Chapter 2

Jae. Aku pergi bekerja

Ada beberapa lembar uang di laci

Oh ya, junsu juga membawakan makanan dan baju untukmu

Yunho

Begitulah isi dari kertas yang dilihat jaejoong menempel di pintu kulkas. Saat dia keluar dari kamar. Hanya keadaan sunyi yang didapatinya. Memutuskan untuk keluar dan mencari yunho dan akhirnya tidak mendapati namja tampan itu di rumah.

Setelah menyelesaikan mandi dan sarapannya. Kini yeoja cantik kita sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi di keluar dia tidak tahu harus kemana. beberapa saat ia teringat dengan uang yang ditinggalkan yunho untuknya. Untuk apa dia meninggalkan uang? Padahal ia tidak ingin membeli sesuatu. Pikirnya pada dirinya sendiri. ia tidak mau merepotkan yunho lebih banyak lagi sudah untung dirinya diperbolehkan tinggal di sini dan sekarang ia akan menghabiskan uang namja tampan itu. Big no !

Memutuskan untuk berkeliling rumah yang tidak terlalu besar tapi juga tidak bisa dikatakan kecil. sangat pas untuk ditinggali sendiri seorang namja. Untuk ukuran namja yang hidup sendiri rumah ini tergolong rapi walaupun terlihat setumpuk baju kotor yang belum sempat dicuci. Menuju dapur juga terlihat hal yang sama piring piring kotor menumpuk di tempat cuci piring dan jika menengok ke dalam kulkas hanya akan menemukan makanan instan dan minuman kaleng. Ia pun hanya bisa menghela napas.

oOo

"aku pulang!" sama seperti biasanya saat ia pulang tidak ada yang menyambutnya. Tapi hari ini ada berbeda karena sekarang ia mencium aroma masakan dari dalam rumahnya.

merasa penasaran melangkahkan kakinya ke dapur. Dan sesuai tebakannya ia melihat yeoja yang baru sehari tinggal di rumahnya itu sedang memasang. Wajahnya sudah tampak lebih segar tidak sepucat kemarin malam dan jika seperti ini aura kecantikannya lebih terlihat. Sekiranya itu yang yunho lihat sekarang. Yeoja cantik itu sangat menikmati kegiatannya sekarang sambil sesekali bersenandung samapi-sampai tidak menyadari keberadaannya di sana. "jae..."

"eh ! yu..yunho ssi. Kau sudah pulang?"

"ne.. kau memasak jae?"

"i..itu.. mianhae yunho ssi.. aku tidak bermaksud menghabiskan uangmu. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi jadi aku ingin membuatkan makanan untukmu, tapi setelah melihat kulkas tidak ada bahan makanan apapun yang bisa dimasak. Jadi aku memakai uangmu untuk berbelanja di pasar. Mianhae.. aku tidak bermaksud lancang."

"tidak apa apa. Aku memang meninggalkan uang itu untukmu kalau kau ingin membeli sesuatu. Tapi kau tidak perlu memasak untukku. Kau adalah tamu di sini."

"tidak yunho ssi. Aku melakukannya dengan ikhlas. Ini juga sebagai ucapan terima kasihku"

"baiklah kalau begitu. Gomawo. Aku mandi dulu. Tunggu aku. Nanti kita makan bersama"

Jaejoong hanya mengangguk dan kembali melanjutkan acara memasaknya

yunho segera masuk ke kamarnya. Di sepanjang menuju kamar. Yunho merasakan ada perubahan. Rumahnya terasa lebih bersih dan rapi dari sebelum berangkat kerja tadi. Pasti jaejoong juga yang melakukan ini pikirnya.

Setelah menunggu beberapa saat yunho pun keluar dan bergabung dengan jaejoong yang sedari tadi sudah menunggunya di meja makan. Yunho mengambil tempat di depan jaejoong sehingga mereka sekarang saling berhadapan. Tanpa percakapan sebelumnya, mereka memulai makan malam.

