Necklace
Disclaimer: Masashi Kishimoto / Shonen Jump
aku memang tidak punya kerjaan sampai updatenya cepat sekali. makasih buat yang sudah review *love
Thanks for read ya semuaaaa :D jangan lupa review~ ;3; (o,ya orang jepang memanggi dokter itu dengan sebutan 'sensei' :D)
CHAPTER 2
Gaara membuka pintu berwarna putih itu. Dilihatnya seorang gadis berambut panjang dengan tubuh mungilnya yang diselimuti kain tebal berwarna putih.
"Selamat pagi." Sapa Gaara. Gadis yang tadi sedang memandang jendela ruangan itu langsung menoleh ke arah Gaara dan tersenyum.
"Selamat pagi, Gaara-sensei." Gadis itu menundukkan wajahnya memberi salam. Gaara lalu meraih tangan Hinata dan mengecek infus gadis itu.
"Bagaimana keadaanmu?" Gaara menatap mata gadis itu.
"Sudah baikkan. Aku sudah bisa keluar dari Rumah Sakit, kan?" Hinata memiringkan wajahnya. Mendengarnya Gaara hanya mengangguk dan berkata 'begitulah' dengan nada datar seperti biasanya.
"Meski sudah bisa keluar, keadaan tubuhmu belum stabil. Jadi aku sudah meminta kakakmu untuk membawa-mu ke mari melakukan pengecekkan seminggu sekali." Jelas Gaara. Hinata hanya menurut. Ia lalu mengeluarkan kalung yang terlingkar di lehernya dan mencium liontin kecil yang berada di kalung itu.
"Itu, kalung yang kau cari?"
Hinata langsung menggeleng. "Bukan, yang kucari adalah pasangannya."
Gaara mengangguk mengerti. Setelah memberi Hinata obat dan melepas infus gadis itu, Gaara hanya duduk termanggu menunggu kedatangan Neji.
"Sensei, apa kau tinggal di apartemen daerah sini?" Tanya Hinata penasaran. Gadis itu sedikit memajukan kepalanya agar dapat mendengar lebih jelas jawaban Dokter itu.
"Ya, ada apa?"
Hinata hanya tersenyum tipis. "Aku pernah melihatmu, sore hari saat hujan deras." Ujar Hinata ragu takut bahwa Dokter satu itu langsung kesal karena mencampuri urusannya.
"Iya, aku juga melihatmu saat itu. Apartemenmu didepan Apartemenku, bukan begitu?" Gaara mengkoreksi.
"Iya," Hinata lalu kembali menunduk. Yang dilihatnya saat itu, bukanlah objek menyenangkan. Melainkan saat dimana Dokter itu sedang bertengkar dengan wanita. Hinata hanya menggelengkan wajahnya berusaha melupakan kejadian tidak menyenangkan itu.
"Tidak perlu merasa tak enak hati. Bukankah bagus? Aku bisa langsung menghampirimu bila keadaanmu tumbang lagi." Gaara melihat Hinata tenang. "Baiklah, cepatlah ganti pakaianmu bila kau ingin cepat pulang dan segera mencari kalung itu." Gaara kembalii berdiri dan keluar dari ruangan meninggalkan Hinata.
"Hmm, sebentar ya. Aku akan segera mencari pasanganmu." Batin Hinata seraya memegang erat kalung emas tersebut.
"Hinata, kau sudah siap?" Seru Tenten saat memasuki ruang perawatan Hinata. Hinata yang melihatnya langsung mengangguk semangat.
"Iya. Aku juga sudah tidak sabar untuk segera kembali ke Sekolah." Hinata tertawa kecil.
"Kau benar-benar sudah baik-baik saja, kan?" Tukas Neji memastikan meski pertanyaan itu sudah berkali-kali ia ucapkan saat sampai di ruangan Hinata.
"Sudahlah, dia sudah bilang tidak apa. Jangan khawatir!" Ujar Tenten menggantikan Hinata menjawab. Gaara yang baru datang lalu menyerahkan secarik kertas kepada Neji.
"Obat-obat tersebut bisa kau ambil di sudut koridor ini. Jaga kesehatanmu, Hinata." Gaara lalu memberikan sebuah coklat batangan kepada Hinata yang masih duduk dipinggir kasurnya.
"Ah.. Te-Terimakasih,"
Setelah berbincang sedikit, akhirnya Hinata beserta Neji dan Tenten keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Gaara didepan pintu sendiri.
"Dokter, pasienmu sudah pulang?" Tanya salah satu perawat yang sedang berjalan didepannya.
"Ng." Gaara mengangguk pelan menjawab pertanyaan perawat mungil bernama Katsura itu.
"Aduh, padahal Dokter Sai bilang, dia akan pulang hari ini untuk kembali mengambil alih tugasnya sekali, kalau saat datang ternyata pasiennya sendiri sudah pulang."
