(Gak penting untuk dibaca) - Ehm. Sebenarnya ini chapter udah kubuat dari kapan tau, tapi aku pengen liat respon readers pas baca fic ini, dan ternyata bagus juga setelah kupantau sejak hari pertama ku-publish chapter pertama. Not bad lah. Oh iya, jujur ya, aku rada bingung nentuin plotnya (dasar author bego) makanya aku bikin 2 plot dan akhirnya yang kupilih adalah plot di bawah ini.

Sebelumnya, buat yang barusan baca chapter 2 (sebelum ku-delete, dan ku replace dengan yang ini) aku minta maaf! Soalnya aku salah upload chapter... Kan aku udah bilang ada 2 plot dan aku masih ragu-ragu eeeeh malah ke upload yang plot lama x( maafkan author bego satu ini ya, readers.

Disclaimer: Gakuen Alice belongs to Higuchi Tachibana, this fic belongs to me. | Beware of my mistypo(s) and OOC-ness of this fic.


"Hahaha, ternyata kau masih ingat namaku ya, Polka,"

"Mau apa kau? Berhenti memanggilku Polka! Sekarang aku sudah 17 tahun. 17 TAHUN! Aku sudah bukan anak-anak lagi! Sekali lagi, berhentilah memanggilku dengan sebutan Polka! "

Aku membentaknya. Ya. Tanpa kusadari aku membentaknya. Inilah pertama kalinya aku membentaknya seperti itu. Penuh dengan amarah.

"Memangnya kenapa? Itu kan hakku memanggilmu dengan sebutan Polka."

"Memangnya kau tahu apa tentangku? Jangan seenaknya memanggilku Polka! Lagipula sekarang kau sudah tak berhak memanggilku seperti itu lagi!"

"Apa maksudmu?"

Gawat. Keceplosan. Sial. Aku harus ngomong apa sekarang?

"Karena dia pacarku."

Kehebohan itu mendadak berubah menjadi sebuah keheningan yang benar-benar hening.

A Lost Buried Feeling

Chapter 2

Heartbroken

Normal POV

"Apa katamu?" Tanya Natsume, pura-pura tidak mendengar apa yang barusan Ruka bilang.

"Dia pacarku," jawab Ruka pelan.

"Bisa kau ulangi sekali lagi?" Tanya Natsume untuk yang kedua kalinya. Pertanyaan Natsume ini benar-benar membuat Ruka geram.

"DIA PACARKU! Apa kau tidak bisa mendengar apa yang kukatakan atau kau pura-pura tidak mendengarku Natsume!"

"…...ya aku tahu," jawabnya dingin sambil memalingkan wajahnya dari Ruka.

Ruka terdiam tanpa kata. Terdiam memahami mimik sahabat karibnya itu. Ia tak pernah menyadari kalau dirinya bisa membuat Natsume terlihat dengan ekspresinya sekarang.

.

Seisi kelas mulai terlihat heboh. Apalagi setelah Ruka membentak Natsume, teman masa kecilnya itu demi membela pemilik mata berwarna hazel itu, Mikan Sakura. Semua orang di kelas terheran-heran melihat mereka yang sudah lama tidak bertemu itu langsung bertengkar seperti itu. Mikan pun terlihat panik. Dia merasa bersalah atas pertengkaran itu karena dialah penyebab pertengkaran itu. Namun Narumi datang untuk melerai.

CUP CUP

Dengan feromonnya yang mematikan, Natsume dan Ruka pingsan seketika. Mereka berdua dibawa ke UKS.

PLOKPLOKPLOK!

"Kalian semua kembali ke tempat dan diam!" Yamanouchi mulai menenangkan para murid lainnya yang ikut-ikutan rusuh atas kejadian barusan. Akhirnya situasi mulai terkendali.

Teng teng teng…

"Sekarang akan dimulai pelajaran pertama kalian, jadi kalian semua harap tenang, dan untukmu Mikan Sakura, mulai hari ini partnermu adalah Natsume Hyuuga," seru Narumi.

