Tittle : Don't Hate Me
Cast : ~Kim JongIn/Kai
~Lu Han
~Oh Sehun
~Park Chanyeol
~/Find Other Cast/?
Pair : KaiLu/HunHan/ChanHan
Author : SeLuKai
Chapter : 2 of ?
Rate : M
Genre : Angst, Hurt
.
..
...
_Prev_Don't _Hate_Me_Chapter#1_
.
..
...
Syurr
"Hahh- hhh~" Luhan terduduk dan mengusap wajahnya yang basah kuyup.
"Sudah selesai mimpinya?" Luhan menatap sosok dihadapannya dan kembali menundukkan wajahnya sambil memeluk lutut.
"Ingat kau itu budakku, dan mulai sekarang bekerjalah layaknya seorang budak yang patuh pada majikannya"
Merasa tidak ditanggapi karena Luhan selalu menunduk saat berhadapan dengannya membuat Kai gusar karena merasa diabaikan.
Grebb!
Kai menarik paksa tangan Luhan dan menyeretnya keluar kamar.
"K-kau mau apa?" Luhan berusaha melepas cengkraman Kai ditangannya, namun namja berkulit tan itu malah semakin mempererat cengkramannya sampai pergelangan tangan Luhan yang pucat itu memerah.
"S-sakit, lepas" Kai melepas tangan Luhan dengan kasar dan menghempaskan namja itu dilantai kamarnya.
Luhan baru sadar ternyata Kai membawanya ke kamarnya, untuk pertama kalinya.
"Pakai ini!" Kai melempar setelan pakaian tepat pada wajah Luhan yang mengenai kepalanya karena dia terus menundukkan kepalanya.
"Ini untuk apa?" Luhan memperhatikan pakaian yang ada ditangannya, terlihat seperti setelan kemeja dan celana panjang yang biasa dipakai orang kantoran.
Kai menjambak rambut Luhan dari belakang yang membuat sang pemilik terus meringis
"Pakai saja kalau tidak mau menderita"
Luhan mengangguk dengan cepat.
"Tunggu apa lagi?" Kai melepas tangannya dari rambut Luhan
"A-aku menggantinya disini?" Luhan masih menunduk dan berseru tidak yakin dengan pertanyaannya
Srekk!
Mata Luhan terbelalak saat Kai merobek paksa baju kaos yang sedang ia kenakan.
"Cepat, kesabaranku terbatas" Kai menatapnya dengan nafas memburu
Entah kenapa ada yang aneh pada dirinya saat melihat leher dan sebagian dada Luhan yang terekspos begitu saja akibat ulahnya tadi.
Luhan dengan terpaksa melepas kaosnya yang masih menggantung dikedua bahunya namun tetap dengan menundukkan wajahnya.
Kai merasa bersyukur akan itu karena Luhan tidak dapat melihat wajah gugupnya.
Saat Luhan benar benar melepas kaosnya membuat tubuhnya setengah naked, tiba-tiba saja Kai menepis bahunya dan berjalan keluar kamar.
"Kutunggu satu menit" Ucapnya lalu menutup pintu dengan kasar meninggalkan Luhan yang kebingungan.
...
..
.
*****_Don't_Hate_Me_Chapter#2*****
.
..
...
Hening-
Itulah yang tengah menyelimuti dua insan yang berada di dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam ini.
Kai merasa muak melihat tigkah namja disebelahnya, yang terus menunduk dan merapatkan dirinya pada pintu mobil seolah Kai adalah Hantu yang menularkan virus berbahaya
Ckiiiittt
brukk!
"Akh~"
Luhan memegang keningnya yang mencium keca depan mobil dan membuat namja berkulit tan disebelahnya memandangnya dengan smirk penuh kemenangan.
Dia sengaja menginjak rem mendadak,
buka-
Sebenarnya mereka memang sudah sampai dan Kai hampir melewati perusahaannya sendiri karena tidak fokus menyetir dan sibuk mencuri pandang untuk melihat gerik gerik lelaki disebelahnya.
