HOLY SHIT!

Pair: HunHan.

Main Cast: Oh Sehun, Oh Sehan, Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Kim Jongin, Kris-Wu Yi Fan, and other.

This is BoyXBoy, Yaoi, 1/2 GS, Fantasy, Humor, Romance.

Ret: M

Warning: Typo bertebaran dimana-mana, Bhs tidak baku, cerita gaje, OOC mengandung unsur yadong. Jika kalian masih dibawah umur atau tak suka dengan cerita ini silahkan close. DAN SATU LAGI, DISINI SEHUN SEME NOT UKE. WALAUPUN IA TERLAHIR MENJADI PRIA SETENGAH WANITA TAPI STATUSNYA SEME. DAN LUHAN AKAN JADI UKE.

Summary:

Nasip sial menimpa Sehun, pria yang terlahir menjadi pria harus dikutuk menjadi wanita. Sehun akan menjadi wanita kala matahari terbit dan kembali menjadi pria kala matahari terbenam. Dapatkah Sehun kembali menjadi sosok pria sejati dan mendapatkan pujaan hatinya? Ikuti kisahnya disini.

.

.

Sebelumnya saya ingin mengatakan jika ff saya ini pure dari pemikiran saya sendiri. Jika ada yang mirip anime bahkan sinetron pasaran yang sering ditonton saya tidak terinspirasi dari sana. Ide ini terlintas karena saya ingin membuat ff hunhan yang berbeda. Dimana Sehun menjadi cewek bukan Luhan aja yang jadi cewek mulu. Dan disini SEHUN TETAP MENJADI SANG DOMINAN BUKAN BOTTOM, DAN LUHAN TETAP UKE. JIKA TAK SUKA DENGAN FF INI SILAHKAN OUT/CLOSE. AND THIS IS YAOI. BOY X BOY.

.

.

Happy Reading. ^^

… … …

Cerita sebelumnya:

Karena asik melihat dan berjalan dikoridor sekolah ini, ia sampai menabrak seseorang.

"Jeosonghamnida." Ucap Luhan seraya membungkukan badannya.

Sosok yang ditabrak olehnya diam saja tak menyaut dirinya. Merasa aneh pada orang yang ditabraknya, Luhan mendongakkan wajahnya.

Deg.

.

.

.

Sehun terpaku melihat sosok yang ada dihadapannya ini. Tubuhnya seakan menegang, dan hatinya berdebar-debar.

Deg-deg, Deg-deg

Terus seperti itu. Tak ingin guncangan dadanya semakin kencang - dengan stay cool ia lewati sosok yang ada dihadapannya ini.

Namun baru 2 langkah ia berjalan, ia merasa tangannya ditarik oleh seseorang.

"Chogiyo... bisakah kau mengantarkanku ke ruang kepala sekolah?" Tanya Luhan lembut.

Gleg!

Sehun menelan ludahnya. Sosok yang tengah minta tolong ini, tak lain adalah orang yang menolongnya tadi malam. Dan mimpi apa ia sehingga dirinya dapat bertemu kembali dengannya.

"Hn." Balas Sehun dan ia hanya menganggukan kepala sekali.

Luhan merasa wanita yang ada dihadapannya ini terkesan dingin. Bahkan jika diperhatikan dengan baik-baik postur tubuh wanita yang ada dihadapannya ini jauh berbeda dengannya. Sosoknya lebih tinggi daripada dirinya.

Luhan merasa gagal menjadi seorang pria. Entah mengapa ia menyesal - dulu - ia jarang minum susu. Dan sekarang ia melihat wanita yang tingginya melebihi dirinya ia sangat malu sekali. Ditambah wanita yang ada dihadapannya ini terbilang cantik. Gayanya seperti tokoh anime dengan karakter kuudere, dimana sang tokoh memiliki gaya cool, gagah, misterius, dingin. Serta tatapan matanya tajam. Mendadak ia berpikir seandainya wanita ini menjadi pria pastilah sangat manly.

Ia berjalan dibelakang wanita yang menurutnya manly , Entah mengapa - mendadak ia merasa sungkan dengan wanita yang nantinya akan menjadi muridnya ini. Ia berharap wanita ini tidak akan merepotkannya.

Sehun mengantarkan Luhan sampai ke ruang kepala sekolah. Sosok mungil yang ada didepannya ini membungkukan badan dan berkata terimakasih pada Sehun. Tak lupa sebuah senyuman manis dilayangkan olehnya.

Melihat senyuman orang itu, Sehun hanya menganggukan kepala. Namun dilubuk hatinya tengah bersorak senang.

"Oh, kenalkan namaku Xi Luhan. Jika boleh tahu siapa namamu?" Tanya Luhan pada Sehun.

"Sehan, Oh Sehan." Balas Sehun. Tapi didalam hati Sehun kesal. Ia tak dapat memperkenalkan diri dengan nama aslinya.

"Oh Sehan. Hms.. nama yang bagus." Balas Luhan.

Namun Sehun hanya bisa tersenyum kecut pada Luhan.

… .… …

Luhan masuk ke ruang kepala sekolah. Ia menyerahkan proposal yang ia buat guna — untuk nendapatkan persetujuan dari sang pemimpin sekolah. Kepala Sekolah Lee Sooman menatap Luhan dari atas sampai bawah seakan pria paruh baya ini sedang menilai Luhan.

"Hms.. kau adalah mahasiswa dari Yonsei University bukan?" Tanya pria ini.

"Ne sajangnim. Saya mahasiswa Yonsei University, bagaimana sajangnim. Apakah Sajangnim mengizinkan saya magang disini selama 3 bulan?"

"Hms... melihat prestasimu di kampus, kau termasuk mahasiswa berprestasi. Dan aku putuskan kau bisa magang disini." Ucap Beliau.

Mendengar kata-kata sang kepala sekolah Luhan merasa senang. Akhirnya cita-citanya terwujud dan mulai besok lusa dirinya bisa mulai magang di tempat ini.

.

.