"Biarkan saja, dia harus mendapat suatu ganjaran." Gaara lalu berjalan kembali melewati perawat tadi dan kembali memasuki ruangan pribadinya. Sebuah ruangan yang memiliki papan kecil diatasnya. Gaara kembali merogoh kantungnya dan menggenggam sebuah ponsel miliknya.
"Belum ada pesan satupun, sebenarnya kau dimana..."
"Hinata-chaan!" Seru gadis tinggi dengan rambut kuncir kuda berwana pirang yang menghampirinya.
"I-Ino.." Ucap Hinata dipelukan gadis itu.
"Aku mengkhawatirkanmu! Sangat mengkhawatirkanmuuu! Maaf ya aku tidak sempat menjengukmu." Ino melepaskan pelukannya seraya menatap Hinata.
"Tidak apa. Terimakasih, Ino."
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik? Selama liburan, kau tidak lupa makan,kan?" Tanya Ino bertubi-tubi. Ino dikenal sebagai gadis yang ceria dan bersemangat, dan yang paling dietahui semua siswa disana adalah, Ino sangat melindungi dan menjaga Hinata. Teman masa kecil Hinata sekaligus teman sekelasnya, itulah Ino.
"Ah, Hyuuga, kau sudah boleh pulang dari RS?" Ujar laki-laki berambut putih yang menggunakan masker serta membawa buku absen siswa ditangannya.
"Kakashi-sensei, iya, tetapi aku harus tetap mengecek keadaan tubuhku setiap minggu."
"Syukurlah, kalau ada apa-apa, katakan padaku,ya." Kakashi menepuk pundak Hinata pelan. Dia juga salah satu dari sekian banyak orang yang menjaga Hinata. Guru yang tidak bisa ditebak pemikirannya.
"O,ya Hinata, apa di RS ada cerita menarik?" Tanya Ino lagi sambil berjalan menuju kelas bersama Hinata.
"Hmm, kurasa.. Tidak ada. Mungkin," Hinata menggeleng lemah.
"Hee? Tidak seru. O,ya kalau... Kalungnya?" Ino memandang Hinata hati-hati.
"Nihil. Tidak dapat kutemukan, belum..." Hinata lalu menundukkan wajahnya. Ino yang melihatnya lalu ikut menundukkan wajahnya dan memeluk Hinata.
"Berjuanglah, berjuanglah. Jangan menangis Hinata! Aku jadi mau menangis!" Ino mengusap kepala Hinata lembut.
"Terimakasih, Ino."
"Kak, besok hari libur Sekolah,kan? Aku... Mau mencari kalung itu." Hinata menatap Neji yang terlihat kaget dengan perkataan adiknya disaat makan malam itu.
Neji hanya diam dan menaruh alat makan yang sedang ia gunakan. Ia lalu menatap Hinata yang belum menyentuh makanannya sedikitpun.
"Kalung yang kau jadikan pacuan hidupmu itu, aku merasa kalau lebih baik kamu tidak terburu-buru dalam mencarinya." Ucap Neji.
"Habis, tempat yang kukira 'pasti ada disini' tidak pernah ada. Aku terus memikirkan, dimana aku menaruhnya, dimana aku menyembunyikan kalungnya? Di Sekolah, tempat aku dan 'dia' selalu belajar tidak ada! Di rumah ini, bahkan di rumahnya pun tak ada.." Hinata lalu mulai kembali mengalirkan air matanya. Neji yang melihatnya langsung salah tingkah, bingung harus berbuat apa.
"Sebenarnya, kau mencari kalung itu dengan perasaan tulus atau tidak? Kakak yang melihatmu ikut lelah kalau kau mengeluh, kau mengerti maksudku kan, Hinata?" Neji lalu mengelus pelan atas kepala Hinata. Mendengar ucapan Kakaknya, Hinata tersenyum tipis.
"Aku mengerti." Mendengar jawaban Hinata Neji ikut tersenyum lega dan kembali menyantap makanannya.
"Lalu? Apa hari ini ada kejadian menarik?" Tanya Neji mengubah topik pembicaraan.
"Ah, iya. Ino tadi mengajakku makan siang di taman Sekolah, aku sangat senang." Hinata tersenyum.
"Syukurlah."
Hinata lalu terdiam dan tampak berfikir. "Ada apa, Hinata?" Tanya Neji.
"Taman.. Aku belum pernah mencari ke Taman daerah ini!" Hinata langsung berdiri dari duduknya dan berlari ke arah luar.
"Hinata! Sial, malam ini sedang hujan!" Neji lalu ikut berdiri dan segera mengikuti Hinata yang sudah berlari jauh dari kamar apartemennya.
Hinata yang keluar dari Apartemen segera bergegas menuju taman yang cukup jauh dari langsung basah kuyup saat keluar dari bangunan itu.
