The One Who Makes Me Smile
Chapter II
Malam itu sangat sepi, tak terdengar apa pun di kamar Sehun. Udara memang agak panas malam ini. Sangat berbeda ketika Sehun berada di taman beberapa jam yang lalu. Syukurlah hujan yang turun tadi tidak membuat Sehun sakit. Biasanya, ia akan langsung flu setelah kehujanan. Seperti beberapa saat yang lalu ketika Baekhyun mengajaknya makan malam.
~o~
Saat itu Baekhyun berjanji akan mengajak Sehun makan malam di luar berdua jika Sehun mendapat peringkat sepuluh besar. Ada perubahan yang drastis pada Sehun ketika ia mendengar janji Baekhyun. Ia selalu belajar hingga larut malam. Bahkan tak jarang D.O menyuruhnya tidur atau hanya sekedar membaringkan badan. Tak jarang juga ia memarahi Sehun karena ia lupa waktu makan. Pada akhirnya, ia jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit setelah ujiannya selesai. Meski demikian, usahanya itu tak sia-sia. Ia mendapat peringkat 6 di kelas. Sehun sangat gembira mendengarnya ucapan appanya di kamar rawatnya. Ia menelepon Baekhyun berkali-kali meski ia tahu Beakhyun tidak akan mengangkatnya karena ia sedang bekerja. Beberapa saat setelah Sehun berhenti meneleponnya, Baekhyun tiba tiba saja menelepon
"Sehun-ah! ada apa? apa yang terjadi padamu? kau tidak apa apa? apa yang terjadi di rumah sakit?" Sehun tahu Baekhyun sedang berada di toilet karena suaranya sedikit menggema
"Aku tidak apa-apa hyung, aku peringkat 6 di kelas, aku mau pizza dan hum..."
"Yaaa! kau meneleponku saat aku bekerja karena kau minta aku menepati janjiku?"
"hehehe.."
"Dasar!"
"ayolah hyuuung"
"Iya iya nanti saja, aku harus bekerja" Baekhyun menutup teleponnya.
Sehun pulang dari rumah sakit sore hari, dan ia makan malam di luar bersama Baekhyun malam harinya. Mereka makan malam di restaurant dekat sekolah Sehun. Mereka membeli Pizza, humberger, dan beberapa steak. Mereka juga membeli hampir 5 botol minuman. Setelah mereka berusaha keras menghabiskan makanan yang mereka beli, perlahan mereka berjalan pulang. Sayangnya, gerimis turun waktu itu. Sehun yang hanya memakai jaket biru itu langsung bersin bersin dan pilek di tengah jalan. Baekhyun menggandengnya dan mengajaknya berlari. Hujan semakin deras dan mereka berdua basah kuyup ketika sampa di rumah. Sehun demam seketika. Ia menggigil dan wajahnya memerah. Ia meminum obat dan beranjak tidur.
~o~
Ia bergelimpangan di atas tempat tidurnya. Selimut yang tadinya ia pakai sekarang sudah berubah menjadi sprei yang tebal dan lumayan empuk. Ia sedikit berkeringat yang membuat piamanya basah. Ia memang tidak bisa tidur. Ada keresahan di hatinya. Ia sedang memikirkan apa yang terjadi pada kekasihnya. Dia bingung dengan kekasihnya yang tiba tiba sangat labil itu. Ia berkali kali memandang layar handphone dan berharap ada balasan dari kekasihnya. Ia mengirim sms pada Luhan pukul 9 malam kemarin setelah ia mandi untuk menyegarkan diri. Dan sampai sekarang Luhan tidak membalasnya.
Sehun melihat ke arah jam di atas meja dekat tempat tidurnya. Sekarang pukul 2 malam dan Sehun tidak mengantuk sama sekali. Hanya ada Luhan di pikirannya. Ia kembali melihat layar handphone nya dan tetap saja tidak ada sms masuk. Malam itu semakin panas, serasa pertengahan musim kemarau. Sehun duduk di atas kasurnya dan mengibas-ngibaskan piyamanya yang basah itu. Ia menghela nafas pelan. Karena semakin stres akhirnya ia melepas bajunya. Tubuhnya yang putih mulus dan sedikit berotot itu dapat ia lihat dengan jelas di cermin yang berjarak beberapa meter di depannya. Ia termenung melihat dirinya sendiri di cermin itu. Ia memikirkan kembali apa yang ia lakukan hingga Luhan seperti ini padanya.
Setelah beberapa saat bercermin, ia bisa melihat hendphone yang tadi ia letakkan di atas bantal sebelah kiri menyala dari cermin. Ia tersenyum senang dan bergegas mengambilnya. Semua harapannya musnah ketika mengetahui handphone itu menyala untuk memberi peringatan bahwa daya baterainya lemah. Sehun membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. memandangi langit-langit dengan sendu. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Tidak bisa tidur hanya karena memikirkan seseorang yang ia cintai. Apa ini artinya ia benar benar mencintai Luhan?
