"Sasori Nii dan Gaara Niichan tidak boleh melihatku menangis… Nanti mereka sedih… Nanti ibu sedih… Nanti ayah…" Sakura terdiam sejenak.
"Nanti ayah marah lagi…"
A Promise A Duty
Chapter 2
Disclaimer : Masashi Kishimoto
This story is mine
Sasori mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Banyak orang berlalu-lalang sibuk dengan keranjang belanjaan mereka masing-masing. Di kanan kirinya berjajar etalase besar memajang berbagai macam makanan yang siap dimakan ataupun yang harus dimasak terlebih dahulu. Ya, di sinilah dia sekarang berada. Sebuah supermarket yang menawarkan diskon besar-besaran seperti yang dikatakan brosur pemberian sahabatnya, Konan.
"Sasori." Panggil Gaara dingin sambil memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang.
"Ya, ada apa Gaara?" Timpal Sasori senyum-senyum. Tak sabar ia mengambil sebuah kotak daging di salah satu etalase yang sejak tadi menarik perhatiannya.
"Kenapa kita di sini?" Tanya Gaara dingin.
"Kau ini bagaimana sih? Tentu saja belanja! Kau ingin kita bersih-bersih di sini?" Jawab Sasori kesal atas pertanyaan adik sulungnya itu.
"Bukannya baru kemarin sore Kau belanja di toko Chiyo-san?!" Sepertinya Gaara tak terima dengan keputusan Sasori untuk berbelanja di supermarket yang menurut Gaara terlalu mewah. Bukannya menjawab, Sasori malah tersenyum meremehkan ke arah Gaara sambil mengibaskan selembar brosur yang ia dapat dari Konan. Gaara tersenyum kecut lalu mulai berbicara kembali.
"Tetap saja butuh uang." Sasori menepuk jidatnya setelah mendengar adiknya itu berbicara. Dia tak habis pikir apa yang menyebabkan adiknya itu begitu pelitnya sampai ia pun tetap tidak diizinkan mengeluarkan uang saat acara diskon. Sakura yang berdiri di samping Gaara hanya tersenyum senang melihat suasana supermarket yang tak pernah dirasakannya. Gadis kecil itu selalu penasaran seperti apa rasanya berbelanja di supermarket, mendorong troli belanja, dan memilih-milih makanan atau barang yang ia suka. Kadang-kadang ia memang menemani Sasori berbelanja, tapi biasanya hanya di pasar tradisional ataupun toko kecil seperti toko nenek Chiyo.
"Niichan, ayo kita segera belanja. Aku ingin melihat seluruh isi supermarket. Apa kita akan pakai keranjang beroda yang didorong itu?" Tanya Sakura sambil menunjuk seorang wanita yang sedang mendorong sebuah troli yang penuh dengan barang belanjaan.
"Keranjang beroda?" Sasori langsung memegang kepalanya dengan kedua tangannya, tak percaya dengan apa yang dia dengarkan dari adik bungsunya. Gaara hanya tersenyum sambil mengelus rambut adik pinknya itu.
"Loh, keranjangnya kan memang ada rodanya." Sambung Sakura dengan polosnya ketika dilihat ekspresi sedih dan kaget di wajah kakak sulungnya.
"Iya Sakura-chan, memang ada rodanya tapi itu namanya troli atau kereta belanja sayang." Timpal Sasori yang kemudian dipeluknya adik bungsunya itu dengan perasaan sedih. Ingin rasanya ia menangis saat tahu bahwa adiknya tidak mengetahui benda apa itu. Gaara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, pusing melihat tingkah kakaknya yang berlebihan itu. Tapi dia juga kasihan pada adik perempuannya yang bahkan tak tahu apa itu troli. Timbul perasaan bersalah pada dirinya. Sepertinya dia harus memikirkan lagi untuk mengizinkan kakaknya belanja di supermarket.
Tiga bersaudara itu pun mulai mengelilingi setiap sudut supermarket mencari bahan masakan yang mendapatkan diskon, terutama diskon yang paling besar. Sakura mendorong trolinya dengan senang, sedangkan Sasori sibuk mencari dan memilih-milih bahan yang akan mereka beli. Dia sedikit kerepotan karena setiap dia akan mengambil barang belanjaan, pasti langsung dihentikan oleh Gaara dengan tatapan membunuh. Artinya Gaara tidak setuju dan ia harus mencari yang lebih murah.
"Wah, apa itu?" Tanpa sepengetahuan kedua kakaknya, Sakura mendorong trolinya menuju sebuah etalase kue. Sedangkan Sasori dan Gaara sibuk berdebat.
