Dia menggigit bibir bawahnya pelan dan mencoba mendongak mengumpulkan segala sesuatu yang ia miliki sebelum semuanya benar-benar putus asa. Dari awal dia tahu dia yang salah. Andai dia tak menerima kembali sosok Takao Kazunari, mungkin dia tak akan melukai manusia yang paling ia cintai tersebut.

Atau jika ia bisa memutuskan pertunangan itu dan tahu bahwa Takao akan kembali padanya, dia takkan pernah bertunangan dengan gadis itu.


This Story

Fandom : Kuroko no Basuke / Kuroko no Basket

Rated : T – indonesia

Genre : Romance , Drama, Hurt/comfort

Jumlah kata : 1502 Kata.

Pairing : Midorima Shintarou x Takao Kazunari, Slight! Midorima x OC

Warning : Yaoi, AU, OC

Disclaimer : Kuroko no Basuke / Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi-sama. Tidak ada keuntungan materil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk kesenangan dan penyaluran hobi pribadi.

Summary : Midorima Shintarou harus memutuskan pilihannya. Mengenai sosok yang telah mengisi hidupnya selama 5 tahun ini, atau sesosok yang telah menghilang dan kembali membuatnya merasakan indahnya dunia. Dia Takao Kazunari.

####


Bulan Desember. Tepat enam bulan sejak kejadian di hari ulangtahunnya tersebut. Tepat enam bulan juga Midorima Shintarou tampak begitu sangat kacau. Bahkan pemuda yang biasanya dapat menyembunyikan emosinya dan bersikap sangat sopan terhadap keluarganya, kini sering keluar tanpa peringatan.

Sampai kini dirinya tak percaya apakah ini benar-benar sosok dirinya, sang mantan three point shooter Teiko, Midorima Shintarou. Terlebih pada hari ini, awal Desember ketika dirinya tengah berjalan sebentar di sekitar rumah sakit tempatnya bekerja dan melihat dua buah siluet makhluk ciptaan Tuhan. Bukan hal yang special memang, jikalau salah satu dari dua manusia itu bukan Takao Kazunari. Sosok kekasihnya yang telah beberapa bulan ini menghilang dari kehidupan Midorima.

– ah! Sepertinya baru kali ini Midorima merasakan musim dingin yang begitu dingin.

Segera, pemuda bersurai hijau itu melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah sakit – mengabaikan keinginannya untuk menghilangkan penat barang sebentar. Namun sepertinya, Dewi Fortuna sedang tidak berada di pihaknya. Tunangannya, kini berada di belakangnya seolah menghadangnya untuk kembali dengan cepat ke rumah sakit – sekedar menghindar dari sosok yang mungkin sampai sekarang masih berstatus kekasih (gelap) nya itu –.

"Kau mau keluar, Shintarou-kun ?" Tanyanya. Midorima tampak sedikit bingung untuk menjawabnya. Serta sepertinya di momen ini dia akan terkena sial karena lucky itemnya tertinggal di meja kerjanya.

"Shin-chan ?"

– right.

Setelah menetapkan hatinya, Midorima berbalik menatap Takao. Bersama seorang wanita yang seumuran mereka.

"Wah ! Aku tak menyangka bertemu denganmu sekarang !" Dengan santai pemuda itu merangkul pundak Midorima seolah pertemuan kali ini benar-benar tidak sesuai perkiraan mereka. Raut wajah Midorima tampak seperti orang menggerutu atas sikap Takao kali ini, namun hatinya tengah berusaha membaca apa yang pemuda yang lebih pendek itu pikirkan.

"Eh ? Apa ini tunanganmu, Shin-chan ?" Takao melepaskan rangkulannya dan menatap tunangan Midorima. Midorima mengangguk dan memperkenalkannya dengan Takao. Begitu pula Takao, dirinya memperkenalkan gadis yang bersamanya tadi sebagai kekasihnya.

Midorima terlihat diam ketika ketiga orang di depannya berbicara banyak hal saat mereka tengah berjalan menuju salah satu café untuk memesan sebuah kopi dan menghangatkan diri. Midorima merutuk dalam hatinya, bagaimana dia tidak bisa membaca raut wajah Takao meskipun mereka telah mengenal satu sama lain selama hampir sepuluh tahun ? Apa ternyata selama ini hanya Takao yang mengerti Midorima namun tidak sebaliknya ?

