"apa nuna kedinginan?" tanyanya saat melihatku. Aku hanya menganggukkan kepala.

"aku bisa menghangatkan" Jungkook merenggangkan kedua tangannya, menawarkan untuk memelukku. Aku membalasnya dengan tatapan kematian yang aku pelajari dari berbagai sinetron di tv. Kata-katanya barusan membuatku berfikir kalau bocah di depanku ini tidak sepolos kelihatannya #_-

"oke oke, baiklah, aku akan menutupkan pintunya" syukurlah, aku merasa lega saat dia keluar dari tendaku dan menarik resleting penutup pintunya. Keluar? Ya, sebenarnya niatku menyuruhnya tadi adalah sebagai isyarat agar dia keluar dari tendaku. Dan untungnya dia cukup pintar menyadari arti ucapanku. Aku ingin tidur, aku mengantuk sekali.

.


.

Plukk. Tanganku mendarat dipermukaan guling disebelahku. Aku menyeret tubuhku lebih mendekatinya. Udara terasa semakin dingin saja. Untung saja ada guling ini yang membuatku merasa hangat. Aku memeluknya erat, dan sepertinya aku bermimpi memakan jelly kesukaanku. Seperti biasa, sebelum memakannya, aku akan menempelkan jellynya di permukaan mulutku terlebih dahulu, merasakan kelembutannya, baru setelah itu mulai memasukannya ke dalam mulutku, itupun aku tak langsung memakannya. Tetapi entah kenapa aneh sekali, dalam mimpiku saat ini, rasa jellynya benar-benar berbeda dengan jelly yang biasa kumakan. Kurasakan tubuhku semakin erat menempel pada guling. Sesaat aku bingung. Apa saat bermimpi kita masih merasakan keadaan tubuh kita yang sedang tertidur? Haish sepertinya aku harus menghentikan mimpi indahku. Mimpi indah? Ya.. Apa kau tau? Jelly adalah makanan yang paling aku sukai. Dan aku harus berhenti menikmatinya dalam mimpiku. Lagi pula, bukankah aku sedang berada di dalam tenda? Dan aku ingat tidak ada guling di sini. Jadi?

"kau mencuri ciuman pertamaku" Aku mengernyit. Sepertinya guling ini adalah bagian dari mimpi. Lihat saja, apa ada guling yang bisa berbicara? Tanpa memperdulikan guling yang berbicara, aku melanjutkan mimpiku tadi. Bermain-main dengan jelly kesukaanku yang saat ini rasanya memang aneh, tapi aku sangat menyukainya sampai aku tak ingin memakannya. Hei, kenapa lama kelamaan aku merasa sesak nafas? Ah mimpi buruk. Jelly ini beracun!

"kau mesum" suara itu datang lagi tepat setelah aku membuang jelly yang tadinya di mulutku.

"berisik. Guling! Berhentilah mengucapkan kalimat yang jorok!" makiku kesal.

"guling? Apa ada guling yang bisa memelukmu seperti ini?"

"kyaaaaaaa..." dan teriakan itu keluar dari mulutku tepat setelah aku membuka mataku.

Brakkk. Kedebukk. Dan suara berisik lain dari luar mengiringi teriakanku.

"aduhh! Nuna, apa kau baik2 saja di dalam?" itu suara jungkook. Dapat kupastikan dia sedang terburu-buru membuka tendaku.

"nuna, apa yang terja.." kata-katanya menggantung. Aku tau apa yang membuatnya begitu. Tentu saja karena melihat aku dan kakaknya sedang berpelukan dan jarak kami yang terlalu dekat.

"eh? Kapan hyung datang kesini?" terlihat dari ekor mataku, dia sedang menggaruk kepalanya yang aku jamin tidak sedang terasa gatal saat ini dan juga ekspresi tersenyum canggung. Aku terlalu sibuk untuk benar-benar meliriknya. Mataku sedang menatap tajam ke arah sepasang mata di depanku. Berusaha menyampaikan pesan 'Jangan membicarakan yang baru saja terjadi' ke pria asing di depanku ini lewat sorotan mata.

"hei Jungkook. Kau harus hati-hati dengan yeoja ini. Dia mesum" aku melotot. Harusnya aku tak berharap banyak dari pria bodoh ini.

"jangan dengarkan dia!" aku kesal, sungguh aku tidak sengaja melakukan apa yang telah kulakukan padanya. Aku malu sekali.

