Chapter 2
Author : lee taisoo
Cast : broken!kaisoo, kaihan
Genre : angst/hurt, family
Rate : T
Desclaimer : kaisoo bukan punya saya, cerita ini punya saya
Warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca
ooo
my lifefor your happiness
hoek... hoek...
Terdengar suara dari arah kamar mandi sebuah apartment sederhana. Di dalam toilet, namja mungil pemilik apartement‒kyungsoo‒sedang mengeluarkan isi perutnya diatas sebuah wastafel. Bukan hanya makanan yang keluar dari mulutnya, tetapi juga ada darah disana. Ia membersihkan mulutnya. Ia berjalan tertatih dengan berpegangan pada dinding menuju kamarnya. Ia terus mencengkeram perutnya, berharap rasa sakit diperutnya akan berkurang jika ia mencengkeramnya.
brukk
Kyungsoo ambruk sebelum benar-benar sampai di tempat tidurnya. Ia menyeret tubuhnya ke arah meja nakas. Mengobrak-abrik isinya. Setelah ia menemukan apa yang ia cari‒yaitu obat‒ia segera meminum beberapa pil dan kapsul obat. Menelannya sekaligus tanpa bantuan air atau yang lainnya. Kyungsoo meringis, bergelung di atas lantai kamarnya yang dingin. Merasakan setiap rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Tak berapa lama, Kyungsoo mulai tenang dan terlihat memejamkan mata bulatnya, tertidur.
Sang surya mengutus sinarnya untuk menerobos tirai sebuah kamar. Membuat Kyungsoo sang penghuni kamar terusik tidurnya. ia mulai membuka mata doenya. mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk membiaskan utusan sang surya. Dengan malas ia beranjak menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.
Setelah selesai mencuci muka, ia menuju dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Setelah membuat semangkuk bubur, ia membawanya ke ruang tv, dan menyalakan tv untuk menikmati sarapannya sambil menonton kartun favoritnya-pororo. Usai merapikan peralatan makan, kyungsoo membereskan apartement yang ia tinggali seorang diri. Dan bersiap untuk pergi ke kampus.
Kyungsoo mematut dirinya di depan cermin, menata rambutnya yang perlahan mulai minipis. Ia tersenyum miris saat mendapati beberapa helai rambut di tangannya. Kyungsoo memakai kaos berwarna biru navy dengan tulisan wolf pada bagian dada, celana jeans hitam panjang, dan sebuah jaket berbahan levi's. Ia mengambil tas ransel di atas meja, lalu memakai sepatu. Kyungsoo segera mengunci apartment dan pergi menuju halte bus.
kyungsoo pov
Setelah bus berhenti di halte bus yang berada di depan kampus, aku segera turun. Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. 5 menit lagi kelasku akan dimulai. Aku memutuskan untuk berlari.
brukk
Tanpa sadar aku menabrak seseorang karena aku tak memperhatikan depan. Barang yang dibawa orang tersebut terjatuh, aku berjongkok untuk menolong memunguti barang-barangnya. Aku berdiri dan menyerahkan barang-barang miliknya. Aku agak terkejut melihat siapa pemilik barang tersebut. Ternyata itu Baekhyun sahabatku, eh ani, mantan sahabat, menurut Baekhyun. Ia menatapku datar, aku sedikit memberikan senyumku. Tetapi ia menarik barangnya kasar dari tanganku, lalu segera berlalu tanpa membalas senyumku. Aku menatap punggung Baekhyun nanar.
"hahh.." kuhela nafas. Aku teringat kelas yang sebentar lagi akan dimulai, dan kembali berlari ke arah kelas.
Jam kuliahku telah usai, aku segera pergi ke rumah sakit tempat Luhan hyung dirawat. Sebelum memasuki gedung rumah sakit, aku mampir ke toko bunga yang terletak di samping rumah sakit. Aku membeli seikat bunga lili putih. Di dekat ruangan Luhan hyung, aku mendengar dua parawat berbicara.
"pasien Luhan-sii, keadaannya semakin memburuk. Cepat carikan donor ginjal, bulan ini ia sudah harus mendapatkannya." kata salah satu perawat, yang hanya dibalas anggukan oleh perawat lainnya. Aku terdiam sebentar memikirkan perkataan perawat tersebut.
