HUSBAND
Remake from Phoebe Maryand's novel "Husband"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
When you wake up from your sweet dream,
you are finding a stranger guy on your bed
and he said that you are his wife.
What will you do?
Luhan membuka matanya perlahan, ia memandangi warna…entahlah. Luhan sendiri tidak yakin jika yang dilihatnya adalah langit. Ia menegakkan kepalanya dan memandang ke sekeliling. Luhan sedang berada di sebuah taman dan ia berbaring di sebuah bangku kayu. Di sebelahnya, Luhan mendapati seorang wanita asing yang belum pernah dikenalnya sebelumnya. Wanita itu tersenyum.
"Kau sudah bangun? Kalau begitu aku bisa pulang dengan tenang. Kau ingat jalan pulang ke rumah, kan?"
Luhan mengangguk bingung. "Kau siapa?"
"Aku? Namaku Beltva. Aku pergi dulu karena tugasku sudah selesai. Sampai jumpa!" Beltva tersenyum lalu pergi meninggalkan Luhan begitu saja.
Luhan berusaha bangkit dan duduk dengan tenang. Ia berusaha mengingat semuanya, dan beberapa ingatan terbayang. Luhan baru saja mengalami sebuah kecelakaan, ia memandangi tubuhnya dan untungnya tidak terjadi apa-apa padanya. Luhan hanya merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya dan ia ragukan itu terjadi karena kecelakaan yang di alaminya barusan. Luhan memandangi sekelilingnya. Ia kehilangan kertas-kertas penting untuk Tuan Oh. Sebisa mungkin Luhan bangkit dan mencari-cari tapi tidak satupun jejak mengenai berkas itu bisa di temui. Jalanan juga sudah mulai sepi dan sepertinya tidak ada seseorangpun yang mengenalnya, ia korban kecelakaan beberapa waktu lalu, secepat itukah mereka melupakannya?
Waktu? Jam berapa sekarang? Luhan berbisik. Ia mengangkat lengannya dan memperhatikan jam tangannya lekat-lekat. Sudah jam lima sore dan ini sudah lewat jam pulang Kerja. Tubuhnya yang masih sakit mendorong Luhan untuk memanggil taksi dan segera pulang. terserah dengan apapun yang terjadi nanti yang pasti dirinya sangat ingin istirahat. Butuh waktu yang panjang untuknya sampai kerumah karena rumah Grandmere-nya memang terletak di pinggiran kota Paris. Setelah membayar taksi, Luhan langsung memasuki rumah dan menemukan Grandmere-nya sedang sibuk menyiapkan makan malam. Luhan mendekat dan memeluk wanita tua itu erat-erat. "Ada apa?" Grandmere berhenti bergerak dan membelai kepala Luhan dengan lembut.
Luhan mendesah, masih dalam pelukannya. "Sepertinya aku akan di pecat. Kufikir aku baru saja naik gaji!"
Grandmere membelai punggungnya. "Kalau begitu gunakan waktu itu untuk beristirahat di rumah. Dirimu sedang tidak sehat, jadi perlu banyak istirahat."
"Grandmere tau darimana kalau aku sedang tidak sehat hari ini?"
Sekarang wanita tua itu mengubah pandangan penuh kasihnya menjadi pandangan yang penuh kebingungan. "Kenapa masih bertanya? Kau cucuku bukan?"
"Ya, tentu saja. Kau bisa merasakan apa yang ku rasakan. Kau selalu tau apapun yang terjadi padaku. Aku sedang dalam keadaan buruk dan sekarang sepertinya harus istirahat. Grandmere, Aku tidur di kamarmu ya?"
Grandmere mengangguk. "Tapi pada saat jam tidur tiba, kau harus pindah kembali kekamarmu. Aku akan merasa aneh jika ada dirimu di kamar. Kau sudah sangat lama tidak tidur denganku lagi, aku sudah terbiasa tidur sendiri dan menolak ada orang lain di kamarku!"
