Setelah makan malam yang berlangsung ramai seperti biasanya, masing-masing kru beranjak pergi untuk istirahat malam itu. Robin sendiri menuju pos tempatnya berjaga malam di menara pemantauan, sambil membawa kopi hangat dalam termos, buku bacaan, dan selimut.

"Robin-chan, apa tidak sebaiknya kau beristirahat saja? Kau tampak lelah," Sanji menyapanya, ketika Robin hendak pergi setelah mengambil kopinya.

"Aku baik-baik saja, Sanji. Malam ini kan memang giliranku jaga," tolak Robin dengan sopan.

"Tapi….."

"Lagipula, aku memang tidak ingin tidur… buku ini lagi seru!" tambah wanit itu sambil menunjukkan buku yang dibawanya.

"…"

"Terimakasih untuk tawarannya," katanya sambil berlalu.

"AH! Kalau memang kau mengantuk, jangan ragu-ragu untuk memanggilku ya!" Sanji sempat berucap sebelum Robin hilang dari pandangannya.

"Ya… ya… Terimakasih!" jawab arkeolog itu sambil mulai menaiki tangga tali menuju ruang pemantauan.

'Tentu saja aku tidak akan mengantuk,' pikir Robin dalam hati. Karena sebetulnya tidur adalah hal yang sudah dia hindari selama 2 minggu ini. Tapi dia tidak akan menceritakan alasannya pada siapapun. Bukan karena Robin tidak percaya pada kru Topi Jerami, tapi lebih karena, dia tidak terbiasa... bukan, belum terbiasa untuk curhat tentang hal-hal semacam ini. Dua puluh tahun dalam pelarian dan selalu hidup dalam kesendirian, membuatnya tumbuh menjadi seorang yang lebih suka menyimpan banyak hal, terlebih yang menyangkut kehidupannya, sendiri saja. Apalagi tentang masalah sepele seperti ini.

Sambil menata barang-barangnya di puncak tiang kapal, Robin menghela nafas panjang.

"Kenapa?"

"!" Robin terlonjak kaget, karena tiba-tiba ada suara di tempat tersebut. Segera ia berbalik mencari sumber suara tersebut yang ternyata adalah….

"Kenshi-san? Sejak kapan ada di situ?"

Zoro menaikkan satu alisnya. "Aku dari tadi di sini kok. Baru selesai latihan," sahutnya, sambil menyusun kembali beban-beban berat ke tempatnya masing-masing secara hati-hati.

"Ah…. Ya… aku lupa" jawab Robin sambil menggeleng pelan, lalu duduk di ujung ruangan.

Lagi-lagi pendekar itu menaikkan satu alisnya.

"Hei, kalau kau lelah, aku tidak keberatan menggantikan berjaga"

Mendengar tawaran pria itu, Robin mendongak memandangnya kaget, sebelum kemudian tertawa kecil.

"Aku serius!"

Melihat wajah Zoro yang sedikit memerah, tawa Robin makin keras.

"Apanya yang lucu?"

"Ah, tidak…. hanya saja aku tidak menyangka," jawab Robin sambil tersenyum, "Terimakasih atas perhatiannya, tapi aku tidak apa-apa kok."

"Ya sudah… terserah," jawab Zoro sambil melangkah pergi. Wajahnya pun tampak semakin merah.

Robin tertawa kecil melihatnya. Robin tau bahwa Zoro yang pada luarnya tampak keras dan kaku, sebenarnya berhati lembut. Hal itu tampak sekali ketika pria itu sedang bersama Chopper, dimana Chopper sering sekali diperlakukan bagaikan adik kecilnya sendiri. Zoro memiliki suatu cara tersendiri untuk menunjukkan perhatiannya pada teman-temanya. Perhatian dan loyalitas yang luar biasa bahkan. Hanya saja, dia tidak senang bila tertangkap basah dirinya sedang memperlihatkan sisi lembutnya. Tapi bagi Robin, hal itu justru membuat pendekar rambut hijau itu semakin unik di matanya.