Suasana makan malam terasa sunyi. Tentu saja dua orang yang ada di sana tidak ada satupun yang mau memulai percakapan. Yunho ingin sekali memecahkan suasanan canggung diantara mereka, sesekali Ia mencuri pandang wanita didepannya itu sambil berpikir kalimat apa yang pas untuk memulainya. Sebenarnya jaejoong pun sama tapi ia masih bisa menahan dirinya. Tidak tahan dengan keheningan yang ada. Sang namja pun memutuskan untuk berbicara.

"ehem.. jae."

"ne?"

"err.." yunho bingung apa yang harus ia katakan padahal sedari tadi ia sudah mempersiapkan kata kata yang pas.

"masakanmu sangat enak jae. Kau pasti pintar memasak" kalimat tak terduga dari yunho membuat jaejoong terkejut. Ia mengira yunho akan menanyakan hal-hal lain

"be..benarkah? Aku memang suka memasak"

"sungguh! Ini benar benar lezat. Masakanmu ini akan ku nobatkan menjadi makanan favoritku sekarang. He he he !" tawa yang agak aneh keluar dari bibir hati itu tapi tak lama ia merutuki dirinya sendiri dalam hati kenapa bisa mengeluarkan tawa yang aneh seperti itu.

Apa? ia tidak salah dengar kan? Makanannya sekarang akan menjadi makanan favorit namja didepannya? Mendengar hal itu membuatnya mengukir sebuah senyuman untuk yunho. Yunho yang melihat senyum yang terukir di bibir wanita di depannya seketika membuatnya terpana

Cantik…

sekaligus merasa lega karena akhirnya ia bisa membuat jaejoong tersenyum, melupakan kejadian buruk yang dialaminya kemarin walaupun hanya sesaat.

Teruslah tersenyum jae…

Aku tidak akan membiarkan senyuman itu hilang lagi…

oOo

tak terasa sudah hamper 2 bulan jaejoong tinggal bersama dengan yunho. Jaejoong merasa sangat bahagia bisa mengenal yunho dan junsu juga dengan ajussi dan ahjuma kim –orang tua junsu. Mereka sangat menyayangi jaejoong begitupun sebaliknya. Jaejoong merasa memiliki keluarga baru di sini. Pada awalnya jaejoong berniat pergi dari rumah yunho karena tidak enak pada namja tampan itu karena terus menumpang. Tapi karena bujukan yunho dan junsu ditambah dengan berbagai alasan dan ditambah jaejoong belum mendapatkan pekerjaan akhirnya jaejoong terpaksa mengalah dan berjanji akan pergi sampai Ia mendapatkan pekerjaan.

Di pagi yang cerah dapat kita lihat seorang yeoja yang sangat cantik, kulitnya yang putih mulus, bibirnya yang merah seperti habis memakan buah strawberi, rambutnya yang hitam dan tak ketinggalan pipi yang sekarang sedikit berisi menambah kesan manis bagi yang melihatnya sedang sibuk mengolah bahan makanan yang ada di hadapannya. Aroma harum pun sudah tercium ke segala penjuru rumah yang memang tidak terlalu luas ini. Tak berapa lama keluarlah seorang namja tampan yang sudah rapi bersiap pergi bekerja.

"aigoo.. wanginya saja sudah enak. Bagaimana dengan rasanya"

"eh yun. Kau sudah selesai. Tunggulah, sebentar lagi masakannya sudah selesai. "

Dengan sabar yunho menunggu jaejoong di meja makan sambil memperhatikan jaejoong yang Sedang menata makanan nya di piring. Jika ada yang melihat. Pasti orang-orang aakn menganggap mereka adalah sepasang suami istri yang baru menikah. Sang istri yang menyiapakan sarapan untuk sang suami yang akan bekerja. Dan sang suami yang menunggu istrinya menyelesaikan kegiatannya.

