Kejujuran &Tantangan
A story about Baekhyun, Kyuhyun and Chanyeol
By Cekerjongin2
Standard disclaimer applied
Lenght:
Chaptered! On going!
Genre:
Romance, School-life, Comedy
Dedicated:
readers tercinta dan my beloved Baby's Breath Byun Bekhyun
Warning:
Yaoi, BoyXBoy, homo, gay,crackpair, OOC,typo(s),menyebabkan waktu kalian terbuang
.
Don't like? don't read! Happy reading ^3^
.
Chapter 2: Hot Issue!
.
Setelah memastikan Sehun dan Kyuhyun telah meninggalkan kamar mereka, Chanyeol mengunci pintu kamarnya dan berjalan mendekati Baekhyun.
Lelaki mungil itu sudah duduk di atas ranjangnya sendiri dan menghapus air yang membasahi wajah cantiknya dengan tisu. Chanyeol sedikit ragu untuk mengajak sahabatnya ini berbicara.
"Eung… Baek?" panggilnya sambil duduk di dekat namja bermata sipit itu. Baekhyun meremas-remas benda berwarna putih itu lalu melemparnya ke tong sampah.
"Ya?" Baekhyun membalikan badannya untuk menatap Chanyeol.
"Ada masalah apa antara kau, Sehun dan Kyuhyun sunbae?" Baekhyun mengambil nafas dalam setelah Chanyeol melontarkan pertanyaan itu. Kedua sudut bibirnya terangkat.
"Tidak apa-apa, tugasmu hanya memenuhi tantangan dariku, bisa kan?" Chanyeol menatap Baekhyun cukup lama sebelum ia mengangguk mengerti.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" tanyanya setelah beberapa sekon berlalu dengan keheningan.
"Berpura-pura menjadi kekasihku. Anggap aku kekasihmu, Park Chanyeol. Kau pasti bisa. Kumohon," Chanyeol dapat merasakan jari-jemari lentik milik Baekhyun menggenggam tangannya.
"Bahkan, kau selalu tersenyum lebar saat kau mempunyai masalah. Is that true, Chanyeolie?"
Mata Chanyeol terbelalak beberapa detik. Kemudian dengan sigap ia menutupi kekagetannya itu.
"Aku bisa," Baekhyun tersenyum. Bukan senyum bahagia jika dilihat dari sudut pandang Chanyeol.
"Aku ada ekstra kulikuler siang ini. Aku pergi dulu," pamitnya setelah berdiri dari ranjangnya. Chanyeol memandangi punggung mungil itu. Ia yakin ada sesuatu di antara mereka bertiga.
.
.
Sekitar pukul 8 pagi. Saat siswa Nambyeol senior high school mulai memasuki sekolah. Tidak ada yang berbeda, kecuali dengan room mate ini. Chanyeol dan Baekhyun.
Mereka memang teman sekamar. Terkenal sebagai biang rusuh sejak tingkat 1 senior high scool. Namun, pemandangan ini benar-benar tidak terduga oleh teman-teman mereka. Dua individu bernama Park Chanyeol dan Byun Baekhyun bergandengan tangan dengan mesra. Mereka jarang sekali datang ke sekolah bersama-sama. Apalagi bergandengan tangan seperti ini.
Baekhyun terlihat malu-malu bergandengan bahkan berdekatan dengan Chanyeol. Padahal mereka kan satu kamar? Kenapa harus malu? Seluruh siswa yang melihat mereka terperangah. Di otak mereka dipenuhi dengan tanda tanya.
"Apa aku tidak salah lihat? Baekhyun hyung dengan Chanyeol hyung?" tanya seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan mata panda.
"Aku juga baru tahu kemarin," timpal namja kurus di sampingnya. Dia Sehun.
Arah mata mereka semua mengikuti langkah Chanyeol dan Baekhyun. Dua insan yang menarik perhatian itu berhenti di depan kelas 2-3, alias kelas Baekhyun.
"Chagi, kita sudah sampai di depan kelasmu," Chanyeol memberitahu Baekhyun. Sebenarnya Chanyeol ingin segera lepas dari genggaman Baekhyun. Karena entah kenapa jantungnya berdetak tak sesuai irama saat bersama teman sekamarnya ini.
Namun, Baekhyun tidak melepaskan genggaman tangannya. Lelaki bermata sipit itu justru memeluk tangan kiri Chanyeol. Tak lupa ia memasang mimik wajah memelas yang menggemaskan.
