My Charming Son's Teacher

Chapter 2

Jongin berjalan tidak terlalu cepat, tapi juga tidak lambat. Ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati agar aspal yang digenangi air hujan itu tidak menciprati celana kainnya. Lagipula berjalan-jalan sambil membawa seorang anak kecil sehabis hujan seperti ini tidaklah semudah yang dipikirkan. Kyungsoo yang terlelap di dalam rangkulannya membuat ia semakin tak ingin melakukan pergerakan yang dapat membangunkannya.

"Mr. Kim,"

Jongin menoleh pada wajah orang yang memanggilnya, "Oh, Kyungsoo? Kau sudah bangun."

"Bukankah kita akan membeli ice cream?"

"Hm?" ice cream? Oh. "Ah, ya. Ice cream, aku lupa." Jongin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia terkekeh pada kebodohannya sendiri. "Maaf, tadi tidurmu terlihat nyenyak."

"Pokoknya kau menjanjikanku ice cream, Mr. Kim."

Well, memang ada yang salah dengan Kyungsoo. Dia bukan seorang yang penuntut atau manja. Mereka juga sebenarnya tidak terlalu dekat karena Kyungsoo tidak pernah terbuka padanya. Maka dari itu Jongin berencana untuk mencaritahu apa maksud di balik tingkah laku Kyungsoo yang mendadak berubah drastis seperti ini.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Jongin menemukan sebuah restoran es krim di dekat sana. Kyungsoo juga berkata, "Mommy sering mengajakku ke sini. Aku suka Banana Chocolate Chip!" sehingga Jongin pun tanpa ambil pusing membelikan es krim—dengan rasa yang sebelumnya disebutkan oleh Kyungsoo—sebanyak tiga sekop es krim yang disajikan di dalam sebuah mangkuk besar. Anak kecil itu membiarkan es krim miliknya untuk dihabiskan bersama Jongin. Kyungsoo masih memiliki sopan santun, ia tak ingin serakah.

Mereka duduk di kursi yang menghadap sebuah aquarium di sudut restoran tersebut. Meja itu Kyungsoo pilih karena ia suka melihat Nemo. Jongin tak protes pada pilihan Kyungsoo dan menurutinya meskipun ia yakin bahwa di dalam aquarium tersebut tidak terdapat ikan badut atau ikan yang Kyungsoo asumsikan sebagai Nemo.

"Mr. Kim …."

"Ya?"

Kyungsoo menghembuskan napasnya berat, ia terlihat lucu di mata Jongin. Kyungsoo meniru gaya bahasa orang dewasa ketika sedang berpikir keras, hal tersebut membuat Jongin terkekeh pelan.

"Apa kau menyukai mommy?"

Jongin menyimpan sikunya di atas meja, tangannya menyangga dagu. Ia menatap wajah lugu Kyungsoo dari samping, mencoba mengartikan keseriusan dari raut wajahnya. Anak-anak terkadang tak mudah ditebak.

"Ya, tentu saja." Jawab Jongin santai setelah beberapa saat tanpa merasa curiga, ia lalu tersenyum pada Kyungsoo dan balik bertanya, "Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa." Kyungsoo juga tersenyum, lebih ceria. Ia menyuapkan sesendok es krim penuh ke dalam mulutnya dan mengernyit ketika giginya terasa linu berinteraksi dengan dinginnya es krim. Ia menangkup pipi gempalnya dengan kedua tangan sambil memekik, "Uhuuu, dingin seperti musim dingin!"

"Jangan makan terlalu banyak, kau bisa sakit gigi." Jongin mencubit pelan pangkal hidung Kyungsoo yang terlihat agak memerah. Ia selalu merasa gemas pada anak kecil yang menurutnya terlihat manis, tak terkecuali putranya sendiri.

"Aku ingin musim dingin kembali." Ucap Kyungsoo tiba-tiba, ia memandangi Jongin dengan mata besarnya, berharap pria dewasa itu dapat mengabulkan permintaannya.

