Destiny
.
.
.
TaeYu
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Author : chochopanda99
Disclaimer : NCT punyanya Tuhan YME, Ortu mereka, SM Ent, dan kita semua xD.
And this fic is original from me
Cast :
Lee Taeyong
Nakamoto Yuta
Ji Hansol
And Other
Rated : T
Genre : Romance, Drama.
Lenght : Multichap
Warning : AU, Shounen-Ai , Yaoi, boyxboy, OOC, Typo(s) , Cerita Pasaran, Alur Kecepetan, etc.
Summary : "Lee Taeyong kabur dari rumahnya agar tidak jadi dijodohkan oleh orang tuanya, namun yang terjadi dia malah tinggal di rumah orang yang seharusnya menjadi jodohnya, Nakamoto Yuta. Apa yang akan terjadi selanjutnya?" Let's Read. TaeYu. Seme!Taeyong Uke!Yuta. DLDR.
.
.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
Yuta keluar dari kamarnya sambil menggendong tas dan juga membawa beberapa buku ditangannya. Ia menghampiri meja makan yang kini sudah ada beberapa makanan yang tersaji disana.
"Kau pintar memasak ya?" Tanya Yuta pada Taeyong yang kini sedang mencuci tangannya.
"Ya. Begitulah." Taeyong terkekeh pelan sebelum duduk yang diikuti juga oleh Yuta.
"Kau tidak kuliah?"
"Tidak. Aku malas."
"Meskipun kau kabur, tak seharusnya kau juga tak masuk kuliah. Orangtuamu tak mungkin menyeretmu di kampus kan?"
"Tapi aku butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Kau itu kabur karena menolak perjodohan atau sakit mental sampai menenangkan diri."
"Bukan begitu. Ada hal lain yang membuatku malas kuliah." Taeyong meletakkan sumpitnya yang kemudian menghela nafas pelan.
"Kenapa? Ada masalah lain selain dengan orangtuamu? Dengan siapa? Kekasihmu?" Yuta mengernyit heran melihat ekspresi Taeyong yang sepertinya malas untuk membahas hal ini.
"Maaf. Seharusnya aku tak banyak bertanya. Kita kan baru kenal, dan oh sial, aku hampir telat. Terima kasih makanannya." Yuta berdiri dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya yang kemudian berjalan cepat meninggalkan Taeyong.
Taeyong yang melihat Yuta pergi terburu-buru pun hanya bisa mendengus pelan sembari berdiri dan merapikan bekas makan mereka. Entah kenapa ia merasa ada hal yang aneh sejak ia bertemu Yuta. Ia merasa Yuta selalu menatapnya intens serta ingin tau segala hal tentangnya. Taeyong sebenarnya tak merasa risih, hanya saja terlalu aneh baginya yang memang tak pernah terbuka kepada orang lain apa lagi orang asing seperti Yuta yang notabenenya baru ia kenal.
.
.
Yuta melangkahkan kakinya menuju halte dekat apartemennya. Ia mengeluarkan ponselnya dari kantong celana saat ia mendengar suara atau nada dering dari ponselnya tersebut.
"Yeobeoseyo~" Yuta menyapa seseorang diseberang disana dan bisa ia dengar, suara perempuan yang menelfonnya itu.
"Yuta-kun, bagaimana?"
"Ahh eomma? Hmm ya, Taeyong tidak mau kuliah hari ini, dan kami tidak bicara banyak karena aku ada kelas pagi ini."
"Dasar anak itu. Baiklah Yuta-kun, sekarang kau berangkat kuliah saja hati-hati ya, dan juga kabari eomma jika Taeyong bicara atau melakukan hal-hal aneh padamu."
Yuta terkekeh pelan sebelum mengucapkan 'Ya' dan menutup sambungan itu. Ia tersenyum samar mengingat beberapa bulan lalu saat dirinya bertemu dengan kedua orangtua Taeyong diapartemennya.
Flashback on
.
.