"Dengar, mulai hari ini kau bertugas menjadi asisten pembantu pribadiku baik diperusahaan maupun dirumah" Kai mengabaikan kening Luhan yang memerah dan menulikan telinganya dari ringisan kecil namja cantik itu yang masih memegang keningnya.
"Kau harus bekerja dengan baik, jangan mengecawakanku kalau kau ingin bernafas dengan bebas tanpa harus berjuang terlebih dahulu" Luhan masih menunduk, atau lebih tepatnya akan selalu begitu jika ia bersama Kai, tapi ia tetap mendengarkan semua yang Kai katakan dengan detail.
"Turun"
"A-apa?"
"Kubilang turun!"
Kai membuka pintu mobilnya otomatis,
Dia sengaja membeli mobil canggih ini karena mulai hari ini dia yang akan menyetir sendiri, dan itu artinya tidak akan ada supir dan tidak akan ada yang mebukakan pintu mobil untuknya.
"T-tapi, tolong jangan turunkan akau disini" Luhan mengigit bibir bawahnya sendiri,
dia tidak tau dia ada dimana, dan dia tidak mau tersesat jika Kai meninggalkannya disini.
"Aku akan bekerja dengan baik, tapi tolong jangan membuangku disini"
Kai mengerutkan keningnya.
"Memangnya siapa yang mau membuangmu?, Turunlah atau aku benar benar akan membuangmu" Kai keluar dari mobilnya.
"Satu menit" Ucapnya dan berjalan kedalam kantornya.
Luhan memiringkan kepalanya dan mengangkat wajahnya setelah Kai keluar
"Aih, bodohnya" Luhan menepuk dahinya yang masih memerah itu setelah tau kalau ternyata mereka sudah sampai lalu segera keluar dan menyusul Kai dengan sedikit berlari.
.
.
.
Luhan sibuk membungkukkan badannya saat memasuki perusahaan yang sangat besar itu untuk membalas tanda hormat yang diberikan para keryawan disepanjang jalan yang mereka lewati.
Berbeda sekali dengan orang didepannya yang berjalan dengan tampang angkuhnya bahkan untuk sekedar membalas senyum para bawahannya yang sudah sangat menghormatinya dia terlihat tidak sudi.
Luhan berhenti membungkuk saat ada seorang wanita dengan pakaiannya yang menurut Luhan sangat tidak sopan menghampiri mereka dengan sedikit tergesa dan terlihat ragu.
"Pak, Tuan Oh sudah menunggu, maaf- tapi kita memang sudah terlambat tiga puluh menit dari perjanjian"
Kai melirik jam tangannya sekilas dan mengurungkan niatnya untuk memarahi wanita dihadapannya.
Dia terlambat mengadiri meeting penting hanya karena seorang pemuda lelet yang ia yakin sedari tadi mengekorinya dibelakang.
dan ini pertama kalinya ia tidak tepat waktu,
Sebelumnya, seorang Kai tidak pernah membuat kesalahan dan tidak pernah salah. Itulah prinsip hidupnya.
"Kita kesana" Ucap Kai dan segera berlalu diikuti yeoja tadi yang mengekor dibelakangnya sambil mengelus dada seperti baru selamat dari maut.
.
.
Luhan mentap punggung wanita tadi dan juga punggung Kai yang sudah menghilang disalah satu persimpangan ruangan.
Luhan meremas ujung bajunya sendiri dan mematung ditempat.
"Bagaimana denganku?" ucapnya pelan
Luhan tidak tau harus kemana dan melakukan apa, dia baru pertama kesini dan lagi Kai belum mengatakan apapun padanya tentang apa yang akan ia kerjakan.
Luhan terus menunduk saat karyawan lain melewatinya dengan tatapan bingung,
namun tetap tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berpijak karena Luhan memang tidak tau harus kemana.
.
"Luhan hyung~" Luhan mengangkat kepalanya saat tangan besar seseorang menepuk pundaknya.