"Baiklah Gaara, aku tidak menghitung ini sudah yang keberapa kalinya. Aku akan mengambil yang ini. Lihat, harganya tidak mahal dan diskonnya bagus. Awas kalau Kau protes lagi!" Ujar Sasori ketus sambil menunjukkan sebuah kotak daging pada adiknya. Gaara berpikir sebentar, memperhatikan harga serta penampilan daging itu. Ia lalu menganguk yang sukses membuat Sasori menghela nafas lega.
"Nah, Sakura ayo kita segera… loh, Sakura mana?" Sasori terkejut ketika mengetahui adik perempuannya sudah menghilang. Kedua pemuda itu mengedarkan seluruh pandangannya, sayangnya tubuh mungil itu tak terlihat karena banyaknya pengunjung yang datang untuk berbelanja. Kecemasan timbul dalam diri mereka, berbagai pikiran negatif mulai menyeruak dalam pikiran. Mereka pun segera mencari adik mereka, menerobos setiap kerumunan dengan memanggil-manggil nama Sakura.
"Gaara, bagaimana ini? Kau sih berdebat mulu! Lihat, adik kecil kita lenyap!" Seru Sasori frustrasi.
"Kau yang membuatku berdebat! Memilih barang belanjaan yang tidak wajar!" Balas Gaara dingin. Ia berusaha untuk tidak meninggikan suaranya, namun rasa cemasnya membuat ia mau tak mau jadi terlihat marah dan panik.
"Astaga, Kaasan apa yang harus kulakukan?" Sasori mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya. Gaara yang tidak tega melihat keadaan kakaknya berusaha untuk menenangkannya. Namun bukannya tenang, ia malah terus berbicara sendiri sambil terus menyebut ibu mereka.
"Kita pergi ke pusat sumber informasi saja. Kita minta mereka mengumumkan mengenai hilangnya Sakura." Usul Gaara berusaha menenangkan kakaknya. Sasori berhenti dan memukul telapak tangan dengan kepalan tangannya. Wajahnya langsung berseri sekaligus merasa bodoh karena tidak memikirkan hal itu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba mata hazel Sasori menangkap figur gadis kecil berambut pink yang sedang berdiri di depan etalase kue. Tak salah lagi, itu Sakura. Mereka pun segera menghampiri adik perempuannya.
"Ya ampun Sakura, ternyata Kau di sini! Hampir saja aku mati jantungan gara-gara Kau menghilang tiba-tiba. Bagaimana jika aku beneran mati sekarang? Hidupku di akhirat pasti tak tenang karena bakal disiksa oleh Kaasan!" Sasori memeluk Sakura dengan erat sambil terus berbicara dengan panik, namun tersirat perasaan lega dari wajahnya. Sakura yang terkejut hanya diam melihat tingkah kakaknya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Yang ia tahu, ia hanya meninggalkan kakaknya sebentar untuk melihat-lihat kue lucu yang tak pernah dilihatnya.
"Sakura, apa yang Kau lakukan? Kenapa Kau pergi tanpa bilang-bilang?" Tanya Gaara berusaha untuk tidak terlihat marah.
"Maaf Niichan, kuenya lucu-lucu sih. Itu kue apa ya? Kayaknya enak ya." Jawab Sakura sambil menunjuk deretan kue yang terpajang dalam etalase dengan polosnya. Sasori dan Gaara melihat apa yang ditunjuk oleh adiknya. Deretan kue lucu dengan berbagai tekstur dan hiasan yang benar-benar eye catching. Jiwa seni Sasori bahkan tidak mampu mencerna bagaimana kue bisa dibuat seperti hiasan rumah begitu. Timbul pula pertanyaan dalam dirinya, apakah kuenya bisa dimakan?
"Iya, kuenya memang lucu. Kita pergi ke bagian sayuran ya." Sasori menggandeng tangan Sakura, namun sepertinya Sakura menahannya membuat Sasori terheran dan menatap adik bungsunya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kita gak beli kuenya? Kayaknya enak kalau dimakan bareng-bareng." Pertanyaan Sakura sukses membuat Sasori dan Gaara terhenyak. Mereka saling bertatapan bingung. Gaara lalu melirik harga yang tertera di etalase dan ia tersentak. Ia lempar pandangannya ke Sasori dengan tampang horor. Sasori pun melakukan hal yang sama dan hal itu sukses membuat dirinya tersedak. Tahulah dia apa yang membuat wajah adiknya berubah begitu menyeramkan.
