Ye-ha! Triple Six udah chapet 2! Yang udah review, makasih, yaaa! Wah, masih ada yang nggak rela Naruto mati, ya? Hum, mungkin di chap ini sedikit melepas kerinduan pada Naruto (Jiaah! Nyontek di mana tuh kata-kata?).
Waw, di chap ini kan muncul sedikit bahasa bunga! Waktu lagi nyari 'seuatu-yang-selalu-dicari-Fujoshi', aku nemuin sesuatu yang menarik buatku yaitu bahasa bunga atau floriography.
Di chap ini baru samar-samar, tapi kalo 'seseorang-yang-paling-tau-bunga' jadi korbannya, pasti bahasa bunga dijelasin dengan detail. Nggak tau juga, sih, itu orang mau dijadiin korban apa nggak *dihajar rame-rame karena nggak jelas*
Huuph! Ayo balas review! Sasuke, bantuin, dong! Loe 'kan pinter!
Sasuke: "Hh, author nggak berbakat,"
Author: "Yak, yak! Pertama dari NaruEls! Wahaha! Lama tak jumpa! Yap, kayak gitu ceritanya, satu chap, satu korban. Yagura? Sas, mulai jelasin!"
Sasuke: "Cih! Yagura itu jinchuriki Sanbi. Untuk selengkapnya, ada di bawah ini"
Ichibi=Sabaku no Gaara
Nibi=Yugito Nii
Sanbi=Yagura
Yonbi=Roushi
Gobi=Han
Rokubi=Utakata
Nanabi=Fuu
Hachibi=Kller Bee
Kyuubi=Uzumaki Naruto
Author: "Itu yang kudapat di internet,"
Sasuke: "Katanya ada typo(s),"
Author: "Haa? Masa'? Hm, kayaknya typo(s) kembali bertebaran di chap ini,"
Sasuke: "Jangan ngulang kesalahan, bego!" *nginjek author*
Author: "Saskay tega~,"
Sasuke: "Berikutnya, . Ng, iya, aku sedikit Yaoi di sini,"
Author: "Lalu, Aozora17. Yay, salam kenal! Yup, Triple Six/666. Iya, Naruto kasian, ya,"
Sasuke: "Kalo kasian, kenapa dapet angka kutukan!" *ngasah golok buat bunuh Author*
Author: "Berisik, ah! Lanjut! Namikaze RyuuKitsune¸waa, Ri review! Masa', sih, fict abal ini bikin penasaran? Ng, Naruto muncul di sini dalam wujud lain,"
Sasuke: "Oh, ada pedukungku, Safira Love SasuNaru! Heh, Author terkutuk, hidupin aja lagi Naruto! Kalo nggak, gue nggak akan bantuin elo buat bales review lagi!"
Author: "Iya, iya. Tapi aku nggak bisa ngidupin orang, liat aja sendiri nanti!"
Sasuke: "Cih, yowislah! Berikutnya, Akayuki Kaguya-chan,"
Author: "Waa, tenang aja, nggak telat, kok! Iya, ini multichap. Hoo, SasuNaru-nya dikit, ya? Silakan nunggu fict-ku yang "Love Game"! Ada lemonnya, kok! Hohohoho!" *ketawa mesum*
Sasuke: "Dasar mesum! Lebih mesum dari Itachi sama gue!"
Author: "Ceo! Aku akan publish rated M secepatnya!"
Sasuke: "Jangan promosi dadakan! Nih, terakhir, Meyra Uzumaki,"
Author: "Nggak telat, kok! Nggak telat! Wah, kompak, ya? Hehe, kalo teliti, pasti tau siapa korban berikutnya,"
Sasuke: "Udah selesai! Gue mau pulang!"
Author: "Oke! Besok-besok, bantuin gue lagi, ya?"
Sasuke: "Nggak!"
Nahahaha! Nih, saia bagiin kantong muntah!
Disclaimer: Nggak usah ditanya, Naruto punya… *ngeliat kertas* Masashi Kishimoto
Genre: Horror/Mystery
Rating: T apa bukan, siiih? Bingung…
Victim 2. Deidara
Don't Like, Don't Read!
Enjoy! ^^
Gedung-entah-ada di-mana…
"Yagura! Kau ke luar sembarangan lagi! Kau dilarang ke luar oleh ketua, 'kan!" bentak seorang perempuan berambut panjang diikat ke belakang. Pemuda yang dipanggil Yagura hanya diam.
"Jangan berisik! Kalian berdua akan dihukum ketua kalau ribut," ujar pemuda yang memakai kimono dan sedang meniup gelembung (kayak anak kecil aja, main begituan). Rambut hitamnya menutupi mata kirinya.
"Hei, Utakata! Gelembung-mu itu mengganggu, tau!" kata seorang kakek-kakek berambut dan berjenggot merah.
"Berisik! Dasar kakek-kakek!" balas pemuda yang tadi dipanggil Utakata.
"Hei, kau mengejekku!" bentak kakek-kakek tadi.
"Memangnya kau merasa begitu? Kalau tidak, kenapa marah?" tanya Utakata dengan ringan.
"Berhenti bertengkar! Kalian membuatku muak!" kata seorang pemuda berambut coklat pucat dengan setengah membentak. Semua yang merasa ribut, langsung terdiam dan kembali melakukan aktivitas sendiri-sendiri.
"Ng, Shukaku! Kau lihat ketua?" tanya Yagura. Pemuda berambut coklat pucat tadi menoleh ke arah Yagura. "Entahlah, tadi ke luar,"
"Bukankah kalian berdua selalu bersama? Seharusnya kau tau di mana ketua, dasar bodoh!" ujar perempuan berambut panjang yang diikat belakang dengan nada mengejek.
"Baiklah, aku akan ke luar mencari ketua. Yugito, awasi semuanya, terutama Killer Bee yang berisik. Jangan sampai ada yang ke luar tanpa perintah!" perintah pemuda berambut coklat pucat tadi sambil menunjuk perempuan yang tadi berniat mengejeknya.
"Baiklah, everything is ok!" kata perempuan tadi yang dipanggil Yugito sambil mengacungkan jempolnya.
Kamar asrama no. 66…
"Jadi, kau mau kemari untuk mengambil barang-barang Naruto?" tanya Sasuke pada seseorang di seberang telepon.