"Aku mau ikut ke kelas kamu aja," jawabnya dengan nada super manja. Chanyeol menelan salivanya dengan susah payah. Dia bersumpah demi Sandara Park kakak kelas yang Chanyeol sukai bahwa Baekhyun benar-benar berbeda, dia menggemaskan? Ya begitulah menurut Chanyeol.
"Chagi! Aku ke kelasmu ya?" Baekhyun mengeluarkan suara lagi setelah berpuluh-puluh sekon Chanyeol mendiaminya. Namun, sekarang dengan ekspresi yang berbeda. Tubuhnya yang pendek memaksa kepalanya mendongak untuk menatap Chanyeol, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan imut dan mengerucutkan bibir tipisnya.
"Ya? Ya? Aku ingin bersamamu, Dobi-ya…," pintanya manja. Jika ini tidak di depan banyak orang mungkin Chanyeol sudah memakan bibir semerah cherry itu.
Belum sempat Chanyeol mengiyai permintaan Baekhyun, suara bel menginterupsi mereka berdua. Baekhyun melepaskan pelukannya pada tangan Chanyeol.
"Kamu lama, Dobi! Aku marah denganmu!" serunya sambil berjalan menghentak-hentak menuju kelas. Chanyeol melongo selama setengah sekon. Sama seperti murid-murid yang mengamati mereka.
"Apa benar itu Baekhyun?" tanya seseorang setengah berbisik pada 'mata-mata' lain.
"Baekhyun memang uke idaman. Namun, aku tidak menyangka ia akan seperti ini jika berpacaran."
"Baekkie!" seru Chanyeol setelah sadar. Tapi, Baekhyun telah masuk ke kelas dan tak menghiraukannya. Namja jangkung itu pun memilih untuk memasuki kelasnya sendiri, kelas 2-4. Saat mereka istirahat nanti, ia harus meminta maaf kepada Baekhyun.
.
"Sehun-ah! Ya! Sehun-ah!" sebuah teriakan terdengar dari belakang punggung Sehun. Membuat pemuda jangkung yang sedang berjalan di koridor dengan Tao itu menoleh kebelakang.
"Ada apa, hyung?" tanya setelah tau bahwa yang meneriakinya lebih tua darinya. Yang meneriaki Sehun tidak lain adalah Kyuhyun.
"Kita bicarakan di kantin," jawab namja yang memanggil Sehun tadi.
"Traktir jajangmyun, hyung!" saran Tao dengan nada riang.
"Ide bagus! Aku setuju dengan ide Taozi! Aku tidak mau berbicara denganmu, jika hyung tidak mentraktir kami," Kyuhyun mengusap wajahnya, facepalm. Ini semacam karma untuknya yang sering meng-evil-i hyungdeul-nya.
"Pemerasan," komentarnya singkat. Tao mulai beranjak dari sana.
"Jangan mau Sehun! Lebih baik kita ke kelas Kyungsoo hyung untuk mengincipi bekalnya!" ujarnya memprovokasi Sehun, sahabat karibnya.
"Ayo! Buang-buang wak..."
"Siapa yang bilang tidak mau mentraktir kalian? Ayo ke kantin dan kutraktir jajangmyun!" ajaknya pasrah. Terlalu pasrah. Tujuannya mengajak Sehun berbicara adalah untuk memprotes sesuatu. Tapi ia justru menjadi korban pemerasan Sehun dan Zitao.
.
Zitao, Sehun dan Kyuhyun sedang sibuk menghabiskan semangkuk jajangmyun di hadapan mereka. Sebenarnya, Kyuhyun ingin mengajak Sehun berbicara sambil makan jajangmyun. Tapi, Zitao lagi- lagi memberi saran untuk tidak berbicara saat makan, bisa tersedak katanya. Dan entah kerasukan malaikat apa, Kyuhyun mau mengikuti saran pemuda berdarah Cina itu.
"Cepat habiskan jajangmyun-nya!" titah Kyuhyun saat ia telah menghabiskan jajangmyun-nya. Sedangkan Sehun dan Zitao sibuk bercanda. Bukannya makan tidak boleh berbicara? Lalu, kenapa mereka justru bercanda?
"Sst! Jangan berbicara sambil makan, hyung!" adik kelas bermata panda itu justru menasehatinya. Kyuhyun mendengus.
"Waktu istirahat akan habis jika menunggu kalian selesai makan! Lama!"
"Memangnya kita lama ya?" tanya Sehun dengan wajah tanpa dosa yang membuat Kyuhyun harus menahan emosinya.