"lalu kenapa kau masih memelukku?" Aku tersentak dan segera melepaskan pelukanku.

"kau benar-benar menyebal.."

"ciumanmu lumayan juga, aku jadi ingin merasakannya lagi" dia memonyongkan bibirnya imut. Tapi saat ini aku tidak sedang ingin mengaguminya. Aku mengalihkan wajahku yang sudah merah padam. Jangan sampai pria bodoh ini melihatnya dan menertawaiku #_-

"ah kalau begitu aku kembali ke tendaku hyung" Jungkook pasti berfikir yang tidak-tidak dan merasa canggung sekarang.

"tunggu dulu" aku menghentikan langkah Jungkook.

"aku ikut bersamamu" ucapku malu-malu.

"apa? Nuna ingin tidur bersamaku?" jari telunjuknya dia pakai untuk menunjukku dan dirinya bergantian.

"lihat? Dia sekarang mengincarmu setelah menjadikanku korbannya" sungguh aku ingin sekali membunuh pria ini!

"AKU HANYA TAKUT SENDIRIAN TENGAH MALAM SEPERTI INI. DAN DARIPADA MEMILIHMU UNTUK MENEMANIKU, AKU LEBIH MEMILIH JUNGKOOK, DASAR PRIA DENGAN PIKIRAN KOTOR!" teriakku kesal sampai burung-burung yang sedang asyik tidur di dahan pohon berterbangan tidak karuan.

"sudah sudah, kita tidur bertiga saja" usul jungkook. Dan beginilah kami, tidur bertiga dengan urutan aku, Jungkook, dan pria mesum itu.

"Jungkook~ah, bisa kau geser sedikit? Terlalu sempit, aku sulit bernafas" pintaku memelas. Tubuhku terjepit di antara tenda dan tubuh jungkook, hidungku menempel pada lengannya dan aku tidak bisa bergerak sama sekali.

"tidak bisa nuna, lihatlah, sebenarnya disini yang paling menderita adalah aku, karena aku yang ditengah" yah, aku mengerti maksudnya #_-

"ah aku punya ide" ucap Jungkook tiba-tiba.

"begini saja," dia memiringkan tubuhnya dan menyelipkan sebelah lengannya di bawah kepalaku. Sebenarnya aku ingin memprotes tindakannya, tapi melihat dia memejamkan mata seperti itu aku jadi tidak tega. Aku yakin dia tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam, justru sebaliknya, dia hanya ingin memberiku ruang agar lebih nyaman. Aku pun mulai memejamkan mataku.

Sudah satu jam lebih aku mencoba untuk tidur, tapi wangi parfum Jungkook menggangguku. Parfum yang berbau manis, membuatku ingin memakannya. Ah tidak tidak. Maksudku, wangi parfumnya terlalu sayang untuk dilewatkan hahaha. Oh iya, kenapa sedari tadi aku tidak mendengar ocehan pria mesum itu? Apa dia sudah tertidur? cepat sekali #_-

"sebaiknya kau tidur" itu suaranya. Dia selalu saja seperti tau apa yang sedang aku fikirkan.

.


.

"hai.. Tuan Jeon.. selamat pagi" aku keluar dari tenda dan langsung menyapa pria mesum itu seraya tersenyum. Entah kenapa moodku sedang baik hari ini. Mungkin karena semalaman aku tidur seperti dipelukan Jungkook. Hahaha

"siapa yang kau maksud Tuan Jeon?" tanyanya. Sial. Dia tidak sedikitpun melirikku, sibuk membongkar tenda yang satunya. Tahu begitu aku tidak perlu memberikan senyuman termanisku.

"tentu saja kau, bukankah tidak ada orang lain di sini? Hanya aku dan kau, orang aneh. Ohya, kemana jungkook?" aku memutar pandanganku, mencari sosok Jungkook.

"dia pergi sekolah pagi-pagi sekali"

"ooo" aku hanya membulatkan bibirku.

"jangan diam saja, cepat bantu aku membongkar tenda dan membereskan semuanya" apa dia baru saja memerintahku?

