Pagi itu adalah hari terakhir sekolah dalam minggu ini. Jongdae jalan santai ke kelasnya sambil bersiul. Dia sangat bahagia karena rencananya kemarin berhasil.

'Bagaimana hubungan mereka saat ini? Xixixi...aku tidak sabar melihat ekspresi mereka.'

"Jongdae!"

Baekhyun berlari dari belakang. Yang dipanggil menoleh dan menyapa, "Ooh Baek, semangat sekali kau—"

/Bletaaak!/

"Wadaw! Kenapa lo jitak gue?!" protes Jongdae.

"Lo sampah tau nggak!" kemudian Baekhyun berbisik, "Lo apain minuman Kyungsoo kemarin?!"

Jongdae terpatung. Otaknya berputar mencari alasan. Tapi Baekhyun segera menjambak rambutnya dan menyeretnya ke kelas. "Gue liat semuanya tahu!"

"W-wwa?! L-lo kok bisa..."

"Gegara lo gantung jam tangan gue, goblok! Ish, pokoknya lo ngaku dulu!" ucap Baekhyun lalu melempar Jongdae ke tempat duduknya. Mereka sekelas dan pemandangan seperti ini sudah biasa.

Jongdae menghela napas sambil benerin rambutnya. Dia mulai cerita, "Kai sama Kyungsoo udah marahan selama seminggu. Gue gak tahu apa masalahnya. Tapi gue tahu kalau mereka pengen cepet-cepet baikan."

/Bletak!/

"Aduuuh!"

"Ya nggak gitu caranyaaa!"

Jongdae K.O di tempat. Bel sekolah berbunyi dan pelajaran dimulai seperti biasa. Bedanya, Baekhyun terus mengawasinya kalau-kalau mulai mengerjai siswa lain.

Sementara itu di lapangan, Minseok si guru olahraga, sedang mengajari sepakbola anak-anak dari kelas 1-G. Sayangnya, karena dia kurang tegas, para siswa berlarian seenaknya bahkan mengira Minseok ikut main dengan mereka.

Siswa kelas 3-A yang mengawasi dari lapangan basket, hanya bisa khawatir melihatnya. Chanyeol bergumam, "Apa guru itu bisa bertahan mengajar di sini?"

"Semoga saja gitu..."

Chanyeol melihat ke samping. Adik kelasnya yang bernama Sehun duduk di sebelahnya sambil memeluk bola.

"Bukannya lo anak kelas 1-G?!" Chanyeol kaget.

"Iya. Tapi gue anak baik jadi mending duduk rapi daripada lari-lari."

"Bilang aja takut item."

Di kejauhan, Minseok mengejar salah satu siswa yang meniup-niup peluitnya. Tapi karena kelelahan, Minseok tersandung dan jatuh tersungkur di atas tanah. Siswa itu berhenti dan memeriksanya. Dia dan teman-temannya panik karena Minseok pingsan. Mereka segera membawanya ke UKS.

"Yes. Jam kosong lagi," gumam Sehun.

"Lah goblok..." Chanyeol berdiri saat giliran untuk timnya datang. "Yaudah, gue mau main dulu."

"Lhoh, emangnya lo nggak kenapa-kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Pucet tau nggak. Sakit lo?" Jujur saja, Sehun agak khawatir dengan keadaan kakak kelasnya itu.

"Mungkin gue anemia dikit. Daah~"

"Oke. Hm?" Sehun melihat handphone-nya yang baru saja bergetar. Ada pesan dadi kakak kelas paling menyebalkan: Jongdae.

[Hun, lo ambil obat di loker sepatu gue, kasihin ke Chanyeol. Gue tahu lo lagi sama dia kan?]

Sehun ngeliat ke gedung di seberangnya, lantai atas. Benar saja. Jongdae dengan sok galaunya melihat suasana di luar jendela.

'Kalau Kak Chanyeol yang dikasih berarti...' Sehun mulai tahu arah rencana Jongdae dan beranjak dari sana.

Selesai bertanding, Chanyeol duduk lagi di tempatnya tadi. Salah satu temannya tanya, "Yeol, lo nggak beli minum?"

"Sorry, gue lagi nggak bawa duit."

"Gue beliin dulu gimana?"

"Nggak usah, makasih."

"Oke."

Setelah ditinggal pergi timnya, Chanyeol mengutuk dalam batin. Dia merutuki fisiknya yang sedang tidak fit hari ini. Kalau saja dia punya pacar buat bawain minum di tasnya...

Atau mungkin Baekhyun yang bawain...

Chanyeol akhirnya bangkit dan berniat kembali ke kelas. Tubuhnya meriang dan panas. Sepertinya dia akan demam, atau memang itu yang terjadi sekarang.

/Bruuuk!!/

Istirahat pertama, Baekhyun segera meraih botolnya. Dia dehidrasi parah setelah menelan segenap materi fisika. Bukannya dia tidak suka, tapi otaknya memang tidak dirancang untuk memahami fisika.

Sebelum minum, Baekhyun melirik ke arah Jongdae. "Lo nggak masukin apa-apa ke minuman gue kan?!"

"Yakali gue ngerjain jomblo."