"Ya, aku akan ke sana besok, un. Kau ada waktu, un?" tanya orang yang menelepon Sasuke.
"Ng, jam 6 sampa jam 7 malam aku ada di kamar asrama, jam 7 nanti aku ada perlu dengan Itachi," jawab Sasuke.
"Kalau begitu, aku akan datang besok jam 6, un. Pastikan kau ada di asrama, aku akan mengambil barang-barang Naruto, lalu memberitahu Otou-san, un," jelas orang di seberang sana. Sasuke mengangguk. "Baiklah," Setelah mengatakan itu, Sasuke menutup telepon. Yang tadi meneleponnya adalah Deidara, kakak Naruto. Deidara kelas 2 SMA, sama seperti Itachi. Bedanya, Deidara bersekolah di Iwa Gakuen.
Sasuke menatap ke arah foto yang terletak di atas meja belajar, foto dirinya dan Naruto, yang beberapa hari yang lalu menhilang. Sasuke menghela nafas panjang. Perasaan tak percaya masih tersisa di hatinya. Perasaan penasaran tentang 2 pemuda yang ditemuinya di malam saat Naruto menghilang. Kalau tidak salah, nama salah satu dari mereka itu… Yagura?
"Argh, sialan!" Sasuke menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya masih terasa pusing. Bayangan pemuda berambut oranye kemerahan dan pemuda bernama Yagura yang terbayang-bayang di kepalanya membuatnya penasaran.
'Siapa mereka?' batin Sasuke. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Sasuke tersentak kaget saat mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang. Sasuke membuka pintu kamarnya dan menatap sang pengetuk pintu.
"Ini belum jam 7 malam, Itachi," kata Sasuke saat melihat pemuda di depannya.
"Ha? Siapa yang kemari buat ngurusin urusan itu? Aku cuma mau tanya, Deidara tadi meneleponmu dan berencana datang ke sini untuk mengambil barang-barang Naruto, 'kan?" tanya Itachi berjalan masuk ke dalam kamar Sasuke dan duduk di tepi ranjang.
'Belum disuruh masuk, udah masuk aja,' Sasuke sweatdrop. Sasuke menghampiri Itachi. "Lalu, urusanmu apa?"
"Batal acara nanti malam," jawab Itachi. Sasuke mangap. "Hah? Batal? Kau bilang, hari ini kau tidak ada tugas sekolah dan mengajakku jalan-jalan. Sekarang dibatalkan?" tanya Sasuke.
"Hehe, maaf, ya, Sasuke! Aku mau ketemu Deidara dulu!" Itachi mengacak rambut Sasuke.
"Itachi, kau masih normal, 'kan?" tanya Sasuke.
"Kau sendiri?" Itachi balik bertanya.
"Khe… berisik! Aku masih normal, tau!" Sasuke merapikan rambutnya. Itachi berkata lagi. "Naruto… hilang, ya? Kau sudah memberitahu orang umum?"
Jantung Sasuke berdetak satu kali. Itachi menatap Sasuke yang terlihat sendu. Itachi menghela nafas. "Sudahlah, relakan Naruto pergi!"
"Aku tidak akan pernah tenang! Naruto… di neraka!" Sasuke membentak Itachi.
"Tenanglah, masih ada waktu 39 hari. Roh Naruto masih ada di dunia ini. Roh orang yang meninggal akan menuju dunia sana setelah berada di dunia ini selama 40 hari dengan wujud roh," jelas Itachi panjang-lebar.
"Terserah kau saja. Aku mau mandi! Tolong kunci pintu kamar!" kata Sasuke sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
Atap sebuah gedung di seberang asrama Konoha Gakuen…
"Di sini rupanya,"
Pemuda berambut oranye kemerahan yang sedang memandang jendela kamar Sasuke menoleh ke belakang. "Sudah tau siapa berikutnya?" tanya pemuda berambut coklat pucat yang tadi bicara.
"…ya," jawab pemuda yang ditanya. "Siapa yang mengawasi?" tanya pemuda berambut oranye kemerahan tersebut.
"Kusuruh Yugito yang mengawasi mereka semua, walau aku kurang yakin untuk menyuruhnya mnngawasi," jawab pemuda berambut coklat pucat tadi sambil berjalan mendekati pemuda di depannya.
"Lain kali, suruh saja Han untuk mengawasi," ujar si pemuda berambut oranye kemerahan tersebut tanpa menatap lawan bicaranya.
"Han pergi entah kemana. Sebelumnya, dia ke luar bersama Yagura kemarin malam, tapi sekarang dia pergi lagi," jelas pumada berambut coklat pucat tadi panjang lebar.
"Cari dia sekarang! Aku tidak pernah memerintahkan kalian berkeliaran di dunia yang membosankan ini," perintah pemuda berambut oranye kemerahan dengan setengah membentak. Matanya yang mrip dengan mata rubah memandang tajam.
"Baiklah, aku akan mencari Han. Aku akan menemukannya dengan cepat," pamit si pemuda berambut coklat pucat.
"…kupercayakan padamu, Shukaku,"
"Terima kasih, Kyuubi-sama,"
Kamar asrama no. 66…
"Hei, Sasuke! Kau sudah memberitau polisi tentang hilangnya Naruto?" tanya Itachi saat Sasuke ke luar dari kamar mandi. Sasuke menggeleng. "Belum. Lebih baik tidak diceritakan siapa-siapa saja,"
"Kenapa? Mungkin saja Naruto… dibunuh seseorang, lalu tubuhnya dibuang sementara darahnya dibiarkan disini," kata Itachi. Sasuke terdiam. Dia belum memberitau Itachi soal angka 666 yang menjadi penyebab hilangnya Naruto. Sasuke tidak mau mempercayainya, maka ia berpikir dengan logikanya, bukan dengan mitos-mitos dan legenda dulu.
"Itu artinya, TKP (Tempat Kejadian Perkara)-nya di sini?" tanya Sasuke setelah duduk di samping Itachi.
"Ng, iya… mungkin," jawab Itachi.
