Hanakotoba
.
.
Disclaimer: I do not own Vocaloid
Genre: Romance, Drama, Hurt/comfort.
Warning: Typos, misstypos, all normal POV
Summary:
Mereka bertemu secara takdir. Tidak ada pertemuan dalam agenda mereka. / "Mawar, anggrek, anyelir, tulip, chrysanthemum, lily, mawar, daisy, dan akasia. Kusampaikan perasaan cintaku melalui mereka."
.
.
A/N
Yo minna! Akhirnya setelah lama ga update- *nangis haru*
Jadi sudah saya putuskan. Mungkin akhir-akhir ini bakal fokus ke fic ini sama Neko World. Mungkin Hanakotoba cuma 4 atau 5 chapter. Tergantung lah ._.v
Nanti saya mau buat fic multichap (lagi) dengan pairing berbeda. Semoga ga lama update ._.
Untuk Love At First Sight sama Aishiteru! pasti saya kerjain. Tapi kayaknya harus ngumpulin niat dulu nih ._.
Kelamaan di AN. Langsung mulai deh~
Enjoy reading
Lenka duduk sementara manik azure-nya menyapu pemandangan indah yang berada di hadapannya. Gadis pecinta pisang itu bersyukur karena mendapati rumah yang terletak agak jauh dari kota, sehingga bebas dari polusi dan kebisingan yang ada. Sementara itu rumahnya dikelilingi tanaman-tanaman dan bunga-bunga cantik yang membuatnya tak bosan walau matanya selalu melihat pemandangan itu tiap hari.
Tangan mungilnya yang berada di ambang jendela menggenggam setangkai bunga mawar kuning. Bisa dilihat pipinya bersemu merah sementara ia menatap bunga itu sambil mengayun-ngayunkannya.
Bunga itu merupakan bunga pemberian teman barunya yang memberi tanda bahwa ia ingin berteman dengannya. Hal ini mampu membuat hati Lenka berteriak kegirangan karena jarang sekali ada yang mengajukan penawaran seperti itu.
Lenka beranjak dari tempat tidurnya dan menjauhi jendela yang mampu membuatnya bertopang dagu berjam-jam di situ. Ia meletakkan bunga mawar kuning itu di meja kayu yang berada tak jauh dari ranjangnya itu sementara kakinya terus melangkah ke arah pintu putih yang merupakan jalan keluar masuknya dari kamar kecil tersebut.
Memiliki niat untuk memberikan bunga pada teman barunya, ia mengambil gunting bunga dan keranjang kecil yang terletak di dekat pintu keluar. Dengan sigap ia membuka pintu dan berjalan dengan riang menuju taman bunganya itu.
"Err... bunga apa, ya." Lenka menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terus berpikir. Bunga apa yang harus ia berikan pada Rinto? Dia, kan, tidak mengerti bahasa bunga? Bagaimana kalau nanti dia memberikan bunga yang salah?
"Aduh. Bunga apa yang harus kuberi?" Makin lama Lenka berpikir, bukannya mendapat jawaban, ia malah semakin bingung. Setelah berpikir sebentar lagi, dengan cepat pandangannya menuju ke arah bunga-bunga mawar yang berada di tengah taman.
Bunga-bunga itu bertumbuh subur dan beraneka warna. Sekilas Lenka tampak berpikir. Apa lebih baik memberikan Rinto bunga mawar saja? Tapi apa ia mengerti arti bunga-bunga tersebut?
Matanya memperhatikan setiap tangkai bunga mawar yang ada. Akhirnya setelah berpikir tangannya meraih bunga bernama mawar yang memiliki warna ungu itu. Mungkin karena letak bunga itu di tengah mawar lainnya atau Lenka sendiri tak berhati-hati, tangannya tergores duri mawar lainnya hingga membuat gadis itu meringis.
Ia terus menggigit bibirnya sementara tangannya berusaha mengambil bunga itu dengan gunting bunga. Tak jarang ia merasa tangannya tergores sesuatu yang tajam.
"Akhirnya selesai." Lenka bernapas lega dengan puas ketika ia melihat bahwa bunga-bunga yang tumbuh tadi sudah dipindahkannya ke dalam keranjang kecil yang dibawanya.
Dengan riang ia kembali ke dalam rumahnya tanpa memedulikan tangannya yang penuh luka yang disebabkan oleh duri-duri tajam itu.
Rinto duduk di atas kasurnya yang berwarna kebiruan sementara pandangannya menuju apa yang digenggamnya. Tampak dua atau tiga tangkai bunga yang berada di hadapannya. Ketiga tangkai bunga itu memiliki jenis bunga yang berbeda, juga warna yang berbeda.