Tidak menjawab, namun Luhan sempat melengkungkan bibirnya membentuk senyum tipis saat mendapati sosok Park Chanyeol ada dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Chanyeol mengerutkan keningnya dan menatap keskeliling mencari cari kebenaran dengan apa yang sedang ia tanyakan dalam hatinya.
"Aku- Kai yang membawaku kesini" Ucap Luhan pelan
"Ternyata dia memang tidak main-main" Chanyeol bergumam pelan
"Siapa?" Luhan menatap bingung pada Chanyeol
"Ah, maksudku kenapa dia mninggalkanmu disini?" Luhan mengedikkan bahunya
"Dasar, ayo kuantar keruangan Kai" Chanyeol menarik Luhan
"Apa? Aku tidak mau" Luhan malah memundurkan langkahnya membuat chanyeol heran
"Kau mau bekerja pada Kai bukan?" Luhan mengangguk
"Kalau begitu kau harus keruangannya, atau kau mau berdiri terus disini dan menjadi pusat perhatian karyawan lain?" Luhan menatap sebentar kesekelilingnya, dan benar saja ternyata semua orang sedang mencuri curi pandang ke arah mereka.
Jelas saja, Luhan datang dengan orang paling mereka hormati atau mungkin mereka takuti,
Dan tentu saja hal itu menimbulkan banyak pertanyaan bagi orang orang yang ada disana
"Tidak" Luhan menggeleng dan menyambut uluran tangan Chanyeol yang membuat namja jangkung itu tersenyum dan mengelus pelan rambut Luhan.
Dengan itu Chanyeol membawa Luhan keruangan Kai yang bersebelahan dengan ruangannya.
Ia tidak habis pikir, Chanyeol mengira Kai hanya sedang dipengaruhi alkohol karena terlalu banyak minum semalam saat namja tan itu mengutarakan rencananya yang akan membawa Luhan kekantor dan menjadikannya asisten, atau lebih tepatnya Kai menyebutnya 'budak' dan tentu saja tujuannya untuk mempersulit atau lebih tepatnya membuat hari hari Luhan semakin berat dengan berbagai masalah diperusahaan.
Seketika Chanyeol merinding mendengar tawa iblis seorang Kai saat ia mengutarakan rencana busuknya ini pada Chanyeol semalam.
"Kenapa?" Luhan menautkan alisnya melihat Chanyeol mengelus tengkuknya.
Tanpa menjawab, namja tiang listrik itu malah memamerkan senyum bodohnya pada Luhan
Dan inilah yang membuat Luhan merasa percaya pada Chanyeol.
Selain dia ramah dan senyum idiotnya membuat Luhan tidak takut padanya.
Mungkin satu satunya orang yang Luhan anggap sebagai orang baik didunianya sekarang hanya namja jangkung ini, walaupun ia tau kalau Chanyeol itu sangat setia pada Kai.
Tapi Luhan percaya Chanyeol tidak akan menyakitinya seperti Kai.
Karena beberapa kali Chanyeol akan mengantarkan makanan untuknya saat Kai tidak ada atau mengajaknya sekedar menonton bersama atau bermain game, dan tentu saja saat Kai tidak ada dan itu hanya dilakukan di dalam rumah Kai tentunya.
.
.
.
"Ini ruangannya, tunggulah sebentar lagi juga dia akan selesai rapat" Chanyeol berbalik dan hampir keluar dari ruang kerja Kai sebelum tangan mungil menahannya.
"Apa?" Tanya Chanyeol melihat Luhan menggigit bibir bawahnya hendak menyampaikan sesuatu.
"Um, A-ani" Luhan menggeleng
"Terimakasih" Lanjutnya kemudian dengan senyum dibibirnya
"No problem" Lalu Chanyeol berlalu dengan cengiran bodohnya
Sebenarnya Luhan ingin mengatakan ia takut, ia tidak tau harus apa dan tidak tau apa yang akan dilakukan Kai padanya.