Jongin tertawa mendengar betapa random-nya pernyataan Kyungsoo. Ia kemudian meraih selembar tisu yang ada di atas meja dan menggunakannya untuk membersihkan noda-noda coklat yang teroles di sebagian wajah Kyungsoo. "Musim dingin tinggal beberapa bulan lagi."

"Hmmm, aku tidak ingin yang baru. Aku ingin musim dingin yang lama."

"Tentu saja tidak bisa."

"Why?!" ia menjerit setengah merengek. Pipinya dikembungkan. Ia melipat kedua tangannya di dada. Salah satu perilaku histerisnya yang diturunkan sang orangtua.

"Karena … karena kita harus melihat ke masa depan." Kyungsoo terlihat kebingungan pada ucapan Jongin yang menurutnya terdengar rumit. Ia mengerutkan alisnya. Jongin pun mempermudah apa yang dimaksudnya dengan menambahkan, "Dan juga karena aku tidak memiliki mesin waktu."

"Kalau begitu ayo beli!" anak kecil itu turun dari kursi yang di dudukinya dan berdiri di samping Jongin, ia menarik-narik kain mantel yang dikenakan gurunya. "Ayo ayo ayo!"

"Kyungie," Kyungsoo pun diam sesaat dipanggil seperti itu oleh gurunya, "mesin waktu itu tidak dijual murah." Ya Tuhan, apa yang aku bicarakan. Jongin merasa idiot membicarakan hal yang ia pun tak tahu pasti keberadaannya, tapi ia tetap melanjutkan. "Kau harus menjadi orang yang memiliki sangat-sangat-sangat banyak uang."

"Sangat-sangat-sangat banyak uang?" Kyungsoo mengulang sebagian kalimat Jongin yang tidak ia pahami.

"Hm, kau harus memiliki banyak uang."

"Caranya?"

"Dengan belajar yang baik dan jangan kecewakan orangtuamu." Jongin meraih pucuk kepala Kyungsoo untuk dielus. Beberapa anak menyukai skinship yang ia lakukan. Mereka mengatakan bahwa mereka merasa lebih diperhatikan oleh Jongin atas perlakuannya tersebut.

"Whoa, kalau begitu aku akan belajar yang rajin dan memiliki sangat-sangat-sangat banyak uang."

Jongin senang ketika melihat Kyungsoo antusias terhadap sesuatu. Kyungsoo akan menjadi lebih periang dan terlihat gembira, juga sedikit lincah. Wajahnya yang lucu juga menambah rasa kagum orang-orang terhadapnya.

Mereka kemudian keluar dari restoran es krim itu untuk kembali ke rumah Sehun. Kali ini Kyungsoo tidak ingin digendong, ia lebih memilih berjalan kaki dengan didampingi Jongin. Mereka berpegangan tangan; selayaknya pemandangan indah ayah-anak-yang-sedang-berjalan-jalan yang akan kau temui di sisi kota. Matahari mulai tenggelam, udara segar di mana-mana, semuanya terasa nyaman. Suasana hati Kyungsoo pun membaik.

"Mr. Kim."

Jongin menoleh pada Kyungsoo. Tangannya masih menggenggam tangan mungil Kyungsoo sambil menuntunnya berjalan.

"Aku akan mengatakan sebuah ide rahasia, tapi jangan katakan ini pada mommy."

Jongin mendekat sedikit pada Kyungsoo ketika anak itu memintanya membungkuk untuk dibisikkan rahasia yang akan dikatakan. "Aku akan menggambar dan berhitung lebih baik lagi." Bisiknya dengan nada seolah informasi tersebut benar-benar terbilang serius dan mengagumkan.

"Whoa, okay ..., itu tidak buruk." Respon Jongin meniru nada bicara Kyungsoo, menganggap bahwa informasi itu mengejutkannya.

"—lalu membeli mesin waktu dan aku akan membawa daddy kembali untuk mommy, jadi nanti di hari orangtua, mommy tidak akan kesepian dan sedih lagi. Bagaimana, Mr. Kim? Ide yang bagus, bukan?"

.

.

.