Robin teringat, ketika pertama kali bergabung dengan kru Topi Jerami, hanya Zorolah yang tidak percaya padanya. Dan ia menghargai hal tersebut, karena sebagai seorang pendekar, adalah tugasnya untuk melindungi orang-orang yang dekat dengannya. Sewaktu di Water Seven, dirinya merasa sepertinya Zoro telah menganggapnya teman, apalagi dia juga turut mengejarnya sampai ke Enies Lobby. Setelah itu, tampaknya Robin berhasil mendapatkan sedikit kepercayaannya. Kejadian di Thriller Bark, membuat Robin semakin yakin bahwa dirinya telah dianggap sebagai teman oleh pendekar itu.

Robin kembali merenung sambil menatap bintang-bintang yang bersinar terang di langit malam yang cerah. Kejadian di Thriller Bark, yang dia ketahui setelah menguping pembicaraan dua kru Lola itu, benar-benar mengangkat rasa hormat Robin terhadap pendekar itu berkali-kali lipat. Tapi di satu sisi, Robin jadi sedikit khawatir. Melihat kejadian itu, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, hal yang serupa dapat terjadi lagi. Dan kalau kali itu Zoro sampai…..

'Ah, tidak…tidak….,' Robin menggeleng. Dia menetapkan hatinya, untuk sedapat mungkin mencegah hal itu agar jangan sampai terjadi. Robin tidak akan sanggup bila harus kehilangan salah satu anggota keluarga barunya. Terlebih bila itu akibat harus melindungi dirinya dari kejaran pemerintah dunia, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan pemerintah dunia. Tidak! Robin tidak akan mengijinkan mereka merenggut keluarganya lagi.

Angin malam yang bertiup dingin, membuat Robin menggigil dan membuyarkan lamunannya. Tampaknya malam telah semakin larut. Memutuskan untuk berhenti berpikir yang tidak-tidak, Robin menuangkan kopinya, merapatkan selimutnya, dan kemudian mulai membaca buku yang dibawanya.

~OoOoOoO~

"Nami-swaann! Robin-chuaaann! Sarapan sudah siap!"

Robin tersentak bangun ketika mendengar panggilan Sanji. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, Robin mengamati tempatnya berjaga. Bukunya masih terbuka pada beberapa halaman awal, dan kopinya yang sekarang telah dingin, masih tersisa setengah termos. Wah wah… tampaknya dia ketiduran.

Ketika Robin beranjak untuk berdiri, tiba-tiba dia merasa limbung dan hampir jatuh, kalau saja tidak segera berpegangan. Robin menggelengkan kepalanya dan mencoba memfokuskan pandangannya. Sepertinya dia tertidur dalam posisi yang aneh, sehingga bangun dalam kondisi tidak segar.

"Hei orang-orang bodoh! Tunggu dulu! Robin-chan belum datang!"

"aah… tapi Sanji…."

"Lapar…..laparrrr….."

'Uh oh… tampaknya aku harus bergegas ke ruang makan, sebelum terjadi keributan lebih lanjut,' pikir Robin.

Dengan sedikit cepat tapi tetap berhati-hati, Robin turun dari tempat pemantauan. Beberapa kali Robin mendengar teriakan Sanji mengusir para kru laki-laki dan mencegah mereka makan duluan.

"Robin tidak turun-turun, sebaiknya aku pergi menjemputnya" terdengar suara Nami.

"Tidak perlu Nami," Robin langsung memotong, sebelum Nami keluar dari ruang makan.

"Ah, Robin kau….. ?"

"Robin-chuaann…. Bagaimana jaga malammu?"

"Maaf, tampaknya aku ketiduran," wanita itu menjawab Nami, sambil mengembalikan termos yang berisi kopi setengahnya kepada Sanji.

"Oh tidak! Seharusnya aku tidak membiarkanmu berjaga dalam kondisi seperti itu," sahut Sanji dengan raut wajah sedih.

"Tsk! Lebay amat sih," timpal Zoro, sambil mengigit rotinya

"Apa maksudmu marimo bodoh? Siapa suruh kau makan duluan?"

"Terserah aku!"