Luhan yang senang pada akhirnya laporan magangnya diterima memutuskan untuk merayakan dengan membeli bubbletea, minuman favorit keduanya setelah kopi.

"Aku memesan satu bubbeltea rasa taro." Pesannya.

Luhan iseng menatap sebelahnya yang sama-sama membeli bubbletea. Dan ia seakan tahu jika orang yang ada disebelahnya adalah Sehan.

"Sehan, kau Sehan kan?" Tanya Luhan.

Sehan/Sehun menoleh kearah Luhan. Seketika itu mata Sehun melotot, ia terkejut.

"Apa kau suka bubbletea juga?" Tanya Luhan sekali lagi.

"..." Angguk.

"Kau suka rasa cokelat ya?"

Angguk lagi.

Pesanan Luhan telah datang. Luhan segera mengambilnya.

"Apa kau mau duduk denganku?"

Diam sejenak, berpikir kemudian menganggukan kepala lagi.

Dan Luhan menggiring Sehan menuju meja dekat dengan kolam ikan koi.

"Kau tahu Sehan. Tempat ini adalah tempat favoritku. Aku selalu duduk disini. Mendengar gemericik air yang dihasilkan oleh air terjun mini yang ada disamping kita, serta terdapat ikan koi disana sungguh menyejukan. Terang Luhan.

Tapi Sehan/Sehun diam saja. Ia seakan bingung untuk berkata-kata.

"Aku perhatikan kau ini gadis yang pemalu dan pendiam ya?" Tanya Luhan.

"..."

Luhan seakan bingung. Sehan dari tadi diam saja, tanpa mengatakan apapun. Tapi entah mengapa wajah Sehan seakan tampak tak asing dimatanya. Ia seakan pernah bertemu, tapi dimana ya? Dan ia pun bingung.

"Hai Sehan, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Luhan.

Sehun yang mendengar pertanyaan Luhan sempat terkejut. Apakah Luhan sudah tahu, jika sosok semalam yang ia selamatkan itu adalah dirinya. Dirinya yang menjadi namja. Jangan, Luhan tidak boleh tahu jatidirinya.

"Anio, kita tidak pernah bertemu." Jawab Sehan dingin.

Dan Luhan hanya bisa beroh ria.

.

.

Es yang mereka minum telah habis. Dan hari tampak sudah sore. Sehan ingin mengantarkan Luhan pulang. Tapi melihat matarahari mulai tenggelam itu tidak akan bisa. Bisa-bisa Luhan akan pingsan dibuatnya.

"Sampa bertemu lagi Sehan... senang bertemu denganmu." Lambai Luhan. Dan Sehan pun hanya bisa membungkuk seadanya. Ia tidak ingin di cap sebagai orang lebay.

.

.

Malam menjemput, Luhan si baik harus rela pergi keapotik untuk menebus obat sahabatnya Lay. Lay sakit, dan tak ada yang merawatnya. Ia merasa kasihan pada sahabatnya itu yang memiliki fisik sangat lemah jika dibandingkan dirinya.

Dengan rasa solidaritas sebagai sahabat, Luhan mau menebus obat dari dokter yang memeriksa Lay tadi.

Luhan berjalan di jalan yang kebetulan sepi. Entah mengapa ia merasakan sedari tadi ada seseorang yang mengikutinya. Ia berbalik badan dan dilihatnya tak ada siapapun.

Dan

Greb! Seseorang menyekepnya. Ia mencoba berteriak tapi tangan seorang preman mendekapnya.

"Berikan barang-barangmu sekarang!" Bentaknya.

Luhan tidak ingin memberikan uangnya pada preman-preman ini. Dengan keberanian ia meninju perut preman yang membekapnya itu dengan sikunya. Ia juga membanting preman tadi.

"Kurang ajar dia! Berani juga ternyata, Serang!" Mereka pun mengeluarkan senjata mereka. Ada pisau lipat yang siap untuk melukai tubuh Luhan.

Dengan tenang dan fokus ia memulai ancang-ancang. Luhan memasang kuda-kuda dan tangannya membentuk sebuah jurus seperti wusyu.

"Bug!"

"Brak"

"Bug!"

Tendang hajar, pukul banting ia layangkan pada preman itu.

Luhan tampak terengah-engah menghajar sang preman yang ingin memalaknya. Namun Luhan sedikit lengah, ada salah satu preman yang diam-diam mengendap-endap dari belakang hendak memukul kepala Luhan dengan tongkat besi. Dan...

"Brak!"

"Klek!"

"Bug!"

Luhan berbalik dan melihat seorang preman tengah dihajar oleh seorang pria berperawakan tinggi, dan juga tampan.

Dan setalah itu seluruh preman yang ada disana lari tunggang langgang melarikan diri. Mereka semua menyerah dari hadapan Luhan.

"Kau tidak apa-apa." Tanya sosok tersebut, dan Luhan menyadari jika sosok yang ada dihadapannya ini adalah pria yang semalam mabuk itu, dan ia yang telah menampungnya.

"Kau! Pria mabuk itu?!"

"Hn."

Mendengar gumaman dari sosok ini ia jadi teringat Sehan. Entah mengapa, Sehan dan sosok pria yang ada dihadapannya ini memiliki aura yang sama.

"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Luhan menyelidik.

"Oh maaf, kebetulan aku lewat sini. Dan aku mendengar suara keributan. Instingku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Makanya aku kemari." Terangnya.

"Oh begitu.. terimakasih banyak. Mungkin jika kau tidak datang aku pasti sudah terkapar. Kamsahamnida.." Balas Luhan seraya tersenyum.

"Perkenalkan namaku Luhan, Xi Luhan.

"Odult Sehun." Balas Sehun.

"Odult, jadi odult itu namamu?" Tanya Luhan memastikan.

"Aku tidak bisa bilang sekarang. Tapi kau bisa memanggilku dua nama tesebut."

"Hms.. jika begitu, kupanggil kau Sehun saja. Itu jauh lebih akrab." Ungkap Luhan.