"maaf, aku tidak terbiasa menerima perintah" jawabku ketus. Tiba-tiba saja dia terdiam, mengalihkan tatapannya ke arahku dan perlahan mendekatiku. Raut wajahnya mendadak mengerikan sekali, seakan ingin memakanku hidup-hidup. Kedua tangannya mencengkram bahuku begitu dia sudah berada di hadapanku. Tubuhku mematung, tak bergerak. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menatap matanya. Bagaimanapun juga dia adalah orang asing yang aku sendiri belum tau apa tujuannya terhadapku. Dari sorot matanya, ada perasaan marah, atau apapun itu aku sendiri tidak bisa mengartikannya. Benar-benar sulit ditebak. Dengan cepat dia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibirku membuatku segera saja menutup mataku rapat-rapat. Ada rasa takut dan sensasi aneh muncul bersamaan dalam diriku saat lidahnya mulai bergerak menari diatas permukaan mulutku. Hanya sebentar, dan kemudian dia melepaskanku. Aku membuka mataku dan mendapati dirinya sedang menelusuri keseluruhan wajahku dengan tatapan matanya.

"aku sudah terlalu baik padamu. Jangan membuatku berubah fikiran" ucapannya berhasil membuat bulu kudukku meremang. Entah apa maksudnya di balik ucapannya itu. Percuma saja jika aku berusaha menerkanya, aku benar-benar tidak mengerti. Tak mau menunggu ultimatum berikutnya, segera saja aku membantunya mengemasi keseluruhan barang-barang ini.

.


.

Ah. Aku lelah sekali. Berjalan jauh dari tempat terdapatnya tenda hingga akhirnya sampai di mobil ini membuatku kehilangan separuh tenagaku. Aku mengatur ulang nafasku dan bersandar lemas pada jok mobil. Mobil mewah miliknya yang dia parkir sembarang di tepi jalan hutan ini. Dia baru masuk ke mobil setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi. Tangannya memegang sebotol air mineral dan kemudian mengulurkannya padaku.

"minumlah"

"terima kasih" aku menerimanya. Kukira dia akan mengambil air mineral lain untuknya tapi ternyata tidak. Dia langsung menghidupkan mesin dan perlahan mobil bergerak.

"kau tidak minum?"

"tidak, aku tidak haus"

"jangan berbohong" aku meninggikan suaraku. Tak peduli kemungkinan dia akan marah dan menyerangku lagi seperti tadi.

"itu botol terakhir" jawabnya lirih tanpa menatap ke arahku.

"berhenti"

"mau apa?"

"berhenti kataku!" dan akhirnya dia menurutiku menghentikan laju mobilnya.

"minumlah lebih dulu" dia hanya menatapku dan air mineral bergantian.

"aku tidak menerima penolakan" ucapku tegas. Kudengar dia mendesah pelan sebelum akhirnya meneguk air mineral yang baru saja kuberikan padanya. Beberapa tetes air lolos dari mulutnya dan mengalir ke dagu kemudian ke leher dan jakunnya sebelum berakhir di bajunya. Bodohnya mataku yang mengikuti arah kemana air itu mengalir dan membuatku berfikir kalau dia sangat seksi!

.


.

Kukira dia akan mengantarku pulang kerumahku, ternyata tidak. Dia membawaku ke rumah terpencil tidak jauh dari hutan. Rumah yang dari luar terlihat seperti rumah tua yang tak terawat. Tapi begitu masuk, aku dibuat tercengang oleh interior di dalamnya. Sebuah tangga arah ke bawah menyambutku saat pintu utama terbuka, diluar dugaanku, rumah ini sangat luas dan indah dengan nuansa klasik yang kental.

"ikuti aku" suruhnya. Padahal tanpa di suruhpun aku pasti akan tetap mengikutinya karna aku sama sekali belum tau seluk beluk rumah ini. Pria ini berjalan di depanku dan aku mengekorinya. Kemudian dia berhenti di depan pintu yang kutebak itu adalah sebuah kamar. Dan ternyata dugaanku benar.

"rumah ini hanya punya satu kamar" ujarnya saat kami baru saja masuk ke dalam kamar ini.

"mau tidak mau kau harus tidur di sini bersamaku dan Jungkook"

"apa?! Kenapa harus begitu? Aku ingin pulang" bantahku. Sebenarnya apa mau pria ini? Kenapa dia seakan menyekapku?

"kau harus tinggal disini"

"tidak mau! Siapa kau seenaknya mengaturku? Aku tidak mengenalmu! Aku bahkan tidak mengetahui namamu!"