"Ta—"

"No buts Mikan! Adios~!" Akhirnya Narumi dan Yamanouchi meninggalkan ruangan tersebut tanpa mendengarkan 'tapi'-nya Mikan.

Mikan's POV

Kenapa hari ini tuh menyebalkan banget sih? Kenapa si Natsume harus balik lagi ke akademi ini? Dan kenapa dia dan Ruka harus bertengkar seperti itu? Menyebalkan! Semua ini gara-gara kemunculan Natsume Hyuuga di akademi ini lagi! Aku berharap aku bisa cepat-cepat lulus dari akademi ini, mengambil mata kuliah dan menikah dengan Ru—

PLAK!

"Sakura! Kenapa kamu melamun sambil senyum-senyum sendiri? Apa yang sedang kamu pikirkan? Sekarang jawab soal di depan itu!" Misaki-sensei memukul kepalaku dengan bukunya dan membuyarkan lamunanku sekejap. Aduh. Mana disuruh menjawab pertanyaaan yang tidak jelas begitu, lihat saja. Yang terlihat hanyalah jamur. Jamur dimana-mana.

"Jawab, Sakura!"

"I-iya pak, tapi pertanyaannya ap—"

"5"

"Iya pak, pertanyaannya apa!"

Sudah ditanya seperti itu, masih saja pertanyaanku tidak dijawab. Bodohnya aku melamun di pelajarannya. Memang sudah nasib mungkin? Menyedihkan.

"Tanya temanmu! 4"

Memang nasibku ini terbilang menyedihkan. Tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku. Hotaru sibuk memainkan cacing yang menggeliat di cawan petri itu. Ew. Terlihat aneh untuk melihat seorang gadget freak bernama Hotaru Imai bermain dengan seekor cacing kepanasan itu. Sumire malah bermain dengan anak kucing yang ada di lab, Anna dan Nonoko melakukan percobaan yang tidak jelas apa tujuannya. Kalau perlu kuulang, menyedihkannya nasibku hari ini tidak ada yang bisa mengalahkannya. Bayangkan, ini masih pagi! Kejadian menyedihkan apalagi yang harus kualami hari ini?

"0! Time's up Sakura! Sekarang keluar!"

"Tapi—"

"No buts Sakura, adios~!" seru Misaki-sensei dengan bangganya sambil meniru gaya Narumi-sensei. Kok rasanya mereka berdua jadi terlihat… Gay? OhmyGod no way!

Hari ini benar-benar menyebalkan. Jadi sekarang aku harus mengangat dua ember air untuk menyirami semua tanaman Misaki-sensei. Tidak ada hal lainkah yang bisa dijadikan hukuman? Berdiri di depan kelas saja sudah cukup bagiku! Uuuuh! Memang hari ini matahari sedang tidak terlihat oleh mata, mendung, sama seperti apa yang kurasakan sekarang.

Normal POV

10 menit kemudian

"Sakura, sekarang kamu boleh masuk ke kelas tapi kamu ha—Hei Sakura! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Misaki, yang tadinya ingin memperbolehkan Mikan masuk ke kelas tetapi malah menemukan tubuhnya terbaring tepat di depan pintu greenhouse-nya. Tanpa basa-basi Misaki langsung menggotong badan Mikan ke UKS dan dibaringkan tepat di sebelah ranjang Natsume Hyuuga.

.

"Mmmm silau.. Tch. Di mana ini?"

Sejauh mata memandang hanya ada gordyn putih disekelilingnya.

"Hmph. Membosankan."

Kemudian dia kembali mengingat apa yang tadi pagi dia lakukan.