Benar-benar.
"Katamu Baekhyun single?" Kyuhyun mulai to the point. Karena, jika meladeni Sehun bisa-bisa sampai rambutnya berubah warna pun tidak akan selesai.
"Ya, tapi hyung lihat sendiri kemarin," Sehun meminum cola-nya setelah mengatakan hal itu.
"Tapi, kau bilang Baekhyun single. Kau harus tanggung jawab, Sehunie," Kyuhyun melipat tangannya di dada dan memamerkan smirk andalannya. Tak lupa mimik wajah aristocrat-nya.
Sehun meletakan cola-nya dan menatap kakak kelasnya itu. Tangung jawab ya?
"Kenapa aku harus tanggung jawab, hyung?"
"Kau menghamili Kyuhyun sunbae?" tebak Tao seratus persen sok tau. Sehun dan Kyuhyun mendelik.
"Ya! Mana mungkin dia hamil!" elak Sehun sambil menunjuk Kyuhyun.
"Hehe iya ya... Lalu? Tanggung jawab apa?"
"Sehun bilang Baekhyun single. Tapi, kenyataannya? Jadi, kau harus bertanggung jawab padaku, Oh Sehun."
Sehun terdiam beberapa detik. Ia tidak menyangka Kyuhyun yang terkenal evil mempunyai sifat yang aneh seperti ini.
"Memangnya ada masalah apa dengan kau jika Baekhyun tidak single?" tanyanya yang membuat smirk di bibir Kyuhyun menghilang. Kyuhyun memikirkan jawaban yang tepat untuk Sehun. Kenapa ia seperti ini? Biasanya dengan mudah ia memenangkan sesuatu. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan siapa pun.
"Jangan-jangan kau menyukai Baekhyun karena tantangan dariku?" sekarang Sehun yang memamerkan smirk-nya. Glup, Kyuhyun menelan salivanya dan susah payah untuk menahan ekspresi kagetnya. Sedangkan Tao menatap mereka berdua tidak mengerti.
"Bukankah kesimpulanku benar, Cho Kyuhyun-ssi?"
Kyuhyun sedikit menundukan wajahnya. Mendengus meremehkan kesimpulan dari Sehun. Lalu mendongakkan kepalanya menatap Sehun dengan sudut bibir yang terangkat sebelah. Menyeringai lagi.
"Jangan sok tahu, Sehun-ssi," Kyuhyun berdiri dari duduknya saat bel tanda istirahat telah berakhir berbunyi. Mereka bertiga pun tidak memperpanjang obrolan ini dan kembali ke kelas masing-masing.
.
.
Di sisi lain dengan menit yang berbeda. Chanyeol baru saja kembali dari kantin, tangan kanannya menggenggam sebuah coklat –yang siapa pun tahu kalau coklat itu untuk Baekhyun-.
Namja jangkung itu memasuki ke kelas Baekhyun. Mata cerahnya mencari-cari lelaki bertubuh mungil itu. Dan tak lupa hampir semua sorot mata terarah padanya.
"Mencari Baekhyun, Jerapah?" tanya pemuda mata berbulat. Kyungsoo namanya. Ia sedang memakan bekalnya dengan Jongin.
"Di mana dia?" Chanyeol berjalan mendekati Kyungsoo. Lalu berdiri di dekatnya.
"Dia keluar. Tidak mungkin jika ke kantin atau perpustakaan. Karena aku melihatnya membawa bekal," Chanyeol mengangguk.
"Terima kasih, Kyungsoo-ya," ungkapnya sebelum pergi dari kelas Baekhyun.
Tidak ke kantin dan perpustakaan? Di kelas 2-4 –kelas Chanyeol- juga tidak ada. Dan tidak mungkin Baekhyun berada di kelas 2-1 atau pun 2-2 karena kelas itu lebih memilih berkencan dengan buku daripada mengenyangkan perut mereka. Bahkan mereka lebih rajin dari pada kakak kelas yang akan menghadapi ujian.
Apalagi ke kelas 1 atau 3, itu lebih tidak mungkin. Tempat yang tersisa adalah rooftop, pekarangan di belakang sekolah mereka, dan UKS.
UKS bukan tempat yang nyaman untuk makan, kau tahu? Di sana aroma obatnya sangat menyengat. Di waktu siang seperti ini rooftop sangat panas, itu sama saja dengan berjemur dan menjadikanmu kembaran Jongin. Chanyeol memutuskan untuk berjalan ke pekarangan di belakang sekolah. Di sana sangat nyaman dan teduh karena banyak pepohonan.