Dan hari itu Midorima bersyukur karena Takao serta gadis itu tak berlama-lama ingin mengobrol dengan dirinya serta tunangannya.


.

.


09.00 P.M

Midorima menghela nafas berat. Hari ini sepertinya dirinya akan benar-benar sial. Dia harus mengurusi berbagai kertas di depannya yang menyita waktunya – mungkin sampai malam nanti – dan mengharuskannya menginap di rumah sakit itu. 'Mungkin ke minimarket tidak ada salahnya.' Batin Midorima.


.

.


"Konbanwa, Shin-chan."

Midorima menoleh. Dia mendapati Takao disana tengah mengambil sebuah minuman dan beberapa cemilan. Midorima tertawa dalam hatinya, dia tak pernah ingat kapan terakhir dia merasa dipermainkan takdir seperti ini.

"Kenapa kau keluar malam-malam begini ? Bu – bukannya aku perduli, nanodayo. Aku hanya tak mau kau sakit!" Tanya Midorima ketika mereka mulai melangkahkan kaki untuk keluar dari minimarket itu bersama. Midorima dapat mendengar suara yang menggelitik gendang telinganya. Takao terkekeh perlahan.

"Kau sendiri juga keluar malam, Shin-chan. Terlebih apartementmu jauh dari sini loh~" Takao tersenyum usil seperti biasanya. Midorima bahkan sempat heran, apa Takao telah melupakan semua yang terjadi antara mereka beberapa bulan yang lalu ?

"Aku ada lembur dan – "

"Mencari oshiroku, ne ?" Takao berkata enteng. Dia seolah benar-benar menghafal sosok Midorima luar dan dalamnya. Bagaimana pemuda berambut hijau lumut itu menyukai oshiroku, sifatnya yang tsundere, kepercayaan tingkat dewanya pada ramalan oha-asa, dan banyak hal lainnya yang bahkan Midorima kadang tidak menyadarinya. Midorima bergumam asal yang membuat Takao menghadapnya dan menampilkan wajah kebingungannya.

"Ada apa, Shin-chan ?"

"Tidak. Aku hanya berpikir kita mirip dengan Kise dan Aomine." Jawab Midorima. Takao yang dibuat semakin bingung dengan Midorima sempat terdiam, sebelum kembali berlari kecil menyusul sang penembak tiga poin.

"Maksudmu apa ?"

Midorima tak mengindakan pertanyaan Takao dan tetap berjalan menuju sebuah lapangan basket. Matanya menangkap sebuah bola orange yang tergeletk begitu saja dan di permukaannya cukup tertutupi salju yang memang turun sejak beberapa hari kemarin.

Midorima seolah menuntun mereka – dirinya dan Takao – untuk mengambil bola itu dan duduk di sebuah kursi di tepi lapangan.

Takao masih saja tidak mengerti dengan tindakan Midorima pun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan sosok itu. Duduk berdua di tengah malam bersalju.

"Kise menganggap dirinya benar-benar mengerti Aomine. Padahal dirinya belum sepenuhnya mengerti pemuda berambut biru tua itu. Tapi Kise tak mengetahui bahwa sebenarnya yang paling mengerti dirinya dan diantara mereka adalah Aomine." Jelas Midorima.

Takao yang awalnya menatap langit akhirnya menoleh ke arah Midorima dan bertepatan dengan Midorima yang tengah menatapnya. "Begitu pula di antara kita. Aku adalah Kise dan kau adalah Aomine."

"…."

Takao tak membuka suaranya dan membiarkan keheningan benar-benar tampak membunuh mereka malam itu. Hening dan dingin. Kalaupun itu sebuah pertemuan antar teman, maka mereka akan mengisinya dengan kehangatan persahabatan. Kalapupun mereka adalah pasangan kekasih, mereka akan mengisinya dengan berbagi kasih sayang mendekati malam natal. Kalapupun mereka adalah musuh, maka mereka akan mengisinya dengan adanya pertengkaran. Itu yang seharusnya terjadi, namun sampai sekarang mereka tengah bingung.

Apa sebenarnya mereka ?