"Kalau begitu, pembunuhan terjadi saat aku masuk ke dalam kamar mandi. Pelaku masuk, lalu membunuh Naruto dan menyeret Naruto ke luar kamar. Pertanyaannya, berapa waktu yang diperlukan si pelaku untuk menyelinap, lalu membunuh Naruto? Apa si pelaku punya waktu untuk mematikan jam? Mana bukti kalau pelaku itu menyeret Naruto ke luar?" Sasuke bicara tegas. Itachi berpkir. "Ng, aku nggak tau,"
Sasuke menghela nafas. "Waktu yang diperlukan pelaku tidak akan cukup. Aku sudah mengunci pintu kamar, kalau dibuka paksa atau didobrak, itu butuh waktu. Kalau didobrak, Naruto pasti langsung membuka pintu. Kunci kamar ini dipegang olehku, sementara kunci duplikat dipegang Naruto. Naruto tidak pernah memberitau seorangpun tentang kunci duplkat. Kalau diberitau, paling-paling Naruto memberitau kucing," jelas Sasuke. Itachi mengangguk-angguk paham.
"Kalau misalnya pelaku berhasil membunuh Naruto, lalu bermaksud menyeret Naruto ke luar, pasti ada bekas menyeret seseorang, tapi darah di lantai tidak ada bekas menyeret," jelas Sasuke lagi.
"Tunggu dulu! Mungkin saja pelaku membuang Naruto lewat jendela!" kata Itachi seraya menunjuk jendela kamar.
"Tidak mungkin dibuang lewat jendela. Dibawah banyak orang, pasti akan heboh kalau tiba-tiba ada mayat yang jatuh dari atas. Kalau benar dibuang, di jendela pasti ada bekas darah yang menetes dari tubuh Naruto," jelas Sasuke dan embuat Itachi sedikit puyeng kepalanya.
"Kalau benar menyeret Naruto tanpa meninggalkan tanda-tanda, untuk apa dia mematikan jam? Itu hanya membuat pelaku tertangkap olehku karena dia membuang waktunya untuk kabur," Sasuke terus menjelaskan dan membuat Itachi mengerutkan dahinya untuk berpikir keras.
"Dan lagi… pemuda itu," gumam Sasuke pelan.
"Ada apa?" tanya Itachi saat merasa Sasuke mengatakan sesuatu.
"Ah, bukan apa-apa," jawab Sasuke setelah sadar dari lamunannya.
"Sasuke," panggil Itachi.
"Hn?" Sasuke menatap Itachi yang terlihat bingung.
"Kok, rasanya tadi fict ini jadi kayak Detective Conan, ya?" kata Itachi sambil mengelus dagunya.
"Hah, masa'? Eh, iya juga, ya," Sasuke menepuk jidatnya.
"Eh, aku kembali ke kamarku, ya!" Itachi bangkit dari duduknya. Itachi juga tinggal di asrama, kamar 108 di lantai 3. Sasuke mengangguk. "Ya, makasih atas pembatalannya,"
"Jangan sedih begitu, Sasuke! Lain waktu, aku akan mengajakmu jalan-jalan," Itachi mengacak-acak rambut Sasuke lagi sampai berantakan.
"Gheh, harus dirapikan lagi, deh!" Sasuke merapikan rambutnya. Itachi nyengir, lalu jalan meninggalkan Sasuke.
"Dasar Baka Aniki!" gumam Sasuke, lalu menutup pintu kamarnya.
Gedung-entah-ada-di-mana…
"Han, kemana saja kau?" tanya Yugito.
"Hanya berputar-putar di dunia aneh ini," jawab pria yang dipanggil Han.
"Heh, Shukaku mencarimu, tau! Kau jangan ke luar sembarangan tanpa perintah dari ketua!" Yagura melempar sesuatu ke arah Han.
"Kau sendiri? Memangnya kau tidak begitu? Dasar pendek!" Han melempar sandal ke arah Yagura. Yagura menghindar. "Aku nggak pendek! Kamu yang terlalu tinggi, dasar tiang lampu!"
"Kau akan dihukum ketua karena ke luar sembarangan!" bentak Han.
"Kau juga akan dihukum, tiang lampu jalanan!" Yagura balas membentak.
"Aku bukan tiang lampu, dasar cebol!" (Han)
"Aku nggak cebol, tiang listrik!" (Yagura)
"BERISIK!"
Han dan Yagura berhenti bertengkar, lalu menoleh ke arah seorang perempuan bernama Fuu yang tadi sempat memukul dinding sampai hancur. Fuu men-death glare kedua orang yang tadi sempat bertengkar. "Kalian… mau kubunuh, lalu kumakan?"
Han dan Yagura menelan ludah takut. Jangan sampai si Fuu mengamuk. Terakhir mengamuk, Yagura patah tulang, Han pendarahan hebat dan Utakata hampir mati tenggelam.
"Pergi sana! Jangan ada di dekatku! Tapi, jangan ke luar sembarangan! Nanti aku yang kena marah ketua, tau!" bentak Fuu. Han dan Yagura langsung lari menjauh, takut dihajar sama Fuu.
"Hei, Killer Bee! Roushi mana?" tanya Yagura pada seorang laki-laki gede banget yang daritadi nyanyi-nyanyi nggak jelas (nyanyi rap).
"Hey, I tidak tau di mana si kakek-kakek itu! Carlah sendiri, yo!" jawab mahkluk gede dengan sedikit nada nge-rap di jawabannya.
"Berhentilah nge-rap nggak jelas begitu, Killer Bee! Telingaku sakit!" ucap Han seraya menutup telinganya dengan jari telunjuk.
"Kalian berdua kalau bertengkar juga berisik. " balas Killer Bee.
"Si kakek-kakek itu ke luar, ya? Sehari tanpa ada yang ke luar pasti nggak mungkin," Yagura menghela nafas.
"Cari saja, deh! Nanti ketua marah-marah. Cebol, ayo berangkat mencari si kakek-kakek itu!" Han bersiap-sap pergi.
"Aye, aye, tiang listrik!" (Yagura)
"Hei, aku tidak terima dipanggl begitu!" (Han)
Kamar asrama no. 66…
Sasuke masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu. Sasuke menghampiri meja belajar dan meraih foto dirinya dan Naruto. Sasuke tersenyum. "Naruto, kau baik-baik saja, 'kan?"