Yuta merenggangkan tubuhnya sembari mengucek mata untuk melihat jam dinding yang kini menunjukkan pukul 20.25 KST. Ia baru tiba di Seoul beberapa jam lalu ngomong-ngomong dan dia sempat tertidur sebelum akhirnya terbangun karena suara bel yang mengganggunya itu berbunyi.
Yuta membuka pintu apartemennya dan menatap terkejut pada orang yang ada dihadapannya.
"Paman, bibi?" Yuta tidak bisa menyembunyikan nada kagetnya saat melihat dua orang yang menjadi alasannya pindah ke Seoul ada dihadapannya sekarang.
"Aigoo~ Yuta-kun." Nyonya Lee langsung memeluk Yuta dengan erat. Sementara Tuan Lee hanya bisa tertawa kecil melihat perlakuan istrinya pada anak sahabat mereka.
"Ahh bibi, paman. Ayo masuk dulu." Yuta melepas pelukan Nyonya Lee dan mempersilahkan keduanya-Nyonya dan Tuan Lee-untuk masuk ke apartemennya.
"Bibi dan paman duduk dulu saja. Aku akan buatkan minum." Yuta tersenyum sambil berlalu menuju dapur, meninggalkan sepasang suami istri yang kini sedang bertatapan.
"Aku bilang apa? Dia itu anak yang baik. Aku rasa dia cocok dengan Taeyong."
"Aku tau. Kan memang aku juga setuju jika Taeyong dengan dia. Tapi, masalahnya Taeyong mau atau tidak?"
"Kau kan appanya, tinggal kau bujuk atau ancam saja dia."
"Jika dia tetap tak mau dan malah berbuat aneh bagaimana?"
"Itu urusan ku nanti."
Obrolan keduanya berhenti saat sudut mata sang istri melihat sosok Yuta yang kini berjalan menghampiri keduanya dengan membawa sebuah nampan ditangannya.
"Maaf ya paman bibi, hanya ada ini. Aku belum melakukan apapun disini selain tidur soalnya." Yuta menunduk malu sambil menaruh dua gelas air putih di atas meja.
"Tak apa Yuta-kun. Harusnya kami tak mengganggumu istirahat." Ibu Taeyong tersenyum hangat sambil menyuruh Yuta duduk disampingnya lewat tatapan matanya, yang dimengerti oleh Yuta.
"Jadi, bagaimana kabar orangtuamu?"
"Mereka baik. Dan mereka titip salam pada kalian bibi."
"Harusnya kami menjemputmu langsung ke Jepang Yuta-kun, tapi apa daya kesibukan kami berdua, terlebih pamanmu ini sangat menyebalkan."
"Aku mengerti bibi, dan aku juga ingin berterima kasih karena sudah mau mengunjungiku sekarang."
"Harusnya malah kami menjemputmu di bandara tadi Yuta-kun, kami benar-benar minta maaf. Kami yang menyuruhmu kesini, tapi malah kami juga yang menelantarkanmu."
"Tidak paman. Ini bukan masalah, sungguh."
"Baiklah, jadi kau tau kan apa maksud kami menyuruhmu kesini?"
"Ahh itu, kata kaasan aku harus melanjutkan kuliah ku disini."
"Apa ada lagi?"
"Kaasan bilang hanya itu, yang lain katanya paman dan bibi yang akan mengatakannya."
"Sebenarnya, paman dan bibi, juga kedua orangtuamu sudah menjodohkanmu dengan anak kami."
"A-Apa? Bi-bibi?"
"Kau ingat Taeyong kan? Nah kami ingin menjodohkanmu dengan dia."
"Ta-tapi kenapa bi?"
"Kami tau jika kau itu 'istimewa'. Jadi, kami ingin kau menikah dengan Taeyong karena kami ingin berbesan dengan sahabat kami juga karena kami ingin punya menantu yang semanis dirimu Yuta-kun."
Yuta menunduk memikirkan perkataan ibu Taeyong itu. Ia menghela nafas pelan, Lee Taeyong. Sahabat kecilnya dulu, yang selalu bermain bersamanya saat liburan sekolah tiba. Ia masih mengingatnya sampai sekarang, tapi, apa iya Taeyong juga masih mengingat dirinya?