"Umm… lain kali aja ya. Kita beli bahan masakan dulu." Sasori berusaha menjawab pertanyaan Sakura sebaik mungkin. Ia tak ingin bilang "tidak boleh" pada adiknya karena ia tahu itu hanya akan membuat adiknya sedih. Lain kali, hanya itu jawaban tepat yang bisa ia berikan. Sepertinya Sakura mengerti, ia tahu jika kakaknya menjawab demikian maka artinya mereka tidak punya cukup uang untuk membelinya. Sakura menganguk dengan tersenyum, ia sudah bertekad untuk tidak membeli hal yang tidak mampu dibeli kakaknya. Ia mengerti bahwa kue-kue lucu itu sangatlah mahal dan tak mungkin mereka membelinya sekarang. Ia paham betul apa yang harus diprioritaskan dalam keluarga kecil mereka. Sasori dan Sakura meninggalkan tempat itu sambil mendorong troli yang masih kosong itu. Gaara belum beranjak dari tempatnya. Ia masih mengamati kue-kue itu dalam diam. Berkali-kali ia menghela nafas sendu, merasa tak berdaya.
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pramuniaga yang muncul tiba-tiba dan itu sukses membuat Gaara terkejut.
"Eh, tidak ada." Gaara pun segera berlalu mengejar kedua saudaranya yang sepertinya tak sadar bahwa Gaara tertinggal.
OoO
"Ah, gagal sudah rencana yang kubuat semalam suntuk!" Seorang pemuda berambut kuning mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Seorang pemuda lain berambut hitam memandang sahabatnya dengan mata onyxnya kesal.
"Tinggal sedikit lagi, ah tinggal sedikit lagi!" Ia makin frustrasi. Sahabat berambut hitamnya pun akhirnya berbicara, kesal sejak tadi mendengar keluhan sahabat kuningnya. Ingin rasanya ia membekap pemuda tersebut.
"Lebih baik kalau Kau gagal, jadi Kau tak perlu dihajar oleh para wanita di onsen, Naruto!"
"Sasuke, aku hampir saja berhasil mengintip mereka Kau tahu? Kalau saja kakek-kakek itu tidak memergokiku." Timpal Naruto kesal.
"Lebih baik daripada para wanita yang Kau intip memergokimu. Tobatlah Kau, sobat!" Ujar Sasuke kesal dengan tingkah mesum sahabatnya itu.
"Kau sih enak bicara begitu! Iya ya, Kau kan fans wanitanya banyak. Ah, sebal kenapa aku harus jadi temanmu! Loh, bukannya itu Gaara ya?" Naruto langsung mengalihkan pembicaraannya ketika dilihatnya Haruno bersaudara sedang berjalan sambil menenteng tas belanjaan. Gaara yang merasa diperhatikan langsung melihat Naruto dan Sasuke, sahabatnya di sekolah.
"Hai, Gaara! Wah, Kau habis belanja ya? Bukankah ini Sasori-san! Selamat siang!" Seru Naruto senang.
"Ya, seperti yang Kau lihat." Ujar Gaara singkat.
"Oh, kalian Naruto dan Sasuke kan? Sudah lama tidak bertemu. Kalian dari mana?" Tanya Sasori pada kedua sahabat adik sulungnya itu. Sasori ingat, ketika Gaara masih duduk di kelas 1 SMA, pernah ia bertemu dengan kedua sahabat adiknya itu di sekolahnya saat Sasori mengantar surat izin Gaara. Sasori memang tidak terlalu ingat dengan Sasuke karena sifat pendingin dan tertutupnya yang tak jauh berbeda dengan adiknya, tapi Naruto yang blak-blakan dan cerewet tentu mudah diingatnya. Apalagi melihat garis-garis seperti kumis kucing di pipinya yang tak pernah ia lihat sebelumnya pada orang lain.
"Kami dari onsen, Naruto baru saja…" Belum selesai Sasuke berbicara, Naruto langsung membekap mulut pemuda itu sambil cengengesan.
"Ya, kami dari onsen untuk menenangkan diri. Oh, iya siapa gadis kecil ini?" Mata Naruto tertuju pada gadis kecil berambut merah muda yang digandeng Sasori. Sakura yang diperhatikan langsung bersembunyi di balik badan kakak sulungnya. Sepertinya dia malu.
"Itu Sakura, adikku. Dia baru kelas 3 SD." Jawab Gaara lagi-lagi singkat.
