Yo, mbak-mbak dan abang-abangnya, Beatdoof kembali lagi dengan Chapter 2. Ya, nggak banyak sih yang ingin Beat katakan, jadi ya...

Nikmatin aja ya fic-nya. Seperti biasa, RnR, kritik sangat dibutuhkan, dan sekali lagi, maaf kalau misalnya chapternya pendek, jadi ya...

Ah udahlah. Undertale is the best pokoknya #NgiklanKayakTickerdiRCTI #NgomongApaanCoba?

#####

Bicara.

Bunganya tadi bicara kan?

Ini bunga bener-bener bicara. Bunga itu cuma perlu ngomong satu kata aja (Bahasa Inggris lagi), dan aku langsung bertanya-tanya banyak hal.

Monster memang benar benar ada?! Mereka nggak berbahaya kayak bunga ini, kan, atau bunganya yang berbahaya, atau semuanya berbahaya?! Kenapa kita selama berabad-abad tidak tahu tentang keberadaan mereka?! Ini emang dirahasiain berapa lama?! Jangan jangan udah banyak orang yang-

"Aku Flowey! Flowey Si Bunga!", kata si bunga itu menyadarkanku.

"Wow, Flowey Si Bunga? Kreatif banget, sumpah. Kenapa nggak sekalian aja kamu namain dirimu Bung The Flower?!", aku langsung ngomong tanpa banyak mikir. Tapi emang bener sih, namanya nggak kreatif banget.

"Tee-hee, iya, bener. Emang nggak kreatif, tapi mau gimana? Udah takdirnya begini, hehe...", kata si bunga itu dengan suaranya yang centil.

Ya, yang aku pertama kenali dari dia (Cowok? Cewek? Cowok dari Thailand? Tahu deh, kelaminnya ambigu, kayak endingnya Inception) itu suaranya, Centil, sok imut, sok bersahabat gitu, kayak badut sulap yang kamu bisa telpon dari tiang listrik gitu. Atau mungkin kayak tokoh tokoh kartun gitu yang niatnya jadi comic relief, tapi yang ada pengen kamu bunuh? Udah gitu mukanya juga sama lagi kayak suaranya. Centil, sok imut, tapi yang ada bikin kamu kesel.

Pokoknya, dari awal, aku udah nggak senang sama bunga ini.

"Wah, kamu pasti berasal dari dunia atas, ya? Gimana pendaratannya ke sini?", kata si bunga sok tahu, cuma, emang bener, aku kan emang jatuh terus mendarat.

"Ya nggak gimana gimana lah, Flo? Tak panggil Flo nggak apa-apa ya?", kataku mencoba sabar sama nih bunga.

"Heehee, apa aja boleh kok.", kata si bunga dengan centilnya.

Kalau aja aku nggak nyoba jadi baik, nih bunga udah tak panggil Tengik atau Bocah. Tapi kasihan ah, nih bunga udah nyoba baik, masa ya tak jahatin? Udah gitu, entar malah bunganya nangis beneran lagi. Masa ya hal pertama yang aku lakukan setelah jatuh kesini, bikin setangkai bunga (biarpun monster) nangis? Atau mungkin bunganya mau-mau aja dipanggil Tengik, nggak nyadar kalau itu tuh ejekan buat dia?

Atau mungkin bunganya pura-pura baik aja, terus bunuh aku pas aku lengah? Kali aja, dia kan tetep monster. Dan monster suka makan anak-anak, jadi mungkin pas aku tidur, nih bunga bakal lahap aku bulat-bulat.

Ah apaan sih, bunganya udah nyoba baik-baikin aku, adanya aku malah suudzon.

Kembali lagi, ocehan Flo menyadarkanku, "Wah, kau pasti bingung ya, setelah jatuh ke sini? Ampun deh, harus ada yang mengajarkanmu caranya bertahan disini. Untungnya, temanmu ini, Flowey Si Bunga, akan mengajarkanmu bagaimana caranya bertahan hidup disini. Hehehe..."

Saat dia menjelaskan apapun itu yang dia jelasin, aku nggak terlalu dengerin. Ngapain juga aku dengerin cara mempertahankan diri? Toh ya, aku sudah cukup berpengalaman di bidang itu. Hidup tanpa rumah selama kau lahir, dan diadopsi oleh gelandangan tua itu pasti akan membantumu tau caranya bertahan hidup di dunia ini.