Karena tak ingin Luhan kenapa- napa. Sehun mengajak Luhan naik kedalam mobilnya, awalnya Luhan tidak mau. Ia masih menganggap Sehun orang asing.

"Apa kau masih tidak percaya padaku?"

"Itu wajar, kau orang asing." Jawab Luhan.

"Jika aku orang jahat, aku sudah menculikmu ataupun membunuhmu dirumahmu. Dan aku tidak akan membuatkan sarapan untukmu, kajja masuk." Perintah Sehun.

Luhan berpikir sejenak, ia mencerna ucapan Sehun. Apa yang dikatakan pemuda ini benar.

Pada akhirnya ia masuk kedalam mobil mahal Sehun. (Catatan, baru Luhan saja yang boleh masuk kedalam mobil Sehun. Selama ini Sehun tidak mengizinkan siapapun memakai ataupun menumpang didalam mobilnya)

.

"Kau mau kemana sebenarnya?" Tanya Sehun yang sedang fokus mengemudi.

"Keapotik, temanku sedang sakit. Dan aku membantunya menebus obat. Aku juga membantu menjaga serta merawatnya."

"Tampaknya kau sangat perhatian sekali ya.. apakah temanmu itu orang yang kau sukai?" Tanya Sehun, namun ada rasa was-was dalam dirinya. Ia takut jika sosok yang duduk disebelahnya ini sudah memiliki kekasih.

"Tidak, kami hanya bersahabat." Balas Luhan.

Dan Sehun tersenyum atas jawaban Luhan. Tapi sayang Luhan tidak melihatnya.

.

.

"Gomawo Sehun-ssi, kau sudah menemaniku membeli obat untuk sahabatku. Apa kau ingin mampir?"

"Ah tidak. Kapan-kapan saja. Masuklah kedalam. Cuaca diluar dingin."

Luhan mengerti, ia pun mengucapkan kata terimakasih sekali lagi, kemudian masuk ke dalam kos-kosannya. (Lay/Yixing satu kos-kosan dengan Luhan tapi berbeda kamar).

Setelah Luhan masuk kedalam kos-kosan, Sehun tersenyum senang "Akhirnya aku bisa memperkenalkan diriku yang asli." Batin Sehun.

.

.

.

.

Lusa pun tiba, sesuai janji dan kesepakatan. Luhan hari ini akan mulai magang. Dengan kemeja berwarna soft serta celana panjang dan sepatu kulit hitam yang telah ia semir. Ia pun bersiap-siap berangkat.

Seperti sebelum-sebelumnya, ia harus menaiki bis untuk tiba ditempat tujuan.

.

.

At EXO SHS.

Seperti yang sudah -sudah Luhan berjalan dikoridor hendak keruangan guru. Karena ini adalah hari pertama magang. Ia akan memperkenalkan diri.

Sesuai jurusannya, Luhan akan mengajarkan pelajaran kesenian khususnya musik.

Ia masih menyusuri koridor sekolah ini, tapi ia merasa banyak mata yang memandanginya. Ia pikir karena ia tampak asing dimata mereka. Namun semua itu salah, kala ia mendengar kasak-kusuk seseorang membicarakannya.

"Aku dengar dia guru magang yang berhasil lolos dari tinju maut Oh Sehan."

"Ia, aku dengar juga begitu. Jika guru itu pernah menabrak Oh Sehan, tapi Sehan dengan biasa saja, tidak menghajar guru itu."

"Apa karena dia guru, jadi Sehan tidak berani macam-macam?"

"Kau lupa, jika sekolah ini salah satu bagian dari Oh Corp. Bahkan kepala sekolah disini masih ada hubungan kerabat dengan Sehan. Kau tak ingat, Oh Sehan pernah mengamuk kala guru kita Park Dae Bong memberikan Sehan nilai C. Padahal Sehan yakin jika ia mampu mengerjakannya. Bahkan karena keteledorannya dalam memberikan nilai, alhasil Park Dae Bong Saem dipecat."

"Bisik-bisik."

Mendengar bisik-bisik antara siswa disana Luhan seakan tidak peduli. Niatnya kemari untuk magang dan ia akan berkerja sebaik mungkin demi mendapatkan nilai yang baik pula, serta cepat-cepat menyelesaikam studynya.

.

.

"Hai Hun. Hari ini tumben, kau tidak menghajar seseorang. Hahahaha..." Goda Chanyeol.

"Diam kau zugor. Aku sedang tidak mood menghajar seseorang." Balas Sehun yang sedang Mode on Sehan.

"Hahaha... mungkin saja pria-pria disana takut padamu Hun.. kau bagai preman sekolah. Hahaha..." Godanya sekali lagi.

Sehun menatap Chanyeol tajam. "Diam atau ku sumpal mulutnu dengan sepatu." Kesal Sehun.

"Iya, iya... santai kawan... aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong aku dengar ada guru magang disini. Dia mahasiswa dari Yongsai Univercity. Kira-kira seperti apa ya rupanya?"

"Jangan-jangan rupanya seperti wajah-wajah orang culun." Saut Jongin yang baru masuk kedalam kelas.

"Hahahaha... benar sekali kau kkamjong.. hahaha.." Tawa Chanyeol.

-_-"

"Tertawa, tertawa. Tapi jangan menghina dasar gorila." Balas Jongin tidak terima.

"Yak! Aku bukan gorila!" Sewot Chanyeol.

"Kalau kau bukan gorila lalu apa? Zugor..." Ledek Jongin lagi.

-_-"

"Sudah kalian berdua duduk. Kalian berisik sekali." Perintah Sehun. Dan kali ini dua orang yang tengah saling menyejek akhirnya duduk.

.

.

Bel masuk pun berbunyi. Dan inilah saatnya Luhan untuk mengajar. Luhan berjalan dikoridor sekolah ini, kelas yang ia akan masuki adalah kelas XII sains A.

Dimana dikelas itu adalah katalah kelas elit, ditambah kelas angker menutur para siswa dan guru. Banyak dari mereka menyerah mengajar dikelas itu.