Hembusan angin masuk melalui jendela yang terbuka. Sasuke meletakkan kembali foto tadi di meja belajar dan berjalan menuju jendela. Langit sore yang berwarna oranye kemerahan mengingatkan Sasuke tentang pemuda bermata rubah yang dilihatnya di malam saat Naruto menghilang.
"Padahal aku… masih ingin bertengkar denganmu, Naruto…!" gumam Sasuke lirih. Sasuke tersentak melihat siluet seseorang yang berdiri di atap gedung di seberang asrama. Tidak mungkin ada orang yang berdiiri di situ! Lagipula, siluet itu…!
"Tunggu, kau!" Sasuke berteriak sekencang yang ia bisa. Sosok tadi menoleh sekilas. Saat Sasuke berkedip sekali, sosok itu sudah tidak ada. Sasuke menelan ludah. Bagaimana mungkin…!
Sasuke tersadar dari lamunannya saat mendengar handphone-nya bordering. Sasuke mendengus, lalu menjawab panggilan.
"Sasuke, aku minta maaf, un!"
Sasuke menjauhkan handphone-nya dari telinganya karena sang penelepon (Deidara) berteriak tiba-tiba dan membuat telinganya berdengung. Setelah tenang, Sasuke mendekatkan handphone-nya ke telinga, lalu bicara. "A-ada apa?"
"Ah, itu, besok aku tidak jadi datang ke asrama-mu!"
"Hah, kenapa?" tanya Sasuke heran.
"Aku diajak pergi sama Itachi, un,"
Sasuke sweatdrop. 'Ternyata benar dugaanku, mereka berdua yaoi-an,' batin Sasuke. "Diajak kemana?" tanya Sasuke.
"Ng, aku nggak tau, un,"
Sasuke menghela nafas. "Baiklah,"
"Eh, tunggu dulu, Sasuke, un! Tadi Itachi ke tempatku (hotel) dan ada barangnya yang tertingga, unl!"
"Hm, barang apa?" tanya Sasuke nggak niat. Sasuke tau banget Itachi yang suka meninggalkan barang di mana-mana. Kadang-kadang Sasuke kesal karena dia-lah yang harus mengambil barang yang tertinggal itu, merepotkan.
"Handphone-nya tertinggal, un,"
Sasuke menepuk jidatnya. Pantas saja dia menelepon Itachi terus, tapi nggak diangkat-angkat. Ternyata tertinggal. "Baiklah, aku akan ke sana. Hotel sebelah mana?" tanya Sasuke dengan malas.
"Hotel di sebelah pemandian air panas, un. Lantai 6, kamarnya nomor 156. Kau paham, 'kan, un?"
"Hm, baiklah. Aku ke sana sekarang," Sasuke menutup pembicaraan. Diraihnya jaket yang tergeletak di atas ranjang dan berjalan ke luar kamar. Setelah yakin kalau pintu kamarnya benar-benar tekunci, Sasuke turun ke lantai 1.
Gedung-entah-ada-di-mana…
"Dimana Yagura, Han dan Roushi?" tanya seorang pemuda bermata rubah pada seluruh makhluk hidup di situ.
"Yagura dan Han ke luar mencari Roushi. Ketua, Shukaku menyusulmu, 'kan?" Fuu melirik pemuda tadi.
"Ya," jawab pemuda tadi dengan singkat. Ia lalu berjalan meninggalkan 3 makhluk yang sedang berbisik-bisik-ria.
"Ketua, tuh, pendiam, ya? Aku ingin dengar ketua bicara panjang," kata Fuu.
"Memang sudah dasarnya dia pendiam. Mau gimana lagi?" balas Yugito.
"Yo, kalau gitu, dengarkan I saja!" Killer Bee nge-rap dan membuat Yugito dan Fuu sweatdrop melihat kelakuan si kucing garong *plak!* Eh, maaf! Maksudnya, kelakuan si raksasa buruk rupa ini.
"Aku paling nggak mau mendengarkanmu, dasar jelek!" ujar Fuu ketus.
"Pendapatmu sama denganku," ucap Yugito.
"Lagipula, ketua lebih keren daripada kamu, Killer Bee!" kata Fuu lagi.
"Sama," Yugito mengangkat tangannya.
"You-you semua benar-benar menyebalkan! Ukh, I hate you-you semua!" Killer Bee nangis-nangis lebay. Fuu dan Yugito hanya sweatdrop.
"Hei, kalian!"
Fuu, Yugito dan Killer Bee menoleh ke arah pemuda berabut coklat pucat. Fuu, Yugito dan Killer Bee menunjuk diri sendiri, tanda bertanya 'kami?'. Pemuda tadi mengangguk. "Ya, kalian,"
"Ada apa, Shukaku?" tanya Fuu.
"Ketua sudah ke sini?" pemuda berambut coklat yang dipanggil Shukaku balik bertanya.
"Ya, barusan. Ada di dalam," jawab Yugito seraya menunjuk sebuah ruangan yang tertutup pintu. Shukaku menoleh ke sana-ke mari. "Mana Yagura, Han dan Roushi?" tanyanya.
"Ke luar," jawab Fuu singkat.
"Apa tidak ada yang menanyakan aku seharian ini?"
Shukaku melirik dan Fuu, Yugito dan Killer Bee menoleh ke sudut ruangan. Terlihat Utakata mengeluarkan aura-aura aneh. "Kalian… tak peduli padaku, ya?" geramnya seraya men-death glare Fuu, Yugito dan Killer Bee.
"Kau ini manusia tanpa bayangan, Utakata. Ada atau pun nggaak ada, kita nggak akan menyadari kamu," ujar Yugto disertai anggukan dari Fuu dan Killer Bee.
"Lebih baik aku pergi saja dari sini," Utakata bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Heh, bodoh! Kau akan dimarahi ketua kalau kau ke luar sembarangan seperti Yagura, Han dan Roushi," peringat Fuu.
"Tak apa, biarkan dia pergi," ucap Shukaku.
"Eh?" Yugito menoleh ke arah Shukaku. "Akan ku sampaikan pada Kyuubi nanti, pergilah," ucap Shukaku lagi, lalu masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya ditunjuk oleh Yugito.
"Kau di situ?" tanya Utakata pada sesosok makhluk saat tiba di luar gedung.