Natsume's POV

Tadi pagi tepat setelah aku menginjakkan kaki kembali di akademi ini, aku melihat seorang perempuan yang sepertinya benar-benar kukenal. Dia memakai blazer hitam dan mengurai rambut brunettenya itu. Kesan pertamaku terhadapnya adalah: Cantik. Memperhatikannya tidak membuatku bosan, malah semakin membuat aku tertarik padanya. Kesan kedua yang muncul dibenakku adalah: Bodoh. Bagaimana bisa dia memakai sepatu dengan sepotong roti di mulutnya sambil berlari? I've just realized how dense she is. Benar-benar bodoh. Truly an idiot. Sepanjang jalan aku mengikutinya berlari sampai dia terjatuh. Dan memang benar, dia masih memakai celana dalam bermotif polka-dots itu. Ini semua seperti déjà vu.

Aku mengejarnya sampai langkah kakiku terdengar jelas olehku sendiri, melihatnya semakin jauh dari pandanganku aku berteriak, "Oi, Polka!" yang sepertinya dia sama sekali tidak menyadari adanya kehadiranku. Padahal sudah 2 tahun aku tidak bertemu dengannya. Huh. Membosankan. Tak ada lagi orang yang bisa kujahili selain dia. Dia. Mikan Sakura. Satu-satunya perempuan yang bisa menarik perhatianku. Dan itu semua berawal dari—

Brak!

Tch. Siapa sih yang masuk. Seenaknya mengganggu orang. Menyebalkan.

"Mikan! Apa kau baik-baik saja?"

Apa? Mikan masuk ke sini? What the—?

"I-iya sensei, sepertinya aku kurang tidur."

Oh. Pasti dia pingsan lagi. Salah sendiri tidur tengah malam terus. Tanda-tanda orang niat sakit anemia.

"Baiklah, sepertinya kamu butuh istirahat lebih. Tidurlah di sini terlebih dahulu, jika kamu sudah merasa baikan, baru kamu boleh meninggalkan tempat ini."

"Terima kasih sensei."

Jangan bilang kalau dia mau tidur di sini. Astaga. Natsume, sekarang ini kesempatanmu untuk menciumnya, bahkan memperko— CUKUP! Hentikan pikiran gilamu ini sekarang juga, Natsume.

Tapi…

Mumpung ada kesempatan jarang-jarang begini, mendingan aku memanfaatkannya, dengan baik.

.

Aku membuatnya pingsan, tepat di depanku. What a great job, Hyuuga.

Aku tak bisa menahan tawaku ketika melihatnya tertidur pingsan dalam pose seperti itu sambil berbisik ,"Mikan, kamu ini bodoh banget atau apa sih? Gampang banget dibikin pingsan begini hahaha,"

Dia mendengarnya? Mudah-mudahan tidak. Hahaha. Aku cekikikan seperti… orang gila. Hahaha aku tak peduli.

"Sekarang kamu tinggal diam, tunggu sampai bibir pangeranmu ini menyentuh bibirmu yang rasanya seperti stoberi itu."

Mikan's POV

Sejak masuk ke ruangan ini aku sudah merasakan hawa menusuk. Benar-benar tidak enak. Rasanya mencekam. Sudahlah, memangnya ada apa di sini? Oh iya ada Ruka! Nyaris aja lupa! Misaki-sensei membawaku ke ruangan ini saat aku pingsan di depan greenhouse-nya. Mungkin aku belum sarapan. Entahlah aku lupa.

Misaki hanya berkata, "Mikan! Apa kau baik-baik saja?"

"I-iya sensei, sepertinya aku kurang tidur." Jawabku polos, sebenarnya bukan itu sih alasannya.

"Baiklah, sepertinya kamu butuh istirahat lebih. Tidurlah di sini terlebih dahulu, jika kamu sudah merasa baikan, baru kamu boleh meninggalkan tempat ini."

"Terima kasih sensei."

Yes! Berarti aku bisa melakukan apa yang kumau dengan Ruka berdu—

"MMMMMM! HEPASHAN A—!"

Baca: mmmmmm! Lepaskan a—!

What? Ada yang menutup mulutku dengan saputangan bau alkohol….. berarti… ASTAGA. Berarti sekarang aku sedang pingsan? Aduh gimana dong? Ini siapa lagi berani banget— aduh. Berarti memang aku yang bodoh. Gak bisa bangun dari 'pingsan'ku ini.