Midorima berdiri. Mengangkat tangannya dan melemparkan bola itu agar masuk ke dalam ring. Beberapa detik berlalu sampai bola itu masuk namun Takao masih belum menemukan suaranya.

"Aku akan memutuskan pertunangan itu besok, tepat seminggu sebelum kami benar-benar mempersiapkan diri untuk menikah setelah aku menundanya dua bulan. Pulanglah sebelum kau mati kedinginan di sini."

Midorima mengambil belanjanya tadi dan beranjak dari sana. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Midorima berhenti dan berkata, "Selamat atas hubunganmu dengan gadis itu. Semoga berlangsung lama."

Midorima hampir berjalan lagi sebelum dia merasakan sebuah benda di lempar tepat mengenai kepalanya. Sempat Midorima berniat memaki Takao, namun itu tidak benar terjadi setelah dirinya melihat apa yang dilemparkan Takao padanya tadi. Sebuah cincin.

"Apa maksudnya ?"

Midorima masih berjongkok dan mengamati cincin putih itu. Kemudia ketika dirinya mendongakkan wajahnya, dia melihat sosok Takao yang tengah menahan diri dan berusaha tegar. Midorima mengambil cincin itu, menggenggamnya selama dirinya berjalan kembali menuju ke sosok pemuda pemilik Hawk Eyes itu.

"Hadiah ulangtahunmu kemarin." Lirih Takao. Sangat lirih sampai Midorima perlu menajamkan pendengarannya.

Midorima membuka telapak tangannya dan menyodorkannya ke depan Takao. "Pakaikan padaku."

Takao menatap Midorima dengan tatapan tidak percaya. Namun entah kenapa perintah Midorima kali ini terdengar seperti nada absolute dari mantan kapten Kisedai yang berambut merah yang dapat membuat Takao tanpa sadar melepaskan cincin pertunangan Midorima dan menggantinya dengan cincin itu.

"Sekarang berdirilah, Kazunari."

Titah Midorima lagi. Mungkin jika bukan situasi ini yang tengah mereka hadapi, Takao akan menertawakan Midorima habis-habisan karena memanggilnya dengan nama kecil. Tapi situasi kali ini berbeda, mereka terdengar seperti sepasang kekasih yang memanggil nama kecil karena ingin memperbaiki hubungan mereka saat ini.

– hubungan eh ?

Takao tertawa miris dalam hatinya. Dia ingat dia belum benar-benar memutuskan hubungan (gelap) mereka, tapi toh dirinya akhirnya berusaha berakting agar pada ujungnya Midorima akan memutuskan hubungan mereka. Itu perkiraan Takao. Dan perkiraannya sangat jauh dari kenyataan yang harus dia hadapi sekarang ini.

Setelah Takao berdiri, Midorima menciumnya. Hanya bersentuhan bibir namun semuanya terkesan manis, dan dalam.


.

.


Midorima melepaskan pangutan itu dan menatap mata kelabu Takao dengan intens. Mengecup bibir itu singkat sekali lagi sebelum mendekapnya dan menghindarkan Takao dari hawa dingin yang semakin menusuk mereka malam itu.

"Aku akan memakai ini. Aku akan mengatakan kenyataan pada orang tuaku bahwa aku tidak bisa mencintai wanita atau pria manapun. Aku tidak akan melibatkan dirimu atau namamu disana. Tapi kau harus tahu bahwa setelahnya aku akan tetap menunggumu. Ingatlah bahwa aku adalah tempatmu kembali."

Midorima untuk ketiga kalinya mengecup bibir merah muda Takao. Seolah bibir itu adalah candu baginya. Sebuah adiksi yang sangat sulit dihilangkan karena rasanya yang begitu membuatnya ketergantungan.

"Pulanglah. Maaf aku tak bisa mengantarmu pulang. Perkerjaanku benar-benar menumpuk." Midorima menepuk pelan mahkota kelam milik Takao dan tersenyum tipis sebelum membalikkan badannya dan meninggalkan Takao yang masih terpaku disana.


TBC

A/N :: Ini chap kedua yang saya rasa err...mungkin ga nyambung ? entahlah~ tapi semoga saya dapat feel di next chap. chap terakhir x))

terimakasih telah membaca fic ini~