Beberapa saat kemudian handphone nya kembali menyala. Kali ini disertai dengan getaran yang menandakan sebuah pesan masuk. Sehun melihatnya sejenak lalu mengambilnya. Matanya terbelalak ketika ia melihat nama pengirimnya, Luhan. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya.
maaf aku baru bisa menghubungimu
aku baik baik saja, jangan khawatirkan aku
aku di rumah sakit sekarang menemani Tao, keadaannya memang sudah membaik, tapi tidak ada yang bisa menemaninya
Sehun mengerti betul Tao adalah seorang penakut. Ia tak heran Luhan menemaninya saat ini. Sehun masih khawatir meski ia tahu Luhan baik-baik saja. Ia menyandarkan dirinya pada bantal empuk yang biasa ia gunakan tidur, lalu membalas pesan Luhan.
apa disana dingin? apa kau membawa jaketmu?
aku tidak bisa tidur sayang, apa kau ingin aku ke sana menemanimu?
Sehun mengirim pesan itu. Sayangnya, pesan itu tertunda. Hatinya mulai terasa panas lagi. Keringatnya mulai bercucuran membasahi tubuhnya kembali. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ie menelan ludahnya dan kembali menatap langit langit. Beberapa saat ia termenung dan handphone nya tidak menyala untuk memberi tahukan bahwa pesannya terkirim. Ia sangat membenci saat saat seperti ini.
Perlahan ia turun dari tempat tidurnya. Ia berdiri sambil menyeimbangkan tubuhnya. Ia berjalan sempoyongan menuju pintu kamarnya yang tertutup. Hingga ia berada di depan pintu dan menghela nafas dalam dalam. Membuka pintu kamar, dan berjalan keluar. Ia menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Semua orang di rumah pasti sedang tidur, jadi ia tak peduli berjalan menuju dapur tanpa memakai baju.
Ia menyalakan lampu dapur dan membiarkan cahaya lampu menimpa wajah dan tubuhnya yang putih itu. Ia berjalan menuju lemari es di sudut ruangan, membukanya dan mengambil sekaleng soda. Kaleng itu terasa sangat dingin di genggamannya. Ia pikir soda yang dingin itu akan menenangkan pikirannya. Ia membuka kaleng itu dan meminumnya beberapa teguk. Ia menutup lemari es dan kembali berjalan menuju kamarnya.
Ketika berada di depan pintu kamar, ia tak sengaja melihat pintu kamar Kai yang sedikit terbuka. Tak biasanya itu terjadi. Ia tidak suka kamarnya dimasuki orang lain, bahkan appa dan umma. Seberkas cahaya lampu kuning samar keluar dari sela pintu. Sepertinya ia belum tidur, atau mungkin sedang membaca, karena Sehun tau betul lampu yang menyala itu lampu baca milik Kai.
Perlahan ia mendekati pintu kamar Kai, dan mengintip apa yang sedang Kai lakukan. Ia sedang duduk menghadap meja belajar sambil meletakkan kepalanya di atas meja yang berada di seberang pintu tempat kamar. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya hingga terlihat berantakan. Sepertinya ia sedang frustasi. Ia menghela nafas dalam-dalam hingga Sehun bisa mendengarnya. Beberapa saat kemudian, handphone di sebelah kepala Kai menyala dan bergetar. Kai mengangkat dan membaca sms yang masuk itu dengan lemas. Setelah selesai membaca, ia melempar handphone nya ke atas tempat tidur. Ia mematikan lampu kamar dan berjalan ke arah tempat tidur. Ia berjalan sempoyongan sambil terus mengacak rambutnya. Sehun yang penasaran akhirnya memberanikan diri berbicara pada Kai. Ia membuka perlahan pintu kamar Kai.
"H-hyung.." Katanya sambil menatap lantai kamar
"Se-Sehun-ah, sedang apa k-kau disini? kenapa kau belum tidur?" Kata Kai gemetar.
"Apa kau tidak apa-apa? aku melihatmu seperti orang..."
"Aku... aku tidak apa-apa, kenapa kau tidak memakai baju?"
"Udaranya sangat panas... baiklah kalau baik-baik saja.. mmmm aku minta maaf soal makan malam tadi, aku..."
"ah, tidak apa-apa.."
"mmm... baiklah" Kata Sehun sambil menutup pintu kamar Kai. Ia berjalan ke kamarnya sambil heran. Tak biasanya Kai berbicara gemetar seperti itu. Memeangnya siapa yang mengirim pesan tadi. Apa isi pesannya hingga Kai seperti ini. Meskipun Kai sering membuatnya jengkel, tapi ia menyayangi hyungnya itu.