Disaat Flowey masih mengoceh pun aku mikir, dimana sih ini? Ya, bawah tanahnya Gunung Ebott, tapi persisnya dimana? Karena ini tempat tinggalnya para monster (nggak usah sok skeptis. Kalau bunga ini aja bicara, nanti paling ada tengkorak berjalan, ikan berbentuk manusia, kadal bungkuk atau semacamnya lah), pasti seengaknya mereka ada, kayak, pemerintahnya kan? Kayak parlemen atau apa gitu? Atau kerajaan aja sekalian, biar bener bener mirip dongeng.

Heh, jangan jangan aku memang di cerita dongeng. Sang Pendekar, Frisk, jatuh ke bawah tanah tak disengaja, harus menyelamatkan kerajaan dari suatu monster yang tak terkalahkan (Flowey?). Dengan bantuan temennya yang nyebelin (Flowey?), Pendekar Frisk akan menyelamatkan para monster-monster baik dari para monster-monster jahat, seperti tengkorak penjaga wilayah, pendekar reptil, ilmuwan ikan gila atau apalah, dan menyelamatkan si putri lalu menikahinya. Kalau aku cowok mungkin, aku bisa menikah sama dia.

Menurutku sih, ini mungkin zona reruntuhannya kota monster ini. Jadi tuh, apa yang ada didepanku ini nanti bekas bekas kerajaannya para monster, terus mereka akhirnya pindah kerajaan gitu. Mungkin itu kenapa tempat ini gelap. Sumber penerangannya udah rusak.

Terus itu berarti bunga ini tuh yang menjaga reruntuhan ini, kalau misalnya ada manusia yang jatuh, dia yang mengurusnya. Apa "mengurus" itu aku tak terlalu mengerti, mungkin bunga ini nggak cukup tega untuk bunuh orang, jadi yang ada dia malah nyoba bersahabat ama orang orang, terus pas orangnya mati ditengah jalan, entar-

"Disini, LOVE diberikan dengan benda putih kecil ini."

Aku tidak sengaja memperhatikan penjelasan Flowey, dan langsung saja aku bingung. LOVE? Benda putih kecil? Diberikan? Apanya? Flowey seperti tidak peduli kalau aku mengerti, dan langsung saja, saat dia menjulurkan lidahnya dengan gaya imut, 5 "benda putih kecil" langsung beterbangan di dekat dia.

"Aduh, aduh, Flo, aku nggak ngerti nih. Tadi maksudmu LOVE itu apa ya? Sama benda putih kecil itu apa ya? Tolong dong jelasi-"

"Benda benda putih ini namanya butir-butir persahabatan. Jika kau ingin LOVEmu bertambah, ambil butir butir persahabatan ini."

Lupakan soal tidak mengerti penjelasannya, saat aku melihat "butir-butir persahabatan" ini, aku langsung tahu itu hanyalah undanganku menuju neraka (atau surga, atau limbo, atau tempat apapun itu dimana kita mati). Ini seperti kalau temenmu datang ke kamu nodongin pistol bilang "Hei, kalau kamu mau kaya, rasain ini butiran persahabatan!".

Aku sudah tahu kalau bunga ini lebih dari sekedar bunga centil yang menyebalkan, bunga ini mungkin saja lebih berbahaya dari apa yang aku tahu.

Tanpa berpikir panjang, langsung saja aku hindari 5 peluru perak itu.

"Hei, masbro, kamu ngelewatin butirannya tuh.", kata Flowey dengan seringai yang agak nyebelin.

"Masbro apanya? Aku tuh mbak! Lagian, gimana caranya LOVEku, apapun itu, bisa bertambah hanya dengan sengaja mengenai diri ke...butiranmu itu, Flo?!", kataku dengan sangat kencang, sampai Flowey sendiri pun sedikit mengerenyit.

"...", Flowey terdiam tidak tahu harus berkata apa.

Sudah kuduga, bunga itu lebih dari apa yang terlihat.

"Yah, pokoknya turuti saja dulu aku! Nanti kamu tahu apa maksudku!", tentang Flowey, masih berpura-pura membantu.

Dia kembali mengeluarkan 5 peluru kecil perak itu. Tentu saja aku menghindar dari peluru itu.

Flowey mulai kesal. Sangat kesal.

"Hei! Kenai gitu loh badanmu ke butiran butiran persahabatan!", ujar Flowey mulai tidak sabar.