"Hai, um, Jongin. Terima kasih sudah membiarkan Kyungsoo menyusahkanmu—ah, tidak. itu terdengar kasar." Sehun mengatur ekspresinya di hadapan sebuah cermin di dalam kamarnya. Ia kini sedang menunggu putranya untuk kembali dari kegiatan bersenang-senangnya. Okay, lebih tepatnya ia sedang menunggu putranya dan sangat mengharapkan kehadiran Jongin ke hadapannya.

"Oh, atau begini." Sehun berdehem. Ia mulai kembali berbicara pada bayangan dirinya di cermin. "Jongin, terima kasih sudah mengajak Kyungsoo berjalan-jalan. Aku juga sebenarnya ingin kau ajak karena jam kerja malamku masih beberapa jam lagi—ya Tuhan, aku terdengar murahan!"

Ia sebenarnya tidak ingin terdengar terlalu berharap oleh Jongin karena mungkin pangerannya itu tidak melihatnya sebagai apa pun. Jongin 'kan sudah berkeluarga, duh. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau pasangan Jongin meninggalkannya karena tidak pernah sekalipun Sehun mendengar Jongin menceritakan kehidupan keluarganya.

Mungkin karena sebenarnya Jongin sedang ada masalah dengan kekasihnya dan mereka kini berada di ambang perceraian?

Hihihishdfkjdfg oh, yeah. Semoga saja itu benar—shit. Aku seharusnya tidak merasa senang atas musibah orang lain.

"Aku bukan pria jalang, okay." Katanya pada … dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam sambil memikirkan rangkaian kata yang tepat untuk menyambut Jongin pulang—ehem, maksudnya mengantar Kyungsoo pulang dengannya.

"Mommy, apa itu pria jalang?"

"Aaah, baby! Kau mengejutkanku!" pekik Sehun setengah histeris. Ia menyimpan tangannya di dada lalu menghela napas lega menemukan putranya sudah kembali. Ia pun berjalan ke arah Kyungsoo dan mengangkatnya susah payah untuk dipangku. Rasa sakit di punggungnya ia abaikan. "Sudah berapa lama kau ada di sini?" tanyanya tanpa mengindahkan pertanyaan yang sebelumnya Kyungsoo lontarkan.

"Lima menit." Sehun menahan tawa gelinya mendengar jawaban Kyungsoo. Putranya itu masih belum diajarkan mengenai waktu dan satu-satunya yang ia tahu hanyalah 'lima menit'. Mungkin ini karena ia terlalu sering mendengar kata-kata tersebut dari Sehun ketika orangtuanya itu sedang berbicara di telepon.

"Apa kau sudah berterima kasih pada Mr. Kim?"

"Sudah. Aku melakukannya tiga kali!"

"Kau memang pintar." Sehun tersenyum dalam hati merasa mood Kyungsoo sepertinya kembali ceria. Ia memang harus berterima kasih banyak pada Jongin atas jasanya.

Omong-omong soal Jongin. Pria yang selalu ada di dalam pikiran Sehun itu sedang duduk santai di dalam mobilnya dengan mata tertutup. Kaca jendela terbuka sedikit, membiarkan Sehun tahu bahwa Jongin sedang memejamkan mata sambil mendengarkan musik.

God, bless Jongin.

Jongin yang memejamkan matanya, Jongin yang sedang duduk, Jongin yang sedang diam, Jongin yang sedang menghirup udara—kenapa?! Kenapa itu semua harus terlihat mempesona?! Kini bahkan selera musik Jongin—yang sebelumnya Sehun anggap membosankan—terasa mengagumkan baginya.

Sehun berdehem; mengatur suaranya agar terdengar merdu—atau setidaknya terdengar menarik untuk Jongin. Meski pada akhirnya—untuk membangunkan Jongin yang sepertinya sedang terlelap itu—Sehun mengetuk kaca jendela yang membingkai wajah tampan Jongin—setelah ia meninggalkan Kyungsoo di dalam rumah.

"Mau mampir?" tawar Sehun ketika Jongin telah terbangun dengan sedikit terhentak karena terkejut mendengar ketukan pada kaca di sampingnya. "Maaf mengganggu tidurmu. Tapi tidak baik tidur dengan posisi seperti itu."