Tapi tidak mungkin dia meminta bantuan Chanyeol,
Dia sudah sangat bersyukur namja itu bersikap baik padanya.
"Aku harap hari ini tidak lebih buruk dari sebelumnya"
Luhan mendudukkan dirinya yang terasa lemas mendadak memikirkan hari harinya kedepannya nanti.
"Cantik"
Gumam Luhan saat melihat bingkai foto yang bertengger manis dimeja kerja Kai
Luhan tau wanita dalam bingkai foto itu siapa.
Karena dirumah Kai juga banyak terpampang foto yeoja yang masih muda itu dengan bingkai yang indah dan besar.
Tangan Luhan terulur untuk mengelus bingkai foto itu.
.
"Jauhkan tangan kotormu dari sana" Luhan tersentak dan mundur dua langkah dari meja kerja Kai
"Kenapa kau sembarangan masuk ruanganku huh?" Kai menatap Luhan penuh intimidasi walaupun sang pemilik tidak dapat melihatnya karena menunduk
"Ta-tadi kau meninggalkanku dan Chanyeol membawaku kesini" Ucap Luhan terbata
Kai berpikir sebentar dan ia mengingat tadi dia melupakan kakak tirinya ini dan menggalkannya begitu saja
"Ehem, oh iya kau kan akan jadi budak yang sesungguhnya mulai hari ini" Kai maju mendekati Luhan.
Luhan tentu saja refleks memundurkan langkahnya karena Kai malah mencondongkan badannya ke arah Luhan
"Persiapkan tubuhmu" Bisik Kai atau lebih mirip sebuah desisan.
.
.
.
"Aku sudah merapikan berkas dimeja itu"
Luhan menunjuk meja disebelah Kai yang tadinya berserakan dengan kertas dan berkas berkas kini sudah rapi dan bersih.
Kai melirik sekilas dan mengerutkan keningnya mencari-cari alasan untuk mengerjai namja mungil yang menunduk disampingnya.
Saat dia menemukan berkas dengan map kuning berhimpitan dengan map warna merah, Smirk menyebalkan terbentuk dibibir tebalnya.
"Aku mau mapnya diurutkan sesuai dengan warnanya masing masing"
Tanpa menatap Luhan yang sepertinya mau menyampaikan sesuatu, Kai kembali menyibukkan dirinya dengan laptop dihadapannya.
.
-10 menit kemudian-
"Aku sudah mengurutkannya sesuai warna"
Kai menghentikan sejenak pekerjaannya dan melirik ke meja yang dia suruh dirapikan oleh kakak tirinya ini
Dan benar saja sudah diurutkan sesuai warna tanpa satupun yang tercampur
"Aku mau dimulai dari map yang berwarna merah" Kai kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Luhan hanya bisa menarik nafas panjang dan kembali kemeja tersebut.
.
-10 menit kemudian-
"Aku sudah mengurutkannya dari map yang berwarna merah" Luhan mengusap dahinya yang mulai berkeringat dengan tangannya.
Kai melirik lagi dan benar memang sudah diurutkan dari yang berwarna merah
"Aku tidak mengatakan kalau setelah warna merah kau meletakkan map berwarna hitam"
"Ya?" ucap Luhan memastikan
"Kenapa? Kau tuli? Aku mau setelah warna merah kau meletakkan map warna kuning bukan hitam"
Kai mengucapkannya dengan nada tinggi membuat Luhan memejmkan matanya.
"Dan Lagi, mulai sekarang kau harus menaggilku tuan karena kau itu budakku"
Luhan hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat dan mengangguk kemudian melaksanakan apa yang diperintahkan Kai.
.
-10 menit kemudian-
"Aku mau yang paling ujung itu map warna biru bukan kuning"
"Baiklah tuan"
.
-10 menit kemudian-
"Siapa yang menyuruhmu meletakkan yang warna hitam disana? perbaiki lagi"
"Baiklah tuan"
.