.
Setelah berjalan melewati kelas 3-1 Chanyeol sampai di belakang sekolah. Warna hijau memenuhi matanya sesampainya ia di pekarangan ini. Matanya menelisik satu persatu pohon rindang yang tumbuh. Mencari sosok yang membuat tubuhnya merasakan reaksi yang aneh.
Seorang laki-laki dengan rambut berwarna hitam pekat sedang duduk di bawah pohon maple. Di pangkuannya terdapat sebuah kotak makan berwarna kuning. Kepalanya mendongak melihat ranting pohon yang bergerak dengan indah. Chanyeol tahu itu adalah Baekhyun. Chanyeol tersenyum begitu menemukannya.
Kaki panjangnya mengambil langkah untuk mendekati Baekhyun. Lalu mendudukkan pantatnya di bawah pohon maple yang sama dengan Baekhyun.
Dari mata Chanyeol lelaki mungil itu tidak terlihat berwarna. Bukan, Baekhyun bukan hitam putih atau monokrom. Rambutnya memang hitam, seragamnya berwarna pastel sama seperti yang Chanyeol kenakan, bibirnya berwarna cherry, kulitnya seputih susu.
Secara visual lelaki itu berwarna. Namun, bukan itu yang Chanyeol maksud. Yang lelaki jangkung itu maksud adalah tatapan matanya. Tatapan itu kosong, bola mata sipit itu terlihat sedih.
"Baek? Kau tak apa? Eung... maafkan aku soal tadi ya," Chanyeol membuka obrolan mereka. Karena sejak kedatangannya Baekhyun yang cerewet belum juga mengeluarkan suaranya.
Baekhyun tersenyum. Terlihat seperti senyum pedih. Tapi, Chanyeol cukup senang bisa melihat lelaki mungil itu tersenyum dari pada ia menatap kosong sesuatu tanpa sebuah senyuman. Seperti tadi.
"Bukan apa-apa, Chanyeol-ah. Itu sebagian dari drama kita," jelasnya sambil membawa kepalanya bersender di pundak Chanyeol. Aroma strawberry dari rambut Baekhyun menyapa indra penciuman Chanyeol saat itu juga.
Ya, semua ini adalah drama. Tidak ada yang sungguhan di antara Baekhyun dan Chanyeol. Chanyeol mencoba menempelkan fakta itu di otaknya.
Saat mereka berada di belakang panggung, waktu tidak ada orang yang melihat mereka, mereka hanya sepasang room mate biasa. Tidak ada kata cinta. Karena hubungan ini memang tanpa dasar cinta. Tidak ada cinta di antara Baekhyun dan Chanyeol.
Entah kenapa Chanyeol merasakan nyeri di dadanya. Sama seperti saat Sandara sunbae menolaknya. Tapi, ini jauh lebih sakit. Dan... kenapa?
"Tapi, kita harus tetap siaga, Chanyeol-ah. Apa yang kita perbuat memancing rasa pernasaran orang lain. Dan mereka bisa saja mengikuti kita. Apa lagi kau kan gitaris yang terkenal di sekolah," sarannya sambil melihat ranting pohon yang bergerak tertiup angin.
"Ini cukup berat," Chanyeol memejamkan matanya.
"Maaf Chanyeol-ah, aku melibatkanmu ke dalam urusanku," telinga Chanyeol mendengar suara menyedihkan Baekhyun. Dengan segera Chanyeol menggerakan tangannya pada kepala Baekhyun. Mengelus surai hitamnya dengan kasih sayang.
"Aku adalah sahabatmu, bukan orang lain. Jangan sungkan-sungkan seperti itu."
Baekhyun mendongak menatap Chanyeol. Sebuah senyuman manis menghiasi wajah rupawan Baekhyun pada saat itu. Chanyeol dapat merasakan tatapan itu. Lelaki jangkung itu balas menatapnya. Menatap manik hitam yang tak sekosong tadi.
Bagaikan hipnotis manik itu membuatnya lupa, dengan berjalannya waktu jarak di antara mereka semakin menipis. Baekhyun menutup matanya saat ia merasakan sebuah kehangatan di bibir cherry-nya.
Chanyeol tak mendengarkan suara bel yang berdering, karena pemuda yang lahir pada bulan november itu telah mabuk oleh rasa bibir tipis Baekhyun. Tangannya melingkari pinggang mungil Baekhyun. Sedangkan Baekhyun mengalungkan tangannya di leher Chanyeol.