Tapi Luhan merasa tertantang, seperti apa gaya mereka, ya? Anak-anak yang masih meminta pada orangtua namun lagaknya sombong sekali. Mereka hanya beruntung terlahir dikeluarga kaya.

"Grekkkk..."

Bunyi pintu ruang kelas terbuka. Dan semua murid kelas ini menatap kearah Luhan. Luhan berjalan dengan PD, ia meletakkan buku yang akan ia bahas dikelas ini.

"Annyeonghaseo..." Sapanya pada murid-murid dikelas ini.

"…"

Tidak ada yang membalasnya. Dan setelah beberapa menit, ada dari salah satu mereka berkata "Seosaengnim, kau ini namja or yeoja?! Kau tak layak memakai celana.. pantasnya kau memakai rok.. huhuhu..."

Jujur saja Luhan jengkel atas perkataan salah satu muridnya itu. Rasa-rasanya ingin ia menghajar orang itu dengan tangannya.

"Ehem-ehem, memang banyak orang yang mengatakan aku cantik. Tapi sekali saya tegaskan SAYA ADALAH LAKI-LAKI DAN SAYA INI MANLY! BRAK!" Luhan kesal lalu menggebrak meja. "KAU!" Tunjuknya ke arah siswa yang tadi menghinanya. "KAU, SEKALI LAGI KAU MENGATAKAN HAL ITU, TIDAK SEGAN-SEGAN AKU MENGURANGI NILAIMU." Ancam Luhan dengan mata berkilat marah.

Sehun yang dari tadi memperhatikan Luhan dalam wujud Sehan tersenyum dalam hati. 'Boleh juga dia, menarik.' Batinnya.

Acara perkenalannya sudah selasai. Luhan memperkenalkan dirinya di depan kelas, ternyata Luhan adalah guru magang. Ia akan mengajar selama 3 bulan. Setelah sesi perkenalannya dilanjut ke pelajaran.

Sehun tidak mendengarkan apa yang Luhan terangkan. Dengan IQ diatas rata-rata sesungguhnya ia telah mengusai materi yang Luhan ajarkan. Ia hanya menatap paras ayu Luhan. Sungguh jika ia tak terjebak ditubuh laknat ini, ia akan menarik Luhan dan memperkosa namja itu. Karna gerak bibir tipis nan sensual Luhan membangkitkan hormonnya. Sehun gelisah lalu membasahi bibirnya. Baru pertama kali ini ia merasakannya. Padahal sebelumnya tidak pernah ini terjadi.

Luhan yang tengah menerangkan sejurus kemudian menatap Sehan yang tampak kurang sehat. Wajah gadis manly itu memerah, walaupun dia tampak tenang, tapi ada kesan nyamannya.

"Kau tak apa Sehan..." Tanya Luhan yang tiba-tiba menghampiri Sehan. Lagi-lagi tak ada respon dari yeoja ini. Yang ada tatapan menusuk yang tengah Sehan lontarkan pada Luhan.

"Kau berkeringat, lebih baik kau ke ruang kesehatan saja?" Saran Luhan sekali lagi tapi masih tak ditanggapi oleh Sehan. Yeoja ini hanya diam saja.

"Seongsaengnim lebih baik saya saja yang mengantar Sehan keruang kesehatan..." Pinta Chanyeol tiba-tiba.

"Ne, saya juga Seongsaengnim." Kali ini Jongin menyaut.

Luhan menatap kedua pemuda tampan yang adalah muridnya, ia pun melongo, pasalnya kedua namja yang ada dihadapannya ini seakan tengah merebutkan Sehan. "Baiklah, kalian berdua boleh menemani Sehan." Ujar Luhan. Dan kedua orang itu lalu menyeret Sehan keluar.

Setelah sampai diluar Sehan menatap kedua sahabatnya sengak. "Apa-apaan kalian ini, menyeretku seperti hewan saja. Aku tidak sakit bodoh!" Kesal Sehun yang sedang modeon Sehan.

"Tapi kau aneh Sehun. Kau tampak seperti... terangsang." Ujar Jongin berbisik ditelinga Sehun.

"Pletak!" Sehun menjitak kepala Jongin.

"Jaga ucapanmu HITAM. AKU TIDAK SEPERTI ITU." Sengit Sehan dingin dan ia berjalan menjauh dari dua idiot dihadapannya.

Sehun menutuskan untuk keatap saja. Disana ia dapat menatap awan yang ia sukai dan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulitnya.

Jam telah menunjukan saatnya istirahat. Ia malas melangkahkan kakinya untuk turun dan menuju ke kantin.

Krucuk-krucuk-krucuk.

Memalukan, perut Sehan berbunyi dan itu tandanya dia lapar. Mau tak mau dia harus turun, membeli makan.

"Kau disini ternyata." Sebuah suara yang akhir-akhir ini menggangu pikirannya terdengar. Sehan menolehkan kepalanya kesumber suara dan benar saja, ia melihat guru magangnya tengah berdiri di depan pintu atap.

"…"

Lagi-lagi keheningan yang diterima oleh Luhan. Tampaknya siswinya ini sungguh bisu. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

"Apa kau ini bisu? Kau tidak bisa bicara?"

"…"

Diam, tapi Sehan maju mendekati sang guru magang itu. Tap-tap-tap-tap langkah kaki Sehan semakin mendekat dan Luhan memundurkan langkahnya. Aura Sehan, sungguh kuat, sampai-sampai tubuh Luhan seakan membeku. Sorot matanya tajam, alisnya tebal, dan dagunya begitu lancip. Entah mengapa aura ini, Luhan pernah merasakan sebelumnya. Tapi ia masih samar dalam mengingat.

Tap!

Luhan terpojok, dan saat ini dia terhimpit dipintu. Sial! Batinnya.

"Permisi Seongsaengmin, aku mau lewat. Tak tahu kah kau, jika ini jam istirahat dan siswimu ini tengah lapar, satu hal lagi. Aku tidak bisu." Ucap Sehan datar. Sedangkan Luhan cengo dibuatnya. Ia dengan canggung menggeser tubuhnya. Dan Sehan membuka pintu itu lalu pergi dari sana. Meninggalkan Luhan yang tengah menatapnya tak percaya. Benar-benar siswinya ini, sungguh aneh. Namun entah mengapa ia menyukai sikap Sehan yang terkasan dingin, cool dan manly itu.