"Nantang hah?"

"Sudah! berisik sekali kalian! Makan saja!"

"Baiklah Nami-san…!"

"YAY!"

Merekapun melangsungkan sarapan dengan ramai seperti biasanya. Sarapan lezat yang tersaji pun dengan cepat licin tandas, tetapi entah mengapa, Robin tidak ingin makan. Dia merasa sedikit mual dan kepalanya agak pusing.

'Mungkin karena kurang tidur saja,' pikirnya.

"OKAAY! Sekarang waktunya kita berpetualang lagi! Usopp, Chopper!"

"YA!"

"Sanji! Bekal!"

"Belum juga selesai aku membereskan piring-piring ini!"

"Tunggu dulu, bro! Kalian tidak mau melihat hasil karyaku yang SSUUUPPER?"

"AH? Apa itu Franky?"

"Tapi… kita harus pergi ke lapangan kosong. Aku tidak mau Sunny sampai terluka bila ada apa-apa!"

"Ayo… ayoo!"

"Yohoho! Tampak sangat menarik!"

"ck… mereka ini." Nami menggeleng pelan, kemudian dia berbalik ke arah Robin, "Hey Robin, kemarin aku menemukan toko pakaian yang koleksinya menarik! Kita lihat yuk!"

"um…. Rasanya aku ingin istirahat dulu"

"Robin? Kau baik-baik saja?" Nami bertanya khawatir.

"Ya, aku tidak apa-apa, Nami. Hanya sedikit lelah" jawabnya sambil tersenyum.

"….. tapi …. "

"Sungguh, tidak apa-apa. Kau pergi saja duluan. Nah, aku istirahat dulu ya"

"…."

Robin pun langsung pergi tanpa melihat lagi ke arah belakang.

Setibanya di kamar, Robin menghempaskan dirinya ke atas kasur. Butuh waktu beberapa saat sebelum dirinya dapat tertidur, karena sekarang kepalanya mulai terasa berdenyut. Setelah berbaring bolak-balik beberapa saat, akhirnya dia bisa tertidur juga.

~OoOoOoO~

Suasana Sunny Go pada siang itu terlihat sepi. Setelah percobaan gadget baru Franky berakhir dengan ledakan, yang artinya gagal, masing-masing kru kemudian pergi menjelajah desa kecil di pulau itu sekali lagi, sebelum mereka pergi dari pulau itu untuk melanjutkan perjalanan, setelah makan siang. Franky dan Usopp pergi membeli alat-alat dan segala pernik-perniknya, untuk membuat lagi sekaligus menyempurnakan gadget tersebut, sesuai blue print buatan Franky dengan tambahan-tambahan dari Usopp. Nami dan Chopper pergi untuk membeli buku, bahan-bahan obat, dan mungkin sekalian belanja, yang artinya, Chopper akan menjadi kuli angkut belanjaan Nami. Sanji pergi untuk membeli lagi beberapa bahan dan bumbu masak yang kemarin belum sempat dia beli, bersama dengan Luffy dan Brook yang memaksa untuk ikut, dengan alasan mau membantu membawakan barang belanjaan. Tapi tentu saja tujuan mereka hanya ingin jalan-jalan, makan berbagai macam daging (bagi Luffy), atau menggoda wanita (pada kasus Brook).

Zoro sendiri memilih untuk menjaga kapal, sekaligus latihan. Terdengar suara berdencing perlahan di puncak tiang kapal.

"4998... 4999... 5000..."

Zoro menyelesaikan hands-upnya yang ditambah dengan barbel 2 ton-nya. Lalu setelah mengembalikan barbel tersebut pada tempatnya dengan hati-hati, dia berjalan menuju tempat air minumnya. Sambil mengelap keringatnya dengan handuk, dia pun menegak habis 1 liter air yang dibawanya.

"Ah... segarnya..." ujarnya sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Sekilas dia memantau keadaan di sekitar kapal dari jendela, sebelum berbalik untuk membereskan alat-alatnya yang lain.