"Bangsut ya kamu..." Baekhyun kemudian minum dan lega karena otaknya fresh lagi seperti dialiri air pegunungan. Macam iklan air mineral.

"Eh Baek, Chanyeol digotong noh," kata Jongdae sambil bersungut ke lapbas.

Baekhyun auto beraksi. Dia ikut melongok keluar jendela. Hadeh...dia tidak pintar menyembunyikan perasaan...

"H-huh, kayak gue peduli aja..."

...dan tidak pintar menunjukkannya juga.

"Lah? Lo mau kemana?" tanya Jongdae. Baekhyun udah berdiri di pintu aja.

"Gue gak ke UKS ya, gue cuma mau ke kelas Kyungsoo doang."

"Err...oke..." Sedangkan bocah satu ini tidak pekanya kelewat tinggi.

Dalam perjalanannya ke UKS, Baekhyun khawatir setengah mati. Meski sering bertengkar dengan Chanyeol, mereka tetap saja tetangga. Mereka bareng sejak bayi sampai sekarang. Baekhyun tidak bisa tidak mengkhawatirkannya. Apalagi Baekhyun tahu kalau tetangganya itu gampang sakit.

"Permisi," kata Baekhyun dari luar UKS lalu masuk ke dalam.

"Oh, ada perlu apa?" sambut seseorang. Itu Pak Junmyeon, dokter yang bertugas di UKS sekolah. Dia duduk di set meja kerjanya seperti biasa.

"Emm, apa di sini ada siswa bernama Park Chanyeol?"

"Ya, dia baru saja pingsan di lapbas karena demam. Kamu temannya? Dia ada di bilik nomor 3."

"Terima kasih, Pak." Baekhyun membungkuk formal lalu mulai beranjak. Tapi Pak Junmyeon memanggilnya, "Tunggu. Bisa minta tolong cek kondisi Pak Minseok di bilik 2? Dia juga pingsan di lapangan tadi."

"Baik, Pak."

"Terima kasih."

Sebelum masuk ke bilik 3, Baekhyun mampir ke bilik guru itu. Dia mengintip dari tirai dan menyaksikan guru baby face itu masih terpejam dengan beberapa lecet di wajahnya. Seperti Chanyeol, Baekhyun juga tidak yakin sampai berapa lama guru itu bertahan di sini.

Setelah cukup mengintipnya, Baekhyun memberi kode pada Pak Junmyeon bahwa pasiennya belum sadar. Mungkin selain kelelahan, dia juga kurang tidur tadi malam. Baekhyun akan beranjak ke bilik 3, tepat saat terdengar gumaman Minseok.

"J-Jong...dae..."

Baekhyun merinding seketika. Dari sekian siswa kenapa harus Jongdae? Tapi kalau diingat-ingat lagi, Jongdae itu sepupu iparnya Minseok. Jadi, tidak heran kalau Minseok mengkhawatirkannya sampai ke alam mimpi. Apalagi dengan perwatakan Jongdae yang iseng dan jahil.

Baekhyun merasa dirinya sudah sangat tidak sopan dengan berdiri di depan bilik pasien lain. Setelah membuka tirai bilik 3, Baekhyun kaget. Ternyata Chanyeol sudah sadar.

"Y-Yeol?"

"Baek?? Ah..."

"K-kau tidak perlu bangun." Baekhyun khawatir melihat Chanyeol yang masih mengerang kesakitan. Mungkin kepalanya pusing akibat demam.

"Aku harus minum obat...yang diberikan Pak Junmyeon..."

"Ah, biar kubantu..."

Baekhyun membantu Chanyeol duduk dan memberinya obat tablet yang ada di meja. Dia juga yang meminumkan Chanyeol teh hangat. Yang benar saja, padahal dia sendiri yang bilang tidak akan peduli di kelas tadi.

"Tidurlah," ujar Baekhyun. "Kau pasti kelelahan tadi malam."

"Mn...aku mengerjakan lagu untuk perpisahan nanti."

Setelah itu, Baekhyun menyelimuti Chanyeol dan tetap duduk sampingnya. Dia akan menemani sampai Chanyeol tidur lagi.

Tapi, Chanyeol terus menggerakkan alisnya karena merasa tidak nyaman. Tak lama kemudian, matanya terbuka lagi menunjukkan iris kecoklatan itu.

"Ada apa, Yeol?" tanya Baekhyun. Saat dia akan menyentuh dahi Chanyeol, tangannya ditepis begitu saja. "Yeol?!"

"J-jangan...menyentuhku..."

"Kena—"

Baekhyun terkejut dengan reaksi tubuh Chanyeol setelah menelan obat tadi. Wajahnya memerah meski tidak pernah begitu saat demam. Pandangannya berkabut dan tubuhnya bergerak tidak nyaman. Saat itulah Baekhyun teringat dengan Kyungsoo kemarin.

"Yeol, siapa yang mengantar obat dan minumanmu?"

Chanyeol memejamkan matanya sebentar, dia terlihat kesulitan menjawab karena menahan sesuatu. "S-Seh...un..."

'Sialan...'

TBC

Bacot room: apaan apdet sehari :V au'ah giblik