.

.

.

.

Luhan merengut kala dengan seenaknya Sehun datang ke kos-kosannya. Bahkan pemuda misterius ini membawakan sekotak pizza besar kepadanya. Kebetulan ada Yixing disana, Yixing yang suka ngemil, bahkan dia suka sekali mengambil stock makanan yang ia simpan dilemari dapur. Kali ini dimanjakan oleh Sehun dengan membawa sekotak pizza ukuran jumbo.

"Hai Hun, untuk apa kau repot-repot kemari..." Tanya Luhan curiga.

"Aku hanya kebetulan lewat saja, dan sekalian mampir kemari, apa kau keberatan?" Jawabnya.

"Anio, kau jangan merasa berhutang budi padaku.. kau kan kemarin telah menyelamatkanku.. jadi kita impas." Balas Luhan lagi.

"Ani Lu.. aku ingin menjadi temanmu.. apakah itu tidak boleh?" Tanyanya dengan wajah polos. Berbanding terbalik dengan sikapnya kala menjadi Sehan ataupun dihadapan sahabatnya.

"B-bu-bukan seperti itu.. tapi pemberianmu ini terlalu berlebihan untuk kami..." Tutur Luhan sekali lagi.

"Hah! Lupakan. Kau sekarang adalah temanku. Dan ingat, aku tidak menerima penolakan!" Ancam Sehun.

Luhan diam, sedangkan Yixing sedari tadi telah memakan pizza yang dibawakan oleh Sehun. "Makan saja Han, anggap saja ini rejeki, tak baik menolak pemberian dari orang. Ini enak Han.. bukankah kau ingin pizza Han.. lihat pangeranmu telah membawakannya." Ucap Yixing sambil asik memakan pizza itu.

"Yak! Yak! Apa yang kau katakan, hei! Jangan kau habiskan semuanya! Sisakan untukku...yak! Yak! Yak!" Tegur Luhan dan Yixing dengan polosnya berkata. "Kau tidak mau kan.. jika tidak mau untukku saja. Kebetulan aku lapar Han..." Luhan melotot sambil merebut pizza, menjauhkan dari Yixing. "ENAK SAJA, INI MILIKKU! SEHUN MEMBELIKANNYA UNTUKKU, BUKAN UNTUKMU, TAHU!" Sewot Luhan.

"Sudahlah Lu.. jika kau ingin lagi, aku bisa memesankannya untukmu?" Tawar Sehun.

"Tidak! Ini pemberian perdana darimu. Dan aku harus mencobanya." Entah mengapa Sehun tersenyum mendengar ucapan Luhan. Memang, untuk pertama kalinya Sehun memberikan sesuatu kepadanya.

Dan pada akhirnya merekapun makan bersama.

.

Kali ini tinggallah Sehun dengan Luhan di tempat kos Luhan, Yixing sudah pamit pulang setelah makan dan kenyang. Dasar sahabat yang baik. Setelah Yixing pergi suasana tampak canggung, tak ada yang memulai pembicaraan, Sehun yang aslinya pendiam tapi jika berada di dekat Luhan, ia pun mau berbicara terlebih dahulu.

"Kau masih kuliah atau sudah bekerja?" Tanya Sehun basa-basi guna mengurangi rasa canggung.

"Aku masih kuliah, dan saat ini aku tengah magang di salah satu sekolah." Jawab Luhan.

Sejujurnya Sehun sudah tahu jika Luhan adalah salah satu mahasiswa di universitas terkenal yang ada di Seoul. "Sedangkan kau, kau ini kuliah atau bekerja?" Kali ini giliran Luhan yang bertanya.

"Menurutmu?"

Luhan mengangkat satu alisnya, tak mengerti apa yang Sehun katakan. Mengapa ia disuruh menebak? Dasar pria yang tengah duduk disampingnya ini sungguh menyebalkan.

"Yak! Katakan, aku sudah mengatakan tentang diriku padamu, tapi mengapa kau main rahasia segala!" Kesal Luhan sambil memukul lengan Sehun.

"Appo! Kau ini sungguh sadis ya.. main pukul saja." Rengek Sehun sambil mengelus lengannya yang dipukul oleh Luhan.

"Rasakan! Itu balasan karna kau telah curang!"

"Jika aku katakan kau pasti akan terkejut. Biarlah saja ini tetap jadi rahasiaku, kelak kau akan tahu. Hehehe..." Cengir Sehun. Dan Luhan hanya bisa memutar bola matanya malas, pasalnya ia jengkel dengan Sehun pemuda yang sangat misterius ini. Kedatangannya bagai jelangkung datang tak diundang pulang tak diantar.

Karna waktu dirasa cukup, Sehun pamit undur diri dan Luhan mengantar sampai pintu. "Terimakasih atas pizzanya, Yixing sangat menyukainya." Kata Luhan, Sehun tersenyum kearah Luhan dan mengatakan "Sama-sama, senang berbagi dengan kalian." Dan Luhan membalas dengan senyuman pula. Melihat senyum manis Luhan, dan pesona wajah namja mungil ini, sesungguhnya ia tak ingin beranjak dari sini. Ia ingin menginap, tapi itu tidak mungkin, karena jika Luhan sampai tahu wujud wanitanya itu sangat memalukan.

"Baiklah aku pergi dulu, jaljayo Xiao Lu." Ucap Sehun sambil mengelus surai Luhan sambil tersenyum.

Melihat senyum manis Sehun dan belaian lembut tangan Sehun di kepalanya membuatnya merona.

"Hms." Hanya deheman yang keluar dari mulut Luhan, itu untuk menutupi rona merah yang ada dipipinya dan setalah itu Sehun keluar dari tempatnya.