"Hmm?" saat itulah Zoro baru memperhatikan adanya seonggok selimut yang tergeletak di sudut ruang latihannya, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang pantau. Pendekar itu menghampiri tumpukan barang tersebut, dan ketika mengangkatnya, terjatuhlah sebuah buku. Dia lalu membungkuk dan mengambil buku tersebut.

'Barang-barang ini pasti milik Robin,' pikirnya. Hal tersebut terasa aneh. Robin adalah orang yang sangat rapi. Rasanya tidak pernah dia meninggalkan barang-barang yang telah dipakainya setelah jaga malam berantakan begitu saja. Apalagi sampai meninggalkan bukunya seperti ini.

Tapi, bila diingat-ingat lagi, tingkah wanita itu memang sedikit aneh beberapa hari belakangan ini.

Eh, bukannya Zoro mengawasi atau apa, hanya saja dia, sebagai seorang pendekar, memang sudah tugasnya untuk memperhatikan kondisi teman-temannya. Jadi dia pasti akan menyadari bila ada hal yang tidak biasanya.

'Ya, memang hanya itu alasannya,' tegas Zoro dalam hati.

Zoro mengingat-ingat, sudah sekitar satu minggu, atau bahkan lebih, Robin sering tampak melamun. Meskipun arkeolog berambut hitam itu selalu menutupinya dengan pura-pura membaca, tapi Zoro memperhatikan bahwa halaman bukunya tidak dibalik-balik, dan pandangannya sering kosong dan menerawang.

Lalu kemarin malam, ketika ia terbangun pada tengah malam, dan sempat naik ke menara pemantau ini, untuk mengambil handuknya yang tertinggal, ia mendapati Robin sedang tertidur di pojok ruangan. Tumben sekali, karena biasanya wanita itu jarang tidur, apalagi sewaktu berjaga. Kemungkinan besar, dia memang sedang lelah sekali, tetapi tidak mau menunjukkan hal tersebut. Jadi Zoro duduk di seberangnya, menggantikannya berjaga, sambil pelan-pelan melatih otot bisepnya dengan menggunakan barbel yang paling kecil, dan sedapat mungkin tidak bersuara, agar dirinya tidak mengusik tidur Robin. Ketika ufuk langit telah mulai berubah warna, Zoro pun pelan-pelan turun, sebelum si koki mesum itu melihatnya, dan berasumsi yang tidak-tidak. Dia sedang malas berurusan dan beradu argumentasi dengan si alis pelintir itu, apalagi di saat hari masih pagi seperti saat itu.

Tiba-tiba dari sudut matanya, Zoro menangkap adanya pergerakan di dek kapal. Segera ia melihat melalui jendela ruang itu.

'Ah, ternyata Robin sudah bangun. Kebetulan, bisa langsung dikembalikan saja bukunya.'

'Hm? Kenapa jalannya sempoyongan begitu?'

Zoro memperhatikan bahwa Robin menuju ke ruang makan, dan kemudian masuk ke dalamnya. Pendekar itu bergegas mengenakan pakaiannya, lalu turun dari menara pemantau. Setelah tiba di bawah, iapun melangkahkan kaki menuju ruang makan.

Tiba-tiba ...

PRANGG!

"?"

Suara itu terdengar dari ruang makan!

Segera Zoro berlari ke arah tersebut, membuka pintunya, dan dengan segera matanya menyapu seluruh ruangan, mencari sumber suara tersebut.

"!"

Di balik meja makan, tampak gelas yang pecah dan... lengan!

"Robin!"

Zoro segera menghampiri temannya yang sudah tergeletak di lantai ruangan tersebut, dan berlutut di sampingnya. Nafas wanita itu tampak tersengal-sengal, wajahnya memerah, dan matanya terpejam.

"Hei...hei... kau kenapa?"

Dengan hati-hati Zoro mengangkat kepala Robin, dan meletakkannya pada pahanya. Saat itulah dia merasakan bahwa badannya panas sekali.

'Oh, tidak... Chopper lagi pergi...'

Panik, Zoro mencoba membangunkannya dengan sedikit menggoyangkan bahunya, tetapi arkeolog itu tetap tidak membuka matanya.