"Ya, aku di sini," jawab sosok yang berdiri di belakang Utakata. Utakata melirik makhluk tersebut. Terlihat pucat. "Baiklah, ayo," ajak Utakata.
Kamar asrama no. 66….
Sepi. Hanya terdengar jam yang memecah kesunyian asrama kamar Sasuke. Lampu kamar masih menyala. Sasuke lupa mematikannya keran terburu-buru.
Tiba-tiba, jendela kamar Sasuke yang tertutup rapat terbuka. Sesosok bayangan masuk ke dalam kamar, diikuti sosok yang mengikutinya dari belakang.
"Masih 39 hari lagi, kau mau apa lagi di dunia ini? Kau punya sesuatu yang belum terselesaikan saat kau hidup?" tanya sosok yang berjalan di belakang lawan bicaranya.
"Aku belum bilang sesuatu sama Sasuke," jawab sosok yang terlihat… tembus pandang?
"Mau bilang apa?" tanya sosok berambut hitam yang mengikuti sosok yang terlihat tembus pandang tadi sambil bersandar pada dinding.
"Hanya mengucapkan terima kasih, walau ku tau dia takkan mendengarnya," jawab sosok itu lagi.
"Kalau kau tau dia takkan bisa mendengarmu, bagaimana kau mengatakannya?" tanya pemuda berambut hitam tadi lagi dan lagi.
"Dengan ini, dia pasti mengerti," Sosok tembus pandang tadi meletakkan setangkai mawar putih di depan sebuah foto di meja belajar.
"Waktunya kembali, aku akan bilang pada ketua kalau kau akan ada di tempat kami sebentar. Ayo, Naruto," Sosok berambut hitam tadi melompat ke luar jendela, disusul oleh sosok yang tadi dipanggil Naruto.
"…ya,"
Setelah kedua sosok tadi ke luar melalui jendela, jendela kembali tertutup. Suasana hening kembali menyelimuti kamar Sasuke. Hanya suara jam yang memecah kesunyian.
Hotel, kamar no. 156…
"Ini handphone-nya, un," Deidara menyerahkan handphone Itachi yang tertinggal di kamarnya. Sasuke menerimanya, lalu memasukkannya ke dalam kantong.
"Eh, kamu beli bunga?" tanya Sasuke saat melihat 3 tangkai bunga daffodil berwarna kuning yang ada di dalam vas berwarna kuning cerah.
"Ah, iya. Tadi aku lewat di depan tokok bunga Yamanaka, un. Karena tertarik dengan bunga ini, makanya aku beli, un," jawab Deidara.
"…bunganya memang menarik, seperti ada terompet kecil di tengahnya dan dikelilingi 6 kelopak bunganya," ucap Sasuke.
"Ya, makanya aku tertarik untuk membelinya, un," kata Deidara.
"Hm, begitu," Sasuke hanya berkata demikian. "Ah, sudah jam segini! Aku harus kembali ke asrama! Deidara, aku permisi dulu, ya!" Sasuke berlari ke pintu ke luar.
"Ah, iya, un! Hati-hati di jalan, ya, un!"
Gedung-entah-ada-di-mana…
"Kenapa kau membawa roh penasaran, Utakata?" tanya Yagura yang sudah kembali.
"Hanya sebentar, dia yang memaksa," jawab Utakata seraya menunjuk roh Naruto yang ada di sebelahnya menggunakan jempol.
"Terlalu merepotkan, usir saja!" kata Han dengan dingin.
"Eh, jangan! Kalau dilihat-lihat dia mirip ketua, beda di rambut, goresan di pipi dan matanya," seru Fuu sambil mengamati Naruto.
"Itu namanya beda, bukan mirip! Dasar bodoh!" ejak Yagura.
"Mirip dengan ketua, tau! Lihat saja!" Fuu menunjuk wajah Naruto.
"Ada apa denganku?"
8 makhluk hidup dan 1 roh penasaran menoleh ke arah pintu sebuah ruangan yang terbuka. Terlihat pemuda berambut oranye kemerahan dengan mata yang warnanya senada dengan rambutnya berdiri di sana.
"Ah, Kyuubi-sama! Utakata membawa roh penasaran ke mari sembarangan!" lapor Fuu dan Yagura.
Sosok berambut oranye kemerahan yang tadi dipanggil Kyuubi melirik Naruto. Naruto tersadar sesuatu. "Ka-kau…!"
"Yang membawa tubuhmu ke neraka!" lanjut Yagura seraya menunjuk wajah Naruto yang semakin pucat (jadi roh aja keliatannya udah pucat. Kalo pucat lagi, ya, makin pucat) .
"Kau yang waktu itu, 'kan?" Naruto mundur ke belakang.
"Kalau kau berpikir begitu, silakan saja," jawab Kyuubi acuh tak acuh. Matanya memandang Utakata. "Apa maksudmu membawa dia ke mari?"
"Dia memaksa," jawab Utakata singkat.
"Eh, Kyuubi-sama mengizinkan roh penasaran ini tinggal sementara di sini, tidak?" tanya Fuu.
"Boleh saja, asal tidak merepotkanku," jawab Kyuubi, lalu berjalan ke luar.
"Kyuubi-sama, boleh aku ikut denganmu?" tanya Fuu bersemangat. Kyuubi melirik Fuu. "Tidak, aku tidak butuh kau untuk menemaniku,"
"Cih, yasudahlah! Yugito, ayo main kartu," ajak Fuu.
"Lakukan hal yang bermanfaat sedikit, dong!" (Han)
"Berisik!" (Fuu)
Kamar asrama no. 66…
Sasuke membuka pintu kamar dan kembali menguncinya. Sasuke merebahkan dirinya di atas ranjang. Mata onyx-nya melirik sesuatu yang belum pernah dilihatnya dalam kamar. Diraihnya benda tersebut yang ternyata adalah setangkai bunga mawar putih.
"Milik siapa ini? Kenapa ada di sini?" tanya Sasuke. sasuke menemukan secarik kertas yang tergeletak tak jauh dari foto di meja belajar. Diraih dan dibacanya isi kertas tersebut.
Sasuke…
Aku akan terus ada di hatimu, jadi ingatlah aku…
Walau hanya sekejap...
