Baik tokoh maupun latar setting semua adalah hasil karya dari JK Rowling kecuali trio kwek kwek. JKR adalah pembuat novel anak 'Harry Potter' yang laris dipasaran dan dibuat film layar lebarnya berjudul "Harry Potter" (semua juga tau)

Harry Potter dan razia rambut (Part2)

"Aaa.. Benar benar terjadi."

Ron tercengang, campuran antara keheranan dan kesal tersampaikan lewat ekspresi mukanya.

"Sudah kubilang kan, ini sudah pernah terjadi sebelumnya." kata Harry.

Rambut Harry sudah tumbuh lagi, poninya sama panjangnya sebelum dipotong oleh Snape di acara razia rambut pada mata pelajaran Sejarah Sihir kemarin. Hanya dalam satu malam, rambutnya kembali seperti semula. Hal ini, hanyalah sebagian kecil dari keajaiban-keajaiban yang ditimbulkan si bocah ajaibm, Harry Potter.

Ron merengut.

"Huh, kau curang. Sekarang cuma aku sendirian yang terlihat konyol diantara kita bertiga. Hermione 'kan tidak kena razia."

"Tentu saja, aku kan perempuan. Dan aku siswa teladan." kata Hermione angkuh. Hermione memang mempertahankan pangkat dan derajatnya sebagai siswa tercerdas dan terpelajar. Itu adalah takhta yang berharga baginya.

"Cih, setidaknya aku memiliki rambut yang non-frizzly." Ron meninggikan nada bicaranya pada kata terakhir.

"Maaf Ron, tapi mengataiku tidak akan membantumu. Cobalah tiru Malfoy—hanya untuk kali ini, rambutnya selalu rapi, dan disibak ke belakang, praktis dan tidak mengganggu. Dia punya gaya yang bagus dan rapi."

"Ya, dengan begitu keningnya yang lebar akan terlihat sangat jelas. Tapi tidak, terima kasih Hermione, aku alergi pada Malfoy dan gaya-gayanya."

"Sebenarnya dia tidak seburuk itu juga sih."

"Kau suka padanya?"

"Apa? Kau pikir aku menyukainya?"

"Kau memujinya dari tadi. Dan kau memperhatikan penampilannya secara detail—dilihat dari penjelasanmu tadi."

"Itu hanya mengamati Ron!"

"Ya ya, itu awal mulanya. Entah perkembangan berikutnya menjadi apa, yah mungkin bunga-bunga akan bermekaran, seperti merasakan- "

"Ron Weasley !"

"Hentikan kalian berdua, kita harus segera keluar, sekarang pelajaran Herbology."

Harry, selalu menjadi penengah diantara dua sahabatnya. Kadang-kadang Harry merasa seperti mengasuh anak kecil. Ia calm, seperti orang dewasa. Kalau di dunia Muggle, mungkin dia cocok jadi ketua POMG. Disamping itu Harry memang orang yang netral.

Di kelas Herbology, mereka bertemu dengan Malfoy lagi. Hermione menyikut Ron.

"Duh! Apa sih?"

"Tuh, yang tadi kita bicarakan. Benar kan kataku ? Dia rapi dan tidak out of style. "

"Ya, tapi sikapnya tidak sesuai dengan penampilannya, Hermione."

"Yah—soal itu aku setuju."

Harry berpikir kenapa dari razia rambut kemarin mereka jadi senang mengamati penampilan orang lain sih ? Apa Hogwarts sebenarnya mau membuka mata pelajaran tata boga dan busana ? Apa Snape pasrah untuk mendapatkan posisi guru penangkal ilmu hitam lalu niat beralih menjadi guru keterampilan ? Apa Voldemort sudah tobat dari penyakit pedofilia-nya terhadap Harry ? Tunggu, yang terakhir itu tidak ada hubungannya...

Malfoy dari jauh, bisa mendengar pembicaraan mereka. Dan kena semprotlah Ron dan Hermione.

"Menurutmu begitu , Weasley?" Draco berkata sambil memberikan ekspresi muka andalannya. Ekspresi angkuh, khas keluarga ditiru oleh orang lain.

"Tak bisakah kau lihat dirimu seperti apa Malfoy?"

"Ya. Aku tampan." Malfoy menjawab singkat.

"Masih lebih tampan Harry dan kau kalah terkenal darinya."

Hidung Harry jadi kembang kempis. Yah mau bagaimana lagi, potensi dirinya jadi artis sudah diperoleh dari lagi mukanya yang tampan sering membuat para gadis menggila. Walaupun sebenarnya Voldemort lah yang berperan sebagai promotor Harry.

Profesor Sprout mulai memberikan pelajaran. Sama seperti saat kelas satu, Mandrake dipelajari lagi hari ini. Neville yang dulu sempat pingsan karena teriakan Mandrake, kini sudah mahir mengendalikan tanaman yang menjerit-jerit itu. (Neville sudah jadi master di Herbology). Selama pelajaran itu, Harry terus-menerus merasakan denyutan di bekas lukanya.

"Argh.."

"Kambuh lagi, Harry?"

"Kambuh? Yah—iya, samar-samar terasa sakit."

"Ada yang tidak beres disini. Radar kejahatanmu akhir-akhir ini aktif terus Harry." Kata Ron.

"Aku akan menemui Madam Pomfrey sebentar. Ini sakit sekali. "

"Tidak biasanya kau langsung cari obat, Harry. Mau kutemani? "

"Tidak usah. Biar aku sendiri saja. Aku akan cepat."