"sepertinya aku harus menggunakan cara terampuh untuk menahanmu disini" selesai mengucapkannya dia mulai mendekat membuatku melangkah mundur sampai akhirnya tubuhku terhimpit antara tubuhnya dan pintu kamar. Aku sadar dengan membuka pintu kamar ini aku bisa keluar dan kabur darinya. Meskipun aku mulai menyukainya, tetapi masih ada rasa takut yang menyuruhku pergi menjauh darinya.

"berfikir untuk kabur?" dia tersenyum, senyum yang justru membuatku semakin takut. Dan ketakutanku terjawab saat dia dengan kasar mengangkat tubuhku dan menjatuhkannya ke ranjang kemudian mulai menindihku. Tanganku bergerak memukuli bagian tubuhnya yang bisa kujangkau. Tapi tak berguna karena dengan mudahnya dia mengunci kedua tanganku. Aku takut, terlalu takut sampai akhirnya aku hanya menutup mataku pasrah. Kurasakan sesuatu yang dingin dan lembut menempel pada bibirku, hanya sekedar menempel. Kemudian perlahan bergeser ke pipiku dan berakhir dekat telingaku. Nafasnya yang hangat menggelitik daun telingaku mengalirkan sensasi aneh yang kembali kurasakan.

"aku menyukaimu, jadilah yeojaku" apa?! Apa aku tak salah dengar? Apa yang baru saja dia katakan?

"aku tak ingin kehilangan dirimu" suaranya melembut, sangat kontras dengan suaranya yang sempat membuatku ketakutan setengah mati tadi.

"kau.. Jangan bercanda" kenapa suaraku bergetar seperti ini? Ada bagian dari diriku yang sulit kukendalikan saat ini. Jantungku. Kenapa jantungku berdetak cepat melebihi batas normal?

"aku bersungguh-sungguh" jawabnya tercekat. Aku merasakan pipiku basah oleh suatu cairan. Air mata? Apa dia menangis? Aku membuka mataku dan benar saja, dia sedang menutup matanya seperti menahan sesuatu, tetapi tetap saja sesuatu itu mengalir. Dan itulah yang membuat pipiku basah saat ini.

"kumohon" setelah mengatakan kata itu dia melepaskan pegangannya pada tanganku dan menjatuhkan dirinya kesamping, berbaring membelakangiku. Apa yang dia katakan benar-benar tak bisa kupercaya. Aku bahkan tidak mengenalnya, kami baru dua hari ini bertemu dan dia baru saja mengatakan kalau dia menyukaiku. Bukankah itu aneh? Kupandangi punggungnya, ingin sekali aku memeluk dan menenangkannya. Jujur saja aku lebih suka dia lima menit yang lalu daripada melihatnya menangis seperti ini. Tiba-tiba saja suara nada dering ponsel mengagetkanku. Dia merogoh saku dan segera beranjak dari ranjang menjauhiku.

"baiklah. Hari ini juga" hanya itu yang berhasil kudengar dari hasil penajaman telingaku. Setelah mengatakan itu dia segera keluar tanpa bicara apapun kepadaku. Hanya saja sepertinya dia sempat mengunci pintu kamar ini dari luar. Ku edarkan pandanganku mengamati kamar yang cukup besar ini. Disebelah kiriku terdapat kamar mandi, sebuah televisi terletak menghadap tempatku berbaring sekarang ini dan di sampingnya terdapat lemari es. Itulah benda yang kucari. semoga saja ada sesuatu yang bisa kumakan di dalamnya karena sedari pagi tidak ada apapun yang melewati tenggorokanku selain air mineral.

"ah kenyangnya" aku mengelus perutku lega setelah selesai memasukkan ke dalam perutku dua potong tiramisu ukuran besar plus sebotol susu cair. Aku merasakan tubuhku lengket. Terang saja, badanku belum menyentuh air sama sekali pagi ini. Akhirnya kuputuskan mandi untuk menyegarkanku.

.


.

"bodoh bodoh bodoh" setelah mandi aku merutuki diriku sendiri karna dengan bodohnya aku lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Aku tak mungkin memakai lagi baju yang tadi kupakai karena keadaannya sudah mengenaskan. Salahkan aku yang saat melepas langsung menjatuhkannya ke lantai kamar mandi tanpa memungutnya. Aku bingung, sungguh. Kulihat di dalam kamar mandi tidak terdapat baju apapun, selain.. Kemeja putih yang menggantung di pintu. apa boleh buat, sepertinya aku harus sementara memakai itu, hanya sebentar, toh tidak keluar dari kamar ini kan? Lagipula, bukankah hanya aku yang ada di sini? dan untungnya kemeja ini cukup besar dan panjang untuk menutupi bagian terpentingku.