"Hinata?" Panggil seorang lelaki yang berada didalam mobil berwarna hitam.
"Ga-Gaara-sensei." Hinata menghentikan larinya dan memandang wajah Gaara yang sedang berada didalam mobil mulai keluar dan menghampirinya.
"Sedang apa, kau? Hujan begini, kau bisa sakit!" Seru Gaara. Naluri kedokterannya tampak muncul melihat tubuh kurus Hinata dilapisi air hujan yang tidak berhenti-henti saat ini.
"Maaf, aku harus pergi mencari kalung itu. Lepaskan aku." Ronta Hinata mencoba melepaskan tangannya yang masih tercengkram erat oleh tangan Gaara.
"Kau bisa mencarinya saat hujan sudah reda, cepat kembali ke kamarmu!" Gaara lalu dengan perlahan menyeret tubuh Hinata yang masih menolak untuk memasuki mobilnya.
"Kau tidak mengerti perasaanku! Kalung itu serpihan terakhir!" Seru Hinata sekuat tenaga.
Gaara yang mendengarnya lalu memandang Hinata sinis dan melepaskan genggamannya. "Lakukan sesukamu."
Tanpa basa-basi Hinata langsung kembali berlari meninggalkan Gaara.
"Ah! Gaara-san! Apa kau melihat Hinata!" Tanya Neji saat bertemu dengan Gaara yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Tidak lihat, aku sedang mengecek mobilku." Ucap Gaara datar. Neji hanya menghela nafasnya panjang.
"Anak itu.." Neji lalu kembali berlari mencari Hinata. Gaara lalu kembali memasuki mobilnya dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup karena derasnya hujan itu.
"Tidak mengerti perasaannya. Apa-apaan dia." Bisik Gaara yang langsung menyalakan mobilnya.
Hinata yang kembali lagi ke Rumah Sakit tampak lebih lesu dari sebelumnya. Sai yang mengambil alih kembali keperawatan Hinata tampak mulai bingung.
"Hinata-chan, makanlah walau sedikit." Bujuk Sai melihat kondisi Hinata yang tak kunjung baik meski ini genap 4 hari Hinata dirawat kembali. Berbeda dengan sebelumnya, Hinata yang biasanya masih menjawab perkataan Dokter, sekarang sama sekali diam, dan terus membisu dengan mata yang tidak memiliki kehidupan.
"Dokter, maafkan kami. Ini salahku tidak menjaganya dengan baik." Ucap Neji melihat Hinata.
Sai hanya menggeleng dengan senyum tipis. "Jangan dipikirkan, memang musim-nya kurang baik bagi tubuhnya."
Neji hanya tertunduk. Ingin rasanya Ia melupakan kejadian 4 hari lalu, hari dimana Ia menemukan Hinata yang tersungkur di rerumputan sebuah taman. Tangisan Hinata menyatu dengan jatuhnya air hujan di wajahnya, satu kalimat yang Hinata ucapkan hanya 'Kalungnya tidak kutemukan'.
"Dokter, kurasa aku akan kembali ke rumah, tolong hubungi aku bila terjadi apa-apa. Hinata, aku pulang." Neji lalu beranjak keluar tanpa menoleh lagi ke arah Hinata yang masih lesu.
"Hinata-chan, kenapa? Bagaimana kalau kau ceritakan apa yang terjadi? Aku akan mendengarkan." Sai lalu tersenyum kembali ke arah Hinata sambil menopang dagu.
Hinata mulai menatap Sai dan membuka mulutnya. "Aku..Memiliki dosa yang tidak bisa termaafkan." Hinata menunduk lemas.
"Apa itu?" Tanya Sai sabar.
"Gara-gara aku... 'Dia', jadi melupakan semuanya, melupakan teman-temannya, melupakan aku, melupakan tunangannya, bahkan... Ia lupa akan dirinya sendiri." Ucap Hinata disertai isak tangisnya. Sai sedikit kaget dengan pernyataan itu.
"Sebuah 'dosa' yang kau bilang itu adalah intuisimu sendiri, apa kau sudah bertanya padanya? Apa dia menuduhmu?" Sai lalu menghapus air mata Hinata dengan tisunya.
"Tidak, aku tidak bisa menemuinya lagi." Hinata terus menangis. Gaara yang berdiri di balik pintu ikut mendengar dengan seksama.
"Kenapa?" Sai mulai memandang Hinata lekat.
"Karena...Aku hampir membunuhnya."
TBC
MAAF YA
Chapter gembel ini ngebuat diriku sok di dramastisir wahaha dan OOC ya.
Tetapi rasanya menyenangkan kalau ada RS yang isinya ganteng2 begini ohohohoho
Semoga Next Chapter lebih baik XDD lol
Thank for read. please review ! :D need ur support and comment :D
terimakasih semua. wd