~ Naruto~
Sasuke tertegun membaca kalimat akhir dari isi kertas tersebut. Naruto? Di situ tertulis Naruto? Sasuke mengerjapkan matanya berkali-kali, tapi di situ tetap tertulis nama Naruto. Ini bukan ilusi atau mimpi. Sasuke tersenyum. "Aku akan ingat kamu terus, Naruto,"
Sasuke meletakkan mawar putih tadi di depan foto dirinya dan Naruto. senyuman masih menghiasi wajah Sasuke. "Aku bisa melihatmu, Naruto… di dalam hatiku,"
Sasuke diam. Disentuhnya foto yang selalu dipandanginya sejak Naruto menghilang. Rasa bersalah menyelimuti pikirannya. 'Kalau saja aku…,'
Sasuke merasa matanya berat. Sasuke berjalan menuju ranjang dan merebahkan dirinya lagi. diliriknya jam dinding. Jam 10 malam. Untung ini liburan musim dingin. Sasuke memutuskan untuk tidur saja, walau otaknya masih menampilkan 2 orang yang ditemuinya di malam Naruto pergi untuk selamanya.
Pagi hari, kamar asrama no. 66…
"Ugh…!" Sasuke berusaha membuka matanya. Udara dingin membuat Sasuke harus bangun lebih awal. Saat membuka matanya dan menoleh ke telapak tangan kanannya, Sasuke tertegun. Di telapak tangannya ada kelopak bunga, tepatnya bunga mawar putih. Sasuke bangkit dari tidurnya dan melihat ke arah foto.
"Tidak ada," gumam Sasuke saat melihat benda yang dicarnya tidak ada. Bunga mawar putih yang kemarin ada di depan foto. Sasuke melirik tempat tidurnya, dipenuhi oleh kelopak bunga mawar putih. Sasuke berkeringat dingin. Siapa yang menebar kelopak bunga saat dia tidur?
"Sejak Naruto menghilang, aku banyak melihat hal aneh! Mandi dulu, lalu ke tempat Itachi, deh!" Sasuke mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tepat saat Sasuke menutup pintu kamar mandi, jendela kamar terbuka, menerbangkan kelopak bunga ke luar jendela.
Kamar asrama no. 108…
"Ngapain kamu pagi-pagi ke sini? Aku mau pergi sama Dedara," ucap Itachi saat Sasuke masuk ke kamarnya.
"Itachi, sejak Naruto hilang, aku jadi sering melihat hal-hala aneh. Contohnya tadi pagi, waktu aku bangun, aku dikelilingi kelopak bunga mawar putih yang sebelumnya kutemukan kemarin malam saat pulang dari hotel Deidara," jelas Sasuke panjang-lebar.
"Ceritamu tidak masuk akal, Sasuke," komentar Itachi. Sasuke cemberut. "Aku serius, bodoh!"
"Terserah kau, aku mau mandi," Itachi masuk ke kamar mandi.
"He? Kau belum mandi? Jorok! Sudah jam 8 pagi!" (Sasuke)
"Berisik! Udara dingin, tau!" (Itachi)
Gedung-entah-ada-di-mana…
"Yagura, kau ke luar dengan roh penasaran itu?" tanya Utakata pada Yagura.
"Ya, dia yang meminta. Aku sebenarnya mengantuk karena ke luar jam 5 pagi, tapi…," Yagura tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apaan?" tanya Utakata tidak sabar. Yagura menarik Utakata agar mendekat. "Bisa ke luar dari sini tanpa dimarahi," bisik Yagura sambil menyeringai.
"Kau…! Akan ku laporkan pada ketua!" Utakata mengancam.
"Uwaa, jangan! Kukasih permen, deh!" (Yagura)
"Aku nggak suka permen! Kau pikir, aku ini anak kecil!" (Utakata)
"Hei, ngomong-ngomong, roh penasaran itu dimana?" tanya Yugito yang daritadi menonton pertunjukan Yagura vs Utakata. Yagura menoleh. "Tadi ke luar, nggak tau mau ke mana,"
"Hei, Utakata! Kau yang bertanggungjawab mengurus si roh penasaran, yo! Cari dia, hey, Utakata!" kata Killer Bee sambil nge-rap. Semua yang melihanya langsung sweatdrop. Utakata menghela nafas. "Aku ke luar dulu, tolong beritau ketua kalau aku ke luar. Hah, roh penasaran yang merepotkan,"
"Yo, hati-hatilah, hey, Utakata!" ujar Killer Bee diselingi nada rap.
"Kamu berisik, Killer Bee! Masuk ke ruangan kedap suara saja sana!" (Roushi)
"Iya, setuju! Ayo, semua! Masukin Killer Bee ke ruangan kedap suara!" (Yugito)
"Ough!" (Fuu)
"Jangan masukkan aku ke sana, baby!" (Killer Bee)
"Kau babi, bukan baby!" (Yagura)
"Aku setuju dengan si cebol," (Han)
"Hoi!" (Yagura)
Caffe…
"Hh, membosankan," gerutu Sasuke. Udara begitu dingin, bahkan sempat turun salju. Padahal ini belum pertengahan musim dingin. Sasuke mendengus, biasanya dia ke mari bersama Naruto. Sekarang dia harus datang sendirian, tak ada yang menemani.
"Ng…!" Sasuke sadar dari lamunannya saat melihat sosok yang dikenalnya. Sasuke melihat Itachi berjalan bersama Deidara. Ke mana mereka, Sasuke tidak tau.
'Mereka serius Yaoi-an, ya?' batin Sasuke. Sasuke berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke luar caffe. Sasuke berjalan tanpa tujuuan. Ke taman untuk apa? Paling-paling hanya ada salju dan cewek-cewek yang menggodanya. Berdiam di asrama? Hh, sepi dan membosankan. Ke rumah teman? Entahlah, Sasuke jarang ke rumah teman-temannya karena sebagian besar tinggal di asrama.
"Hh, mungkn selama liburan, aku berdiam di asrama saja!" Sasuke berjalan ke arah asrama.
Skip, 6 hari kemudian…
Kamar asrama no. 66…
"Selama 6 hari ini kamu jalan-jalan dengan Itachi terus, begitu?" tanya Sasuke saat Deidara meneleponnya.
"Iya, un. Eh, anu, barang Itachi tertinggal lagi, nih, un! Handphone-nya tertinggal lagi, un!"
