Infinitely Yours
영 원 한 그대의 사랑
Main Cast : Luhan, Oh Sehun, Park Chanyeol
-and other pairing cast-
Rate : M & T
Remake from INFINITELY YOURS BY ORIZUKA
GS/NO BASH/DLDR
TYPO(s)
Disclaimer : FF ini bukan milik zhafran. Zhafran cuma ngubah nama tokoh sama beberapa yang butuh pengubahan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Orang bilang pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan ikut campur tangan di dalamnya? Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apapun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri dan menjauhkan hati pada akhirnya akan bertemu kembali. Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya...
Kau, aku, dan perjalanan ini.
FLASHBACK...
"Kalo Om? Kenapa ikut tour ini?" tanya Luhan penasaran. Jemari Sehun terhenti di udara selama beberapa detik.
"Liburan." Jawab Sehun singkat lalu kembali menekan-nekan layar.
Luhan mengangguk-angguk pelan, matanya masih terpaku pada iPad. "Bawa kerjaan gitu?"
Sehun menoleh pada Luhan lalu menatapnya serius. "Saya tidak mau diganggu."
Luhan mengerjap beberapa kali lalu mengangguk. Menganggapnya sudah paham, Sehun menghela napas dan kembali sibuk pada pekerjaannya. Belum lama Sehun mengoreksi revisi desain, tau-tau telinga kanannya mendengar suara berisik. Sehun refleks tersentak, menoleh lalu mendapati Luhan yang ternyata sudah memasang sebelah earphone pada telinganya.
"Saya ganti pakeearphonesupaya bisa dengar berdua." Ucap Luhan penuh perhatian sambil menyelipka sebelahearphonepada telingannya sendiri lalu memasukkan headphone ke dalam ransel, "Enak, kan. Keja sambil ditemenin lagu."
Mulut Sehun sudah separuh terbuka tetapi Luhan malah asyik bersenandung. Sekarang, Sehun seperti sedang mendengar sumpah serapah yang diiringi musik rombeng di telinga kanannya. Sehun tak tahan lagi. "Anu. Bagian mana dari 'saya tidak mau diganggu' yang kamu nggak paham?"
"Saya nggak akan ganggu lagi kok Om, bener deh." Luhan tersenyum manis sambil mengacungkan jati telunjuk dan tengahnya membentukV-sign. Sehun menghela napas. Sepertinya, gadis ini hanya berusaha ramah padanya tetapi dengan cara yang salah. Kelewat ramah begini membuatnya malah jadi menyebalkan.
Selama beberapa saat, Sehun mengawasi Luhan hanya sekedar memastikan gadis itu tak lagi mengganggunya. Sekarang, gadis itu tampak tenang membaca katalog. Sepertinya kali ini gadis itu sudah benar-benar paham. Maksud Sehun, hal apa lagi yang bisa dilakukan gadis itu untuk menganggunya?
Sambil menganggukk-angguk lega, Sehun kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Menurut Kai, klien ingincafeini mendapat lebih banyak cahaya...
"Eh iya Om, Om mau kopi?"
Sehun memutar bola matanya, lalu membanting punggung ke sandaran tempat duduk. Sehun segera merasa kalau perjalanan ini akan menjadi perjalanan paling panjang dan mengerikan seumur hidupnya.
DAY 2
Run Devil Run
Biasanya, tujuh jam perjalanan udara tidak pernah membuat mood Sehun jelek, tetapi hari ini rekor itu terpecahkan. Sehun sampai bertanya-tanya dosa berat apa yang pernah ia atau nenek moyangnya lakukan hingga harus mendapatkan pasangan tour seberisik Luhan.
Sekarang penderitaan itu berakhir karena mereka telah tiba di Bandara Internasional Incheon. Setelah turun dari pesawat dan lolos dari karantina (pemeriksaan suhu tubuh) mereka menaiki kereta shuttle yang sangat nyaman menuju bangunan utama bandara. Selepas imigrasi, pengambilan bagasi dan pabean, mereka bergerak menuju lobi kedatangan.
Sehun menatap sebal ke arah Luhan yang berlari-laririang di antara peserta tour yang takjub, lantas menatap sekeliling. Lobi kedatangan Incheon tampak elegan dengan pilar-pilar emas yang menyangga atap tinggi dengan penerangan menarik. Sebenci-bencinya Sehun pada Korea, ia harus mengakui bahwa bandara ini memang luar biasa. Sehun mengamati desain terminal bandara yang mendapat gelar bandara terbaik dunia selama enam tahun berturut-turut itu. Fentress Architect, firma arsitektur terkenal yang berlokasi di Denver, memang mendesain terminal penumpang ini untuk menang.