Aku keluar dari kamar mandi seraya bersenandung kecil sesaat sebelum menutup pintu, membalikkan badanku dan menyadari kehadiran seseorang. Di sana, di depan pintu, berdiri Jungkook yang tengah menatapku dengan mulut sedikit terbuka dan secepat kilat dia berlari kearahku dan memelukku erat. Tak hanya itu, dia segera saja mengangkatku masuk kembali ke kamar mandi.

"yakk apa yang kau la.." ucapanku terhenti oleh bibirnya. Kukira dia akan melakukan lebih dari sebuah kecupan, tapi ternyata tidak. Hei, bukannya aku berharap begitu, tolong jangan berfikir kalau aku ini mesum #_-

"maaf.. Tolong diam dan dengarkan aku" dia terlihat serius. Aku menurut saja, diam dan pasang telinga baik-baik karena dia berbicara sangat pelan.

"di luar ada teman-temanku. Mereka akan masuk ke kamar ini. Sebaiknya nuna jangan keluar dari kamar mandi. Akan sangat berbahaya jika mereka melihat nuna, apalagi dengan pakaian seperti ini" aku mengikuti arah pandang Jungkook, dan.. Ommo! ternyata bagian dadaku tercetak jelas karena aku tidak memakai apapun lagi di balik kemeja ini! Segera saja aku menutupinya dengan kedua tanganku. Dan benar apa yang dikatakan jungkook, terdengar suara beberapa orang pria dari luar kamar mandi.

Sudah satu jam lebih aku berada di kamar mandi ini. Aish. Aku mulai kedinginan. Akupun menempelkan daun telingaku di pintu kamar mandi. Sepertinya diluar tidak ada suara berisik lagi, apa teman jungkook sudah pulang? Eh. Samar aku mendengar suara. Suara apa itu? Kutajamkan pendengaranku dan.. Apa?! Suara desahan wanita?! Apa yang dilakukan Jungkook dan teman-temannya? Pantas saja jungkook melarangku bertemu dengan mereka. Apa mereka berniat melakukan itu di dalam kamar ini? Dengan berapa wanita? Ah maksudku ada berapa pasang? Ah tidak-tidak. Apa mereka melakukannya dengan seorang wanita? Uh memikirkannya saja membuat bulu kudukku meremang.

"aku akan membunuhmu" Eh? Suara siapa itu? Kenapa terdengar jelas sekali?

"aku akan membunuhmu" suara itu lagi. Sepertinya sumber suaranya dari tempat dimana terdapat bathub yang terhalang tirai dari tempatku berdiri sekarang ini.

"aku akan membunuhmu" jangan-jangan..

"kyaaa Jungkoook huwaaaaa" segera saja kuraih gagang pintu berniat membukanya.

Tapi ahh! Kenapa pintu ini sulit dibuka? Mendadak udara di sekelilingku menjadi dingin. Kenapa semuanya dramatis seperti film horor yang pernah kutonton? Aku tak mau mati konyol oleh makhluk seperti itu! Tidak! Jungkook tolong aku!

Cklek. Akhirnya pintu ini bisa terbuka juga. Tanpa mengulur waktu sedetikpun segera saja aku berlari keluar dari kamar mandi ini dan brukkk tubuhku menabrak seseorang hingga terjatuh.

"aduh!" pria di bawahku mengaduh kesakitan.

"huwaaa Jungkooook hiks" seharusnya aku langsung beranjak berdiri. Tetapi rasa takut yang ada dalam diriku meresponku untuk melakukan hal lain. Saat ini aku tengah memeluknya dan menangis menenggelamkan kepalaku di dadanya.

"kau kenapa?"

"aku takuuut huwaa hiks hiks" hanya itu yang keluar dari mulutku. Selebihnya hanya suara tangisan yang dapat ku keluarkan.

"dia siapa?" aku terdiam menghentikan tangisanku. Ah Park Jimin bodoh. Karena terlalu takut aku jadi tidak ingat kalau di kamar ini ada teman Jungkook dan mereka sedang..