"Oh, begitu ya! Halo, perkenalkan namaku Naruto Uzumaki! Aku ini teman sekelas kakak bermata pandamu itu. Kami juga bersahabat baik loh! Yang di sebelahku ini orang paling jelek dan tak tahu diri yang mungkin pernah kamu lihat, namanya Sasuke Uchiha. Dia sekelas dan sahabat kami juga." Mendengar celotehan Naruto, ingin rasanya Sasuke menendangnya jauh-jauh. Seenaknya mengatakan yang tidak-tidak mengenai dirinya. Sakura yang tadinya malu, sepertinya mulai terbuka karena sifat periang dan blak-blakan Naruto. Ia keluar dari persembunyiannya dan menatap Naruto dengan senang.
"Kamu cantik deh, namamu siapa? Beri tahu kakak cakep ini dong." Rayu Naruto sambil berlutut, menyamakan tingginya dengan tinggi Sakura.
"Naruto…" Ucap Gaara dingin.
"Apa?" Jawabnya kesal, baru saja ia mau berkenalan dengan Sakura.
"Jangan sampai adikku pun Kau rayu…" Sambung Gaara dengan nada yang lebih dingin dan mengancam tak lupa dengan tatapan membunuhnya. Naruto menelan ludah dan segera mundur, ia lalu cengengesan dengan polosnya. Melihatnya hanya membuat Sasuke memutar bola matanya, ia tahu ini pasti akan terjadi. Sahabat kuningnya yang mesum dan sahabat merahnya yang dingin dan menyeramkan.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu. Gaara, jangan lupa tugas bagianmu segera Kau selesaikan. Kita akan mengumpulkannya minggu depan." Kata Sasuke. Gaara hanya menganguk dan merekapun berpisah.
"Gaara, apakah Naruto baik-baik saja?" Tanya Sasori saat Naruto dan Sasuke sudah tak terlihat lagi.
"Hn?"
"Aku khawatir kalau-kalau dia pedofil." Sambung Sasori sambil menggenggam tangan Sakura erat. Gaara hanya menjawab dengan mengangkat bahunya. Ia tahu sahabatnya yang cerewet itu memang menyukai wanita dan cenderung mesum di mata wanita, namun ia yakin bahwa Naruto masih normal.
OoO
Malam itu suasana di sekitar rumah keluarga Haruno begitu lenggang. Rumah mereka memang tidak terletak di tempat yang ramai, jadi cukup beruntunglah Sasori karena hanya pada malam hari ia bisa menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya dengan tenang. Keluarga Haruno baru saja selesai makan malam. Seperti biasa Sasori memasak sedangkan Gaara dan Sakura tinggal makan. Namun mereka menyuci piring-piring kotor mereka sendiri sehingga Sasori tak terlalu repot.
"Sasori Niichan, apa aku boleh masuk?" Tanya Sakura sambil mengetuk pintu kamar Sasori.
"Ya, Sakura masuk saja." Jawab Sasori. Sakura membuka pintu kamar Sasori dan terlihatlah olehnya berbagai macam kertas bertebaran di kamar sempit kakaknya itu. Beberapa kertas yang bertebaran itu terdapat sketsa yang sepertinya tidak diselesaikan oleh Sasori. Dilihatnya pula Sasori sedang sibuk menggambar di kertas lain, ia begitu serius terlihat dari wajahnya yang ditekuk . Tidak ingin mengganggu kakaknya, Sakura duduk pelan-pelan di sampingnya dan menunggu sampai Sasori mengizinkannya berbicara. Ada sesuatu yang disembunyikan Sakura di balik badannya. Tapi ia tidak mau menunjukkannya langsung pada Sasori.
"Ada apa Sakura?"
"Ano, sebenarnya…" Sakura menghentikan kata-katanya. Ada sesuatu yang ingin ia beritahukan pada kakaknya. Namun dia ragu, apakah harus bilang atau tidak. Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekali-sekali ia memandang wajah kakaknya lalu menunduk, begitulah dilakukannya berulang-ulang. Sasori mengerutkan dahinya, menunggu sampai Sakura berbicara lagi.
"Itu Niichan… aku ingin…" Kembali kata-kata Sakura terhenti. Sasori tersenyum lalu mengelus rambut pink adiknya. Ia tahu ada sesuatu yang diinginkan oleh adiknya. Setiap kali Sakura ingin meminta sesuatu, ia selalu sulit untuk mengungkapkannya karena Sakura tahu ia tidak ingin merepotkan kakaknya.