Sebelum benar-benar datang, Sehun sudah terlebih dahulu mencari informasi soal bandara ini. Bandara ini tidak didesain secara sembarangan. Semua baja kokoh yang menjadi rangkanya atapnya sama sekali tidak memengaruhi arsitekturnya, justru malah membuatnya tampak futuristik. Sekilas, bandara ini mirip dengan bandara Changi di Singapura atau Hongkong International Airport, sama-sama megah tetapi tetap terasa nyaman. Pelayanannya juga sangat memuaskan dan efisien. Transportasi menuju Seoul melalui bus, kereta, ataupun taksi sangat mudah diakses. Sarana publik pun sangat lengkap sehingga tempat ini nyaris seperti mal. Yang membedakan hanya pesawat yang berlalu lalang. Walaupun tampil futuristik, Korea tidak melupakan dirinya. Fentress membuat haluan garis atap bandara menyerupai bentuk kuil tradisional Korea dan di lantai empat terdapat museum kebudayaan yang berisi macam-macam artefak peninggalan kerajaan Korea beribu-ribu tahun silam.
Akhirnya, Sehun bisa membuktikan kecantikan bandara ini dengan mata kepalannya sendiri. Selama ia hidup, ia belum pernah ikut ke Korea bersama ayah dan ibunya. Ia lebih suka di Cina dan ia menetap disana. Selama ini ayahnya yang berkebangsaan Korea dan bermarga Oh itu sering mengajaknya ke Korea untuk berjalan-jalanlah, liburanlah dan masih banyak lagi, namun ia menolaknya. Dan sekarang ia sedang berada di Incheon International Airport untuk berlibur dan untuk melakukan sesuatu yang lain. Sehun sedang memperhatikan taman bunga di tengah lobi saat merasakan sesuatu pada kakinya. Ia menunduk dan menemukan paspor tergeletak di lantai. Ia lantas menatap sekeliling, tetapi para peserta tour tampak sudah jauh di depannya, sibuk berfoto dan mengagumi bandara.
Sehun memungut paspor itu, membukannya, lalu mendengus begitu melihat foto pemiliknya, Jingga dengan poni kependekan dan pipi tembam, entah foto zaman apa. Mendadak senyum di wajah Sehun lenyap saat membaca sesuatu di dalam paspor itu. Seakan tak mempercayai pengelihatannya, Sehun mengerjap-ngerjap, lalu mendekatkan paspor itu pada matanya dan mencoba membaca sekali lagi. Namun, ia tidak salah.
"Om!" Luhan melambai di kejauhan, lalu berlari-lari kecil mendekatinya."Lagi ngapain? Terpesona sama bandara Incheon ya?"
Sehun menatap Luhan penuh selidik, "Kamu... kelahiran '92?"
Luhan balas menatap Sehun dengantatapan berbinar, lalu mengangguk ceria. "Kok ta-"
Sehun menutup paspor Luhan dan menepukannnya pelan pada dahi gadis itu, memutus kata-katannya. "Saya nggak mau dipanggil 'om' sama orang yang cuma lebih muda tiga tahun dari saya." Desis Sehun dingin lalu melangkah melewati Luhan yang menatapnya tak percaya.
"Om cuma lebih tua tiga tahun dari saya?" pekik Luhan membuat langkah Sehun terhenti.
Sehun lantas menoleh bengis, "Jangan. Panggil. Saya. Om."
"Tapi...,Om kayak udah umur tiga puluhan."
Sehun sekarang menatap Luhan sesinis mungkin. Luhan sendiri menekap kedua pipi dengan mata melebar yang menurut Sehun tampak sok imut untuk umurnya yang sudah seperempat abad.
"Sehun xiaosheng, Luhan xiaojie! Ayo, busnya sudah menunggu!" teriak Li Qiang, menyudahi drama saling tatap antara Sehun dan Luhan. Sehun melengos sementara Luhan masih menatapnya dari belakang. Luhan sama sekali tak menyangka pria itu baru berusia dua puluh delapan tahun. Segalanya yang melekat di wajahnya dan karakter serius itu sangat menipu. Luhan lanta berpikir. Sedari kemarin, Sehun mengingatkannya pada seseorang. Wajah dan perawakannya sangat mirip dangan seseorang yang familier membuat Luhan langsung berasumsi usianya juga pasti serupa. Dahi Luhan mulai kusut tanda sedang berpikir.
"LUHAN XIAOJIE!"