Setelah selesai menata makanan di atas meja barulah mereka memulai acara sarapan mereka Sesekali candaan dan tawa yang menghiasi suasana sarapan mereka. Yunho tersenyum kecil saat melihat cara makan jaejoong yang sangat cepat seperti tidak pernah mendapatkan makanan selama sebulan. Entah sadar atau tidak tangan yunho terulur menyentuh sudut bibir jaejoong dan mengambil nasi tertinggal di sana. Keduannya sama-sama terdiam sesaat dengan apa yang barusan terjadi. Jantung keduannya berdegub dengan cepat. Setelah beberapa saat akhirnya yunho tersadar dan segera menarik tangannya. Begitupun dengan jaejoong yang langsung menunduk –menutupi rona merah yang muncul di pipinya-dan melanjutkan makannya .

Huk!

Drap drap drap

hoek hoek

tiba tiba saja jaejoong merasakan sesuatu hendak keluar dari mulutnya. rasa mual di perutnya lagi-lagi datang dan itu sudah terjadi akhir-akhir ini. Dengan segera jaejoong menuju kamar mandi dan dan memuntahkan semua isi perutnya di sana.

Yunho yang melihat jaejoong berlari ke kamar mandi segera menghampiri jaejoong lalu membantu memijat tengkuk leher agar rasa mualnya sedikit berkurang

"Sudah merasa lebih baik?"

Hanya anggukan yang dapat jaejoong lakukan untuk menjawab karena Ia tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara. Yunho lalu membantu jaejoong berjalan menuju kamar dan merebahkan jaejoong di tempat tidur. Jaejoong hanya pasrah dan menuruti yunho.

"Gwenchana? Ada apa denganmu? Sudah beberapa hari aku melihatmu seperti ini. Dan sekarang wajahmu terlihat pucat. Kau harus kerumah sakit. Aku akan meminta i-" belum selesai yunho berbicara dengan nada khawatir yang begitu kentara jaejoong sudah memotongnya.

"Aniya yunho ah. Aku baik baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya demam biasa."

"Tapi jae.. sudah beberapa hari ini kau seperti ini. Aku takut terjadi apa-apa padamu"

"Aku tidak apa-apa yun. Hanya perlu tidur sebentar. Ah- kau juga harus pergi bekerja kenapa masih di sini. Cepatlah pergi yun nanti kau terlambat." Ucap jaejoong untuk mengalihakan pembicaraan. Yunho akhirnya mengalah. Ia tahu jika jaejoong tidak ingin membahas hal ini

"baiklah aku akan jika ada apa-apa cepat hubungi aku atau junsu. Mengerti?"

"Ne. arraso"

Setelah mendengar bunyi pintu di buka lalu ditutup kembali yang menandakan yunho sudah pergi bekerja. Hening. Yang terdengar hanya suara helaian berat nafas dari ruangan tempat dimana jajoong berada. Tangannya kanannya Ia gunakan untuk menutupi matanya. Sedangkan tangannya yang lain mengelus perutnya yang berada di balik selimut. Kepalanya pening. Bukan hanya akibat mual tadi. Banyak pikiran yang berkecamuk dalam otaknya beberapa hari ini.

Pikiran yang kemungkinan akan terjadi dibalik mual dan muntah yang sering dialamainya beberapa hari terakhir. Tapi ada satu yang paling ia takuti. Sesuatu yang sangat tidak ingin hal itu menjadi nyata. Tapi sesering apapun jaejoong mengelak, semua yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini membuatnya takut apalagi saat jaejoong teringat…dia belum mendapatkan masa haidnya dan ini sudah lewat 3 minggu.

"Tidak-tidak. itu tidak mungkin terjadi. Aku harus memastikannya."