"Kalau ada yang Kau inginkan, katakan saja." Mendengar penuturan kakaknya membuat Sakura tersenyum. Ia bisa menghembuskan nafas lega, setidaknya ada harapan kalau kakaknya tidak akan menolak permintaannya ini. Ia lalu memperlihatkan benda yang sedari tadi disembunyikan di balik badannya. Sebuah tas jinjing yang sudah sobek di bagian depannya. Lubang sebesar kepalan tangan anak-anak menghiasi tas yang sudah sedikit kusam itu. Sasori melihatnya lalu menatap Sakura.
"Tas jinjingku sudah sobek, Niichan. Kalau aku taruh buku dan perlengkapan lain di dalamnya nanti bisa jatuh." Ujar Sakura sedih. Sasori menganguk dan mengambil tas itu dari tangan Sakura. Diperhatikannya lubang yang ada di tas tersebut.
"Lubangnya tidak terlalu parah, masih bisa ditambal. Bagaimana Sakura?"
"Iya, tidak apa-apa."
Sasori lalu berdiri dan berjalan menuju lemarinya. Dibukanya lemari itu dan diambilnya sebuah kotak besar yang ia simpan di dalam sana. Ketika dibuka, isinya adalah peralatan jahit. Ada sebuah bungkusan di dalam kotak tersebut. Sasori membuka bungkusan itu dan tampaklah sebuah bunga rajutan besar dari kain flanel. Ia ingat kalau dulu ibunya sangat suka menjahit dan membuat banyak hiasan dari kain flanel. Saat ini hanya bunga itu saja yang tersisa. Ia pun menutup lubang di tas Sakura dengan bunga itu dengan cara menjahitnya. Sakura memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya dengan seksama. Ia begitu kagum pada kakaknya, jarang-jarang ia melihat seorang laki-laki mengerjakan pekerjaan wanita seperti itu. Bahkan sampai sekarang pun Sakura belum bisa menjahit. Ia menjadi malu pada kakaknya sendiri.
"Nah, sudah jadi! Tasmu kelihatan seperti baru, iya kan?" Seru Sasori senang setelah berhasil menutupi lubang tersebut dengan bunga flanel yang cantik. Sakura berseru riang melihat tasnya yang berubah menjadi lebih manis.
"Terima kasih Niichan! Tasku jadi manis sekali! Aku jadi tidak malu ke sekolah lagi." Seru Sakura riang, ia pun memeluk tas tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Syukurlah Kau senang Sakura. Maaf, hanya itu yang bisa Niichan lakukan sekarang. Nanti kalau sudah punya uang, kita beli tas yang baru ya." Ujar Sasori pada adik bungsunya. Sakura menggelengkan kepalanya. Ia menatap Sasori dengan senyum indah yang ia miliki.
"Tidak perlu Niichan. Tas ini sangat bagus. Nanti Niichan ajarin aku menjahit ya." Mendengar pernyataan adiknya membuat Sasori terharu. Adiknya itu tahu kapan ia harus membeli sesuatu dan kapan tidak. Gadis kecil itu selalu bersyukur atas apa yang ia miliki. Sasori mengangukkan kepalanya sambil memberikan jempol pada Sakura tanda setuju. Sakura meninggalkan kamar Sasori sambil melompat-lompat riang. Bayangan gadis itu menghilang, tinggallah sebuah pintu kayu yang tertutup dengan rapat. Pemuda itu kembali mengerjakan tugasnya. Seuntai senyuman menghiasi wajahnya yang tadinya ditekuk . Sepertinya ia mendapatkan inspirasi baru untuk sketsanya.
"Kaasan, Kau lihat? Dia sangat menyukai peninggalan kecilmu."
OoO
"Tuan, permisi. Boleh saya masuk?"
"Ya, silakan. Apa ada yang Kau butuhkan?"
"Tidak Tuan, saya hanya ingin melapor."
"Kalau begitu cepat katakan!"
"Seperti perintah Tuan, saya telah mengintainya."
"Jadi?"
"Mereka masih tinggal di sana Tuan."
"Hmm… kerjamu bagus! Sekarang Kau boleh keluar, tapi ingat kerjamu belum selesai."
"Baik Tuan."
"Jadi anak-anak ingusan itu masih tinggal di tempat menjijikkan itu? Haha dasar bodoh! Ya, ya kita lihat saja nanti. Akan kubuat hidup mereka lebih berwarna. Mungkin saja mereka merindukan ayah mereka."
To be continued
Chapter 2 telah update! Terima kasih buat para readers yang sudah mereview, fav, atau pun memfollow fanfic ini. Saya senang bisa membuat Sasori, Gaara, dan Sakura terlihat sangat akrab di chapter 2 ini. Nantikan chapter 3 ya, tapi gak tahu bakal diupdate kapan :3