Baekhyun memang tidak menolaknya. Namun, bukan berarti Baekhyun membalasnya. Inilah yang membuat ciuman itu terasa sakit di sudut pandang Chanyeol.
Ini semua adalah drama.
Tanpa mereka ketahui seseorang di sana melihat scene ini dengan tangan yang mengepal. Orang itu juga tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Dari pada emosi dalam tubuhnya bertambah orang itu memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju kelas 3-2.
.
.
Kyuhyun menatap langit-langit kamarnya. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Tetapi lelaki bert-shirt hitam itu belum juga menutup matanya. Pikirannya dipenuhi kejadian tadi siang.
Pertama, tentang pertanyaan Sehun bahwa ia menyukai Baekhyun karena tantangan yang Sehun beri untuknya.
Jujur saja, dia sendiri juga bingung. Apa benar ia menyukai lelaki manis bersurai hitam itu?
Tangan kanan Kyuhyun meraba dadanya sendiri. Jika diingat-ingat jantung di dalam tulang rusuknya selalu berdetak dengan cepat saat melihat Baekhyun. Hanya dengan melihatnya saja! Perasaan nyaman merayapi hatinya saat bersama pemuda itu. Dan nyeri di dada saat melihat lelaki bermata sipit itu bersama Chanyeol.
Kedua, tadi siang ia tidak sengaja melihat mereka berciuman. Dan entah kenapa, ia merasa marah, dan sakit. Kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini? Apa benar yang dikatakan oleh Sehun?
Kyuhyun sendiri masih tidak mengerti.
"Belum tidur, Kyuhyunie?" tanya suara di seberang. Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke suara itu. Dia Sungmin, room mate Kyuhyun. Pemuda imut bergigi kelinci.
"Ada masalah? Aku bisa bercerita kepada hyung," tawarnya sambil berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang Kyuhyun.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bingung hyung."
"Bingung kenapa?" Kyuhyun tersenyum.
"Tidak mau bercerita?" pemuda itu bertanya lagi.
"Kau terbangun karena apa hyung?" Sungmin memutar bola matanya. Kyuhyun sangat tertutup.
"Sudah lebih baik kau tidur sana! Jangan terlalu dipikirkan, enjoy."
Enjoy? Oh mungkin Kyuhyun harus menyuruh jantungnya enjoy saat bertemu dengan Baekhyun. Bukankah itu ide yang cemerlang?
.
.
Sebuah ketukan membuat Sungmin dan Kyuhyun heran. Mereka bertatapan satu sama lain. Ini masih jam setengah tujuh pagi dan masuk sekolah adalah jam delapan. Apa benar ada manusia yang mendatangi kamar mereka sepagi ini?
"Sana kau yang membuka pintu. Mungkin dia sebangsa denganmu!" titah Sungmin setelah bertatapan beberapa saat.
Kyuhyun mengumpat dalam hati. Ia tahu apa yang dimaksud 'sebangsa' pada kalimat Sungmin.
Kyuhyun yang masih menggunakan baju tidurnya berjalan mendekati pintu dan menarik benda berwarna coklat itu.
Kedua bola mata Kyuhyun menangkap sebuah bayangan lelaki dengan tinggi 180 cm. Benar kata Sungmin, mereka sebangsa. Mengingat sudah beberapa kali lelaki di depannya ini mengerjainya yang notabene seorang kakak kelas.
Kulitnya putih seperti susu. Matanya sipit dan akan hilang jika ia tersenyum dengan cara yang berlebihan. Seperti saat ini. Kyuhyun menghela nafas panjang. Ada apa dengan anak ini?
"Perlu apa, Oh Sehun? Kau tidak punya jam eh?" tanyanya sambil menyandarkan dirinya ke kusen pintu.
"Tidak, tebakanmu salah, hyung. Aku punya jam dan kau bisa membacanya," sanggahnya dengan bangga.
"Lalu? Ini masih jam enam lebih tiga puluh menit, Oh Sehun."
"Ya, aku tahu itu. aku sudah merencanakan datang ke kamarmu jam 6.30 kemarin malam bersama Zitao. Dan aku sukses."
"Ada apa? Jangan bertele-tele!"
"I wanna talk to you about something," jawabnya dengan sok inggris. Pasti Kris si bule Kanada yang mengajarinya.
"Katakan saja! Kau ribet sekali sih? Ck."