"Argh!" serunya frustasi sambil melempar setangkai bunga akasia kuning yang sedari tadi digenggamnya. Dengan cepat ia menghempaskan diri di tempat tidur, membuat kedua tangkai bunga lainnya berpindah tempat.
"Kenapa harus akasia kuning?" ujarnya lagi sementara menutupi kedua matanya. "Bunga itu memiliki arti..."
Ia bangkit dari tidurnya dan segera meraih bunga akasia kuning yang dilemparnya tadi, yang kini kembali lagi pada genggamannya. "Cinta yang terpendam. Cinta rahasia." Ia melanjutkan omongannya yang sempat terputus.
"Tapi masa aku mencintainya? Walaupun ia menarik perhatianku, bagaimana mungkin aku mencintainya dalam waktu yang singkat?" katanya lagi sambil mengacak-ngacak rambutnya, membuat rambut pirangnya itu menjadi lebih berantakan dari biasanya.
Setelah meletakkan bunga akasia itu di tepi ranjang, matanya beralih pada dua bunga yang berada di sampingnya. Kemudian ia mengambil salah satu bunga yang berada di situ dengan perlahan dan menatapnya dalam-dalam.
Bunga itu merupakan bunga lily berwarna kuning. Kemudian ia meletakkannya lagi, bersama dengan bunga akasia yang tadi.
"Bunga lily kuning biasa melambangkan kepalsuan dan kebohongan. Tapi bagiku tidak. Di mataku ia membuat bunga ini tampak menjadi keriangan. Karena ia begitu riang, sehingga membuatku jadi lupa diri..." Rinto tidak melanjutkan ucapannya dan segera menggelengkan kepalanya. Wajahnya memerah.
"Apa yang kuomongkan, sih?" gerutunya pelan sambil mengambil bunga terakhir.
Bunga itu agak berduri sehingga menimbulkan rasa sakit ketika permukaan kulitnya menyentuh batang bunga itu dengan kasar. Namun hanya ada satu kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Apa aku akan memberikan bunga ini padanya suatu hari?"
"Rinto! Sedang apa kau? Berbicara sendiri lagi dengan bunga? Temanmu menunggu di bawah!" Pemuda itu mendengar teriakan dari ibunya. Rinto segera berbalik dan menatap pintu kamarnya yang masih tertutup.
"Ya! Aku akan segera turun!" serunya sambil beranjak dari ranjangnya. "Aku tidak berbicara pada bunga, aku hanya melihatnya dan aku berbicara pada diriku sendiri, Okaa-san."
.
.
Rinto bengong untuk beberapa saat ketika melihat gadis yang mirip dengannya berdiri di depan pintu rumahnya sambil menunduk. Ia membawa sebuah buket bunga mawar ungu yang sudah dibungkus sedemikian rupa.
"Ah, temanmu manis sekali, ya. Rinto siapamu, hei? Pacarmu, ya?" Tiba-tiba saja seorang wanita sudah berdiri di belakang pemuda yang masih kaget itu. Dengan wajah memerah Rinto mendorong ibunya masuk ke dalam rumah.
"Okaa-san di dalam saja! Jangan ganggu aku!" serunya dengan agak kesal. Kemudian ia keluar rumah dan menutup pintu.
"Ada apa datang ke sini? Bagaimana kau tahu rumahku?" tanya Rinto tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Itu... err... kau telah memberikan alamatmu waktu itu, kan?" balas gadis itu sambil mendongakkan kepalanya, setelah sekian lama menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah sejak tadi.
"Oh, iya. Dan apa tujuanmu kesini?" tanya Rinto sambil menggaruk kepalanya, berusaha mengusir segala kegugupan yang ada.
Lenka melihat ke arah lain dengan wajah memerah. Tak lama kemudian dengan cepat ia memberikan buket mawar ungu yang ia pegang sejak tadi ke hadapan Rinto, menyisakan sekitar tiga senti antara buket itu dengan wajah si pemuda.
"I-ini untukmu! K-kuharap kau senang menerimanya! I-itu saja. Sampai jumpa b-besok. T-terima kasih sebelumnya dan m-maaf mengganggumu!" seru Lenka dengan cepat. Tanpa menunggu reaksi dari Rinto ia meletakkan buket itu di tangan Rinto dan langsung berlari ke arah jalan raya.
Rinto terdiam untuk beberapa saat. Kemudian ia menatap bunga yang diberikan Lenka itu.
"Mawar ungu..." Wajahnya memerah untuk beberapa saat. "Artinya... cinta pada pandangan pertama, kan?"
"Apa dia tidak menganggapku aneh karena mengerti bahasa bunga dan menyukai bunga?" gumam Rinto pelan sebelum masuk ke dalam rumahnya. Dengan cepat ia mengusir kemungkinan itu yang hanya dapat membuka luka lama di dalam hatinya.