Setelah berada di kamar, ia menaruh soda di meja dekat tempat tidur lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia menyadari pintu kamarnya masih terbuka. Karena malas, ia membiarkannya tetap terbuka. Ia meraih handphone nya. Tidak ada pesan masuk. Pandangannya berubah sendu. Ia ingin sekali dekat dengan Luhan sekarang meski hanya lewar pesan saja. Ia tak meragukan cinta Luhan padanya, tapi ia khawatir apa yang terjadi pada Luhan sehingga bertingkah seolah Sehun hanya pengganggu saja dan bukan kekasihnya. Akhirnya, ia mengirim pesan pada Luhan lagi.
Kau marah padaku?
Tak lama kemudia, Luhan membalas pesan Sehun
Tidak
Sehun sedikit lega membacanya. Namun, hal itu tidak membuatnya senang. Ia masih penasaran kenapa Luhan seperti ini. Ia merindukan hubungan mereka yang hangat seperti dulu.
Lalu kenapa kau memperlakukanku seperti ini?
kau tahu aku merindukanmu, kau tahu aku khawatir
ada apa? kau membenciku? Dimana cintamu padaku? Dimana kehangatan hubungan kita? aku merindukanmu :(
Sehun mengirimkan pesan itu. Ia menunggu sekitar sepuluh menit dan masih saja tidak ada balasan. Ia melihat ke arah jam dinding. Pukul 3 lewat 15 pagi dan ia belum tidur sama sekali. Matanya memerah. Air matanya mulai bergelinang. Air matanya mengalir tak tertahankan. Ia menangis terisak-isak. Batinnya terasa sangat tersiksa. Ia menangis sambil memeluk kedua lututnya. Celananya mulai basah karena air mata. Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk. Ia mengusap air matanya dan mulai membacanya.
Tidurlah
Air matanya kembali mengalir ketika membaca pesan singkat dari Luhan. Ia tak tahu harus begaimana lagi. Ia bingung dan mulai mengacak-acak rambutnya. Tubuhnya berkeringat, ia menangis, rambutnya acak-acakan, ditambah lagi ia tidak memakai baju. Ia terlihat benar-benar bodoh karena cintanya pada Luhan yang terlalu dalam. Akhirnya ia menelepon Luhan. Sayangnya, Luhan mematikan handphone nya. Sehun berpikir Luhan sudah tidak mencintainya dan ia mulai frustasi dengan hubungannya dengan Luhan.
"Sehun-ah kau belum tidur" Kata seseorang mengagetkannya, Baekhyun.
"Belum hyung" Jawabnya sambil terisak-isak
Baekhyun menutup pintu kamar dan duduk disamping Sehun. Ia memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang tak peduli dengan tubuhya yang basah karena keringat
"Ada apa? sampai sekarang kau belum tidur?"
"Hyung sendiri kenapa belum tidur?"
"Tidurku nyenyak, lalu terbangun dan harus ke kamar mandi, setelah itu aku mendengar tangisan adikku yang manja ini" Goda Baekhyun sambil mencolek dagu adiknya.
"Jangan begitu hyung"
"Hahahaa..." Baekhyun tertawa kecil "Ceritakan saja padaku"
"Aku tidak tahu hyung"
"Tidak tahu?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Luhan. Aku..."
"Dengar! Ada saatnya ketika pasanganmu membutuhkan waktu untuk menyendiri."
"Apa maksudnya?"
"Mungkin Luhan hanya jera atau mungkin ia sedang ingin sendiri, maksudku bukankah kau selalu ingin bertemu dengannya, kau ingin selalu berada di dekatnya. Mungkin Luhan sedang tidak ada waktu untuk berdua denganmu, bukan berarti ia tak mencintaimua lagi bukan. Ia hanya ingin sendiri, menghabiskan waktu untuk membuat dirinya senang dan tidak merepotkan orang lain"
"Tapi ia membuatku khawatir"
"Percayalah ia akan baik-baik saja ketika ia kembali padamu"
"Begitukah?"
"Yah.. setidaknya itu yang dikatakan Chanyeol padaku. Begitu juga dengan Chen ketika ia bermasalah dengan kekasihnya"
"Chen?"
"Iya"
"Kau mengenalnya?"
"Tentu saja, kami berada di kelas yang sama di sekolah music. Sekarang tidurlah dan pakai bajumu"
Sehun mengangguk dan mulai menidurkan dirinya. Ia menyelimuti tubuhnya yang mulai mengering.
"Pakai bajumu"
"Tidak mau"
"Dasar" Kata Baekhyun sambil keluar dari kamar Sehun. Sehun hanya tertawa kecil dan mulai memejamkan mata. Ia berkali-kali memikirkan perkataan Baekhyun. Mungkin apa yang dikatakan hyung nya itu benar. Mungkin Luhan hanya ingin sendiri. Itu yang ada di benak Sehun sekarang. Hingga akhirnya ia merasa sedikit tenang dan tertidur.