"Oh, hai Sehun." Katanya dengan suara agak parau. Sepertinya Jongin telah terlelap cukup lama. Ia kemudian keluar dari mobil yang ditumpanginya untuk berhadapan dengan Sehun sebagaimana mestinya; berdiri saling berhadapan pada satu sama lain. "Sepertinya aku tidak akan mampir. Aku harus menjemput putraku sekarang juga."

Sehun mendengar sesuatu yang retak, seperti … oh, apakah itu hatinya? Ouch. Kesempatan untuk mengesankan Jongin sirna dalam sekejap.

"Hm, baiklah." Kata Sehun berusaha terdengar tidak kecewa sambil mengangguk kepalanya pelan. "Mungkin lain kali …? Dan terima kasih sudah mengajak Kyungsoo berjalan-jalan. Aku berhutang padamu."

Sehun tidak tahu harus mengatakan apa selanjutnya, jadi ia pun diam sejenak. Menunggu Jongin yang memulai percakapan—oh, atau lebih tepatnya, mengakhiri percakapan.

"Kalau begitu … bye, Jongin?" Kata Sehun setengah hati. Ia perlahan mulai berjalan menjauh dari Jongin dengan ragu-ragu namun aksinya itu terhentikan ketika terasa sebuah tangan yang menarik pundaknya.

"Sehun."

Sehun bersumpah. Sehun bersumpah cahaya matahari di sore hari membuat kedua bola mata Jongin terlihat lebih indah dari sebelumnya. Sehun pun seperti terhipnotis ke dalam pemandangan itu.

"Ya?"

"Hm," Jongin menggaruk punggung lehernya sekilas lalu mengalihkan tatapan pada aspal yang sedang dipijak, "bagaimana kalau nanti kita pergi bersama untuk acara hari orangtua di sekolah?"

apa?

"Apa?"

Mengapa gerak-gerik Jongin seperti seorang anak remaja labil di masa sekolah menengahnya yang sedang mengajak seseorang untuk berkencan? Atau ini hanya halusinasinya saja?

"Acaranya diadakan besok lusa, dan aku—hm, kau—maksudku aku tidak ingin Kyungsoo merasa agak kesepian untuk acara hari orangtua. Mungkin itu yang sebenarnya ingin dia katakan padamu."

"Dia mengajakmu untuk bergabung dengan kami?"

"Oh, bukan begitu. Aku sendiri yang mengajakmu, ini inisatifku."

Inisiatifnya. Jongin yang menginginkan ini. Sepertinya Sehun tidak bernapas.

Jongin berdehem lalu kembali menatap Sehun di manik mata. "Tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa."

"Aku setuju saja kalau kau tidak keberatan."

"Tidak sama sekali." Dan ia pun tersenyum.

Damn it, Jongin! jangan tersenyum seperti itu!

Sehun mengangguk untuk merespon ucapan Jongin, namun kemudian ia pun mengingat hal penting yang sedang mengganjal hatinya. Ia ingin memastikan pernyataan yang meresahkannya ini. "T-tapi bagaimana dengan keluargamu?"

"Aku akan ajak putraku juga."

"Kalau kekasihmu?" bersiaplah Sehun. Tegarkan dirimu ketika jawaban yang kau tunggu-tunggu itu datang. Jangan menangis, jangan menangis. Kau pasti bisa—

"Oh, aku tidak memiliki kekasih." Katanya yang diselingi tawa gugup, "dan putraku itu diadopsi."

Oh. Aku. Tidak. Memiliki. Kekasih. Dan. Putraku. Itu. Diadopsi; satu, dua, tiga, empat, lima—sembilan kata yang dapat membuat Sehun meregang nyawa di tempat.

Pertanyaan untuk hari ini adalah, berapakah nomor telepon untuk menghubungi rumah sakit? Karena Sehun sepertinya telah kehilangan kewarasannya dan ia membutuhkan sebuah ambulans untuk berjaga-jaga jika jantung lemahnya tak kuat menahan rasa bahagia.

.

.

.

.

.

.

tbc


mind to leave a review? thank you :D