Dengan bergegas jaejoong mengambil jaketnya dan keluar rumah menuju minimarket. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya jaejoong segera pualng dan langsung menuju ke kamar mandi. Di bukanya bungkusan yang ia bawa. Segera ia keluarkan test pack -barang yang ia beli tadi- tidak hanya satu tapi dia membeli 10 buah test pack sekaligus dengan berbagai merek agar hasilanya benar benar akurat -pikirnya.

Jaejoong mengambil satu persatu dan menggunakan nya sesuai petunjuk yang ada. Jaejoong terus berdoa dalam hati semoga hanya satu garis yang muncul pada benda itu. Dirinya tidak ingin sampai hamil. Tidak akan, karena ia tidak akan pernah sudi mengandung anak dari laki-laki bejat yang telah memperkosanya itu. Lelaki mabuk yang tanpa sengaja berpapasan dengannya yang kebetulan jalan yang dilaluinya sepulang bekerja sangat sepi. dengan biadapnya dia merenggut keperawanannya tanpa adanya rasa kasihan melihat jaejoong yang terus meronta di bawahnya.

Setetes air mata tanpa izin jatuh mengalir pipinya. Kenangan buruk itu kembali lagi. Jaejoong segera menghapus airmatanya. Setelah menunggu beberapa saat jaejoong melihat satu persatu tes pack itu dengan dada yang berdegu kencang.

Tes pack pertama..

Kedua..

Ketiga..

"tuhan.. kumohon..jebal…"

Terakhir..

oOo

tok tok tok

"eonni ini aku junsu. Eomma membawakan kimchi untuk kalian?" tak ada sahutan dari dalam.

Cukup lama menunggu, junsu mencoba membuka pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci.

"eonni, aku masuk ya?" Terlihat rumah itu tampak sepi. apa jae eonni sedang keluar ya?tapi kenapa pintu nya tidak dikunci?

Junsu meletakkan kimchi yang Ia bawa lalu mencari jaejoong di seluruh ruangan. Sampai pada kamar mandi junsu menemukan jaejoong di sana

Eon..ni…KYAAA!

"JUNSU-YA!"

Yunho berlari menghampiri junsu. Dilihatnya juga di sana ada ahjussi dan ahjuma kim. Pikirannya sudah kacau setelah mendapat telepon dari junsu tanpa piker panjang ia langsung berlari menuju rumah sakit.

"Oppa…" mata junsu sudah bengkak karena dari tadi ia tidak berhenti menangis.

"Bagaimana keadaan jaejoong? kenapa bisa dia seperti itu? Bukankanh tadi pagi dia masih baik baik saja?"

"Hiks..hiks..aku tidak tau oppa. Tadi aku hanya ingin mengantar kimchi. Kukira jae eonni tidak mendengar panggilanku. Akhirnya aku masuk tapi aku menemukan eonni hiks.. dia…dia….hiks" junsu tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan semakin terisak. Masih teringan dengan jelas kejadian tadi siang dimana ia menemukan jaejoong tergeletak di kamar mandi dengan banyaknya darah yang berasal dari pergelangan tangannya. Shock. Itu sudah pasti. Untung saja ahjussi dan ahjuma kim yang mendengar jeritan junsu segera datang dan membawa jaejoong ke rumah sakit.

Yunho hanya menghela nafas berat. Ia tidak habis pikir jaejoong bisa berbuat nekat seperti itu. Apakah jaejoong sedang memiliki masalah yang sangat berat? Tapi kenapa yeoja cantik itu tidak bercerita kepadanya maupun junsu.

Tak lama dokter yang menangani jaejoong keluar dari ruangan dimana jaejoong ditangani.

"keluarga pasien"

"ne.. kami keluarganya dok. Bagaimana keadaannya?" jawab yunho dengan tidak sabar

"apakah anda suaminya?"

"…"

"pasien baik baik saja, untung saja ia tidak terlambat di bawa kerumah sakit sehingga dia belum kehilangan banyak darah. Dan untunglah janin yang dikandungnya dalam sehat dan sangat kuat"

TBC