"Kau bisa memikirkannya nanti Yuta. Sekarang, kita makan malam dulu. Makanan yang kami pesan saat dijalan tadi sudah datang, ayo." Ayah Taeyong berdiri yang kemudian disusul Yuta yang berjalan dibelakangnya menuju ibu Taeyong yang sudah berada didapur menyiapkan makanan.
.
.
Flashback off
Yuta menghela nafasnya pelan, ia sadar jika kini Taeyong sahabat kecilnya dulu sudah melupakannya. Meskipun waktu pertama kali mereka bertemu, setelah sekian lamanya tak bertemu, Yuta juga sempat tak mengenalinya juga.
"YUTA."
Seseorang dari seberang jalan berteriak dan melambaikan tangan pada Yuta.
"Hansol hyung." Gumam Yuta sambil membalas lambaian tangan yang ternyata Hansol itu.
"Ku kira kau sudah berangkat." Hansol tersenyum saat sudah berada didekat Yuta.
"Belum hyung, busnya belum datang." Yuta balas tersenyum.
"Begitu. Lalu kenapa kau melamun?"
"Hah? Kapan aku melamun?"
"Saat aku masih diseberang aku sempat memanggilmu beberapa kali tapi kau tak menyahuti, dan juga tadi pandanganmu kosong."
"Ahh, itu."
"Nanti saja jawabnya, ayo kita berangkat. Busnya sudah datang."
Hansol menarik tangan Yuta untuk menaiki bus yang akan membawa mereka ke kampus. Dalam hati, Yuta bersyukur karena busnya datang disaat yang tepat, karena dia tak tau harus menjawab apa pada Hansol.
.
.
Taeyong menggonta-ganti channel televisi yang ia tonton sedari tadi dengan kesal. Kemudian, ia menaruh secara kasar remote tv itu ke sofa disampingnya. Ia mengacak rambutnya kasar saat mengingat percakapannya dengan sang ibu beberapa saat lalu.
Flashback on
.
.
"Taeyongie, kau kapan pulang?" Suara lembut sang ibu menyapa pendengaran Taeyong.
"Saat kalian membatalkan rencana bodoh itu."
"Sampai kapanpun, eomma tak akan membatalkannya sayang."
"Kalau begitu, sampai kapanpun aku juga tak akan pulang."
"Benarkah? Kau siap jadi gelandangan sayang?"
"Eomma."
"Dengar Taeyong, eomma mau yang terbaik untukmu dan pilihan eomma adalah dia bukan kekasihmu itu."
"Tapi aku tak mengenalnya eomma, lagi pula aku sangat mencintai kekasihku."
"Dan eomma tak menyetujui hubungan kalian sampai kapanpun. Dengar itu."
"Eom-"
Pip
Sambungan berakhir yang membuat Taeyong menghela nafas keras dan membanting ponsel pintarnya disofa.
.
.
Flashback off
Taeyong menatap pintu didepan sana dengan jengah, ia merasa terganggu dengan suara bel yang sedari tadi mengganggunya. Dengan langkah malas, ia membuka pintu dan terkejut melihat seorang pemuda didepan pintu itu.
"Yu-" Pemuda didepannya juga menatap kaget pada Taeyong.
"TAEYONG HYUNG."
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf ini lama juga pendek. ini aku ketik semalem soalnya, nyuri-nyuri waktu disaat lagi ribet dengan beratus-ratus lembar pita yg minta dibakar, okay maaf aku jadi curhat. sebenarnya yg Honeymoon pengen di up juga, tpi berhubung baru satu scene yg aku ketik, jadinya ga jadi, hehe sorry.
Thanks buatliaoktaviani. joaseo, yongchan, deerianda, mi210691, Park RinHyun-Uchiha, guess, Unnayus, kiyoo, Echa557, Kim991, Kalsium, alvirjn, dan Yuta Noona buat reviewnya, maaf ga bisa bales satu persatu, soalnya tanganku lagi sakit, ini aja maksain diri buat kalian semua hehe
Thanks juga buat yg udh fav&foll /kiss&hug
Last, review again?
see you next chap *wink