-10 menit kemudian-
"Aku mau diurutkan seperti yang pertama saja agar mudah menandatanganinya"
"Baiklah tuan"
Luhan berjalan lesu ke meja yang mungkin sadah sangat bosan dengannya, karena terus saja membongkar pasang yang ada diatasnya.
Tangannya terasa mau putus
Kalau hanya bebarapa berkas itu tidak masalah, tapi perusahaan Kai bukanlah perusahaan kaki lima melainkan perusahaan terbesar di Korea selatan.
Kau bisa bayangkan berapa ratus tumpukan berkas yang harus disusun Luhan dan harus selesai dalam hitungan 10 menit.
Luhan menatap meja dihadapannya yang baru selesai setengahnya, dan lagi ia lupa urutan yang pertama tadi seperti apa.
Rasanya ingin sekali Luhan menangis, tubuhnya sangat lelah, ingin duduk sebentar saja sekedar meluruskan punggungnya dan mengistirahatkan tangannya yang terasa kaku.
Belum lagi cacing diperutnya yang belum dapat jatah makan karena dirinya yang tidak dikasih makan siang sebelum menyelesaikan tugasnya yang menurutnya tidak akan pernah selesai karena jelas sekali kalau Kai sedang mengerjainya dan sengaja mempersulitnya.
.
Kriet
Luhan mengurungkan niatnya untuk menagis dan menatap ke arah pintu ruang kerja yang terbuka.
"Kita pulang" entah darimana namja berkulit tan itu, Luhan terlalu serius mengerjakan tugasnya sampai tidak sadar kalau Kai keluar ruangan tadi.
Luhan masih berkutat dengan berkas berkas ditangannya
"Lanjutkan saja besok" Kai mengambil kunci mobilnya dan keluar ruangan
"Mau tidur disini?" Luhan tersadar dan segera menyusul Kai keluar ruangan dan mengikutinya keparkiran
"Terimakasih-" ucap Luhan terus menunduk diamping Kai
"Huh? Jangan senang dulu, masih banyak tugas menunggumu dirumah" Kai menancap gasnya setelah mereka sudah memasuki mobilnya membuat Luhan merasa beban dipundaknya semakin bertambah berat saja.
.
.
.
kriuk kriuk
Kai yang sibuk memeriksa berkas hasil rapatnya tadi pagi merasa cukup terganggu dengan bunyi aneh yang sudah kesekian kali ia dengar
Kai mengalihkan pandangannya pada asal suara
"Maaf- tuan"
Luhan menggigit bibirnya dan pura-pura menyibukkan dirinya membenarkan meja kerja Kai sambil membelakangi namja tan itu, karena kebetulan meja kerja Kai memang berseberangan dan posisinya membelakangi tempat tidur Kai
Kai mati matian berperang dengan batinnya sendiri yang mengatakan dia harus menyuruh salah satu pembantunya mengantarkan makanan kekamarnya untuk namja kurus diseberang sana mengingat namja itu belum makan sama sekali seharian ini
Ia melirik sebentar kearah namja itu yang terus menekan perutnya namun tetap merapikan berkas berkas dimeja kerjanya.
'Tidak Kai, ini tujuanmu membuatnya menderita'
Kai berusaha keras memfokuskan dirinya dengan kegiatannya, berkali kali ia mengubah posisi dari duduk menjadi bersandar pada kepala tempat tidurnya sampai berbaring tapi tetap saja namja yang kini mendudukkan dirinya dikursi kerja Kai itu terus mengganggu pikirannya.
Kai membanting gedget ditangannya dengan kasar dan turun dari kasurnya lalu keluar dari kamarnya stelah sebelumnya membanting pintunya dengan keras
Namun hal itu tidak mengalihkan perhatian namja mungil yang terduduk disana dan kini mulai meletakkan tangannya dimeja yang ia jadikan sebagai bantalan untuk kepalanya.
.