Luhan terlonjak lalu segera berlari menyusul rombongan. Ia memutuskan untuk tak peduli soal Sehun. Ia sudah berada di Korea Selatan. Sebentar lagi, ia akan sampai di Seoul dan akhirnya bertemu pangeran berkuda putihnya. Tak ada waktu untuk memikirkan yang lainnya.
.
.
.
INFINITELY YOURS
.
.
.
Jingga menjejakkan bot ke atas salju tipis di luar bandara Incheon, lalu menatap langit pagi yang kelabu. Ia memperhatikan uap air yang berhembus ke luar dari mulutnya. Saat ini Korea masih mengalami musim dingin dan Li Qiang sudah menyuruh semua orang mengenakan mantel dan muffler. Semua orang bergidik kedinginan saat nak ke bus.
"Xiaojie nggak kedinginan?" Li Qiang menatap stocking Luhan. "-2°C lho."
"Nggak kok," jawab Luhan ceria sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Luhan tak kalah pada musim dingin Korea sama seperti gadis Korea pada umumnya. Sehun yang kebetulan lewat hanya melirik sinis. Sambil merapatkan mantel, ia masuk ke bus yang hangat lalu mencari tempat duduk yang paling belakang dan tersembunyi, trauma duduk bersebelahan dengan Luhan. Setelah mendapat tempat duduk, Sehun melempar pandangan ke luar jendela. Langit yang kelabu dan salju yang turun membuat langit-langit yang ia pandang tak terlalu indah. Sehun menghela napas. Harusnya, ia datang musim panas dua tahun yang lalu. Sebelum semuannya menjadi rumit.
"Om!"
Sesuatu merangsek di tempat duduk samping Sehun. Sehun tidak perlu menengok untuk mengetahui siapa pemilik suara cempreng itu. Telingannya sudah cukup mendengar selama tujuh jam. Luhan sibuk menyamakan arlojinya dengan waktu setempat."Om udah nyamain jam belum? Satu jam lebih awal lho bedanya."
Sehun menoleh sengit. "Saya bilang jangan panggil saya 'Om'. Kita Cuma beda tiga tahun."
Luhan menatap Sehun bingung. "Terus saya harus panggil apa?"
'Tidak usah panggil' jawab Sehun dalam hati. "Nama saja."
Luhan mengangguk-angguk."Oh Sehun."
"Nggak usah sepanjang itu."
"Sehun?"
"Terserah."
Sehun kembali menatap keluar jendela, kepalanya berdenyut. Lama-lama ia bisa gila kalau terus-terusan mengobrol dengan gadis itu.
"Tes,tes."
Sehun dan Luhan menoleh bersamaan ke arah Li Qiang yang sekarang sudah berdiri di depan dengan mic ditangannya.
"Selamat pagi semuanya! Annyeong haseyo !*UCAPAN SALAM (SELAMAT PAGI/SIANG/MALAM)"
Luhan menjawab dengan berisik sementara Sehun malah mengorek telinga yang terasa geli walau ia pernah mendengarnya karena ayahnya yang berkebangsaan Korea itu, ia tetap merasa geli dan ia tak bisa berbahasa Korea. Ckckck...memang Oh Sehun yang hanya mencintai ibunya.
"Selamat datang di Republik Korea! Bersama Together Tour, kita akan menikmati indahnya alam dan budaya negara ini!"
Sehun mendesah begitu Luhan bertepuk tangan heboh. Sehun tidak membutuhkan semua ini. Ia hanya ingin cepat sampai di Seoul dan menyelesaikan urusannya. Ia tidak peduli soal alam atau apapun itu. Ini semua salah Kai yang malah memberinya tiket tour, bukannya tiket pesawat pulang-pergi yang seperti ia perintahkan.
"Sekarang, kita baru keluar dari area bandara Incheon dan akan menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam menuju Seoul. Anda bebas untuk menikmati keindahan alam atau beristirahat. Karena sesampainya di Seoul, kita akan langsung mengunjungi istana Gyeobok."
Sehun segera menguap. Tentu saja, ia memilih untuk tidur karena tidak dapat melakukannya selama di pesawat tadi. Namun Sehun tak akan menghibur diri lagi/ ia sadar betul kelinci Energizer di sampingnya ini tak akan membiarkannya tidur begitu saja. Sehun melirik tak kentara ke arah Luhan, tetapi gadis itu tampak sibuk dengan ponselnya. Menganggap ini kesempatan bagus, Sehun segera mengubah posisi duduknya menghadap jendela. Baru ketika Sehun hendak memejamkan mata, ia merasakan bulu kuduknya meremang. Ia tahu akan ada sesuatu yang terjadi, lagi.