"berdirilah nuna" ujar Jungkook bersamaan dengan di jatuhkannya sebuah kain di punggungku. Akupun segera berdiri dan melilitkan kain itu ketubuhku yang ternyata adalah sebuah selimut. Karena malu akupun hanya bisa menundukkan kepalaku.

"kenapa nuna menangis?" tunggu dulu. Kenapa suara Jungkook seperti ada di sampingku? Jadi siapa yang masih terbaring di depanku ini? Siapa yang terjatuh bersamaku? Siapa yang baru saja ku peluk? Perlahan kuberanikan diri mengalihkan pandanganku ke depan, ke pria yang saat ini sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Dan ternyata benar, dia bukan Jungkook!

"nuna?"

"di dalam kamar mandi ada suara mengerikan" nada bicaraku bergetar. Aku masih merasa takut. Jungkookpun masuk kamar mandi dan tak lama kemudian dia keluar dengan sebelah tangan memegang ponsel.

"lihat? Suara itu berasal dari ponsel milikku ini. Aku lupa meletakkannya di pinggiran bathub. Nuna tak perlu merasa takut lagi" Jungkook tersenyum. Huh. Bisa-bisanya dia memakai dering seseram itu.

"hai. Aku Kim Taehyung" pria di depanku tiba-tiba saja mengulurkan tangan. Akupun menjabat tangannya.

"Park Jimin"

"aku aku aku. Aku Jung Hoseok" kali pria disampingnya merebut tanganku dari Kim Taehyung.

"cih. Berlagak seperti anak kecil"

"hei Kim Taehyung. Kau iri padaku? Aku memang terlahir imut polos seperti ini"

"polos? Apa ada anak polos yang menonton dvd porno?" balas taehyung. Jadi yang tadi itu suara film? Pantas saja aku tidak menemukan keberadaan wanita di dalam kamar ini selain aku.

"eh.. Itu.." kulihat pria yang bernama Junng Hoseok menjadi salah tingkah.

"sudahlah. Ayo kita makan. Tadi aku membeli banyak cemilan" Jungkook mengangkat kantong plastik besar di tangannya dan berjalan ke sofa yang berada di sisi lain ranjang. Dua temannya itu mengikutinya dari belakang.

"hei, tadi itu pasti empuk sekali" kudengar Hoseok berbicara setengah berbisik pada Taehyung.

"tentu"

"yaaa kau ini beruntung sekali Tae, coba saja tadi aku yang mengecek kamar mandi" sebenarnya apa yang mereka bicarakan?!

"salah siapa kau terlalu fokus menonton. Jadi aku kan yang beruntung merasakannya secara nyata.. Uh aku tak akan melupakannya.. Aku bahkan ingin merasakan yang lebih dari itu"

Bletak bletakk.

Tidak. Bukan aku yang memukul mereka berdua.

"yak Jungkook!" teriak Hoseok dan Taehyung bersamaan. Hahaha rasakan pukulan maut Jungkook. Aku tertawa dalam hati dan segera mengambil pakaianku yang masih berada di dalam ransel. Pura-pura tidak mengetahui apa yang mereka ributkan.

.


.

Aku baru saja selesai mengganti pakaianku dan keluar dari kamar mandi. Kulihat Jungkook dan Hoseok tengah tertidur di sofa sedangkan Taehyung sedang asyik memakan kripik kentang seraya mendengarkan musik dari ponselnya. Aku haus. Kusambar saja minuman kaleng yang berada di meja tepat di depan Taehyung dan meminumnya.

"jangan minum itu!"

.

,

.

,

.

,

TBC

Pagi ini saya bener-bener kayak orang linglung. Pas bangun, ngecek grup bbm, mereka lagi pada ributin balasan email dari bu dosen, konfirmasi tugas udah diterima katanya. Nah abis itu saya langsung ngecek email di hp kan? dan ga ada balasan email! gimana saya ga panik? alhasil abis itu langsung colok hp colok laptop ngecek email wkwkw dan akhirnya sekalian saja saya ngedit file ini yang emang udah ngendap di sini lama.

Saya cuma memperbaiki kapitalnya, tanpa merubah isi. Biar semua tahu karya buruk saya ini :v

Sudah segitu aja, terima kasih fav, follow, review ^^

seperti biasa... Next? Review ^^