'Tenang Zoro...', katanya dalam hati, 'Coba pikir apa yang harus dikerjakan pertama kali'.

Zoro berusaha mengingat apa yang dulu dikerjakan oleh teman-temannya saat Nami sakit, ketika mereka baru saja pergi dari Little Garden.

'Oh, iya! Tentu saja...'

Ia pun dengan hati-hati mengangkat Robin, dan membawanya ke kamar kesehatan, tempat Chopper biasa memeriksa.

"Uuhh..."

Mendengar erangan itu, langkah Zoro semakin cepat.

'Bertahanlah Robin...' batinnya.

Setelah tiba di depan kamar yang dituju, Zoro menendang pintunya hingga terbuka, lalu membaringkan Robin di kasur dengan hati-hati sekali, dan menyelimutinya. Lalu dia memandang sekeliling kamar untuk mencari peralatan yang diperlukan.

'uurgh...mana... mana...' matanya menatap barang-barang yang ada di ruangan itu satu per satu.

'Nah itu dia!' ujarnya setelah menemukan baskom dan lap, di sudut ruangan, dalam sebuah lemari kecil.

Disambarnya alat tersebut, lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk mengisinya dengan air hangat.

Ketika hendak kembali ke kamar, sejenak dia melirik ke arah pantai. Tampak di kejauhan ada dua orang yang sedang berjalan menuju ke arah Sunny. Zoro menyipitkan matanya dan menangkap siluet oranye dan ... topi warna pink!

"OOOI! Chopper! Cepat kemari!" teriaknya kuat-kuat, sambil melambaikan tangannya.

Setelah Zoro yakin bahwa kedua temannya itu mengerti isyarat yang diberikan, dan mulai berlari ke arah kapal, dia pun cepat-cepat kembali ke ruang kesehatan, dan kemudian meletakkan lap basah di dahi Robin, untuk mengompresnya.

Tidak berapa lama, kedua temannya itu muncul di pintu ruangan. Nafas mereka sedikit memburu setelah berlari.

"Zoro... ada ap-..." Nami tidak melanjutkan pertanyaannya, setelah menangkap situasi di hadapannya.

"Robin!" Chopper lalu segera menghampirinya, dan melakukan pemeriksaan singkat.

"Nami, bantu aku!"

"Ah, iya... " Nami pun masuk, dan dengan cekatan mengikuti perintah Chopper.

Merasa hanya akan menjadi penghalang, Zoro secara perlahan keluar dari ruangan itu, dan menutup pintunya, untuk memberikan keleluasaan bagi Chopper dalam menjalankan profesinya. Kemudian dia duduk di depan ruangan tersebut, sambil bersandar pada dinding kapal, menunggu hasil pemeriksaan Chopper.

Tidak berapa lama, semua kru yang lain kembali ke kapal. Zoro menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka, sehingga saat ini, mereka semua berkumpul di depan ruang kesehatan. Kekhawatiran terpancar dari wajah masing-masing kru tersebut.

"Aneh sekali, kemarin Nico Robin sehat-sehat saja, kenapa bisa tiba-tiba ya..."

"Roobinn-chuaannn...huks…..huks..."

"Sanji, kau harus memasak daging banyak-banyak! Semua penyakit akan hilang bila makan banyak daging!"

"Logika dari mana itu?" *plak*

"Yohoho...music dapat mempercepat penyembuhan lho... biar aku menggubah lagunya dulu..."

"Kemarin seharusnya... AH! Hei hei marimo bodoh!"

Zoro yang sendari tadi sedang duduk sambil menunduk dan menutup matanya, mendongak menatap teman berambut pirangnya itu.

"Kemarin kan kalian kehujanan! Pasti karena ..."

"Jangan sembarangan bicara alis keriting!"

"Kenapa bukannya kau membawa dia berteduh?"

"Memangnya dia kerupuk? Kena air lalu melempem? Jangan meremehkan….. "

"Heii... sudahlah, bro! Kalau kalian berisik begitu..."