"Tampaknya pemuda itu menyukaimu Lu." Terdengar suara dari Yixing, Luhan langsung menengok kesumber suara. Ternyata Yixing telah menyembulkan wajahnya di pintu kosnya.

"Hah, bicara apa kau! Tidak! Pemuda itu tidak mungkin menyukaiku, jika benar aku tidak bisa menyukainya. Kau tahu kan jika aku sudah menyukai seseorang Yixing-ah..."

"Ya aku tahu, tapi cintamu padanya bertepuk sebelah tangan, kalau aku jadi kau. Aku akan menyerah dan akan membuka hatiku pada oranglain. Percuma kau menjaga hatimu."

"Bagaimana aku bisa menyukainya, jika pemuda itu sungguh misterius. Aku sungguh tidak tahu siapa dia." Terang Luhan.

"Ya.. terserah kau saja, aku sudah mengantuk, bye.. aku tidur dulu jaljayo Lu.." Dan Yixing kembali menutup pintu kosnya. Sedangkan Luhan mencibir kearah pintu kos Yixing karna pemilik kamar telah menutup pintunya.

.

.

Setelah Sehun pergi dari tempat Luhan, ia menuju ke night club, dimana Kai, Chanyeol disana. Begitu masuk, banyak pasang mata memandanginya, ia tahu jika ia tampan dan digandrungi oleh banyak orang.

Setelah menemukan kedua sahabatnya, ia mendudukan diri di sofa yang ada disana. "Hai Hun, tumben sekali kau terlambat. Apakah kau sudah punya gebetan eoh.." Goda Jongin sambil meminum-minuman beralkohol itu.

Sehun hanya bersmirk ria. Melihat sahabatnya bersmirk ria Jongin menawarkan minuman kearah Sehun. Sehun menerimanya dan ia menenggaknya. "Hn, dia sangat indah. Aku akan membuatnya menjadi milikku." Dan Sehun kembali bersmirk.

"Wow! DAEBAK! Sahabatku telah dewasa." Kali ini Chanyeol yang berkata.

"Ayo kita rayakan ini dengan minum-minum sampai mabuk!" Tawar Chanyeol. Namun Sehun segera menolaknya, pasalnya kejadian yang memalukan itu masih membekas. Ia tak ingin terkapar ditengah jalan, dan karna kejadian itu ia tak mau lagi, dan ia memutuskan untuk pergi, sebelum pergi ia mengambil rokok yang ada ditangan Chanyeol sambil menghisapnya, lalu mengebulkannya dan pergi dari sana dengan penuh kepongahan.

.

.

.

.

Hari ini pelajaran diadakan diruang musik. Luhan menyuruh semua muridnya memainkan alat musik yang muridnya sukai dan ia membentuk sebuah kelompok dimana para kelompok itu nanti akan membawakan sebuah lagu dan Luhan akan menilai mereka.

Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok Sehan terdiri dari Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun, dan Jongin. Karena itu sudah paten di kelas ini. 5 sekawan dimana Sehan adalah wanita seorang diri. Tapi jangan salah, walaupun Sehan wanita tapi dia adalah pemimpin dari kelompok itu.

Chanyeol dan Kai memainkan gitar sedangkan Sehun memilih memainkan piano. Baekhyun dan Kyungsoo menyanyi dimana Baekhyun suara 1 dan Kyungsoo suara 2, Tapi tetap semuanya menyanyi hanya saja setiap bagian berbeda-beda porsinya. Dan BaekDo mendapatkan porsi yang lebih banyak dari mereka bertiga.

Kelompok Sehun mendapatkan no 5. Dan mereka dengan sabar menunggu. Pandangan Sehan/Sehun tertuju pada Luhan. Ia ingin hari cepat-cepat malam karna malam hari ia bisa bebas mendekati Luhannya. Disekolah ini pergerakan Sehun tidak bebas, ia tak dapat mendekati gurunya ini. Dan lagi ia tak mungkin mendekati sang guru jika berpenampilan yeoja seperti ini, bisa hancur imajenya. Karna ia itu sang dominan, bukan submisif — pihak yang dibawah. Hell No! Itu tidak akan pernah terjadi.

.

Kali ini kelompok Sehun dipanggil oleh Luhan, kelompok mereka akan menyanyikan lagu Sing For You lagu yang lagi ngehit seantero dunia. Dibawakan oleh boyband yang tengah naik daun. Personil terdiri dari 9 anggota, tapi naas 3 telah keluar.

Sebelum mereka tampil, mereka mengecek apakah alat musik mereka telah sip atau belum dan setelah sip mereka pun menyanyi.

[D.O.] nae nalkeun gitareul deureo haji motan gobaegeul

hogeun gojipseure samkin iyagireul

[Chanyeol] norae hana mandeun cheok jigeum malharyeo haeyo

geunyang deureoyo I'll sing for you

[Baekhyun] neomu saranghajiman saranghanda mal an hae

eosaekhae jajonsim heorak an hae

Para audience terpukau dengan suara mereka, ditambah suara pembuka Kyungsoo sungguh empuk ditelinga. Petikan gitar Chanyeol dan Kai yang mengalun indah, ditambah melodi suara piano yang dimainkan oleh Sehan sangat syahdu.

[Sehan] geunyang hanbeon deutgo useoyo

Heboh, semua heboh kala Sehan menyanyikan partnya. Walaupun hanya sedikit sekali tapi suara kecil nan merdu Sehan mampu membuat semuanya terpana.

Sedangkan Luhan ikut terhanyut dalam alunan musik dan nyanyian dari kelompok Sehan.

.

Tepukan tangan diberikan oleh mereka untuk kelompok Sehan, mungkin jika mereka mendaftarkan diri menjadi artis pastinya akan langsung diterima. Apa yang kurang dari mereka. Bakat oke, penampilan trendy, wajah tak usah diragukan benar-benar sempurna.

"Baik, kalian semua bisa kembali ketempat kalian." Kata Luhan, dan mereka akhirnya berjalan menuju tempat semula.