Mikan, kamu ini bodoh banget atau apa sih? Gampang banget dibikin pingsan begini hahaha

WTF ini kan suaranya Natsume! Dia mau mengapakan tubuhku?

Sekarang kamu tinggal diam, tunggu sampai bibir pangeranmu ini menyentuh bibirmu yang rasanya seperti stoberi itu.

ASTAGA dia mau menciumku! Gimana ini aku gak bisa bangun! OhGod I need Your help! Tunggu. Pangeran? Hahahaha LUCU sekali. Dia pikir dia itu pangeranmu Mikan? Itu dulu, bukan sekarang. Nah, Mikan, tugasmu sekarang hanyalah bangun dari pikiran gilamu, jika Natsume Hyuuga itu berani bermacam-macam padamu, tampar dia.

5

4

3

2

1

0.01

PLAK!

Normal POV

Nyaris saja bibir Natsume menyentuh bibir Mikan. Mikan tersadar dari keadaan tidak sadarnya itu tepat saat Natsume mau mencium bibirnya. Kalau dihitung, jarak antar bibir mereka berdua hanya 1 inch. Mikan langsung menampar dan berteriak, "APA YANG MAU KAU LAKUKAN TERHADAPKU?"

"Menciummu," jawabnya santai.

"Kau ini memang… keras kepala! Sebenarnya apa maumu? Aku sudah punya pacar! Jadi jangan seenaknya memperlakukan pacar sahabatmu sendiri seperti ini!"

Mendengar kata 'sahabatmu', Natsume diam. Dia benar-benar kehabisan kontrol terhadap keinginannya sendiri. Dia sama sekali tidak membayangkan bagaimana perasaan Ruka jika dia berhasil melakukannya tadi.

"Apa maumu, Natsume?" tanya Mikan pelan, tanpa amarah sekalipun. Dia sudah lelah berteriak-teriak seperti orang gila untuk mencairkan pikiran yang ada di dalam pemilik mata berwarna crimson ini.

Natsume terdiam sejenak, menyadari perubahan dalam diri Mikan. Satu-satunya yang berubah darinya adalah kesabaran. Jika hal itu memang 'kesabaran' apakah Mikan masih bisa memaafkan apa yang dilakukan Natsume 2 tahun yang lalu?

"Yang kuinginkan hanyalah, kau bisa memaafkanku atas apa yang telah kuperbuat 2 tahun yang lalu."

Mendengar apa yang dikatakan Natsume, Mikan terdiam. Memikirkan apa yang terjadi dengannya dan Natsume 2 tahun yang lalu. Sesak rasanya saat mengingat kejadian itu.

Flashback

"Natsume! Sedang apa kamu di sini?"

"Melihatmu, Polka,"

Mendengar kata Natsume barusan membuat muka Mikan memerah semerah warna bola mata . Semua orang di divisi middle high school (SMP) di alice academy tahu kalau mereka berdua itu pacaran. Siapa sangka pemilik fire alice ini bisa berpacaran dengan pemilik nullification alice ini? Sungguh sulit dipercaya.

"Bohong. Kau menunggu seseorang kan?"

"Kamu orangnya, Polka,"

"Sudahlah Natsume! Gombalanmu itu sudah ketinggalan zaman!"

Natsume turun dari atas pohon sakura 'miliknya', tempat dia biasa 'bertengger' dan bersiul seperti burung.

"Apa maumu Polka?"

"Tidak ada, hanya ingin menemuimu, Natsume. Tunggu. Apa kau benar-benar menyukaiku, Natsume?"

"Hn. … .Ya sudahlah. Kau sudah tak ada urusan lagi denganku kan? Pergilah."

Kalimat itu membuat Mikan down. Tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya menuruti apa kata pemilik mata crimson itu.

"Baiklah, kalau itu maumu."