Flashback
Tangan anak laki-laki itu terus bergerak, memindah-mindahkan tangkai-tangkai bunga cantik itu dan akhirnya mengikatnya dengan pita berwarna merah muda keungu-unguan dan tersenyum puas.
"Selesai!" serunya girang ketika melihat rangkaian bunga yang ia buat sejak tadi kini telah selesai. Wajar bukan, bagi seorang anak berusia tujuh tahun untuk girang ketika melihat hasil kerja kerasnya telah jadi?
Rinto terus berpikir-pikir apa yang akan dilakukannya dengan bunga ini. Apa ia akan memberikannya pada ayah dan ibunya? Oh, itu merupakan ide yang baik sekali!
Atau ia harus memberikan pada anak jalanan dan menghiburnya sedikit? Hm, itu juga baik!
Atau ia akan memberikannya pada gurunya hingga guru itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya? Ah, ia tidak dapat membayangkan senyum yang ada di wajah Bu Guru!
Atau ia... akan memberikan rangkaian bunga itu pada seorang gadis yang membuatnya tertarik, seorang gadis yang disukai?
Rinto segera menepis pikiran itu cepat-cepat ketika ia menyadari wajahnya memerah. Seringkali ia melihat kejadian seorang laki-laki memberikan bunga kepada perempuan, yang disambut dengan baik oleh perempuan itu di televisi. Tapi apa ia menyukai seseorang? Apa ia tidak terlalu muda untuk itu?
Sebelum anak berambut blonde itu sempat mengusir segala pikiran aneh yang membuat wajahnya memerah dari otaknya itu, tiba-tiba saja ia sudah mendengar teriakan bernada mengejek dari teman-temannya.
"Hei, lihat apa yang dilakukannya!"
"Ih, merangkai bunga? Apa itu?"
"Kagamine Rinto, kau laki-laki, bukan?"
"Dia seperti perempuan saja!"
Rinto berdiri ketika mendengar celaan serta gelak tawa teman-teman sepermainannya itu. Wajahnya memerah karena marah. Ia berusaha menahan tangis agar tidak disangka cengeng dan membuat teman-temannya tambah mengejeknya.
"Hei, kalian! Apa salahnya merangkai bunga bagi laki-laki?! Dan untuk apa kalian menggangguku?! Bermain saja, sana!" teriaknya dengan marah. Salah satu temannya berhenti tertawa dan membalas.
"Hei, kau yang seperti perempuan! Kau bermain dengan bunga, merangkainya, dan berbicara seolah ia temanmu. Apa kau sudah gila?" cercanya lagi sambil terkekeh-kekeh.
Rinto meremas rangkaian bunga tulip yang sudah dirangkainya dengan susah payah sehingga batang-batang bunga tersebut tampak patah dan bengkok.
"Kalian bodoh!" teriaknya marah sambil melempar rangkaian bunga itu ke hadapan teman-temannya. Rinto berlari menjauhi mereka dengan mata berlinang air mata ketika ia mendengar teman-temannya itu masih mengejek dan menertawainya.
End of flashback
Lenka menggeliat pelan hingga membuat kasur berlapis seprai yang ditidurinya menjadi lebih kusut. Ia mengerang pelan ketika matahari menyusup melalui celah-celah jendelanya yang sengaja tidak ia tutup rapat.
Tangannya mengucek-ucek matanya dan ia menguap pelan, berusaha mengumpulkan segala kesadarannya kembali.
Setelah itu ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, bersiap-siap menuju ke sekolah dan memulai sebuah hari yang baru.
.
.
"Se-selamat pagi, Rinto!" seru pemeran utama perempuan kita ini sambil meletakkan tasnya di sebuah kursi yang agak terpojok di kelas. Anak laki-laki yang sedang mengarahkan perhatiannya kepada sebuah buku tebal menengok dan tersenyum. Ia tidak mengubah posisinya bertopang dagu.
"Selamat pagi, Lenka," balasnya sambil bangkit berdiri, memberikan gadis itu sedikit keluasan untuk berjalan menuju mejanya yang sempit.
"Sedang baca apa?" tanya Lenka basa-basi sambil merapikan tasnya di kursinya itu. Rinto menaikkan sebelah alisnya dan ia menjawab tanpa menengok ke arah teman sebangkunya itu.
"Buku tentang bunga," jawabnya singkat.
"Eh? Kau suka bunga?" tanya Lenka sambil memiringkan kepalanya.
Terjadi keheningan sesaat di antara mereka berdua. Baik Rinto, maupun Lenka tak ada yang berusaha memecahkan kesunyian singkat itu.
"Eh... i-iya," jawab Rinto dengan agak gelagapan. Ia berusaha menghindari arah tatapan mata Lenka sementara gadis yang berada di sampingnya berusaha melihat arah pandang temannya itu.