Tak terasa jam pulang sekolah berakhir. Dan pelajaran musik hari ini adalah penutup dari pelajaran yang telah mereka lalui hari ini. Semua siswa telah beranjak pergi dari ruang musik kecuali Luhan dan Sehan, sosok yeoja yang misterius dan pendiam diantara siswi yang lainnya.

"Kau belum pulang Sehan?" Tanya Luhan padanya.

"…"

Lagi-lagi keheningan yang Luhan dapatkan.

"Apa kau hanya mau bicara pada sahabatmu saja?" Sehan menatap Luhan namun mulutnya masih diam membisu.

"Hah... baiklah, tapi aku beritahu satu hal padamu, aku suka suaramu itu Sehan, suaramu benar-benar bagus. Banyak-banyaklah bicara. Itu jika kau mau." Ucap Luhan, sambil menepuk bahu Sehan tak lupa senyum manis ia layangkan pada siswinya itu. Luhan beranjak dari sana, tapi Sehan tersenyum dibalik punggung sempit Luhan, dan sayangnya Luhan tak melihat jika Sehan tersenyum.

.

.

Matahari telah tenggelam, kali ini Sehun telah kembali ke wujud aslinya—Sehun. Ia telah berganti pakaian namja, berjalan keluar, menuju mobilnya.

Tap, tap, tap, tap.

Langkah kakinya ia bawa menuju dimana kekasih keduanya yaitu mobil kesayangannya berada. Ia buang tas sekolahnya disamping kemudi, masuk kedalam mobil lalu menggas mobil itu menuju rumahnya. Baru beberapa meter dari sekolah, lebih tepatnya dihalte bis, tempat dimana Luhan suka menunggu bis ia melihat Luhan masuk kedalam mobil yang Sehun tahu itu tak mahal, setara dengan mobilnya. Dan tadi ia sempat melihat jika Luhan tersenyum dan ia tampak bahagia sekali. Tanpa ragu Sehun mengikuti mobil yang membawa Luhan.

Setelah diikuti ternyata Luhan masuk kedalam restoran yang Sehun tahu jika restoran ini mahal. Sehun sungguh jengkel, Luhan dirangkul oleh sosok tinggi, botak (tidak benar-benar botak sih... masih ada rambut tipisnya) Dan Luhan tampak nyaman serta bahagia bersama pria tiang listrik yang botak.

Sehun menatap dari sebarang jalan, dan pas sekali, mereka duduk didekat kaca sehingga ia bisa mengawasi Luhan. Sehun bertanya-tanya, "Siapa pria itu? Apakah Luhan telah memiliki kekasih? Tidak! Luhan harus menjadi milikku harus. Dan batas waktuku tak lama. LUHAN HARUS JADI MILIKKU, HARUS!" Ucap Sehun sambil mencengkram kemudi.

.

.

Sehun merasa jengkel dengan orangtuanya yang menyuruhnya untuk pergi bersama malam ini.

"Appa, eomma. Kalian ini kenapa? Tak biasanya kalian seperti ini."

"Sudah pokoknya kau ikut saja, ini demi masa depanmu juga. Tidak usah protes." Ucap eommanya.

"Iya Sehun, sudah kau ikut saja. Nanti kau akan tahu sendiri." Saut Appanya dan Sehun hanya—berpenasaran ria.

"Kalian tak bermaksud menjodohkanku, kan?" Selidik Sehun dengan muka curiga.

"Pletak!"

"Bicara apa kau anak kurang ajar, Lihat pakaian kami, begitu santai. Tidak ada gaun dan juga jas. Jika kami ingin menjodohkanmu, kami akan berpikir 1000 kali karna gendermu itu masih diragukan!" Bentak eommanya Sehun sekali lagi dan ia memasang wajah datar karna eommnya meragukan gendernya.

"Ini juga salah eomma! Jika eomma dulu tidak menghina pengemis itu, mungkin aku sudah menjadi pria tulen!" Balas Sehun, sang eomma melototi putranya, putranya ini berani benar membentaknya.

"Sudah-sudah, kalian ini jangan bertengkar. Yang sudah lewat biarkan lewat, tidak ada gunanya jika mengungkit-ungkitnya lagi, toh sudah kejadian. Sehun ikut saja dengan kami dan nanti kau akan tahu sendiri." Lerai sang Appa. Dan keduanya pun diam.

.

Keluarga Oh telah memasuki pekarangan yang katakanlah suram. Banyak ukiran tengkorak di pagar bercat hitam ini.

"Appa eomma.. kalian yakin mengajakku kemari?" Tanya Sehun ragu.

"Ne, katanya ini tempatnya. Namanyajuga paranormal, ya suka aneh-aneh begitu.." Jawab eomma Sehun.

"Sudahlah kita coba masuk saja." Ajak Tuan Oh.

Tuan Oh turun ingin membuka gerbangnya tapi gerbangnya malah terbuka sendiri, mereka terhenyak, tapi karna keluarga Oh bermuka datar—sedatar triplek, dengan mudah mereka mengendalikan mimik wajahnya. Tuan Oh kembali masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya masuk kedalam rumah yang terkesan angker ini.

sekarang mereka duduk dihadapan paranormal yang akan mengubah nasip Sehun.

Sehun merasa risi dengan penampilan paranormal dihadapannya ini, rambut panjang keriting, terkesan kumal, lepek. Ia yakin jika orang ini jarang mandi sampai-sampai rambutnya gimbal seperti itu.

Didapan paranormal terdapat bola kristal khas peramal pada umumnya. Dengan mulut komat-komit, bak dubur silit ayam mulutnya komat-kamit tidak jelas. Sesekali air liurnya muncat mengenai wajah mereka dengan jijik dan risi mereka menyekanya.

"Hms... berat-berat..." kata paranornal ini terkesal abnormal.

"Ada apa? Apakah anak saya tidak bisa kembali normal?" Tanya Hyejin selaku ibu Sehun.

Paranormal ini terdiam sambil menyisir jangkut panjangnya yang sama sama gimbalnya dengan rambutnya.

"Ada satu, tapi jika gagal akan berakibat fatal." Katanya sambil terus menyisir jenggot gimbalnya.