Mikan pergi. Sebernarnya tidak. Dia pergi bersembunyi dibalik semak-semak terdekat. Dia hanya ingin mengawasi pacar kesayangannya itu dari kejauhan. Sayangnya yang dia dapati adalah pemandangan yang merusak suasana hatinya yang sedang benar-benar rusak. Bayangkan betapa hancurnya hati Mikan saat melihat Natsume dan Luna, Koizumi Luna, mantan pacar Natsume Hyuuga ini berciuman di bawah pohon sakura, tepat di tempat Natsume 'mengusir' Mikan.

Hati yang sudah ia jaga selama 3 tahun itu hancur. Bukan berkeping-keping lagi, pecahan hatinya nyaris tak terlihat oleh mata telanjang. Heartbroken. Kata terbaik untuk menggambarkan perasaan Mikan pada saat itu.

Apalagi setelah dia mendengar percakapan ini:

"Natsume, apakah kau masih menemui gadis jeruk busuk itu?" Tanya Luna.

"Ya, barusan, sebelum kuusir dari hadapanku."

"Kenapa kau masih bertemu dengannya?"

"Sekedar bermain. 3 tahun berpacaran dengannya cukup menyenangkan sebagai sebuah mainan. Aku tidak peduli bagaimana hancur hatinya setelah dia melihat hal ini,"

"Dasar, kau memang jenius."

"Terima kasih."

"Aku mencintaimu, Natsume."

"Aku juga, Luna."

Lalu mereka berciuman lagi. Tidak ada satu dari antara mereka yang merasa diawasi oleh seseorang. Baru setelah beberapa saat, Natsume menyadari kehadiran seseorang dibalik semak-semak.

Natsume menemukan Mikan pingsan di antara semak-semak. Dia langsung menggotongnya ke UKS dan merawat Mikan. Begitu Mikan sadar, Mikan langsung menampar Natsume, tanpa ampun. Sambil menangis dan berkata,"Aku benci padamu, Natsume." Mikan meninggalkan Natsume di ruang UKS sendirian. Itulah saat terakhir Mikan berbicara dengan Natsume.

Flashback End

"Maaf saja, tetapi aku tidak bisa memaafkanmu. Kau sudah merusak harga diriku sebagai seorang perempuan. Kamu pikir aku ini mainan yang seenaknya bisa kau ambil dan kau buang? Ternyata kamu itu lebih busuk daripada sampah. Oh iya, satu hal lagi, berhentilah memanggilku dengan sebutan Polka. Tidak ada yang bisa memanggilku seperti itu lagi karena sekarang kamu bukan siapa-siapaku lagi."

Natsume memegang tangan Mikan erat, berusaha menjelaskan apa yang terjadi kala itu, "Mikan! Semua yang kamu dengar itu hanya sandiwara! Ciuman itu juga merupakan sandiwara yang kubuat dengan Luna agar membuatmu cemburu. Jadi dengarkan penjelasan—"

"Cukup sampai disitu. Aku tidak mau mendengarnya lagi."

TO BE CONTINUED.


(Ga penting untuk dibaca) - [sesi curhat dimulai]

Menyebalkan. Otakku stuck di sini. Aku sendiri gak percaya kalau sekarang musti upload chapter ini, mungkin gara-gara kesenangan yang membalutku ini (halah). Sepertinya aku memang harus mengganti POVnya jadi POVnya Mikan/Normal deh, kebanyakan POV malah bikin authornya kebingungan. Anyway, tau ga, nilai US Bahasa Indonesiaku... ** ! Ngeri. Sulit dipercaya kalau aku bisa dapat nilai segitu. (FYI, minggu ini aku ada.. ujian sekolah! Doain aku biar dapet nilai bagus ya! *smooch readers*) Oh iya, rasanya 'aku' si author di sini BEDA banget sama 'aku'nya si author di chapter sebelumnya. Hmph, aku memang aneh.

Sekali lagi maafkan aku! Pas aku baca chapter 3nya (masih tengah jalan, hehehe) ternyata gak pas sama ending chapter 2 yang barusan ku-upload, dan lagi ini chapter kubilang terlalu pendek. Yah whatever deh. Ini namanya... menyebalkan.

[sesi curhat berakhir]

Mind to review?