"Kau mi- "
Kai mengurungkan niatnya untuk membentak Luhan saat melihat namja itu tertidur dengan posisi duduk dimeja kerjanya
Kai meletakkan apa yang dibawanya dan mendekat ke arah Luhan
Dahi namja mungil itu sedikit berkerut dengan mata yang terpejam, mungkin dia merasa ada hawa setan yang mendekatinya atau mungkin karena rasa lapar diperutnya.
"Bagaimana bisa kau tidur dengan perut kosong?" Kai memperhatikan wajah Luhan dari dekat dan semakin dekat.
Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya
'Apa yang kupikirkan?, sakiti dia Kai, buat dia menderita'
Saat bisikan hatinya yang jahat itu menguasai dirinya, dengan itu Kai menggebrak meja kerjanya dengan keras berharap namja yang sedang tertidur dihadapannya terbangun dan terlonjak kaget.
.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Kai mengerutkan keningnya saat apa yang ia harapakan tidak sesuai dengan yang ia lihat sekarang,
Namja bermata rusa itu hanya membuat pergerakan kecil untuk menyamankan posisi kepalanya diatas meja
"Apa? Dia tetap tertidur dan tidak terganggu"
Kai mengalihkan pandangannya pada apa yang tadi ia bawa
Diambilnya secangkir kopi yang tadinya ingin dia berikan pada Luhan
Syurr
"Haahh aww panas"
Luhan terbangun dan sibuk mengibaskan tangannya didepan wajahnya yang dibasahi kopi yang masih panas
"Jadi harus seperti itu rupanya membangunkan seorang budak"
Kai meletakkan gelas kopi tadi yang masih tersisa setengahnya dimeja kerjanya
"Awh- panas sekali" Luhan mengabaikan perkataan Kai dan sibuk menahan perih dipipinya yang tadinya dengan sengaja ditumpahi kopi panas oleh Kai
Luhan membersihkan kopi diwajahnya menggunakan lengan bajunya sendiri
"Sudah merengeknya?" Kai menepis tangan Luhan yang masih mengusap pipinya sendiri
"Habiskan ini dan kau harus merapikan meja ini sampai rapi dan bersih" Kai menyodorkan gelas kopi tadi yang masih tersisa setengahnya
Luhan menatap gelas itu dengan tatapan sendu, bibirnya memang kering dan ingin minum, namun mata dan tubuhnya juga butuh istirahat.
"Umphh- uhuk uhuk" Luhan terbatuk karena Kai dengan paksa meminumkan sisa kopi itu kemulut Luhan, dia juga sedikit tersedak membuat mata rusanya sedikit berair
"Sudah kubilang kan kesabaranku terbatas" Kai memecahkan gelas yang ia pegang kelantai dengan sengaja
"Bersihkan yang ini juga baru kau boleh tidur" Kai beranjak ketempat tidurnya dan menidurkan dirinya disana
.
"Huft-hhh~"
Luhan menatap Kai yang sudah memjamkan matanya dan mengalihkan pandangannya pada pecahan kaca yang berserakan dilantai
"Kau harus absen dari alam mimpi malam ini Luhan" ucapnya pada dirinya sendiri dan mulai mengumpulkan pecahan gelas itu satu persatu.
.
.
.
..
...
...
..
.
.
.
.
.
.
Next or Delete?
.
.
.
.
Ini ff abal banget sumpah xD
Makasih buat yang udah fav sama polow/? Ff ini
Yang riview juga makasih banyak maaf belum balas
Aku baca semua kok
Buat yang nanya orang tua mereka kenapa? nanti dijelasin di next chapter
Riview lagi ya kalo mau lanjut.. yang SR juga makasih banyak.. yang seen/? Ff ini banyak tapi yg ripiew/? Cuma seupil gpp dah :v
Padahal banyak yg nyaranin ff gua dulu ketauan satu per satu tapi mereka ga komen #pengalaman
Maap malah curhat :v
Sampai ketemu... see yu *tebar kolor kai*