Aku sampai di depan ruang inap bernomor 215, yang kuketahui dihuni oleh Luhan hyung. Dari luar aku dapat melihat Kai yang menggenggam tangan Luhan hyung yang sedang terlelap. Aku berbalik dan duduk di kursi tunggu yang berada di dekat ruangan Luhan hyung.
Tak berapa lama aku melihat Kai keluar dari ruangan Luhan hyung. Aku bersembunyi di balik dinding yang terdapat di dekatku. Membiarkan Kai lewat tanpa menyadari kehadiranku. Setelah Kai menghilang di ujung koridor, aku segera keluar dari persembunyianku, lalu beranjak memasuki ruangan milik Luhan hyung.
Aku memasuki ruangan tersebut. Kulihat Luhan hyung terlelap dengan sangat tenang. Aku melangkah dengan berjinjit, agar tidak mengeluarkan suara yang membuat Luhan hyung terbangun. Kuhampiri meja nakas yang terletak di samping ranjang. Mengganti bunga yang telah layu dengan bunga yang aku bawa, lalu membuangnya. Aku menghadap Luhan hyung, Memperhatikan wajahnya yang terlihat sangat tenang, dengan beberapa selang terhubung ke tubuhnya.
"hyung, mianhae jeongmal mianhae. Tolong jaga Kai untukku. Selamat tinggal hyung." kataku tulus pada Luhan hyung yang sedang tertidur, lalu beranjak untuk meninggalkan ruangan saat aku merasa kepalaku sangat sakit.
"Kyungsoo~" aku berhenti saat mendengar suara lirih Luhan hyung menyebutkan namaku.
"kau mau kemana?" masih dengan sangat lirih, ia bertanya padaku.
"..." tanpa menoleh dan menjawab, aku segera keluar dari ruangan Luhan hyung. Aku berjalan di koridor dengan terhuyung. Rasa sakit di kepalaku semakin menjadi, ditambah sakit di perutku, aku mencengkram perutku erat. Kusandarkan tubuhku pada dinding, tubuhku merosot ke lantai saat kakiku sudah tidak kuat menahan tubuhku akibat rasa sakit yang menyerang beberapa bagian tubuhku. Kurasakan cairan merah pekat mengalir dari hidungku. Bau anyir segera menyerang penciumanku, dan aku mulai kehilangan kesadaran saat mendengar beberapa orang dengan khawatir menanyakan keadaanku, dan tubuhku diangkat ke atas sebuah ranjang. Setelah itu aku benar-benar pingsan.
kyungsoo pov end
kai pov
"mianhae hyung. Aku tidak dapat menolongmu. Ginjal kita tidak cocok" dokter baru saja selesai memeriksa Luhan hyung. Dan saat ini Luhan hyung tertidur akibat efek dari obat. Setelah memastikan Luhan hyung baik-baik saja ditinggal sendirian, aku keluar dari ruangan Luhan hyung untuk menebus obat-obatan milik Luhan hyung. Orang tua Luhan hyung sedang pulang untuk mengambil beberapa keperluan.
Selesai menebus obat-obatan, aku segera kembali ke ruangan, karna tidak ingin meninggalkan Luhan hyung sendirian terlalu lama. Di dekat kamar inap Luhan hyung, aku melihat beberapa perawat mengerumuni seseorang, lalu mengangkat orang tersebut ke atas katil berjalan dan pergi dengan terburu-buru.
"sudah bangun hyung?" kulihat Luhan hyung sudah membuka mata, saat aku memasuki kamar inapnya. Ia hanya mengangguk lemah, dengan sebuah senyuman.
"Apa ada yang baru berkunjung?" Kulihat bunga lili putih yang masih segar di atas meja nakas. Luhan hyung mengangguk.
"Nugu?"
"Kyungie." Jawab luhan hyung.
"Untuk apa lagi dia kesini? Apa dia berusaha menyakitimu? Sialan!" Emosiku tersulut saat mendengar nama kyungsoo. Entah mengapa, aku sangat membencinya.