"Apa itu." Kali ini Sehun yang bertanya.

"Anak muda berapa usiamu?"

"Usiaku 18 tahun."

"Hms... 18 tahun... hms... sudah dikatakan dewasa. Ada satu syarat kau dapat kembali menjadi laki-laki dan itu kau harus..." Potong si paranormal.

"Harus apa?" Tanya Keluarga Oh serentak.

"Harus berhubungan intim dengan cintanya. Lebih tepatnya cinta sejatinya." Ujar paranormal itu serius, dan adegan sisir menyisir jenggot dihentikan.

"MWO!"

Mereka semua berteriak dan mengakibatkan hujan rintik-rintik dimuka paranormal. Pembalasan atas apa yang dilakukan paranormal tadi kepada mereka.

"Gila! Bagimana mungkin anakku melakukam hal itu?!" Geram Oh Seungjoo.

"Aku kan sudah mengatakan berat. Syarat ini sungguh berat. Jangka waktunya adalah saat bulan purnama tiba dan sebentar lagi adalah bulan purnama. Jika dihitung tinggal 3 bulan lagi dari sekarang. Tapi tenang... anak anda dapat menemukan cintanya dengan kalung ini. Liontin kalung ini awalnya hitam namun akan berubah warna menjadi putih apabila kau telah menemukan orang yang harus... ehem-ehem, siapa namamu Nak?"

"Sehun."

"Oiya Sehun, kau harus membuatnya jatuh cinta padamu dan jangan lupa kau harus menidurinya. Jika tidak kau tidak menidurinya kau akan menjadi setengah wanita dan setengah pria, SELAMANYA." Terang paranormal ini.

"Apa tidak ada yang lainnya selain menidurinya?" Tanya Tuan Oh, kurang menerima.

"Tidak ada!" Jawab paranormal itu tegas.

.

.

Dan begitulah ceritanya, mengapa Sehun dengan gencarnya mengejar Luhan. Karna setelah pulang dari rumah Luhan kalung yang Sehun kenakan berubah warna menjadi putih. Awalnya Sehun ragu jika Luhan adalah cintanya. Dan berkali-kali ia membuktikannya kalung ini akan bereaksi jika didekat Luhan. Kalung dengan permata hitam akan bersinar dan berubah warna menjadi putih.

.

Sehun pulang kerumah dengan wajah kusut. Dilemparnya tas sekolahnya kesembarang arah. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya dan mengusap wajahnya kasar.

Hari ini moodnya berubah buruk. Ia penasaran dan marah pada Luhan serta pria botak yang bersama dengan Luhan.

"Argh!"

Teriak Sehun didalam kamar. Beruntung kamarnya kedam suara jika tidak, akan membuat eommanya cemas.

.

.

.

.

"Hai Lu, entah mengapa aku merindukanmu. Selama kau magang aku merasa kesepian. Biasanya kita akan bertemu di kampus." Ucap Kris.

Luhan senang mendengar ucapan Kris padanya, ada sesuatu yang hangat merayap didalam kalbunya.

"Dasar gombal!" Balas Luhan menutupi perasaannya.

"Aku serius, karna kau adalah sahabatku, orang yang selalu ada disaat aku butuhkan." Ucap Kris lagi.

Luhan seakan tertohok, kala Kris mengatakan sahabat. Tidak bisakan Kris melihat dirinya? Gelas Kopi yang ia pegang sedari tadi menjadi bergetar.

"Lu, aku sebanarnya kesini untuk curhat. Hms... tampaknya aku benar-benar menyukai Tao. Awalnya aku hanya penasaran padanya, tapi semakin lama aku terus memikirkannya. Menurutmu apakah aku harus menembaknya atau tidak Lu?" Oh My God, aku benar-benar bingung, ungkapkan tidak, ungkapkan tidak... aku butuh saranmu Lu..." Terang Kris, tapi Luhan diam menunduk. Ia tidak boleh menangis dan menampakkan wajah sedih dihadapan pria ini.

"Hms... terserah kau saja Kris. Oiya, aku lupa. Aku harus cepat-cepat menemui Yixing, lain kali saja kita membahas ini. Oke bye.." Pamit Luhan.

Dan Kris hanya bisa cengo.. pasalnya Luhan sudah pergi dengan cepat dari sana, bahkan sampai berlari.

.

.

Luhan menghentikan taksi, didalam taksi ia menangis, sang supir taksi melihat penumpangnya menangis hanya diam saja. Takut jika penumpangnya marah.

Luhan masih terisak, bertahun-tahun menunggu tapi Kris masih tidak peka akan perasaannya. Dan Luhan merasa kesal dengan pria bernama Tao. Kris pernah memperlihatkan foto Tao kepada didirinya. Sebanarnya mereka berdua adalah Gay. Mereka tertarik pada lelaki, disini status Kris adalah Seme, sedangkan ia condong ke Uke. Luhan suka dimanjakan, diberi perhatian lebih. Tapi ia tak suka jika ada yang mengatakan dirinya cantik. Jika ada yang mengatakan dirinya cantik maka orang itu akan habis ditanganya.

.

.

.

.

TBC.

Bersambung dulu ya... hehehe...

Makasih buat Xdhinnie0595 yang sudah menyumbangkan saran dan idenya. Jadi bisa lanjut lagi...

thx juga buat review, favorit, dan follow.

Big thx to

Amalianiken Safitri/ rydeer/ Novey/ Oh Jerim (selang-seling chingu, tapi tenang aja disini aku utamakan hubungan yaoinya.. aku jujur gk suka GS. Hehehe...) OktaHunhan/ Nia Hunhan/ Guest/ DinoChiCkiHH/ Ray KT KS CB/ Deva94bubletea/ Avelina Lu/ Mr Albino/ LisnaOhLu120/ Guest/ Seravin509/ daebaektaeluv/ Lsaber/ guest/ Fihannie/ rydeer (makasih supportnya)

Oke.. bye-bye..

Pyong!

See you next chap. ^^

.