dia melihat Heenim bergerak perlahan. Selimutnya menyingkap.

"Panas, sekali. Angel, kau masih disinikan! Angel!" panggilnya setengah mengigau. Minho pun segera masuk. Dia membenarkan selimut Heenim.

"Umma…." Bisiknya lemah.

.

.

.

"Saranghae, Kim Heechul…." Bisiknya sembari memeluk erat tubuhku.

"Nado, saranghae, Siwon-ah," ucapnya sembari balas memeluk namja tersebut.

"Ummm….." gumamnya. Minho yang melihatnya segera mengambil handuk yang terlepas dari kening noonanya. "Wonnie…." Gumamnya.

"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya begitu khawatir.

"NE, aku baik-baik saja," gumamku. Kami saling berpandangan satu sama lain. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunan kami. Dengan berat hati ku lepas tangannya.

"Oppa… disana kau rupanya. Annyeong eonnie!" sapanya lembut "Oppa, kau harus mengantarku pulang. Kajja, aku tidak mau telat di ujian pianoku," katanya penuh rajukan.

"Hmm," jawabnya. Dengan berat hati dia mengambil tas miliknya. Kemudian, meninggalkannya sendirian di kelas.

"Aku tidak ingin kau pergi dariku, Siwonnie," aku menatapnya menjauh.

"Noona? Noona, kau baik-baik saja?" tanya Minho semakin khawatir. Dia memegang tangan sang noona yang terangkat mencoba meraih sesuatu.

"Ja…jangan pergi…." Isaknya. Minho memegang tangan noonanya erat.

"Noona…."

"Mianne, kita hanya bisa bertemu saat di luar sekolah saja," katanya sembari tersenyum. Melihatnya tersenyum membuat semua perasaaan kesalku hilang entah kemana. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya.

"Araseo, tidak apa. Lagi pula berdua denganmu tanpa gangguan dari yang lain lebih menyenangkan dari pada hanya sekedar jalan-jalan bersama," jawabku sembari tersenyum.

"Heechullie," katanya sembari menarik tubuh kecil tersebut. Pelukannya sungguh memberikan rasa nyaman yang menyenangkan.

"Hikh… hikh… hik…." Isaknya perlahan Minho yang ada disampingnya segera mempererat genggaman tangannya.

"No…noona…. Jangan menangis, ne? Aku ada disini, menjagamu noona," ucap Minho. Heenim membuka kedua matanya perlahan dan menatap Minho yang tampak begitu mengkhawatirkannya.

"Mianne…." Ucapnya.

"Tidurlah, noona. Aku disini menjagamu," kata Minho sembari tersenyum. Mendengar perkataannya Heenim menatap Minho. Dia memngulurkan tangannya. Mencoba meraih dan mengusap pucuk kepalanya lembut.

"Mi...nho…. mian… miane…" ucapnya mendengarnya Minho hanya tersenyum. Noonanya mungkin bisa berbuat kasar namun dia tahu bahwa dia sangat menyayanginya. Noonanya selalu mengatakan hal yang membuatnya menangis, namun dia tidak bisa jauh darinya. Selama ini yang orang yang telah memberikan dan memperjuangkan banyak hal untuknya adalah noonanya. Hanya noonanya, tidak ada umma atau pun appa yang harusnya menemaninya. Hanya noona, noonanya Kim Heenim.

.

.

.

Di kediaman Keluarga Choi.

"Dia tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit perut," kata Leeteuk.

"Tterima kasih, Dr. Park. Aku sangat khawatir akan keadaannya," ucapnya sembari membelai seorang anak yang saat itu tengah berbaring di tempat tidurnya.

"Baiklah, karena keadaannya tampak normal, sebaiknya aku pulang saja," kata Leeteuk pamitan.

"Hyung, sebaiknya kau istirahat saja di sini," kata seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.

"Siwon-ah, mianne. Terima kasih untuk tawarannya, tapi aku tidak bisa. Istriku sedang sakit," kata Leeteuk menjelaskan.

"Klo begitu mian, hyung. Yeobo aku akan mengantar Leeteuk hyung pulang. Kau jagalah Taemin baik-baik, ne," kata Siwon sembari mengecup kening istrinya tersebut.

"Ne, yeobo," jawab Sungmin sembari melepaskan pelukan Siwon.

"Kau tidak usah repot-repot melakukannya, Siwon-ah," kata Leeteuk.

"Tidak apa," jawab Siwon. Kedua namja tersebut segera melangkahkan kakinya.