"Wah, kau suka bunga?! Aku juga suka!" seru Lenka dengan semangat menggebu-gebu. Rinto menjadi salah tingkah ketika melihat gadis itu menatapnya dengan pandangan mata berkilauan, tanda senang.
"Eh... err, iya," jawabnya singkat, sementara hatinya berpikir lain.
'Apa dia tidak menganggapku aneh karena aku menyukai hal-hal tentang tanaman, bunga, dan semacamnya, ya?'
"Bunga apa yang kau suka?" tanya Rinto dengan nada cuek, berusaha memulai pembicaraan singkat di antara mereka berdua. Lenka menggaruk kepalanya sejenak, tampak berpikir. Sedangkan Rinto yang tidak mendapat jawaban mengarahkan pandangannya menuju gadis bersurai pirang itu.
"Entahlah. Tapi sepertinya aku menyukai semua bunga," jawab Lenka sambil menganggukkan kepalanya. Rinto menoleh sebentar padanya kemudian ia membalasnya dengan suara pelan.
"Kita sama, ya-"
"Apa kau bilang?" sela Lenka cepat.
"Err... tidak apa-apa," jawab Rinto cepat-cepat, kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ah! Kiyoteru-sensei sudah memasuki kelas!" serunya sambil mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman.
Lenka menghela napas. Ia tahu bahwa Kiyoteru-sensei memang sudah memasuki kelasnya dan mengucapkan salam selamat pagi, tapi ia lebih mengetahui kenyataan bahwa Rinto berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Pelajaran pada pagi hari itu merupakan saat-saat membosankan bagi Lenka. Ia hanya perlu mendengarkan apa yang diajarkan, mencatatnya, dan membaca tulisan kecil-kecil yang tercetak pada buku cetaknya.
"Hanami-san?" Lenka terbangun dari lamunannya ketika sebuah suara tenang memanggil namanya.
"I-iya?" balasnya gugup karena sedari tadi ia tak mendengarkan apa yang sudah diterangkan oleh guru berambut cokelat itu.
"Tolong kerjakan soal nomor empat," ujar Kiyoteru-sensei dengan nada datar sambil memegang spidol papan tulis yang ia angkat lebih tinggi lebih dari biasanya. Ah, itu merupakan isyarat bagi Lenka untuk maju ke depan dan menuliskan jawabannya.
Gadis itu mendorong kursinya perlahan-lahan dan mengucapkan terima kasih pada teman yang duduk di sampingnya karena telah memberinya jalan keluar. Ia maju ke depan kelas dengan agak gugup seraya memikirkan jawaban dari soal yang tertulis di depan itu.
Dan sekarang tangannya yang menggenggam spidol papan tulis berwarna biru itu hanya bisa gemetaran sementara tutupnya sudah berada di tangannya yang lain. Ia benar-benar tidak tahu jawabannya!
"Hanami-san?" tegur guru yang berdiri di sampingnya dengan sikap tidak sabar.
"H-hai?" balas Lenka sambil menengok perlahan.
"Kau mengerti materi ini?" balas Kiyoteru tajam. Dengan pelan Lenka menggeleng, membuat gurunya itu menghela napas.
"Boleh saya bantu menerjakannya, Sensei?" Tiba-tiba saja salah seorang dari teman si gadis yang berada di kelas itu mengangkat tangan dan berbicara dengan pelan. Seluruh perhatian terarah pada pojok belakang kelas, sumber suara itu.
Kiyoteru hanya mengangguk pelan. Sepertinya ia lelah.
Rinto berjalan dengan tenang ke depan kelas setelah mendapat ijin dari gurunya itu.
"Boleh aku pinjam spidolnya?" pinta Rinto lembut sambil mengulurkan tangan. Lenka agak terkejut akan hal itu dan ia menyerahkan spidol itu, berbarengan saat dirasakan wajahnya memerah.
Dengan cepat tangan Rinto yang menggenggam spidol itu menulis jawaban dari soal yang berada di papan tulis dengan cepat.
"Bagaimana?" jawabnya, kemudian menutup spidol itu dengan tutupnya.
Hening.
Hening.
Hening.
"SUGOI!" teriak beberapa anak secara tiba-tiba. Mereka bergumam kagum ketika melihat anak baru itu dapat menjawab soal di papan tulis dengan sempurna, tanpa salah sedikit pun.
Kiyoteru menepuk pundak Rinto pelan dan bernapas lega. Sedangkan Rinto sendiri tersenyum pada Lenka dan mengajaknya kembali ke tempat duduk mereka, membuat jantung gadis itu berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
.
.
To be continued
A/N
Ceritanya makin OOT, ya? Gomen ._.a
Mind to review?