"Oh kau mau Sungmin hyung tau? Wah tak kuduga!" pemuda itu bertepuk tangan seakan ia baru melihat sebuah penemuan inovatif.
"Mwo? Tidak tidak! Kalau begitu tunggu saja. Kita bicarakan sambil berangkat sekolah," terpaksa adalah hal yang kau dapatkan saat melihat raut wajah Kyuhyun saat ini.
Siapa bilang jika kau bertemu dengan teman satu bangsamu kau akan senang? Sepertinya itu tidak berlaku bagi seorang Cho Kyuhyun.
.
Sehun berjalan menuju sekolah mereka sambil memakan sandwich. Jika kalian ingin tahu, itu adalah sandwich hasil memaksa Sungmin dengan aegyo. Aegyo itu berbahaya.
Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Jam 7, padahal bel tanda dimulainya jam pelajaran berdering pada pukul 8. tepuk tangan untuk Oh Sehun yang berhasil mengajak-mungkin lebih tepatnya memaksa- Kyuhyun untuk membicarakan sesuatu sambil berangkat sekolah. Dengan alibi tambahan, "Ini masih pagi hyung. Tidak banyak murid yang datang, rahasiamu akan aman di genggamanku". Memangnya siapa yang mau memberinya rahasia? Dasar pede bin sok tau.
"Hyung katakan saja jika kau menyukai Baekhyun."
"Aku tidak menyukainya kenapa aku harus mengatakannya?"
"Tidak, kau menyukainya. Aku tahu itu."
"Tidak, dia sudah punya Chanyeol, Sehun-ah,"
"Tuh kan! Haha," timpal Sehun dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan.
"Tuh kan apa?" tanyanya sedikit emosi karena melihat smirk di bibir Sehun.
"Kau menyukai Baekhyun hyung."
"Tidak, harus berapa kali aku bilang?"
"Kau menyukainya tapi kau mencoba untuk melupakan perasaanmu karena kau baru saja tahu jika Baekhyun sudah punya Chanyeol, ya kan?"
Kyuhyun menelan salivanya susah payah. Hell, apa-apan anak ini?
"Itu kesimpulanmu."
"Dan kesimpulanku benar. Haha..."
Kau punya gergaji mesin? Atau mungkin pedang seperti di film-film bertema perang? Jika kau punya berikan itu pada Kyuhyun. Karena ia ingin memberi Sehun pelajaran. Pelajaran bagaimana cara menghormati sunbae.
.
.
Seperti magnet, sosok itu menarik pandangan Chanyeol untuk selalu mengarah padanya. Sosok itu merasa risih dipandang sepanjang waktu oleh Chanyeol. Dia mengingat-ingat apa yang salah dengan dirinya. Saat ini adalah jam pelajaran olahraga.
Baekhyun memakai seragam olahraganya yang berwarna biru. Dia juga menggunakan sepatu sport berwarna putih. Ia mengecek saku celananya. Saku itu ada di depan.
Tidak ada yang salah jika menurutnya. Lalu kenapa Chanyeol memandanginya? Apa sebuah kertas dengan tulisan 'aku bodoh' dan semacamnya menempel di tubuhnya? Dengan segera Baekhyun mengecek tubuh mungilnya. Dan hasilnya nihil.
"Ada yang salah denganku, baby?" tanyanya dengan wajah bingung yang imut.
"Eung tidak, kenapa, Baekki?"
"Kenapa kau memandangiku?"
"Karena kau pantas untuk dipandang, eh?" blush. Pipi Baekhyun bersemu merah tanpa bisa dikendalikan.
"Aku punya rencana, Baekki-ah," Baekhyun mendongakan kepalanya untuk menatao Chanyeol.
"Rencana apa?"
.
-TBC-
OCJ (Omelan/? CekerJongin2):
Oh iya, seinget gue di korea tuh kalo musim dingin sama musim panas seragamnya beda. Bener gak sih? Kalo menurut logika gue sih bener, masa musim panas mau pake jas, belum lagi kemeja panjang, walaupun ada AC sama aja kaya spa -
Oh iya, pehlis ripiu ;A;
Pokonya ripiu! (u3u) biar tahu siapa yang menginginkan/? Ff ini
ripiu gak? Ripiu gak? /todong baygon/? Kalo gak ripiu gue kawinin nih biasnya! /maksa/
okelah, dari pada ini author note makin panjang dan gak jelas tujuannya, kita sudahi saja pertemuan kita.
Salam hangat, Tangan kanan Jongin yang suka makan ceker /?
CekerJongin2.