Setengah jam kemudian, mereka pun tiba disebuah apartement mewah tempat dimaan Leeteukk tinggal.

"Terima kasih. Siwon-ah!" kata Leeteuk.

"Tidak apa, hyung. Emm… jadi disinilah kau tinggal hyung?" tanya Siwon sembari menatap sekeliling komplek apartement tersebut.

"Ne," kata Leeteuk. "Kau mau mampir?" tanya Leeteuk.

"Aniya, nanti Sungmin khawatir. Lagi pula aku akan menjaga Taemin," kata Siwon.

"Kau sangat baik Siwon-ah. Aku sangat iri padamu," kata Leeteuk. Mendengar pujian tersebut Siwon hanya tersenyum.

"Kau bisa saja hyung. Baiklah, aku pulang dulu," kata Siwon sembari melambaikan tangannya. Sedangkan Leeteuk dia berbalik dan melangkahkan kakinya ke apartement tersebut.

Dia membuka pintu menuju rumahnya. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Dia terkejut melihat Minho yang tengah mengenggam tangan Heenim.

"Yak! Baiklah, sepertinya aku akan kembali tidur di kamar kerjaku," kata Leeteuk. Dia menutup pintu kamar tersebut.

.

.

.

"Ukh, Siwonnie…." Isaknya sembari memegangi perutnya yang besar tersebut. Air matanya kian banyak yang jatuh. "Akh…." Tangannya berusaha meraih telpon yang ada di dekat meja tempat tidurnya.

"Selamat nona Kim. Anda melahirkan seorang putra yang tampan sekali," kata sang suster. Dia diam saja. Suster tersebut menyodorkan bayi itu di hadapannya.

"Apakah anda ingin menggendongnya?" tanya sang suster. Yang dia lakukan malah memalingkan wajahnya. "Nona?" tanya sang suster keheranan.

"Aku lelah. Bawa dia menjauh dariku," katanya sembari memalingkan wajahnya. Suster tersebut tampak sedikit terkejut.

Dia berbalik hendak membawa bayai tersebut. Seolah tahu bahwa dia akan dijauhkan dari ibunya. Bayi tersebut mulai menangis. Dia tetap bertahan, tidak memalingkan wajahnya bahkan sekejap.

"Hikh…hikh..hikh…." isaknya.

Tiga hari telah berlalu, dia tengah duduk sendirian di dalam kamarnya. Hingga seorang suster mengetuk pintunya.

"Nona Kim, ini surat izin anda. Dan tolong tanda tangani berkas-berkas yang harus anda tangani ada di kantor," kata sang suster.

"Ne, saya akan ke kantor untuk menandatanganinya," katanya.

Si perawat pun keluar, meninggalkannya sendirian. Dia terdiam sejenak dan membereskan barang-barang miliknya. Dia berjalan keluar ruangan miliknya. Dia berjalan menuju ruangan administrasi.

"Silahkan masuk," kata sebuah suara. Dia melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut, "Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani," katanya sembari menyodorkan sebuah map.

"Dokter…," katanya dengan nada yang bergetar. Dia sedikit ragu akan apa yang akan dilakukannya.

"Anda tidak perlu khawatir. Kami akan merawatnya beberapa minggu ke depan, hingga keadaannya membaik. Kemudian dia akan kami bawa ke panti asuhan. Dia anak lelaki yang sehat," kata sang dokter. Selama mendengarkan penjelasan dokter tersebut, dia diam dan membaca isi map tersebut.

"Dimana saya harus menandatanganinya?" tanyanya.

"Disini," katanya sembari menunjukkan dimana letak tanda tangan.

Dia berjalan keluar ruangan tersebut. Dia menelusuri koridor sepi tersebut. Hingga sebuah pemandangan menarik perhatiannya.

"Aigo, lihatlah putri kita. Dia sangat cantik bukan?" tanya sebuah suara.

"Iya, tentu saja. Siapa lagi appa dan ummanya," jawabnya.

Dia terdiam sejenak. Dia belum sempat melihatnya. Belum pernah melihat darah dagingnya. Aeganya yang dipertahankannya mati-matian.

"Ani, aku harus pergi…" ucapnya ragu. Dia berbalik menuju pintu keluar namun dia akhirnya melangkahkan kakinya kearah sebaliknya.

"Hikh… hikh…. Hikh…." Isaknya saat melihat seorang bayi yang tengah berada dalam incubator tersebut.

"Mian… mianne…." Isaknya lagi saat dirasanya bayi tersebut menyentuh jemari tangannya.

.

.

.

TBC

Mind to review? (-_-)