"Hah, tertinggal lagi? Dasar Baka Aniki!" gerutu Sasuke kesal.
"Eh, kamu ke mari saja, un! Aku belum bisa mengambil barang Naruto, un! Aku ada urusan lain, un!"
Sasuke menghela nafas. "Baiklah, aku ke sana," Sasuke menjawab dengan malas-malasan.
"Oke, un! Kutunggu, un!"
Sasuke mutuskan panggilan dan memakai jaketnya. Benar-benar melelahkan punya kakak seperti Itachi. Sasuke melirik jam tangannya. Jam 6 kurang. Sasuke mempercepat langkahnya menuju tempat Deidara.
Hotel, kamar no. 156…
Deidara meletakkan kembali vas berisi 3 bunga daffodil di meja. Deidara melirik jam dinding. Jam 6 lebih 5 manit. Deidara menghela nafas. 8 menit dia menunggu Sasuke, rasanya lama.
Deidara duduk di tepi ranjang dan mengamati 3 bunga daffodil dalam vas. Masih terlihat segar, jadi Deidara mengurungkan niatnya untuk membeli lagi. Sepi. Hanya terdengar suara samar-samar dari luar hotel. Deidara merebahkan dirinya di kasur dengan posisi terlentang dan memejamkan matanya.
TES!
Deidara merasa ada setetes air yang jatuh ke telapak tangan kanannya yang terbuka. Diliriknya telapak tangan kanannya. Dugaan Deidara salah. Itu bukan air, tapi darah. Darah segar. Deidara menatap langit-langit kamarnya. Kosong.
TES!
Darah kembali menetes di telapak tangan kanannya. Deidara bangkit dari tidurnya, lalu menatap tanganya beberapa detik, lalu menatap langit-langit kamarnya yang bersih.
TES!
Deidara melirik vas bunga daffodil. Di dekat vas, ada setetes darah di sana. Deidara kembali menatap langit-langit kamarnya, tapi tetap tak ada apa-apa. Deidara merasa kesal. Ditatapnya terus langit-langit kamarnya.
TES!
Darah menetes di pipi kanannya. Deidara membersihkan darah tadi dengan punggung telapak tangannya.
"Darimana asalnya darah ini, un?" gumam Deidara sambil menatap telapak tangan kanannya.
TES!
Darah menetes di salah satu bunga daffodil. Mata Deidara membulat, melihat bunga daffodil yang kena tetesan darah langsung berubah warnanya menjadi merah. Deidara berjalan menuju vas bunga, ingin memastikan kalau pandangannya tidak salah. Baru selangkah Deidara berjalan…
TES!
Setetes darah kembali menetes. Kali ini menetes di dahi Deidara. Deidara merasa pandangannya mengabur. Kedua tangannya memegang kepala yang terasa berputar-putar. Nafasnya terengah-engah. Kakinya terasa lemas. Deidara terjatuh, masih dalam keadaan sadar.
"A-aku kenapa… un?" gumam Deidara lemah.
Jendela kamar Deidara terbuka, bersamaan dengan vas bunga daffodil yang pecah tanpa sebab. Deidara menatap sosok yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. Sosok tadi berdiri di depan Deidara yang tak sanggup berdiri.
"Si-siapa kau, un?" tanya Deidara.
"Aku kemari untuk membawamu ke neraka," jawab sosok tadi.
"Apa alasanmu… un?" tanya Deidara lagi.
"666," jawab sosok tadi dengan singkat.
"Tu-tunggu dulu,un! Aku nggak tau kalau aku mendapat angka 666!" ujar Deidara dengan setengah membentak. Sosok tadi jongkok di depan Deidara dan meremas rambut pirang Deidara. "Kau bodoh! Apa kau tidak sadar?"
"Kalau kamu nggak menjelaskan padaku, mana mungkin aku mengerti, un!" balas Deidara.
"156, 1 dan 5 hasilnya 6, 156 jadi 66," jelas sosok tadi.
"Bukannya itu kurang? Kau-lah yang bodoh!" kata Deidara.
"…dan kau ada di lantai 6," lanjut sosok tadi dan membuat jantung Deidara terasa berhenti. Deudara tak menduga hidupnya akan berakhir hanya dengan angka 666. Sosok tadi melepaskan cengkramannya dari rambut Deidara, lalu meraih tangan Deidara.
"Jam 6 lebih 6 menit, 6 detik, waktunya pergi," ujar sosok tadi, lalu menarik tangan Deidara.
"Tu-tunggu du-!"
Sasuke…
DEG!
Sasuke merasa detak jantungnya berdetak cepat tanpa sebab. Perasaan aneh ini, sama seperti saat Naruto. Sasuke merasa ada yang janggal. Perasaannya seperti mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Deidara.
Sasuke segera berjalan menuju kamar Deidara saat lift sampai di lantai 6. Sasuke mengetuk pntu kamar no. 156. Tak ada jawaban. Sasuke mengetuk lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Sasuke menoleh ke kiri-ke kanan. Tak ada orang. Sepertinya memang tak banyak yang ada di lantai 6. Sasuke meraih kenop pntu yang ternyata tak terkunci. Sasuke membukanya perlahan.
Mata onyx Sasuke terbelalak. Pemandangan yang sama saat Naruto menghilang. Darah menggenang di ruangan itu. 3 bunga daffodil berwarna merah darah berada di tengah-tengah genang darah tersebut. Dengan gemetar, Sasuke berjalan medekati genangan darah tersebut dan meraih setangkai bunga daffodil.
"Ke… napa?" gumam Sasuke, tangannya menggenggam erat tangkai bunga daffodil. Air mata turun mebasahi ppinya.
"Kenapa… harus menghilang…? Kenapa harus Naruto? Kenapa harus Deidara? Kenapa bukan aku saja!" teriak Sasuke. Bunga daffodil yang digenggamnya mulai layu. 2 bunga daffodil yang tergeletak di lantai, warnanya mulai memudar, lalu layu perlahan.
Angin dingin masuk melalui jendela yang masih terbuka lebar. Sasuke tak menghiraukan dinginnya angin yang seakan membuatnya membeku. Yang ada dalam otaknya hanya rasa bersalah, kesedihan dan kebencian. Bersalah karena tak bisa melindungi Naruto dan Deidara, sedih karena kehilangan orang yang dekat dengannya dan rasa benci terhadap sosok berambut oranye kemerahan yang melenyapkan Naruto dan Deidara dengan alasan mendapatkan angka 666.