"Saya panggil Oppa aja boleh?"
Sehun mengernyit. Oppa? sebelumnya 'Om' sekarang 'Oppa'?
"Kalo di Korea, oppa itu panggilan cewek buat cowok yang lebih tua." Jelas Luhan tanpa diminta berhasil membuat Sehun membalik badan.
"Pokoknya panggil saya Sehun, nggak usah pakai embel-embel segala. Kalo bisa nggak usah panggil sekalian." Sehun mencoba menutup pembicaraan.
Bibir Luhan menggerucut. "Kok kayaknya kamu nggak suka sama Korea sih? Kalo nggak suka kenapa ke Korea? Lagipula kamu juga orang Korea."
Sehun mendesah, tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini. "Tinggal panggil saya Sehun apa susahnya sih?" Sehun pun kembali menghadap jendela.
Selama beberapa saat, Luhan terdiam. Mau tak mau, Sehun jadi berpikir, apa mungkin Luhan tersinggung oleh kata-katanya. Sehun memang bisa jadi sinis jika sudah merasa sangat terganggu. Perlahan, Sehun menoleh. Ia pikir ia akan melihat Luhan kembali merajuk, tetapi gadis itu malah tengah asyik dengan kamera digital-nya, tersenyum-senyum sendiri. Sehun berdecak pelan, menyesali kekhawatiran berlebihannya tadi.
Beberapa menit kemudian, Sehun sudah jatuh terlelap. Luhan sendiri masih sibuk menatap foto-fotonya bersama Chanyeol, dadanya berdebar keras karena terlalu bersemangat. Sebentar lagi, ia akan bertemu pangeran pujaannya. Penantiannya selama setahun akan segera berakhir.
Bus sekarang sudah memasuki wilayah Seoul. Luhan segera menatap ke luar jendela dan bisa melihat kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit berselimut salju tipis. Walaupun sesama kota metropolitan, Seoul memiliki kesan yang berbeda dengan Beijing.
Tanpa sengaja, Luhan melirik Sehun yang masih nyenyak dengan kepala menempel kaca jendela. Sekali lagi, Luhan merasakan penasaran yang teramat sangat. Luhan seperti pernah melihat orang ini sebelumnya di suatu tempat. Luhan lantas memperhatikan wajah tidur Sehun baik-baik. Mata yang tajam, bulu mata lurus, bibir tipis itu benar-benar familier. Luhan mengernyit, berpikir keras.
Iseng, Luhan mengeluarkan Instax lalu memotret Sehun dan menatap hasil polaroidnya yang keluar. Pria itu tetap membuatnya penasaran. Luhan benar-benar tidak punya ide.
Bus terkena lampu merah dan berhenti ditengah keramaian kota Seoul. Luhan mengeluarkan kaca yang sering ia bawa kemanapun dan juga liptint favoritnya. Ia ingin terlihat cantik dimata Chanyeol. Saat mengangkat kaca tersebut dan terpampang wajahnya yang cantik, ia sedang mengecek wajahnya, lalu memakai liptint favoritnya. Ia pun memperhatikan wajahnya kembali. Luhan melotot menatap wajahnya lalu beralih pada foto yang berada dipangkuannya.
"HUAAAA!" pekik Luhan, membuat Sehun segera terbangun. Sambil mengerjap-ngerjap mengantuk, Sehun menatap Luhan yang sudah menatapnya duluan dengan tampang tak percaya.
"Apa sih?" gumam Sehun dengan suara serak.
Alih-alih menjawab, Luhan malah membekap mulutnya dengan mata yang melotot. Luhan tak percaya ini. Sehun pun mengernyit, tak peduli. Ia mau kembali melanjutkan tidur. Ia membalikkan badan, lantas tanpa sengaja melihat ke luar jendela dan mendapati bahwa mereka sekarang sudah berada di tengah kota. Rasa kantuknya mendadak hilang.
Punggung Sehun menegak, matanya mulai berkeliaran. Sehun tahu ia tidak akan dengan mudah orang itu, tetapi tetap saja ia berusaha. Siapa tahu orang itu sedang berjalan-jalan di bawah dinginnya Seoul.
"Eh, Sehun."
Sehun menoleh dan mendapati Luhan masih menatapnya walaupun sudah tak seekstrem yang tadi. Lagi-lagi, Sehun punya firasat buruk tentang ini, tapi entah mengapa ia tetap ingin mendengarnya.