"Cukup, kai! Dia tidak pernah menyakitiku. Berhenti membencinya!" Bentak luhan hyung keras, tak peduli keadaannya yg lemah.
"Jangan membelanya, hyung!" Aku masih belum meredakan emosiku.
"Keluar!" Bentak luhan hyung lagi.
"..."
"Keluarlah, kai. Aku ingin menenangkan diriku. Kau juga tenangkanlah dirimu." Luhan hyung melembut, menyuruhku keluar. Wajahnya memerah, dan matanya berkaca-kaca. Tak tega, aku menurutinya. Aku keluar dari ruangan luhan hyung, dan beralih menuju taman rumh sakit.
kai pov end
kyungsoo pov
Aku terbangun dan mendapati diriku terbaring di suatu ruagan yang di dominasi warna putih, dan bau obat-obatan yang menyengat. aku tau itu adalah ruang UGD rumah sakit, bukan kali ini saja aku terbangun di ruangan seperti ini. Selang infus dan oksigen tersambung ke tubuhku.
kriettt
Pintu terbuka, dan nampak seorang namja berwajah tampan dengan tinggi badan yang bisa dibilang diatas rata-rata. Ia menggunakan jas putih yang menunjukakan dia adalah seorang dokter. Ia mengahampiriku dengan seorang perawat di belakangnya.
"sudah sadar, eoh?" tanyanya, kemudian ia mulai memeriksaku. Aku hanya tersenyum lemah, membalas pertanyaannya. Ia telah selesai melakukan pekerjaannya. Perawat yang bersamanya sudah meninggalkan ruangan.
"gege sungguh khawatir, saat para perawat membawamu ke UGD, Kyung." ucapnya saat hanya tinggal kami berdua.
"mianhae, ge. Sudah membuatmu khawatir. Lihat! aku baik-baik saja kan? Kau tidak usah khawatir." kataku dengan nada yang kubuat ceria..
"..." ia terdiam.
"waeyo Kris ge?" tanyaku padanya, Kris gege.
"Kyungsoo, bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?"
"baik-baik saja hyung, hanya kebetulan saja kemarin aku pingsan." ucapku berbohong. Kris gege memicingkan matanya, menatapku.
"jangan berbohong Do Kyungsoo." katanya datar. Aku terdiam, aku tau jika Kris gege sudah memanggil namaku lengkap, itu tandanya ia sedang sangat serius.
"..."
"akhir-akhir ini aku sering merasakannya. Hampir setiap hari rasa sakit itu datang, dan aku sering muntah darah." jawabku akhirnya setelah beberapa waktu hening. Kutundukkan kepalaku. Kurasakan sepasang lengan kokoh menyentuhku, membawa tubuh mungilku kedalam pelukan hangatnya. Aku merasakan sesuatu yang hangat menyentuh puncak kepalaku. Kulepas pelukan Kris ge, dan kudongakkan kepalaku. Wajah tampan itu sudah memerah, dan beberapa butir kristal meleleh dari kedua matanya yang tajam. Tanganku kugerakkan untuk menghapusnya.
"Aku mohon." Ucap kris ge sambil sedikit terisak. Aku hanya diam, aku tau maksud Kris ge, kita sering membicarakannya.
.
.
.
TBC
Hahaha... TBC dengan tidak sopannya. Meskipun aku tidak mendapat cukup review, tapi aku tidak patah semangat. Hahaha. Tetep ngepost nggak peduli ada yang baca ato nggak. Hahaha /curhat/. Sori banget kalo banyak typo. Aku males ngedit. Hahaha /kebanyakan ketawa/
Terima kasih yang udah mau ngereview chapter sebelumnya /kirim cium satu2/
ChangChang : hehehe. Liat aja ini kaisoo apa bukan, aku sendiri bingung ini kaisoo apa enggak. Kalo buat ending aku gatau itu termasuk happy apa enggak. Tapi udah gabisa diubah, soalnya udah jadi
opikyung0113 : hehe. Nyesek yak? ini udah lanjut kyungsoo selalu bahagia kok /in real/
PandaPandaTaoris : satu satu ne? hehehe
Apakah aku boleh meminta review? Kkkkk~