Pintu ruangan yang tiba-tiba membuka membuat argumentasi para pria itu berhenti seketika, dan padangan mereka semua terfokus pada sosok rusa berhidung biru yang muncul dari pintu itu.

"Chopper! Bagaimana kondisi Robin?"

"Ah, dia tidak apa-apa. Bukan sesuatu yang serius. Tampaknya Robin hanya kelelahan, dan mungkin sedikit flu."

"UUOO! Robiinnn-cchuaaan! Syukurlaaah!"

"Yohohoho!"

"AU! Superr news!"

"Shishishisi... Chopper memang hebat!"

"Berisik! Aku tidak senang dipuji! Orang-orang bodoh!" kata Chopper sambil menari-nari.

Zoro sendiri menarik nafas lega, mendengar berita tersebut.

"Tunggu dulu!" Nami menahan Sanji dan Luffy yang sudah hendak masuk ke dalam ruangan tersebut. "Robin jelas butuh istirahat. Jadi biarkan dia tidur dulu di sini. Jangan mengganggunya"

"Ah! Betul sekali!" sahut Sanji, kemudian dia berpaling kepada Chopper, "Dokter Chopper, adakah pantangan makanan untuk Robin-chan?"

"Jangan panggil aku dokter! Bodoh! Tapi... tidak ada, justru Robin butuh makanan bergizi yang mudah dicerna"

"Baiklah! Satu menu makanan kaya gizi segera siaaap!" ujar Sanji sambil berlari ke arah dapur.

"Nah, sekarang sebaiknya kita semua makan dulu di ruang makan" perintah Nami.

"eh, Nami, apa kita jadi berlayar sekarang?" Usopp bertanya, karena rencana semula mereka memang demikan.

"Tidak. Robin perlu istirahat dulu. Kita menginap lagi saja"

"Okay..."

Dan merekapun beranjak ke ruang makan.

~OoOoOoO~

Malam hari itu, semua kru tampak tertidur di ruang makan. Hal yang biasa terjadi, apabila salah satu dari mereka sedang dalam kondisi tidak baik. Sebetulnya mereka ingin berada di ruang kesehatan, tapi Nami melarang mereka, dengan alasan, terlalu banyak orang justru akan mengganggu. Chopper juga berpendapat bahwa lebih baik bila Robin tetap istirahat di sana, dengan satu sampai dua orang penunggu saja. Sejak siang sampai saat ini, Chopper dan Nami lah yang berada di sana.

Zoro terbangun dari tidurnya yang dalam posisi duduk di pojok ruangan. Dia meregangkan otot-otonya sebelum berdiri, dan mengambil air minum. Pendekar itu memperhatikan bahwa teman-temannya masih tertidur, dan beberapa ada yang mengigau tidak jelas.

Zoro lalu berjalan keluar dari ruangan itu, dan setelah menatap langit, ia memperkirakan waktu kurang lebih tengah malam. Situasi di luar tampak aman-aman saja. Ia lalu berjalan ke ruang kesehatan, dan kemudian mengetuk pintunya perlahan.

Tidak ada jawaban.

Pelan-pelan dia membuka pintunya, dan sesuai dugaan, dia mendapati baik Nami dan Chopper sedang tertidur. Nami di samping tempat tidur Robin, dan Chopper di meja kerjanya.

'Seharusnya mereka membangunkan salah satu dari kami kalau memang mereka lelah.' pikir Zoro sambil menghela nafas.

Dia lalu menggoyang bahu Nami untuk membangunkannya.

"uuhm... ini... tidak... HAH! Robin!" Nami tersentak kaget.

"Sssh! Ini aku!"

"Ee? Ada apa?"

"Sudah, kau tidur sana. Bawa Chopper juga."

"Ah? Tidak apa-apa, aku tida...OAAHMM..." Nami menguap, tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.

"Sudah, biar aku yang berjaga"

"Tapi..."

Zoro melihat bahwa navigator kapal mereka itu memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal di hatinya dan membuatnya ingin tinggal lebih lama. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya.

"Memangnya ada apa?" tanyanya menyelidik.