"Tau nggak sih kamu, kalo kita itu mirip. Mungkin kita saudara kembar yang terpisah." Ujar Luhan dengan pede-nya. Terdengar gerai tawa Sehun.
"Aku nggak punya kembaran, aku anak tunggal. Lagipula ku tidak mau mempunyai kembaran seperti-"
Bus tiba-tiba berhenti sebelum Sehun sempat menyelesaikan kata-katanya. Pintu depan bus terbuka, tak lama muncul seorang pria tinggi dengan hoodie tebal.
"CHANYEOL OPPA!" jerit Luhan sambil bangkit mendadak. Untuk kesekian kalinya, Sehun terlonjak dari tempat duduk. Jingga bahkan tak tampak sadar.
"Oh, annyeong!" Chanyeol tersenyum dan melambai, membuat Luhan menjerit histeris dan segera melompat ke depan untuk memeluknya.
"Oppa, jajinaesseo?" Tanya Luhan, bahagia setengah mati melihat pangeran pujaannya muncul dalam keadaan lebih ganteng dari yang sudah-sudah. "Oppa potong rambut, ya?"
"Satu-satu, dong." Chanyeol terkekeh. "Aku baik-baik saja, dan ya aku mengganti potongan rambutku. Apa kabarmu?"
"Ehem."
Luhan dan Chanyeol menoleh bebarengan kea rah Li Qiang yang sudah menatap mereka penuh arti. Begitu pula semua orang yang berada di dalam bus.
"Kangen-kangenannnya nanti dulu ya, Luhan xiaojie. Biarkkan Chanyeol bertugas dulu," kata Li Qiang membuat Luhan melepas Chanyeol dan nyengir bersalah.
"Iya xiansheng, maaf." Luhan beringsut kembali ke tempat duduk, bersikeras melambai kepada Chanyeol. Sehun sudah menatapnya datar.
"Saya nggak percaya umurmu sudah seperempat abad," sindir Sehun, tetapi Luhan tampak terhipnotis oleh pesona Chanyeol dan sama sekali mengacuhkannya.
"Yak, pria tampan disebelah saya adalah Park Chan Yeol, penduduk asli Seoul yang akan menjadi tour guide kita selama disini. Tepuk tangaaan!"
Semua orang bertepuk tagan sesuai perintah Li Qiang, tetapi tak ada yang seheboh Luhan. Tambahkan papan nama dan confetti, orang pasti akan menyangka bus ini sedang mengangkut idola Korea.
"Selamat pagi semua, nama saya Park Chan Yeol." Chanyeol memperkenalkan diri dengan bahasa China yang sangat fasih. "Selamat datang di Seoul, Republik Korea."
Semua orang bertepuk tangan lagi tanpa komando. Jingga sibuk bersuit-suit, kelewat terbawa suasana.
"Saya akan memandu Anda semua, semoga anda bias menikmati waktu di Korea. Sebentar lagi kita akan sampai di Cheong Wa Dae atau Presidential Blue House. Bangunan tersebut adalah istatana kepresidenan dan disebut Blue House karena gentingnya berwarna biru. Seperti yang bias kita lihat…"
Sehun melirik Luhan yang focus menatap Chanyeol dengan mulut separuh terbuka sementara semua orang sebuk mengagumi dan memotret istana kepresidenan yang sedang dijelaskan. Sehun menghela napas, lalu menatap ke luar jendela lagi. Ia tidak peduli pada Blue House atau apalah.
Ia hanya memedulikan satu hal.
TBC
Hai hai hai…..
Maaf baru bisa update, aku udah selesai un sama udah dapet sekolah jadi udah nggak mikir pusing-pusing lagi buat itu. Oh ya, aku lag imager parah buat nulis ff jadi maaf kalo ff yang lain telat update. Aku juga lagi males banget buat mikir. Lagi bener-bener mager parah. Harap maklum. Dan juga ff ini kaya aku singkatin gitu karna males banget buat ngetiknya. Heheheeee….
Oh ya, karena ini habis lebaran. Zhafran mau ngucapin Selamat Idul Fitri buat yang merayakannya, Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf kalo zhafran telat update. Oh ya, THR apa kabar? Dapet ngga?hihiiii… zhafran dapet tapi udah abis, huhuhuuu…*kok malah curhat*
Yaudah deh, Zhafran Cuma mau bilang maaf telat update semuanyyyaaaaaa… aku juga lagi males banget mikir ttg ff jadi harap maklum. Yaudah Byeeeee….
See you in next Chapter.
BIG LOVE, T