Luhan mendesah kecewa, ia memang sudah lama tidak tidur bersama Grandmere-nya, sejak merasa sibuk menyiapkan pernikahan, Luhan bahkan nyaris tidak pulang ke rumah beberapa kali. Ya, meskipun begitu ia ingin berbaring di kamar neneknya walaupun sebentar, hanya demi bermanja-manja, hal yang sudah sangat lama tidak di lakukannya.
Lagi-lagi Luhan terbangun dengan perasaan aneh. Begitu ia membuka matanya, tiba-tiba saja ia melihat banyak perubahan di kamarnya. Ranjang yang biasa di tidurinya sudah berbeda dengan yang biasa dan ia memakai kelambu? Sejak kapan Luhan suka dengan kamar bernuansa klasik begini? Satu lagi, hawa yang di rasakannya sudah sangat tidak sama dengan yang biasa dirasakan sebelumnya, Kamarnya terasa lebih hangat padahal Luhan suka berada dalam kamar yang sejuk.
"Mungkin AC-nya rusak." Gumam Luhan pelan. Ia menggeliat dengan penuh semangat dan harus terkejut saat menyadari kulitnya sedang bersentuhan dengan kulit orang lain di dalam selimut. Luhan memandangi laki-laki yang berada di sebelahnya, sedang tertidur pulas sambil memeluknya. Luhan mengerjapkan matanya meyakinkan kalau semua ini hanya mimpi. Ia menyentuh perutnya, lalu dada dan kembali turun hingga ke paha. Keterkejutannya semakin bertambah karena ia sedang tidak memakai apa-apa dalam pelukan seorang laki-laki yang tidak di kenalnya. Luhan seharusnya berteriak, tapi ia masih termenung memandangi laki-laki itu, cukup good looking dengan rambutnya yang berwarna coklat terang dan terlihat sangat dewasa meskipun sedang tidur, tapi Luhan tidak mengenalnya. Laki-laki itu di temuinya dimana? Di kantor? Ia tidak punya teman kantor setampan ini. Lalu di diskotik? Apakah semalam Luhan mampir ke diskotik? Luhan mengerjapkan matanya sekali lagi dan ia ingat, ia bahkan pulang sebelum makan malam dan langsung tidur di kamar Grandmere-nya. Lalu siapa laki-laki ini? Bagaimana mungkin bisa ada di atas ranjangnya dan tanpa busana seperti dirinya.
Luhan memandang berkeliling untuk meyakinkan apakah ini benar- benar kamarnya? Meskipun banyak yang berubah, Luhan yakin kalau ruangan ini adalah kamarnya. Kamar yang sudah di tempatinya dua tahun belakangan semenjak ia memutuskan untuk menemani Grandmere dan tinggal di Paris. Rak buku yang berada di dekat pintu juga miliknya, Luhan kenal dengan semua koleksinya, dan buku-buku yang memenuhinya adalah susunannya sendiri.
Sebuah kecupan manis mendarat di bahunya disertai belaian hangat di lengannya. Luhan menoleh kepada laki-laki itu, dia baru bangun dan tersenyum semanis mungkin kepadanya. Matanya belum begitu terbuka dengan sempurna karena baru bangun tidur, tapi Luhan yakin kalau Laki-laki itu tidak salah orang, dia menyebut nama Luhan dengan manis. Laki-laki itu tidak salah orang.
"Luhan Sayang, kau sudah bangun?"
Luhan mengangguk sambil terus memandangi laki-laki itu dalam jarak yang sangat dekat. Keheranan sudah menyesaki benaknya dalam dosis yang sangat tinggi.
"Bagaimana mungkin aku bisa, seperti ini? Semalam aku tidur di kamar Grandmere!"
"Aku yang membawamu ke kamar kita. Mana mungkin aku membiarkan istriku ke kamar lain? Soal pakaian seharusnya dirimu tidak perlu terkejut. Bukankah kita selalu melakukannya? Kau tau kalau aku tidak suka AC lalu kita menyingkirkannya. Semenjak kamar ini tidak memiliki pendingin lagi, Kau selalu tidur tanpa pakaian seperti itu."