'Radar ? Kambuh ? Tak punyakah mereka julukan yang lebih keren daripada itu ?' pikir Harry kesakitan.

"Professor, saya—saya izin untuk ke hospital wing sebentar." kata Harry.

"Oh, kau baik-baik saja? Ya, cepatlah."

Harry setengah belari ke arah hospital wing. Dia cuma mau istirahat sejenak saja. Tidak minta obat. Pada saat ia membuka pintu , alangkah kagetnya Harry karena Malfoy juga berada disana.

"Potter? Apa yang kau lakukan disini?" Malfoy terkejut.

"Dan apa yang kau lakukan disini?" Harry membalas Malfoy.

"Itu sama sekali... bukan urusan.. mu..?" Malfoy menatap Harry , bukan menatap jijik atau meremehkan seperti biasanya. Tapi lebih tepat seperti meneliti, mencari sesuatu di muka Harry.

"Apa?" Harry menaikkan sebelah alisnya.

Malfoy aneh . Dia jadi cantik. 'Lho?'

"Kau.. tidak seperti Weasley. Kau lolos dari razia rambut itu?"

"Ha. Aku punya rahasiaku sendiri Malfoy." Harry tersenyum kemenangan lalu pergi dari hospital wing, niatan untuk istirahatnya sudah hilang. Lalu ia bergabung kembali dengan teman-temannya, membentuk grup band trio dan membuat video klip...

Er, salah. Itu trio Kwek-Kwek.

-x-x-x-x-x-

Sementara itu, Draco Malfoy sedang berbaring sendiri di taman. Body guard-nya selalu pergi ke ruang makan lebih dulu saat makan siang tiba. Malfoy bersantai sambil menyendiri. Semakin hari wajahnya berubah. Mukanya putih dan bersih, halus dan tidak pernah berjerawat. Selain itu bentuk hidungnya juga bagus. Walaupun ia berwajah cantik, tapi ia tetap bisa dibilang laki-laki yang tampan. Kategori muka yang cocok untuk jadi artis. Tanpa ia sadari, Voldemort telah memperhatikannya dari tadi. Ditemani oleh kaki tangannya yang selalu setia, Peter Pettigrew.

"Kurasa aku akan masuk kedalam tubuh anak itu, Peter."

"Tapi, bagaimana caranya Tuan?"

"Aku akan memindahkan jiwaku ke anak itu untuk sementara. Kulihat anak itu cukup dekat dengan Potter. Aku akan lebih mudah menjangkaunya nanti."

"Ah, ya..kupikir anda ingin berada di posisi Snape saat merazia rambut anak-anak."

"Tidak, itu tidak jadi. Sulit untuk menyamar jadi guru."

"Oh, ya benar.."

"Kau jaga body ku disini dan jangan sampai rusak. Aku tidak bisa berlama-lama berdiam dalam diri anak itu. Hanya untuk beberapa jam saja."

"Eh—ya tuan, tapi anak itu adalah—"

"Diam. Lakukan apa yang kuperintahkan, aku memilihnya karena ia tampan, seperti aku dulu."

Peter menghela nafas. Voldemort, yang sudah tua bangka dan uzur begini masih saja mau disamakan dengan remaja. Walaupun ia adalah penyihir terkejam, tetap saja dia manusia. Barangkali inilah sifat kemanusiaan yang ada di Voldemort. Tua sok Muda. Yang salah dari pemikirannya, dia tidak tahu kalau Draco itu musuh bebuyutan Harry, siapapun tahu mereka itu TIDAK DEKAT.

Draco sedang tertidur di bangku taman itu dan Voldemort sudah siap dengan transfer-jiwa nya.

"Aa..? Apa ini ? Apa yang terjaa—AAAAAAKKKHHHH!" Draco menjerit ia melawan Voldemort yang masuk kedalam dirinya. Tapi Voldemort lebih kuat dan berhasil menguasai Draco sepenuhnya.

"Hmm.. Aku suka tubuh ini. tidak bisa berlama lama."

Sementara itu..

ZREG!

"Kalian dengar jeritan tadi ?" kata Harry kepada Ron dan Hermione.

"Jeritan apa? Aku tidak dengar apapun."

"Aku yakin mendengarnya!" Harry berlari menuju taman tempat Malfoy berada.

"Tunggu kami, Harry!"

"Aduuuh...kalau bareng dia pasti saja ada yang tidak normal." Hermione menggerutu.

Di taman, mereka bertiga bertemu dengan Malfoy. Malfoy yang tidak normal, karena ia sendiri di taman, tidak bersama dua babi panggang yang biasanya menemani dia.

"Ada apa?" kata Malfoy saat Harry tiba disana.

"Kau.. Kau tadi menjerit ?"

"Tidak. Dan tidak ada siapapun disini. Kecuali aku dan kau yang baru datang. Dan dua temanmu yang sedang berlari kesini."

Harry melihat ke belakang. Ron dan Hermione ternyata menyusulnya.

"Tapi aku yakin tadi aku mendengar teriakan.."

"Hei Potter." Malfoy memanggil. Aneh karena ia memanggil dengan cara biasa.

"?"

"Kemarilah, kita makan siang bersama." Kata Malfoy sambil dibalut senyum manis.

"HAH?"

Untuk yang satu ini Harry, Ron, dan Hermione membeku beberapa saat.

Voldemort (memang) telah mengubah semuanya.

Berrrrrrrrsambung...

NB: Maaf ya rada ngaco, apalagi terkahirnya.. Malfoynya kerasukan segala. Hahahha.. maklum lagi seteres hahaha.. zzz..