Nami tampak menimbang-nimbang sejenak, sebelum menarik nafas, dan mulai bercerita.

"Sebenarnya…... kira-kira 2 minggu yang lalu, selama beberapa hari, Robin selalu terbangun saat malam hari. Beberapa kali dia bahkan terbangun dalam keadaan panik." Nami menarik nafas dalam, "Tapi setiap kali aku memintanya bercerita, dia selalu mengelak, mengatakan itu hanya mimpi saja, hanya hal sepele. Nyatanya, belakangan ini, aku malah melihat dia jarang tidur. Pura-pura berbaring sebentar, tapi kalau tengah malam aku terbangun, dia tidak ada di tempatnya."

"Zoro, aku yakin sekali, hal ini yang menyebabkannya jatuh sakit. Aku harus memaksa dia untuk bercerita. Tadi Robin sempat terbangun sebentar, tapi aku…..."

"Usil amat sih?"

"Apa maksudmu?" Nami memandang Zoro dengan marah, tetapi pendekar itu membalas tatapannya dengan lurus dan tajam.

"Ah… ternyata memang percuma aku bercerita padamu." Nami menghela nafasnya, sambil menggeleng pelan.

"Setiap orang pasti punya masalahnya sendiri. Kalau memang Robin tidak mau berbagi, itu adalah haknya. Nanti kalau dia merasa waktunya sudah tepat, dia akan bercerita dengan sendirinya." Jawab Zoro.

"Sudahlah. Biarkan aku di si….Oahm….."

"Tidur sajalah. Nanti kalau kau sakit juga, bisa makin repot kita"

"Tapi…."

"Sudah sanah! Bawel amat sih?" Zoro sedikit mendorong Nami keluar, sambil menyerahkan Chopper, yang masih tertidur pulas.

"Kalau sampai Robin terbangun dan ingin bercerita, panggil aku!"

"Iya…."

"Oh, ya, jangan lupa berikan pil yang ada di meja itu juga."

"Iya…."

Zoro lalu menutup pintu kamar itu, agar angin malam yang dingin tidak masuk. Dia kemudian duduk di kursi di samping Robin yang masih tidur. Sesekali tampak wanita itu bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Zoro mengambil lap kompres, membasahinya sekali lagi, lalu meletakkan lagi di dahinya. Sebelumnya pria berambut hijau itu sempat memegangnya, dengan punggung tangan, dan ternyata memang masih demam.

Dia lalu duduk bersandar dan pikirannya menerawang. Berarti benar, memang sudah sekitar dua minggu ini, ada hal yang mengganggu wanita di depannya ini. Pastinya lebih dari sekedar mimpi buruk, bila sampai membuat orang terpandai di kapal ini melamun di siang hari, kurang awas dengan keadaan sekitarnya, dan bahkan menghindari tidur. Meskipun, harus Zoro akui, orang ini begitu pandai menyembunyikan hal tersebut di balik topengnya, sampai-sampai tidak banyak yang menyadarinya. Nami pasti tau, karena biar bagaimanapun juga, hanya merekalah wanita di kapal ini. Dan jelas sekali kalau Nami sangat menyayangi wanita yang lebih tua 10 tahun darinya ini, dan menganggapnya sebagai kakaknya, begitu juga sebaliknya. Koki bodoh itu juga mungkin menyadarinya, karena dia selalu berada di sekitar kedua wanita ini. Tapi, kalau sampai pada Nami pun Robin tidak mau bercerita, kemungkinan besar hal itu adalah hal yang sangat sensitif, dan Zoro, sebagai seorang yang juga tidak senang bila privasinya diganggu, sangat mengerti akan itu.

"Uungh…"

Zoro kembali memusatkan perhatiannya ke arah temannya yang semakin gelisah dalam tidurnya. Zoro teringat pembicaraannya dengan Nami, dan sempat berpikir untuk membangunkannya, tapi kemudian mengurungkan niatnya.

'Privasi…..' tegasnya.

Dia hanya memperbaiki posisi lap kompres di dahi Robin, berharap wanita itu akan kembali tenang.