"Jadi semalam aku membukanya sendiri?"
"Aku yang membuka! Tidak salah, kan? Aku suamimu."
Luhan menggeleng masih dengan ekspresi herannya. Laki-laki itu mengakui Luhan sebagai istrinya? Luhan masih bingung dan termenung. Kemarin ia tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Kris, lalu baru mendapatkan kenaikan gaji dan mengalami kecelakaan. Kemudian terbangun di sebuah taman bersama seorang wanita yang menolongnya dan langsung pulang Karena kelelahan mencari-cari file untuk tuan Oh yang belum di temukan hingga sekarang. Semalaman ia sudah mempersiapkan batinnya karena harus dimarahi oleh Tuan Oh, bosnya yang baru. Tapi sepertinya kejadian hari ini lebih parah bila dibandingkan dengan amarah tuan Oh di hari pertama bekerja. Dia sudah menikah? Lalu kenapa bukan dengan Kris? Lalu siapa laki-laki itu dan kenapa laki-laki itu yang menjadi suaminya?
"Ah, aku sudah terlambat. Aku harus segera kekantor." Laki-laki itu bangkit dan duduk sambil memegangi kepalanya yang pusing, ia menoleh kepada Luhan dan memandangi setengah dari tubuhnya yang terbuka secara tidak sengaja dengan di iringi sebuah senyum penuh kekaguman.
"Tapi melihatmu seperti ini sepertinya hari ini aku tidak usah ke kantor!" Laki-laki itu memeluk Luhan lagi dan meremas payudaranya dalam ritme yang lembut.
Luhan segera menolak dan mendorong tubuh pria yang mengaku sebagai suaminya itu menjauh. Kedua lengannya segera menyilang ke depan dada dangan kuat.
"Kau ingin melakukan apa?"
Kening laki-laki itu berkerut. "Kau bertanya? Kenapa? Bukankah ini normal untuk suami istri? Kau istriku kan? Xi Luhan kan?"
"Kau siapa? Bagaimana bisa aku menikah denganmu? Aku punya orang yang sangat ku cintai dan kami akan menikah. Kau berbohong dengan pernikahan ini kan? Ini hanya bercanda, atau kau salah orang? Tapi kau menyebut namaku…"
"Kau tidak ingat aku? Aku Sehun!" laki-laki itu mendengus. "Sudahlah kalau kau memang sedang tidak bersemangat, tidak perlu mengeluarkan kata-kata aneh seperti itu. Aku akan berangkat ke kantor saja."
Luhan menelan ludahnya. Sehun meninggalkan ranjang dan berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan apa-apa. Bukan pertama kalinya Luhan melihat tubuh laki-laki, tapi ini pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti ini di dalam kamarnya sendiri.
Laki-laki itu? Tadi dia ingin melakukan apa? Bercinta denganku? Tidak… Batin Luhan.
Lalu kata tidak keluar bukan hanya sebagai gema di hatinya. Luhan benar-benar berkata tidak dalam intonasi yang sangat lantang. Dia tidak mungkin sudah menikah dengan laki-laki lain selain Kris. Tidak mungkin menikah dengan laki-laki yang tidak di cintainya.
Tidak mungkin…
"Tidaaak!"
Dan suasana menjadi riuh. Suara pintu di ketok dengan nada tidak sabaran membuat Luhan ingin segera menghambur ke pintu, tapi sebelum itu laki-laki bernama Sehun yang mengaku sebagai suaminya segera mengambil celana piyamanya yang berada di lantai lalu memakainya dan membuka pintu. Grandmere masuk dan memeluk Luhan yang masih kebingungan. Ia membelai kepala Luhan sambil bertanya ada apa.
"Grandmere, siapa laki-laki itu?" desis Luhan dalam pelukan neneknya. Grandmere memandangi Sehun sekilas lalu memeluk Luhan lebih erat.