Aku sih tadinya mau bantah (Kenai? Emang aku mau ditembak apa?), tapi Flowey sudah cukup kesal tanpa aku banyak omong, dan saat dia kembali lagi mengeluarkan 5 peluru perak itu, aku hindari. Lagi.

"LARI. MENUJU. KE. PELURUNYA.", ujar Flowey tanpa pikir panjang. Heh, dia sudah mulai jujur rupanya.

"...butir-butir persahabatan!", kata Flowey tiba tiba kembali dengan muka centilnya. Udah telat, Flo. Tentu saja aku hindari pelurunya.

Yang dia lakukan selanjutnya pun memastikan padaku bahwa bunga ini memang jahat. Sangat jahat.

"Kau bajingan.", kata Flowey tiba tiba bertampang seram dengan mulut menyeringai dan mata yang terlihat sangat jahat.

"Kau mengerti rupanya apa yang akan aku lakukan, ya?", ujar Flowey dengan mukanya yang sama itu. Aku ingin tertawa karena Flowey butuh waktu sepanjang ini untuk tahu bahwa aku tidak percaya padanya, tetapi seperti membaca pikiranku, bunga itu langsung berujar,

"Kau pikir ini lucu ya? Bermain main dengan orang sepertiku?"

"Lah Flo, kamu kan monster bunga, bukan-", kataku yang maunya mengejek, tetapi tiba tiba,

"MATILAH."

Tanpa banyak gaya, dia langsung mengerumuniku dengan peluru-peluru perak itu, jumlahnya entah berapa, mengelilingi setiap sudut yang ada, dimana aku tidak mungkin bisa menghindar.

Bunga bangsat. Dia langsung mau membunuhku rupanya.

"DI DUNIA INI, KAU MEMBUNUH ATAU DIBUNUH.", kata bunga itu dengan nada sinis dan jahatnya. Ingin banget tak cabik-cabik bunga ini. Tapi...

Ah, sudahlah, aku tak bisa menghindar lagi. Sekalian saja aku terima nasibku dan menutup mata. Sambil aku menutup mata, menunggu kematianku, aku mendengar tawa yang jahat, yang kedengarannya seperti bocah yang habis membunuh kucingnya.

Mungkin. Kan aku nggak pernah bunuh kucing, atau pernah lihat anak kecil bunuh kucing. Pokoknya tawanya tuh kayak iblis anak kecil gitu.

Haduh, udah nggak beruntung jatuh ke gunung Ebott, mana pas jatuh, bakalan langsung dibunuh ama bunga lagi. Nggak keren, sumpah. Entar gimana ya, pak tua itu nasibnya? Biasanya kan kita membantu satu sama lain.

Ah, Frisk, nggak usah dipikirin. Toh ya aku udah mau mati.

Lalu aku menunggu saat dimana aku akan kesakitan, lalu mati langsung.

Aku menunggu.

Masih menunggu.

Nih bunga kok bunuh aku lama ya? Emang dia sambil ngapain, nge-gym?

Aku membuka mataku pelan-pelan, dan peluru peluru sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya Flowey dan mukanya yang terheran-heran.

Tiba-tiba, bola api datang dari sisi kanan Flowey, menerbangkannya jauh dari tanahnya (mukanya pas kena bola api itu lucu juga). Tapi, siapa yang susah susah mau nyelamatin aku? Masa sih, ada manusia lain disini? Yang ada kan cuma aku.

Lalu, seorang monster pun datang menghampiriku.

"Kau tidak apa-apa, anakku?"

#####

Bikin cliffhanger buat fic ini rada lost effort, soalnya kalian kan udah tahu ini siapa (kalau ada dari kalian yang belum, ngapain kalian baca fic ini? Sono lu mainin dulu gih gamenya). Tapi ya, hey, bisa tak coba.

Oh ya, menurut headcanonku itu, Frisk itu anak yang dibuang sama orangtuanya (Siapa? Bodo amat), yang akhirnya diambil sama seorang gelandangan kota yang mengajarinya berbagai hal, seperti mempertahankan diri, ngomong sama orang, ngerayu cewek/cowok, dam sebagainya, makanya kalau di game itu tuh, Frisk tuh smooth talker banget.

Oh, seperti biasa, RnR, yang konstruktif kalau bisa, kayak kalau saya typonya banyak, atau mungkin saya harus lebih panjang ceritanya, atau apa gitu.

Beatdoof, out (^_^)