"SIAL! KETERLALUAN!" geram Sasuke.
"Ini yang kedua kalinya, ya?"
Sasuke menoleh ke arah jendela seraya mengusap air matanya. "Kau… lagi…!"
"Gagal melindungi untuk yang kedua kalinya. Tentu saja begitu. Adiknya saja tak bisa kau lindungi, bagaimana dengan kakaknya?" ejek Yagura sambil mejulurkan lidahnya.
"Berisik! Kembalikan Naruto dan Deidara!" bentak Sasuke. Yagura melipat tangan di depan dada. "Bagaimana, ya? Naruto masih ada di dunia ini, kok! kalau Deidara sudah nggak ada,"
"Apa maksudmu? Jangan bercanda!" ujar Sasuke.
"Memang benar, kok! Naruto masih punya urusan di dunia ini, kalau Deidara nggak punya urusan lagi. Jadi…" Yagura tak melanjutkan kata-katanya.
"…untuk apa kalian melenyapkan orang-orang yang mendaat angka 666?" tanya Sasuke dengan nada dingin.
Yagura diam. Udara dingin berhembus dan ada sedikit salju yang masuk ke dalam ruangan. Yagura menghela nafas. "Untuk melepaskan kutukan,"
"Kukatakan 'jangan bercanda' untuk yang kedua kalinya," kata Sasuke sambil menatap tajam ke arah Yagura.
"Aku tidak bercanda, aku serius," balas Yagura.
"Anak kecil memang selalu berbohong, aku tidak akan percaya padamu!" ucap Sasuke. Yagura berkata lagi. "Apa kau tidak percaya bahwa angka 666 adalah angka kutukan dan dapat melenyapkan seseorang?"
"Aku tidak ingin memercayai hal konyol seperti itu," Sasuke menjawab dengan tegas.
"Angka 666 itu angka yang-,"
"Yagura!"
Yagura menoleh ke belakang. Sasuke mengerutkan dahinya. Pemuda yang berbeda yang ia lihat malam itu. Yang ini berambut coklat pucat dan matanya mirip mata tanuki (Tanuki: Anjing rakun atau raccoon-dog dalam bahasa Inggris, binatang asli Jepang dan beberapa daerah di sekitarnya).
'Berbeda dari pemuda yang waktu itu. Apa dia temannya?' batin Sasuke.
"Ah, Shu-Shukaku! A-aku cuma berjalan-jalan saja, kok! Ja-jangan laporkan pada ketua, ya?" mohon Yagura sambil nyengir.
"Cepat pergi! Kau hampir membocorkan itu!" Pemuda tadi terjun ke bawah dan disusul Yagura. Sasuke terkejut dan berlari mendekati jendela. "Hei! Kalian terjun dari lantai en-!"
Sasuke tertegun. Tak ada yang berubah di bawah sana. Hanya jalanan yang dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang berjalan kaki di trotoar. Tak terlihat keributan seperti seorang pemuda terjatuh dari lantai 6. Semuanya terlihat normal.
Sasuke tertunduk. Sasuke sempat berpikir bahwa kedua orang tadi bukan manusia walau hanya 1%. Tidak! Yang seperti itu tidak ada! Itu hanya ttrik! Manusia jika mati pasti tak ada di dunia lagi. hantu itu tak ada!
"Apa… yang harus ku lakukan?" gumam Sasuke lemah. Air matanya menyatu dengan darah. Bunga daffodil yang tadinya berwarna merah darah, kembali menjadi warna kuning.
Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap bulan purnama yang bersinar terang. "Aku bersumpah, aku tak kan membiarkan orang-orang itu melenyapkan semua orang yang dekat denganku!" teriak Sasuke, tepat saat salju jatuh ke punggung tangannya dan mencair.
Sasuke tak menyadari bahwa ada sosok pucat yang berdiri di dekat pintu tengah memperhatikannya. Sosok pucat tadi tersenyum. "Sasuke, jaga Itachi, ya. Jangan sampai Itachi jadi sepertiku dan Naruto,"
Setelah mengucapkan itu, sosok tadi menghilang, meninggalkan setangkai bunga daffodil.
Atap Hotel…
"Yagura, kau akan dihukum," ucap Shukaku yang berdiri di depan Yagura.
"Aku cuma jalan-jalan! Tadi aku mau dibunuh sama Han, jadi aku ke luar," jelas Yagura dengan ringan.
"Tetap akan dihukum karena kau ke luar dan hampir mengatakan itu," kata Shukaku lagi dengan nada yang lebih serius.
"Hampir,bukan sudah," balas Yagura.
"Jangan membalas perkataanku, cepat kembali. Jangan pernah mengikuti ketua yang sedang melakukan tugasnya," Shukaku melompat turun dari atap Hotel.
"Shukaku, janga bilang pada ketua, ya? Kukasih permen, deh," (Yagura)
"Makanan manis bisa bikin gigi rusak dan aku tak suka makanan manis," (Shukaku)
The Second Victim, Deidara Has Disappeared…
Go To Hell…
End Triple Six Chap. 2
*pingsan, lalu bangun setelah disiram magma*
Ada typo(s), 'kan? Pasti ada, dong! Ceritanya makin ngaco, 'kan? Tentunya, dong! Makin nggak jelas, 'kan? Yaiya, dong! Mari siapin flame-nya!
Seumur-umur, baru kali ini ngetik sebanyak ini. *minum coca cola dulu, baru tepar*
Yaudahlah, lagipula jari saia bisa nari-nari. Pegel juga, sih~ *mijet2 jari*
Huhu, aneh, ya? Shukaku human version… Habis, kalo Gaara di situ… Jadi, aku bikin Shukaku human version. Aneh, ya? (Readers: "Iyaa!")
Aku langsung munculin semuanya karena nggak tau harus di chap kapan mereka semua muncul… Habisnya bingung, otak di kepalaku lagi naik komedi putar (Apa hubungannya, mba?).
Yak, ceramahnya cukup sampai di sini. Flame itu wajib kalo ada keluhan di fict ini, review bila berniat!
SEE YOU! BYE!