"Dia Sehun suamimu, sayang. Kau sendiri yang berkeras untuk menikah dengannya sebulan yang lalu. Sekarang kenapa kau berteriak dan mempertanyakan siapa dia?…"
"Mana mungkin." Luhan memotong. "Aku akan menikah dengan Kris, bukan dengannya." "Luhan, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini? Apakah dirimu sudah lupa kalau Kris sudah pergi? Kau sendiri yang memutuskan hubunganmu dengan Kris dan memilih menikah dengan Sehun!" Luhan memandangi Grandmere-nya dengan tatapan yang semakin bingung.
Kemarin ia dan Kris janjian bertemu di café miliknya, baru kemarin dan Luhan masih mengingatnya dengan baik. Lalu bagaimana bisa dia menikah dengan laki-laki bernama Sehun itu bulan lalu? Kenapa harus meninggalkan Kris dan memilih orang yang tidak di kenalnya?
"Kau kenapa? Kau terbentur?" Sehun bertanya sambil mendekat. Ia menyeka sejumput rambut Luhan yang menutupi wajah.
Sekilas Luhan melihat kilauan di jari manisnya dan Luhan spontan memandang jarinya juga. Ada cincin yang memiliki kilau sama disana. Cincin kawin? Laki- laki itu benar suaminya? Luhan memegangi kepalanya. "Aku kecelakaan kemarin dan sepertinya aku melupakan banyak hal. Maaf!" desisnya.
Luhan tidak berbohong. Ia memang kecelakaan, tapi Luhan masih bisa mengingat semua kejadian sebelum kecelakaan. Ia belum menikah pada saat itu, lalu bagaimana bisa begitu terbangun ia sudah memiliki seorang suami dengan cincin kawin melingkar di jari manisnya?
"Tanggal berapa sekarang?"
Sehun masih memandangnya dengan tatapan heran, tapi tidak lama karena ia segera mengambil jam tangannya yang masih berada dalam jangkauannya. "Dua puluh tiga Juni!"
Dua puluh tiga…juni…
Luhan terus mengulangi kata-kata itu di benaknya. Kemarin adalah hari terakhir tuan Fabius di kantor dan kemarin adalah tanggal 22 juni, Luhan tidak mungkin salah karena sebelum masuk ke ruangan Carl Fabius Luhan sempat melihat ke kalender. Kemarin ia mengalami kecelakaan, pulang ke rumah dan terbangun pagi ini dengan status baru. Dia dan Sehun sudah menikah sebulan lalu? Mustahil, kemarin Luhan masih lajang. Tapi Grandmere juga mengatakan hal yang sama. Apa yang terjadi pada dirinya? Atau lebih tepatnya, apa yang terjadi pada hidupnya? Kenapa bisa berubah secara tiba-tiba seperti ini? Atau Luhan sedang melompat ke sisi kehidupannya yang lain? Apa karena kecelakaan yang kemarin itu?
TBC
Chap 2 updateee! Waahh, aku seneng banget lihat respon kalian semuaaaa..
Aku gak bakal nyangka kalo bakal banyak yg ngereview..
Karena ini aku lagi seneng, jadi aku update. padahal niatnya sih minggu depan :D Jadi karena aku updatenya sekarang, minggu depan enaknya aku update lagi apa enggak? Aku takut terlalu fast update, jadi minta pendapat kalian :)
Buat MissPark92, aku terhuraaa baca review kamuuu... mumumu:*
Demi kamu, aku janji bakal namatin ff ini. Okee?
Terus buat ohsiyeon94, pliss konyolnya didunia nyata aja, jangan di dunia per-ff an juga-,-
Oiya, sama jangan panggil thor ya, panggil aja Seyeo atau kalo nggak Sayang juga boleh /yakelah-.-modusluthor/
Okedeh, itu aja..
Jangan lupa review yaa... mumumu:*:*
Gomawooo...
